Epistemologi

MAKALAH LOGIKA SAINTIFIK

Epistemologi

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah

Logika Saintifik

Dibimbing oleh :

Drs.Masduki Affandi

Disusun oleh :

Nur Evi Mega Utami    (B07210063)

FAKULTAS DAKWAH

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

SURABAYA

 2011

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI………………………………………………………………                                                                           1

BAB I     PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah…………………………………….                                                      2
  2. Rumusan Masalah……………………………………………                                                        2
  3. Tujuan Penelitian…………………………………………….                                                        2

BAB III  PEMBAHASAN

  1. Pengertian Epistimologi………………………………………                                                 3
  2. Macam-Macam Epistimologi………………………………                                                  4
  3. Obyek Epistimologi……………….…………………………….                                                 5
  4. Metode-Metode Epistimologi……………………………..                                                6
  5. Manfaat Epistimologi………………………………………….                                                  8

BAB IV  PENUTUP

  1. Kesimpulan………..…………………………………………..                                                       10

 

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………..                                                         11

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Membicarakan masalah epistimologi merupakan cakupan dari kajian filsafat yang mendasar dan cukup penting. Epistimologi merupakan hakikat kefilsafatan yang membahas mengenai kenyataan yang terdalam dan bagaimana mencari makna dan kebenaraan.

Sebagai sub system filsafat, epistimologi merupakan ternyata menyimpan misteri pemaknaan atau pengertian yang tidak mudah dipahami. Epistimologi ini merupakan bagian dari untuk mencapai suatu ilmu pengetahuan yang relevan. Tanpa epistimologi tidak mungkin suatu ilmu dapat berada saat ini dan diakui serta dipakai oleh manusia saat ini. Epistimologi ini memilki andil yang cukup penting dalam pengetahuan serta memilki manfaat yang cukup besar dalam perkembangan manusia.

 

  1. Rumusan Masalah

1)      Apa pengertian dari epistimologi?

2)      Apa saja macam-macam dari epistimologi?

3)      Apa obyek dari epistimologi?

4)      Apa metode-metode yang digunakan dalam epistimologi?

5)      Apa manfaat epistimologi dalam kehidupan manusia?

 

  1. Tujuan

Mengetahui makna, macam, obyek dari epistimologi, serta manfaatnya dalam kehidupan manusia.

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

Berpindah dari ilmu dakwah ke epistemologi

 

  1. Pengertian Epstimologi

Banyak pendapat yang mengartikan arti dari Epstimologi yang setiap pendapat memiliki kesamaan dan perbedaan sendiri. Pengertian epsrimologi dari beberapa tokoh antara lain:

P. hardono Hadi menyatakan, bahwa epstimologi adalah cabang filsafat yang mempelajari dan mencoba menentukan kodrat dan skope pengetahuan, pengandaian-pengandaian dan dasarnya, serta pertanggung jwaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki.[1]

Sedangkan D. W. Hamlyn mendefinisikan epstimologi sebagai cabang filsafata yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan, dasar dan pengandaian-pengandaian serta secara umum hal itu dapat diandalkannya sebagai penegasan bahwa orang memiliki pengetahuan. [2]

Inti pemahaman dari kedua pengertian tersebut hampir sama. Sedangkan hal yang membedakan adalah bahwa pengertian yang pertama menyinggung persoalan kodrat pengetahuan, kodrat berkaitan dengan sifat yang asali dari pengetahuan.  Sedangkan pengertian yang kedua tentang hakikat pengetahuan, hakikat pengetahuan berkaitan dengan cirri-ciri pengetahuan.

Dogobert D. Runes, menyatakan bahwa epstimologi adalah cabang filsafay yang membahas sumber,struktur, metode-metode dan validitas pengetahuan.[3]

Azyumardi Azra, menambahkan bahwa epstimologi adalah ilmu yang membahas tentang keaslian, pengertian, struktur, metode dab validitas pengetahuan.[4]

Jadi meskipun epstimologi itu merupakan subsistem filsafat, tetapi cakupannya luas sekali. Jika kita memadukan rincian aspek-aspek epstimologi, senagaimana diuraikan tersebut, maka teori pengetahuan itu bisa meliputi hakikat, leslian, sumber, struktur, metode, validitas, unsur, macam, tumpuan, batas, dasar, sasaran, pengandaian, kodrat, pertanggungjawaban dan skope pengerahuan. Jelasnya bahwa seluruh permasalahan yang berkaitan dengan pengetahuan adalah menjadi cakupan epstimologi. [5]

