ilmu dan keingintahuan epistemologi dalam filsafat

DITUJUKAN UNTUK MEMENUHI TUGAS

 LOGIKA SCIENTIFIC

    (PSIKOLOGI 2 J1)

 

 

 

 

 

DosenPembimbing :

Drs. Masduki affandi,M.Pd.I

DisusunOleh :

Tsalis Fatih Safitri                  B07210051

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

FAKULTAS DAKWAH

PRODI PSIKOLOGI

SURABAYA

MEI 2011

Bab I

Pendahuluan

Suatu kegiatan pokok dalam manusia adalah berfikir. Ilmu, seni, agama, dan juga praktek hidup, semuanya menggunkan pemikiran. Akal sebagi alat pikir digunakan manusia di segala bidang. Ia menjadi penimbang dan pengukur bagi tindakan /manusia, yaitu, berfikir dan berbuat. Hasil kegiatan berfikir disebut tahu. Salah satu filafat yang membahas pengetahuan ialah epistemolgi. Epistemologi membicarakan pengetahuan dari panggakal sampai ujung. Ia membahas sendi pengetahuan, wilayahnya, prosesnya, dan serta bobotnya, dalam rangka menggapai kebenaran sejati.

  1. Rumusan masalah : 1. Pengertian kodrat hidup

2. Sarana pengetahuan

3. Proses pemikiran

BAB II

PEMBAHASAN

ILMU DAN KEINGINAN TAHU Epistemologi dalam filsafat

Epistemologi, atau filsafat pengetahuan, adalah cabang, cabang  filsafat yang mempelajari dan mencoba menentukan kodrat dan skope pengetahuan, pengandaian-pengandaian dan dasarnya, serta pertanggung  jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki.

v Kodrat Hidup

Bebrapa waktusebelum diciptakan , manusia (Adam) telah dikukuhkan sebagai khalifah di bumi. Sebagai pejabat , tentu saja ia memiliki keistimewaan dibandingkan dengan maklhluk yang lain, apa lagi dia adalah pejabat dari Zat Pencipta. Dalam hal ini, manuisa mempunyai kemampuan serupa, dalam bentuk mini, dengan Sang Pemberi Jabatan. Ketika manusia diciptakan, dia anugrahi kelebihan dan dibekali kemampuan. Peristiwa pemberian kemampuan bawaan ini disebutkan dala Al-Quran surat Asy Syamsim ayat 8, yang artinya, “Maka Allah mengilhami kepada jia itu (jalan)kefasikan dan ketakaan”. Kemampuan baaan merupakan modal dasar yang akan tetap kerdil bila tidak ada usaha untuk mengembangkannya. Adanya pengalaman memungkinkan kemampuan tersebut tumbuh dan berkembang. Apabila pengalaman terjadi berulang kali dan terus menerus, maka kemampuan akan meluas dan meresap, sehingga ketika menghadapi masalh baru, seseorang tidak akan sulit untuk mengatsinya.

Dari segi rasa, ada dua macam pengalaman, yaitu pengalaman manis dan pengalaman pahit. Pengalaman manis berupa rasa puas karena berhasil mencapai maksud, sedangkan pengalaman pahit berupa rasa kecewa gagal meraih hasrat. Dari keduanya pengalaman pahitlah yang lebih berkesan mendalami hati, krena itu sulit untuk dilupakan. Akan tetapi sulit untuk merasa pahit, kegagalan ada gunanya. Dari kegagalan dan kepahitan itulah kepribadian seseorang akan meningkat.

Kemampuan bawaan yang ada pada manusia berupa pengertian akan niali, baik positif maupun nilai negatif. Nilai adalah sesuatu yang brehaga, yang diidamkan oleh setiap insan. Nilai yang dimaksud adalah :

  1. Nilai jasmani : nilai yang terdiri atas nilai hidup, nilai nikmat, dan niali guna.
  2. Nilai rohani : nilai yang erdiri atas nilai intelek, nilai estetika, niali etika, dan niali religi.

Nilai nilai di atas tersusun di dalam suatu sistem yang berurutan, yaitu dari niali hidup, nilai nikmat, nilai guna, selanjutnya nilai intelek, niali estetika, nilai etika, nilai religi. Nilai hidup adalah nilai dasar, yaitu sesuatu yang dikejar manusia bagi kelangsungan hidupnya. Sedangkan nilai religi adalah nilai utama, yaitu sesuatu yang didambakan oleh manusia untuk kemulian dirinya.

