Next Post

Makalah

Teori tiga tahap Aguste Comte

Diajukan Untuk Memenuhi Mata Kuliah Logika scientific

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh:

Athi’ Nashihatul U    (B05210055)

 

Dosen Pengampu:

Drs. Masduqi Affandi, M. Pd.I

 

FAKULTAS DAKWAH

JURUSAN SOSIOLOGI

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

SURABAYA

2011

 

 

 

  1. A.    Riwayat hidup Aguste Comte

Auguste Comte dilahirkan di Montpellier, Prancis tahun 1798, keluarganya beragama khatolik dan berdarah bangsawan. Dia mendapatkan pendidikan di Ecole Polytechnique di Prancis, namun tidak sempat menyelesaikan sekolahnya karena banyak ketidakpuasan didalam dirinya, dan sekaligus ia adalah mahasiswa yang keras kepala dan suka memberontak.

Comte akhirnya memulia karir profesinalnya dengan memberi les privat bidang matematika. Namun selain matematika ia juga tertarik memperhatikan masalah-masalah yang berkaitan dengan masyarakat terutama minat ini tumbuh dengan suburnya setelah ia berteman dengan

Saint Simon yang mempekerjakan Comte sebagai sekretarisnya.

Kehidupan ekonominya pas-pasan, hampir dapat dipastikan hidupa dalam kemiskinan karena ia tidak pernah dibayar sebagaimana mestinya dalam memberikan les privat, dimana pada waktu itu biaya pendidikan di Prancis sangat mahal.

Pada tahun 1842 ia menyelesaikan karya besarnya yang berjudul Course of Positive Philosophy dalam 6 jilid, dan juga karya besar yang cukup terkenal adalah System of Positive Politics yang merupakan persembahan Comte bagi pujaan hatinya Clothilde de Vaux, yang begitu banyak mempengaruhi pemikiran Comte di karya besar keduanya itu. Dan dari karyanya yang satu ini ia mengusulkan adanya agama humanitas, yang sangat menekankan pentingnya sisi kemanusiaan dalam mencapai suatu masyarakat positifis.

Comte hidup pada masa akhir revolusi Prancis termasuk didalamnya serangkaian pergolakan yang tersu berkesinambungan sehingga Comte sangat menekankan arti pentingnya Keteraturan Sosial.

Pada tahun 1857 ia mengakhiri hidupnya dalam kesengsaraan dan kemiskinan namun demikian namanya tetap kita kenang hingga sekarang karena kegemilangan pikiran serta gagasannya.

  1. B.     Pemikiran Aguste Comte

Menurut Comte perkembangan pemikiran manusia terdiri atas tiga Tahap yaitu Tahap Teologis, lalu meningkat ketahap metafisik, kemudian mencapai tahap akhir yaitu tahap positif.

1. TAHAP TEOLOGIS

Tahap teologis bersifat antropomorfik atau melekatkan manusia kepada selain manusia seperti alam atau apa yang ada dibaliknya. Pada zaman ini atau tahap ini seseorang mengarahkan atau menghubungkan segala sesuatu dengan tuhan, roh jahat, dewa dan segala sesuatu yang berbau mistis. Menurutnya benda-benda pada zaman ini merupakan ungkapan dari supernaturalisme, bermula dari fetish yaitu suatu faham yang mempercayai adanya kekuatan magis dibenda-benda tertentu, ini adalah tahap teologis yang paling primitif. kemudian polyteisme atau mempercayai pada banyak Tuhan, saat itu orang menurunkan hal-hal tertentu seluruhnya masing-masing diturunkannya dari suatu kekuatan adikodrati, yang melatar belakanginya, sedemikian rupa, sehingga tiap kawasan gejala-gejala memiliki dewa-dewanya sendiri. Dan kemudian menjadi monoteisme ini adalah suatu tahap tertinggi yang mana saat itu manusia menyatukan Tuhan-Tuhannya menjadi satu tokoh tertinggi. Ini adalah abad monarkhi dan kekuasaan mutlak. Ini.

2. TAHAP METAFISIK

Tahap metafisik sebenarnya hanya mewujudkan suatu perubahan saja dari zaman teologis, karena ketika zaman teologis manusia hanya mempercayai suatu doktrin tanpa mempertanyakannya, hanya doktrin yang dipercayai. Dan ketika manusia mencapai tahap metafisik ia mulai mempertanyaan dan mencoba mencari bukti-bukti yang

meyakinkannya tentang sesuatu dibalik fisik. Tahap metafisik menggantikan kekuatan-kekuatan abstrak atau entitas-entitas dengan manusia.

3. TAHAP POSITIF

Tahap positif berusaha untuk menemukan hubungan seragam dalam gejala. Pada zaman ini seseorang tahu bahwa tiada gunanya untuk mempertanyakan atau pengetahuan yang mutlak, baik secara teologis ataupun secara metafisika. Orang tidak mau lagi menemukan asal muasal dan tujuan akhir alam semesta, atau melacak hakikat yang sejati dari segala sesuatu dan dibalik sesuatu (tentang Tuhan dan penciptaan dunia). Pada zaman ini orang berusaha untuk menemukan hukum segala sesuatu dari berbagi eksperimen yang akhirnya menghasilan fakta-fakta ilmiah, terbukti dan dapat dipertanggung jawabkan. Pada zaman ini menerangkan berarti: fakta-fakta yang khusus dihubungkan dengan suatu fakta umum.

