Ahda Gusti Nuril (B05210046) – Teori Rasionalitas dan Tindakan Sosial (Max Weber)

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah

LOGICA SCIENTIFIC

Penjelasan Teori Sosiologi Max Weber : Rasionalitas dan Tindakan Sosial

Dosen:

Drs. Masduqi Affandi, MPd.I

Oleh:

Ahda Gusti Nuril (B05210046)

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

FAKULTAS DAKWAH

PRODI SOSIOLOGI

SURABAYA

2011

 

 

BAB 1

Pendahuluan

Latar Belakang

                Sosiologi merupakan suatu ilmu yang telah melalui proses perkembangan pemikiran filosofi dan empirical-histories. Fenomena sosial yang terjadi di Eropa Barat antara abad ke-15  hingga abad ke-18 merupakan latar belakang yang sangat memperngaruhi perkembangan sosiologi. Sosiologi dianggap sebagai ilmu pengetahuan yang memiliki paradigma majemuk disebabkan oleh kompleksitas permasalahan yang ada di masyarakat sehingga menghasilkan berbagai macam sudut pandang dalam sosiologi itu sendiri.

Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang terus berkembang. Suatu pandangan dan pemahaman yang digagas oleh pakar sosiologi pada jaman tertentu, akan mendapat kritikan dan pembaharuan oleh pakar sosiologi pada jaman berikutnya, tergantung dari situasi sosial dan politk pada jamannya, dengan menjadikan pandangan yang dahulu sebagai titik tolak untuk mendapatkan gagasan baru. Oleh karena itu, pandangan-pandangan sosiologi yang berbeda-beda tersebut menyusun suatu paradigma yang berbeda pula, tergantung dari fokus perhatian, fenomena sosial yang menjadi perhatian, serta metode yang dikembangkan untuk menelaah masalah-masalah di dalam masyarakat yang beragam, baik dari segi jaman maupaun teritorial.

 

BAB II

Pembahasan

Teori Rasionalitas Max Weber

Dalam filsafat , rasionalitas pelaksanaan alasan. Ini adalah cara di mana orang menarik kesimpulan ketika mempertimbangkan hal-hal yang sengaja. Hal ini juga mengacu pada kesesuaian keyakinan seseorang dengan seseorang alasan untuk keyakinan, atau dengan tindakan seseorang dengan seseorang alasan untuk tindakan. Namun, “rasionalitas” istilah cenderung digunakan dalam diskusi khusus ekonomi , sosiologi , psikologi dan ilmu politik . Sebuah keputusan yang rasional adalah salah satu yang tidak hanya beralasan, tetapi juga optimal untuk mencapai suatu tujuan atau menyelesaikan masalah. “Rasionalitas” digunakan berbeda di berbagai disiplin ilmu[1].

Ada kalanya seperti contoh masalah ilmu ketuhanan yang dikaitkan dengan filsafat. Secara rasio, pikiran kita tak akan bisa menyambungkannya. Yang bisa “mendamaikan” hanyalah iman yang kita miliki. Jika seseorang berpikir rasional bahwa usaha adalah cara yang tepat untuk mencapai tujuan, itu  memang benar. Tapi secara bathiniyah religius seseorang Doa sangatlah dibutuhkan seperti teori yang dikemukakan Comte dalam teori metafisik nya. Dan pemikiran kita tentang ”Tuhan itu ada”. Secara rasional pikiran kita tidak akan bisa menerima karena kurang bukti nyata tentang adanya (bentuk/dzat) Tuhan yang benar-benar jelas.

