Teori Strukural Fungsional dalam Fakta Sosial

Teori Strukural Fungsional dalam Fakta Sosial

 

Diajukan untuk memenui tugas mata kuliah

logika Scientific

 

 

 

                                                                                       

 

                                           

 

Oleh :

Hidayat Muchlis ( B75210075 )

 

Dosen :

Drs. Masduqi Affandi, M.Pd.I

Program Studi Sosiologi

Fakultas Dakwah

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

S U R A B A Y A

2011

 

KATA PENGANTAR

 

Assalammu’alaikum  wr. wb

Segala puji hanya milik Allah SWT karena berkat rahmat dan Karunia –Nya penyusunan makalah Logika Scientific dapat terselesaikan dengan tanpa halangan apapun.

Pembuatan makalah ini tidak lepas dari orang – orang yang mendukung kami dalam doa maupun dalam bentuk lain. Untuk itu penulis mengucapkan terimakasih kepada Dosen pembimbing Logika Scientific bapak Drs. Masduqqi Affandi, M.Pd.I, yang telah membimbing dan mengajarkan  ilmu kepada kami.

Penulis menyadari bahwa laporan ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis berharap para pembaca makalah ini menerima bentuk kritik dan saran yang membangun  diharapkan untuk kesempurnaan makalah ini.

Merupakan suatu harapan pula, semoga makalah ini dapat tercatat sebagai amal saleh dan menjadi motivator bagi penulis untuk menyusun makalah lain yang lebih baik dan bermanfaat.

Akhir kata penulis mengucapkan banyak terima kasih. Semoga bantuan dan kebaikan ibu dalam membimbing dan mengajarkan ilmu kepada penulis mendapat balasan dari Allah SWT.

Wabillahi taufiq wal hidayah, wassalammu’alaikum  wr. wb.

 

Surabaya,  17 Juni 2011

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang

Seringkali kita jumpai dalam kehidupan sehari – hari ada seseorang berkomentar : “itu kan hanya teori, tetapi kenyataan tidaklah begitu”. Betulkah ada pertentangan antara teori dan kenyataan? Sesungguhnya teori tidaklah bertentangan dengan kenyataan. Justru teori bertujuan untuk menjelaskan kenyataan yang ada.

Dalam kehidupan sehari – hari, kita banyak berteori, baik itu dilakukan secara sadar maupun tidak. Misalnya, masih adanya sementara penduduk yang tidak mau berpartisipasi dalam keluarga berencana. Salah satu pertanyaan yang timbul adalah mengapa masih banyak orang yang tidak mau melakukan KB? Secara sadar atau tidak, kita akan mencoba memberikan jawaban dari pertanyaan mengapa itu. Beberapa jawaban kita kembangkan. Kita memberikan alas an – alas an untuk menduung jawaban tersebut.

Jawaban – jawaban yang diperoleh kebanyakan juga berdasarkan fakta atau pengalaman yang mampu kita serap. Beberapa jawaban dibuang. Secara sadar atau tidak kita sedang berteori, mengembangkan teori. Jadi berteori merupakan aktivitas mental untuk mengembangkan ide yang dapat menerangkan mengapa dan bagaimana sesuatu itu terjadi. Dalam kegiatan ilmiah, mengembangkan teori tidak berbeda dengan apa yang kita temui dalam kehidupan sehari – hari. Kalau ada perbedaan hanyalah pengembangkan teori ini dilakukan dengan lebih sistematis, lebih komprehensif, harus memenuhi aturan dan mematuhi larangan, dan yang penting lagi, dilakukan dengan penuh kesadaran.

  1. B.     Rumusan Masalah

–          Apakah paradigma dari Fakta Sosial?

–          Apakah teori itu?

–          Sebutkan fungsi dari teori?

–          Bagaimanakah penerapan teori Struktural Fungsional dalam fakta sosial?

  1. C.    Tujuan

–          Untuk mengetahui paradigma dari fakta sosial.

–          Untuk mengetahui apakah definisi dari teori itu.

–          Untuk mengetahui fungsi dari teori tersebut.

–          Untuk mengetahui bagaimana cara penerapan teori struktur fungsional dalam fakta sosial.

