SOSIOLOGI AGAMA DALAM KONSEPSI MARK

Nama  : Masykur Afif Fauzi

Kelas/Nim      : B75210073

Mata Kuliah  : Logika Scientific

 

SOSIOLOGI AGAMA DALAM

KONSEPSI MARK

A.  Pengertian Sosiologi Agama

Sosiologi agama adalah ilmu yang membahas tentang hubungan antara berbagai kesatuan masyarakat, perbedaan atau masyarakat secara utuh dengan berbagai system agama, tingkat dan jenis spesialisasi berbagai peranan agama dalam berbagai masyarakat dan system keagamaan yang berbeda.

Devinisi yang lain: Sosiologi Agama ialah suatu cabang Sosiologi Umum yang mempelajari masyarakat agama secara sosiologis guna mencapai keterangan-keterangan ilmiah dan pasti demi kepentingan masyarakat agama itu sendiri dan masyarakat luas pada umumnnya. Segi-segi penting yang hendak ditonjolkan dalam devinisi itu antara lain:

1.    Sosiologi Agama adalah cabang dari Sosiologi Umum

2.    Sosiologi adalah sungguh ilmu sebagaimana Sosiologi Umum adalah benar-benar suatu ilmu.

3.    Tugasnya mencari keterangan ilmiah.[1]

B.     Aliran- Aliran dalam Sosiologi Agama.

Sosiologi agama bukan merupakan satu kesatuan yang seragam. Adapun perbedaan aliran dalam sosiologi agama dengan cirri-ciri tersendiri disebabkan oleh:

1.    Perbedaan visi atas realitias masyarakat, khususnya mengenai kekuatan tertentu yang dianggap memerankan peranan dominan atas kehidupan masyarakat.

2.    Akibat dari perbedaan visi tesebut, digunakan pula metode dan pendekatan yang   berbeda.[2]

 

Aliran-aliran dalam sosiologi agama antara lain adalah:

            a. Aliran Klasik

 

Aliran ini muncul pada pertengahan abad ke-19 dan belahan pertama dari abad ke-

20 yang ditopang oleh sejumlah sarjana (kecuali Durkheinm dan Weber). Bagi mereka kedudukan sosiologi agama sangat dekat dengan sejarah dan filsafat dan merupakan suatu refleksi dan analisis sistematis terhadap masyarakat, kebudayaan dan agama.[3]

b. Aliran Positivisme

Aliran ini mengikuti sosiologi yang empiris-positivistis dan menyetarakan (menjajarkan) masyarakat agama dengan benda-benda alamiah. Hal ini samadengan asumsi agust comte.

c. Aliran Teori Konflik (Teori Kritis)

Menurut ahli teori ini, masyarakat yang baik ialah masyarakat yang hidup dalam situasi konfliktual. Masyarakat yang hidup dalam keseimbangan (equilibrium) dianggap sebagai masyarakat yang tertidur dan berhenti dalam peruses kemajuannya. Karena konflik social dianggapnya sebagai kekuatan social utama dari perkembangan masyarakat yang ingin maju kepada tahap-tahap yang lebih sempurna. Gagasan ini dicetuskan oleh Hegel, Karl Marx dan Weber. Sebagai sarana mutlak (yang diberikan oleh alam sendiri) untuk memajukan masyarakat manusia.

d. Airan Fungsionalisme

Para pendukung aliran ini bertolak belakang dari pendirian dasar bahwa masyarakat itu suatu system perimbangan, di mana setiap kelompok memberikan sumbangannya yang khas melalui peranannya masing-masing yang telah ditentukan demi lestarinya suatu masyarakat. Menurut mereka, timbulnya suatu bentrokan dalam organisasi dipandang berfungasi korektif untuk membenahi kesalahan-kesalahan yang telah terjadi, yang tidak berjalan baik

 

C.    Konsep – konsep menurut Karl Mark

Karl Marx merupakan Tokoh sentral dalam dalam sosiologi, walaupun terdapat berbagai tokoh besar sosiologi yang berjasa membangun ilmu sosiologi sebagai pengetahuan namun jika dilihat dari perkembangan sosiologi banyak mengadopsi dan merupakan hasil dari kritisi terhadap Marx. Karl Marx sendiri tidak mengakui dia adalah seorang sosiolog, tetapi secara fundamental Marx telah melahirkan konsep sosiologi yang masih relevan dengan semakin berubahnya zaman, seperti konsep Alineasi, dialektika, Materialisme historis, Konsep kelas dan sebagaainnya. Konsep sosial Marx bukan hanya menjadi imajinasi semata tetapi telah dibuktikan dan diadopsi oleh berbagai negara didunia, di Uni Soviet Marx dianggap sebagai “Nabi Kemanusian” yang mengajarkan kepada manusia arti sebuah kehidupan dan keadilan. Konsep sosial Marx menghasilkan Negara Uni Soviet yang dibentuk melalui pemikiran-pemikiran Marx yang diinterpretasikan oleh Lenin dan Stalin.

