TEORI KARL MARK TENTANG KELAS SOSIAL

 di ajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah

“Logika Scientific”

 

 

 

Dosen pengampu:

Drs. Masduqi Affandi, MPd.I

Oleh:

Chusniatun Ni’mah  (B05210034)

 

PROGRAM STUDI SOSIOLOGI

FAKULTAS DAKWAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA

2011

TEORI KARL MARX TENTANG KELAS SOSIAL

Menurut Karl Marx dalam bukunya yang terkenal, Das Kapitalis menyatakan bahwa kehancuran feodalisme yang diikuti dengan berkembangnya kapitalisme dan sector industry modern telah mengakibatkan terpecahnya masyarakat ke dalam dua kelas extreme, yaitu kelas borjuis yang memiliki dan mengendalikan alat prouksi dan kelas proletar yang tidak memiliki alat produksi. (Johnson, 1986:120-159).

Selain itu juga dikemukakan dalam The Communist Manifesto bahwa masyarakat sebagai satu keseluruhan menjadi semakin terbagi dalam dua kelompok besar yang saling bermusuhan, kedalam dua kelas yang saling berhadapan secara langsung yaitu kelas borjuis dan proletar.[1]

Di mata ekonom yang konservatif, sepintas hubungan antara kelas borjuis dan kelas proletar dalam dunia industry memang akan terlihat satu sama lain saling mengisi dan membutuhkan. Tetapi menurut Marx yang sebenarnya terjadi adalah hubungan yang exploitative yang merugikan kelas proletar. Marx menyatakan bahwa seluruh sejarah dinyatakan dengan perjuangan atau pertentangan antar kelas . perubahan social di mata Marx, selalu bersumber dari revolusi kelas. Konflik antara kaum kapitalis dan pekerja bermula dari adanya bentuk produksi kapitalis yang tidak adil, yangkemudian memicu revolusi kaum proletar menuju masyarakat sosialis baru yang lebih baik dan adil.

Di dalam kelas versi Marx yang hanya membagi masyarakat dalam dua kelompok ekstrem yaitu kaum borjuis dan proletar telah banyak dipersoalkan dan dinilai lagi tidak relevan. Stratiikasi ekonomi atas dasar pemilikan alat produksi dinilai sifatnya terlalu khusus dan cenderung hanya bisa dipergunakan untuk menjelaskan hubungan hubungan antara kaum buruh dan majikan saja. Di dalam komunitas yang paling komplek, indicator pemilihan kelas ekonomi yang sifatnya lebih umum adalah pemilikan kekayaan dan penghasilan , pemilihan asset produksi. Yang dimaksud penghasilan disini bisa penghasilan rutin dan bisa pula brupa penghasilanbulanan atau penghasilan harian, mingguan dan sebagainya. Intinya yang dimaksud penghasilan adalah pemasukan atau pendapatan bersih yang diperoleh seseorang atau keluarga.

Sementara itu yang dimaksud dengan kekayaan adalah menyangkut kepemilikan benda-benda berharga atau aset produksi seseorang atau keluarga. Di kalangan masyarakat desa, yang termasuk benda-benda berharga bisa berupa tanah, perhiasan mesin perahu, rumah dan sebagainya. Sementara itu untuk masyarakat perkotaan, sesutau yang termasuk berharga selain tanah biasanya adalah pemilikan barang-barang elektronik, pemilikan kendaraan bermotor, rumah, deposito, dan semacamnya.

Di Indonesia salah satu patokan yang dipergunakan untuk menentukan apakah seseorang dikategorikan miskin atau tidak adalah dengan memacu pada kriteria yang dikeluarkan Biro Pusat Statistik (BPS). BPS setiap tahun biasanya selalu mengluarkan batasan pendapatan per kapita pertahun, dan dibedakan antara wilayah pedesaan dengan perkotaan. Menurut BPS, kemiskinan adalah ketidakmampuan untuk memenuhi standar tertentu dari kebutuhan dasar, baik makanan maupun bukan makanan. Standar ini disebut garis kemiskinan, yakni nilai pengeluaran konsumsi kebutuhan dasar makanan setara 2.100 kalori energy perkapita per hari, ditambah nilai pengeluaran untuk kebutuhan dasar bukan makanan yang paling pokok. Di Jawa Timur misalnya, pada tahun 2003 jumlah penduduk miskin tercatat meningkat menjadi 20,34 persen (7,1 juta jiwa). Padahal sebelumnya persentase angka kemiskinan tercatat hanya 19, 53 persen atau sekitar 6,3 juta jiwa.

Di wilayah pedesaan agraris di Pulau Jawa, Sajogo (19780 misalnya membagi masyarakat petani atas dasar luas pemilikan tanah. Seseorang disebut sebagai petani cukup apabila memiliki tanah di atas 0,5 hekta, disebut sebai petani miskin apabila luas tanahnya antara 0,25-0,5 hektar, dan dikelompokkan sebagai petani miskin sekali apabila luas tanahnya di bawah 0,25 hektar atau kelompok buruh tani yang tidak memiliki tanah.

Di lingkungan masyarakat pesisir, terbentuknya kelas social berbeda dengan masyarakat petani. Penggolongan kelas social masyarakat nelayan biasanya dapat dilihat dari tiga sudut pandang. Pertama, dari segi penguasaan alat-alat produksi atau peralatan tangkap (perahu jarring, dan perlengkapan lainnya). Struktur masyarakat ini terbagi menjadi kategori nelayan pemilik (alat-alat produksi) dan nelayan buruh yang tidak memiliki alat-alat produksi, dan dalam kegiatan produksi sebuah unit perahu nelyan buruh hanya menyumbangkan jasa tenaganya dengan memperoleh hak-hak yang sangat terbatas. Kedua, dari sekala investasimodal usahanya. Struktur masyarakat nelayan terbagi menjadi nelayan besar di man jumlah modal yang diinvestasikan dalam usaha perikanan relative banyak, dan nelayan kecil justru sebaliknya. Ketiga, dari tingkat teknologi peralatan tangkap ikan, yang terbagi menjadi nelayan modern, yaitu nelayan yang menggunakan teknologi penangkapan yang lebih canggih dari nelayan tradisional. Perbedaan ini membawa implikasi pada tingkat pendapata dan kemampuan atau esejahteraan social ekonomi. Di dalam stratifikasi yang ada dibandingkan nelayan pemilik, tingkat kehidupan social ekonomi nelayan buruh sangat rendah dan bahkan dapat dikatakan sebagai lapisan social yang paling miskin di desa-desa pesisir (Kusnadi, 2002:2-3).


[1] Doyle Paul Johnson, teori sosiologiklasik dan modern, Jakarta: (PT Gramedia Pustaka Utama. 1994) hlm 148.

This entry was posted in SOS2/ F2. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s