LOGIKA SCIENTIFIC : EPISTEMOLOGI

EPISTEMOLOGI

 

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

Logika Scientific


 

 

 

Oleh :

 

M. Nasikhul Amin                B35210060

 

 

Dosen Pembimbing:

 

Drs. Masduqi Affandi, M.pd.I

 

 

FAKULTAS DAKWAH

PRODI SOSIOLOGI

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

SURABAYA

2011

  1. EPISTEMOLOGI

Logika yakni merupakan cabang ilmu yang sulit dipisahkan dari epistemologi. Akan tetapi, secara universal dianggap sebagai disiplin yang berbeda. Logika ialah studi tentang berbagai jenis proposisi berbeda yang hubungan diantara mereka yang mejustifikasi kesimpulan beberapa bagian dari studi ini berhubungan erat dengan matematika, dan sebagiannya diklasifikasikan termasuk kedalam epistemologi.[1]

Sedangkan epistemologi sendiri Adalah cabang filsafat yang membicarakan mengenai hakikat ilmu, dan ilmu sebagai proses adalah usaha pemikiran yang sistematik dan metodik untuk menentukan prinsip kebenaran yang terdapat pada suatu objek kajian ilmu.

Dalam pengertian lain epistemologi membahas  persoalan pengetahuan. Mungkinkan pengetahuan diperoleh atau tidak?  Dapatkan kita memiliki pengetahuan yang benar? Kita mengharapkan pengetahuan yang benar, bukan pengetahuan yang khilaf, yang mendasarkan pada khayalan belaka. Dalam epistemologi, yang paling pokok perlu didiskusikan, adalah apa yang menjadi sumber pengetahuan, bagaimana struktur pengetahuan. Hal ini akan berkaitan dengan macam atau jenis pengetahuan, dan bagaimana kita memperoleh pengetahuan tersebut.[2]

J. F. Farrier pada tahun 1854 adalah orang yang pertamakali menggunakan istilah epistimologi. Karena pada saat itu banyak orang yang menyebutnya filsafat pengetahuan karena ia membicarakan tentang pengetahuan.

Adapun subjek ilmu adalah manusia, dan manusia hidup dalam ruang dan waktu yang terbatas, sehingga kajian ilmu pada realitasnya, selalu berada pada batas- batas, baik batas-batas yang melingkupi hidup manusia itu sendiri, maupun batas-batas objek kajian yang menjadi fokusnya, dan setiap bats-batas itu dengan sendirinya selalu membawa konsekuensi-konsekuensinya tertentu. Batas-batas waktu hidup seseorang, berpengaruh pada kualitas kajiannya, sehingga banyak sekali revisi dan koreksi dilakukan oleh seseorang terhadap hasil kajiannya yang terdahulu.  Demikian juga batas-batas pendidikan yang ditempuhnya, sehingga hasil kajian di saat ia menjalani tingkat pendidikan S1, S2, dan S3 tentunya sedikit banyak juga berpengaruh pada kualitas hasil kajiannya, meskipun ini tidak berlaku mutlak.[3]

Di samping itu, kajian ilmu juga dibatasi oleh objek yang menjadi fokus kajiannya,dan batas objek kajian akan membawa pada konsekuensi terhadap pilihan metodologinya. Metodologi sebagai jalan penalaran sebuah kajian, akan mengikuti objek kajiannya, sehingga jika seseorang menetapkan pilihan objek kajiannya pada satu sisi dan emosi seseorang, ini berarti menjadi kajian psikologi, maka tentunya metode yang harus ditempuhnya adalah metode yang berlaku dalam kajian psikologi, dan dengan sendirinya, kajian teknik mesin tidak bisa dipakai sebagai sebuah pendekatan metodologisnya. seandainya seseorang memaksakan kajian psikologi dengan metode teknik mesin, akan berakibat pada hasil kajiannya, yang tentu saja kemungkinan besar terjadi penyimpangan dan tingkat kebenarannya diragukan.

