laporan tugas logica scientifica

LAPORAN HASL TUGAS MATA KULIYAH LOGICA SCIENTIFIC

PENJELASAN TEORI SOSIOLOGI EMILE DURKHEIM DAN MAX WEBBER

 

 

Oleh

Hamid Khoiron Ali Fikri (B05210033)

Disusun untu memenuhi tugas mata kuliyah logica scientific

IAIN Sunan Ampel Surabaya fakultas Dakwah Prodi Sosiologi kelas

BAB I

PENDAHULUAN

 Latar belakang

Sosiologi berasal dari bahasa yunani yaitu kata socius dan logos, di mana socius memiliki arti kawan / teman dan logos berarti kata atau berbicara. Menurut Bapak Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial.

Sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari fakta-fakta sosial, yakni fakta yang mengandung cara bertindak, berpikir, berperasaan yang berada di luar individu di mana fakta-fakta tersebut memiliki kekuatan untuk mengendalikan individu.

Objek dari sosiologi adalah masyarakat dalam berhubungan dan juga proses yang dihasilkan dari hubungan tersebut. Tujuan dari ilmu sosiologi adalah untuk meningkatkan kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan lingkungan sosialnya.

Pokok bahasan dari ilmu sosiologi adalah seperti kenyataan atau fakta sosial, tindakan sosial, khayalan sosiologis serta pengungkapan realitas sosial.

Seorang manusia akan memiliki perilaku yang berbeda dengan manusia lainnya walaupun orang tersebut kembar siam. Ada yang baik hati suka menolong serta rajin menabung dan ada pula yang prilakunya jahat yang suka berbuat kriminal menyakitkan hati. Manusia juga saling berhubungan satu sama lainnya dengan melakukan interaksi dan membuat kelompok dalam masyarakat.

BAB II

PEMBAHASAN

Emile Durkheim

Pemikiran Durkheim tentang sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang

fakta sosial atau mempelajari masyarakat secara luas yang termasuk dalam

kajian sosiologi makro. Sedangkan masyarakat menurut Durkheim adalah keseluruhan dari pola interaksi yang sangat kompleks sifatnya. Durkheim dalam sepanjang hidupnya memberikan perhatiannya terhadap solidaritas dan integrasi. Perhatian yang besar terhadapnya muncul dari kesadarnnya bahwa berkurangnya pengaruh agama tradisional yang merusakkan dukungan tradisional yang utama untuk standar moral bersama yang membantu mempersatukan masyarakat di masa lampau. Solidaritas dan integarasi merupakan permasalahan substansif dalam teori-teori Durkheim. Masalah yang utama bagi Durkheim adalah masalah sentral dalam analisa sosiologi yang menjelaskan tentang keteraturan sosial yang mendasar dan berhubungan dengan proses-proses sosial yang meningkatkan integrasi dan solidaritas. Dan juga merupakan masalah pokok dalam prespektif fungsional sekarang ini. Fungsionalisme juga menekankan integrasi dan solidaritas serta pentingnya memisahkan analisa tentang tujuan dan motivasi yang sadar dari individu.

Asumsi umum yang paling mendasar Durkheim terhadap pendekatan sosiologi adalah bahwa gejala sosial itu riil dan mempengaruhi kesadaran individu serta perilakunya yang berbeda dari karakteristik psikologi, biologi atau yang lainnya. Tekanan Durkheim pada kenyataan sosial yang obyektif itu bertentangan dengan individu yang berlebihan. Dan penjelasan Durkheim mengenai fakta sosial akan dijelaskan secara rinci dalam penjelasan berikut.

1. Fakta Sosial

Adalah setiap cara bertindak yang umumnya terdapat dalam suatu masyarakat tertentu yang yang memiliki eksistensinya sendiri terlepas dari manifestasi individu. Menurut Durkheim bahwa fakta sosial itu tidak dapat direduksikan ke fakta individu melainkan memiliki eksistesinya yang independen pada tingkat sosial.