Tetapi pada kenyataannya saat ini epstimologi lebih terbatas pada konsepsi adal-usul atau sumber ilmu pengetahuan saja. Sementara aspek yang lain justru dianaikan dalam pembahasan epstimologi atau kurang mendapat perhatian yang lebih. Kencenderungan sepihak ini seolah-olah menimbulkan kesan bahwa cakupan wilayah pembahasan epstimologi itu hanya terbatas pada sumber dan pengetahuan, bahkan sering hanya diidentikkan dengan metode pengetahuan. Mungkin penyerdehanaan makna epstimologi digunakan untuk memudahkan pemahaman seseorang terutama pemula untuk memahami sistematika filsafat. Padahla epstimologi mencakup hal yang cukup luas seperti yang diungkapakan diatas.

 

  1. Macam-Macam Epistimologi

Dalam epistimologi ini terdapat beberapa macam yakni :[6]

Berdasarkan cara kerja atau metode pendekatan yang diambil terhadap gejala pengetahuan bisa dibedakan beberapa macam epitimologi. Yang pertama epstimologi yang mendekati gejala pengetahuan dengan bertitik tolak dari pengandain metafisika tentu disebut epistimologi metafisis. Epstimologi macam ini berabgkat dari suatu paham tertentu tentang kenyataan, lalu membahas tentang bagaimana manusia mengetahui kenyataan tersebut. Pendekaan seperti ini masuh dapat diguanakan tetapi epstimologi metafisis ini secara tidak kritis begitu saja mengandaikan bahwa kita dapat mengetahui kenyataan yang ada, dialami dan dipikirkan, serta hanya menyembunyikan diri dengan uraian seperti apa penegtahuan macam itu dan bagaimana diperoleh.

Macam epistimologi yang kedua adalah epistimologi skeptic. Dalam epistimologi macam ini, seperti misalnya nyang dikerjakan oleh Descartes, kita perlu membuktikan dulu apa yang dapat kita ketahui sebagai sungguh nyata atau benar-benar tak dapat diragukan lagi dengan menganggap sebagai tidak nyata atau kliru segala sesuatu yang kebenarannya masih dapat diragukan. Disini sesuatu yang dianggap benar belum tentu benar apabila belum dapat dibuktikan kebenarannya, sesuatu yang benar juga belum masih dapat terjadi kekeliruan. Dengan kata lain dalam epistimologi macam ini meragukan segala kebenaran yang ada sebelum dapat dibuktikan kembali. Meragukan kebenaran yang ada ini bermaksud agar adapat sampai kekebenaran yang tidak dapat diragukan lagi. Pada epistimologi ini menolak argument untuk membuktukan kebenaran pengetahyan berdasarkan otoritas (keagamaan).

Macam epistimologi yang ketiga adalah epistimologi kritis. Epistimologi ini tidak memprioritaskanm metafisika atau epistimologi tertentu, melainkan berangkat dari asumsi, prosedur, dan kesimpulan pemikiran akal sehat ataupun asumsi, prosedur, dan kesimpulan pemikiran alamiah senagai mana kita temukan dalam kehidupan, lalu kita coba tanggapi secara kritis asumsi, prosedur, dan kesimpulan tersebut. Sikap kritis diperlukan untuk pertama-tama berani mempertanyakan apa yang selama ini sudah diterima begitu saja tanpa dinalar atau di pertanggung jawabkan secara rasional, kemudian mencoba menemukan alas an yang sekurang-kurangnya masuk akal umtuk penerimaan atau penolakan.

 

  1. Obyek Dalam Epistimologi

Dalam filsafat terdapat objek materi dan objek forma. Objek materi adalah sarwa yang ada, yang secara garis besar meliputi hakikat tuhan, hakikat alam dan hakikat manusia. Sedangkan objek formal ialah usaha mencari keterangan secara radikal (sedalam-dalamnya, sampai keakarnya) tentang objek materi filsafat (sarwa yang ada).