  1. CARA MEMPEROLEH ILMU

Setiap objek kajian keilmuan, menuntut suatu metodse yang sesuai dengan objek kajiannya itu, sehingga metode kajian selalu memyesuaikan dengan objeknya. Metode kajian adalah jalan dan cara yang ditempuh untuk menemukan prinsip-prinsip kebenaran yang terkandung pada objek kajiannya, dan kemudian dirumuskan dalam konsep teoritik, dengan menyesuaikan dengan objek kajian, sehingga tidak terjadi kesalahan pendekatan, seperti menggergaji untuk menumbangkan pohon jati dengan pisau silet.[4]

Secara umum, konsep teoritik tidak bisa dilepaskan dari suatu metode yang menjadi bagian penting dari proses ilmu. Dalam ilmu alam, proses itu berlangsung melalui kegaiatan pengamatan untuk menyusun hipotesis, kemudian percobaan –percobaan empirik, untuk menjadi dasar perumusan dan penentuan suatu teori, dari susunan hukum-hukum keilmuan (Scientific Laws). Demikian juga halnya yang berlaku dalam ilmu, akan tetapi karena objek kajiannya adalah manusia yang bersifat kompleks dan multi dimensi, dan pelaku atau ilmunya adalah manusia juga, sebagai individu dan warga masyarakat, maka tidak cukup proses ilmu dijelaskan hanya dengan hukum sebab akibat, sehingga hermeneutika diperlukan, disamping itu juga sulit menjaga objektifitasnya.

  1. KEBENARAN ILMU

Kebenaran selalu berkaitan dengan dimensi keilmuan, menjadi prinsip yang fundamental dalam epistemologi, dan di dalamnya tersusun nilai-nilai benar dan salah. Kebenaran dalam wacana keilmuan, sepenuhnya bersandar kepada manusia, melalui kemampuannya mengembangkan kapasitas berpikirnya yang bekerja untuk mencapai suatu kebenaran, dan seringkali kebenaran itu gagal dicapainya, sebaliknya berbagai kesalahan justru muncul, dan dari berbagai kesalahan, baru kemudian didapatkan suatu kebenaran dan kebenaran menjadi anak kandung kesalahan. Kebenaran hanya dapat diketahui seseorang karena ada kesalahan yang ditemuinya. Oleh karena itu, kesalahan seharusnya membawa seseorang kepada kebenaran.[5]

Kebenaran dalam wacana ilmu adalah ketepatan metode dan kesesuainnya antara pemikiran dengan hukum-hukum internal dari objek kajiannya. Setiap objek pemikiran secara internal sudah ada hukum-hukum yang menjadi bagian dari adanya sejak awal keberadaannya. Dengan pemahamannya atas hukum-hukum itu, maka manusia  bisa memanfaatkan untuk kepentingan hidupnya, karena melalui pemahaman dan penguasaan atas hukum-hukum itu, suatu kebudayaan akan terbentuk.[6]

Kebenaran ilmu pada hakikatnya bersifat relatif dan sementara, karena setiap kajian ilmu selalu dipengaruhi oleh pilihan atas fokus yang bersifat parsial, selalu tidak pernah menyeluruh yang meliputi sebagai dimensinya, dan dipengaruhi oleh realitas ruang dan waktu yang selalu berubah. Perubahan-perubahan ini, tentu akan berpengaruh pada realitas kebenaran yang ada. Apalagi sandaran ilmu adalah pemikiran manusia, dan apa pun yang bersandar kepada manusia, tidak akan pernah menempati posisi yang mutlak dan abadi.

  1. TUJUAN ILMU

Ilmu merupakan proses manusia menjawab ketidaktahuannya mengenai berbagai haldalam hidupnya. Sebagai jawaban manusia, ilmu adalah dan bagaimana. Oleh karena itu, tujuan ilmu pada hakikatnya tidak dapat dilepaskan dengan realitas dan tantangan yang dihadapai manusia itu sendiri.

Dalam kehidupan ini, keadaan dan situasi hidup manusia selalu berubah, ketika ia belum tahu hukum-hukum alam atau pun hukum-hukum  objek kajiannya yang lain, barangkali ia mememandangnya dengan berbagai perasaan, baik perasaan takut, mengagumi dan bahkan mendapatkan tantangan yang mengasyikkan. Akan tetapi, setelah semua perasaan itu dilaluinya dan ia menemukan hukum-hukum dan jawaban yang dicarinya, bisa saja keadaan menjadi berubah, karena dengan hukum-hukum dan jawaban yang diketahuinya dan dikuasainya itu, terbentang sejumlah kemungkina di depan matanya, yang dapat dimanfaatkan, untuk mengubah keadaan hidupnya.

  1. JENIS-JENIS PENGETAHUAN

Manusai berusaha mencari pengetahuan dan kebenaran, yang dapat diperolehnya dengan melalui beberapa sumber.