Linkungan sosial dimana perilaku berlangsung berbeda dari lingkungan fisik yang ditinggali. Lingkungan fisik hanya membuat kondisi-kondisi yang diperhitungkan oleh setiap individu demi keselamatannnya. Tapi lingkungan sosial tidak hanya membuat kondisi-kondisi tetapi juga norma-norma dan tujuan-tujuan perilaku yang ditujukan kepadanya. Itulah ciri khas dari lingkungan sosial, sehingga disebut oleh Durkheim sebagai fakta sosial atau realitas sui generis.

Setiap individu lahir dalam lingkungan sosial budaya yang berbeda dan tertentu. Yang dialaminya seolah-olah datang dari luar dan diluar kemampuan individu atau tidak tergantung dari individu tersebut. Masyarakat setempat dari lingkungan tersebut menyampaikan kepada tiap- tiap anggota masyarakat berupa naskah yang berisi peranan-peranan yang diharapkan dari masyarakat setempat tersebut. Boleh jadi tiap-tiap anggota dari masyarakat tersebut membanggakan indepedensinya atau peranan- peranan yang dimilikinya. Tetapi dalam kenyataannya individu tersebut lebih banyak merupakan pelaku konformnitas daripada pemberontak yang lebih menyukai pembaruan, lebih banyak bersikap konservatif daripada merintis apa yang sudah ada atau lebih dulu yang menjadi masyarakat setempat.

Baik dalam pergaulan,pendidikan, maupun dalam pekerjaan maupun dalam kehidupan yang secara lazim disebut “pribadi” pun mereka lebih banyak menyesuaikan diri dengan fakta sosial dari pada melanggar atau membuat sesuatu yang baru. Sehubungan dengan pengaruh besar dari faktor rutin dalam perilaku sosial anggota masyarakat , individu mendapatkan kesan dari fakta sosial bahwa fakta sosial mempunyai kekuatan memaksa atau menekan atas individu dan mengatur kelakuannya. Individu takut akan sanksi ataupun reaksi negative atau hukumannya, kalau mereka tidak menyesuaikan diri

terhadap fakta sosial. Durkheim memakai istilah pengaruh dari fakta sosial dengan puissance imperative et coercitive. Istilah fakta sosial seolah-olah telah member kesan bahwa kehidupan sosial berstatus ontologis atau kehidupan tersendiri yang terpisah dari kehidupan individual. Durkheim, tidak menceraikan fakta sosial dari pelaku atau anggota masyarakat yang disebut individu tetapi menurutnya ada alasan untuk memb ayangkan gejala sosial sebagai obyek. Fakta sosial berupa struktur-struktur masyarakat,Negara, dan keluarga, nilai-nilai seperti kedaulatan, agama, adat, norma-norma kesusilaan , dan sebagainya.

Dari penjelasan di atas maka fakta sosial mempunyai karakteristik seperti,

• Fakta sosial bersifat eksternal terhadap individu

• Fakta soaial mempunyai kekuatan menekan dan memaksa individu untuk berperilaku sesuai fakta sosial meskipun bukan merupakan kemauannya

• Fakta sosial bersifat umum dan menyebar ke seluruh lapisan

masyarakat

• Fakta sosial harus dijelaskan dengan fakta sosial yang lain, artinya bahwa untuk menjelaskan suatu fakta sosial harus dijelaskan dalam hubungannya dengan fakta sosial yang lain,namun selain itu tak menutup kemungkinan fakta sosial dijelaskan dalam hubungannya dengan gejala individu.[1]

2. Solidaritas Sosial

Dari semua fakta sosial yang dijelaskan oleh Durkheim, tak satupun yang se-

sentral konsep solidaritas sosial. Solidaritas sosial adalah suatu keadaan dimana suatu hubungan keadaan antara inidividu atau kelompok yang didasarkan pada faktor perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama diperkuat oleh pengalaman pengalaman emosional bersama.

