Tahap Perkembangan Intelektual (August Comte)

Nama             : Sholihatun Najidatil Umam

Kelas/NIM     : 2F3/ B35210062

Jurusan                   : Sosiologi

Mata Kuliah  : Logika Scientifik

 

Tahap Perkembangan Intelektual

(August Comte)

  1. A.     Perspektif Positivis Comte Tentang Masyarakat

Dalam konteks kemasyarakatan comte, dapat dipahami bahwa tujuan utama sosiologinya ialah mengalami konstruksi masyarakatan masyarakat modern secara revolusioner (seperti menghentikan disorganisasi moral). Ia tertarik dengan organisasi masyarakat dalam konteks humanisme positivistic filsafahnya. Kaum positifis percaya bahwa masyarakat merupakan bagian dari alam dan bahwa metode-metode penelitian empiris dapat dipergunakan untuk menentukan hokum-hukumnya.[1]

Comte percaya bahwa penemuan hukum-hukum alam akan membukakan batas-batas yang pasti yang melekat dalam kenyataan sosial, dan melampaui batas-batas itu usaha pembaharuan akan merusakkan dan meghasilkan sebaliknya. Skeptisisme comte yang berhubungan dengan usaha-usaha pembaharuan besar-besaran serta penghargaanya terhadap tonggak-tonggak keteraturan sosial tradisional menyebabkan dia di masukkan ke dalam kategori orang konservatif.

Comte melihat masyarakat sebagai suatu keseluruan organik yang kenyataanya lebih dari sekedar jumlah bagian-bagian yang saling tergantung. Pendirian comte bahwa masyarakat merupakan bagian dari alam dan bahwa memperoleh pengetahuan tentang masyarakat menuntut penggunaan metode empiris dari ilmu-ilmu alam lainnya, merupakan sumbangannya yang tak terhingga nilainya terhadap perkembangan sosiologi.

Selanjutnya ia melihat perkembangan masyarakat yang bersifat alamiah ini sebagai proses kemajuan keintelektualan yang logis melalui mana semua ilmu-ilmu lainya sudah melaluinya. Kemajuan ini mencakup perkembangan mulai dari bentuk-bentuk pemikiran  teologis purba, penjelasan metafisik, dan akhirnya sampai terbentuknya hukum-hukum ilmiah yang positif. Bidang sosiologi atau fisika sosial adalah paling akhir yang melewati tahap-tahap ini, karena pokok permasalahanya lebih kompleks daripada yang terdapat dalam ilmu fisika dan biologi.[2]

Mengatasi cara-cara berfikir mutlak yang teeerdapat dalam tahap pra-positif menerima kenisbian pengetahuan kita serta terus menerus terbuka terhadap kenyataan-kenyataan baru, merupakan cirri khas yang membedakan pendekatan positif yang membedakan pendekatan positif yang digambarkan comte. Dia menulis :

Kalau kita memandang semangat positif itu dalam hubungannya dengan konsep ilmiah. Kita akan menemukan bahwa filsafat ini dibedakan dari metafisika-teologis oleh kecenderunganya untuk menisbikan ide-ide yang tadinya dipandang mutlak. Dalam suatu pandangan ilmiah pertentangan yang njisbi dengan yang mutlak dapat dilihat sebagi perwujudan dan paling menentukan dari perselisihan antara filsafat modern dan filsafat kuno.

Sesudah menentukan sifat epistimologi umum (seperangkat gagasan) dari pendekatan positif, comte lalu menunjukkan metode-metode khusus penelitian empiris yang sama untuk semua ilmu: pengamatan, eksperimen, dan perbandingan. Empirisme ialah aliran yang menjadikan pengalaman sebagai sumber pengetahuan.[3] Eksperimen sebagai suatu metode, lebih terbatas daripada dua lainnya, karena sulitnya melaksanakan eksperimen ilmiah dalam kehidupan sosial. Tetapi metode eksperimen tidak harus tergantung pada keterlibatan langsung dalam proses-proses sosial.

Sedangkan analisa komparatif dapat mencakup perbandingan antara rumpun manusia dan bukan manusia, antara masyarakat-masyarakat yang berbeda yang hidup berdampingan, antara tahap-tahap yang berbeda dalam masyarakat tertentu. Tipe perbendingan yang terakhir ini melahirkan suatu metode keempat, yakni analisa historis, suatu metode yang khusus untuk gejala sosial yang memungkinkan suatu pemahaman mengenai hukum-hukum dasar perkembangan sosial.

