eksistensialisme

MAKALAH

 

EKSISTENSIALISME

 

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Studi Logika Saintifik

Kelas Psikologi J1

           

 

 

Dosen Pengampu :

Drs. Masduqi Affandi, M.pd. I

 

 

Disusun Oleh :

Ana Maslihatul Himmah

B07210060

 

 

 

JURUSAN PSIKOLOGI

FAKULTAS DAKWAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

SURABAYA

2011

KATA PENGANTAR

 

Alhamdulillah kami panjatkan rasa syukur kehadirat Allah SWT.yang senantiasa memberikan rahmat, taufik serta inayahnya sehingga saya bisa menyelesaikan penulisan tugas makalah tentang Eksistensialisme tanpa ada halangan suatu apapun.

Seiring dengan itu, penulis sangat berterima kasih kepada pihak yang telah mendukung dan membantu baik secara moral maupun material sehingga dapat berbentuk hasil makalah seperti ini.

1.      Penyelesaian makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas mata kuliah ”LOGIKA SAINTIFIK” mengenai ”Eksistensialisme”.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan tugas makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Karenanya, penulis dengan kerendahan diri membuka hati untuk menerima saran maupun kritikan yang bersifat membangun sehingga bisa melengkapi kekurangan makalah ini.

Surabaya, 04 Juni 2011

 

Penulis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR …………………………………………………………………………………. i

DAFTAR ISI   ……………………………………………………………………………………………. ii

BAB I       PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang……………………………………………………………………….. 1

B.        Rumusan Masalah…………………………………………………………………… 1

C.       Tujuan………………………………………………………………………………….. 1

BAB II     PEMBAHASAN

A.       Eksistensialisme ……………………………………………………………………… 2

B.        Eksistensialisme………………………………………………………………………. 3

C.       Eksistensialisme (Kierkegaard-Sartre)………………………………………… 6

BAB III    PENUTUP

A.       Kesimpulan …………………………………………………………………………… 9

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………………………….. 10

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.                 Latar Belakang

Eksistensi merupakan suatu keberadaan, dalam filsafat antara eksistensi dengan eksistensialisme memiliki makna yang berbeda. Keduanya saling bersangkutan antara satu sama lain. Menurut pengertiannya pun terjadi banyak perbedaan pendapat antara para filosof satu dengan filosof yang lainnya. Namun keduannya masih bersangkutan dengan keberadaan itu sendiri.

Oleh karena itu dalam makalah ini mencoba menguraikan bagaimana pendapat-pendapat tentang eksistensi dan eksistensialisme. Dan apakah eksistensi dan eksistensialisme itu?.

 

B.                 Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang diatas dapat disimpulkan rumusan masalah sebagai berikut:

1.      Apakah eksistensi itu?

2.      Apakah eksistensialisme itu?

3.      Bagaimana hubungan antara keduanya?

 

C.                 Tujuan

Agar mengerti akan realitas seluruhnya, untuk menyadari apakah sebenarnya mengerti itu, maka orang harus mempunyai pengetahuan tentang manusia, yang tahu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.                 Eksistensialisme[1]

Eksistensialisme berasal dari kata eksistensi dari kata dasar exist. Kata exist itu sendiri berasal dari bahasa ex: keluar, dan sister: berdiri. Jadi, eksistensi berarti berdiri dengan keluar dari diri sendiri. Filsafat eksistensi tidak sama persis dengan filsafat eksistensialisme. Filsafat eksistensialisme lebih sulit ketimbang eksistensi.

Dalam filsafat dibedakan antara esensia dan eksistensia. Esensia membuat benda, tumbuhan, binatang dan manusia. Oleh esensia, sosok dari sagala yang ada mendapatkan bentuknya. Oleh esensia, kursi menjadi kursi. Pohon papaya menjadi pohon papaya. Kucing menjadi kucing. Manusia pun menjadi manusia. Namun, dengan esensia saja, segala yang ada belum tentu berada. Kita dapat membayangkan  kursi, pohon papaya, kucing atau manusia. Namun belum pasti apakah semua itu sungguh ada, sungguh tampil, sungguh hadir. Disinilah peran eksistensia.