Hubungan ikatan ini lebih kuat dibandingkan hubungan yang didasarkan pada kontrak atas persetujuan rasional. Karena keadaan hubungan yang ada, timbul dari kemampuan masing-masing individu dalam berempati terhadap individu atau kelompok yang lain dalam hubungannya itu, sehingga antara individu satu dengan yang lain dapat ikut merasakan perasaan batiniyah dari salah satunya ketika terkena dampak peristiwa sosial. Dan atas dasar kepercayaan yang dianut bersama merupakan satu kesatuan nyata mendorong kesadaran kolektiv muncul.

a) Solidaritas Mekanik

Kesadaran sebagai individu pada masa dahulu masih lemah, sedangkan kesadaran kolektif memerintah atas atas bagian terbesar kehidupan individu. Kepercayaan yang sama, perasaan yang sama, dan tingkah laku yang sama mempersatukan orang menjadi masyarakat. Apa yang dicela oleh salah satu maka dicela pula oleh yang lainnya, apa yang dianggap baik oleh yang satu maka dianggapa baik pula oleh yang lainnya. Solidaritas mekanik didasarkan pada suatu “kesadaran kolektif” bersama (collective consciousness/conscience) yang menunjuk pada totalitas kepercayaan dan sentimen bersama yang rata-rata ada pada warga masyarakat yang sama itu.1 Itu merupakan suatu          solidaritas yang tergantung pada individu yang memiliki sifat-sifat yang sama dan menganut kepercayaan dan pola normatif yang sama pula. Ikatan utamanya adalah kepercayaan bersama,cita-cita, dan komitmen moral. Contoh dari solidaritas mekanik di dalam masyarakat adalah jamaah keagamaan. Bagi Durkheim indikator yang paling jelas

untuk solidaritas mekanik adalah ruang lingkup dan kerasnya hukum-hukum yang bersifat menekan. Ciri khas yang penting dari solidaritas itu, didasarkan pada suatu tingkat homogenitas yang tinggi dalam kepercayaan, sentimen dan sebagainya. Homogenitas itu hanya berkembang bila tingkat pembagian kerja rendah. Karena itu individualitas tidak berkembang, individualitas itu terus menerus dilumpuhkan oleh tekanan yang besar sekali guna tercapainya konformnitas.

b) Solidaritas Organik

Masyarakat modern disatukan oleh suatu solidaritas organik, yaitu solidaritas organik muncul karena pembagian kerja bertambah besar. Biasanya terjadi dalam masyarakat industri. Karena perbedaan antara individual membuat mereka menjadi masyarakat, maka dapat dikatakan integritas yang tinggi berpengaruh besar dalam terciptanya solidaritas itu. Solidaritas organik didasarkan pada tingkat ketergantungan yang tinggi. Adanya spesialisasi dalam kerja yang saling berhubungan dan saling tergantung sedemikian rupa sehingga system itu membentuk solidaritas menyeluruh yang funsionalitas. Tingkat diferensiasi dan spesialisasi yang menimbulkan saling ketergantungan secara relative dari pada nilai dan norma yang berlaku. Tingkat individu pun relatif tinggi. Apa yang dianggap baik oleh salah satu orang, belum tentu menjadi baik pula oleh yang lain.

Contoh dari solidaritas organiik di dalam masyarakat adalah perusahaan dagang. Dimana di dalamnya anggota termotivasi oleh faktor imbalan ekonomi, ada ketergantungan antara orang yang bekerja di mesin,mengawasi mesin,memperbaiki mesin, mandor, penjual, pembukuan, yang menjual barang, sekretaris, akuntan, manajer, dan seterusnya, yang saling berhubungan, maka membentuk sebuah solidaritas dalam suatu sistem. [2]

 

Max Webber

Dalam pemikiran webber, difokuskan dalam masalah-masalah motivasi individu dan arti subyektif. Tujuannya adalah untuk menganalisa hubungan yang penting antara pola-pola motivasi subyektif dan pola institusional yang besar dalam masyarakat. Bila Durkheim mempelajari masyarakat dalam prespektif secara luas atau makro ,maka Webber melelalui prespektif dalam lingkup yang lebih sempit yaitu prespektif mikro. Webber memilih konsep rasionalitas sebagai titik pusat perhatiannya yang utama, dan sama pentingnya dengan konsep utama Durkheim yaitu konsep solidaritas. Karena konsep rasionalitas sebagai pusat acuan maka keunikan orientasi obyektif individu serta motivasinya sebagian dapat diatasi dan diteliti. Jadi menurut webber sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang perilaku sosial serta intepretatif memandang individu dan tindakannya sebagai satuan dasar dan individu sebagai inti dari sosiologi.