Berikutini akan dikemukakan contoh dari hal hal yang mengandung nilai nilai tersebut :

  1. Nilai hidup                        : sehat-sakit, lestari-binasa, awas-buta, menelan-memuntahkan.
  2. Nilai nikmat          : ria-duka, harum-busuk, manis-pahit, mengganjar-menghukum.
  3. Nilai guna              : manfaat-mudrat, perkakas-berkas, mengambil-membuang
  4. Nilai intelek           : cermat-ceroboh, cerdas-bebal, mengingat-melupakan
  5. Nilai estetika          : mulus-cacat, mekar-kuncup, memikat-menjemukan.
  6. Nilai etika: bakti-durhaka, jujur-curang, menghormat-mengejek.
  7. Nilai religi              : tauhid-syirik, ,mustahil-mungkin, berharap-berpantang

Dengan contoh seperti diatas, tidak berarti bahwa setipa hal hanya bernilai tunggal. Sebagai sisitem nilai, sesuatu hal akan berkaitan pula dengan nilai lainnya dalam sistem itu, tetapi hanya terhadap nilai yang paling menonjollah hal itu disangkutkan. Kenyang lapar, di samping sebagai nilai hidup, juga mengandung nilai nikmat dan nilai guna. Iman kufur, disamping sebagai nilai religi, juga berisis nilai etika, nilai estetika, dan nilai intelek.

Dari ketujuh nilai diatas, seringkali terlihat bahwa nilai hidup berpasangan dengan nilai nikmat, nilai intelek lberdampingan dengan nilai estetika, dan nilai etika bersamaan dengan nilai  religi. Dalam agama tampaklah bagaimana nilai etika mengiringi amalnya. Itu idak berati bahwa nilai agama senantiasa menyertai nilai etika.

Dalam hal ini nilai gunalah yang terpisah sendiri. Sebenarnya nilai ini bertalian dengan nilai nikmat, tetepi karena bergantung kepada “hal ini”, seringkali orang tidak merasakannya. Nilai guna mengandung pengertian “dalam rangka menuju sesuatu”. Jadi sebagai alat. Perlu ditegaskan bahawa apa yang dimaksud dengan “seringkali” bukan berarti bukanlah sesuatu yang tetap atau pasti.

Nilai hidup bersangku paut dengan pangan, sandang, dan  papan. Berebut makanan, berlomba dalam berpakaian, mengejar jabatan, adalah pengejawantahan usaha mendapatkan niali hidup ini. Struggle for life. Jika orang berhasil memperoleh salah satu ketiga dalam hala ini maka akan senaglah ia ; begitu pula jika mendapat dua hal lainnya. Di sini ia mendapatkan nilai nikmat.

Menjawab soal merupakan tindakan yang mempunyai nilai intelek. Di sini, jika penjawab berusaha melakukannya dengan serapi dan setertib mungkin, berarti sudah melibatkan diri kedalam nilai estetika. Behitu pula dengan menyanyi, yang merupakan tindakan bernilai estetika, akan terasa hidup kalau diiringi dengan pengertian akan tempo, dinamika, dan eskpresi lagu, yang ketiganya bernilai intelek.

Perbuatan etis tidak jarang disangkutkan dengan nilai religi, sebagaimana yang dikandung di dalam ungkapan “itu tidak baik, itu adalah dosa” merupakan hal yang banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, sekalipun mungkin tidak bersadar.

Seperti teleh dikemukakan di muka, kemampuan bawaan mengandung nilai. Dengan demikian, nilai intelek pun terdapat di dalamnya. Berkenaan dengan nilai intelek inilah, kemampuan orang disebut “mampu tahu”. Mampu tahu mengandung implikasi bahwa setiap orang memiliki kesanggupan untuk tahu dan untuk tidak tahu. Terhadap kenyataan ini, al Ghazali mengutip pendapat Khalil bin Ahmad tentang adanya empay kemungkinan tahu, yaitu :

  1. Tahu bahwa dirinya tahu
  2. Tahu bahwa dirinya tidak tahu
  3. Tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu
  4. Tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu

Tahu baha dirinya tahu adalh keadaan seseorang memastikan dirinya mengetahui sesuatu, ia yakin benar tentang sesuatu. Sedangkan tahu bahwa dirinya tidak tahu adalh keadaan seseorang mengaku butra terhadap sesuatu. Ia adalah orang yang lurus hati karena tidak menyembunyikan kekurangan dirinya. Sebaliknya, tidak tahu bahwa dirinya tahu adalah keadaan seseorang tidak menyadari kesangguapan dirinya , maka ia lalai terhadap dirinya sendiri. Adapun tidak tahu bahwa dirnya tidak tahu adalah keadaan seseorang tidak menginsafi kelemahannya sendiri, maka ia tumpul otak , tidak memahami perihal dirinya. Dari kemungkinan ini, alternatif pertamalah yang diharapkan dalam kehidupan, khususnya dalam ilmu, filsafat, dan agama.