Eksistensia membuat yang ada dan bersosok jelas bentuknya, mampu berada, eksis. Oleh eksistensia kursi dapat berada ditempat. Pohon pepaya dapat tertanam, tumbuh, berkembang. Kucing dapat hidup yang sering kali mencuri ikan. Manusia dapat hidup, bekerja, berbakti dan membentuk kelompok bersama manusia lain. Selama masih bereksistensia , segala yang ada dapat ada, hidup, tampil, hadir. Namun ketika eksistensia meninggalkannya, segala yang ada menjadi tidak ada, tidak hidup, tidak tampil, tidak hadir. Demikian penting peranan eksistensia. Olehnya dengan segala dapat nyata ada, apalagi hidup dan berperan.

Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang menekankan eksistensia. Manusia adalah manusia. Namun, mereka mempersoalkan bagaimana segala yang ada berada dan untuk apa berada. Oleh karena itu mereka menyibukkan diri dengan pemikiran tentang eksistensia. Dengan mencari cara berada dan eksis yang sesuai, esensia pun akan ikut terpengaruhi.

Dengan pengolahan eksistensia secara tepat segala yang ada bukan hanya berada, tetapi berada dalam keadaan optimal. Untuk manusia, ini berarti bahwa dia tidak sekedar berada dan eksia, tetapi berada dan eksis dalam kondisi ideal sesuai dengan kemungkinan yang dapat dicapai. Dalam kemerdekaan itulah keterbukaan hidup dapat ditanggapi secara baik.

Dalam hal etika, karena hidup terbuka, kaum eksistensialis memegang kemerdekaan sebagai norma. Bagi mereka, manusia mampu menjadi seoptimal mungkin. Untuk menyelesaikan proyek hidup itu, kemerdekaan mutlak diperlukan. Berdasarkan dan atas norma kemerdekaan, mereka berbuat apa saja yang dianggap mendukung penyelesaian proyek hidup.. sementara itu, segala tata tertib, peraturan, hukum tidak menjadi bahan pertimbangan. Karena adanya saja sudah mengurangi kemerdekaan dan isinya menghalangi pencapaian cita-cita proyek hidup. Sebagai gantinya, mereka berpegang teguh pada pada tanggung jawab pribadi. Yang meeka pegang adalah tanggung jawab pribadi dan siap menanggung segala konsekuensi yang datang dari masyarakat, Negara, atau lembaga agama. Satu-satunya hal yang diperhatikan adalah situasi.

Dalam menghadapi perkara untuk menyelesaikan proyek hidup dalam situasi tertentu, pertanyaan pokok mereka adalah apakah yang paling baik yang menurut pertimbangan dan tanggung jawab pribadi seharusnya dilakukan dalam situasi itu. Yang baik menurut pertimbangan mereka adalah bukan berdasarkan perkaranya dan lain-lain. Yang menjadi kekuatan dan daya tarik etika eksistensialis adalah pandangan tentang hidup, sikap dalam hidup, penghargaan atas peran situasi, penglihatannya tentang masa depan. Dalam arti itulah hidup dimengerti sebagai proyek. Orang yang memandang hidup sebagai sudah selesai, mempunyai sifat pasrah dan menerima sementara kaum eksistensialis yang memahami hidup belum selesai mempunyai sikap berusaha dan berjuang. Hidup ini perlu dan harus diperbaiki. Faktor yang penting untuk memperbaiki ialah dengan bertanggung jawab.

Namun, bagi kaum eksistensialis yang memahami hidup belum selesai, setiap situasi membawa akibat untuk kemajuan kehidupan. Oleh karena itu, setiap situasi perlu dikendalikan, dimanfaatkan, diarahkan sehingga menjadi keuntungan bagi kemajuan hidup. Ada beberapa kelemahan etika eksistensialis, pertama, etika eksistensialis terperosok kedalam pendirian yang individualistis. Dengan pendirian itu, alih-alih melaksanakan proyek hidup, bisa-bisa para pengikut aliran  eksistensialis hanya mencari dan mengejar kepentingandiri. Karena yang baik ditentukan sendiri, bukan berdasarkan norma, maka yang dianggap baik bukanlah kebaikan sejati, melainkan baik menurut dan bagi diri mereka sendiri. Cara memandang kebaikan yang individualistis itu dapat merugikan sesama, masyarakat dan dunia.