Bebeda dengan Durkheim, Webber memandang fakta sosial sebagai sesuatu yang didasarkan pada motivasi individu dan ttindakan-tindakan social. Lalu melihat masyarakat sebagai sesuatu yang riil, yang tidak harus mencerminkan maksud individu-individu yang sadar. Masyarakat bukan sekedar kenyataan tetapi lebih kepada bagian-bagiannya. Berikut ini akan dijelaskan secara lebih rinci penjelasan mengenai tindakan social dan macam-macam tindakan sosial yang didasarkan pada konsep rasionalitas.

Maka berdasarkan kriteria rasional dan nonrasional dapat dibagi dalam 2 kelompok, yaitu,

1. Tindakan rasional,meliputi

a) tindakan rasional instrumental

tindakan yang mempunyai tiongkat rasionalitas paling tinggi. Jadi tindakan ini dengan pertimbangan yang sadar mempertimbangkan alat,cara dan tujuan yang hendak dicapai.

b) tindakan rasionalitas yang berorientasi nilai bila dibandingkan dengan tindakan rasionalitas instrumental tindakan yang berorientasi nilai mengorientasi kan tindakannya yang utama lebih ke nilai-nilai. Bahwa alat-alat hanya merupakan obyek obyek perhitungan dan pertimbangan yang sadar, tujuannya sudah ada dalam hubungannya dengan nilai-nilai individu yang merupakan nilai akhir baginya.

Nilai-nilai akhir itu bersifat non rasional dimana individu tidak dapat memperhitungkannya secara obyektif mengenai tujuan-tujuan mana yang harus ditentukan. Contohnya ketika hari raya idul fitri, anak sungkem kepada orang tua, lalu orang tua memberi kan uang kepada anaknya atau keponakannya. [3]

2.Tindakan nonrasional , meliputi

a) tindakan tradisional

merupakan tindakan yang nonrasional. Berawal dari munculnya folkways atau kebiasaan yang secara tidak sadar atau perencanaan dilakukan maka tindakan itu termasuk dalm tindakan tradisional. Biasanya tiondakan terebut berdasarkan adat. Dan bila orientsinya sama maka tindakan ini menjadi semacam tradisi, dalm masyarakat modern tindakan tradisional akan semakin hilang dengan meningkatnya tindakan rasional instrumental.

bertemu walaupun tidak saling mengenal.

b) Tindakan Afektif

Tindakan yang didominasi oleh perasaan dan emosi tanpa refleksi intelektual dan perencanaan yang sadar. Contohnya marah, cinta, kesenangan, kegembiraan, kesedihan dan sbagainya. Orang yang sedang mengalami emosi atau perasaan nya itu meluapkan ungkapannya tanpa pertimbangan yang sadar dan intelektual. Tindakan itu benar-benar tidak rasional dan karena kurangnya pertimbangan logika, ideology, dan rasionalitas.

Keempat tipe tindakan social itu merupakan tipe-tipe tindakan murni ,dimana mereka adalah konstruksi-konstruksi konseptual dari webber untuk memahami dan menafsirkan realitas empiris yang beraneka ragam. [4]

Daftar Pustaka

Doyle Paul Johnson, 1986, Teori Sosiologi Klasik dan Modern, Gramedia: Jakarta

K.J Veeger, 1990, Realitas Sosial, Gramedia Pustaka Utama: Jakarta

Kamanto Sunarto, 1994, Pengantar Sosiologi, Gramedia Pustaka Utama: Jakarta

Rujukan internet:

http://id.wikipedia.org/wiki/%C3%89mile_Durkheim


[1] K.J VEEGER , REALITAS SOSIAL , 1990, hal 142—149,170-173

   Lihat veeger realita sosial

[2] PAUL DOYLE JOHNSON, TEORI SOSIOLOGI KLASIK DAN MODERN,1986, hal 170-179,

[3] Veeger, Realitas Sosial, 1990, hal 51

[4] Kamanto Sunarto, Pengantar Sosiologi, 1994, hal 72

                        Lihat Kamanto halaman 72 tindakan nonrasionalitas

This entry was posted in SOS2/ F2. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s