Menentukan optimalitas untuk perilaku rasional memerlukan formulasi diukur dari masalah, dan pembuatan beberapa asumsi kunci. Ketika tujuan atau masalah melibatkan membuat keputusan, rasionalitas faktor dalam seberapa banyak informasi yang tersedia (lengkap atau tidak lengkap misalnya pengetahuan ). Secara kolektif, asumsi formulasi dan latar belakang adalah model di mana rasionalitas berlaku. Menggambarkan relativitas rasionalitas: jika seseorang menerima sebuah model di mana manfaat diri sendiri adalah optimal, maka rasionalitas disamakan dengan perilaku yang mementingkan diri sendiri ke titik yang egois; sedangkan jika seseorang menerima model yang menguntungkan kelompok optimal, maka perilaku pribadi semata dianggap tidak rasional. Dengan demikian berarti untuk menegaskan rasionalitas tanpa juga menetapkan asumsi model latar belakang menggambarkan bagaimana masalah dibingkai dan dirumuskan. Manusia dipandang sebagai makhluk yang rasional dan juga tidak rasional. Pada hakikatnya manusia itu memiliki kecenderungan untuk berfikir yang rasional atau logis, di samping itu juga ia memiliki kecenderungan untuk berfikir tidak rasional atau tidak logis,kedua kecenderungan yang di miliki oleh manusia ini akan nampak dengan jelas dan tergambar dalam bentuk tingkah laku yang nyata. Dengan kata lain dapat di jelaskan bahwa apabila seseorang telah berfikir rasional atau logis yang dapat di terima dengan akal sehat, maka orang itu akan bertingkah laku yang rasional dan logis pula. Tetapi sebaliknya apabila seseorang itu berfikir yang tidak rasional atau tidak bisa di terima oleh akal sehat maka ia akan menunjukan tingkah laku yang tidak rasional. Pola berfikir semacam inilah oleh Ellis yang di sebut sebagai penyebab bahwa seseorang itu mengalami gangguan emosionil.

Para sosiolog Jerman Max Weber mengusulkan sebuah interpretasi aksi sosial yang membedakan antara empat jenis rasionalitas. Yang pertama, yang disebut Zweckrational atau purposive / instrumental rasionalitas, berkaitan dengan harapan tentang perilaku manusia lain atau benda di lingkungan. Harapan ini berfungsi sebagai sarana untuk aktor tertentu untuk mencapai tujuan, ujung yang Weber mencatat yang “rasional dikejar dan dihitung.” Tipe kedua, disebut Weber Wertrational atau nilai / kepercayaan berorientasi. Berikut tindakan yang dilakukan untuk apa yang disebut alasan intrinsik untuk aktor: beberapa, etika estetika, motif agama atau lainnya, tergantung dari apakah itu akan membawa kesuksesan. Jenis ketiga adalah affectual, ditentukan oleh afek yang spesifik seorang aktor, perasaan, atau emosi – “. Arti berorientasi” yang Weber sendiri mengatakan bahwa ini adalah jenis rasionalitas yang di garis batas apa yang dianggap Keempat adalah tradisional, ditentukan oleh pembiasaan mendarah daging. Weber menekankan bahwa itu sangat tidak biasa untuk menemukan hanya salah satu orientasi: kombinasi adalah norma. Penggunaan nya juga membuat jelas bahwa ia menganggap dua yang pertama sebagai lebih penting daripada yang lain, dan dapat dikatakan bahwa ketiga dan keempat adalah subtipe dari dua yang pertama. Jenis-jenis rasionalitas yang tipe ideal.

Keuntungan dalam penafsiran ini adalah bahwa ia menghindari penilaian yang bermuatan nilai, mengatakan, bahwa beberapa jenis keyakinan yang irasional. Sebaliknya, Weber menunjukkan bahwa tanah atau motif dapat diberikan – untuk agama atau mempengaruhi alasan, misalnya – yang dapat memenuhi kriteria penjelasan atau pembenaran bahkan jika itu bukanlah penjelasan yang sesuai dengan orientasi Zweckrational sarana dan berakhir. Sebaliknya karena itu juga benar: beberapa cara-berakhir penjelasan tidak akan memuaskan mereka yang dasar untuk tindakan adalah ‘Wertrational’.

Konstruksi Weber tentang rasionalitas telah dikritik baik dari Habermasian (1984) perspektif (sebagai tidak memiliki konteks sosial dan di bawah-berteori dalam hal kekuasaan sosial)[2], dan juga dari feminis perspektif (Eagleton, 2003) dimana konstruksi rasionalitas Weber adalah dipandang sebagai dijiwai dengan nilai-nilai maskulin dan berorientasi pada pemeliharaan kekuasaan laki-laki[3].Sebuah posisi alternatif pada rasionalitas (yang meliputi rasionalitas terbatas (Simons dan Hawkins, 1949)[4], serta afektif dan nilai-argumen berdasarkan Weber) dapat ditemukan dalam kritik Etzioni (1988)[5], yang reframes pemikiran pada pengambilan keputusan untuk berdebat untuk pembalikan posisi yang diajukan oleh Weber. Etzioni menggambarkan bagaimana purposive / instrumental penalaran adalah subordinasi oleh pertimbangan-pertimbangan normatif (ide-ide tentang bagaimana orang ‘harus’ untuk berperilaku) dan pertimbangan afektif (sebagai sistem dukungan untuk pengembangan hubungan manusia).

