TUGAS

LOGIKA SCIENTIFIK

“Teori Positivistis Aguste Comte”

 

Dosen Pembimbing

 

Drs. Masduqi Affandi, M.Pd.i

Disusun Oleh :

 

Isnaini Mauludiyah  (B05210039)

Sosiologi Semester 2/ F2

(Konsentrasi Sosiolog)

 

 

 

FAKULTAS DAKWAH

JURUSAN SOSIOLOGI

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

SURABAYA

2010-2011

 

TEORI POSITIVISTIS COMTE

 

Meskipun Comte yang memberikan istilah “positivisme”, gagasan yang terkandung dalam kata itu bukan dari dia asalnya. Kaum positivis percaya bahwa masyarakat merupakan bagian dari alam dan bahwa metode-metode penelitihan empiris dapat dipergunakan untuk menemukan hokum-hukumnya, sudah tersebar luas di lingkungan intelektual dimana Comte hidup. Tetapi sementara kebanyakan kelompok positivis berasal dari kalangan orang-orang yang progresif, yang bertekad mencampakan tradisi-tradisi rasional dan memperbarui masyarakat menurut hukum alam sehingga menjadi lebih rasional, omte percaya bahwa penemuan hokum-hukum alam itu akan membukakan batas-batas yang pasti yang melekat dalam kenyataan sosial, dan melampaui batas-batas itu usaha pembaruan akan merusakkan dan menghasilkan yang sebaliknya. Skeptisisme Comte yang berhubungan dengan usaha-usaha pembaharuan besar-besaran serta penghargaannya terhadap tonggak-tonggak keteraturan sosial tradisional menyebabkan dia dimasukkan ke dalam kategori orang konservatif.

Comte melihat masyarakat sebagai suatu keseluruhan organik yang kenyataannya lebih daripada sekedar jumlah bagian-bagian yang saling tergantung, tetapi untuk mengerti kenyataan ini, metode penelitihan empiris harus di gunakan dengan keyakinan bahwa masyarakat merupakan suatu kejadian dari alam seperti halnya gejala fisik. Andreski berpendapat, pendirian Comte bahwa masyarakat merupakan bagian dari alam dan bahwa memperoleh pengetahuan tentang masyarakat menuntut penggunaan metode-metode penelitihan empiris dari ilmu-ilmu alam lainnya, merupakan sumbangannya yang tak terhingga nilainya terhadap perkembangan sosiologi. Tentu saja keyakinan inilah, dan bukan teori substantifnya tentang masyarakat, yang bernilai bagi usaha sosiologi sekarang ini.

Comte melihat perkembangan ilmu tentang masyarakat yang bersifat alamiah ini sebagai suatu puncak proses kemajuan intelektual yang logis melalui mana semua ilmu-ilmu lainnya yang sudah melewatinya. Kemajuan ini mencakup perkembangan mulai dari bentuk-bentuk pemikiran teologis purba, penjelasan metafisik, dan akhirnya sampai ke terbentuknya hokum-hukum ilmiah yang positif. Bidang sosiologi adalah paling akhir melewati tahap-tahap ini, karena pokok permasalahannya lebih kompleks daripada yang terdapat dalam ilmu fisika dan biologi.

Mengatasi cara-cara berpikir mutlak yang terdapat dalam tahap-tahap pra positif, menerima kenisbian pengetahuan kita serta terus menerus terbuka terhadap kenyataan-kenyataan baru, merupakan cirri khas yang membedakan pendekatan positif yang digambarkan Comte. Dia menulis :

Kalau kita memandang semangat positif itu dalam hubungannya dengan konsepsi ilmiah… Kita akan menemukan bahwa filsafat itu dibedakan dari metafisika teologis oleh kecenderungannya menisbikan ide-ide yang tadinya dipandang mutlak…dalam suatu pandangan ilmiah, pertentangan antara yang nisbi dan yang mutlak dapat dilihat sebagai perwujudan yang paling menentukan dari perselisihan antara filsafat modern dan filsafat kuno. Semua penelitihan mengenai hakikat dari segala yang ada serta sebab-sebab pertama dan terakhir, harus selalu mutlak, sedangkan studi mengenai hukum-hukum gejala harus bersifat nisbi, karena studi itu mengandaikan suatu kemajuan pemikiran terus menerus, yang tunduk pada penyempurnaan pengamatan secara bertahap, tanpa pernah akan membukakan secara penuh kenyataan setepat-tepatnya jadi sifat nisbi konsepsi ilmiah tidak terpisahkan dari pengertian yang tepat mengenai hukum-hukum alam, seperti halnya kecenderungan khayali akan pengetahuan mutlak yang menyertai setiap penggunaan fiksi teologis dan hal-hal metafisik.