Agama dalam sosiologi merupakan suatu kajian yang sangat penting dalam sosiologi, bahkan para pendahulu sosiologi baik itu August Comte, Karl Marx, Emile Durkheim, Max Weber, selalu membahas agama dalam konsep sosiologinya. Disini akan dibahas konsepsi agama menurut Marx, adapun Konsepsi agama menurut Durkheim dan Weber  akan dijelaskan dalam pembahasan yang selanjutnya. Marx adalah tokoh yang hidup dimasa 3 revolusi sehingga Marx mengalami sendiri realitas masyarakat diera tersebut, sehingga pembacaan terhadap agamapun secara konteks sangat dipengaruhi oleh sosialkultural masyarakat eropa diabad pertengahan.Marx menkonsepsikan kehidupan dalam suatu basis materialisme yang universal yang menjadi penggerak sejarah, yaitu struktur basis yang merupakan penggerak utama struktur supra. Struktur basis adalah ekonomi yang mencangkup seluruh proses ekonomi baik produksi, konsumsi, persaingan ekonomi, dan sebagainya. Sedangkan struktur supra terdiri dari berbagai sektor misalnya politik, ekonomi, budaya, dan sebagainya, struktur supra ini merupakan representasi (gambaran) dari struktur basis. Ekonomi adalah pondasi dasar sejarah kehidupan manusia, karena ekonomi merupakan induk dari segala sub struktur kehidupan yang melahirkan berbagai basis supra. Jika kita menelaah dari perspektif ibnu Khaldun dalam bukunya al-Muqaddimah maka akan kita temukan alur pemikiran Ibnu Khaldun yang senada dengan Karl Marx, walaupun secara esensinya personalisasinya berbeda. Ibnu Khaldun mengatakan bahwa “ Kondrat manusia tidak cukup hanya memperoleh makanan. Sekalipun makanan itu ditekan sedikit-dikitnya sekedar cukup untuk makan sehari-hari saja, misalnya sedikit gandum, namun diperlukan usaha yang banyak juga. Misalnya menggiling, meramas, memasak. Masing-masing pekerjaan membutuhkan sejumlah alat, dan hal inipun menuntut pekerjaan tangan yang lebih banyak lagi dari yang telah disebutkan diatas”.[4] Manusia tidak dapat memenuhi kebutuhan dirinya kecuali dengan bergotong royong dengan menggabungkan dengan beberapa ahli. Struktur basis dalam konteks Marx adalah bangunan dasar atau pondasi pokok dalam sejarah atau kehidupan manusia, dimana struktur basis ini adalah yang melahirkan struktur supra. Agama, politik, budaya dan sebagainya dilahirkan dari ekonomi, asumsi dasar Marx adalah ketika manusia menjauh dari Ekonomi atau untuk memperkuat kelancaran ekonomi maka manusia akan berpaling atau membentuk struktur yang lain yang mendukunggnya. Mengapa agama lahir dari ekonomi? Pertanyaan ini dapat dijawab menggunakan filsafat yang sederhana “ pada manusia primitif agama difungsikan untuk menggambarkan rasa syukur karena panen yang melimpah atau sebagai ritual pengorbanan untuk mempersembahkan korban karena gagal panen atau terserang wabah penyakit”. Artinya dalam tesis filsafat tadi agama hanya dijadikan alat sebagai pemenuhan hasrat ekonomi dan ketakutan manusia.

Marx menafsirkan agama sebagai candu bagi masyarakat “ Kesukaran agama- agama pada saat yang sama merupakan ekspresi dari kesukaran yang sebenarnya dan protes melawan kesukarann yang sebnarnya. Agama adalah nafas lega makhluk tertindas, hatinya dunia yang tidak punya hati, spirit kondisi yang tanpa spirit. Agama adalah candu masyarakat” (Marx, 1843/1970).[5]

Dalam hal ini anda sebagai umat yang beragama tidak boleh menyalahkan Marx sepenuhnya, karena asumsi dari Marx itu merupakan hasil dari pengamatan Marx diera revolusi. Agama hanya dijadikan sebagai pelampiasan kegagalan manusia yang kalah dalam pertarungan dunia, dan dalam kenyataannya agama hanya dijadikan sebagai penenang diri terhadap kekalahan dari dunia. Agama membuat manusia malas berkarya dan hanya menerima segala penderitaan dengan harapan surga. Bagi Marx agama adalah hanya sekedar imajinasi dari ketidak berdayaan manusia terhadap struktur basis, Marx mengkritisi filsafat Hegel yang mengatakan bahwa Roh Absolut yang mengerakkan segala tindakan manusia dan alam semesta, kemudian Marx membalikkannya, dengan mengatakan bahwa manusialah penggerak sejarah sesungguhnya, Roh Absolut hanyalah hasil imajinasi dari ketidak bedayaan manusia didunia.

