bukti-bukti adanya Tuhan/I/KPI A/Kelompok 7

Oleh:

Farikhatut Dwi Sa’idah          B01210022

Nur Azizah Yuli Astutik         B01210023

Lia Nurvita Anggraini            B01210030

Muhammad Nizam                 B01210033

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Segala puji bagi Allah yang mengadakan dan  mengembalikan makhluk-Nya, Maha membuat apa yang Dia kehendaki. Pemilik arasy yang agung, Pemberi ancaman siksa yang pedih, Pemberi petunjuk kepada hamba-hamba pilihan-Nya menuju aturan-Nya yang lurus dan jalan yang kokoh. Pemberi nikmat kepada mereka setelah menyatakan syahadat tauhid dengan memelihara akidah mereka dari kegelapan akibat keraguan dan kebimbangan. Pembimbing mereka untuk mengikuti jejak Nabi Muhammad saw dan berpijak pada prilaku para sahabat nabi yang mulia dan dimuliakan dengan diteguhkan dan diluruskan, yang tampak jelas bagi mereka dalam Dzat dan perjaan-pekerjaan-Nya dengan keindahan sifat-sifat-Nya yang hanya bisa dipahami oleh orang yang telah diberi kemampuan “mendengar” dan bisa “menyaksikan”. Dia adalah tunggal dalam Dzat-Nya, Maha Esa dan tidak bersekutu, sendiri tiada banding, menjadi sandaran segala makhluk yang tiada banding. Dia Qadim tiada yang mengawali, Azali tiada awal, Langgeng, Kekal yang tiada berujung, Berjaga dan selalu berbuat tiada henti, Berdiri sendiri tiada putus, dan senantiasa disifati dengan sifat-sifat keagungan, tiada berhenti dan terpenggal dengan terputusnya abad dan bergantinya masa. Dialah yang awal dan yang akhir, yang nyata, yang batin, dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.

 

1.2 Rumusan Masalah

1.      Bagaimana Cara Penyucian Dzat Allah?

2.      Bagaimana Cara untuk Mengenal Allah dengan Merenungkan Ciptaan-Nya?

3.      Bagaimana Cara untuk Mengenal Allah dengan Mengetahui Sifat-sifat-Nya?

1.3 Tujuan Penulisan

1.      Memahami dan Mengerti Cara Penyucian Dzat Allah

2.      Memahami dan Mengerti Cara Mengenal Allah dengan Merenungkan Ciptaan-Nya

3.      Memahami dan Mengerti Cara Mengenal Allah dengan Mengetahui Sifat-sifat-Nya

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Penyucian Dzat Allah

Allah SWT bukanlah jisim (benda) yang berbentuk. Dia tidak menempati benda tidak ditempati oleh benda. Tidak membutuhkan ruang dan waktu, bahkan Dia wujud sebelum diciptakannya ruang dan waktu. Dia sama sekali berbeda dengan makhluk-Nya dalam segi sifat-sifat-Nya, tidak ada sesuatu yang menyamai-Nya. Dia tidak diliput arah dan tidak termuat oleh bumi dan langit. Dia bersemayam (istiwa’) di arasy sesuai dengan maksud dan aspek yang difirmankan-Nya, sesuai dengan makna yang dikehendaki-Nya, dengan istiwa’ yang tersucikan dari bersentuhan, menetap, bertempat, menempati, dan berpindah-pindah. Dia tidak dibawa oleh arasy, namun justru arasy dan para malaikat penjaga arasy dibawa oleh kelembutan kekuasaan-Nya dan dipaksa berada dalam “Genggaman-Nya”. Dia berada “di atas” arasy, langit dan “di atas” segala sesuatu sampai pada batas bintang yang tertinggi sekalipun. Dialah yang Maha tinggi derajat-Nya dari segala-gala-Nya. Dan  wujud dzat-Nya dapat diketahui secara rasional dan dapat dilihat melalui mata hati. [1]

 

2.2 Mengenal Allah dengan Merenungkan Ciptaan-Nya

Cara terbaik untuk mengenal Allah ialah dengan memperhatikan alam semesta serta menikmati keindahannya. Bukankah kehebatan dan keindahan alam semesta itu membuktikan akan adanya Tuhan Yang Maha Esa, yang  menciptakan dan memeliharanya? Ingin lebih yakin, haqul yakin bahwa adanya alam itu adalah salah satu bukti adanya Allah , Tuhan semesta alam?

