da’i (maswida)

PEMBAHASAN

  1. DEFINISI DAKWAH

Ditinjau dari segi bahasa, dakwah berasal dari bahasa Arab “da’wah”. Da’wah mempunyai tiga huruf asal, yaitu dal, ‘ain, dan wawu. Dari  ketiga huruf asal ini, terbentuk beberapa ragam makna yaitu, memanggil, mengundang, mengajak, mengadu, mengundang, minta tolong, meminta, memohon, mendo’akan, menamakan, mendorong, menturuh dating, menyebabkan, mendatangkan, menangisi, dan meratapi. Sedangkan definisi dakwah menurut beberapa ahli adalah:

v  Syekh Muhammad al-Khadir Husain (t.t.: 14), dakwah adalah

“menyeru manusia kepada kebajikan dan petunjuk serta menyuruh kepada mebajikan dan melarang kemungkaran agar mendapat kebahagiaan dunia akhirat.”

v  Syekh Ali bin Shahih al-Mursyid (1989: 21), dakwah adalah

“system yang berfungsi menjelaskan kebenaran, kebajikan, dan petunjuk (agama); sekaligus menguak berbagai kebathilan beserta media dan metodenya melalui sejumlah teknik, metode, dan media yang lain”.[1]

Dengan makna-makna ini, kita memahami bahwa dakwah tidak menekankan hasil, tetapi mementingkan  tugas dan proses. Kita hanya berkewajiban menyampaikan ajaran islam dengan penuh kesungguhan. Kita tidak dituntut untuk berhasil.

Dalam kegiatan dakwah setidaknya ada tiga komponen, yaitu pelaku dakwah (pendakwah), pesan dakwah, dan sasaran dakwah (mitra dakwah).

  1. BEBERAPA ISTILAH DAKWAH

Pengertian dakwah dari segi bahasa dan definisi para ahli sebagaimana disebutkan di atas mempunyai padanan  dengan istilah-istilah yang blain, antara lain:

v  tabligh, yaitu usaha menyampaikan dan menyiarkan pesan islam yang dilakukan oleh individu maupun kelompok baik secara lisan maupun tulisan.

v  khotbah, yaitu pidato yang disampaikan untuk menunjukkan kepada pendengar mengenai pentingnya suatu pembajhasan.

v   nashihah, yaitu menyampaikan suatu ucapan kepada orang kepada orang lain untuk memperbaiki kekurangan atau kekeliruan tingkah lakunya (Muhammad bin ‘Allan al-Shiddiqi, t.t.: 45).

v   tabsyir wa tandzir. Tabsyir yaitu memberikan uraian keagamaan kepada orang lain yang isinya berupa berita-berita yang menggembirakan orang yang menerimanya, seperti berita tentang janji Allah SWT. tandzir yaitu menyampaikan uraian kea

gi orang-orang yang melanggar syariat Allah SWT.

v  Washiyyah, amar ma’ruf nahi mungkar, tarbiyah wa ta’lim dan sebagainya.

  1. KUALIFIKASI PENDAKWAH

Pendakwah adalah orang yang melakukan dakwah. Ia disebut da’i. dalam ilmu komunikasi pendakwah adalah komunikator yaitu orang yang menyampaikan pesan komunikasi (massage) kepada orang lain.  Karena dakwah bisa melalui tilisan, lisan, perbuatan, mak penulis keislaman, penceramah islam, mubaligh, guru mengaji, pengelola panti asuhan islam dan sejenisnya termasuk pendakwah. Pendakwah bisa bersifat individu ketika dakwah yang dilakukan secara perorangan dan bisa juga kelompok atau kelembagaan ketiga dakwah digerakkan oleh sebuah kelompok atau organisasi.

