epistimologi

Makalah

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah

”Logika Saintifik”

TOKOH DAN EPISTIMOLOGI

Oleh :

Ahmad Insan Kamil (B07210050)

Dosen Pembimbing :

Drs. Masduki Affandi, M.Pd.I

FAKULTAS DAKWAH

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

INSITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

SURABAYA

2011

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

Epistemologi merupakan topik yang menarik dalam filsafat, apalagi kalau kita melihatnya secara kronologis dari mulai jaman Yunani Kuno hingga ke masa postmodern dewasa ini. Perkembangannya sejalan kalau tidak dapat dikatakan identik dengan perkembangan filsafat, bahan ilmu pengetahuan pada umumnya. Selain ontologi —bagian filsafat yang mengkaji tentang ‘ada’ atau ‘realitas sejati’—, epistemologi sebagai bagian filsafat yang meneliti asal-usul, asumsi dasar, sifat-sifat, dan bagaimana memperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model filsafat. Dengan pengertian itu epistemologi tentu saja menentukan karakter pengetahuan, bahkan menentukan “kebenaran” macam apa yang dianggap patut diterima dan apa yang patut ditolak.

Selama masa perkembangan filsafat asumsi-asumsi dasar epistemologis mengalami berbagai macam perubahan. Asumsi dasar yang satu digantikan oleh asumsi dasar lainnya. Ada juga asumsi dasar yang sempat tergusur tampil kembali sebagai rujukan di masa-masa berikut dengan berbagai polesan di sana-sini, misalnya pandangan kaum Sofis tentang tak terjangkaunya realitas sejati oleh manusia yang muncul lagi pada Derrida. Pasang-surut asumsi dasar dan perubahan-perubahan yang terjadi dalam epistemologi merupakan dinamika yang meramaikan kehidupan filsafat. Dinamika ini melahirkan keasyikan tersendiri bagi peminat filsafat. Sebuah ajang pemikiran yang tak habis-habisnya.

Para peminat filsafat dapat menyaksikan ‘pertunjukkan’ yang seringkali mengagetkan, membingungkan, membikin gemas, pesimis atau optimis, dan bahkan menghanyutkan pikiran. Dimanakah akhirnya? Pertanyaan ini sering muncul pada mereka yang mengikuti para filsuf yang tak lelah-lelahnya mengutak-atik pikiran itu. Sebagian berkata: tak akan ada habisnya carut-marut itu sampai dunia berakhir. Sebagian yang lain bilang: itulah dunia manusia, hidup karena ada hal-hal yang dapat dipermasalahkan.

Liku-liku dan lekuk-lekuk filsafat dalam epistemologi yang menjadikan filsafat sebagai pengetahuan dinamis barangkali merupakan tanda dari karakter manusia sebagai makhluk yang tak pernah berhenti berpikir, memaknai dunia, memaknai dirinya, dan mencoba untuk tidak menyerah begitu saja kepada ketidakmengertiannya. Seperti tokoh Sisiphus dalam pandangan Albert Camus, manusia ‘terkutuk’ untuk mendorong batu ke puncak Gunung Olimpus lalu menggelindingkannya kembali ke kakinya. Begitu terus menerus sampai akhir hidupnya. Sebuah upaya yang nampak sia-sia namun mengandung arti perjuangan manusia yang tak mudah menyerah pada kesia-siaan itu.

Tulisan ini mencoba menunjukkan gambaran kasar dari perkembangan usaha manusia memberi makna pada diri dan dunianya lewat epistemlogi. Lewat pemikiran-pemikiran para filsuf, secara singkat perkembangan epistemologi disajikan di sini mulai dari Plato hingga Michel Foucault dan Jean-François Lyotard. Tidak lengkap tentu saja, tapi siapa tahu bisa menggoda pembaca untuk ikut terlibat dalam aktivitas berpikir yang lebih mendalam dan menjadi kehidupannya ‘punya makna lain’ dari sekedar pengalaman kongkret sehari-hari. Dan untuk mereka yang sudah menekuni filsafat, barangkali tulisan ini bisa menyegarkan ingatan mereka.