Bumi yang sekarang didiami oleh sekitar 8 milyar manusia, keliling lingkarannya sekitar 40 ribu kilometer panjangnya. Matahari, keliling lingkarannya sekitar 4,3 juta kilometer panjangnya. Matahari dan 8 planetnya yang tergabung dalam Sistem Tata Surya, tergabung dalam galaksi Bima Sakti yang panjangnya sekitar 100 ribu tahun cahaya (kecepatan cahaya=300 ribu kilometer/detik) bersama sekitar 100 milyar bintang lainnya. Galaksi Bima Sakti hanyalah 1 galaksi di antara ribuan galaksi lainnya yang tergabung dalam 1 “Cluster”. Cluster ini bersama ribuan Cluster lainnya membentuk 1 Super Cluster. Sementara ribuan Super Cluster ini akhirnya membentuk “Jagad Raya” yang bentangannya sejauh 30 Milyar Tahun Cahaya. Harap diingat, angka 30 Milyar Tahun Cahaya baru angka estimasi saat ini, karena jarak pandang teleskop tercanggih baru sampai 15 Milyar Tahun Cahaya.[2]

Bayangkan jika jarak bumi dengan matahari yang 150 juta kilometer ditempuh oleh cahaya hanya dalam 8 menit, maka seluruh Jagad Raya baru bisa ditempuh selama 30 milyar tahun cahaya. Itulah kebesaran ciptaan Allah. Jika kita yakin akan kebesaran ciptaan Tuhan, maka hendaknya kita lebih meyakini lagi kebesaran penciptanya.

Dalam Al Qur’an, Allah menjelaskan bahwa Dialah yang menciptakan langit, bintang, matahari, bulan, dan lain-lain yang artinya: “Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya.” [Al Furqoon: 61]

Ada jutaan orang yang mengatur lalu lintas jalan raya, laut, dan udara. Mercusuar sebagai penunjuk arah di bangun, demikian pula lampu merah dan radar. Menara kontrol bandara mengatur lalu lintas laut dan udara. Sementara tiap kendaraan ada pengemudinya. Bahkan untuk pesawat terbang ada Pilot dan Co-pilot, sementara di kapal laut ada Kapten, juru mudi, dan lain-lain. Toh, ribuan kecelakaan selalu terjadi di darat, laut, dan udara. Meski ada yang mengatur, tetap terjadi kecelakaan lalu lintas.

Sebaliknya, bumi, matahari, bulan, bintang, dan lain-lain selalu beredar selama milyaran tahun lebih (umur bumi diperkirakan sekitar 4,5 milyar tahun) tanpa ada tabrakan. Selama milyaran tahun tidak pernah bumi menabrak bulan, ataupun bulan menabrak matahari. Padahal tidak ada rambu-rambu jalan, polisi, atau pun pilot yang mengendarai. Tanpa ada Tuhan yang Maha Mengatur, tidak mungkin semua itu terjadi. Semua itu terjadi karena adanya Tuhan yang Maha Pengatur. Allah yang telah menetapkan tempat-tempat perjalanan (orbit) bagi masing-masing benda tersebut. Jika kita sungguh-sungguh memikirkan hal ini, tentu kita yakin bahwa Tuhan itu ada. Hal tersebut seperti yang telah dijelaskan dalam firman Allah surat Yunus ayat 5 yang artinya: “Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” [Yunus: 5]

Dan surat yasiin ayat 40 yang artinya: “Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” [Yaa Siin:40]

Sungguhnya orang-orang yang memikirkan alam, insya Allah akan yakin bahwa Tuhan itu ada:

 

 

 

Artinya: “Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas `Arasy dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.” [Ar Ra’d: 2]

 

2.3 Mengenal Allah dengan Mengetahui Sifat-sifat-Nya

Kita sebagai orang mukallaf wajib mengetahui dan meyakini 20 sifat-sifat wajib Allah, 20 sifat-sifat mustahil Allah, dan 1 sifat jaiz bagi Allah. Adanya sifat-sifat Allah tersebut merupakan salah satu bukti bahwa Allah SWT itu ada.