Secara ideal, pendakwah adalah orang mukmin yang menjadikan islam sebagai agamanya, al-Qur’an sebagai pedomannya, Nabi Muhammad Rasulullah SAW sebagai pemimpin dan teladan baginya, ia benar-benar mengamalkannya dalam tingkah laku dan perjalanan hidupnya, kemudian ia menyampaikan islam yang meliputi akidah, syari’ah, dan akhlak kepada seluruh manusia (Bassan al-Shabagh, t.t.: 97).[2]

Abul A’la al-Maududi dalam bukunya Tadzkirah al-Du’ah al Islam (1984: 36-54)mengatakan bahwa sifat-sifat yang harus dimiliki oleh pendakwah secara perorangan dapat disimpulkan sebagai berikut:

v  Sangggup memerangi musuh dalam dirinya sendiri yaitu hawa nafsu demi ketaatan kepada Allah SWT. Dan Rasulnya.

v  Sanggup berhijrah dari hal-hal yang maksiat yang dapat merendahkan dirinya dihadapan Allah SWT. dan dihadapan masyarakat.

v  Mampu menjadi uswatun hasanah dengan budi dan akhlaknya bagi mitra dakwahnya.

v  Memiliki persiapan mental:

  • Sabar, yang didalamnya meliputi sifat-sifat teliti, tekat yang kuat, tidak bersifat pesimis dan putus asa, kuat pendirian seta selalu memelihara keseimbangan antara akal dan emosi.
    • senang member pertolongan kepada orang dan bersedia berkorban, mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, dan harta serta kepentingan yang lain.
    • Cinta dan memiliki semangat yang tinggi dalam mencapai tujuan.[3]
  1. HUKUM BERDAKWAH

Diantara ayat-ayat dakwah yang menyatakan kewajiban dakwah secara tegas adalah surat an-Nahl : 125, surat Ali Imran : 104, dan surat Al-Maidah: 78-79.

.”serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Al-Ghazali adalah salah satu ulama’ yang berpendapat bahwa kewajiban dakwah adalah fardu kifayah. Sebagai fardu kifayah, dahwah hanya dibebankan atas orang-orang yang memiliki keahlian dan kemampuan dibidang agama islam. Berbeda dengan pendapat tersebut adalah pendapat bahwa hokum dakwah adalah fardu ‘ain yaitu kewajiban bagi setiap muslim tanpa kecuali.

Dari kedua pendapat tentang kewajiban berdakwah di atas, ada beberapa ulama’ yang memadukan keduanya, hokum berdakwah adalah fardu ‘ain dan kifayah. Pendapat ini dipelopori oleh Muhammad Abu Zahrah. Menurut abu nZahrah, fardu ‘ain melakukan dakwah secara individual (al-ahad) dan fardu kifayah melakukan dakwah kolektif (al-jama’at).[4]

  1. TEMA-TEMA PESAN DAKWAH

Berdasarkan temanya, pesan dakwah tidak berbeda dengan pokok-pokok ajaran islam. Banyak klasifikasi yang diajukan para ulama dalam memetakan islam. Ending Saifuddin Anshari (1996: 71), membagi pokok-pokok ajran islam sebagai berikut:

v  Akidah, yang meliputi iman kepada Allah SWT.,kepda malaikat-malaikat Allah, kepada kitab-kitab Allah, kepada Rasul-rasul Allah, dan iman kepada qadha’ dan qadar.

v  Syariah, yang meliputi ibadah dalam arti khas (thaharah, shalat, as-shaum, zakat, haji) dan muamalah dalam arti luas (al-qanun-al khas/ hokum perdata dan al-qanun al-‘am/ hokum publik).

v  Akhlak, yang meliputi akhlak kepada al-khaliq dan makhluk.[5]

  1. KARAKTERISTIK PESAN DAKWAH

Tujuh karaktr pesan dakwah adalah orisinal dari Allah SWT., mudah, lengkap, seimbang, universal, masuk akal, dan membawa kebaikan. Sebagai perbandingan yang tidak jauh betbeda,  ‘Abd. Al-Karim  Zaidan (1993: 45) juga mengemukakan 5 karakter pesan dakwah, yaitu:

v  Berasal dari Allah SWT.

v  Mencakup semua bidang kehidupan;

v  Umum untuk semua manusia;

v  Ada balasan untuk setiap tindakan; dan

v  Seimbang antara idealitas dan realitas.

