LOGIKA SCIENTIFIC EPISTEMOLOGI

LISTIANA CHOIRUN NISA’

B35210059

2F3/SOSIOLOGI

 

LOGIKA SCIENTIFIC EPISTEMOLOGI

Pentingnya Epistemologi

            Masalah epistemologi bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan. Jika kita mengetahui batas-batas pengetahuan, kita tidak akan mencoba untuk mengetahui hal-hal yang pada akhirnya tidak dapat diketahui. Memang pada kenyataannya, kita baru dapat menganggap mempunyai suatu pengetahuan setelah kita meneliti pertanyaan-pertanyaan epistemologi. Jadi kita bisa saja terpaksa mengingkari kemungkinan untuk memperoleh sebuah pengetahuan, atau mungkin sampai kepada kesimpulan bahwa apa yang kita miliki hanyalah kemungkinan-kemungkinan dan bukanlah sebuah kepastian, atau mungkin dapat menetapkan batas-batas antara bidang-bidang yang memungkinkan adanya kepastian yang mutlak dengan bidang-bidang yang tidak memungkinkannya.

Epistemologi                                                        

Membahas tentang logica scientific, sangat tidak masuk akal apabila kita tidak mengetahui makna dari logika scientifik. Logika scientific merupakan suatu ilmu praktis yang di dalamnya mempelajari prinsip-prinsip pikiran manusia yang jika dipahami dan dipelajari secara mendalam akan membimbing kita mencapai sebuah kesimpulan. Dalam logika scientific terdapat macam-macam persoalan dimana nantinya akan membantu kita untuk lebih mengetahui logika scientific itu sendiri. Beberapa persoalan tersebut akan di jelaskan di bawah ini:

1)      Tahu

Seorang filosof Yunani yang bernama Aristoteles berpendapat bahwa semua manusia yang ada di dunia ini mempunyai rasa ingin tahu. Intinya ialah keingin tahuan seseorang merupakan sifat yang nyata.

Adapun Socrates yang menganggap bahwa tidak ada seorang pun yang mempunyai pengetahuan. Tetapi mereka mengira bahwa mereka mempunyai pengetahuan.

Sedangkan seorang Plato berpendapat bahwa tidak ada seorang pun yang dapat berfilsafat (tahu) jika seseorang tersebut tidak mempunyai rasa kagum. Jadi dapat dikatakan bahwa ketika manusia ingin mengetahui suatu hal maka manusia tersebut harus memiliki perasaan kagum terhadap hal itu.

Pengetahuan diperoleh dengan perantaraan indera, kata seorang penganut empirisme. John Locke, Bapak empirisme Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia dilahirkan akalnya merupakan sejenis buku catatan yang kosong (tabula rasa), dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi.

Menurut Locke, seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertama-tama sederhana tersebut. Ia memandang akal sebagai sejenis tempat penampungan, yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut.[1]

Contohnya, jika saya mengatakan bahwa saya melihat sebuah pohon, maka saya tidak mempunyai pengetahuan, melainkan hanya pendapat, karena saya membuat pernyataan itu sebagai hasil penyimpulan yang diperoleh dari tangkapan penglihatan mata tertentu dan dari ingatan-ingatan tertentu yang sekarang saya punyai. Mata saya mungkin melihat pohon, dan sebagai akibatnya saya tidak dapat mengatakan bahwa saya mempunyai pengetahuan tentang pohon. Tetapi jika saya mengatakan bahwa 4 + 4 = 8, atau bahwa bagi setiap kejadian tentu ada alasannya mengapa hal itu terjadi, maka saya mempunyai pengetahuan mengenai hal-hal tersebut berdasarkan atas penalaran. Hal ini sama sekali bukan masalah pendapat, karena tidak mungkin untuk mengingkarinya atau bahkan untuk memahami sesuatu seperti bahwa 4 + 4 = 9 atau bahwa ada kejadian-kejadian yang tidak beralasan untuk terjadi.

2)      Common Sense (Anggapan Umum/Akal Sehat)

Dalam tahap awal dari proses historis dan analitis merupakan keadaan dimana anggapan umum (common sense) menemukan pemahaman terhadap dirinya. Umumnya seseorang menyadari jika dirinya mempunyai sejumlah pengetahuan, yang dianggap oleh dirinya pasti dan tidak menganggapnya remeh. Pada hakikatnya sebuah  pengetahuan dari berbagai tingkat mempunyai sebuah inti pengetahuan yang dianggap sebagai sebuah tujuan akhir dari hasil pikiran pemiliknya.