Oleh karena itu penulis akan mencoba untuk menguraikan beberapa permasalahan terkait dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan epistimlogi sebagaimana berikut:

  1. Pengertian Epistimologi
  2. Tokoh-tokoh Epistimologi dan pernyataannya
  3. Bagaimana Filsafat Epistimologi

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Epistimologi

 

Secara etimologi, kata epistemologi berasal dari kata Yunani, episteme dan logos. Episteme berarti pengetahuan, sedangkan logos berarti ilmu. Jadi, epistemologi adalah teori tentang pengetahuan.[1]

Istilah epistemologi terkait dengan :[2]

a. Filsafat, yaitu sebagai ilmu berusaha mencari hakekat dan kebenaran  pengetahuan.

b. Metode, yaitu sebagai metode bertujuan mengantarkan manusia untuk memperoleh pengetahuan.

c. Sistem, yaitu sebagai suatu sistem bertujuan memperoleh realitas kebenaran pengetah.

Dalam perspektif Barat dikenal adanya tiga aliran epistemologi, yaitu empirisme, rasionalisme, dan positivisme. Aliran empirisme berdasarkan pada alam, sesuai dengan penyelidikan ilmiah secara empiris. Aliran rasionalisme menganggap empirisme memiliki kelemahan karena alat indera mempunyai kemampuan yang terbatas, sehingga alat indera diposisikan sebagai alat yang menyebabkan akal bekerja.

Sedangkan metode positivisme yang dikemukakan August Comte menyatakan bahwa hasil penginderaan menurut rasionalisme adalah sesuatu yang tidak jelas dan tidak sistematis. Aliran positivisme menganggap bahwa penginderaan itu harus dipertimbangkan oleh akal, kemudian disistemisasi sehingga terbentuk pengetahuan. Epistemologi-epistemologi dalam dunia Barat tersebut memperlihatkan bahwa pengetahuan berpusat pada dua hal, indera dan rasio. Ini menunjukkan bahwa pusat dari epistemologi adalah manusia sendiri. Di dalam Islam, epistemologi tidak berpusat kepada manusia.

Manusia bukanlah makhluk mandiri yang dapat menentukan kebenaran seenaknya. Semuanya berpusat kepada Allah. Di satu pihak, epistemologi Islam berpusat pada Allah, dalam arti Allah sebagai sumber pengetahuan dan sumber segala kebenaran. Namun, bukan berarti manusia tidak penting. Di pihak lain, epistemologi Islam berpusat pula pada manusia, dalamarti manusia sebagai pelaku pencari pengetahuan. Seperti telah disebutkan pada pendahuluan, dalam epistemologi Islam setidaknya ada tiga model yang digunakan, yaitu bayani, irfani dan burhani.[3]

B.Tokoh-tokoh Epistimologi dan Pernyataannya

A. Plato dan Aristoteles

Plato dapat dikatakan sebagai filsuf pertama yang secara jelas mengemukakan epistemologi dalam filsafat, meskipun ia belum menggunakan istilah epistemologi. Filsuf Yunani berikutnya yang berbicara tentang epistemologi adalah Aristoteles. Ia murid Plato dan pernah tinggal bersama Plato selama kira-kira 20 tahun di Akademia.

Pembahasan tentang epistemologi Plato dan Aristoteles akan lebih jelas dan ringkas kalau dilakukan dengan cara membandingkan keduanya. Pemikiran Aristoteles tentang asal-usul pengetahuan dan bagaimana memperoleh pengetahuan merupakan kritik sekaligus sanggahan terhadap pemikiran plato. Secara singkat perbedaan keduanya dapat dikemukakan seperti yang tertera pada tabel berikut.

Tabel 1. Perbandingan antara Plato dan Aristoteles tentang asal dan cara memperoleh pengetahuan.

Topik Pemikiran Plato Aristoteles
Pandangan tentang dunia Ada 2 dunia:  dunia ide & dunia sekarang (semu) Hanya 1 dunia: Dunia nyata yang sedang dijalani
Kenyataan yang sejati Ide-ide yang berasal dari dunia ide Segala sesuatu yang di alam yang dapat ditangkap indra
Pandangan tentang manusia Terdiri dari badan dan jiwa. Jiwa abadi; badan fana (tidak abadi).

Jiwa terpenjara badan.Badan dan jiwa sebagai satu kesatuan tak terpisahkan.Asal pengetahuanDunia ide. Namun tertanam dalam jiwa yang ada dalam diri manusia.Kehidupan sehari-hari dan alam dunia nyataCara mendapatkan pengetahuanMengeluarkan dari dalam diri (Anamnesis) dengan metoda bidanObservasi dan abstraksi, diolah dengan logika

Plato beranggapan ada 2 dunia:  dunia ide dan dunia yang sedang dialami manusia (semu). Pandangan tentang dunia Plato ini berbeda dengan Aristoteles yang menegaskan hanya ada satu dunia yaitu dunia nyata yang sedang dijalani manusia. Pandangan tentang dunia ini mempengaruhi pandangan keduanya tentang kenyataan yang sejati

Bagi Plato kenyataan sejadi adalah ide. Ide-ide yang berasal dari dunia ide merupakan kenyataan yang sebenar-benarnya. Sedangkan bagi Aristoteles kenyataan sejati adalah segala sesuatu yang ada di alam dan dapat ditangkap oleh indra.