Dalam psikologi penalaran , psikolog dan ilmuwan kognitif telah membela posisi yang berbeda pada rasionalitas manusia. Salah satu pandangan yang menonjol, karena Philip Johnson-Laird dan Ruth MJ Byrne antara lain adalah bahwa manusia rasional pada prinsipnya tetapi mereka keliru dalam praktek, yaitu, manusia memiliki kompetensi harus rasional, tetapi kinerja mereka dibatasi oleh berbagai faktor[6].

Mengapa manusia itu berfikir tidak rasional, albert Ellis mengungkapkan beberapa pendapat yang bersifat universal, di antaranya[7]:

  • bahwa seseorang itu pada hakikatnya ingin di hargai, di cintai ataupun di sayangi oleh setiap orang.
  • bahwa seseorang itu memiliki kecenderungan untuk ingin yang serba sempurna dalam hidup ini.
  • bahwa di antara manusia ini tidak tergolong semuanya baik, dan ada pula manusia yang tergolong jahat, kejam, dan jelek.
  • manusia memiliki kecenderungan memandang bahwa malapetaka yang terjadi sebagai sesuatu yang tidak diingnkan.
  • ketidaksenangan, ketidakpuasan ataupun ketdak bahagiaan pada seseorang itu di pandang bersumber dari kondisi di luar dirinya semata-mata.
  • seorang memiliki kecenderungan untuk hidup tergantung pada orang lain.
  • seseorang memiliki kecenderungan lebih mudah menghindari tanggunga jawab (kesulitan-kesulitan) dari pada menghadapinya.
  • seseorang memiliki kecenderungan untuk tidak menghiraukan masalah-masalah orang lain, karena di pandang oleh seseorang bahwa masalah orang lain itu tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya sendiri.
  • pengalaman masa lalu di pandang sebagai suatu factor yang menentukan tingkah laku masa ini.
  • seseorang memiliki kecenderungan untuk mencari pemecahan suatu masalah yang sempurna.

Kesepuluh kecenderungan yang di kemukakan Ellis di atas adalah merupakan factor penyebab, kenapa manusia itu berfikir tidak rasional. Harus di yakini bahwa manusia memiliki keterbatasan-keterbatasan tertentu pada dirinya.

  • Kepribadian yang sehat

Kepribadian yang sehat berarti sesorang hidup secara rasional artinya berfikir, berperasaan dan berprilaku sedemikian rupa, sehingga kebahagiaan hidup dapat di capai secara efisien dan efektif. Maksudnya seseorang dalam berperasaan dan bertindak menunjuk pada akal sehat. Sehingga seseorang dapat berpandangan yang realistic dan rasional, dalam rangka untuk melakukan adaptasi diri dengan baik.

Contoh: seorang anak A merasa, berfikir dan bertindak bahwa ia di sanjung dan di sayangi oleh teman-temannya hanya dapat di capai dengan bergaul yang baik, tegang-menegang, toleransi dan prestasi dalam kegiatan-kegiatan di sekolah maupun di luar sekolah. Maka anak ini bisa dikatakan mempunyai pandangan dan logis dan rasional. Rasional karena hubungan sebab akibat dapat di pahami secara jelas dan langsung. Logis karena sesuai dengan kenyataan umum. Maka ini dapat dikatakan sehat mental khususnya berhubungan dengan masalah pergaulan.

  • Kepribadian yang tidak sehat

Berarti seseorang dalam berperasaan dan bertindak tidak menggunakan akal sehat (tidak rasional). Sehingga akan menghasilkan perasaan yang tidak membahagiakan serta tidak mendukung perilaku yang tepat, yang akhirnya menimbulkan kesukaran bagi dirinya sendiri, dimana kesuaran ini akan menggejala dalam perasaan dan dalam caranya bertindak yang diakibatkan dari cara berfikir yang keliru atau tidak normal. Misalnya bila seseorang memandang suatu kegagalan pukulan yang menghancurkan kehidupannya untuk selanjutnya (berfikir rasional), dia akan merasa putus asa dan depresi yang akhirnya bertindak yang kurang sesuai seperti menyalahkan diri sendiri dan orang lain.