Mayoritas orang mempunyai anggapan benar-benar sadar yaitu seseorang akan sering tertipu, jadi kesalahan mungkin bisa saja terjadi akibat ilusi optis (kesalahan menentukan jarak atau warna, halusinasi, dll). Tetapi suatu anggapan umum tidak menggunakan keyakinan-keyakinan yang salah dalam hal ini untuk menanyakan suatu kedudukan dari berbagi keyakinan yang benar.

Logika scientific tidak saja mungkin perlu melainkan suatu pemahaman yang mutlak perlu. Sebuah pemikiran yang telah mencapai tingkat refleksi tidak mampu direfleksikan, tidak dapat dipuaskan kembali terhadap jaminan-jaminan sebuah anggapan pada umumnya, tetapi malah semakin mendesak maju tehadap suatu tingkat yang baru.

Anggapan umum benar-benar sadar bahwa seseorang sering tertipu, bahwa kesalahan mungkin terjadi. Ilusi optis, kesalahan di dalam menentukan jarak atau warna, halusinasi, dst., merupakan hal yang umum terjadi. Tetapi anggapan umum tidak menggunakan keyakinan-keyakinan salah ini dengan menyelidikinya untuk mempertanyakan kedudukan dari keyakinan-keyakinannya yang benar.

 

3)      Skeptisisme

Sebuah persoalan yang dimaksudkan dalam tahap ini yaitu dengan mengusulkan suatu tujuan yang abstrak terhadap dirinya sendiri. Sebab, bila kita mengungkapkan  sebuah pengetahuan kebenaran kita berarti sudah menggunakan pengetahuan dalam diri kita dan akhirnya akan terbukti  kebenarannya.

Seseorang penganut skeptisisme mengingkari adanya apa yang dinamakan pengetahuan. Jika ia kurang ekstrem atau kurang percaya, ia mungkin akan mengatakan, sesungguhnya tidak ada cara untuk mengetahui bahwa kita mempunyai pengetahuan. Pendirian ini biasanya didasarkan atas dua unsur, yaitu :

  1. Kenisbian penginderaan dan
  2. Adanya kesepakatan yang sesungguhnya mengenai apa yang merupakan halnya dan yang bukan merupakan halnya.[2]

Contohnya, saya mengatakan bahwa saya tidak mengetahui apa pun mengenai bunga mawar. Jika saya mengatakan bahwasanya melihat sebuah bunga mawar, maka saya hanya akan berbicara tentang penginderaan dengan mata yang saya alami. Dan, bagi saya, mungkin juga untuk mengalami penginderaan meskipun seandainya tidak terdapat bunga mawar, sebagaimana ditunjukkan oleh banyak sekali khayalan yang dipunyai orang. Atas dasar penginderaan-penginderaan ini, saya mungkin mengharapkan bahwa ada sebuah bunga mawar. Saya mungkin berbuat seolah-olah ada sebuah bunga mawar.

Meskipun sanggahan terhadap skeptisisme cenderung memiliki sebuah pemahaman negatif, tetapi justru mempunyai akibat positif. Sebab apa yang dinyatakan oleh pendapat Gilson ialah : pada tahap tertentu pikiran manusia niscaya melekat pada ada sedemikian rupa pada diri pribadi tersebut, sehingga kelekatan ini tidak dapat disangkal kebenarannya.[3]

 

4)      Aspek Eksistensialisme (Harun Hadiwijono)

Eksistensialisme dalam sebuah pandangan filsafat ialah bagaiman cara manusia berada di dalam dunia. Karena pada umumnya cara itu berbeda antara manusia satu dengan manusia lainnya. Manusia tahu keberadaan dirinya, sedangkan berbeda dengan benda yang tidak tahu dan tidak menyadari akan keberadaan dirinya. Maka dari itu, dapat dikatakan bahwa benda-benda “berada”, sedangkan manusia “bereksistensi”. Jadi, hanya manusia yang bereksistensi.

Eksistensi sendiri memiliki suatu pemahaman, dimana manusia mampu berdiri sebagai diri sendiri dengan keluar dari dirinya. Dengan manusia tahu akan keberadaanya, maka segala sesuatu di sekitarnya akan dihubungkan dengan dirinya. Maka dari itu ia berdiri sebagai diri sendiri dengan keluar dari dirinya dan sibuk dengan dunia di luarnya.