Dengan pandangan tentang manusia dan kenyataan sejati yang berbeda, pandangan Plato juga berbeda dengan Aristoteles dalam hal apa itu manusia. Bagi Plato manusia terdiri dari badan dan jiwa. Jiwa abadi, badan fana (tidak abadi). Jiwa berasal dari dunia ide, terpenjara badan, dan selalu ingin kembali ke dunia ide. Sementara Aristoteles memandang badan dan jiwa sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan. Selain perbedaan pandangan tentang manusia, pandangan tentang asal pengetahuan keduanya pun berbeda. Asal pengetahuan bagi Plato adalah dunia ide. Namun pada saat manusia lahir ide sebagai pengetahuan sejati tertanam dalam jiwa yang ada dalam tubuh manusia. Untuk mendapatkan pengetahuan manusia harus mengeluarkannya dari dalam diri (anamnesis) dengan metoda ‘bidan’ yang sudah digunakan oleh Sokrates, berupa kegiatan dialektik tanya-jawab. Di sisi lain, bagi Aristoteles asal pengetahuan adalah kehidupan sehari-hari dan alam dunia nyata. Pengetahuan dapat diperoleh melalui kegiatan observasi dan abstraksi yang diolah dengan logika (analitika dan dialektika)..

Perbedaan epistemologi Plato dan Aristoteles ini memiliki pengaruh besar terhadap para filsuf modern. Idealisme Plato mempengaruhi filsuf-filsuf seperti Spinoza, Leibniz, dan Whitehead. Sedangkan pandangan Aristoteles tentang asal dan cara memperoleh pengetahuan mempengaruhi filsu-filsuf empiris seperti Locke, Hume, dan Berkley.

B. Kesangsian Metodis dari Descartes

Descartes berpendapat bahwa ia telah menemukan metode yang dicarinya dalam usaha memperoleh pengetahuan, yaitu dengan menyangsikan segala-galanya.  Ia bermaksud menjalankan metode ini seradikal mungkin, oleh karena itu seluruh pengetahuan yang dimiliki seseorang harus diragu-ragukan. Untuk menyempurnakan metodenya dalam menemukan kebenaran, menurutnya keraguan itu harus juga mengenai kebenaran yang selama ini sudah dianggap pasti, yaitu ketubuhan (adanya tubuh saya) dan adanya Tuhan. Kalau ada suatu kebenaran yang tahan terhadap kesangsian radikal ini, maka itulah pengetahuan yang pasti dan dapat dijadikan dasar bagi seluruh ilmu pengetahuan.

Dalam rangka kesangsian metodis ini, menurut Descartes, ternyata ada satu hal yang tidak dapat diragukan, yaitu “aku yang meragukan”. Jika aku menyangsikan sesuatu, aku menyadari bahwa aku menyangsikan. Kesangsian itu secara langsung menyatakan adanya aku. Penemuannya ini dikenal dengan  rumus “cogito ergo sum” (aku berpikir maka aku ada). Kebenaran tentang aku yang meragukan ini bagi Descartes merupakan kepastian karena aku mengerti hal itu dengan ‘jelas dan terpilah-pilah’ (clear and distinc). Dengan demikian, ia menyimpulkan hanya hal yang jelas dan terpilah-pilah itulah yang dapat diterima sebagai benar.

Menurut Descartes, apapun yang datang dari luar harus disangsikan. Oleh karena itu seseorang mesti mencari kebenaran dalam dirinya sambil menggunakan patokan ‘jelas dan terpilah-pilah’. Descartes menyatakan bahwa dalam diri kita dapat ditemukan 3 ide bawaan: 1) ide pemikiran; karena aku mengenal diriku sebagai makhluk yang berpikir; 2) idea Tuhan sebagai wujud yang sempurna yang disimpulkan dari adanya ide yang sempurna dalam diriku padahal aku adalah makhluk yang tak sempurna. Pasti ada sesuatu yang sempurna telah menanamkannya padaku, yaitu Tuhan; dan 3) idea keluasan; aku mengerti materi sebagai keluasan  (extention), sebagaimana dipelajari dan dilukiskan oleh ahli ilmu ukur.