Pokok pandangan yang dinyatakan Comte dengan agak angkuh ini, wajar dalam disiplin sosiologi masa kini, yang sulit untuk menilai secara tepat bagaimana suatu perubahan yang terjadi di masa Comte.

Sesudah menentukan sifat epistemology umum dan pendekatan positif, Comte lalu menunjukkan metode-metode khusus penelitihan empiris yang sama untuk semua ilmu : pengamatan, eksperimen, dan perbandingan. Tetapi Comte mengakui bahwa tidak mungkin untuk menunggu sampai semua fakta tersedia sebelum merumuskan suatu hukum teoretis, sekurang-kurangnya untuk sementara. Pun pengamatan, suatu metode yang paling kurang canggih, tidak hanya sekedar mencakup pendaftaran semua fakta itu sebaliknya, pengamatan diarahkan oleh semacam teori implisit yang memberikan arah kepada si pengamat gejala empiris yang mana yang patut di catat.

Eksperimen sebagai suatu metode, lebih terbatas daripada dua lainnya, karena sulitnya melaksanakan eksperimen ilmiah dalam kehidupan sosial. Tetapi metode eksperimen tidak harus bergantung pada keterlibatan langsung dalam proses-proses sosial, eksperimen alamiah dapat terjadi, seperti apabila suatu perkembangan sosial patologis mengganggu hukum-hukum yang normal dalam masyarakat. Perkembangan politik revolusioner dapat merupakan contoh kasus yang tepat.

Analisa komparatif dapat mencakup perbandingan antara rumpun manusia dan bukan manusia, antara masyarakat-masyarakat yang berbeda dalam masyarakat tertentu. Tipe perbandingan yang terakhir ini melahirkan suatu metode keempat, yakni analisa historis, suatu metode yang khusus untuk gejala sosial yang memungkinkan suatu pemahaman mengenai hukum-hukum dasar perkembangan sosial.

Gagsan untuk menggunakan metode-metode penelitian empiris yang sama yang digunakan dalam ilmu fisika dan biologi untuk menganalisa gejala sosial untuk sejalan dengan pandangan Comte mengenai kesatuan filosofis dari semua ilmu. Sesungguhnya salah satu tujuan utama dari bukunya Course of Positive Philosophy, adalah untuk menunjukkan kesatuan ini dengan menganalisa dasar-dasar filosofis dari semua ilmu, dari matematika dan astronomi, sampai sosiologi.

Kesatuan ilmu juga diperlihatkan menurut Comte, semua ilmu itu memperlihatkan hukum perkembangan intelektual yang sama, seperti Nampak dalam perkembangan melalui tiga tahap pemikiran teologis, metafisik, dan positif. Sedangkan gagasan dasar bahwa manusia dan gejala sosial merupakan bagian dari alam dan dapat dianalisa dengan metode-metode ilmu alam, bukan dari Comte aslinya, sumbangan Comte adalah memberikan suatu analisa komperehensif mengenai kesatuan filosofis dan metodologis yang menjadi dasar antara apa-apa yang disebut ilmu-ilmu alam dan ilmu sosial. Bukunya The Course of Positive Philosophy merupakan sebuah ensiklopedia mengenai evolusi filosofis dari semua ilmu dan merupakan suatu pernyataan yang sistematis tentang filsafat positi, yang semua itu terwujud dalam tahap terakhir perkembangan. Topic-topik yang tercakup, meliputi matematika, astronomi, fisika, kimia, biologi, dan sosiologi, yang diperinci lagi ke berbagai spesialisasi, misalnya dalam fisika, Comte memasukkan barologi, termologi, akustik, optic, dan elektrologi. Untuk setiap spesialisasi yang berbeda-beda itu Comte menunjukkan pembagian dasar antara statika dan dinamika gejala yangf bersangkutan. Perhatian kita disini terbatas pada prespektif teoretisnya mengenai masyarakat.

