LOGIKA SCIENTIFIC SOSIOLOGI TEORI EMILE DURKHEIM

Review

Ini di ajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah

“Logika Scientific”

Dosen pembimbing:

Drs. Masduqi Affandi, M. Pd.I

Disusun Oleh:

Ida Wahyu Sulistyaningsih  (B05210037)

 

PROGRAM STUDI SOSIOLOGI

FAKULTAS DAKWAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA

2011

LOGIKA SCIENTIFIK SOSIOLOGI

Teori Emile Durkheim

Dalam pembahasan logika scientific sosiologi kemarin, itu masih sangat umum yang sekarang penulis menjelaskan lebih spesifik mungkin mengenai tentang apa itu sosiologi. Pengertian sosiologi berasal dari bahasa yunani yaitu sosio yang berarti masyarakat dan logos artinya ilmu. Secara garis besar sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang kemasyarakatan atau hubungan interaksi timbal balik antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok.

Disini penulis dalam menjelaskan logika scientific sosiologi akan mengaitkan dengan teori-teori sosiologi, yang di dalam sosiologi banyak sekali teori-teori yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh sosiologi. Tapi disini penulis mengambil dari salah satu teori yang telah dikemukakan oleh tokoh-tokoh sosiologi. Penulis disini mengambil teorinya Emile Durkheim yang mengenai tentang fakta sosial.

Apakah fakta sosial itu? Kiranya penting untuk terlebih dahulu mengetahui apa yang dimaksud dengan istilah “sosial”. Istilah itu lazim dipergunakan untuk menggambarkan segala macam gejala yang ada dalam masyarakat. Dengan demikian, maka semua peristiwa yang menyangkut diri manusia merupakan gejala yang bersifat sosial.

Durkheim, membangun konsep fakta sosial untuk memisahkan ilmu sosiologi dari pengaruh ilmu filsafat dan psikologi. Bagi Durkheim, pandangn Comte yang menempatkan dunia ide sebagai patok persoalan studi sosiologi sama dengan membelokkan sosiologi sebagai cabang filsafat. Membedakan fakta sosial dari fakta psikologis. Fakta psikologis ini mengenai tentang fenomena yang di bawa manusia sejak lahir, bukan merupakan hasil dari pergaulan hidup. Manusia dalam bertindak berada di luar kesadaran individu dan memiliki kekuatan menyuruh dan memaksa individu terlepas dari kemauan individualnya. Jika individu itu sepenuhnya menyetujui paksaan-paksaan tersebut maka ia tidak banyak menyadari. Namun, jika individu tidak menyetujui dan berusaha melawannya maka ia menjadi semakain nyata. Seperti, kata-kata yang dikeluarkan dari ucapan kita itu tidak bisa menarik kembali, sebenarnya itu berada di luar diri kita.

Di dalam setiap masyarakat terdapat gejala-gejala tertentu, misalnya, melaksanakan kewajibannya sebagai warga Negara, melaksanakan kontrak-kontrak yang dibuatnya, dan seterusnya, maka orang tadi melakukan tugasnya menurut hukum dan adat-istiadat. Hal-hal itu memang berasal dari luar diri manusia yang bersangkutan secara objektif, hal itu merupakan realitas objektif  oleh karena manusia tidak menciptakannya sendiri.

Durkheim mendefinisikan fakta sosial sebagai cara bertindak, berfikir dan merasa, yang di luar individu dan dimuati dengan sebuah kekuatan memaksa, yang karena hal-hal itu mengontrol individu itu. Apa yang dipikirkan adalah kebiasaan-kebiasaan,adat-istiadat dan cara hidup umum manusia sebagai sesuatu yang terkandung di dalam institusi-institusi, hukum-hukum, moral-moral dan ideologi-ideologi politis. Walaupun fakta sosial dengan cara ini dijelaskan terbuka pada observasi, masyarakat, bagi Durkheim pada dasarnya adalah sebuah fenomena moral dan formatif yang bersangkuta dengan pengaturan tingkah-laku individu melalui sebuah sistem yang dipaksakan atau sistem eksternal yang memaksakan nilai-nilai dan aturan-aturan, sebagai sebuah sistem moral  penampilan khasnya adalah kewajiban-kewajiban.