Pandangan Descartes tentang manusia sering disebut sebagai dualistis. Ia melihat manusia sebagai dua substansi: jiwa dan tubuh. Jiwa adalah pemikiran dan tubuh adalah keluasan. Tubuh tidak lain adalah suatu mesin yang dijalankan jiwa (Mudji Sutrisno & F.B. Hardiman (ed.), 1992). Hal ini dipengaruhi oleh epistemologinya yang memandang rasio sebagai hal yang paling utama pada manusia.

C. Epistemologi Kant, Hegel, dan Marx

1.      Kant.

Immanuel Kant merupakan pemikir kritis karena mempertanyakan the conditions of possibility dari pengetahuan manusia. Kant mengarahkan diri pada rasio manusia yang menjadi alat untuk menyelidiki perkara-perkara metafisis. Ia menyelidiki batas-batas kemampuan rasio untuk menemukan sejauh mana klaim-klaim rasio dapat dianggap benar.

Dengan mempertanyakan syarat-syarat kemungkinan pengetahuan, Kant mau menunjukkan bahwa rasio dapat menjadi kritis terhadap kemampuannya sendiri dan dapat menilai hasil-hasil refleksinya. Kritik dalam pengertian Kantian berarti kegiatan menguji sahih tidaknya klaim-klaim pengetahuan tanpa prasangka dan kegiatan ini dilakukan hanya oleh rasio.

Epistemologi Kant menegaskan bahwa manusia tidak dapat menangkap realitas sesungguhnya dari obyek (das ding ansich). Rasio manusia memaksakan dirinya memberi makna kepada obyek-obyek yang ditangkapnya. Pengertian yang dicapainya adalah hasil ‘perkawinan’ dari pengetahuan apriori dengan pengetahuan aposteriori.

2.      Hegel.

Hegel memberikan kritik terhadap epistemologi Kant.  Menurutnya filsafat rasionalisme kritis Kant bersifat transendental. Dengan cara itu Kant ingin meletakkan rasio yang kritis di atas suatu dasar yang pasti dan tak tergoyahkan. Rasion semacam itu tak mengenal waktu, netral, dan ahistoris. Menurut Hegel rasio yang kritis tidaklah demikian, seakan-akan rasio sudah sempurna dengan pada dirinya sendiri. Justru rasio itu kritis kalau ia menyadari asal-usul pembentukannya sendiri. Rasio menjadi sadar melalui proses berhadapan dengan rintangan. Lewat proses ini rasio melangkah menjadi lebih tinggi. Proses rasio menjadi sadar ini oleh Hegel digambarkan dengan model dialektikanya (Hardiman, 1990).

Proses dialektika Hegel mement­ingkan adanya kontradiksi antara unsur-unsur yang ada dalam kehidupan ini (Sindhunata, 1983). Unsur-unsur itu harus dinegasi­kan satu dengan yang lain untuk bisa menghasilkan unsur yang lebih baik. Dengan kata lain, pengertian kritik menurut Hegel adalah refleksi atas rintangan-rintangan, tekanan-tekanan, dan kontradiksi-kontradiksi yang menghambat proses pembentukan diri dan sejarah. Kritik juga berarti refleksi atas proses menjadi sadar atau refleksi atas asal-usul kesadaran.

3. Marx.

Pada awalnya Marx  banyak dipengaruhi oleh Hegel. Saat itu Hegel seakan-akan telah memikirkan segala-galanya, sehingga Marx dan pengagum Hegel lainnya bertanya: “Adakah filsafat setelah Hegel?” Namun sampai juga saatnya, ada jalan keluar dari dilema pasca Hegel itu. Ditemukan bahwa realitas sosial-politik yang telah dipikirkan Hegel secara sempurna ternyata tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Realitas membuktikan pemikiran itu salah. Pemikiran itu mungkin sempurna, namun sempurna dalam dirinya sendiri. Ia kehilangan kesempurnaannya ketika dihadapkan dengan realitas. Marx melihat pemikiran Hegel belum dapat menyelesaikan masalah-masalah praktis. Sementara bagi Marx, filsafat harus menjadi praktis, harus bersifat membebaskan manusia dalam kegiatan-kegiatan praktis.