 

v  Hukum Tiga Tahap

Meskipun prespektif teoritis Comte mencakup statika dan dinamika sosial, perhatian utamanya dalam bagian pertama dari karirnya adalah menjelaskan dinamika kemajuan sosial. Kendati terjadi, anarki sosial dan intelektual di masa hidupnya, dia yakin bahwa masyarakat-masyarakat Eropa, khususnya Prancis, ada di ambang pintu suatu keteraturan sosial baru. Memahami sifat keteraturan baru ini penting untuk mengatasi anarki yang ada. Tetapi memberikan ramalan-ramalan yang dapat dipercayai mengenai masa depan menuntut suatu pemahaman akan hukum-hukum dinamika sosial, dan pada gilirannya bergantung pada penelitihan sejarah, yang akan mengungkapkan dan menggambarkan bekerjanya hukum-hukum ini. Dengan keyakinan tinggi akan kepercayaan bahwa penelitihan sejarah akan mengungkapkan kemajuan manusia yang mantap, Comte menjelaskan bahwa tujuannya yang menyeluruh adalah “ untuk menjelaskan setepat mungkin gejala perkembangan yang besar dari umat manusia, dengan semua aspeknya yang penting, yakni menemukan mata rantai yang harus ada dari perubahan-perubahan umat manusia mulai dari kondisi yang hanya lebih tinggi dari suatu masyarakat kera besar, secara bertahap menuju ke tahap peradaban Eropa sekarang ini”. Kepercayaan akan kemajuan manusia yang tidak terelakan ini, sejalan dengan pemikiran evolusioner kemudian. Hal ini juga mencermikan pengaruh ide-ide pencerahan di abad kedelapan belas.

Hukum tiga tahap merupakan usaha Comte untuk menjelaskan kemajuan evolusioner umat manusia dari masa primitive samapi ke peradaban Prancis abad ke 19 yang sangat maju. Hukum ini, yang mungkin paling terkenal dari gagasan-gagasan teoretis pokok Comte, tidak lagi diterima sebagai suatu penjelasan mengenai perubahan sejarah secara memadai. Juga terluas dan terlalu umum sehingga tidak dapat benar-benar tunduk pada pengujian empiris secara teliti, yang menurut Comte harus ada untuk membentuk hukum-hukum sosiologi.

Singkatnya, hukum itu menyatakan bahwa masyarakat-masyarakat berkembang melalui tiga tahap utama. Tahap-tahap ini ditentukan menurut cara berpikir yang dominan : teologis, metafisik, dan positif. Lebih lagi, pengaruh cara berpikir yang berbeada-beada ini meluas ke pola-pola kelembagaan dan organisasi sosial masyarakat. Jadi watak struktur sosial masyarakat tergantung pada gaya epistimologinya atau pandanagan dunia, atau cara mengenala dan menjelaskan gejala yang dominan. Comte menjelaskan hukum tiga tahap sebagai berikut :

  • Dari studi mengenai perkembangan inteligensi manusia, di segala penjuru dan melalui segala zaman, penemuan muncul dari suatu hukum dasar yang besar… inilah hukumnya bahwa setiap konsepsi kita yang paling maju, setiap cabang pengetahuan kita, berturut-turut melewati tiga kondisi teoretis yang berbeda, teologis atau fiktif, metafisika atau abstrak, ilmiah atau positif. Dengan kata lain, pikiran manusia pada dasarnya, dalam perkembangannya, menggunakan tiga metode berfilsafat yang karakternya sangat berbeda dan malah sangat bertentangan… yang pertama merupakan titik tolak yang harus ada dalam pemahaman manusia, yang kedua hanya suatu keadaan peralihan dan yang ketiga adalah pemahaman dalam keadaannya yang pasti dan tak tergoyahkan.