Kemampuan tahu bersifat statis. Untuk mengubahnya menjai dinamis, diperlukan adanya daya pendorong, yaitu keinginan tahu. Mampu tahu dan ingin tahu berpadu saling membutuhkan. Tanpa kemampuan, keinginan tak akan terwujud (menjelma). Tanpa keinginan, kemampuan pun tak akan tumbuh (berdaya). Di sini, tampaklah kerja sama keduanya. Tujuan minimal keinginan tahuan adalah memperpendek jarak antara subyek dan obyek. Bilamana mungkin, tujuan maksimalnya adalah menghapus jarak itu, sehingga tidak ada lagi jaraak antara keduanya. Artinya, obyek terpampang gamblang di hadapan subyek. Keinginan tahu adalah upaya menyingkap tabir kegelapan, agar apa yang terdapat di baliknya menjadi jelas. Akan tetapi, walaupun tabir telah tersingkap bukan berarti keinginan tahu langsung berhenti. Boleh jadi, seseorang malah berusaha lebih jauh mengungkapkan apa yang tersimpan di balik tabir itu. Dengan demikian, keinginan tahu merupakan upaya menambah maupun melengkapi isi kemampuan tahu. Oleh karena itu, keinginan tahu bia berarti upaya .dari belum tahu menuju tahu, bisa pula berarti upaya dari tahu menuju lebih tahu. Mengintip adalah contoh gerak dalam arti pertama, sedangkan berlatih adalah contoh gerak dalam arti kedua. Keinginan tahu menjelma dalam bentuk mengajukan pertanyaan, mencarai keterangan, memeriksa sesuatu, membaca buku, mengadakan penyalidikan, mendalami pengetahuan, dan seterusnya.

Keinginan tahu merupakan salah satu dari sekian banyak naluri yang ada pada manusia. Sebagai naluri, sudah tentu itu sulit di bendung. Ia berusaha untuk terus dapat menembus diding penutup rahasia, sekalipun sampai rahasia tertinggi (top secret). Ingin tahu pun menyangkut hasrat seperti berjuang, meniru, menjaga jenis, dan memberi tahu. Oleh karena naluri itu mutlak ada, maka ingin tahu pun demikian pula. Artinya, keinginan tahu berlangsung terus sepanjang hidup manusia, dan baru berhenti pada saat manusia mati. Setiap keinginan terpenuhi, mak muncul keinginan baru. Ia menggelinding terus bagaikan bola bumi. Ia bergulir, berpindah, dan beralih. Itu bisa berarti bergerak lebih jauh pada stu jalur, tetapi bisa juga berarti meloncat-loncat ketempat yang berbeda-beda. Keinginan tahu tak kenal rasa puas, penelitian ulang menggambarkan hal ini.

Keinginan tahu dilatarbelakangi oleh rasa sayang pada diri sendirikarena naluri didasari oleh cinta pribadi dan bertujuan kepada kesenangan jasmani. Jadi keinginan tahu adalah upaya dari dan untuk diri pribadi, dengan demikian bersifat ego-centris. Salah satu “kenakalan” naluri ini, ialah ketika pada diri seseorang ada rasa ingin mengetahui orang lain, tetapi dia sendiri tidak mau diketahui orag lain khususnya dalam hal hal negatif. Dasar dan tujuan keinginan tahu sebagai naluri, dapat dilihat dalam kenyataan hidup. Karena merasa “kesepian” yang diakibatkan oleh kesendirian, maka naluri ingin tahu berusaha untuk dapat “berkumpul” dengan sesuatu. Pada saat hasrat ini terlampiaskan, maka ia “bahagia”.