Marx memahami  filsafat Hegel sebagai pemikiran dalam keterasingan atau dalam abstraksi. Pikiran Hegel mencapai kesempurnaan sebatas pikiran atau ide. Pada kenyataannya, sesuatu yang dipikirkan itu jauh dari kesempurnaan. Perbedaan antara yang dipikirkan dan kenyataan dalam filsafat Hegel ini merupakan tanda  bahwa pikiran Hegel ideologis. Dengan memikirkan saja kesempurnaan masyarakat, Hegel membiarkan masyarakat nyata tetap dalam keadaan buruk. Disini dapat dikatakan pikirannya mendukung kepentingan pihak-pihak yang beruntung dari keadaan buruk masyarakat. Dalam hal ini, Feuerbach membantu Marx mendeteksi segi ideologis dalam filsafat Hegel.

Satu pemikiran Hegel yang terkenal yang diambil Marx namun direvisi habis-habisan adalah konsep dialektika. Marx mengambil kerangka dialektika Hegel. Ia mengisi dialektika Hegel dengan kerangka materialisme-nya. Menurut Marx, dialektika Hegel masih kabur dan belum menghasilkan apa-apa bagi praxis karena tak jelas sasaran pragmatisnya. Marx membuka kesadaran akan adanya mekanisme-mekanisme obyektif hubungan penindasan dan menunjukkan cara pemecahan untuk keluar dari sana. Karena adanya mekanisme itu, manusia harus waspada bersikap kritis pada masyarakatnya. Individu tidak boleh menelan begitu saja pengaruh dari masyarakat dan objek-objek di sekitarnya.

Dengan landasan dari Feuerbach pula, filsafat kemudian oleh Marx ditarik kepada aspek kongkretnya. Filsafat harus dapat membantu manusia melepaskan diri dari masalah-masalahnya, terutama irasionalitas. Filsafat haruslah dapat membebaskan manusia dari irasionalitas. Seperti yang sudah disinggung di atas Marx tetap mengambil konsep dialetika Hegel namun ia mengisinya dengan kerangka yang kongkret, yaitu kerangka materialisme historis. Ia mencoba meningkatkan keberdayaan filsafat pada saat bersentuhan dengan masalah-masalah praktis. Di sinilah sifat kritis dan emansipatif dari Marx, meskipun pada masa tuanya Marx juga menampilkan keortodoksan dirinya yang tercermin di antaranya dalam Das Kapital: Ia mengklaim sosialismenya sebagai sosialisme ilmiah, sebagai hasil dari ilmu pengetahuan tentang hukum perkembangan masyarakat.

D. Epistemologi Fenomenologis Husserl

Dasar epistemologi dari fenomenologi adalah pemikiran Husserl tentang kesadaran yang intentsional. Husserl menegaskan sebuah prinsip: semua kegiatan berdasarkan kesadaran bersifat intesional, yakni terarah pada satu obyek spesifik. Dalam memperoleh pengetahuan Husserl menekankan pentingnya kembali kepada benda-benda itu sendiri. Benda itu sendiri merupakan obyek kesadaran langsung dalam bentuk yang murni. Aspek fenomenologi Husserl selalu berusaha menggali perangkat hukum kesadaran manusiawi yang esensisal dan kait mengait.

Husserl mengubah kesadaran (cogito) dari kesadaran tertutup model Descartes menjadi kesadaran yang terbuka, kesadaran yang terarah kepada kesadaran lainnya. Ia melihat bahwa kesadara aku tidak sendirian memandang obyek, namun obyek pun mempengaruhi subyek. Di sini interaksi subyek obyek ditegaskan, obyek pada satu saat juga merupakan subyek.

E. Postmodernisme

1. Epistemologi Foucault

Istilah epistemologi yang ditafsirkan dari karya Foucault memiliki pengertian refleksi filosofis tentang kodrat dan sejarah ilmu pengetahuan. Refleksi semacam itulah yang dilakukan oleh Foucault. Ia adalah penganjur metode penyelidikan berbasis sejarah yang berpengaruh besar pada studi tentang subyektivitas, kekuasaan, pengetahuan, diskursus, sejarah, seksusalitas, kegilaan, sistem hukum, dan banyak lagi. Karya-karya Foucault menunjuk adanya refleksi atas sejarah yang dilalui oleh topik-topik yang ditelitinya.