Kedua, dengan mengabaikan tata tertib, peraturan, hukum, kaum eksistensialis menjadi manusia yang anti-sosial. Tidak dapat disangkal bahwa ada norma masyarakat yang sudah usang. Namun, menyatakan segala norma tak berlaku sungguh melawan akal sehat. Karena norma masyarakat merupakan hasil perjalanan pencarian yang tidak mudah begitu saja ditiadakan. Jika tidak tidak dapat dipergunakan sepenuhnya, paling sedikit masih dapat bermanfaat sebagai bahan pertimbangan dan titik tolak pencarian nilai hidup lebih lanjut. Kecuali itu, sikap sikap para penganut aliran eksistensialis yang asocial merugikan usaha perbaikan hidup dan dunia. Karena usaha itu merupakan usaha raksasa sehingga tidak dapat diselesaikan secara perorangan, melainkan harus digarap bersama seluruh masyarakat.

Ketiga, dengan mengambil sikap bebas merdeka, kaum eksistensialis memandang kemerdekaan sebagai tidak terbatas,. Padahal dalam hidup ini tidak ada kemerdekaan yang tanpa batas. Karena dalam perwujudannya selalu akan dibatasi. Pembatasan itu bersal dari si pelaksana sendiri dan masyarakat. Sebagaimana “hebat”-nya manusia, tidak mungkinlah dia mampu mewujudkan kemerdekaan-nya secara penuh. Pembatasan juga datang dari masyarakat. Selama orang hidup dalam masyarakat, pelaksanaan kemerdekaan akan selalu dibatasi oleh pelaksanan kebebasan orang lain. Mau tidak mau, dalam hidup masyarakat orang harus mau “memberi” dan “menerima”, alias berkompromi.

Keempat, kaum eksistensialis amat memperhitungkan situasi. Namun, situasi itu mudah goyah. Kelemahan ini masih diperkuat oleh sikap individualistis yang dipegang kaum eksistensialis. Bila orang bersandar pada situasi dan diri sendiri saja, pandangan-nya menjadi terbatas, lingkup perbuatannya dipersempit, dan pendiriannya rapuh. Begitulah, etika eksistensialis memiliki unsure-unsur kebaikan yang positif. Namun, bila tidak mengurangi dan melepaskan kelemahan-kelemahan-nya, maka eksistensialisme akan melemahkan arti dan sambungan-sambungannya yang sangat berharga tersebut.

Tokoh-tokoh aliran ini adalah Immanuel Kant, Jean-Paul Sartre, S. Kierkegaard (1813-1855), Friedrich Nietzsche (1844-1900), Karl Jaspers (1883-1969), Martin Heidegger (1889-1976), Gebriel Marcel (1889-1973), Ren Le Senne dan M. Merleau-Ponty (1908-1961).

 

B.                 Eksistensialisme[2]

Eksistensi berarti keberadaan, akan tetapi didalam filsafat eksistensialisme istilah eksistensi memiliki arti tersendiri. Tampaknya di dalam filsafat eksistensialisme istilah eksistensi memiliki arti cara manusia berada di dalam dunia, dan hal ini berada dengan cara berada benda-benda, sebab benda-benda tidak sadar akan keberadaannya sebagai sesuatu yang memiliki hubungan dengan yang lain. Secara lengkap eksistensi memiliki hubungan dengan yang lain, dan berada disamping yang lain. Secara lengkap eksistensi memiliki makna bahwa manusia berdiri sebagai dirinya dengan keluar dari diri sendiri. Maksudnya ialah manusia sadar bahwa dirinya ada. Dalam pemikiran ini jelas bahwa manusia dapat memastikan diri bahwa dirinya ada.

Pengaruh yang mengenai aliran ini bermacam-macan juga. Dalam keterangan yang amat sederhana ini akan kami majukan sifat-sifat umum bagi penganut-penganut yang dinamai orang eksistensialisme itu:

1.  Orang menyuguhkan dirinya (existere) dalam kesungguhan yang tertentu.

2.  Orang harus berhubungan dengan dunia.

3.  Orang merupakan kesatuan sebelum ada perpisahan antara jiwa dan beban.

4.  Orang berhubungan dengan ada.

Walaupun dalam sifat-sifat yang umum diatas itu ternyata bahwa manusia (orang) terdapat pada pusat pemikiran eksistensialisme, akan tetapi jangan kira bahwa eksistensialisme ini filsafat manusia (antropologia), bukan yang menjadi tujuannya ialah mengerti akan realitas seluruhnya,untuk menyadari apakah sebenarnya mengerti itu, maka orang harus mempunyai pengetahuan tentang manusia, yang tahu itu.