Durkheim adalah contoh ekstrem tentang seorang teoretikus holistis. Karena itu tampaknya menyesatkan berusaha memisahkan teorinya tentang kodrat manusia dari teorinya tentang masyarakat. Tetapi fakata bahwa Durkheim berkeyakinan bahwa sesuatu yang jelas bersifat manusiawi, seperti bahasa, moralitas, agama dan kegiatan ekonomis, dapat diberi ciri oleh dan tergantung pada masyarakat, tak lebih banyak menghalanginya untuk memiliki sebuah teori tentang manusia. Memang persis karena tekanan Durkheim bahwa betapa sedikitnya individu sebagai bahan mentah yang dapat dibentuk oleh pengaruh kehidupan kelompok dapat melampaui masyarakat, dia dapat membahas faktor-faktor sosial lebih banyak dari faktor-faktor individual dalam penjelas-penjelasannya tentang tingkah-laku manusia.

Durkheim memandang kodrat manusia sebagai sebuahabstraksi yang hampir total dari tingkah-laku manusia-manusia actual dalam situasi-situasi real. Secara metodelogis individu bagi Durkheim adalah sebuah kategori residual di mana dia akan menempatkan apa yang ditinggalkan sesudah ia mengambil semua apa yang dikenakan kepada semua kehidupan manusia oleh masyarakat. Kepentingannya adalah memperlihatkan bagaimana kelompok mengontrol dan membentuk bahan yang lunak ini dan mengubah individu abstrak menjadi seorang anggaota kelompok dengan cirri-ciri yang dapat dibedakan yang khas dari kelompoknya.

Jadi, Durkheim menerapkan gagasan di atas pada proses pikiran manusia, yakni masyarakatlah yang menyebabkan kita berpikir tentang dunia dengan cara tertentu. Pandangan yang jungkir-balik dari sudut pandang individualistis mengenai hubungan antara individu dan masyarakat ini sangat khas dalam teori-teori Durkheim. Jadi, pada umumnya, dia berpendapat bahwa kualitas-kualitas manusia yang teramati bukanlah penjelasan untuk asal-usul organisasi soaial melainkan bahwa kehidupan sosial adalah sebab maupun tujuan dari ciri-ciri individual yang tampak ini.

Contoh paradigma dari visi terbalik ini adalah pandangan bahwa kehidupan social mendahului kemampuan manusia untuk berkomunikasi dengan tuturan, sebuah proses di mana masing-masing individu hanya berpartisipasi dengan mempelajari aturan-aturan sosial yang memberi makana pada symbol-simbol, dengan premis ini Durkheim membangun sebuah teori bahwa bentuk dan isi aturan-aturan sosial ini aturan-aturan sosial lainnya mencerminkan tuntutan-tuntutan kehidupan sosial pada umumnya dan tuntutan-tuntutan khusus masyarakat-masyarakat yang empunya aturan-aturan itu

Fakta sosial dilihat sebagai suatua yang nyata, yang di anggap nayata ada dua jenis fakta sosial yaitu:

  1. Material adalah suatu yang dapat disimak, ditanggap dan diobservasi yang merupakan bagian dari dunia nyata.
  2. Non material adalah suatu yang dianggap nyata, fakta ini merupakan fenomena yang bersifat intersubjektif yang muncul dalam kesadaran manusia. Contohnya: kebudayaan, fikiran , realitas dan lain-lain.

Gejala sosial itu riil dan berbeda dari gejala psikologis dan biologis. Gejala social merupakan fakta yang riil maka dapat dipelajari dengan menggunakan metode-metode empiris. Kenyataan dan struktur sosial bukanlah sekedar kumpulan, rangkuman atau gambaran dari sifat-sifat atau perilaku individu. Dia merasa mengetahui bagaimana kekuatan-kekuatan social itu bekerja dapat mempunyai pengaruh terhadap individu yang bersifat membesarkan, karena kekuatan-kekuatan ini tidak dapat diperhitungkan dan mumgkin bisa disesuaikan melalui tindakan manusia.