Ia ingin mencari penjelasan bagaimana manusia secara historis telah menjadi subyek dan obyek dari praktek dan diskursus politik, ilmiah. ekonomi, filsafat, hukum, dan sosial. Pertanyaan mendasarnya: “Bentuk penalaran dan kondisi historis seperti apa yang membawa manusia pada kondisi tersebut?” Untuk menjawab pertanyaan ini Foucault tidak mengasingkan subyektivitas dalam kerangka filosofis. Subyektivitas di sini dihubungkan dengan praktek-praktek  pemilah oleh pengetahuan dan kekuasaaan. Pengetahuan sendiri menurut Foucault ditentukan oleh kekuasaan. Kebenaran akan merujuk pada sebuah rezim kebenaran yang sedah bertahta. Kebenaran merupakan hasil dinamika dari fungsi kekuasaaan. Penentuan sakit atau sehat, benar atau salah, baik atau buruk, ditentukan oleh pihak-pihak yang berkuasa. Di sini terlihat Foucault menempatkan pengetahuan sebagai sebuah hasil dominasi satu pihak terhadap pihak lainnya. Secara kasar dapat dikatakan bagi Foucault asal-usul pengetahuan adalah kekuasaan.

2. Lyotard

Lyotard melihat posisi pengetahuan ilmiah khususnya tentang cara ilmu dilegitimasikan melalui apa yang disebutnya “narasi besar” (grand narrative) seperti “keabsahan, kemajuan, emansipasi kaum proletar,” dan sebagainya. Narasi-narasi besar atau metanarasi itu kini telah mengalami nasib yang sama dengan narasi-narasi besar sebelumnya seperti religi, negara-kebangsaan, kepercayaan tentang keunggulan Barat dan sebagainya. Kesamaaannya: semua itu kini sama-sama menjadi sulit untuk dipercaya. Narasi-nasi besar menjadi tidak mungkin di abad ilmiah ini, khususnya narasi tentang peranan dan validitas ilmu. Hal  ini memunculkan nihilisme, anarkisme, dan pluralisme permainan bahasa. Hal itu menurut Lyotard tidak apa-apa, sebab di sisi lain hal ini menunjukkan juga kepekaan baru terhadap perbedaan-perbedaan dan keberanian melawan segala bentuk totalitarisme. Maka bagi Lyotard yang tinggal kini adalah intesifikasi dinamisme usaha yang tak habis-habisnya dan tak henti-hentinya untuk mencari kebaruan, menghindari klaim-klaim universal, dan berangkat dari satuan-satuan kecil. Segala pengetahuan memiliki kesempatan untuk menjadi kebenaran kecil yang berguna pada suatu waktu dan tempat tertentu.

C. filsafat epistemologi

filsafat: Ontologi → Hakikat → ada/tiada

Epistemologi→ ilmu → benar/salah

Aksiologi (nilai) → Etika → baik/buruk

→ Estetika → indah/jelak. [4]

Epistimologi : cabang filsafat yang menanyakan pertanyaan-pertanyaan seperti dari manakah datangnya pengetahuan, bagaimanakah ia dirumuskan, diekspresikan dan dikomunikasikan? apakah pengetahuan itu? bagian apa yang dimainkan oleh rasio dalam pengetahuan? apakah perbedaan antara konsep-konsep seperti: keyakinan, pengetahuan, pendapat, fakta, realitas, kesalahan, imajinasi, konseptualisasi, gagasan, kebenaran, kemungkinan, kepastian?[5]

Orientasi Asal/Sumber Pengetahuan

–         Rasioanalisme (dari dalam)

Aliran filsafat yang menekankan pada rasio sebagai sumber utama pengetahuan, lebih tinggi dari anggapan-anggapan pancaindera.

Teori-teori utamanya:

  1. Melalui proses penalaran berfikir dapat sampai pada kebenaran fundamental (pokok) yang tak terbantahkan beserta strukturnya tentang apa yang eksistensi serta alam semesta.
  2. Beberapa kebenaran tentang realitas dapat diketahui secara tersendiri melalui pengamatan, pengalaman, dengan metode-metode empiris
  3. Pikiran mendahului pengalaman untuk mengetahui kebenaran
  4. Rasio adalah asal-usul yang bersifat prinsipil dari pengetahuan, metode rasional (Deduktif: kebenaran umum menuju kebenaran khusus, logika matematika: kaidah-kaidah penalaran, Inferensial: konsep logis suatu pernyataan)
  5. Alam semesta diciptakan mengikuti hukum-hukum rasionalitas logika

–         Empirisme (dari luar)

Aliran filsafat yang berpandangan: pengalaman adalah satu-satunya sumber pengetahuan. Pengetauan tentang sesuatu yang bersifat transendental yang menjorok keluar batas pengalaman manusia tidak dapat disebut ilmu itu adalah agama.[6] Semua yang kita ketahui sepenuhnya tergantung pada data inderawi.