Keberadaan itu tampak nyata dalam pemikiran tokoh-tokohnya, seperti Martin Heideigger, Jean Paul Sartre Karl Jaspers, dan Gabriel Marcel. Pada umumnya pemikiran mereka ditekankan pada masalah “berada”. Menurut Heideigger, persoalan tentang “berada” ini hanya dapat dijawab melalui ontologi, artinya jika persoalan ini dihubungkan dengan manusia dan dicari artinya dalam hubungan itu. Supaya usaha ini berhasil harus dipergunakan metode fenomenologis. demikian yang penting ialah menemukan arti “berada” itu.

Satu-satunya “berada” yang sendiri dapat dimengerti sebagai  “berada” ialah “berada”-nya manusia. Harus dibedakan antara “berada” (seni) dan “yang berada” (seiende). Ungkapan “yang berada” (seiende) hanya berlaku bagi benda-benda, yang bukan manusia, yang jika dipandang pada dirinya sendiri, artinya: terpisah dari segala yang lain hanya berdiri sendiri. Benda-benda itu hanya “vorhanden”, artinya hanya terletak begitu saja didepan orang, tanpa ada hubungan dengan orang itu. Benda-benda itu hanya berarti, jika dihubungkan dengan manusia, jika manusia “memeliharanya”. Jika demikian benda-benda itu dihubungkan dengan manusia, dan memiliki arti dalam hubungan itu.

Guna menentukan arti “berada” itu manusia harus diselidiki dalam wujudnya yang biasa tampak sehari-hari. Heidegger bermaksud mengetahui keadaan manusia sebelum keadaan itu dipikirkan secara ilmiah, yaitu dalam perwujudannya yang belum ditafsirkan. Hasil usahanya ini ialah bahwa ia menemukan manusia yang “di dalam dunia”. Inilah ketentuan asasi yang paling umum tentang manusia. Manusia berada “di dalam dunia”. Dasein berarti “berada di dalam dunia”.ketentuan ini berlaku bagi semua manusia, sekalipun cara mereka “berada di dalam dunia” berbeda-beda. Oleh karena manusia “berada di dalam dunia” maka ia dapat memberi tempat kepada benda-benda yang di sekitarnya, ia dapat bertemu dengan benda-benda itu dan jugadengan manusia-manusia yang lain, dapat bergaul dan berkomunikasi dengan semuanya itu.[3]

Pandangan tersebut di atas berbeda dengan sartre yang memiliki karya terkenal yaitu L’etre et le neant. Di mana di dalam bukunya itu sartremulai dengan menganalisa “ada” atau “berada” (l’etre). Menurut dia ada dua macam “etre” atau “berada” yaitu l’etre-en-soi (berada dalam diri ) dan l’etre-pour-soi (ber-ada-untuk-diri).

Yang dimaksud dengan l’etre-en-soi atau “berada-dalam –diri” ialah semacam berada an sich, berada dalam dirinya, berada itu sendiri. Filsafat berpangkal dari realitas yang ada sebab realitas yang ada itulah yang kita hadapi, kita tanggap, kita mengerti. Ada banyak yang berada: pohon, batu, binatang, manusia, dan sebagainya. Semuanya itu berbeda-beda, banyak ragamnya, akan tetapi ada sebutan umum bagi semua itu, yaitu: semuanya itu ada atau berada. “Berada” mewujudkan ciri segala benda jasmaniah, segala materi. Semua benda ada dalam diriatau ada dalam dirinya sendiri. Tidak ada alasan atau dasar mengapa benda-benda itu berada begitu (apa sebab meja itu, dan bukan kursi, serta bukan tempat tidur, tiada alasannya). Segala yang berada dalam diri ini tidak aktif, akan tetapi juga tidak pasif tidak mengiakan tetapi juga tidak menyangkal. Semuanya dikatakan padat, buku, tertutup, yang satu lepas pada lain, tanpa saling berhubungan. Etre-en-soi mentaati prinsip identitas (it is what it is) benda-benda tidak mempunyai hubungan dengan keberadaannya. meja itu ada, meja itu warnanya demikian. titik. Kita tidak dapat mengatakan, bahwa meja bertanggung jawab atas fakta bahwa ia adalah meja, bahwa warnanya demikian, dan sebagainya.[4]