Karakteristik yang khusus dari ketiga tahap ini di sajikan secara singkat sebagai berikut :

  • Dalam fase teologis, akal budi manusia, yang mencari kodrat dasar manusia, yakni sebab pertama dan sebab akhir dari segala akibat, singkatnya, pengetahuan absolute mengandaikan bahwa semua gejala di hasilkan oleh tindakan langsung dari hal-hal supranatural.
  • Dalam fase metafisik, yang hanya merupakan suatu bentuk lain dari yang pertama, akal budi mengandaikan bukan hal supranatural, melainkan kekuatan-kekuatan abstrak, hal-hal yang nyata benar-benar melekat pada semua benda, dan yang mampu menghasilkan semua gejala.
  • Dalam fase terakhir, yakni fase positif, akal budi sudah meninggalkan pencarian yang sia-sia terhadap pengertian-pengertian absolute, asal dan tujuan alam semesta, serta sebab-sebab gejala, dan memusatkan perhatiannya pada studi tentang hukum-hukumnya yakni hubungan-hubungan urutan dan persamaannya yang tidak berubah. Penalaran dan pengamatan, digabungkan secara cepat, merupakan sarana-sarana pengetahuan ini.

Gagasan tentang evolusi perkembangan melalui tiga tahap ini bukan hanya milik Comte saja. Awal-awal rumusan Comte mengenai hukum tiga tahap dikembangkan selama dia bekerja sama dengan Saint Simon, dan model dasar itu pasti merupakan hasil kerja sama ini. Juga Jacques Turgot sudah mengemukakan suatu pandangan yang serupa mengenai perkembangan sejarah dari bentuk-bentuk pemikiran primitive samapi bentuk-bentuk pemikiran ilmiah modern di abad ke delapan belas. Secara luas, Comte mensistematisasi dan mengembangkan model itu serta mengaitkannya dengan memberikan tekanan pada paham positif.

Bagi orang-orang sekarang ini yang pandangan dunianya di bentuk oleh mentalitas ilmiah, ketahanan cara-cara pra ilmiah mungkin sulit untuk di mengerti. Untuk menggambarkan perbedaan yang ditekankan Comte, bayangkanlah bahwa kita mau menjelaskan suatu gejala alam seperti angin taufan. Dalam tahap teologis, gejala serupa itu akan dijelaskan sebagai hasil tindakan langsung dari seorang dewa angina tau tuhan yang agung. Dalam tahap metafisik gejala yang sama itu akan di jelaskan sebagai manifestasi dari suatu hukum alam yang tidak dapat di ubah. Dalam tahap positif angin taufan itu akan di jelaskan sebagai hasil dari suatu kombinasi tertentu dari tekanan-tekanan udara, kecepatan angin, kelembaban, dan suhu semua variable yang dapat diukur, yang berubah terus menerus dan berinteraksi menghasilakan angin taufan itu. Atau bayangkanlah, bahwa kita mau menjelaskan perilaku seseorang yang bengis atau antisocial. Dalam tahap teologis tahap ini mungkin dapat di jelaskan dalam hubungannya dengan suatu roh jahat yang dimilikinya atau  merupakan hasil dari dosa asal, dalam tahap metafisik hal itu akan di jelaskan mungkin sebagai hasil dari suatu pelanggaran hukum alam, dan dalam tahap positif hal itu dijelaskan hubungannya dengan pengaruh yang ditentukan oleh lingkungan dalam mengukuhkan atau menghilangkan pelbagai pola-pola perilaku.

Tahap teologis merupakan priode yang paling lama dalam sejarah manusia, dan untuk analisa yang lebih terperinci, Comte membaginya dalam periode fatisisme, politeisme, dan monoteisme. Fatisisme, bentuk pikiran yang dominan dalam masyarakat primitive, meliputi kepercayaan bahwa semua benda memiliki kelengkapan kekuatan hidupnya sendiri.  Akhirnya fatisisme ini diganti  kepercayaan akan sejumlah hal-hal supranatural yang meskipun berbeda dari benda-benda alam, namun terus mengontrol semua gejala alam. Begitu pikiran manusia terus maju, kepercayaan akan banyak dewa itu diganti dengan kepercayaan akan satu yang tertinggi. Katolisisme di abad pertengahan memperlihatkan puncak tahap monoteisme.