Sebagi sub system filsafat, epistimologi atau teori penegtahuan yang pertama kali digagas oleh plato ini memilki obyek tertentu. Objek epistimologi ini menurut Jujun S. Suriasumantri berupa “segenap proses yang terlibat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan.”[7]

Proses untuk memperoleh pengetahuan inilah yang menjadi onjek epistimologi dan juga berfungsi sebagai mengantarkan tercapainya tujuan, sebab onjek itu merupakan suatu tahap pengantar yang harus dilalui terlebih dahulu untuk mencapai tujuan. Tanpa suatu objek, tidak mungkin tujuan dapat tercapai, sebaliknya tanpa suatu tujuan maka objeknya tidak terarah.

 

  1. Metode-Metode Dalam Epistimologi

Dalam kajian epistimologi ini terdapat beberapa metode yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan yakni :

  • Metode Empirisme

Yang pertama metode empirisme, seorang penganut empirisme biasanya berpendirian bahwa kita dapat memperoleh pengetahuan melalui pengalaman.[8] Metode empirisme ini menyatakan bahwa pengetahuan dapat diperoleh melalui pengalaman-pengalaman yang terjadi, serta dapat dilihat dan dirasa oleh indera.

Kebenaran menurut aliran ini dapat dicapai melauli observasi terhadap hal-hal yang bersifat empiric sensual (inderawi). Sesuatu dianggap ada jika indera manusia dapat menangkapnya. Dan sebaliknya sesuatu dianggap tidak ada jika indera manusia tidak dapat menangkapnya. [9]Ini menunjukkan bahwa Sesuatu itu dianggap benar apabila indera dapat menangkapnya begitu pula sebaliknya.

Seperti disebutkan diatas bahwa pengerahuan dapat diperoleh melalui pengalamn-pengalaman. Pengalaman merupakan akibat suatu objek yang merangsang alat indrawi, yang secara demikian menimbulkan rangsangan syaraf-syaraf yang diteruskan ke otak. Didalam otak , sumber rangsangan tadi dipahami sebagimana adanya, atau berdasarkan atas rangsangan tersebut dibentuklah tanggapan-tanggapan mengenai objek yang telah merangsang alat indrawi tadi. Menurut penganut empirisme, begitulah pengetahuan terjadi.[10]

  • Rasionalisme

Rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal.[11]Disini rasionalisme lebih condong pada akal bahwa pengetahuan itu diperoleh melalui akal semata bukan pada yang lain, ia memandang bahwa pengalaman itu sebagai perangsang akal pikiran semata. Walaupun begitu pengalaman sebagai bahan pembantu atau pendorong dalam penyelidikan untuk memperoleh kebenaran.

Metode rasionalis ini memilki tempat yang cukup istimewa, terutama pada saat mengukur keabsahan kebenaran ilmu pengetahuan. Betapa pun bagusnya temuan ilmu pengetahuan, bila tidak rasional (tidak diterima akal manusia) kebenarannya, maka temuan tersebut tidak akan diakui sebagai kebenaran ilmiah.[12]

Memang metode rasio cukup mendominasi dalam pengetahuan, dengan rasio manusia dapat menciptakan atau menemukan sesuatu yang baru. Karena manusia telah dikaruniai oleh Tuhan suatu kemampuan untuk berpikir yang dengannya manusia memiliki harkat dan martabat, sehingga manusia memilki kemampuan untuk mengolah, memelihara, memanfaatkan serta bahkan merusak alam. Tetapi tidak semua hal dapat dipikir secara rasional oleh semua manusia, itulah yang menjadi kelemahan metode ini.

Belakangan ini banyak temuan ilmu pengetahuan yang secara rasional merupakam prestasi intelektual yang membanggakan, tetapi meresahkan masyarakat. Senjata nuklir misalnya, sebagai produk ilmu pengetahuan yang bertopang pada rasio tentu harus dihargai. Namun, secara kemanusian, banyak orang yang takut akan keberadaannya termasuk mungkin penciptaannya. Ketika upaya pengembangan ilmu pengetahuan hanya didasari pertimbangan rasional, niscaya tidak mempedulikan akibat buruknya yang dialami masyarakat. Yang dipentingkan dalam pertimbangan rasional itu hanya pengejaran prestasu intelektual, dinamika pengetahuan dan kemajuan peradaban. [13]Mungkin ini salah satu akibat apabila kita terlalu mendewakan akal atau rasio.

