LOGIKA SCIENTIFFIC : EPISTEMOLOGI

EPISTEMOLOGI

 

 

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

Logika Scientific

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh :

 

Rofi’ Nafi’ Ulya                   B35210058

 

 

Dosen Pembimbing:

 

Drs. Masduqi Affandi, M.pd.I

 

 

 

FAKULTAS DAKWAH

PRODI SOSIOLOGI

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

SURABAYA

2011

BAB I

PEMBAHASAN

 

A.    Pengertian Epistemologi

Logika merupakan cabang ilmu yang sulit dipisahkan dari epistomologi. Namun, secara umum dianggap sebagai disiplin yang berbeda. Logika adalah studi tentang berbagai jenis proposisi yang berbeda yang hubungan diantara mereka yang mejustifikasi kesimpulan beberapa bagian dari studi ini berhubungan erat dengan matematika, sebagian yang lain diklasifikasikan termasuk kedalam epistemologi.[1]

Sedangkan epistemologi sendiri pada intinya membicarakan tentang sumber-sumber pengetahuan dan bagaimana cara memperoleh pengetahuan.[2] Epistemologi berasal dari bahasa yunani yaitu Epistime, artinya pengetahuan atau ilmu pengetahuan. Dan logos yang artinya juga pengetahuan atau informasi. Jadi dapat dikatakan epistemologi artinya pengetahuan tentang pengetahuan atau adakalanya juga disebut filsafat pengetahuan, atau ada juga yang menyebut asal-usul, anggapan dasar, tabiat, rentang, kecermatan, dan lain-lain.

J. F. Farrier pada tahun 1854 adalah orang yang pertama kali menggunakan istilah epistemologi. Karena pada saat itu banyak orang yang menyebutnya filsafat pengetahuan karena ia membicarakan tentang pengetahuan.

 

B.     Persoalan-persoalan pokok dalam epistemologi

1.      Soal pengetahuan: kakaguman sebagai awal munculnya epistemologi.

Aristoteles mengawali metafisikanya dengan pernyataan “setiap manusia dari kodratnya ingin tahu”. Ia begitu yakin mengenai hal itu sehingga dorongan untuk tahu ini tidak hanya disadari akan tetapi benar-benar diwujudkan dalam karyanya sendiri. Bukan tanpa alasan bahwa dia disebut “master” dari mereka yang tahu.[3]

Menurut Socrates sebagai dua generasi sebelum Aristoteles berpendapat bahwa tidak ada manusia mempunyai pengetahuan, tetapi sementara orang-orang lain mengira bahwa mereka mempunyai pengetahuan. Socrates sendiri yang tahu bahwa ia tidak tahu.[4]

Sedangkan menurut  Plato. Filsafat itu mulai dengan rasa kagum terhadap sesuatu yang canggih dan rumit, tetapi terhadap sesuatu yang sederhana, yang nampaknya jelas dipengalaman harian. Justru hal yang biasalah yang paling sulit dilukiskan.[5]

Dalam hal ini, terdapat pokok tertentu yang menjadi obyek epistemologi sendiri sebagai suatu menifes dari penyelidikan filosofis. Dalam pengertian ini, usaha Descrates benar-benar membuka suatu zaman yang sama sekali baru didalam sejarah pemikiran. Sebab usaha Descrates ini merintis tahap dimana kekakuman filosofis sendirilah yang dijadikan objek penelitiannya.[6]

 

2.      Soal Common sense (anggapan umum atau akal sehat).

Common sense dapat diartikan penerimaan secara baik oleh seseorang[7], misalnya orang tersebut mengatakan sesuatu itu marah karena memang itu marah. Pengetahuan dalam filsafat juga dapat diartikan common sense yang sering disebut “good sense”. Karena seseorang itu memiliki sesuatu yang dimana ia menerimanya secara baik.

Dengan common sense semua orang sampai pada keyakinan secara umum tentang sesuatu. Dimana mereka akan berpendapat sama semuanya.

 

3.      Skeptisisme.

Keberatan yang biasanya diajukan pada tahp ini adalah bahwa dalam pelaksanaannya epistimologi dianggap mengusulkan sesuatu tujuan khayal bagi dirinya sendiri. Sebab bila kita harus mendemonstrasikan validasi pengetahuan kita, berarti kita telah menggunakan kita dan akibatnya telah mengadakan validitasnya.[8]

Tahap keberatan ini ada beberapa jawaban. Kita dapat mengetahui segi positif  yang terdapat dalam keberatan tersebut. Apa yang ditekankan ialah kelekatan tanpa syarat antara pikiran dan kenyataan,  dan hal ini tentu saja perlu ditekankan adanya pengetahuan merupakan suatu hal yang pokok dan tak dapat direduksikan. Pikiran anda, dan adanya pemikiran merupakan kesaksian bagi dirinya sendri mengenai keterbukaan terhadap ada tidak ada atau penyangkalan terhadap keterbukaan ini yang dapat dipertahankan.[9]

Meskipun sanggahan terhadap skeptisisme cenderung bernada negatif, tetapi mempunyai akibat positif. Sebab yang dinyatakan oleh pendapat Gilson ialah: pada tahap tertentu pikiran secara niscaya melekat pada adasedemikian rupa, sehingga kelekatan ini tidak dapat disangkal. Maka kita sampai pada nilai tanpa syarat dari pernyataan bila kita menyadari bahwa tidak mungkinlah menyatakan ketidak mampuan kita untuk menyatakan.

