Argument Karl Mark

LAPORAN HASIL TUGAS MATA KULIAH LOGICA SCIENTIFIC

 

Aplikasi teori Karl Mark (Pertemuan antara budaya dalam era globalisasi)

Oleh:

Moh. Haryanto (B05210038)

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Logica scientific IAIN Sunan Ampel Surabaya fakultas Dakwah prodi sosiologi kelas F2 semester 2

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

Latar belakang

Sejak kemunculan revolusi indrustri di Eropa Barat, khususnya inggris (1750-1850), industrialisasi bukan saja telah membawa manfaat seperti pemenuhan kebutuhan teknis yang memudahkan manusia, tetapi juga membawa problem bagi masa depan manusia. Industrialisasi ternyata menuntut biaya material, mental, kultural dan moral. Rusaknya lingkungan alam yang diakibatkan oleh ekploitasi yang berlebihan, urbanisai yang melahiran pengangguran, kemiskinan dan kriminalitas; sakit mental seperti stress dan kekerasan, penyalahgunaan narkoba, sekularisme yang mengakibatkan dekadensi moral, termasuk penjajahan yang tidak lain adalah akibat dari proses industrialisasi tersebut.

Salah satu problem yang sangat serius yang diakibatkan oleh industrialisasi adalah alienasi manusia dari diri dan lingkunganya. Menurut Erich Fromm, alienasi adalah salah satu jenis penyakit kejiwaan pada masyarakat industri dimana seseorang tidak lagi merasa dirinya sebagai miliknya sendiri, sebagai pusat dunianya sendiri, melainkan telah terenggut oleh mekanisme diluar dirinya yang tidak lagi bisa terkontrol, pendek kata orang yang dilanda alienasi akan merasakan suatu kebingungan, keterasingan, dan kesepian karena merasa apa yang dilakukanya bukan atas kehendaknya melainkan tuntutan dari luar yang tidk dikehendaki bahkan tidak diketahuinya sama sekali atas apa yang ia kerjakan. Orang yang dilanda alienasi akan merasa dihantui ketakutan sehingga tidak bisa beristirahat dengan tenang, bersikap putus asa, dan menganggap hidupnya tak lagi bermakna sehingga menyebabkan meningkatnya angka bunuh diri

 merupakan suatu yang inheren dalam proses industrialisasi, maka telaah ter hadap alienasi pun telah muncul sejak dini. Orang yang mengkritiknya secara tajam dan yang pertama kali adalah Karl Marx. Ia mengaitkan alienasi dengan bangunan infrastruktur atau pondasi social −yang menurut Marx adalah ekonomi− dan bangunan supra struktur yang berdiri di atas infrastuktur tersebut −yang menurut mark diantara yang paling berpengaruh adalah agama. Sebagai sistem kepercayaan yang dibangun di atas basis ekonomi yang melahirkan alienasi rakyat (kaum proletar) sebagai akibat dominasi kaum pemilik modal (borjuis). Menurut Marx agama dalam hal ini telah mengabdi kepada kepentingan masyaraka

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

Pertemuan antara budaya dalam era globalisasi

            kata globalisasi makn menjadi sajian sehari-hari melalui berbagai pemyataan publik dan liputan media massa; dan kalau semuanya itu kita perhatikan secara saksama, maka akan ternyata betapa kata ‘globalisasi’ itu cenderung dilontarkan tanpa terlalu dihiraukan apa maknanya. Pernyataan seperti “dalam era globalisasi dewasa mi” berarti bahwa kita telah berada dalam era globalisasi; lain lagi halnya kandungan pernyataan “menjelang era globalisasi” yang berarti kita belum berada dalam era tersebut. Kelatahan dalam penggunaan kata ‘globalisasi’ sedemikian itu akhimya mengesankan kesembarangan arti kata globalisasi, dan makin mengaburkan implikasi dan komplikasi makna yang terkandung di dalamnya.

Globalisasi pada hakikatnya adalah proses yang ditimbulkan oleh sesuatu kegiatan atau prakarsa yang dampaknya bekelanjutan melampaui batas­batas kebangsaan (nation-hood) dan kenegaraan (state-hood); dan mengingat bahwa jagad kemanusiaan ditandai oleh pluralisme budaya, maka globalisasi sebagai proses juga menggejala sebagai peristiwa yang melanda dunia secara lintas-budaya (trans-cultural). Dalam gerak lintas-budaya mi terjadi berbagai pertemuan antar-budaya (cultural encounters) yang sekaligus mewujudkan proses saling-pengaruh antar-budaya, dengan kemungkinan satu fihak lebih besar pengaruhnya ketimbang fihak lainnya. Pertemuan antar-budaya memang menggej ala sebagai keterbukaan (exposure) fihak yang satu terhadap lainnya; namun pengaruh-mempengaruhi dalarn pertemuan antar-budaya itu tidak selalu berlangsung sebagai proses dua-arah atau timbal-balik yang berimbang, melainkan bolehjadi juga terjadi sebagai proses imposisi budaya yang satu terhadap lainnya; yaitu, terpaan budaya yang satu berpengaruh dominan terhadap budaya lainnya.