  1. Pengetahuan wahyu (revealed knowledge)

Manusia memperoleh pengetahuan dan kebenaran atas dasar wahyu yang diberikan Tuhan kepada manusia.[7]

  1. Pengetahuan Intuitif (intuitive knowledge)

Pengetahuan intuitif diperoleh manusia dari dalam dirinya sendiri, pada saat menghayati sesuatu. Pengetahuan intuitif disusun dan diterima dengan kekuatan visi imaginatif dalam pengalaman pribadi seseorang. Kebenaran tersebut tidak akan dapat diuji dengan konservasi, perhitungan, atau eksperimen, karena kebenaran intuitif tidak hipotesis. Tulisan-tulisan mistik, autobiografi, dan karya esai merupakan refleksi dari pengetahuan intuitif.[8]

Dalam pengertian secara umum, intuisi merupakan metode untuk memperoleh pengetahuan tidak berdasarkan penalaran rasio, pengalaman, dan pengamatan indera. Menurut kaum intuisionis, dengan intuisi kita akan mengetahuidan menyadari diri kita sendiri, mengetahui karakter perasaan dan motif orang lain, kita mengetahui dan memahami hakikat yang sebenarnya tentang waktu, gerak, dan aspek-aspek fundamental di alam jagat raya ini. Dalam intuisi kita dapat menangkap kenyataan yang konkrit.

  1. Pengetahuan Rasional (rational knowledge)

Pengetahuan rasioanal merupakan pengetahuan yang diperoleh dengan latihan rasio/akal semata, tidak disertai dengan observasi terhadap peristiwa-peristiwa faktual. Rasionalisme adalah aliran dalam filsafat yang mengutamakan rasio untuk memperoleh pengetahuan dan kebenaran. Menurut rasionalisme, pengalaman tidak mungkin dapat menguji kebenaran hukum “sebab-akibat”, karena peristiwa yang tidak terhingga dalam kejadian alam initidak mungkin dapat diobservasi.[9]

Rasionalisme memberikan kritik terhadap empirisme , bahwa :

a)      Metode empiris tidak memberi kepastian, tetapi hanya sampai pada probabilitas yanga tinggi ;

b)      Metode empiris, baik dalam sains maupun dalam kehidupan sehari-hari, biasanya bersifat sepotong-potong (piece meal).

Menurut pengakuan kaum rasionalis, mereka mencari kepastian dan kesempurnaan yang sistematis.

  1. Pengetahuan empiris (empirical knowledge)

Pengetahuan empiris diperoleh atas bukti penginderaan, dengan penglihatan, pendengaran, dan sentuhan indera-indera lainnya, sehingga kita memiliki konsep dunia di sekitar kita. Paradigma pengetahuan empiris adalah sains, dimana hipotesis-hipotesis sainsdiuji dengan observasi atau dengan eksperimen.

Aliran yang menjadikan empiri (pengalaman) sebagai sumber pengetahuan disebut empirisme. Empirisme merupakan aliran dalamfilsafat yang membicarakan pengetahuan. Pengalaman bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan akal, melainkan melibatkan akal sebagai bagian dari integral dari pengalaman. Dalam sains modern, para ahli sains menaruh perhatian pada kontrol observasi dan eksperimen, tidak semata-mata pada persepsi indera secara umum dan pengalaman-pengalaman.[10]

  1. Pengetahuan Otoritas (authoritative knowledge)

Kita menerima sesuatu pengetahuan itu benar bukan karena telah menceknya diluar diri kita, melainkan telah dijamin oleh otoritas (suatu sumber yang berwibawa, memiliki wewenang, berhak) di lapangan. Kita menerima pendapat orang lain, karena ia adalah seorang pakar dalam bidangnya. Misalnya kita menerima petuah agama dari seorang kiai, karena beliau merupakan orang yang sangat ahli dan menguasai sumber ajaran agama islam, tanpa kita harus mencek dari sumber aslinya (Qur’an dan Sunnah).  Kita sering mengutamakan pandangan kita dengan mengutip dari ensiklopedia atau hasil karya tulis oleh para pakar terkenal. Pada zaman kerajaan, sabda raja merupakan petuah yang dianggap benar, tidak salah, karena raja merupakan manusia yang paling berkuasa.

  1. TEORI PENGETAHUAN

Ada beberapa teori yang dapat dijadikan acuan untuk menentukan apakah pengetahuan itu benar atau salah, yaitu:

1). Teori korespondensi.