 


 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.    Paradigma Fakta Sosial

Menurut pendapat Emille Durkheim, fakta sosial dianggap sebagai barang sesuatu ( Thing ) yang berbeda dengan ide yang menjadi obyek penyelidikan seluruh ilmu pengetahuan dan tidak dapat dipahami melalui kegiatan mental murni ( Spekulatif ). Tetapi, untuk memahaminya diperlukan penyususnan data riil di luar pemikiran manusia. Fakta sosial ini terdiri atas dua jenis, yaitu[1]

  1. Dalam bentuk material, berupa barang sesuatu yang dapat disimak, ditangkap dan diobservasi, contohnya arsitektur atau norma hukum.
  2. Dalam bentuk nonmaterial, merupakan fenomena yang terkandung dalam diri manusia sendiri hanya muncul dalam kesadaran manusia.

Secara garis besarnya Fakta sosial yang menjadi pusat perhatian penyelidikan sosiologi terdiri atas dua tipe, yaitu : ( 1 ) struktur sosial ( social structure ) dan ( 2 ) pranata sosial ( social institution ). Setiap masyarakat terdiri atas kelompok – kelompok yang meiliki norma – norma. Norma dan pola nilai ini disebut pranata sedangkan jaringan hubungan sosial di mana interaksi sosial berproses dan menjadi terorganisir serta melalui mana posisi – posisi sosial dari individu dan sub kelompok dapat dibedakan dinamakan struktur sosial.[2]

Dengan demikian struktur dan pranata sosial inilah yang menjadi pokok persoalan penyelidikan sosiologi menurut paradigma fakta sosial. Berikut ini ada 4 varian teori yang tergabung dalam paradigma fakta sosial ini. Masing – masing varian itu, adalah :

  1. Teori Struktural Fungsional
  2. Teori Konflik
  3. Teori Sistem
  4. Teori Sosiologi Makro

Diantara keempat teori ini, teori yang paling dominan adalah Teori Struktural Fungsional dan Teori Konflik. Oleh karenanya secara singkat teori pertama tersebut akan dikemukakan sebagai berikut ini.

  1. B.     Teori Struktural Fungsional
  2. a.      Definisi dan Fungsi Teori

Ada banyak ahli yang memberikan definisi teori. Kerlinger ( 1973 ) menyatakan teori adalah sekumpulan konsep, definisi, dan proposisi yang saling kait – mengkait yang menghadirkan suatu tinjauan secara sistematisatas fenomena yang ada dengan mengajukan secara spesifik hubungan – hubungan diantara variable – variable yang terkait dalam fenomena, dengan tujuan memberikan eksplanasi dan prediksi atas fenomena tersebut. Gibbs ( 1972 ) mendefinisikan teori sebagai suatu kumpulan statemen yang mempunyai kaitan logis, merupakan cermin dari kenyataan yang ada tentang sifat – sifat atau ciri – ciri suatu khas, peristiwa atau sesuatu benda. Ahli lain, Hage ( 1972 ) menyatakan bahwa teori harus mengandung tidak hanya konsep dan statemen tetapi juga definisi, baik definisi teoritis maupun definisi operasional dan hubungan logis yang bersifat teoritis dan operasional antara konsep atau statemen tersebut.[3]

Dari beberapa definisi yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa suatu teori harus (a) mengandung konsep, definisi, proposisi, (b) ada hubungan logis di antara konsep – konsep, definisi – definisi, dan proposisi – proposisi, (c)  hubungan – hubungan tersebut menunjukan atau merupakan cermin fenomena sosial, (d) dengan demikian teori dapat digunakan untuk eksplanasi dan prediksi.[4]

Suatu teori dapat diterima dengan dua kriteria : (a) criteria ideal dan (b) kriteria pragmatis. kriteria ideal mengemukakan bahwa teori akan dapat diakui apabila memenuhi persyaratan  sebagai berikut :

(1)   Sekumpulan ide yang dikemukakan mempunyai hubungan logis dan konsisten

(2)   Sekumpulan ide – ide yang dikemukakan harus mencakup variabel yang diperlukan untuk menerangkan fenomena yang dihadapi

(3)   Kumpulan ide – ide tersebut mengandung preposisi – preposisi di man aide yang satu dengan yang lain tidak tumpang tindih

(4)   Kumpulan ide – ide tersebut dapat dites secara empiris.

Sedangkan kriteria pragmatis mengemukakan bahwa ide – ide dikatakan sebagai teori kalau ada ide – ide tersebut memiliki :

(1)   Asumsi dan paradigm

(2)   Frame reference

(3)   Konsep – konsep

(4)   Variabel

(5)   Proposisi

(6)   Hubungan yang sistematis dan bersifat kausal diantara konsep – konsep dan proposisi – proposisi tersebut.