Naluri tidak perlu dipelajari, ia mempunyai, makna dan menuju sesuatu. Demikian pula halnya dengan keinginan tahu sebagai naluri. Ia terpatri  pada diri manusia, bereksistensi, dan senantiasa mengarah pada sesuatu. Keinginan tahu perlu dijaga agar tetap hidup, sehingga kemanmpuan tahu bisa bergerak maju, berkembang luas, dan sekaligus menanjak dengan menaiki harkat diri yang empunya. Keinginan tahu tampak menonjol pada pribadi yang belum atau sedikit berpengalaman. Pada anak kecil, hal itu jelas terlihat ketika dia mengahadapialam sekitar. Pada orang dewasa, dalam kondisi atau situasi tertentu, hal itu mencuat pula. Peristiwa tersebut dimaksutkan untuk mengisi, menambah maupun melemgkapi khasanah pengetahuan denganberbagai pengalaman. Pernyataan “ boleh melihat, tidak boleh memegang” mengisyaratkan adanya keinginan tahu yang besar dari seseorang. Kendati ia sudah tahu, masih saja berusha menerobos untuk lebih banyak tahu. Apalagi jika diberi penghalang, keinginan tahu akan melonjak lebih besar lagi. Agar tidak sampai lepas kendali, ruang gerak keinginan tahu perlu dibatasi sesuai dengan norma budaya maupun norma agama. Di situ dipasangrambu-rambu yang memprtegas ruang geraknya, artinya bahwa pada norma tersebut tercantum batas wilayah kebebasan bagi keinginan tahu. Sungguh pun demikian, patokan ini belum merupakan jaminan untuk ditaati, tetati dengan patokan tadi, keinginan tahu minimal telah diberi tanda mengenai ada tindakan bahaya.

v Sasaran pengetahuan

Berfikir disebut juga menggunakan akal. Akal mengolah bahan, baik bahan pemikiran maupun bahan pengalaman. Akal mencoba menerobos ke dalam bahan tadi untuk mengetahui hal yang sebenarnya. Di sorong oleh keinginan tahu, akal tidak merasa puas dengan apa yang tampak, tetapi berupaya mengetahui apa yang ada di balik itu. Daerah jelajah akal cukup luas, dalam, adan jauh. Semuanya, menjadi sasaran pemikiran.

Perlu diperhatikan perbedaan antara sasaran (obyek) dan tujuan. Tujuan adalah sesuatu yang dikehendaki, sedang sasaran adalah tempat atau wilayah dimana kehendak bisa terpenuhi. Jadi, tujuan tidak mungkin dicapai adanya sasaran, sebab pada sasaran itulah tujuan diperoleh. Setiap bertindak, baik dalam bentuk berfikir maupun berbuat, perlu menyertakan sasaran. Hal ini di samping untuk mencapai tujuan tindakan, juga untuk meluruskan arah tindakan, serta untuk membatasi lingkup sasaran. Tanpa sasaran yang jelas, ada kemungkinan arah tindakan tidak menjurus pada tujuan. Dalam usaha menagkap buronan hidup hidup misalnya, bila sasaran tembakan adalah jantung atau kepala, justru kematianlah yang didapat. Dengan demikian, tujuannya tidak tercapai. Yang menjadi sasaran pemikiran adalah sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Apa yang tidak ada dan mustahil ada tidak termasuk sasaran pemikiran, sebab bagaimana mungkin orang memikirkan ketiadaan dan kemustahilan.

Al-quran, dalam upaya meyakinkan orang akan adanya Zat Pencipta, menganjurkan untuk memperhatikan dan merenungkan peredaran binatang yang serba tertib, alam semesta yang berhubungan secara kausal, serta diri manusia yang penuh rahasia. Apa yang tersirat dalam Alquran ini ialah bahwa manusia lebih memusatkan perhatian pada alam; bahwa manusia memahami Tuhan lewat perantara.

Secara ringkas, yang menjadi sasaran pengetahuan adalah :

  1. Alam yang dikaji dalam kosmologi;
  2. Manusia, yang dibahas dalam antropologi;
  3. Tuhan, yang dibicarakan dalam theodicea.

Menurut R. Paryana Suryadipura, terdapat empat macam alam, yaitu alam nasut (alam manusia), alam jabarut (alam roh kotor), alam malakut (alam roh suci), dan alam lahut (alam Tuhan).

Alam nasut atau alam nyata atau alam “di sini”. Meskipun sudah ada yang diketahui, masih banyak hal dari alam ini yang belum diketahui. Ini bisa dilihat dari penemuan penemuan baru yang tengah berlangsung sampai saat ini di dalam ilmu ilmu empire.

Alam jabarut atau malakut atau alam ghaib atau alam “di situ”. Alam ini belum terungkap secara empiris oelh manusia. Ia berada lepas dari jangkauan kemampuan manusia. Dia berada dalam alam transenden.

Alam lahut, adalah alam yang berada jauh di luar alam nyatadan alam ghaib, dan sisebut juga alam “di sana”. Alam ini bisa tersinggkap lewat pengalaman tasawuf, menurut pandangan kaum sufi.