Menurut teori korespondensi, kebenaran merupakan persesuaian antara fakta dan situasi nyata. Kebenaran merupakan persesuaian antara pernyataan dalam pikiran dengansituasi lingkunganya. Teori ini paling luas diakui oleh realis.

Saya berpendapat bahwa pulau jawa merupakan pulau terpadat penduduknya di Indonesia. Pendapat saya itu benar bukan karena persesuaian dengan pendapat orang lain sebelumnya, atau karena diterima oleh banyak orang, melainkan karena bersesuaiandengan kenyataan yang sebenarnya. Ini merupakan ciri dari ilmuan yang selalu mencek dan mengontrol pikiran-pikiranya dengan data-data atau penemuan-penemuan.

2).  Teori Koherensi.

Menurut teori koherensi, kebenaran bukan persesuaian antara pikiran dengan kenyataan, melainkan persesuaian secara harmonis antara pikiran atau pendapat kita dengan pengetahuan kita yang telah dimiliki. Teori ini pada umumnya diakui oleh golongan idealis.

Pengertian persesuaian dalam teori ini berarti terdapat konsistensi (ketetapan, sehingga teori ini disebut juga teori konsistensi) yang merupakan ciri logis  hubungan antara pikiran-pikiran (ide-ide) yang telah kita miliki satu dengan yang lain. Bentuk yang paling sederhana dari teori koherensi adalah menuntut adanya konsistensi formal dalam sistem. Misalnya dalam rumus-rumus dalam matematika orang dapat membangun suatu sistem dalam geometri. Ada juga bebrapa kritik diberikan pada teori ini, diantaranya: pertama kita tidak dapat membangun sistem keterpaduan (coherent system) yang salah. Teori ini tidak dapat membedakan antara kebenaran yang konsisten dengan kesalahan yang konsisten.

3). Teori Pragmatisme.

Menurut teori pragmatisme, kebenaran tidak bisa bersesuaian dengan kenyataan, sebab kita hanya bisa mengetahui dari pengalamn kita saja. Di lain pihak, menurut pragmatisme,  teori koherensi adalah formal dan rasional. Pragmatisme berpendirian bahwa mereka tidak mengetahui apapun (agnostik) tentang wujud, esensi, intlektualitas dan rasionalitas. Oleh karena itu, pragmatisme menentang otoritarianisme, intelektualisme dan rasionalisme. Schiller, pengikut pregmatisme di Inggris, mengemukakan bahwa kebenaran merupaka suatu bentuk nilai, artinya apabila kita menyatakan benar terhadap sesuatu, berarti kita memberikan penilaian terhadapnya. Menurut  pragmatisme pula, kebenaran suatu yang diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis atau tidak. Artinya, pernyataan itu dikatakan benar kalau memiliki kegunaan praktis dalam kehidupan manusia.

  1. PERSOALAN UTAMA DALAM EPISTEMOLOGI

1.      Common sense

Dapat diartikan penerimaan secara baik oleh seseorang, misalnya orang tersebut mengatakan sesuatu itu marah karena memang itu marah. Pengetahuan dalam filsafat juga dapat diartikan common sense yang sering disebut “good sense”. Karena seseorang itu memiliki sesuatu yang dimana ia menerimanya secara baik.

2.      Soal pengetahuan.

Aristoteles mengawali metafisikanya dengan pernyataan  “setiap manusia dari kodratnya ingin tahu”. Ia begitu yakin mengenai hal itu sehingga dorongan untuk tahu ini tidak hanya disadari akan tetapi benar-benar diwujudkan dalam karyanya sendiri. Bukan tanpa alasan bahwa dia disebut “master” dari mereka yang tahu.[11]

Menurut Socrates berpendapat bahwa tidak ada manusia mempunyai pengetahuan, tetapi sementara orang-orang lain mengira bahwa mereka mempunyai pengetahuan. Socrates sendiri yang tahu bahwa ia tidak tahu.[12]

Sedangkan menurut  Plato. Filsafat itu dimulai dengan rasa kagum terhadap sesuatu yang canggih dan rumit, akan tetapi terhadap sesuatu yang sederhana, yang nampaknya jelas dipengalaman harian. Justru hal yang biasalah yang paling sulit dilukiskan.[13]

3.      Skeptisisme.

Adanya keberatan yang biasanya diajukan pada tahap ini adalah bahwa dalam pelaksanaannya epistimologi dianggap mengusulkan sesuatu tujuan khayal bagi dirinya sendiri. Sebab bila kita harus mendemonstrasikan validasi pengetahuan kita, berarti kita telah menggunakan kita dan akibatnya telah mengadakan validitasnya.