  1. STRATEGI DAKWAH

Al-Bayunani (1993: 46 & 195) mendefinisikan strategi dakwah (manahij al-da’wah) sebagai berikut: “ketentuan-ketentuan dakwah dan rencana-rencana yang dirumuskan untuk kegiatan dakwah”.[6] Ia juga membagi strategi dakwah dalam tiga bentuk, yaitu:

v  Strategi Sentimentil (al-manhaj al-‘athifi).

v  Strategi Rasional (al-manhaj al-‘aqli).

v  Strategi Indrawi (al-manhaj al-hissi).

Penentuan strategi dakwah juga bisa berdasar surat al-Baqarah: 129 dan 151, Ali Imran: 164, dan Al-Jumu’ah: 2. Ketiga ayat ini memiliki pesan yang sama yaitu tentang tugas para rasul sekaligus bisa dipahami sebagai strategi dakwah

“Ya Tuhan Kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana”.

Ayat-ayat tersebut mengisyaratkan 3 strategi dakwah, yaitu strategi Tilawah (membacakan ayat-ayat Allah), strategi  Tazkiyah (menyucikan jiwa), dan strategi Ta’lim (mengajarkan Al-Qur’an dan al-hikmak).

  1. METODE DAN TEKNIK DAKWAH

Ada beberapa pendapat tentang definisi metode dakwah, antara lain:

v  Al-Bayyuni (1993: 47) mengemukakan definisi metode dakwah (asalib al-da’wah) sebagai berikut:

“yaitu cara-cara yang ditempuh oleh pendakwah dalam berdakwah atau cara menerapkan strategi dakwah”.[7]

Metode dakwah adalah cara-cara tertentu yang dilakuka oleh seorang da’I (komunikator) kepada mad’u untuk mencapai suatu tujuan atas dasar hikmah dan kasih sayang.[8]

Pada garis besarnya, bentuk dakwah ada tiga, yaitu: dakwah Lisan (da’wah bi al-lisan), dakwah Tulis (da’wah bi al-qalam), dan dakwah Tindakan (da’wah bi al-hal).

  • Metode ceramah

Metode ceramah atau muhadharah atau pidato ini telah dipakai oleh semua Rasul Allah dalam menyampaikan ajaran Allah. Sampai sekarang pun masih merupakan metode yang paling sering digunakan oleh para pendakwah sekalipun alat komunikasi modern telah tersedia. Ibadah shalat jum’at juga tidak sah jika tidak disertai ceramah agama yaitu khotbah jum’at. Ceramah jum’at ini tidak seperti ceramah-ceramah yang lain. Ia telah ditentukan waktu, tempat dan unsure-unsur yang harus dipenuhi sesuai dengan aturan yang ada dalam hadis dan kitab-kitab fikih. Sedangkan ceramah agama pada PHBI (peringatan hari besar islam); pengajian rutin di masjid, upacara pemberangkatan haji dan sebagainya tidak terikat oleh aturan yang ketat. Umumnya ceramah diarahkan kepada sebuah public, lebih dari seorang. Oleh sebab itu metode ini disebut public speaking (berbicara di depan publik). Umumnya, pesan-pesan dakwah yang disampaikan dengan ceramah bersifat ringan, informative, dan tidak mengundang perdebatan. Dialog yang dilakukan juga terbatas pada pertanyaan, bukan sanggahan. Penceramah diperlakukan sebagai pemegang otoritas informasi keagamaan kepada audiensi.[9]

Dari segi persiapanya Glenn R. Capp dalam Rakhmat (1982: 32-34) membagi 4 macam ceramah atau pidato. Pertama, Pidato Improptu, yaitu pidato yang dilakukan secara spontan, tanpa adanya persiapan sebelumnya. Kedua, PidatoManuskrip, yaitu pidato dengan membaca naskah yang sudah disiapkan sebelumnya. Ketiga, pidato Memoriter, yaitu pidato dengan hafalan kata demi kata dari isi pidato yang telah dipersiapkan. Keempat, Pidato Ekstempore, yaitu pidato dengan persiapan berupa outline (garis besar) dan supporting points (pembahasan penunjang). Jenis yang terakhir ini adalah pidato yang paling baik dan paling banyak dipakai oleh para ahli pidato.