Bukti empiris terbatasi dengan prinsip-prinsip logika formal dan inferensi induktif tidak dapat dibuktikan melalui pengalaman, tokoh-tokohnya John Locke, George Berkeley, David Hume.

–         Kritisisme

Criterion (Bahasa Yunani, Kriteria: sebuah cara untuk menilai; dan kritis, hakim, seseorang yang memutuskan).

Sesuatu yang memampukan seseorang untuk mengetahui (mendiskriminasi, mengklasifikasi, memutuskan) hal-hal seperti: apakah sebuah pernyataan bersifat analitik atau sintetik benar atau salah dan lain-lain.[7]

Orientasi Hakikat Pengetahuan

–         Realisme

Aliran filsafat yang mempunyai anggapan upaya melihat sesuatu sebagaimana adanya tanpa idealisasi, spekulasi. Realisme bisa tertarik tentang bagaimana sesuatu seharusnya, tetapi hanya setelah penafsiran yang objektif dan jujur tentang bagaimana sesuatu itu dalam kenyataanya.

  1. Aristotelian

Teori bahwa universal-universal eksis secara independen dari persepsi kita tentang mereka. Akal mengabtrasinya dari persepsi indra tentang objek-objek didalamnya, abstraksi yang dihasilka merupakan pondasi bagi pengetahuan kita tentang realitas.[8]

  1.  Realisme common sense

Pandangan bahwa dunia eksternal seperti yang tampak (realis lansung atau realisme alamiah) kedua makna itu diasosiakan dengan madhab filsafat akal sehat Thomas Reid dari Skotlandia.

  1. Realisme Platonik

Universal-universal seperti kemanusiaan, keindahan, eksist dalam dunia eksternal secara independen dari persepsi kita. Tidak berubah-ubah dan abadi. Memiliki realitas yang lebih besar dari persepsi indra kita atau objek-objek material eksternal, merupakan sarana dengannya rasio mengenal kontrol-kontrol dan mengidentifikasi benda-benda dan dengan demikian memperoleh pengetahuan-pengetahuan.[9]

–         Idealisme

Idealisme kadang disebut mentalisme atau immaterialisme, itu bahwa: alam semesta adalah penjelmaan dari sebuah fikiran eksistensi realitas tergantung pada pikiran dan aktifitasnya.[10]

  1. Idealisme Plato

Realitas sejati dan absolut adalah alam yang sempurna, ada secara independen, tidak berubah, bentuk-bentuk ide yang tak berwaktu dan objek sejati seluruh pengetahuan.

  1. Idealisme George Berkeley

Objek persepsi kita adalah ide-ide yang masuk akal, ide-ide tak pernah ada tanpa sebuah pemikiran yang menerimanya/menghasilkannya. Dia beragumen, “Bahwa kita tidak mengindera benda material, namun hanya warna, suara, rasa, dan lain-lain, dan bahwa ini bersifat ‘mental’ atau ‘ada dalam pikiran’”.[11]

  1. Idealisme absolute Hegel

Benda-benda ada dalam kesadaran kita (Kesan inderawi) tetapi  dalam kesaling hubungannya dengan hal lain yang juga ada disana. Hubungan dan keterkaitan ini nyata.

  1. Idealisme Critical Kant

Esensi idealisme kritis adalah pembedaan yang tajam antara apa yang telah diberikan kepada kita oleh pengalaman kita dan struktur yang digunakan pikiran untuk mengatur, menafsir dan mengevaluasi apa-apa yang diberikan.[12]

  1. Idealisme Epistemological

Teori bahwa tidak ada yang dapat diketahui kecuali pikiran dan kandungan mentalnya.

  1. Idealisme metaphysical

Teori bahwa sebuah objek tak mungkin ada tanpa adanya sebuah pikiran (subjek, diri, ego) yang mempersepsinya.

  1. Idaelisme Pantheistic

Teori yang semua pikiran yang terbatas (dari aktifitas psikis) merupakan bagian/aspek (mode, ciri, khas, atribut) yang tak terpisah dari pemikiran absolute (Tuhan, pikiran, roh, jiwa) yang hanya dapat dipisahkan dalam abstraksi.

  1. Idealisme Pluralistic

Teori bahwa semua pikiran yang terbatas bersifat otonom, tidak dapat direduksi, saling terkait.

  1. Idealisme Subjective

Teori yang mengetahui dan yang diketahui tidak memiliki eksistensi yang independent.

