EKSISTENSIALISME

REVISI

EKSISTENSIALISME

Makalah

Diajukan Untuk Memenuhi Mata Kuliah

Logika saintific

Dosen Pembimbing

Bapak Drs. Masduqi Affandi,M.Pd.I

Disusun Oleh:

Faiqotul Ilmiyah : B07210044

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

FAKULTAS DAKWAH

INSTITUTAGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam, yang telah melimpahkan hidayah dan taufiq-Nya kepada kita dan pembaca yang budiman.

Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan atas junjungan kita Nabi Muhammad Saw. Yang telah menyabdakan “ Tuhanku mendidik aku, maka Dia mendidik dengan sebaik-baiknya “.

Kami menyadari betul bahwa apa yang disajikan dalam makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, baik yang berhubungan dengan isi maupun tulisan. Kekurangann-kekurangan tersebut terutama karena kelemahan dan keterbatasan pengetahuan serta kemampuan kami sendiri. Hanya dengan kearifan dan bantuan dari berbagai pihak terutama kepada Bapak Drs. Masduqi Affandi,M.Pd.I selaku dosen mata kuliah logika saintific untuk memberikan bimbingan, teguran, kritik dan saran.

Akhirnya kami memohon kepada Allah Swt. Semoga karya tulis ini bermanfaat bagi kami, teman-teman mahasiswa khususnya dan bagi semua manusia pada umumnya.

Surabaya, 22 Juni 2011

Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar 1

Daftar Isi 2

BAB I PENDAHULUAN

  1. LatarBelakang 3

  2. RumusanMasalah 3

  3. Tujuan 3

BAB II PEMBAHASAN

  1. Pengertian Eksistensialisme 4

  2. Hubungan Eksistensialisme dengan Esensi 6

  3. Eksistensialais Tuhan dan teologi Modern 6

BAB III PENUTUP

  1. Kesimpulan 9

  2. Daftar pustaka 10

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Latar belakng penulisan makalah ioni adalah untuk mengetahui makna sebenarnya dari eksistensialisme dan dapat mengetahui tentang hubungannya dengan esensi. Selain itu huga untuk mengeetahui tentang eksistensi Tuhan. Dalam ilmu filsafat eksistensialisme adalah eksistensi yang artinya cara manusia berada di dalam dunia, dalam hal ini “berada”sama dengan cara beradanya benda-benda. Ini disebabkan karena benda-benda tidak sadar akn keberadaannya sebagai sesuatu yang memiliki hubungan dengan yang lain, dan berada disamping yang lain. Secara keseluruhan eksistensi mmiliki hubungan dengan yang lain, dan berada disamping yang lain. Dalam pernyataan sebelumnya dinyatakan bahwa “:ada”berarti mempunyai hubungan. Nyata ada berarti mempunyai hubungan keserasian dengan yang laindan kenyataan. jadi dalamhal ada dan kenyataan senantiasa terdapat satu hu bungan tertentu yang m,enonjol. Adanya esensi tidak senantiasa bereksistensi. Dari keterangn diatas bahwa sesuatu yang bereksistensi pasti beresensi bahkan tentun nyata ada. Misalnya suatu segitiga beresensi tetapi tidak bereksistensi. Walaupun segitiga tersebut nyata ada. Sesuatu yang bereksistensi harusterdapat ruang dan waktu. Dan sesuatu yang bereksistensi harus merupakan obyek.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana pengertian Eksistensialisme?

2. Apa hubungan eksistensialisme dengan esensi ?

3. Bagaimana eksistensi Tuhan ?

 

C. Tujuan penulisan

Dalam penulisan makalah ini akan dijejelaskan tentang penjelasan eksistensialisme,esensi,dan eksistensi Tuhan. Untuk membedakan antara eksistensi dan esensi.

PEMBAHASAN

EKSISTENSIALISME

  1. Eksistensialisme menrut pendapat para filusuf

Dalam ilmu filsafat eksistensialisme adalah eksistensi yang artinya cara manusia berada di dalam dunia, dalam hal ini “berada”sama dengan cara beradanya benda-benda. Ini disebabkan karena benda-benda tidak sadar akn keberadaannya sebagai sesuatu yang memiliki hubungan dengan yang lain, dan berada disamping yang lain. Secara keseluruhan eksistensi mmiliki hubungan dengan yang lain, dan berada disamping yang lain.