Adapun Gabriel marcel yang terkenal denan tulisaannya berjudul: jouenal metapysique(1927) dan Le mystere de L’Ertre(1915). Ia menyelidiki inti manusia. Adapun manusia itu tidaklah mungkin ditunjuk dengan cara satu macam saja, karena sifatnya yang utama ialah ia selalu membentuk dirinya dengan kemerdekaannya itu tidak berarti manusia itu ada seorang diri saja, melainkan ia ada karena ada di dunia(etre-au-mondel). Dalam pada itu ia selalu dalam situasi yang tertentu dalam kejasmaniannya (incarnation). Situasi ini tidaklah tetap melainkan mengalami pengaruh manusia yang bertindak itu.

Ada aku itu bukanlah ada yang mutlak, melainkan ada yang terhadap (berhubungan) dengan ada yang lain-lain terutama dengan yang lain itu. dengan kasih cinta kita dapat makin mendekati “rasa” manusia itu.[5]

Pemikiran Karl Jaspers (1883-1969) memandang bahwa pokok persoalan filsafat yang paling penting baginya adalah bagaimana dapat menangkap “ada” atau “berada” (das sein) dalam eksistensi sendiri. Apakah “ada” itu? menurut Jaspers “ada” bukanlah hal yang objektif, yang dapat diketahui setiap orang. Orang harus mencarinya dengan susah payah dengan melalui beberapa tahap. Sebuah yang konkret bukanlah “ada” dalam arti yang umum. Benda tertentu yang konkret itu (meja, kursi, dan sebagainya) adalah suatu “ada”. “Ada” dalam arti yang sebenarnya, “ada” yang umum, meliputi merangkumkan segala yang ada secara terbatas dan tertentu. “Ada” ini tidak dapat diraih, tidak dapat dimasukkan kedalam kategori. “Ada” yang demikian ini disebut das Ungreifende (yang merangkumkan).

Apabila dipikirkan secara mendalam dan radikal, maka “ada” sebagai das Urgreifende, sebagai “yang merangkum” tidak dapat dikenal, sekalipun demikian “ada” dapat dipikirkan, bukan secara langsung, melainkan secara tidak langsung, yaitu mulai pendekatan-pendekatan tertentu. Pendekatan itu dapat membantu kita untuk menjadi “ada” menjadi lebih jelas atau lebih dipahami, atau terlebih-lebih dapat memberi petunjuk kearah mana kita harus mencarinya.

 

C.                 Eksistensialisme (Kierkegaard-Sartre)[6]

Tidak mudah membuat definisi eksistensialisme. Kesulitannya adalah karena existentialism embraces a variety of style and convictions (Encylopedia Americana: 10: 762). Kaum eksistensialis sendiri tidak sepakat mengenai rumusan tentang apa sebenarnya eksistensialisme itu (Hassan, 1974: 8).

Kata dasar eksistensi (existency) adalah exist yang berasal dari kata latin ex yang berarti keluar dari sistere yang berarti berdiri. Jadi, eksistensi adalah berdiri dengan keluar dari diri sendiri. Pikiran ini adalah semacam bahasa Jerman yang disebut dasein. Da berarti disana, sein berarti berada. Berada bagi manusia selalu berarti disana, di tempat. Tidak mungkin ada manusia yang tidak bertempat. Bertempat berarti terlibat dalam alam jasmani, bersatu dengan alam jasmani. Akan tetapi bertemapt bagi manusia tidaklah sama dengan bertempat bagi batu atau pohon. Manusia sadar bahwa ia menempati. Ini berarti suatu kesibukan, kegiatan, melibatkan diri. Dengan demikian, manusia sadar akan dirinya sendiri. Jadi, dengan keluar dari dirinya sendiri manusia sadar tentang dirinya sendiri; ia berdiri sebagai aku atau pribadi.