Menurut apa yang telah saya ketahui di lingkungan saya sendiri sudah jelas bahwa telah terjadi banyak masuk yang mungkin datangnya dari luar seperti yang tejadi pada anak muda untuk di daerah saya sendiri khususnya yang belum mengenyam ilmu agama (tidak pernah mondok) yang dulu pada tahun 2000. didaerah tersebut tidak mengenal pakaian mini seperti apa yang telah ada pada sekarang sampai tubuhnya terlihat seksi. Dulu semua anak remaja permpuan khsusnya semuanya memakai sarung kusus untuk perempuan. Tapi dengan bertemunya antar budaya. Budaya sendiri dan budaya luar kita mudh terpengaruh olenya. Mung kin menurut pandangan seorang perempuan khususnya di daerah saya istilah anak sekarang (gaul) mung kin lebih bagus di pandang. dn pas untuk zaman yang modern seperti sekarang ini

Proses globalisasi yang diakibatkan oleh berbagai prakarsa dan kegiatan pada skala internasional sebagaimana menggej ala dewasa mi pun penlu kita cermati sejauhmana siginifikan pengaruhnya dalam pertemuan antar-budaya. Dalam kaitan mi pertemuan antar-budayajangan terutama digambarkan sebagai pertemuan antara dua fihak belaka, melainkan terjadi dengan ketenlibatan sejumlah fihak secara segera (instantaneous) serta serempak (simultaneous). Kesanggupan sesuatu satuan budaya untuk mempertahankan kesejatiannya dalam pertemuan antar-budaya yang demikian majemuknya itu sangat ditentukan oleh tinggi-rendahnya derajat kesadaran budaya dan tanguh­rapuhnya tingkat ketahanan budaya masyarakat pendukungnya. Budaya asing yang berpengarnh dominan terhadap satuan budaya asli bisa membangkitkan kesan sebagai ‘model’ untuk ditiru. Kecenderungan meniru itu dalam kelanjutannya bisa terpantul melalui berkembangnya gayahidup (ljfestyle) barn yang dianggap superior dibandingkan dengan gayahidup lama. Berkembangnya gayaliidup baru itu dapat menimbulkan kondisi sosial yang ditandai oleh heteronomi, yaitu berlakunya herbagai norma acuan penilaku dalam masyarakat yang bersangkutan. Perubahan gayahidup yang ditiru dan budaya asing bisa berkelanjutan dengan timbulnya gejala keterasingan dan kebudayaan sendiri (cultural alienation).[1]

salah satu konsekuensi dan terjadinya pentemuan antar-budaya ialah kemungkinan tenjadinya perubahan onientasi pada nilai-nilai yang selanjutnya berpengaruh pada terjadinya perubahan norma-norma peradaban sebagai tolokukun penilaku warga masyanakat sebagai satuan budaya. Perubahan onientasi nilai yang benlanjut dengan penubahan norma penilaku itu bisa menjelma dalam wujud pergeseran (shft,), persengketaan (conflict), atau perbenturan (clash). Perubahan dalam wujud yang pertama biasanya tenjadi karena nelatif mudahnya adaptasi atau asimilasi antara nilai dan norma lama dengan yang barn dikenal; yang kedua mernpakan wujud yang paling sening menggejala dan biasanya memenlukan masa peralihan sebelum dihadapi dengan sikap positif (acceptance) atau negatif (rejection). Biasanya wujud yang kedua menunjukkan adanya ambivalensi dalam masyarakat ybs, sehingga ada sebagian warga masyanakat yang menenima perubahan yang terjadi pada onientasi nilai dan norma penilaku, tapi ada pula sebagian lainnya yang menolaknya. Dalam keadaan mi bisa terjadi juxtaposisi antara fihak yang menenima dan fihak yang menolak. Lain halnya dengan penubahan yang berwujud perbentunan; dalam hal mi mudah timbul berbagai derajat sikap penentangan (rejection), dan yang moderat hingga ekstern[2]

Riwayat  karl marx

Mark dilahirkan di Trier Jerman di daerah Rhain pada tahun 1818 ayahnya dan Ibunya ayat Marx berasal dari keluarga Rabbi Yahudi tetapi ayahnya memperoleh pendidikan sekular dan mencapai kehidupan Borjuis sebagai seorang pengacara, dan kemudian dalam kehidupan marx menekankan bahwa kepercayaan agama tidak memberikan pengaruh paling penting terhadap perilaku tetapi sebaliknya kepercayaan agama mencerminkan faktor-faktor sosial ekonomi yang mendasar.7

Dia mempelajari hukum selama satu tahun di Universitas Bonn pada usia 18 tahun dan kemudian pindah ke Universitas Berlin dan karena disana ia banyak berhubungan dengan kelompok Hegelian muda maka beberapa unsur dasar sosialnya mulai dibentuk, setelah menyelesaikan desertasi doktornya di Universitas yag sama ia menjadi pemimpin redaksi surat kabar bernama Rheinishe Zeitung yang merupakan surat kabar borjuis liberal yang baru, dimana dalam surat kabar itu mencerminkan oposisi borjuis terhadap sisa-sisa sistem Aristokratis Feodal kuno dan memperjuangkan gerakan-gerakan petani yang miskin ia menjadi pemimpin surat kabar ini.

Akhirnya setelah mendapat tekanan karena surat kabar yang dipimpinnya ia pindah ke Paris, dan ia terlibat dalam gerakan radikal yang mana masa itu Paris merupakan pusat liberalisme dan radikalisme sosial dan intelektual yang penting di Eropa, dan ia bertemu dengan Friedrich Engels yang menjadi kawan kerjanya sampai meninggal dan Marx mendapat banyak bantuan dari Engels berupa informasi langsung mengenai gaya hidup langsung borjuis dan proletariat karena Engels adalah seorang pengusaha yang sukses (borjuis). [3]

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman Ibn khaldun terjemahan, taba’ah muhammad mustafa, mesir, h 41

Clark. “Globalization and Fragmentation”, Oxford University Press Inc., New York, 1977. hal 123-127


[1] Clark. “Globalization and Fragmentation”, Oxford University Press Inc., New York, 1977. hal 123-127

[2] Abdurrahman Ibnu Khaldun, op cit, h. 390

[3] Abdurrahman Ibn khaldun, Muqaddimah, taba’ah muhammad mustafa, mesir, h 41

This entry was posted in SOS2/ F2. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s