Pada tahap ini keberatan ada beberapa jawaban. Kita dapat mengetahui segi positif  yang terdapat dalam keberatan tersebut. Apa yang ditekankan ialah kelekatan tanpa syarat antara pikiran dan kenyataan,  dan hal ini tentu saja perlu ditekankan adanya pengetahuan merupakan suatu hal yang pokok dan tak dapat direduksikan. Pikiran anda, dan adanya pemikiran merupakan kesaksian bagi dirinya sendri mengenai keterbukaan terhadap ada tidak ada atau penyangkalan terhadap keterbukaan ini yang dapat dipertahankan.

4.      Analogi Pengetahuan

Filsafat pengetahuan adalah keterbukaan awal terhadap macam-macam arti dari “pengetahuan”. Kita harus tetap membuka pintu bagi kemungkinan bahwa cara-cara mengetahui  mungkin ada bermacam-macam dan setiap cara mungkin secara shahih bisa disebut “pengetahuan”. Secara tradisioanal epistimologi untuk membatasi diri pada persepsi indrawi dan pemahaman intlektual, dimana pemahaman tersebut dimengerti secara sempit.

5.      Metode dalam epistemologi.

Pernyatan dan Anggapan umum diantara filsuf skolastik untuk melihat pengkajian pengetahuan hanya didalam penafsiran pernyataan bisa salah arah. Kesesuaian terletak didalam kenyataan bahwa anggapan mengenai “pengetahuan” dihubungkan erat dengan kenyataan dari pernyataan atau penyangkalan. Dan persoalan mengenai kebenaran hanya muncul dalam kaitannya dengan pertimbangan.

Namun benar dalam pertimbangan mempunyai peranan penting yang sangat menentukan dari dalam pemahaman manusia. Namun disini epistimologi bukan hanya berurusan dengan pernyataan atau pertimbangan, tetapi epistimologi benar-benar  berurusan dengan pernyatan mengenai dasar pertimbangan.

Dari persoalan-persoalan yang dikemukakan oleh epistimologi ini terkandung nilai, yaitu berupa jalan atau metode penyelidikan kearah tercapainya pengetahuan yang benar.

6.      Aspek Eksistensial.

Kita dapat mengutip pendapat maritain bahwa tujuan epistimologi bukanlah menjawab pertanyaan apakah saya dapat tahu, tetapi untuk menemukan syarat-syarat yang memungkinkan saya untuk dapat tahu, jangkauan dan batas-batas pengetahuan saya. Peryataan ini merupakan definisi memadai dari tujuan dan jangkauan filsafat pengetahuan, dan tidak melibatkan kita pada ketidak konsistenan. Dalam hal ini epistimologi tidak menyatakan hak saya untuk menyatakan sesuatu, tetapi membuat peta dan melukiskan jangkauan hak itu.

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Asy’arie, Musa. 2001, Filsafat Islam, Yogyakarta: Lesfi.

Ewing. 2008, Persoalan-persoalan Mendasar Filsafat, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Hadi, Hardono. 1994, Epistemologi  Filsafat  Pengetahuan,Yogyakarta: Kanisius.

Sadulloh, Uyoh. 2003, Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung:  Alfabeta.

Suhartono, Suparlan. 2005. Dasar-dasar Filsafat. Yogyakarta: Ar-ruzz.


[1] Ewing, Persoalan-persoalan Mendasar Filsafat, (Yogyakarta: pustaka pelajar, 2008), hlm. 13

[2] Uyoh sadulloh, Pengantar Filsafat Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2003), hlm. 30

[3] Musa Asy’arie, Filsafat Islam, (Yogyakarta: Lesfi, 2001), hlm. 66

[4] Ibid, hlm. 72

[5] Ibid, hlm. 78

[6] Ibid, hlm. 79

[7] Uyoh Sadulloh,Opcit, hlm. 30

[8] Ibid, hlm. 31

[9] Ibid, hlm. 32

[10] Ibid, hlm. 33

[11] Hardono hadi,  Epistemologi filsafat pengetahuan,(Yogyakarta: Kanisius, 1994), hlm. 13

[12] Ibid, hlm. 13

[13] Ibid, hlm. 14

This entry was posted in SOS 2/F3. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s