Eksistensi juga memiliki makan bahwa manusia berdiri sebagai dirinya dengan keluar dari diri sendiri. Maksudnya ialah manusia itu sadar bahwa dirinya ada1.

Terdapat sifat-sifat umum penganut aliran eksistensialis yaitu:

  1. manusia menyuguhkan dirinya sendiri ( existere ) dalam keunggulan tertentu.

  2. Manusia harus berhubungan dengan dunia

  3. Manusia merupakn kesatuan sebelum adanya pemisahan antara jiwa dan raga

  4. Manusia berhubungan dengan yang ada

Menurut sifat-sifat umum diatas bahwasanya manusia terdapat pusat pemikiran yang eksistensi. Akan tetapi tidak bisa dikatakan bahwa eksistensialisme ini merupakan filsafat anusia. Yang menjadi pusat perhatiannya yaitu megerti akan seluruh realitas . Untuk mengerti dan menyadari apakah sebenarnya mengerti itu. Maka manusia harus memiliki pengetahuan tentang anusia. Karena yang dipelajari disisni termasuk manusia.

Menurut Heidegger masalah tentang “berada”ini hanya bisa dielajari dengan ontologi,artinya :jika persoalan ini di hubungkan dengan mausia dan dicari artinya dalam hubungan itu. Satu-satunya yang “berada”sendiri dapat difahami sebagai “berada” beradanys manusia. Terdapat perbedaan antara “berada” dan “yang berada”. Kata berada hanya berlaku bagi benda-benda yang bukan manusia,yang dipandang dari diriny sendiri. Artinya manusia terpisah dari segala yang ada di luar kecuali hanya berdiri sendiri. Benda-benda tersebut hanya bersifat “vorhanden” yang artinya hanya terletak begitu saja di depan manusia,tanpa ada hubungan dengan manusia.

Manusia memang berdiri sendiri,tetapi dia mengambil tempat di tengah-tengah dunia disekitarnya. Manusia tidak termasuk “ yang berada “ tetapi termasuk “berada”. Keberadaan manusia disebut dasein atau berada di tempat. Maka dari itu manusia harus keluar dari dirinya dan berdiri di tengah-tengah dari segala sesuatu ayng ada. Dasein manusia disebut juga dengan eksistensi.

Untuk menentukan arti “berada” manusia harus diteliti dalam wujudnya yang biasa tampak dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Heidegger bahwa manusia itu dalam kehidupan denia merupakan ketentuan umum yang asasi dan yang paling umum tentang manusia. Manusia berada di dalam dunia berarti dasein juga bermakna dalam dunia. Maka dari itu manusia dapat bertemu dengan benda-benda disekitarnya.

Pandangan diatas berbeda dengan pandangan sartre menurut dia terdapat dua macam etre ( berada) yaitu L’etre-en-soi ( berada dalamdiri ) dan I’etre –pour-soi ( berada untuk diri ). Yang dimaksud dengan I’etre-en-soi atau berada dalam diri misalnya pohon,batu,binatang manusia. Permasalahannya adalah semua itu adaatau berada. Berada merupakan mewujudkan semua semuaciri benda yang jasmaniah atau materi.semua benda ada di dalmdirinya sendiri. Semuabenda tersebut dikatakan padat dan tidak berhubungan.sedangkan etre en soiartinya mentaati prinsip atau identitas. Benda-benda tidak memiliki hubungan dengan keberadaanya.

Menurut Gbriel Marcel, beliau menylidiki tentang inti manusia. Manusi tidak bisa di kenali melaluidengan satu macam cara, karena manusia memiliki sifat yang utama yaitu selalu membentuk sifat yang utama sesuai dengan kemerdekaannya. Manusia merupakan sesuatu yang rahasia dan misteri2. Adanya manusia bukan ada yang mutlak melainkan ada yang lain.