Ada beberapa Teknik untuk menyampaikan atau membuka ceramah, yaitu:

v  Langsung menyebutkan topic ceramah.

v  Melukiskan latar belakang masalah

v  Menghubungkan peristiwa yang sedang hangat.

v  Menghubungkan dengan peristiwa yang sedang diperingati. Menghubungkan dengan tempat atau lokasi ceramah, dsb.

  • Bentuk-brntuk metode Dakwah

Metode dakwah meliputi tiga cakupan, yaitu:

v  Al-Hikmah

v  Al-Mau’idzah Al-Hasanah

v  Al-Mujadalah Bi Al-Lati Hiya Ahsan.

  • Sumber metode Dakwah

v  Al-Quran

v  Sunnah Rasul

v  Sejarah hidup para Sahabat dan Fuqaha

v  Pengalaman.

  • Uswatun Hasanah sebagai Metode Dakwah

Dakwah dengan uswatun hasanah adalah dakwah dengan memberikan contoh yang baik melalui perbuatan nyata yang sesuai dengan kode etik dakwah. Uswatun hasanah adalah salah satu kunci sukses dakwah  Rasulullah, salah satu bukti adalah pertama kali tiba di Madinah, yang dilakukan oleh Rasulullah adalah membangun masjid Quba, mempersatukan kaum Anshar dan Muhajirin dalalm ikatan ukhuwah islamiyah.

efektifitas uswatun hasanah sebagai metode dakwah dengan maksud agar mad’u dapat meresap dan cepat serta merealisasikan seruan dakwah, maka seorang da’I harus memperhatikan cara-cara sebagai berikut:

v  Keteladanan (al-Uswah wa al-Qudwah)

v  Menyampaikan kisah-kisah bijak,

v  Melihat sifat-sifat orang terpuji.

  1. DA’I TERHADAP MAD’U

Kegiatan dakwah adalah kegiatan komunikasi, artinya bahwa dalam berdakwah terdapat kesamaan unsure-unsur yang patut menjadi perhatian komunitas da’I, diantara unsure-unsur pembentuk dakwah adalah:

v  Da’I (komunikator)

v  Materi dakwah (message)

v  Sarana dakwah (medium).

Bahasa dakwah yang diperintahkan al-Quran sunyi dari kekerasan, lembut,(Qaulan Layyinan), indah atau baik (Qaulan Ma’rufan), santun atau mulia (Qaulan Karima), ringan (Qaulan Maisura), juga membekas pada jiwa (Qaulan Baligha), memberi pengharapan hingga mad’u dapat dikendalikan dan digerakkan perilakunya oleh da’i.[10]

PENUTUP

  • Kesimpulan

Berhasilnya suatu dakwah mencapai sasaran, apabila juru dakwah (da’i) juga menjalankan moral dan etika islam, yang ditunjukkan oleh kadar keimanan dan ketaqwaannya secara konkrit dalam kehidupan sehari-hari. Moral dan etika pada hakikatnya bukanlah sesuatu yang dipaksakan dari luar, melainkan hadir dari dalam kesadaran diri atas dasar system nilai yang ditentukan oleh pengalaman batin dan akar budaya seseorang disuatu lingkungan masyarakat

Contoh Pidato/ Ceramah Peringatan Hari Besar Agama

ISRA’ MI’RAJ NABI MUHAMMAD SAW

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Hadirin dan hadirat yang saya muliakan

Pertama-tama marilah kita panjatkan rasa syukur kita kepada Allah SWT. Tuhan yang maha kuasa, atas nikmat yang diberikan kepada kita semua. Sehingga pada malam  ini kita dapat bersama-sama memperingati isra’ mi’raj Nabi Muhammad SAW dalam keadaan sehat wal afiat.