2.3.1 Sifat-sifat Wajib bagi Allah

Adalah sifat-sifat yang wajib bagi Allah SWT yang wajib bagi Allah yang wajib diketahui dengan tafsil (satu persatu) yaitu 20 sifat :

a. Wujud (Ada)

Yaitu tetap dan benar yang wajib bagi zat Allah Ta’ala yang tiada disebabkan dengan sesuatu sebab. Maka wujud (Ada)  disisi Imam Fakhru Razi dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi bukan ia a’in maujud dan bukan lain daripada a’in maujud, maka atas qaul ini adalah wujud itu Haliyyah (yang menepati antara ada dengan tiada).

Tetapi pada pendapat Imam Abu Hassan Al-Ashaari wujud itu ‘ain Al-maujud, kerana wujud itu zat maujud kerana tidak disebutkan wujud melainkan kepada zat. Kepercayaan bahawa wujudnya Allah SWT bukan sahaja di sisi agama Islam tetapi semua kepercayaan di dalam dunia ini mengaku menyatakan Tuhan itu ada.

Seperti dalam surat Luqman ayat 25 yang artinya:

”Dan jika kamu tanya orang-orang kafir itu siapa yang menjadikan langit dan bumi nescaya berkata mereka itu Allah yang menjadikan……………” (Luqman: 25)

b. Qidam (Sedia)

Pada hakikatnya menafikan ada permulaan wujud Allah SWT  kerana Allah SWT menjadikan tiap-tiap suatu yang ada, yang demikian tidak dapat tidak keadaannya lebih dahulu daripada tiap-tiap sesuatu itu. Jika sekiranya Allah Ta’ala tidak lebih dahulu daripada tiap-tiap sesuatu, maka hukumnya adalah mustahil dan batil. Maka apabila disebut Allah SWT bersifat Qidam maka jadilah Ia qadim. Di dalam Ilmu Tauhid ada satu perkataan yang sama maknanya dengan Qadim yaitu Azali. Qadim dengan nisbah kepada nama terbahagi kepada empat bahagian :

1.      Qadim Sifati (Tiada permulaan sifat Allah Ta’ala)

2.      Qadim Zati (Tiada permulaan zat Allah Ta’ala)

3.      Qadim Idhafi (Terdahulu sesuatu atas sesuatu seperti terdahulu bapa nisbah kepada anak)

4.      Qadim Zamani (Lalu masa atas sesuatu sekurang-kurangnya satu tahun)

Maka Qadim Haqiqi (Qadim Sifati dan Qadim Zati) tidak harus dikatakan lain daripada Allah Ta’ala.

 

c. Baqa’ (Kekal)

Senantiasa ada, kekal ada dan tiada akhirnya Allah SWT. Pada hakikatnya bahwa wujud Allah SWT yaitu tidak ada permulaan dan tidak ada akhir. Adapun yang lain daripada Allah SWT, ada yang kekal dan tidak binasa selama-lamanya tetapi bukan dinamakan kekal yang hakiki (yang sebenarnya).

 

d. Mukhalafatu Lilhawadithi (Bersalahan Allah SWT dengan segala yang baharu)

Pada hakikatnya adalah menafikan Allah SWT menyerupai dengan yang baharu pada zatnya, sifatnya atau perbuatannya. Sesungguhnya zat Allah SWT bukannya berjirim dan bukan aradh Dan tiada sesekali zatnya berdarah, berdaging, bertulang dan juga bukan jenis leburan, tumbuh-tumbuhan, tiada berpihak, tiada bertempat dan tiada dalam masa. Dan sesungguhnya sifat Allah SWT itu tiada bersamaan dengan sifat yang baharu karena sifat Allah SWT itu qadim lagi azali dan melengkapi ta’aluqnya.

 

e. Qiamuhu Binafsihi (Berdiri dengan sendirinya)

Tidak berkehendak kepada tempat berdiri (pada zat) dan tidak berkehendak kepada yang menjadikannya. Maka hakikatnya ibarat daripada menafikan Allah SWT berkehendak kepada tempat berdiri dan kepada yang menjadikannya.

Allah SWT itu terkaya dan tidak berhajat kepada sesuatu sama ada pada perbuatannya atau hukumannya. Allah SWT menjadikan tiap-tiap sesuatu dan mengadakan undang-undang semuanya untuk faedah dan maslahah yang kembali kepada sekalian makhluk. Allah SWT menjadikan sesuatu (segala makhluk) adalah karena kelebihan dan belas kasihannya bukan berhajat kepada faedah.