 

  1. B.     Hukum Tiga Tahap

Meskipun perspektif teoritis comte mencakup statika dan dinamika sosial, (ahli sosiologi sekarang lebih menyebutnya struktur dan perubahan). Comte menjelaskan bahwa tujuannya yang menyeluruh adalah “untuk menjelaskan setepat mungkin gejala perkembangan yang besar dari umat manusia dengan semua aspeknya yang penting, yakni menemukan mata rantai yang harus ada dari perubahan-perubahan umat manusia mulai dari kondisi yang hanya sekedar lebih tinggi daripada suatu masyarakat kera besar, secara bertahap menuju ke tahap peradapan eropa sekarang ini”.[4]

Hukum tiga tahap merupakan usaha comte untuk menjelaskan kemajuan evolusioner umat manusia dari masa primitif sampai modern. Ini membawa kita kepada landasan pendekatan comte yakni teori evolusinya atau tiga tahap tingkatan. Teori ini mengemukakan adanya tiga tingkatan intelektual yang harus dilalui dunia di sepanjang sejarahnya.[5]

Menurut comte proses evolusi ini melalui tiga tahapan utama:

  1. Tahapan teologis, yaitu akal budi manusia, yang mencari kodrat manusia, yakni sebab pertama dan sebab akhir dari segala akibat – singkatnya, pengetahuan absolute, mengandaikan bahwa semua gejala dihasilkan oleh tindakan langsung dari hal-hal supranatural.
  2. Tahapan metafisis, dalam fase metafisik, atau tahap transisi antara tahap teologis dan positivis. Tahap ini ditandai dengan suatu kepercayaan akan hukum-hukum alam yang asasi yang dapat ditemukan dengan akal budi. Atau dengan kata lain akal budi mengandaikan bukan hal supranatural, melainkan kekuatan-kekuatan abstrak, hal-hal yang benar-benar nyata melekat pada semua benda.
  3. Tahapan positivistic, yaitu akal budi telah meninggalkan pencarian yang sia-sia terhadap pengertian-pengertian yang absolut, asal dan tujuan alam semesta, serta sebab-sebab gejala dan memusatkan perhatiannya pada studi tentang hukum-hukumnya – yakni hubungan-hubungan urutan dan persamaanya yang tidak beubah. Penalaran dan pengamatan, digabungkan secara tepat, merupakan sarana-sarana pengetahuan ini.

Oleh karena itu, comte memandang seluruh pengetahuan sebagai ilmu sosial alam dalam pengertianya yang luas karena ia menggambarakan perkembangan konteks sosial, khususnya sebagai salah satu dari tiga tahapan intelektual tersebut

Jelas bahwa dalam teorinya tentang dunia, comte memusatkan perhatian pada faktor intelektual. Ia mengatakan bahwa kekacauan intelektual menyebabkan kekacauan social.[6] Kekacauan ini berasal dai sistem gagasan terdahulu (teologi dan metafisik) yang terus ada dalam era positif (ilmiah). Pergolakan social baru akan berakhir apabila kehidupan masyarakat sepenuhnya dikendalikan oleh positivisme. Positivisme akan muncul meski tak secepat yang diharapkan orang.

Comte juga membagi sistem social menjadi dua bagian penting, yaitu masyarakat dan hukum-hukum keberadaan manusia sebagai makhluk social dan yang kedua adalah dinamika social atau hukum-hukum perubahan social. Yang mendasari system ini adalah naluri kemanusiaan yang terdiri dari atas tiga faktor utama.

  1. Naluri-naluri pelestarian (naluri seksual maupun material)
  2. Naluri-naluri perbaikan (dalm bidang militer dan industry)
  3. Naluri social (kasih sayang, pemujaan dan cinta semesta )

Diantara ketiganya ada naluri kebanggaan dan kesombongan.

 

  1. C.     Metodologi

Menurut Comte, metode positif mengarah pada perkembngan kebenaran organis (kebenaran yang paling tinggi). Metode ini mengembangkan penggunaan observasi (penelitian), percobaan (exsperiment), serta perbandingan untuk memahami keseluruhan statisika dan dinamika social, metode-metode tersebut memberi gambaran terhadap hukum-hukum social melalui eksperimentasi, baik secara langsung maupun tak langsung, sebagai halnya evolusi masyarakat secara umum, dengan cara ini comte sebagaimana metodologi yang mengarah perkembangan yang lebih luas terhadap model teorinya yang didasarkan organik dan natural, yaitu pada asumsi-asumsi organik dan natural.