Yang kedua semoga shalawat dan salam senantiasa terlimpah kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, yang telah membawa ummat manusia dari jaman kegelapan menuju jaman yang tarang benderang yaitu dengan tegaknya agama islam.

Hadirin sekalian yang berbahagia

Pada tiap peringatan isra’ mi’raj Nabi Muhammad SAW, kita tidak jemu-jemunya mendengarkan kembali peristiwa luar biasa yang merupakan mu’jizat dari Allah SWT. Yang telah diberikan kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai salah satu tanda dari kebesarannya sebagai ummat beriman. Kebesaran Tuhan tidak perlu dipersoalkan lagi, seperti sikap sahabat Abu Bakar tatkala pagi hari diberitahukan pertama kali oleh Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar langsung percaya karena imannya kepada Allah dan Rasulnya.

Karena itu setiap kali kita memperingati hari besar islam, maka peringatan itu sesungguhnya harus lebih tertuju pada diri kita sendiri. Artinya apakah kita mensyukuri segala rahmat yang telah dilimpahkan Allah kepada kita semua dalam arti apakah kita telah menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya?

Hadirin sekalian yang berbahagia

Hikmah dari segala peringatan hari-hari besar itulah yang kita cari dan harus terus menerus kita gali untuk bekal hidup kita agar pada hari-hari berikutnya langkah kita semakin sesuai dengan ajaran-ajaran islam, terutama dalam membangun tatanan masyarakat yang adil dan makmur.

Kita menghendaki masyarakat yang maju, adil dan makmur berdasarkan pancasila. Masyarakat yang kita cita-citakan itu adalah masyarakat yang serba selaras: selaras dalam hubungan manusia dengan Tuhannya, selaras dalam hubungan antara anggota masyarakat dengan masyarakatnya, selaras dalam hubungan antara manusia dengan alam sekitarnya, selaras antara keluhura lahiriyah dengan keluhuran batiniyah. Malah dalam era globalisasi ini mau tidak mau kita harus melaraskan diri dalam hubungan antara bangsa, begitu pula keserasian antara cita-cita hidup di dunia dengan kehidupan di akhirat kelak. Kita tidak menyia-nyiakan hidup di dunia tetapi juga tidak melupakan tugas dan kewajiban bagi kehidupan di akhirat nanti. Inilah prinsip keseimbangan.

Jika kita terlalu mementingkan kemajuan lahiriyah maka jiwa kita menjadi kering. Kemajuan ekonomi dan industry akan meracuni hati dan jiwa kita bila tidak dilandasi dengan ruh agama. Kita akan terjebak dalam perhitungan untung rugi saja tanpa mengindahkan kepentingan lain yang sering kali terkait. Ini jelas bukan kemajuan melainkan kemerosotan budi pekerti. Kita sudah sering kali melihat contoh kongkrit dari Negara barat yang dianggap maju ternyata akhlak dan budi pekerti merosot jauh tak sebanding dengan kemajuan industry dan teknologi yang telah  mereka  capai. Rasa perikemanusiaan mereka menipis, tidak ada tenggang rasa, bahkan kebebasan seks sudah menjadi budaya tersendiri.

Kita tidak menghendaki kemajuan seperti Negara barat, karena itu pembangunan yang dilaksanakan di Negara kita adalah pembangunan manusia seutuhnya. Kemajuan lahiriyah haruslah disertai kemajuan batiniyah yang berpangkal dari pemahaman dan pelaksanaan ajaran-ajaran agama.

Hadirin sekalian yang berbahagia

Demikian apa yang dapat saya sampaikan, semoga dapat bermanfaat bagi kit semua.