Berikut ini adalah beberapa fungsi dari teori, antara lain sebagai berikut :

(1)   Untuk sistematisasi pengetahuan

(2)   Untuk ekplanasi, prediksi, dan kontrol sosial

(3)   Untuk mengembangkan hipotesa

  1. b.      Teori dan penerapannya dalam fakta sosial

Beberapa tokoh utama pengembang dan pendukung teori Struktural Fungsional pada zaman modern ini bisa disebut antara lain Talcott Parsons, Robert K. Merton dan Neil Smelser. Teori Struktural Fungsional dalam menjelaskan perubahan – perubahan yang terjadi di masyarakat mendasarkan pada tujuh asumsi ( Lauer, 1977 ).[5]

  1. Masyarakat harus dianalisis sebagai satu kesatuan yang utuh yang terdiri dari berbagai bagian yang saling berinteraksi.
  2. Hubungan yang ada bisa bersifat satu arah atau hubungan yang bersifat timbal balik.
  3. Sistem sosial yang ada bersifat dinamis, dimana penyesuaian yang ada tidak perlu banyak merubah sistem sebagai satu kesatuan yang utuh.
  4. Integrasi yang sempurna di masyarakat tidak pernah ada, oleh karena itu di masyarakat senantiasa timbul ketegangan – keteganagan dan penyimpangan – penyimpangan. Tetapi ketegangan – ketegangan dan penyimpangan – penyimpangan ini akan dinetralisir lewat proses pelembagaan.
  5. Perubahan – perubahan akan berjalan secara gradual dan perlahan – perlahan sebagai suatu proses adaptasi dan penyesuaian.
  6. Perubahan adalah merupakan hasil penyesuaian dari luar, tumbuh oleh adanya diferensiasi dan inovasi.
  7. Sistem diintegrasikan lewat pemilikan nilai – nilai yang sama.

 

Menurut teori struktural Fungsional, masyarakat sebagai suatu sistem memiliki struktur yang terdiri dari banyak lembaga, dimana masing – masing lembaga memiliki fungsi sendiri – sendiri.[6] Struktur dan fungsi, dengan kompleksitas yang berbeda – beda, ada pada setiap masyarakat, baik masyarakat modern maupun masyarakat primitif. Misalnya, lembaga sekolah mempunyai fungsi mewariskan nilai – nilai yang ada kepada generasi baru. Lembaga keagamaan berfungsi membimbing pemeluknya menjadi anggota masyarakat yang baik dan penuh pengabdian untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akherat. Lembaga ekonomi memilki fungsi untuk mengatur proses produksi dan distribusi barang – barang dan jasa – jasa di masyarakat. Lembaga politik berfungsi menjaga tatanan sosial agar berjalan dan ditaati sebagaimana mestinya. Lembaga keluarga berfungsi menjaga keberlangsungan perkembangan jumlah penduduk.

Kesemua lembaga yang ada di masyarakat akan senantiasa saling berinteraksi dan satu sama lain akan melaksanakan penyesuaian sehingga di masyarakat akan senantiasa berada pada keseimbangan.

Memang, ketidakseimbangan akan muncul, tetapi ini hanya bersifat sementara. Karena adanya ketidakseimbangan di suatu lembaga sehingga fungsi lembaga tersebut terganggu, akan mengundang lembaga lain untuk menyeimbangkan kembali.

Sebagai contoh, sistem transportasi di suatu kota. Pada tahun 1960 – an di kota Yogyakarta, belum adanya angkutan kota. Oleh karenanya, untuk keperluan – keperluan bepergian baik ke kantor, ke sekolah atau pun ke tempat lain, masyarakat kalau ingin menggunakan kendaraan umum bisa menggunakan becak atau andong. Lembaga ekonomi mengetahui bahwa masyarakat akan lebih tercukupi kebutuhannya kalau ada angkuatn kota berupa colt.

Usaha menyediakan kolt sebagai angkutan kota tersebut akan sangat menguntugkan baik bagi masyarakat maupun bagi pengusaha. Apalagi, kalau bentuk angkutan kota adalah colt pick – up. Oleh karenanya, lembaga ekonomi menyediakan angkutan kota dalam wujud colt pick – up.

Hasilnya, masyarakat senang, karena tujuan yang dapat ditempuh dalam waktu yang relative singkat dan ongkosnya relative murah. Pengusaha ( sebagai wujud lembaga ekonomi ) senang karena mendapatkan keuntungan. Tetapi, beberapa waktu kemudian dampak negatif muncul, yaitu ketegangan – ketegangan di masyarakat, karena pengendara becak dan andong mulai unjuk rasa.