Kalau orang membandingkan pencipta (Tuhan) dengan ciptaan (alam) sebagai lawan yang saling berhadapan, maka hal tersebut tidaklah tepat sebab masing masing pihak adalah lawan yang tak sebanding, baik dari segi adanya maupun bobotnya. Di saat ada siang atau keras, sama sekali tidak ada malam atau lunak, begitu pula sebaliknya.

Berbeda dengan hal itu, ada bagi Pencipta dan ada bagi ciptaan jelas tidak sama, demikian pula dalam hal bobotnya. Pencipta bermula ada, berlanjut ada, dan berakhir ada. Jadi, ada selamanya. Ciptaan bermula tiada selanjutnya ada, dan berkhir tiada. Jadi ada sementara untuk kemudian tiada kembali. “Dari tiada’kan tiada,” pada dasarnya berarti tiada. Semacam ikan, sesaat muncul untuk kemudian tenggelam kembali. Dengan demikian, Pencipta ada, sedangkan ciptaan tiada.

v Proses pemikiran

Perlu diketahui bahwa setiap mendengar kata “pemikiran”, ada dua tanggapan yang terbesit dibenak :

  1. Pemikiran dalam arti proses, misal : saya tidak bisa mengikuti pemikirannya
  2. Pemikiran dalam arti hasil, misal : pemikirannya bagus, sya bisa menerimanya.

Arti pertama, biasanya yang disebut sebagi pemikiran, sefangkan arti kedua lazimnya disebut pengetahuan (pendapat). Yang dibicarakan dalpam bab  ini ialah pemikiran dalam arti petama.

  • Pengertian Logika

Berpikir berarti mengamati dengan sadar. Setipa pengamatan yang sadar bergerak kearah penilaian. Jadi, berfikir berakhir pada keputusan, misalnya A=B, kemudian B=C, maka A=C. Pada gambaran ini, dimana A=B berlanjut ke B=C adalah proses pemikiran, sedangkan A=C adalah hasil pemikiran. Secara keseluruhan, tahapan yang ada disini ialah pengamatan, pengolahan,pemutusan. Semuanya disebut pemikiran. Pengamatan bisa menggunakan indra lahir ataupun indra batin.

Pemikiran ialah mencari sesuatu yang belum diketahui berdasarkan sesuatu yang tealah diketahui. Sesuatu yang telah diketahui merupakan bahan pemikiran yang disebut data atau fakta, yaitu gejala atau peristiwa yang ditangkapoelh indra. Sedangkan sesuatu yang belum diketahui akan menjadi hasil pemikiran, yang dinamakan konklusi atau konsekuensi, yaitu pengetahuan baru yang dituju dalam proses berfikir. Dengan demikian, isi pemikiran ialah data ldan konklusi. Data berjulah dua dan konklusi berjumlah satu; jadi, seluruhnya terdiri dari bagian (himpunan). Pda contoh diatas, A=B dan B=C merupakan pengetahuan langsung berdasarkan fakta, sedangkan A=C adalah pengetahuan tak langsung berdasarkan prasangka, yaitu yang di dapat lewat pemikiran lebih dulu. Gerakan dari data konklusi desebut pemikiran.

Proses berfikir semacam di atas, dibahas oleh logika. Logika (logies) ialah ilmu tentang logos (pikiran). Ia adalah saluran yang dilalui dan harus dilalui oleh aliran pemikiran. Definisi ini menunjukkanadanya hal yang tidak bisa lain. Paduan antara kebiasaan dan keharusan menyebabkan adanya keharusan mutlak bagi akal untuk melewati pengertian.

BAB III

Kesimpulan

Perlu dipahami bahwa dalammkehidupan pada dasrnya subjek dan objek tidak langsung berhubungan. Diantara keduanya terdapat faktoe penghubung, yang bisa mengubah keasn meresap yang meresap pada subjek, yaitu jarak dan cahaya. Sealij itu sybjek tidak dapat lepas dari pengaruh subjektivias. Dilain pihak, keadaan objek yang di maksud beragam, ada objek yang mingkin menyembunyikan diri, seperti war5na bianatang, manusia; ada objek yang .merupakan hasil rekayasa akal  dan ada pula objek yang berada di luar jangkauana kemampuan. Jadi, ssebenarnya sulit untuk mencari kesesuaian di antara ketiganya.

Dalam kehidupan bermasyarakat, mencari kebenaran melaui gaya korespodensi ini merupakan hal yang umum dilkukanoarang. Akibatnya, sering dijumpai perselisihan antar individu. Penambilan keputusan serupa iu dalam fikih Islam dikenal denagn istilah ra’yu.

This entry was posted in psi 2/j1. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s