 

f. Wahdaniyyah (Esa Allah SWT pada zat, pada sifat dan pada perbuatan)

Makna Esa Allah SWT pada zat itu yaitu menafikan Kam Muttasil pada Zat (menafikan bilangan yang berhubung dengan zat) seperti tiada zat Allah SWT tersusun daripada darah, daging, tulang, urat dan lain-lain. Dan menafikan Kam Munfasil pada zat (menafikan bilangan yang bercerai pada zat Allah Ta’ala) seperti tiada zat yang lain menyamai zat Allah Ta’ala.

Makna Esa Allah SWT pada sifat yaitu menafikan Kam muttasil pada sifat (menafikan bilangan yang berhubung pada sifatnya) yaitu tidak sekali-kali bagi Allah Ta’ala pada satu-satu jenis sifatnya dua qudrat dan menafikan Kam Munfasil pada sifat (menafikan bilangan-bilangan yang bercerai pada sifatnya) yaitu tidak ada sifat yang lain menyamai sebagaimana sifat Allah SWT yang Maha Sempurna.

Makna Esa Allah SWT pada perbuatan iaitu menafikan Kam Muttasil pada perbuatan (menafikan bilangan yang bercerai-cerai pada perbuatan) yaitu tidak ada perbuatan yang lain menyamai seperti perbuatan Allah bahkan segala apa yang berlaku di alam ini adalah perbuatan Allah SWT, meskipun perbuatan yang baik seperti iman dan taat kepada Allah ataupun perbuatan jahat seperti kufur dan maksiat

Maka tiada zat yang lain, sifat yang lain dan perbuatan yang lain menyamai dengan zat, sifat dan perbuatan Allah SWT. Dan tertolak segala kepercayaan-kepercayaan yang membawa kepada menyengutukan Allah SWT dan perkara-perkara yang menjejaskan serta merosakkan iman.

 

g. Qudrat (Kuasa Allah SWT memberi bekas pada mengadakan meniadakan tiap-tiap sesuatu)

Pada hakikatnya ialah satu sifat yang qadim lagi azali yang thabit (tetap) berdiri pada zat Allah SWT yang mengadakan tiap-tiap yang ada dan meniadakan tiap-tiap yang tiada bersetuju dengan iradah. Manusia hanya bisa berusaha dan ikhtiar saja, sedang yang dapat mengadakan dan meniadakan sesuatu di alam ini hanyalah Allah semata.

 

h. Iradat (Berkehendak)

Maksudnya menentukan segala sesuatu tentang adanya atau tiadanya. Allah SWT yang selayaknya menghendaki tiap-tiap sesuatu apa yang diperbuat-Nya. Umat Islam beriktiqad akan segala hal yang telah berlaku dan yang akan berlaku adalah dengan mendapat ketentuan daripada Allah SWT tentang rizki, umur, baik, jahat, kaya, miskin dan sebagainya serta wajib pula manusia untuk beriktiqad agar mempunyai nasib (kebahagiaan) di dalam dunia ini.

Seperti dalam surat Al-Qasash ayat 77 yang artinya:

”Janganlah kamu lupakan nasib (kebahagiaan) kamu di dalam dunia” . (Al – Qasash: 77)

Kesimpulannya ialah umat Islam mestilah bersungguh-sungguh untuk kemajuan di dunia dan akhirat di mana menjunjung titah perintah Allah SWT dan menjauhi akan segala larangan-Nya dan bermohon serta berserah diri kepada Allah SWT.

 

i. Ilmu (Mengetahui)

Maksudnya nyata dan terang meliputi tiap-tiap sesuatu sama ada yang Maujud (ada) atau yang Ma’adum (tiada). Hakikatnya ialah satu sifat yang tetap ada (thabit) qadim lagi azali berdiri pada zat Allah Ta’ala. Allah Ta’ala Maha Mengetahui akan segala sesuatu meskipun perkara Itu tersembunyi atau rahsia dan juga yang terang dan nyata. Maka Ilmu Allah Ta’ala Maha Luas meliputi tiap-tiap sesuatu di alam yang fana ini.

 

j. Hayat (Hidup)

Hakikatnya ialah satu sifat yang tetap qadim lagi azali berdiri pada zat Allah Ta’ala. Segala sifat yang ada berdiri pada zat daripada sifat Idrak (pendapat).