Tahap metafisik terutama merupakan tahap transisi antara tahap teologis dan positif. Tahap ini di tandai oleh suatu kepercayaan akan hukum-hukum alam yang asasi yang dapat ditemukan dengan akal budi. Protestantisme dan Deisme memperlihatkan penyesuaian yang berturut-turut dari semangat teologis ke munculnya semangat metafisik yang mantap. Suatu manifestasi yang serupa dari semangat ini dinyatakan dalam Declaration of Independence : “kita menganggap kebenaran ini jelas dari dirinya sendiri..”. Gagasan bahwa ada kebenaran tertentu yang asasi mengenai hukum alam yang jelas dengan sendirinya menurut pikiran manusia, sangat mendasar dalam cara berpikir metafisik.

Tahap positif di tandai oleh kepercayaan akan data empiris sebagai sumber pengetahuan terakhir. Tetapi pengetahuan selalu sementara sifatnya, tidak mutlak, semangat positivism memperlihatkan suatu keterbukaan terus-menerus terhadap data baru atas dasar mana pengetahuan dapat di tinjau kembali dan di perluas. Akal budi penting, seperti dalam priode metafisik, tetapi harus dipimpin oleh data empiris. Analisa rasional mengenai data empiris akhirnya akan memungkinkan manusia untuk memperoleh hukum-hukum, tetapi hukum-hukum dilihat sebagai uniformitas empiris lebih daripada kemutlakan metafisik.

Dari pemaparan teori Aguste Comte diatas saya akan  mengaitkan dengan lingkungan tempat tinggal saya, yang pernah terjadi suatu isu tentang “Tsunami” yang membuat semua warga resah.

Pernah terjadi suatu isu di desa saya yang sangat unik dan cukup menegangkan banyak orang. Kejadian itu terjadi sekitar 1 tahun yang lalu, yang bermula dari seorang juru kunci makam  yang memimpikan akan terjadinya tsunami dan di mimipi itu orang-orang harus memberikan sesajen yang beranekaragam makanan dan lucunya, setiap rumah harus mengeluarkan sesajennya sesuai dengan arah rumah. Orang yang rumahnya menghadap ke timur menyajikan jajanan kelepon, lalu orang yang rumahnya menghadap barat menyajikan makanan yang biasanya di sebut orang jawa polopendem yang terdiri dari ketela, singkong, dan talas, kemudian yang menghadap ke selatan menyajikan nasi karak dan yang rumahnya menghadap ke utara menyajikan nasi kuning. Kemudian harus di tukar antar rumah dan kata juru kunci makam tersebut kalau tidak memenuhi hal tersebut maka akan terjadi tsunami dan semua orang tidak akan selamat. Akhirnya orang-orang desa mewujudkan permintaan dari juru kunci tersebut, meskipun sebenarnya kalau di fikir secara logika hal tersebut sangat tidak wajar apalagi di era globalisasi ini banyak orang-orang yang berpendidikan sudah tersebar di mana-mana. Tetapi mereka malah ikut-ikutan percaya dengan hal itu. Padahal mungkin hal tersebut terjadi secara ilmiah karena ada tabrakan antar lempeng bumi yang mengakibatkan gempa bumi di dasar laut, dan air masuk ke dalam lubang yang meretak lalu lubang itu tidak kuat menampung air laut. Sehingga memuntahkannya kembali dan akhirnya menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Seperti teori aguste comte tentang positivis yang di tandai oleh kepercayaan data empiris dan rasional. Atau mungkin tahap metafisik yang di tandai oleh suatu kepercayaan akan hukum-hukum alam yang asasai yang dapat di temukan dengan akal budi. Tetapi tidak memungkiri orang-orang desa bahkan yang berpendidikan tinggi akan selalu memakai tahap positive. Karena mereka juga mempunyai tuhan sebagai kepercayaannya. Jadi akhirnya, desa saya berfikir secara teologis. Tetapi lama kelamaan kejadian tersebut memudar dan orang-orang sadar bahwa kejadian tersebut fiktif belaka dan kalau di pikir ulang saya sebagai seorang sosiolog, seharusnya bisa menyikapinya dengan memperhatikan gejala-gejala yang muncul dari alam dan mengaitkannya dengan teori-teori. Karena saya memang paranoid dan belum seberapa faham mengenai teori tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

This entry was posted in SOS2/ F2. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s