  • Metode Ilmiah

Perkembangan ilmu-ilmu alam merupakan hasil penggunaan secara sengaja suatu metode untuk memperoleh pengetahuan yang menggabungkan pengalaman dan akal sebagai pendekatan bersama., dan menambahkan suatu cara baru untuk menilai penyelesaian-penyelesaian yang disarankan.[14] Metode ini menyelaraskan dua medode yang ada untuk dijalankan secara bersama untuk memperoleh pengetahuan yang akurat.

 

  1. Manfaat Dari Epistimlogi

Epistimologi pada dasarnya merupakan suatu kajian filosofis (menggeluti masalah umum, menyeluruh dan mendasar) tentang pengetahuan. Bagaimnana pun juga, manusia sebagai mahluk rasional akan selalu terdorong untuk mencari dasar pijakan yang paling tidak untuk sementara waktu bisa diijadikan sebagai acuan pertanggungjawaban klaim tentang kebenaran pengetahuannya.

Penjelasan yang diberikan oleh A. M. W. Pranaka, bahwa sekurang-kurangnya ada tiga alasan yang dapat dikemukakan mengapa epistimologi perlu dipelajari. Alasan pertama berangkat dari pertimbangan strategi, alasan kedua dari pertimbangan kebudayaan, dan alasan ketiga berangkat dari pertimbangan pendidikan. Ketiga alasan tersebut semuanya berpangkal pada pentingnya pengetahuan dalam kehidupan manusia.[15]

Mengenai alasan yang pertama, yakni berdasarkan pertimbangan strategis, kajian epistimologi perlu karena pengetahuan sendiri merupakan hal yang secara strategis penting bagi hidup manusia. Strategi berkenaan dengan bagaimana mengelola kekuasaan atau daya kekuatan yang ada sehingga tujuan dapat tercapai. Pengetahuan pada dasarnya adalah suatu kekuasaan atau daya kekuatan. Pengetahuan mempunyai daya kekuaan untuk mengubah kedaan.[16]

Dalam zaman yang semakin didomonasi oleh kekuatan teknologi yang berbasiskan penegtahuan dewasa ini, kita didasarkan oleh kenyataan bahwa dapat menguasai sumber pengetahuan yang dibutuhkan banyak orang yang berarti dapat menguasai keadaan. Kekuatan ekonomi, politik, militer pada saat ini semakin erat terkait dengan kekuatan teknologi yang berbasiskan pengetahuan.

Berkenaan dengan alasan yang kedua, yakni alasan brdasarkan pertimbangan kebudayaan, penjelasan yang pokok adalah kenyataan bahwa pengetahuan merupakan salah satu unsure dasar kebudayaan. Memang kebudayaan mempunyai unsure-unsur penting lain seperti system kemasyarakatan, system religi, system bahasa, system seni, system ekonomi, sisem teknologi, system symbol serta pemaknaanya, dan sebagainya.[17]

Berkat penegtahuan manusia dapat mengolah dan memanfaatkan alam lingkungannya. Ia juga dapat mengenali permasalahan yang dihadapi, menganalisis, menafsirkan pengalaman dan pperistiwa-peristiwa yang dihadapinya, menilai sesuatu serta mengambil keputusan untuk berkegiatan. Dengan daya pengetahuannya manusia membudayakan alam, membudayakan masyarakat, dan dengan demikian membudayakan dirinya sendiri.

Epistimologi juga penting untuk melihat bagaimana perkembangan sejarah kebudayaan dipengaruhi oleh perkembangan pengetahuan. Sejarah kebudayaan modern, yang dapat dikatakan mulai dengan zaman renansains dan munculnya humanisme, antara lain juga ditandai oleh muncul dan perkembangannya sains. Muncul dan berkembangnya penelitian serta penemuan dalam bidang sains sulit dipisahkan dari munculnya kesadaran diri manusia sebagai makhluk reasional dan otonom.

Mengenai alasan yang ketiga, yakni yang berdasarkan pertimbangan pendidikan, epistimologi perlu dipelajari kerena manfaatnya untuk bidang pendidikan. Pendidikan sebagai usaha dasar untuk membantu peserta didik mengembangkan pandangan hidup dan keterampilan hidup, tidak dapat lepas dari penguasaan pengetahuan.[18]

Pendidikan juga perlu mengembangkan peserta didik  menuju kematangan spiritual, moral, emosional, dan sosialnya. Akan tetapi dalam dalam kesemuanya itu aspek pengetahuan tetap berperan. Apalagi pengetahuan yang dimaksud bukan hanya pengetahuan tentang alam dunia dengan berbagai isinya, teapi juga pengenalan diri sendiri.