Kesatuan ilmu juga diperlihatkan ; menurut comte, semua ilmu itu memperlihatkan hukum perkembangan intelektual yang sama, seperti nampak dalam perkembangan hukum tiga tahap. Sedangkan gagasan dasar bahwa manusia dan gejala sosial merupakan bagian dari alam dan dapat di analisa dengan metode-metode ilmu alam. Sumbangan comte lainnya ialah memberikan suatu analisa komprehensif mengenai kesatuan fisolofis dan metodologis yang menjadi dasar antara apa yang disebut ilmu-ilmu alam dan ilmu sosial. [7]

.

  1. D.    Tipologi  

Sebagai mana dikatakan sebelumnya, dalam karya comte The Cource of Positive Phisolophy merupakan sebuah ensiklopedi mengenai evolusi filosofis dari semua ilmu dan merupakan suatu pernyataan yang sistematis tentang filsafat positif, yang semua itu terwujud dalam tahap terakhir perkembangannya. Topik-topik yang mencakup matematika, astonomi, fisika, kimia, biologi, dan fisika sosial (sosiologi). Untuk setiap spesialisasi yang berbeda-beda itu comte menunjukkan pembagian dasar antara statika dan dinamika gejala yang bersangkutan.

Lalu akhirnya comte mendapatkan pembagian model masyarakat menjadi dua bagian utama, yaitu model masyarakat statis dan masyarakat yang dinamis yang menggambarkan struktur kelembagaan masyarakat dan prinsip perubahan sosial. Adapun unsur-unsur masyarakat statis meliputi:

  1. Sifat-sifat sosial, yang didalamnya berisi tentang  agama, seni, keluarga, kekayaan dan organisasi social.
  2. Sifat kemanusian, meliputi naluri, emosi, perilaku dan intelegensi.

Setelah dijelaskan unsur apa saja yang terdapat pada tipologi masyarakat statis. Maka dibawah ni akan dijelaskan unsur-unsur pada masyarakat dinamis terdiri atas:

  1. Perubahan social dan factor-faktor yang behubungan dengan tingkatan kebosanan masyarakat, usia harapan hidup, perkembangan hidup.
  2. Tingkat perkembangan intelektual.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

 

Setelah diatas telah dijelaskan sedikit tentang perkembangan intelektual manusia, maka dapat disimpulkan bahwa menurut Comte masyarakat dilihat sebagai suatu keseluruan organik yang kenyataanya lebih dari sekedar jumlah bagian-bagian yang saling tergantung. Pendirian comte bahwa masyarakat merupakan bagian dari alam dan bahwa memperoleh pengetahuan tentang masyarakat menuntut penggunaan metode empiris dari ilmu-ilmu alam lainnya.

Setelah itu pada perkembangan selanjutnya comte juga membagi hukum tiga tahap yaitu:

ü  Tahap Teologis, yaitu akal budi manusia, yang mencari kodrat manusia, yakni sebab pertama dan sebab akhir dari segala akibat.

ü  Tahap Metafisik, yaitu tahap dimana ditandai dengan suatu kepercayaan akan hukum-hukum alam yang asasi yang dapat ditemukan dengan akal budi, danTahap Positiistik, yaitu yaitu akal budi telah meninggalkan pencarian yang sia-sia terhadap pengertian-pengertian yang absolut, Penalaran dan pengamatan, digabungkan secara tepat, merupakan sarana-sarana pengetahuan ini.

Kemudian August Comte juga membagi masyarakat menjadi dua yaitu statik dan dinamis, dimana oleh ahli sosiologi sekarang lebih menyebutnya struktur dan perubahan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

George Ritzer, Teori Sosiologi Modern, Prenada Media:  Jakarta, 2004.,

Edisi pertama

Ali Maksum, Pengantar filsafat, Ar-ruzz Media: Bandung, 2010.,

Cetakan ketiga

Doyle Paul Jhonson, Teori sosiologi Klasik dan Modern, Jakarta, PT. Gramedia., 1994

Cetakan ketiga

 


[1] Doyle Paul Jhonson, Teori sosiologi Klasik dan Modern, (Jakarta, PT. Gramedia., 1994)., hlm. 81

[2] Ibid., hlm. 82

[3] Ali Maksum, Pengantar filsafat, (Bandung: Ar-ruzz Media, 2010) hlm. 357

[4]Doyle Paul Jhonson, Op.cit., hlm.84

[5] George Ritzer, Teori Sosiologi Modern, (Jakarta: Prenada Media, 2004)., hlm 17

[6] Ibid, hlm. 18

[7] Doyle Paul Jhonson, Op.cit., hlm. 83

About these ads
This entry was posted in SOS 2/F3. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s