  1. Idealisme Transendental (Kant)

Teori yang pengetahuan tentang dunia eksternal dihasilkan oleh kesatuan transendental (ego logical) apersepsi kita.

BAB III

KESIMPULAN

 

Secara etimologi, kata epistemologi berasal dari kata Yunani, episteme dan logos. Episteme berarti pengetahuan, sedangkan logos berarti ilmu. Jadi, epistemologi adalah teori tentang pengetahuan

Plato dapat dikatakan sebagai filsuf pertama yang secara jelas mengemukakan epistemologi dalam filsafat, meskipun ia belum menggunakan istilah epistemologi. Filsuf Yunani berikutnya yang berbicara tentang epistemologi adalah Aristoteles. Ia murid Plato dan pernah tinggal bersama Plato selama kira-kira 20 tahun di Akademia.

Descartes berpendapat bahwa ia telah menemukan metode yang dicarinya dalam usaha memperoleh pengetahuan, yaitu dengan menyangsikan segala-galanya.

Immanuel Kant merupakan pemikir kritis karena mempertanyakan the conditions of possibility dari pengetahuan manusia. Kant mengarahkan diri pada rasio manusia yang menjadi alat untuk menyelidiki perkara-perkara metafisis. Ia menyelidiki batas-batas kemampuan rasio untuk menemukan sejauh mana klaim-klaim rasio dapat dianggap benar.

Hegel memberikan kritik terhadap epistemologi Kant.  Menurutnya filsafat rasionalisme kritis Kant bersifat transendental. Dengan cara itu Kant ingin meletakkan rasio yang kritis di atas suatu dasar yang pasti dan tak tergoyahkan. Rasion semacam itu tak mengenal waktu, netral, dan ahistoris

Pada awalnya Marx  banyak dipengaruhi oleh Hegel. Saat itu Hegel seakan-akan telah memikirkan segala-galanya, sehingga Marx dan pengagum Hegel lainnya bertanya: “Adakah filsafat setelah Hegel?” Namun sampai juga saatnya, ada jalan keluar dari dilema pasca Hegel itu. Ditemukan bahwa realitas sosial-politik yang telah dipikirkan Hegel secara sempurna ternyata tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.

Daftar pustaka

  • Jujun Suria Sumantri, Filsafat Ilmu; Sebuah Pengantar Populer, Pt. Pustaka Sinar Harapan,Jakarta, 2001,
  • Kamus Filsafat, Tim Penulis Rosda Karya, Pt. Remaja Rosda Karya,Bandung, 1995,
  • Bertrand Russel, Sejarah Filsafat Yunani, Pt. Pustaka Pelajar, 2004
  • http://khudorisoleh.blogspot.com/2008/07/modelmodel-epistemologi-islam.html
  • http://agustianto.niriah.com/2008/03/11/mepistemologi-ekonomi-islam
  • Nasrah, “Pengetahuan Manusia dan Epistemologi Islam”, Universitas SumateraUtara
  • Hardiman, F. Budi. 1990 Kritik Ideologi;Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
  • Sugiharto, I.Bambang.1996. Postmodernisme; Tantangan bagi filsafat. Yogyakarta: Penerbit Kanisius
  • Sumaryono, E. 1993. Hermeneutik; Sebuah metode filsafat. Yogyakarta: Penerbit Kanisius
  • Sindhunata. 1983. Dilema  Usaha Manusia Rasional. Jakarta: Gramedia.
  • Stump, Samuel Enoch. 1982. Socrates to Sartre; A History of Philosophy. 3rd edition. New York: McGraw-Hill Co.

[2] Nasrah, “Pengetahuan Manusia dan Epistemologi Islam”, Universitas SumateraUtara. Hal 126

[4] Hasil Diskusi Dengan Kakak Senior (Diadakan Sesuai Kebutuhan)

[5] Kamus Filsafat, Tim Penulis Rosda Karya, Pt. Remaja Rosda Karya,Bandung, 1995, Hal. 96-97

[6] Jujun Suria Sumantri, Filsafat Ilmu; Sebuah Pengantar Populer, Pt. Pustaka Sinar Harapan,Jakarta, 2001, Hal. 104

[7] Kamus Filsafat, ………………., Hal. 67

[8] Ibid, Hal. 279

[9] Ibid, Hal. 280

[10] Ibid, Hal. 195

[11] Bertrand Russel, Sejarah Filsafat Yunani, Pt. Pustaka Pelajar, 2004, Hal. 852

[12] Kamus Filsafat……………….Hal. 146

This entry was posted in psi 2/j1. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s