Contohnya, jika saya mengatakan bahwa barang sesuatu bereksistensi. Misalnya, “Ada lampu di kamar sebelah”. Dengan terdapat demikian terdapat dua hal yang mengemukakan. Pertama, bahwa saya menunjuk sesuatu yang kongkret. Kedua, saya juga mengatakan bahwa jika saya pergi ke satu tempat tertentu pada suatu waktu tertentu, akan mendapatkan hal yang saya katakan. Jadi dengan mengatakan “lampu di kamar sebelah bereksistensi”, maka yang saya maksudkan adalah ialah: Ada satuan barang yang berdasarkan alasan tertentu saya menamakan “lampu”. Ada sebuah tempat yang saya tunjuk dengan perkataan “kamar sebelah”. Dan jika saya pergi ke tempat itu dengan tangkapan inderawi saya juga meyakinkan diri sendiri bahwa di kamar sebelah terdapat lampu.

Ada 4 pemikiran secara filsafat :

  1. .Motif pokok adalah apa yang disebut dengan eksistensi.
  2. Bereksistensi harus diartikan secara dinamis.
  3. Manusia dipandang sebagai terbuka.
  4. Pengalaman yang konkrit, pengalaman yang eksistensial.

Marritain berpendapat bahwa tujuan epistemologi bukanlah terutama untuk menjawab pertanyaan apakah saya dapat tahu, tetapi untuk menemukan syarat-syarat. secara ontologisme, dasar dari keraguan berada dalam keterbatasan manusia. Seluruh keberadaan manusia terlemparkan bersama dengan ketiadaan. Demikian juga dengan keprihatinan pengetahuan manusia yang terdapat didalam perjuanganya untuk menegakkan dirinya didalam kepastian yang tak tergoyahkan.

 

5)      Analogi Pengetahuan

Bicara mengenai bagaimana cara melakukan sesuatu, bahwa kenyataan tertentu benar dan mengetahui karena kenal. Penggunaan umum ini hanya mulai menunjukkan beragamnya kemungkinan arti dari kata mengetahui.

Para filusuf Thomis menjelaskan kenyataan bermacam ragamnya makna pengetahuan. Ajaran Thomas mengenai analogi pengada yang mempersiapkan dasar ontologi bagi analogi pengetahuan.

Sebagaimana dikatakan oleh Heidegger adalah pernyataan diri dari ada, yang dimaksud adalah cenderung untuk membatasi diri pada persepsi indrawi dan pemahaman intelektual, dimana pemahaman tersebut dimengerti secara sempit, tetapi hal ini tidak memadai.

Pengetahuan adalah peristiwa yang menyebabkan kesadaran manusia memasuki terang ada. Kita tidak bisa meramalkan bagaimana ada itu dinyatakan. Sikap awal yang tepat bagi filsuf pengetahuan adalah kerendahan hati dalam menghadapi pengalaman. Filsuf pengetahuan harus memiliki keterbukaan total.[4]

 

6)      Metode Logika scientific

Para filusuf skolastik pada umumnya mempunyai anggapan yaitu untuk melihat pengkajian pengetahuan hanya didalam penafsiran pernyataan bias menimbulkan  salah arah. Kesesuaianya terletak didalam kenyataan bahwa anggapan mengenai pengetahuan dihubungkan secara erat dengan kenyatan dari pernyataan atau penyangkalan.

Menurut Gabriel Marcel mengingatkan kita akan pentingnya berfikir mengenai peranan cinta atau harapan yang membawa kejelasan. Tetapi perlu diingat bahwa apa yang dikatakan disini masih bersifat sementara. Persoalan metode ini merupakan pokok terakhir pendahuluan dapat tidak boleh terlalu detail. Filsafat pengetahuan sebagai usaha untuk menafsirkan nilai kognitif pengalaman, tidak boleh terlalu dibebani oleh berbagai terminology teknis atau oleh pengandaian-pengandaian oleh suatu sistem filosofis tertentu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Harun Hadi Wijoyo, 1980, Sari Sejarah Filsafat II, Yogyakarta: Kanisius

Hardono Hadi, 1994,  EPISTIMOLOGI filsafat pengetahuan, Yogyakarta: Kanisus

Kattsoff, Louis O, 1992, Pengantar Filsafat, Yogyakarta: Tiara Wicana

 


[1] Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat, (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1992),  hlm. 137

[2] Ibid., hlm. 151

[3] Hardono Hadi, Epistemologi Filsafat Pengetahuan, (Yogyakarta: Kanisus, 1994), hlm. 20

[4] Ibid., hlm. 25

This entry was posted in SOS 2/F3. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s