Karena pengendara becak dan andong merasa rugi atau rezekinya mereka  di ambil oleh angkutan kota. Melihat ketegangan masyarakat, lembaga politik mulai mengambil langkah penyesuaian. Pemerintah atau pun DPR membuat aturan jalan mana saja yang boleh dilalui oleh kendaraan umum angkutan kota. Kendaraan angkutan kota tidak boleh seenaknya sendiri dalam mengambil penumpang.

Dengan aturan ini pengusaha angkutan kota untung, masyarakat untung, demikian pula pengendara becak dan andong tetap mendapatkan rezeki. Dan masyarakat berada dalam keseimbangan kembali, dengan kondisi uang lebih maju dan baik dari pada kondisi sebelumnya. Di mana masyarakat bisa pergi dengan lebih bebas dan murah. Salah satu pakar teori structural fungsional, Talcott Parsons, mengembangkan teori yang disebut “ The Structure Of Sosial Action ”.

Dalam teori ini Parsons mengemukakan tentang konsep perilaku sukarela yang mencakup beberapa elemen pokok.[7]

1)      Aktor sebagai individu.

2)      Aktor memiliki tujuan yang ingin dicapai.

3)      Aktor memiliki berbagai cara – cara yang mungkin dapat dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang diinginkan tersebut.

4)      Aktor dihadapkan pada berbagai kondisi dan situasi yang dapat mempengaruhi pemilihan cara – cara yang akan digunakan untuk mencapai tujuan tersebut.

5)      Aktor dikomando oleh nilai – nilai, norma – norma dan ide – ide dalam menentukan tujuan yang diinginkan dan cara – cara untuk mencapai tujuan tersebut.

6)      Perilaku, termasuk bagaimana aktor mengambil keputusan tentang cara – cara yang akan digunakan untuk mencapai tujuan, dipengaruhi ole ide – ide dan situasi – kondisi yang ada.

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Menurut pendapat Emille Durkheim, fakta sosial dianggap sebagai barang sesuatu ( Thing ) yang berbeda dengan ide yang menjadi obyek penyelidikan seluruh ilmu pengetahuan dan tidak dapat dipahami melalui kegiatan mental murni ( Spekulatif ).

Secara garis besarnya Fakta sosial yang menjadi pusat perhatian penyelidikan sosiologi terdiri atas dua tipe, yaitu : ( 1 ) struktur sosial ( social structure ) dan ( 2 ) pranata sosial ( social institution ).

Berikut ini ada 4 varian teori yang tergabung dalam paradigma fakta sosial ini. Masing – masing varian itu, adalah : (1) Teori Struktural Fungsional, (2) Teori Konflik, (3) Teori Sistem, (4) Teori Sosiologi Makro. Diantara keempat teori ini, teori yang paling dominan adalah Teori Struktural Fungsional dan Teori Konflik. Oleh karenanya secara singkat teori pertama tersebut akan dikemukakan sebagai berikut ini.

Para Ahli memberikan definisi teori. Kerlinger ( 1973 ) menyatakan teori adalah sekumpulan konsep, definisi, dan proposisi yang saling kait – mengkait yang menghadirkan suatu tinjauan secara sistematisatas fenomena yang ada dengan mengajukan secara spesifik hubungan – hubungan diantara variable – variable yang terkait dalam fenomena, dengan tujuan memberikan eksplanasi dan prediksi atas fenomena tersebut. Gibbs ( 1972 ) mendefinisikan teori sebagai suatu kumpulan statemen yang mempunyai kaitan logis, merupakan cermin dari kenyataan yang ada tentang sifat – sifat atau ciri – ciri suatu khas, peristiwa atau sesuatu benda. Ahli lain, Hage ( 1972 ) menyatakan bahwa teori harus mengandung tidak hanya konsep dan statemen tetapi juga definisi, baik definisi teoritis maupun definisi operasional dan hubungan logis yang bersifat teoritis dan operasional antara konsep atau statemen tersebut.

Dari beberapa definisi yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa suatu teori harus (a) mengandung konsep, definisi, proposisi, (b) ada hubungan logis di antara konsep – konsep, definisi – definisi, dan proposisi – proposisi, (c)  hubungan – hubungan tersebut menunjukan atau merupakan cermin fenomena sosial, (d) dengan demikian teori dapat digunakan untuk eksplanasi dan prediksi.