  1. C.    Hubungan teori-teori Aguste Comte dengan Realitas masa kini

Pada zaman yang sudah berkembang dan teknologi yang sudah sangat maju ini teori tiga tahap yang dikemukakan Comte tentang teologis, metafisik dan positifis bercampur menjadi satu, contoh dalam suatu kakus tentanng sebuah kecelakaan dibawah ini :

Mojokerto (ANTARA News) – Kecelekaan beruntun terjadi di Desa Pandan Arum, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jatim, Jumat, melibatkan satu mobil boks, dua truk dan empat sepeda motor, seorang tewas tewas dalam kejadian itu.Petugas Kepolisian Sektor (Polsek) Pacet Bripda Teguh Purwanto mengatakan, korban tewas adalah pengendara motor bernama Arif Tika, warga Pungging, Kabupaten Mojokerto.“Korban meninggal dunia saat dibawa dalam perjalanan menuju ke rumah sakit,” ucapnya.Korban mengalami luka-luka di bagian kepala, sehingga terjadi pendarahan hebat dan nyawanya tidak tertolong saat dalam perjalan ke rumah sakit.Ia menjelaskan, kecelakaan beruntun tersebut terjadi ketika kendaraan mobil boks dengan nomor polisi S 8237 P yang dikemudikan oleh Suwardi warga Desa Cempoko Limo, remnya blong.Karena tidak bisa mengendalikan kemudi, mobil boks yang meluncur dari arah selatan itu kemudian menghantam sepeda motor yang dikendarai oleh korban.“Karena laju kendaraan mobil box cukup kencang, tabrakan dengan sepeda motor korban tidak membuat mobil boks berhenti dan menabrak truk bermuatan pupuk yang ada di depannya,” paparnya.Truk bermuatan pupuk yang dikemudian Misdiyanto dengan nomor polisi S 8591 P itupun tidak kuasa untuk menghentikan kendaraan, saat ditabrak dari arah belakang.Hingga akhirnya truk bermuatan pupuk tersebut menabrak truk pasir bernomor polisi S 9626 U yang dikemudikan oleh Puji Santoso, warga Pacet.“Di sela-sela kecelakan tiga buah truk tersebut, juga menabrak sepeda motor yang kebetulan melintas di lokasi kejadian,” ucapnya mengungkapkan.Sedikitnya ada empat unit sepeda motor yang terlibat dalam tabrakan beruntun tersebut, dan salah satunya sepeda motor yang dikendarai oleh Arif Tika yang meninggal dunia.“Akibat kecelakaan beruntun ini, arus lalulintas di kawasan tersebut menjadi macet menyusul tempat kejadian perkara berada di pertigaan jalan menuju rumah sakit Sumber Glagah,” tuturnya.Ia menyebutkan, saat ini seluruh bangkai kendaraan yang mengalami kecelakaan sudah diangkat dan dibersihkan dari jalan.“Begitu pula dengan mobil boks yang sempat tercebur ke dalam areal persawahan yang ada di sekitar lokasi juga sudah diderek dan diangkat,” katanya.Polisi hingga saat ini belum menentukan siapa tersangka dalam kasus kecelakaan maut ini.“Hanya saja, kami telah memeriksa sopir truk box untuk dimintai keterangan terkait kecelakaan ini,” ucapnya menambahkan.

Dalam kecelakaan ini masyarakat atau orang-orang yang masih percaya terhadap Teologis (ialah tingkat pemikiran manusia bahwa semua benda di dunia ini mempunyai jiwa dan itu disebabkan oleh sesuatu kekuatan yang berada di atas manusia) akan berfikiran bahwa semua ini adalah merupakan kehendak tuhan dan sudah merupakan takdir yang harus diterima apa adanya.

Sedangkan masyarakat yang masuk dalam Teori metafisik (pada tahap ini manusia masih percaya bahwa gejala-gejala di dunia ini disebabkan oleh kekuatan-kekuatan yang berada di atas manusia) akan menerangkan kejadian kecelakaan itu dengan hal-hal yang sedikit lebih maju dari Teologis seperti bahwa ini mungkin hari sial si korban.

Berbeda dengan orang-orang atau masyarakat yang telas berfikir menggunakan Teori Positifis (merupakan tahap di mana manusia telah sanggup untuk berpikir secara ilmiah. Pada tahap ini berkembanglah ilmu pengetahuan) sudah memandang kecelakaan ini merupakan suatu kejadian yang bisa diselidiki asal mulanya dan alasan-alasan serta penyebab-penyebab kejadian nya menggunakan data-data empiris yang ada di tempat kejadian perkara.

This entry was posted in SOS2/ F2. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s