Seseorang sering kali berpegang pada setumpuk keyakinan yang sebenarnya kurang masuk akal atau rasional, yang di tanamkan sejak kecil dalam lingkungan kebudayaan atau keluarga atau yang di ciptakan sendiri. Tumpukan keyakinan irasional cenderung untuk bertahan lama. Bahkan orang cenderung memperkuatnya sendiri dengan berbagai alasan.

Dalam kepribadian yang menyimpang, Ellis mengemukakan gangguan-gangguan yang terjadi pada kepribadian seseorang tentang neorosis dan psikopatologi. Neorosis di definisikan sebagai seseorang dalam berfikir dan bertingkah laku tidak raonal, dimana keadaan alam ini tidak masuk akal, sehingga menimbulkan perasaan yang negative atau tidak wajar.

Contoh: rasa depresi, gelisah,putus asa dan gelisah dsb.

Kenyataan ini berakar dalam kenyataan bahwa manusia hidup dalam masyarakat membutuhkan manusia lain. Sedangkan psikopatologi didefinisikan sebagai timbunan keyakinan-keyakinan irasional yang berasal dari orang-orang yang berpengaruh selama masa kanak-kanak,yang secara aktif membentuk keyakinan-keyakinan yang keliru dan sikap-siap yang difungsional dalam hidup dan bekerja di dalam diri. Yang mana hal tersebutdi sebabkan oleh pengulang-pengulang, pemikiran-pemikran irasional yang di terima juga pada masa lampau, yang dilakukan oleh individu sendiri.

Mengubah diri dalam berfikir irasional untuk mempertahankan keyakinan-keyakinan yang sebenarnya tidak masuk akal, ditambah dengan perasaan cemas tentang ketidakmampuanya mengubah tingkah lakunya dan akan kehilangan berbagai keuntungan yang di peroleh dari perilakunya, meskipun perubahan pada diri sendiri tidak mudah, patut di usahakan dengan menyerang kekacauan dalam berfikir dan melatih diri mewujudkan landasan pikiran yang lebih sehat dalam tingkah laku yang konkret.

Terkait masalah Rasionalitas yang dikemukakan Weber, Tindakan Rasional yang dilakukan seseorang seperti saat ini adalah seperti pikiran yang kadang tidak bisa mendorong kita untuk bertindak. Kadang juga kita sering berpikir bahwa tindakan orang lain itu sama sekali tak masuk akal. Seperti contoh kita sering menemukan seseorang yang melakukan tindakan diluar kebiasaan kita. Kita akan berpikir bahwa orang itu melakukan tindakan yang tak lazim dilakukan orang normal. Tetapi kita juga pasti tau bahwa tindakan orang yang kita nilai tidak lumrah tersebut hanya karena perbedaan kebiasaan, lingkungan, dan masalah sosial lainnya. Pikiran kita hanya terpatok pada pemikiran kita sendiri. banyak orang menganggap perilaku atau keputusan orang lain ‘melenceng’ secara pemikiran kita. Karena kita hanya mengacu pada pemikiran kita sendiri . dan jarang sekali yang berpemikiran “di luar kotak”.

Seperti contoh saat ini yang terjadi; seorang balita yang rajin “Makan Kertas”. Menurut kita yang normal, tindakan seperti itu sangat tidak rasional. ”Kertas kok dimakan. Bukannya Ayam Goreng lebih nikmat yah”. Kertas yang umumnya dibuat untuk bahan menulis, justru dibuat untuk makan. Secara pikiran kita perilaku seperti itu memang sangat mengherankan dan tidak masuk akal karena kita yang memang biasa memakan makanan yang layak dimakan. Dia yang mungkin karena minim biaya atau tak ada bahan makanan lainnya yang menyebabkan akhirnya terpaksa dengan perlahan menjadi seperti itu dan menjadi kebiasaan dan bahkan menjadi kebutuhan yang akhirnya menurutnya itu sangatlah lazim. Dan bisa juga hal seperti itu bisa menimbulkan teori baru yang biasa kita namakan ”selera”, karena dia yang sudah menganggap memakan kertas seperti itu adalah hal yang biasa yang lumrah dilakukannya dan sebaliknya menurut kita.