Beberapa tokoh utama pengembang dan pendukung teori Struktural Fungsional pada zaman modern ini bisa disebut antara lain Talcott Parsons, Robert K. Merton dan Neil Smelser. Teori Struktural Fungsional dalam menjelaskan perubahan – perubahan yang terjadi di masyarakat mendasarkan pada tujuh asumsi ( Lauer, 1977 ), yaitu : (1)  Masyarakat harus dianalisis sebagai satu kesatuan yang utuh yang terdiri dari berbagai bagian yang saling berinteraksi, (2) Hubungan yang ada bisa bersifat satu arah atau hubungan yang bersifat timbal balik, (3) Sistem sosial yang ada bersifat dinamis, dimana penyesuaian yang ada tidak perlu banyak merubah sistem sebagai satu kesatuan yang utuh, (4) Integrasi yang sempurna di masyarakat tidak pernah ada, oleh karena itu di masyarakat senantiasa timbul ketegangan – keteganagan dan penyimpangan – penyimpangan. Tetapi ketegangan – ketegangan dan penyimpangan – penyimpangan ini akan dinetralisir lewat proses pelembagaan, (5) Perubahan – perubahan akan berjalan secara gradual dan perlahan – perlahan sebagai suatu proses adaptasi dan penyesuaian, (6) Perubahan adalah merupakan hasil penyesuaian dari luar, tumbuh oleh adanya diferensiasi dan inovasi, (7) Sistem diintegrasikan lewat pemilikan nilai – nilai yang sama.

Menurut teori struktural Fungsional, masyarakat sebagai suatu sistem memiliki struktur yang terdiri dari banyak lembaga, dimana masing – masing lembaga memiliki fungsi sendiri – sendiri.[8] Struktur dan fungsi, dengan kompleksitas yang berbeda – beda, ada pada setiap masyarakat, baik masyarakat modern maupun masyarakat primitif. Misalnya, lembaga sekolah mempunyai fungsi mewariskan nilai – nilai yang ada kepada generasi baru. Lembaga keagamaan berfungsi membimbing pemeluknya menjadi anggota masyarakat yang baik dan penuh pengabdian untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akherat. Lembaga ekonomi memilki fungsi untuk mengatur proses produksi dan distribusi barang – barang dan jasa – jasa di masyarakat. Lembaga politik berfungsi menjaga tatanan sosial agar berjalan dan ditaati sebagaimana mestinya. Lembaga keluarga berfungsi menjaga keberlangsungan perkembangan jumlah penduduk.

Kesemua lembaga yang ada di masyarakat akan senantiasa saling berinteraksi dan satu sama lain akan melaksanakan penyesuaian sehingga di masyarakat akan senantiasa berada pada keseimbangan.

Ketidakseimbangan akan muncul, tetapi ini hanya bersifat sementara. Karena adanya ketidakseimbangan di suatu lembaga sehingga fungsi lembaga tersebut terganggu, akan mengundang lembaga lain untuk menyeimbangkan kembali.

Dalam teori ini Parsons mengemukakan tentang konsep perilaku sukarela yang mencakup beberapa elemen pokok, yaitu : (1) Aktor sebagai individu, (2) Aktor memiliki tujuan yang ingin dicapai, (3) Aktor memiliki berbagai cara – cara yang mungkin dapat dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang diinginkan tersebut, (4) Aktor dihadapkan pada berbagai kondisi dan situasi yang dapat mempengaruhi pemilihan cara – cara yang akan digunakan untuk mencapai tujuan tersebut, (5) Aktor dikomando oleh nilai – nilai, norma – norma dan ide – ide dalam menentukan tujuan yang diinginkan dan cara – cara untuk mencapai tujuan tersebut, (6) Perilaku, termasuk bagaimana aktor mengambil keputusan tentang cara – cara yang akan digunakan untuk mencapai tujuan, dipengaruhi ole ide – ide dan situasi – kondisi yang ada.

 

 

Daftar Pustaka

 

 

Beilharz, Peter. 2002. Teori – Teori Sosial. Pustaka Pelajar ; Yogyakarta.

Zamroni. 1992. Pengantar Pengembangan Teori Sosial. PT. Tiara Wacana Yogya; Yogyakarta

 

 


[1] DR. Zamroni., Pengantar Pengembangan Teori Sosial ( PT. Tiara Wacana ; Yogyakarta, 1992 )., hlm. 24

[2] Ibid.,

[3] Ibid., hlm. 2

[4] Ibid.,

[5] Peter Beilharz., Teori – Teori Sosial ( Pustaka Pelajar; Yogyakarta, 2002 )., hlm. 291 – 300

[6] Op. Citt., hlm. 25

[7] Ibid., hlm. 27

[8] Ibid.,

This entry was posted in SOS 2/F3. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s