Durkheim mencatat bahwa sebuah masyarakat adalah sebuah tatanan moral, yaitu seperangkat tuntutan normatif lebih dengan kenyataan ideal dari pada kenyataan material, yang ada dalam kesadaran individu dan meski demikian dalam cara tertentu berada di luar individu. Dis sini Durkheim menyimpulkan asal-usul dan otoritas moralitas harus ditelusuri sampai pada sesuatu yang agak samar-samar yang ia sebut ‘Masyarakat’. Akan tetapi ia menghasilkan dua konsep yang berhubungan untuk penjelasannya tentang kanyataan sosial. Konsep itu adalah kesadaran kolektif dan gambaran kolektif. Gambaran kolektif adalah simbol-simbol yang mempunyai makna yang sama bagi semua anggota sebuah kelompok dan memungkinkan mereka untuk merasa sama satu sama lain sebagai anggota-anggota kelompok. Gambaran kolektif tersebut memperlihatkan anggota-anggota melihat diri mereka dalam hubungan-hubungan mereka dalam objek-objeek yang mempengaruhi mereka. Contonya adalah bendara nasional dan buku-buku suci. Gambaran kolektif adalah bagian dari isi kesadaran kolektif. Kesadaran kolektif mengandung semua gagasan yang dimiliki bersama oleh para anggota individual masyarakat yang menjadi tujuan-tujuan dan maksud-maksud kolektif.

Kesadaran kolektif itu adalah sebuah konsensus normatif yang mencangkup kepercayaan-kepercayaan keagamaan dan kepercayaan-kepercayaan lain yang menyokongnya. Konsep Durkheim tentang kesadaran kolektif harus dilihat dalam latar belakang penolakkannya terhadap segala pandangan tentang masyarakat yang memperlakukan hubungan timbal-balik kepentinga individual sebagai sebuah dasar yang memadai untuk penjelasan sosial. Disini ada juga terori yang terkenal yaitu tentang konsensus, tapi penulis menjelaskan tentang terori fakta sosial.

Di dalam masyarakat-masyarakat yang sederhana populasinya kecil dan terbesar di dalam wilayahnya yang terbatas. Anggota-anggota masyarakat memiliki ciri-ciri dan kegiatan-kegiatan yang sama yang termasuk di dalam kelompok-kelompok kecil yang sebagian besar terisolasi yang memilki sedikit interaksi. Sebuah masyarakat sederhana adalah sebuah sistem segmen-segmen yang homogen dan sama satu sama lain, sehingga setiap segmen itu bisa ditambahkan atau diambil dari sebuah masyarakat tanpa mempengaruhi yang lain.

Ciri-ciri dari masyarakat yang kompleks adalah kebalikan dari ciri-ciri masyarakat sederhana. Masyarakat-masyarakat kompleks mempunyai wilayah-wilayah yang luas dan padat penduduk, dengan berbagai macam kelompok yang tersusun secara beraneka-ragam. Masyarakat-masyarakat kompleks sejak awal terintegrasi dalam arti bahwa bagian-bagian mereka tergantung sama lain pada dukungan timbal-balik, sehingga masyarakat-masyarakat itu lebih bersifat ‘organis’ daripada ‘mekanis’. Di dalam suatu masyarakat ada tatanan masyarakat yang bersifat organis dan mekanis.

Suatu fakta sosial merupakan setiap cara berperilaku, baik yang tetap maupun tidak, yang mampu memberikan tekanan eksternal pada individu, atau setiap cara bertingkah-laku yang umum dalam suatu masyarakat, yang pada waktu yang bersamaan tidak tergantung pada manifestasi individualnya.

Fakta sosial dapat di bagi menjadi empat yaitu:

1)        Teori konflik

Dalam teori konflik Durkheim disini mengemukakan pendapat tentang teori ini yaitu dalam suatu masyarakat, dimana dalam perkumpulan suatu masyarakat atau sekelompok organisasi terdapat konflik-konflik yang begitu beragam, konflik ini disebabkan adanya berbedaan anatara masyarakat yang satu dengan yang lain yang dapat menimbulkan konflik.