 

Teori Tindakan Sosial Max Weber

Dalam hidup bermasyarakat, kamu pasti mengadakan hubungan dengan orang lain. Hubungan tersebut dalam sosiologi disebut interaksi sosial. Interaksi sosial merupakan intisari dari kehidupan sosial. Sebelum kita pelajari lebih jauh mengenai interaksi sosial, ada suatu hal yang mendasari terjadinya interaksi sosial, yaitu tindakan sosial. Apakah yang dimaksud dengan tindakan sosial dan apa saja bentukbentuknya? Lebih lengkap akan kita bahas berikut ini.

Setiap hari kamu melakukan tindakan dengan maksud dan tujuan tertentu. Tindakan itu umumnya berkaitan dengan orang lain, mengingat kodratmu sebagai makhluk sosial.

1. Pengertian Tindakan Sosial

Kita sebagai makhluk hidup senantiasa melakukan tindakantindakan untuk mencapai tujuan tertentu. Tindakan merupakan suatu perbuatan, perilaku, atau aksi yang dilakukan oleh manusia sepanjang hidupnya guna mencapai tujuan tertentu. Misalnya kamu les bahasa Inggris dengan tujuan agar kamu terampil dan mahir dalam berbahasa Inggris. Tidak semua tindakan manusia dapat dianggap sebagai tindakan sosial. Lalu tindakan yang bagaimanakah yang disebut dengan tindakan sosial? Perhatikan cerita berikut ini. “Suatu sore, Bintang duduk-duduk diteras depan sambil mendengarkan musik. Tiba-tiba ada seorang gadis cantik berambut panjang lewat di depan rumahnya. Dengan maksud untuk menggoda gadis itu, Bintang kemudian bersiul”.

Dari cerita di atas, tindakan ‘bersiul’ yang dilakukan Bintang merupakan bentuk tindakan sosial. Mengapa? Bintang ‘bersiul’ karena ingin menggoda gadis cantik berambut panjang yang lewat di depan rumahnya. Dari situ, dapatkah kamu memberikan definisi mengenai tindakan sosial? Tindakan sosial adalah suatu tindakan yang dilakukan dengan berorientasi pada atau dipengaruhi oleh orang lain.

2. Jenis-Jenis Tindakan Sosial

Menurut Max Weber, tindakan sosial dapat digolongkan menjadi empat kelompok (tipe), yaitu tindakan rasional instrumental, tindakan rasional berorientasi nilai, tindakan tradisional, dan tindakan afeksi.

a. Tindakan Rasional Instrumental

Tindakan ini dilakukan seseorang dengan memperhitungkan kesesuaian antara cara yang digunakan dengan tujuan yang akan dicapai. Misalnya guna menunjang kegiatan belajarnya dan agar bisa memperoleh nilai yang baik, Fauzi memutuskan untuk membeli buku-buku pelajaran sekolah daripada komik.

b. Tindakan Rasional Berorientasi Nilai

Tindakan ini bersifat rasional dan memperhitungkan manfaatnya, tetapi tujuan yang hendak dicapai tidak terlalu dipentingkan oleh si pelaku. Pelaku hanya beranggapan bahwa yang paling penting tindakan itu termasuk dalam kriteria baik dan benar menurut ukuran dan penilaian masyarakat di sekitarnya. Misalnya menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya masing-masing.

c. Tindakan Tradisional

Tindakan ini merupakan tindakan yang tidak rasional. Seseorang melakukan tindakan hanya karena kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat tanpa menyadari alasannya atau membuat perencanaan terlebih dahulu mengenai tujuan dan cara yang akan digunakan. Misalnya berbagai upacara adat yang terdapat di masyarakat.

d. Tindakan Afektif

Tindakan ini sebagian besar dikuasai oleh perasaan atau emosi tanpa pertimbangan-pertimbangan akal budi. Seringkali tindakan ini dilakukan tanpa perencanaan matang dan tanpa kesadaran penuh. Jadi dapat dikatakan sebagai reaksi spontan atas suatu peristiwa. Contohnya tindakan meloncat-loncat karena kegirangan, menangis karena orang tuanya meninggal dunia, dan sebagainya.