Akhirnya, Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Contoh Pidato/ ceramah Pada pengajian Rutin

MENJADI SANTRI YANG IDEAL

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Sahabati sekalian yang dimuliakan Allah

Dalam kesempatan kali ini saya akan mengulas sedikit tentang bagaimana menjadi “Sosok Santri Yang Ideal”.

Sahabati sekalian yang dimuliakan Allah

Membaca ulang eksistensi santri yang notabene masyarakat paesantren, yang mana santri itu berada atau muqim di pesantren tidak lain hanya untuk memperdalam ilmu pengetahuan yang spesifikasinya adalah ilmu agama, sebagaimana Hadist Rasulullah SAW yang berbunyi: “Man yuriuillahu bihi khairan yufaqqihhu fiddiin” , yang artinya, barang siapa menginginkan kebaikan, hendaknya memperdalam agama.

Sahabati yang dimuliakan Allah

Kita ketahui bersama pesantren merupakan lembaga pendidikan islam yang menjadi tumpuan masyarakat mulai sejak dulu hingga kini, dipercaya sebagai media dan wahana untuk mencetak kader-kader muslim (santri) yang idealis dan populis bernuansa agamis dalam rangka terwujudnya budaya Qur’ani dan tegaknya syi’ar islam menuju islam yang Kaffah Rahmatan Lil Alamin.

Sahabati sekalian yang dimuliakan Allah

Dengan demikian santri tidak akan selamanya tinggal dan berada dalam pesantren, mereka akan kembali dan akan berdampingan dengan komunitas social, yakni masyarakat. Dan sesogyanya bias mengaplikasikan dan menjalankan ilmunya yang telah diperoleh ketika di pesantren, karena bagaimanapun  sosok santri adalah sebagai tumpuan masyarakat dalam segala hal berkenaan dengan social keagamaan atau social religi.

Sahabati sekalian yang dimuliakan Allah

Oleh karena itu, bagaimana kita untuk menjadi santri yang ideal yang bisa mengurusi dan memberikan yang terbaik kepada masyarakat?. Bukan malah sebaliknya menjadi urusan masyarakat karena perbuatannya yang tidak lagi sesuai dengan tujuan dan fungsi pesantren yang sesungguhnya. Saya teringat sabda Nabi Muhammad SAW, yang berbunyi: “Khairunnas Anfa’uhum Linnas”, yang artinya, sebaik-baik manusia adalah yang memberikan manfaat kepada yang lain.

Sahabati sekalian yang dimuliakan Allah

Hadist tersebut merupakan konsep dan manifestasi santri yang ideal, dalam artian sosok santrio yang bias memberikan nilai-nilai islami ketika turun di tengah-tengah masyarakat.

Sahabati sekalin yang dimuliakan Allah

Mungkin hanya ini apa yang dapat saya sampaikan. Semoga kita semua menjadi santri yang betul-betul ideal dalam memperjuangkan agama islam.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

DAFTAR PUSTAKA

Ali Aziz, Muhammad., Ilmu Dakwah,Jakarta: Kencana, Edisi Revisi

 Cet. Ke -2,2009.

Munir, M., Metode Dakwah, Jakarta: Kencana, Cet. Ke-3, 2009.


[1] Prof. Dr. Ali Aziz, ilmu Dakwah,  (Jakarta: 2009), 10-11

[2] Prof.Dr. Moh. Ali Aziz, ilmu Dakwah, (Jakarta: 2009), 217-219

[3] Moh. Ali Aziz, ilmu Dakwak,  (Jakarta: 2009), 219

[4] Prof.Dr. Moh. Ali Aziz, 153

[5] Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, 332

[6] Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, 351

[7] Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, ilmu Dakwah, (Jakarta: 2009), 357

[8] M. Munir, Metode Dakwah, (Jakarta: 2009), 7

[9] Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, ilmu Dakwah, (Jakarta: 2009),359

[10] M. Munir, Metode Dakwah, (Jakarta: 2009), 165-169.

This entry was posted in sos2/F1. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s