Contoh: dalam sebuah kampus ada sekumpilan anak yang sedang berdebat, dalam perdebatan tadi muncul pemikran yang berbeda-beda antara anak yang satu dan yang lainnya, inilah kemudain terjadilah konflik, akibat perbedaan pendapat.

2)        Teori fungsional

Dalam suatu masyarakat adanya seperangkat organisasi untuk mengatur suatu masyarakat, agar masyarakatnya menjadi tertib dan teratur. Jika tidak ada organisasi yang mengatur masyarakat, masyrakatnya akan kacau balau.

Contoh : dalam sebuah desa ada  Kepala Desa, RT, dan RW. Di dalam teori fungsional ini dalam penjabatan Kepala Desa menjabat sesuai fungsinya dan laiannya juga sama.

Dalam teori fungsional, jika dalam suatu struktur organisasi tidak sesuai dengan fungsinya atau bertentangan maka sudah masuk dalam teori konflik dan juga dapat menimbulkan konflik

3)        Teori sistem

Dalam teori sistem, tepri ini bisa juga disebut dengan rangkain, teori ini tidak di bahas secara spesifik saperti yang di atas, karena teori sistem ini hampir sama dengan teori fungsional, makanya tidak di bahas secara menyeluruh seperti teori di atas tadi. Dan teori ini hanya bisa dibilang sebagai pelengkap saja.

4)        Teori makro

Teori makro ini juga jarang dibahas, karean teori hampir sama dengan teori konflik. Biasanya teori makro ini terdapat dalam ilmu ekonomi. Dari ke empat teori ini salaing sangat berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya.

Berdasarkan konsep-konsep etika fundamental itu para moralis menerapkan terhadap gagasan-gagasan mengenai keluarga, masyarakat, pertanggung jawaban dan keadilan. Situasi dalam ekonomi politik. Ruang lingkup fakta social adalah tujuannya untuk mendapatkan kekayaan. Ada ekonomi yang menganggap fakta dalam hubungan dengan tujuan tersebut. Misalnya kalau meneliti produksi, akan berfikir bahwa secara langsung dapat mengadakan pencacahan dan ulsan terhadap pelopor-pelopor utama dalam proses tersebut.

Hal yang paling fundamental dalam teori-teori ekonomi, yakni nilai, dikontruksikan dengan metode yang sama. Kalau nilai dipelajari sebagaimana halnya dengan fakta yang harus dipelajari harus dengan menggunakan cara-cara tertentu, maka pertama-tama seorang ekonom akan mengidentifikasikan dengan ciri-ciri hal, menyusun klasifikasi variasinya, memeriksa secara induktif penyebab terjadinya variasi dan akhirnya mengadakan perbandingan agar supaya dapat menari abstraksi sebagai kesimpulan. Untuk merumuskan teori ekonomi, harus puas dengan cara memusatkan perhatian pada gagasan pribadinya mengenai nilai, sebagai objek yang dapat ditukar. Pada kasus-kasus lain membandingkan perilaku yang diancam hukum yang melanggar norma. Perasaan yang menyangkut moral yang hilang. Dengan demikian kriminal oleh karena melanggar perasana-perasaan itu hanya bersifat insidental dan disebabkan karena keadaan-keadaan patologis.

Apa yang telah dijelaskan dalam teori Durkhiem ini, di dalam suatu  masyarakat terdapat banyak persaoalan yang bermacam-macam, tapi disini penulis meneliti dari salah satu macam persolan yang ada di dalam masyarakat yang berkaitan dengan teori fakta sosial.

Bergerak lebih jauh ke dalam teori isi sosialnya, pada umumnya disetujui bahwa Durkheim sangat memingkatkan kesadaran kita tentang masyarakat sebagai sebuah fenomena normatif yang tak bisa dimengerti tanpa sebuah penghargaan terhadap peran-peran konsensus sosial dalam memberi sebuah kerangka kerja untuk tindakan sosial, barang kali lebih dari pada orang lain, menemukan perbedaan-perbedaan yang menentukna di antara masyarakat-masyarakat tradisional dan masyarakat-masyarakat modern.

This entry was posted in SOS2/ F2. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s