Dan Tindakan Sosial menurut Weber adalah seperti contoh; menanam bunga untuk kesenangan pribadi bukan merupakan tindakan sosial, tetapi menanam bunga untuk diikutsertakan dalam sebuah lomba sehingga mendapat perhatian orang lain, merupakan tindakan sosial[8]. Tindakan Sosial ala Weber disini adalah tindakan yang melibatkan orang lain adalah merupakan tindakan sosial atau sebagai tindakan yang dilakukan dengan mempertimbangkan perilaku orang lain.

Meskipun tulisan-tulisan Weber secara metodologis menekankan pentingnya arti-arti subjektif dan pola-pola motivasional, karya substantifnya meliputi suatu analisa struktural dan fungsional yang luas jangkauannya. Hal ini dapat dilihat misalnya dalam modelnya tentang stratifikasi yang memiliki tiga dimensi, studinya mengenai dominasi birokratik dan pengaruhnya dalam masyarakat modern, serta ramalannya yang berhubungan dengan konsekuensi-konsekuensi jangka panjang dari pengaruh etika.

Struktur sosial dalam perspektif Weber didefinisikan dalam istilah-istilah yang bersifat probabilistik dan bukan sebagai suatu kenyataan empirik yang ada terlepas dari individu-individu. Jadi misalnya, suatu “hubungan sosial seluruhnya dan secara eksklusif terjadi karena adanya probabilitas  dimana akan ada suatu arah tindakan sosial dalam suatu pengertian yang dapat dimengerti secara berarti”.[9] Suatu kelas ekonomi menunjuk pada suatu kategori orang-orang yang memiliki kesempatan hidup yang sama seperti ditentukan oleh sumber-sumber ekonomi yang dapat dipasarkan. Suatu keteraturan sosial yang absah didasarkan pada kemungkinan bahwa seperangkat hubungan sosial akan diarahkan ke suatu kepercayaan akan validitas keteraturan itu.[10]  Dalam semua hal ini, realitas akhir yang menjadi dasar satuan-satuan sosial yang lebih besar ini adalah tindakan sosial individu dengan arti-arti subjektifnya. Karena orientasi subjektif individu mencakup kesadaran (tepat atau tidak) akan tindakan yang mungkin dan reaksi-reaksi yang mungkin dari orang lain, maka probabilita-probabilita ini mempunyai pengaruh yang benar-benar terhadap tindakan sosial, baik sebagai sesuatu yang bersifat memaksa maupun sebagai satu alat untuk mempermudah satu jenis tindakan dari pada yang lainnya.[11]

 

DAFTAR PUSTAKA

Johnson, Doyle Paul, dan Lawang, Robert M.Z; Teori Sosiologi : Klasik dan Modern, 1988, Jakarta, PT. Gramedia

Soekanto, Soerjono;  Sosiologi Suatu Pengantar, 2007, Jakarta, PT RajaGrafindo Persada

http://id.wikipedia.org/wiki/Sosiologi

http://www.cahyasunandar.co.cc/2009/06/teori-rasional-emotif.html


[2] Habermas, J. (1984) Teori Volume Communicative Action 1; Alasan dan Rasionalisasi Masyarakat,Cambridge: Polity Press.

[3] Eagleton, M. (ed) (2003) A Companion Singkat Teori feminis,Oxford: Blackwell Publishing.

[4] Simons, H. dan Hawkins, D. (1949), “Beberapa Kondisi Makro-Ekonomi Stabilitas“, Econometrica, 1949.

[5] Etzioni, A. (1988), “Normatif-Afektif Faktor: Menuju Model Pengambilan Keputusan Baru”, Jurnal Psikologi Ekonomi, Vol. 9, hlm 125-150.

[6] Byrne, RMJ & Johnson-Laird, PN (2009). ‘Jika’ dan masalah penalaran kondisional. Tren Ilmu Kognitif 13,. 282-287

[9] Ibid., hlm. 118.

[10] Ibid., hlm. 124

[11] Teori Sosiologi : Klasik dan Modern / Doyle Paul Johnson

This entry was posted in SOS2/ F2. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s