Konsep antroposentris Marx inilah yang kemudian melahirkan materialisme historis, Agama hanyalah penghambat kemajuan manusia dalam mencapai kesempurnaan, dalam pembacaan saya sendiri diera munculnya kapitalisme dalam buku “ Etika Protestan dan Spirit  Kapitalisme” karya Weber saya menemukan suatu keganjalan dan perasaan skeptic terhadap pemikiran weber. Memang benar semangat protestan beserta aliran-alirannya terutama setelah gagasan Marti Luther yang mengkritik katolik memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap perkembangan kapitalisme di Eropa. Protestan banyak dianut oleh intelektual yang merasa dikekang pemikirannya oleh gereja, oleh karena itu pengikutnya cenderung merasionalkan agama untuk di sesuaikan dengan kebutuhan dunia.

Tetapi dalam kenyataannya penganut protestan lebih mementingkan kehidupan dunia yang diagamakan, untuk dijadikannya kerja sebagai ibadah pokok manusia untuk mendekatkan dirinya kepada tuhan. Artinya ketika manusia meninggalkan agama kemudia menggantinya dengan Ekonomi maka akan membangun perekonomian yang lebih matang. Sebagai konsep Marx yang saya reduksi menjadi asumsi dasar saya, “Manusia memiliki energi yang sangat besar untuk menjalankan sejarah dunia, diamana energi tersebut jika digunakan dalam berbagai segi kehidupan baik dalam ekonomi, agama, politik, budaya dan sebagainya, alokasi energi terhadap salah satu pilar tadi akan mengurangi energy di sub bagian yang lain”.

Agama menurut Marx hanya dijadikan sebagai alat legitimasi penindasan, keotoriterian penguasa dan menjadi alat sebagai pembodohan manusia. Jika dibenturkan disituasi konteks marx maka dapat kita baca dengan jelas bahwa kalangan gereja diabad pertengahan kebawah dijadikan sebagai alat legitimasi penindasan oleh para penguasa. Umat Kristen oleh gereja selalu didoktrin akan keindahan surga jika menjalankan penderitaan tersebut dengan sukarela dan tidak melawan rezim yang sedang memimpin.

Agama sebagai salah satu sumber konflik, agama adalah salah satu hal yang menjadikan alienasi dalam masyarakat. Perbedaan dalam agama justru menyekat-nyekat kehidupan social dan sebagai penyebab konflik yang mengatas namakan agama. Dalam sejarah Indonesia sendiri konflik antar umat beragama sering terjadi misalnya saja kasus di Poso, agama dijadikan alat untuk melegitimasi pemunuhan padahal permasalahan pokok hanyalah yang utama hanyalah dibidang ekonomi dan politik.

Pemikiran Marx ini banyak menginspirasi para tokoh untuk memperjuangkan dan membela rakyat dari segala penindasan. Di Amerika latin misalanya  Gustavo Gutiérrez yang merupakan pastur di Amerika latin mencetuskan “ Teologi Pembebasan” dimana agama dijadikan alat untuk membebaskan rakyat dari para kapitalis dan kediktaktoran pemerintah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

George Ritzer, Douglas, J. Goodman, Teori  Sosiologi Modern , (Jakarta: Kencana, 2007)

Hendropuspito, Sosiologi Agama, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2004).

Khaldun Ibnu, AL-Muqaddimah, ( Jakarta: PT Pustaka Firdaus, 2000 diterjemahkan oleh Ahmadie Thoha)

Tim sosiologi, sosiologi 2 suatu kajian kehidupan masyarakat, (Jakarta, penerbit yudhistira, 2007).

 


[1]D. Hendropuspito. Sosiologi Agama, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan) hlm.8.

 

[2] Ibid, hal. 9

 

[3] Tim Sosiologi, 2007, sosiologi 2 suatu kajian kehidupan masyarakat, Jakarta, hlm. 17

[4] Ibnu Khaldun, AL-Muqaddimah, ( Jakarta: PT Pustaka Firdaus, 2000 diterjemahkan oleh Ahmadie Thoha), hlm. 71

 

[5]George Ritzer, Douglas, J. Goodman, Teori  Sosiologi Modern , (Jakarta: Kencana, 2007), hlm.74

This entry was posted in SOS 2/F3. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s