 

k. Sama’ (Mendengar)

Hakikatnya ialah sifat yang tetap ada yang qadim lagi azali berdiri pada zat Allah Ta’ala. Yaitu dengan terang dan nyata pada tiap-tiap yang maujud sama ada yang maujud itu qadim seperti Ia mendengar kalamnya atau yang ada itu harus sama ada atau telah ada atau yang akan diadakan. Tiada terhijab (terdinding) seperti dengan sebab jauh, bising, bersuara, tidak bersuara dan sebagainya. Allah Ta’ala Maha Mendengar akan segala yang terang dan yang tersembunyi.

Seperti dalam surat An-Nisa’ ayat 148 yang artinya:

”Dan ingatlah Allah sentiasa Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui “. (An-Nisa’: 148)

l. Bashar (Melihat)

Hakikatnya ialah satu sifat yang tetap ada yang qadim lagi azali berdiri pada zat Allah Ta’ala. Allah Ta’ala wajib bersifat Maha Melihat yakni ada yang dapat dilihat oleh manusia atau tidak, jauh atau dekat, terang atau gelap, zahir atau tersembunyi dan sebagainya.

Seperti dalam surat Ali Imran ayat 163 yang artinya:

”Dan Allah Maha Melihat akan segala yang mereka kerjakan“. (Ali Imran: 163)

m. Kalam (Berkata-kata)

Hakikatnya ialah satu sifat yang tetap ada, yang qadim lagi azali, berdiri pada zat Allah Ta’ala. Menunjukkan apa yang diketahui oleh ilmu daripada yang wajib, maka ia menunjukkan atas yang wajib sebagaimana firman Allah SWT yang artinya:

”Aku Allah, tiada tuhan melainkan Aku ……”. (Taha: 14)

Dan daripada yang harus sebagaimana firman Allah SWT yang Artinya:

”Padahal Allah yang mencipta kamu dan benda-benda yang kamu perbuat itu”. (Ash. Shaffaat: 96)

Kalam Allah Ta’ala itu satu sifat jua tiada berbilang, tetapi Ia berbagai-bagai jika dipandang dari perkara yang dikatakan yaitu :

1.      Menunjuk kepada ‘amar (perintah) seperti tuntutan mendirikan shalat dan lain-lain kefardhuan.

2.      Menunjuk kepada larangan seperti larangan mencuri, membunuh, dan lain-lain.

3.      Menunjuk kepada khabar (berita) seperti kisah-kisah Firaun dan lain-lain.

4.      Menunjuk kepada wa’ad (janji baik) seperti orang yang taat dan beramal soleh akan dapat balasan surga dan lain-lain.

5.      Menunjuk kepada wa’ud (janji balasan siksa) seperti orang

yang durhaka kepada ibu dan bapak akan dibalas dengan azab

siksa yang amat pedih.

 

n. Kaunuhu Qadiran (Keadaan-Nya yang berkuasa mengadakan dan mentiadakan)

Hakikatnya iaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah SWT, tiada Ia maujud dan tiada Ia ma’adum, yaitu lain daripada sifat Qudrat.

 

o. Kaunuhu Muridan (Keadaan-Nya yang menghendaki dan menentukan sesuatu)

Hakikatnya yaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah SWT, tiada ia maujud dan tiada ia ma’adum, yaitu lain daripada sifat Iradat.

 

p. Kaunuhu ‘Aliman (Keadaan-Nya yang mengetahui akan sesuatu)

Hakikatnya yaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah SWT, tiada ia maujud dan tiada ia ma’adum, yaitu lain daripada sifat Al-Ilmu.

 

q. Kaunuhu Haiyan (Keadaan-Nya yang hidup)

Hakikatnya yaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah SWT, tiada ia maujud dan tiada ia ma’adum, yaitu lain daripada sifat Hayat.

 

r. Kaunuhu Sami’an (Keadaan-Nya yang mendengar akan sesuatu yang maujud)

Hakikatnya yaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah Ta’ala, tiada ia maujud dan tiada ia ma’adum, yaitu lain daripada sifat Sama’.

