INTERAKSIONISME SIMBOLIK

Nama                          : Aniyatul Himami

NIM                             : B05210025

Kelas                           : 2/F1

Jurusan                       : Sosiologi

Dosen Pembimbing   : Masduqi Affandi

 

LOGICA SCIENTIFIC

“ TEORI INTERAKSIONISME SIMBOLIK”

  1. 1.      Contoh kasus

Kajian kasus aktual teori interaksi simbolik adalah mengambil contoh “SBY bersama Boediono (SBY Berbudi)”, dimana dua tokoh ini akan menjadi satu dari tiga kandidat calon presiden dan wakil presiden RI periode 2009-2014. Alasan penulis untuk memilih contoh ini adalah menanggapi dikotomi-dikotomi yang berkembang dimasyarakat sejak dulu, dimana ada dikotomi menggunakan simbol-simbol yang mengatakan bahwa calon presiden RI harus dari jawa, atau calon presiden dan wakil presiden berasal dari dua latar belakang yang berbeda, seperti: jawa dan non jawa, sipil dan militer, serta lain sebagainya.

Namun sejak pemilihan Boediono oleh SBY sebagai calon pendampingnya menjelang pemilihan presiden RI mendatang, terlihat banyak kontroversi di tengah komunikasi politik yang berkembang, antara lain: penolakan partai-partai islam dan 23 partai yang menjadi koalisi partai demokrat, anggapan Boediono sebagai antek kapitalis yang pro barat, anggapan SBY yang tidak mencerminkan nusantara, karena memilih wakil presidennya dari satu provinsi yang sama, seolah-olah tidak

mampu mencerminkan kebhineka-an, dan banyak lagi kontroversi lainnya.

Penulis beranggapan bahwa di zaman modern saat ini, sudah tidak tepat lagi, jika kita masih terlalu sempit memandang kepemimpinan itu berdasarkan dikotomi-dikotomi yang ada sejak dulu. SBY menunjukkan bahwa sudah perlu adanya ”pergeseran” saat ini, bahwa simbol-simbol yang ada dari dikotomi selama ini, sudah waktunya mengalami perubahan, dan masyarakat perlu mendapatkan pendidikan politik yang baik, dimana sudah tidak tepat lagi untuk menilai kepemimpinan dari pandangan yang sempit. Kepemimpinan bukan lagi dilihat berdasarkan dikotomi lama, tapi haruslah dilihat dari segala aspek yang kompleks dan kapabilitas seseorang itu tanpa memandang asal-usul budayanya. Untuk menjadi negara yang maju, sudah waktunya kita keluar dari ”Safety box” yang selama ini ternyata membelenggu, bahkan menyebabkan bangsa ini hanya jalan di tempat.

Contoh ini menunjukkan bahwa dalam proses komunikasi individu di tengah interaksi masyarakat, untuk membentuk suatu makna berdasarkan kesepakatan bersama, tidak lagi mengganggap bahwa makna yang selama ini telah terbentuk itu bersifat sakral.

SBY menunjukkan bahwa pemahaman makna bisa bergeser atau mengalami perubahan sesuai dengan zamannya, terhadap dikotomi- dikotomi yang menggunakan simbol-simbol tersebut, proses pergeseran makna melalui simbol-simbol dilakukan di tengah interaksi masyarakat, dengan tujuan untuk membentuk pemaknaan yang baru yang dapat disepakati secara bersama di tengah masyarakat[1].

  1. 2.      Teori Interaksionisme Simbolik

Teori Interaksionisme Simbolik ini berkembang pertama kali di Universitas Chicago dan dikenal pula sebagai aliran Chicago. Tokoh utamanya berasal dari berbagai universitas di luar Universitas Chicago sendiri. Dua orang tokoh besarnya John Dewey dan Charles Horton Cooley adalah filosof yang semula mengembangkan Teori Interaksionisme Simbolik di Universitas Michigan.[2]

Herbert Blumer seorang tokoh modern dari Teori Interaksionisme Simbolik mengatakan bahwa Interaksionisme Simbolik merujuk pada karakter interaksi khusus yang berlangsung antar manusia. Aktor tidak semata-mata bereaksi terhadap tindakan yang lain tetapi dia menafsirkan dan mendefinisikan setiap tindakan orang lain. Respon aktor baik secara langsung maupun tidak selalu didasarkan atas penilaian makna tersebut. Oleh karenanya, interaksi manusia dijembatani oleh penggunaan simbol-simbol penafsiran atau dengan menemukan makna tindakan orang lain.[3]

Kekhasannya adalah bahwa manusia saling menerjemahkan dan saling mendefinisikan tindakannya. Bukan hanya sekedar reaksi belaka dari tindakan seseorang terhadap orang lain. Tanggapan seseorang tidak dibuat secara terhadap orang lain, tetapi didasarkan atas “makna” yang diberikan terhadap tindakan orang lain itu. Interaksi antar individu, diantarai oleh penggunaan simbol-simbol, interpretasi atau dengan saling berusaha untuk saling memahami maksud dari tindakan masing-masing. Jadi dalam proses  interaksi manusia manusia itu bukan suatu proses di mana adanya stimulus secara otomatis dan langsung menimbulkan tanggapan atau respon. Tetapi antara stimulus yang diterima dan respon yang terjadi sesudahnya, diantarai oleh proses interpretasi oleh si aktor. Jelas proses interpretasi ini adalah proses berpikir yang merupakan kemampuan yang khas dimiliki manusia.[4]

Kesimpulan utama yang perlu diambil dari uraian tentang substansi Teori Interaksionisme Simbolik ini adalah sebagai berikut. Kehidupan bermasyarakat terbentuk melalui proses interaksi dan komunikasi antar individual dan antar kelompok dengan menggunakan simbol-simbol yang dipahami maknanya melalui proses belajar. Tindakan seseorang dalam proses interaksi itu bukan semata-mata merupakan suatu tanggapan yang bersifat langsung terhadap stimulus yang datang dari lingkungannya atau dari luar dirinya. Tetapi tindakan itu merupakan hasil daripada proses interpretasi terhadap stimulus. Jadi merupakan hasil proses belajar, dalam arti memahami simbol-simbol, dan saling menyesuaikan makna dari simbol-simbol itu. Meskipun norma-norma, nilai-nilai sosial dan makna dari simbol-simbol itu memberikan pembatasan terhadap tindakannya, namun dengan kemampuan berpikir yang dimilikinya manusia mempunyai kebebasan unutk menentukan tindakan dan tujuan-tujuan yang hendak dicapainya.[5]

DAFTAR PUSTAKA

http://www.scribd.com.

Ritzer, George. Sosiologi Ilmu Berparadigma Ganda. Jakarta : Rajawali Pers, 2010.

M. Zeitlin, Irving. Memahami Kembali Sosiologi. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press, 1998.


[2] George Ritzer, Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda (Jakarta : Rajawali Pers, 2010), hal 50.

[3] Irving M. Zeitlin, Memahami Kembali Sosiologi (Yogyakarta : Gadjah Mada University Press, 1998), hal 331-332.

[4] George Ritzer, op.cit., hlm 52

[5] Ibid., hlm 58-59

This entry was posted in sos2/F1. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s