Dari uraian keterangan diatas dapat diambil antara lain ialah bahwa cara berada manusia itu menunjukkan bahwa ia merupakan kesatuan dengan alan jasmani, ia satu susunan dengan alam jasmani, mausia selalu mengontruksi dirinya dalam alam jasmani sebagai satu susunan. Karena manusia selalu mengontruksi dirinya, jadi ia tidak pernah selesai. Dengan demikian, manusia selalu dalam keadaan membelum; ia selalu sedang ini atau sedang itu. Jadi manusia selalu menyedang. Sartre menyatakan bahwa hakikat beradanya manusia bukan etre (ada), melainkan a etre (akan atau sedang). Jadi , manusia selalu menbangun ada-nya.

Filsafat Eksistensi tidak sama persis dengan filsafat eksistensialisme (Hassan, 1974:7). Yang dimaksud dengan filsafat eksistensi ialah benar-benar sebagaimana arti katanya, yaitu filsafat yang menempatkan cara wujud manusia sebagai tema sentral (Hassan, 1974: 7). Adapun yang dimaksud dengan filsafat eksistensialisme, rumusannya lebih sulit dari pada eksistensi.

1.      Lahirnya Eksistensialisme

Sifat materialisme ternyata merupakan pendorong lahirnya eksistensialisme. Yang dimaksud dengan eksistensi ialah cara orang berada di duni. Kata berada pada manusia tidak sama dengan beradanya pohon atau batu. Untuk menjelaskan arti kata berada bagi manusia, aliran eksistensialisme mula-mula menghantam materialisme.

Dalam pandangan materialisme, baik yang kolot maupun yang modern, manisia itu pada akhirnya adalah benda seperti halnya kayu atau batu. Memang orang materialis tidak mengatakan bahwa manusia sama dengan benda seperti kayu atau batu. Akan tetapi, materialisme mengatakan bahwa pada akhirnya, jadi pada prinsipnya, pada dasarnya, pada instansi yang terakhir, manusia adalah sesuatu yang material ; dengan kata lain materi , betul-betul materi. Disinilah bagian ajaran materialisme dihantam oleh eksistensialisme.

Eksistensialisme menyatakan bahwa cara berada manusia dan benda lain tidaklah sama.manusia berada di duni; sapi dan pohon juga. Akan tetapi cara beradanya tidak sama. Manusia berada di dalam dunia, ia mengalami beradanya di dunia itu, manusia menyadari dirinya berada di dunia. Manusia menghadapi dunia, menghadapi dengan mengerti yang dihadapiny itu. Manusia mengerti guna pohon, batu dan salah satu diantaranya adalah ia mengerti bahwa hidupnya mempunyai arti. Subjek artinya yang menyadari, yang sadar. Barang-barang yang disadarinya di sebut objek.

Lalu dimana kesalahan materialisme? Rene Le Senne, seorang existentialis merumuskan kesalahan materialisme itu secara singkat: kesalahan itu ialah detotalisasi. De artinya memungkiri, total artinya seluruh. Maksudnaya memungkiri manusia senagai keselruhan. Pandangan tentang manusia seperti materialime itu akan membawa konsekuensi yang amat penting.

Eksistensialisme juga lahir sebagai reaksi terhadap idealisme. Materialisme dan idealisme adalah dua pndangan filsaft tentang hakikat yang ekstrem. Materialisme memandang kejasmanian (materi) sebagai keseluruhan manusia, padahal itu hanyalah aspek manusia. Materialisme memandang manusia hanyalah sesuatu yang ada, tanpa menjadi subjek. Sedangkan bibit idealisme telah ada sejak Plato, tetapi pembuka jalan bagi idealisme yang sungguh-sungguh adalah Descartes. Dalam pandangan Descartes, manusia disamakan saja dengan kesadarannya. Swkalipun deikian , Descartes belum benar-benar jatuh kedalam idealisme  karena ia masih mengikuti dunia realitas.  Menurut idealisme, tiap-tiap pikiran tentang dunia luar hanyalah  nonsens belaka. Konsekuensinya ialah ia akan mengingkari adanya manusia lain selain dia. Dalam cogito-nya ia pernah mengingkari jasadnya sendiri. Letak kesalahan idealisme adalah karena memandang manusia hanya sebagai subjek, hanya sebagai kesadaran. Sebaliknya, materialisme hanya melihat manusia sebagai objek.