Sedangkan menurut KarlJaspers memandang bahwa pokok persoalan filsafat yang paling penting baginya adalah bukanlah hal yang objektif yang dapat diketahui setiap orang. Apabila dipikirkan secara mendalam dan radikal, maka “Ada” sebagai sesuatu yang tidak dapat dikenal. Sekalipun emikian “ada”dapat dipikirkan ,bukan secara langsung maupun tidak langsung yitu melalui pendekatan-pendekatan tertenru. Eksistensi mengandung pengertian ruang dan waktu. Eksistensi merupakan keadaan tertentu yang lebih khusus dari sesuatu. Sesuatu hal dikatakan bereksistensijika hal itu bersifat public.

  1. Hubungan Eksistensi dengan Esensi

Dalam pernyataan sebelumnya dinyatakan bahwa “:ada”berarti mempunyai hubungan. Nyata ada berarti mempunyai hubungan keserasian dengan yang laindan kenyataan3.jadi dalamhal ada dan kenyataan senantiasa terdapat satu hu bungan tertentu yang m,enonjol. Adanya esensi tidak senantiasa bereksistensi. Dari keterangn diatas bahwa sesuatu yang bereksistensi pasti beresensi bahkan tentun nyata ada. Misalnya suatu segitiga beresensi tetapi tidak bereksistensi. Walaupun segitiga tersebut nyata ada. Sesuatu yang bereksistensi harusterdapat ruang dan waktu. Dan sesuatu yang bereksistensi harus merupakan obyek.

Terdapat sebuah masalh yaitu apakah yang universal termasuk bereksistensi. Misal dimanapun warna selalu bereksistensi. Sesungguhnya warna tidaklah bereksistensi karena tidak bisa dijelaskan atau dibuktikan kalau warna memang bereksistensi. Misal kita melihat buku berwarna merah,kita tidakakan bisa menunjuk warna tersebut. Karena sebenarnya kita melihat suatubenda dlm ruang dan waktutertentu yang memiliki suatu kualitas yaitu warna.

Dari uraian diatas yang dinamakan eksistansi yaitu suatu himpunan yang terdiri dari satuan-satuan yang jika nama-namanya digunakan sebagai ganti X dalam ungkapan X bereksistensi,menghasilkan pernyataan yang benar,setiapsatuan dalam himpunan eksistensi disebut “yang bereksistensi”. Masing-masing satuan tersebut sebenarnya tidak bereksistensi ( non eksistensi )4.

Sebuah warna apabila dikhususkan menjadi sebuah warna yang bereksistensi, meskipun warna itu tersendiri tidaka akan pernah bereksistensi. Jadi semua yang bereksistensi pastimempunyai esensi.dan yang tidak tidak bereksistensi dapat merupakanyang bereksistensi.

  1. Eksistensi Tuhan dan Teologi Modern

Teologi natural diyakini sebagai komponen eksplanatoris dari suatu kosmologi. Maka ada beberapa alasan untuk meyakini eksistensi Tuhan. Eksistensi Tuhan yaitu sebuah konsep Tuhan bukan sama sekali tidak tanpa fungsidalam pandangan dunia yang telah diterima. Sekalipun pembuktian Tuhan di bukitkantetap akan gagal,karena manusia tidak bisa menetapakan berbagai klaim yang tidak bisa dibuktikan secara memuaskan dan tidak disertai dengan bukti.

Dari pembahsan metodologis modern, sungguh sangat fatal bagi muatan yang terdapat dalam pandangan tersebut. Filsafat Jerman yang mana hasil-hasil dan metodeteologi modern sangat brgantung, jatuh kedalam keruskan epistemologi karena perkembangan yang terjadi setelah perang Dunia . irasionalisme yang mengukuhkan filsafat di Jerman berfungsi sangatbaik dalam menopang keyakinantradisional dan cara berfikir teologis.

Dalam ilmu pengetahuan, masalah-masalah eksistensi yang cenderung dipecahkan melalui pengembangan teori-teori eksplanasi yang bisa diuji dan disahkansecara berulang-ulang. Keyakinan trehadap eksistensii objek yang memainkan peran penting dalam hanya dalam teori-teori kunodan absolut harus ditinggalkan bersamaan dengan teori-teori itu sendiri,jika menginginkan teori yang kritis.