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

 

Bahwa pengertian epistimologi itu tidak hanya terbatas pada cara-cara memperoleh pengetahuan saja, Tetapi lebih luas dari itu yakni teori pengetahuan itu bisa meliputi hakikat, leslian, sumber, struktur, metode, validitas, unsur, macam, tumpuan, batas, dasar, sasaran, pengandaian, kodrat, pertanggungjawaban dan skope pengerahuan. Objek dari epistimologi yaitu segenap proses yang terlibat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan. Epistimologi juga dibagi menjadi beberapa macam yaitu, epistimologi metafisika yang membahas bagaiman manusia memperoleh kenyataan, epistimologi skeptic yang berangkat dari suatu keraguan jadi segaka kenyataan atau kebenaran perlu untuk dibuktikan terlebih dahulu, epistimologi kritis berangkat dari asumsi, prosedur, dan kesimpulan pemikiran akal sehat ataupun asumsi, prosedur, dan kesimpulan pemikiran alamiah senagai mana kita temukan dalam kehidupan, lalu kita coba tanggapi secara kritis asumsi, prosedur, dan kesimpulan tersebut.

Dalam epistimologi juga terdapat metode-metode yang dilakukan, metode empirisme bahwa pengetahuan diperoleh melalui pengalaman, metode rasional bahwa pengetahuan itu diperoleh melalui akal pikiran pengalaman hanya sebagi perangsang akal pikiran, metode ilmiah yaitu menggabungkan kedua metode empirisme dan rasionalisme serta menambah beberapa cara yang berkaitan untuk memperoleh pengetahuan. Epistimologi ini sangat bermanfaat dalam kehidupn manusia karena pengetahuan merupakan suatu yang penting dalam kehidupan manusia karena yang mendorong perkembangan manusia adalah pengetahuannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

J. Sudarminta. 2002. Epistimologi Pengantar Dasar Filsafat Pengetahuan. Kanisius: Yogyakarta.

Louis O. Kattsoff. 2004. Pengantar Filsafat.  Tiara Wacana Yogya: Yogyakarta.

Mujamil Qomar. 2005. Epistimologi Pendidikan Islam. Erlangga: Jakarta.

Nur Syam. 2003. Filsafat Dakwah. Jenggala Pustaka Utama: Surabaya.

 

 


[1] Mujamil Qomar. Epistimologi Pendidikan Islam. (Jakarta: Erlangga, 2005)hal. 3

[2] Ibid. hal. 3

[3] Ibid. hal. 4

[4] Ibid. hal. 4

[5] Ibid. hal. 5

[6] J. Sudarminta. Epistimologi Pengantar Dasar Filsafat Pengetahuan. (Yogyakarta: Kanisius, 2002)hal. 21-22

[7] Mujamil Qomar. Epistimologi Pendidikan Islam. (Jakarta: Erlangga, 2005)hal. 8

[8] Louis O. Kattsoff. Pengantar Filsafat.(Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004)hal. 132

[9] Nur Syam. Filsafat Dakwah.(Surabaya:Jenggala Pustaka Utama, 2003)hal. 72

[10] Ibid. Pengantar Filsafat. Hal. 134

[11] Ibid. Pengantar Filsafat. Hal. 135

[12] Mujamil Qomar. Epistimologi Pendidikan Islam. (Jakarta: Erlangga, 2005)hal. 64

[13] Ibid. Epistimologi Pendidikan Islam.halm. 66

[14] Louis O. Kattsoff. Pengantar Filsafat.(Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004)hal. 142

[15] J. Sudarminta. Epistimologi Pengantar Dasar Filsafat Pengetahuan. (Yogyakarta: Kanisius, 2002)hal. 26

[16] Ibid. Epistimologi Pengantar Dasar Filsafat Pengetahuan.hal. 26

[17] Ibid. Epistimologi Pengantar Dasar Filsafat Pengetahuan.hal. 26-27

[18] J. Sudarminta. Epistimologi Pengantar Dasar Filsafat Pengetahuan. (Yogyakarta: Kanisius, 2002)hal. 28

This entry was posted in psi 2/j1. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s