Eksistensialisme juga didorong munculnya olah situasi dunia terutama di dunia Eropa barat. Secara umum dapat dikatakan bahwa keadaan dunia pada waktu itu tidak menentu. Rasa takut berkecamuk terutama terhadap ancaman perang. Pokoknya, manusia benar-benar mengalami krisis. Pada saat itu pra filosof berharap ada pegangan yang dapat menyelamatkan dari krisis. Maka dar proses itu tampillah eksistensialisme yang menjadikan manusia sebagai subjek dan sekaligus objek.

 

BAB III

PENUTUP

 

A.            Kesimpulan

Menurut bukunya Ali Maksum. Eksistensialisme berasal dari kata eksistensi dari kata dasar exist. Kata exist itu sendiri berasal dari bahasa ex: keluar, dan sister: berdiri. Jadi, eksistensi berarti berdiri dengan keluar dari diri sendiri. Filsafat eksistensi tidak sama persis dengan filsafat eksistensialisme. Dalam filsafat dibedakan antara esensia dan eksistensia. Esensia membuat benda, tumbuhan, binatang  dan manusia. Oleh esensia, sosok dari segala yang ada mendapatkan bentuknya.  Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang menekankan eksistensia. Manusia adalah manusia. Namun, mereka mempersoalkan bagaimana segala yang ada berada dan untuk apa berada.

Dalam bukunya Sudarsono. Eksistensi berarti keberadaan, akan tetapi didalam filsafat eksistensialisme istilah eksistensi memiliki arti tersendiri. Secara lengkap eksistensi memiliki makna bahwa manusia berdiri sebagai dirinya dengan keluar dari diri sendiri. Maksudnya ialah manusia sadar bahwa dirinya ada. Dalam pemikiran ini jelas bahwa manusia dapat memastikan diri bahwa dirinya ada.

Keberadaan itu tampak nyata dalam pemikiran tokoh-tokohnya, seperti Martin Heideigger, Jean Paul Sartre Karl Jaspers, dan Gabriel Marcel. Ditekankan pada masalah “berada”.

Sedangkan menurut bukunya Ahmad Tafsir. Kata dasar eksistensi (existency) adalah exist yang berasal dari kata latin ex yang berarti keluar dari sistere yang berarti berdiri. Jadi, eksistensi adalah berdiri dengan keluar dari diri sendiri.

Filsafat Eksistensi tidak sama persis dengan filsafat eksistensialisme (Hassan, 1974:7). Yang dimaksud dengan filsafat eksistensi ialah benar-benar sebagaimana arti katanya, yaitu filsafat yang menempatkan cara wujud manusia sebagai tema sentral (Hassan, 1974: 7). Adapun yang dimaksud dengan filsafat eksistensialisme, rumusannya lebih sulit dari pada eksistensi. Lahirnya eksistensialisme dapat dilihat dari pandangan matrealisme kemudian idealisme.

Dapat disimpulkan bahwa eksistensi ialah berdiri dengan keluar dari diri sendiri. Sedangkan eksistensialisme membahas bagaimana segala yang ada itu berada dan untuk apa berada.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

          Maksum, Ali. 2009. Pengantar Filsafat. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

Sudarsono. 2008. Ilmu Filsafat (Suatu Pengantar). Jakarta: Rineka Cipta.

Tafsir, Ahmad. 2007. Filsafat Umum. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset


[1] Ali Maksum. 2009. Pengantar Filsafat. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. Hal…363

[2] Sudarsono.  2008. Ilmu Filsafat (suatu Pengantar). Jakarta: Rineka. Hal…344

[3] DR. Harun Hadiwijono; Op. Cit; h: 150

[4] Ibid. Op Cit; hh: 157 – 158

[5] Prof. DR. I.R. Poedjawijatn; Op. Cit; h: 147

[6] Prof. DR. Ahmad Tafsir. 2007. Filsafat Umum. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset. Hal…217

This entry was posted in psi 2/j1. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s