Masalah serupa juga terjadi dalam hal yang ghaib, misalnya malaikat,setan,Tuhan, surga dan neraka, sebagaimana terjadi dalam pandangan dunia politeistik. Masalah ini tidak untuk mengingkari bahwa ide ini bisa dimengerti secara lengkap dalam kosmologi sosiomorfis yang termasuk ide yang mendasar mengarahkan pandangan dunia manusia hingga revolusi ilmiyah modern.

Dalam hal ini jika manusia mengadopsi apa yang disebut pemilahan metodolgis secara arbiter,maka kaitannya dengan apa yang kita bahas. Jadi hanya ada satu tujuaan yakni dogmatis5. Jika manusia bisa membebaskan diri dalam masalah-masalah yang penting,yang khususnya dalam masalah sacred. Terdapat alasan yang sangat penting untuk melakukan analisis yang cermat untukk mempertimbangkan solusi alternatif. Jika dibandingkan masalah-masalah dengan nilai-nilai eksistensial yang lebih sempit. Maka akan menjadi sangat luar biasa jika manusia ingin menaikkan asumsi tentang eksistensi Tuhan kepada sebuah dogma, sebagimana selalu dilakukan defacto,sekalipun para pedogma tidak dalam pandangan dunia modern, yang pada umumnya mereka menerima karekteristik esensialnya.

Manusia yang menyepelehakan persoalan eksistensi ini tidak berarti bahwa dia tidak mendukung bentuk keyakinan terhadap Tuhan yang lebih tinggi,tetapi lebih berindikasi bahwa dia tidak memahami implikasi penting dari pandandangan dunia yang dia miliki.

Dalam teologi ini dijelaskan teologi “modern” ,masalah eksistensi, ketika keduanya muncul bagi manusia yang ytidak bisa memahami apa yang benar-benar diyakini oleh masing-masing teolgis atau filosofofis. Suatu epistemologi khusus yang berbicara tentang pemisahan subjek-objek,ketidakmungkinan adanya objektivitas6.

Kesimpulan

Dalam ilmu filsafat eksistensialisme adalah eksistensi yang artinya cara manusia berada di dalam dunia, dalam hal ini “berada”sama dengan cara beradanya benda-benda. Ini disebabkan karena benda-benda tidak sadar akn keberadaannya sebagai sesuatu yang memiliki hubungan dengan yang lain, dan berada disamping yang lain. Secara keseluruhan eksistensi mmiliki hubungan dengan yang lain, dan berada disamping yang lain.

Sebuah warna apabila dikhususkan menjadi sebuah warna yang bereksistensi, meskipun warna itu tersendiri tidaka akan pernah bereksistensi. J Dalam teologi ini dijelaskan teologi “modern” ,masalah eksistensi, ketika keduanya muncul bagi manusia yang ytidak bisa memahami apa yang benar-benar diyakini oleh masing-masing teolgis atau filosofofis. Suatu epistemologi khusus yang berbicara tentang pemisahan subjek-objek,ketidakmungkinan adanya objektivitas. Jadi semua yang bereksistensi pastimempunyai esensi.dan yang tidak tidak bereksistensi dapat merupakanyang bereksistensi.

 

DAFTAR PUSTAKA

Albert, Hans. Risalah Peikiran Kritis. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 2004

Louis O. kattasof. Pengantar Filsafat. Yogyakarta:Tiara Wacana.1992

Sudarsono. Ilmu Filsafat. Jakarta: Rineka Cipta. 2001

1 Sudarsono. Ilmu Filsafat ( Jaharta: Rineka Cipta. 2001 )hal. 345

2 Sudarsono. Ilmu Filsafat ( Jaharta: Rineka Cipta. 2001 )hal.347

3 Louis O. kattasof. Pengantar Filsafat (Yogyakarta:Tiara Wacana.1992)hal. 207

4Louis O. kattasof. Pengantar Filsafat (Yogyakarta:Tiara Wacana.1992)hal. 209

5

hal.194

6 Ibid hal.198

This entry was posted in psi 2/j1. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s