 

s. Kaunuhu Bashiran (Keadaan-Nya yang melihat akan tiap-tiap yang maujudat (Benda yang ada))

Hakikatnya yaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah Ta’ala, tiada ia maujud dan tiada ia ma’adum, yaitu lain daripada sifat Bashar.

 

t. Kaunuhu Mutakalliman (Keadaan-Nya yang berkata-kata)

Hakikatnya yaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah Ta’ala, tiada ia maujud dan tiada ia ma’adum, yaitu lain daripada sifat Qudrat.

 

2.3.2 Sifat-sifat Mustahil bagi Allah

Wajib atas tiap-tiap mukallaf mengetahui sifat-sifat yang mustahil pada Allah yang jadi lawan daripada dua puluh sifat yang wajib bagi-Nya. Karena yang ditentukan pada alam ini mensbitkan segala ‘aqoid atas jalan tafsil pada segala sifat. Adapun keduapuluh sifat mustahil tersebut adalah sebagai berikut:

a.    Adam (tiada)

b.   Hudus (baharu)

c.    Fana’(ada kesudahan bagi wujud Allah)

d.   Mumathalatuh lilhawadithi (Menyamai atau bersamaan bagi-Nya dengan suatu yang baru)

e.    Qiamuhu bighairih (Berdiri-Nya dengan yang lain)

f.     Ta’addud (Berbilang-bilang)

g.    Ajzun (Lemah)

h.    Karahah (Benci iaitu tidak menentukan)

i.      Jahlun (Bodoh)

j.     Al-Maut (mati)

k.   As-Summu (tuli)

l.      Al-Umyu (buta)

m.  Al-Bukmu (Bisu)

n.    Kaunuhu ajizan (Keadaan-Nya yang lemah)

o.   Kaunuhu kaarihan (Keadaan-Nya yang benci yaitu tidak menentukan)

p.   Kaunuhu jahilan (Keadaan-Nya yang bodoh)

q.   Kaunuhu mayitan (Keadaan-Nya yang mati)

r.     Kaunuhu asamma (Keadaan-Nya yang pekak)

s.    Kaunuhu a’maa (Keadaan-Nya yang buta)

t.     Kaunuhu abkam (Keadaan-Nya yang bisu)

 

2.3.3 Sifat Jaiz bagi Allah

Sifat Jaiz bagi Allah adalah sifat yang boleh ada dan boleh pula tidak ada pada Allah SWT. Sifat jaiz bagi Allah hanya satu, yaitu bahwa Allah SWT itu boleh melakukan segala sesuatu yang mungkin atau pun tidak mungkin melakukannya.

Allah SWT menciptakan manusia dengan berbagai bentuk yang berbeda, ada yang cantik, sedang, gemuk, kurus, kaya, miskin, dan sebagainya semata-mata menurut kehendak-Nya. Allah menciptakan alam dan boleh saja tidak menciptakannya. Allah SWT bebas dengan-Nya sendiri tanpa ada yang memaksa. Jadi, semua itu semata-mata berlaku menurut kehendak-Nya dan tinggal bagaimana kita sebagai manusia wajib melakukan ikhtiar dan berusaha agar tidak dikaruniai takdir yang buruk-buruk.

Adapun dalil naqli tentang sifat jaiz bagi Allah SWT antara lain disebutkan dalam Surah ali-Imran ayat 26 yang artinya: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. [Q.S. ali-Imran 26]


[1] Imam Al-ghazali, Tauhidullah (Surabaya: Risalah Gusti, 1998), 4.

[2] http://syiarislam.wordpress.com/2007/09/13/bukti-tuhan-itu-ada (Nopember , 2010)

 

DAFTAR PUSTAKA

Al-Ghazali, Abu Hamid, TauhidullahRisalahSuciHujjatul. Surabaya: RisalahGusti, 1998.

Kattsoff, Louis, PengantarFilsafat. Yogyakarta: Tiara WacanaYogya, 2004.

http://syiarislam.wordpress.com/2007/09/13/bukti-tuhan-itu-ada.Senin, 15 Nopember 2010.

http://organisasi.org/sifat-wajib-tuhan-allah-yang-maha-esa-bukti-bahwa-tuhan-itu-ada-dan-aku-percaya-padanya-100.Senin, 15 Nopember 2010.

http://www.scribd.com/doc/3862100/Alam-Ciptaan-Allah-Bukti-Allah-SWT-itu-ada. Senin, 15 Nopember 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s