 

4.      Aspek Eksistensial.

Kita dapat mengambil pendapat maritain bahwa tujuan epistemologi bukanlah menjawab pertanyaan apakah saya dapat tahu, tetapi untuk menemukan syarat-syarat yang memungkinkan saya untuk dapat tahu, jangkauan dan batas-batas pengetahuan saya. Peryataan ini merupakan definisi memadai dari tujuan dan jangkauan filsafat pengetahuan, dan tidak melibatkan kita pada ketidak konsistenan. Dalam hal ini epistemologi tidak menyatakan hak saya untuk menyatakan sesuatu, tetapi membuat peta dan melukiskan jangkauan hak itu.[10]

 

5.      Analogi Pengetahuan

Filsafat pengetahuan adalah keterbukaan awal terhadap macam-macam arti dari “pengetahuan”. Kita harus tetap membuka pintu bagi kemungkinan bahwa cara-cara mengetahui  mungkin ada bermacam-macam dan setiap cara mungkin secara shahih bisa disebut “pengetahuan”. Pengetahuan adalah pernyataan dari diri anda. Secara tradisioanal epistemologi untuk membatasi diri pada persepsi indrawi dan pemahaman intlektual, dimana pemahaman tersebut dimengerti secara sempit. Tetapi hal ini tidak memadai. Pengetahuan adalah peristiwa yang menyebabkan kesadaran manusia memasuki terang ada. Kita bisa meramalkan bagaimana ada itu dinyatakan. Sikap awal yang tetap bagi filsuf pengetahuan adalah kerendahan hati didalam mengahadapi pengalaman. Filsuf pengetahuan harus memiliki keterbukaan total.[11]

 

 

6.      Metode dalam epistimologi.

Anggapan umum diantara filsuf skolastik untuk melihat pengkajian pengetahuan hanya didalam penafsiran pernyataan bisa salah arah. Kesesuaian terletak didalam kenyataan bahwa anggapan mengenai “pengetahuan” dihubungkan erat dengan kenyataan dari pernyataan atau penyangkalan. Dan persoalan mengenai kebenaran hanya muncul dalam kaitannya dengan pertimbangan.

Namun benar dalam pertimbangan mempunyai peranan penting yang sangat menentukan dari dalam pemahaman manusia. Namun disini epistemologi bukan hanya berurusan dengan pernyataan atau pertimbangan, tetapi epistemologi benar-benar  berurusan dengan pernyatan mengenai dasar pertimbangan. Nilai kebenaran pertimbangan harus diputuskan berdasarkan evidensi.[12] Dan keterlibatan epistimologi sebenarnya adalah dengan persoalan evidensi. Persoalan ini lebih luas daripada persoalan pertimbangan. Mungkin saja bahwa saya tahu lebih banyak daripada yang dapat saya nyatakan didalam pertimbangan.

Dari persoalan-persoalan yang dikemukakan oleh epistemologi ini terkandung nilai, yaitu berupa jalan atau metode penyelidikan kearah tercapainya pengetahuan yang benar.[13]

 

C.     Aliran-aliran dalam epistemologi.

Seringkali tidak disadari bahwa begitu seseorang merumuskan sesuatu, atau membuat pernyataan tertentu. Sebenarnya ia telah melibatkan keputusan filsafati tertentu. Karenanya seorang pemikir. Demi kecermatan pemikirannya, mutlak perlu mengidentifikasikan keputusan filsafat terlibat didalam pemikirannya.[14]

Pengetahuan manusia diperoleh dengan berbagai cara dengan menggunakan berbagai alat. Ada beberapa aliran dalam epistemologi diantaranya adalah:

1.      Empirisme.

Kata empiris berasal dari kata yunani Empirikos yang berasal dari kata emperia artinya pengetahuan. Menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalaman. Dan dikembalikan kepada kata yunani nya, pengalaman yang dimaksud ialah pengalaman inderawinya. Manusia tahu es itu dingin karena ia menyentuhnya.[15]

Bapak aliran ini adalah John Loch (1632-1704) dengan teorinya “tabur rasa” yang artinya secara bahasa adalah meja lilin. Aliran ini mempunyai bebrapa kelemahan diantaranya:

a). Indra terbatas. Benda yang jauh kelihatannya kecil. Karena kemampuan indra ini dapat melaporkan objek yang tidak sebagaimana adanya.

b). Indra menipu. Orang yang sakit malaria gula itu rasanya pahit. Karena objek yang menipu contohnya ilusi, fatamorgana, jadi objek itu tidak sebagaimana ditangkap oleh alat indra.

c). Kekurangan terdapat pada indra dan objek sekaligus, indra (dalam hal ini mata) tidak bisa melihat kerbau secara keseluruhan, begitu juga kerbau tidak bisa dilihat secara keseluruhan.

Kesimpulannya ialah empirisme lemah karena keterbatasan indra manusia.

 

2.      Rasionalisme

Secara singkat aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan.[16] Pengetahuan yang benar hanya dapat diperoleh dengan akal. Manusia menurut aliran ini memperoleh pengetahuan melalui kegiatan akan menagkap objek. Bapak aliran ini orang mengatakan Rene Descrates (1596-1650). Meskipun paham ini jauh sudah ada sebelumnya (pada masa yunani kuno). Bagi aliran ini, kekeliruan pada empirisme yang disebabkan karena kelemahan  oleh alat indra tadi, dapat dikoreksi seandainya akal digunakan. Kendati demikian aliran ini tidak mengingkari kegunaan alat indra dalam memperoleh pengetahuan. Pengalaman indra diperlukan merangsan akal dan memberikan bahan-bahan yang menyebabkan akal dapat bekerja. Laporan indra merupakan bahan yang belum jelas dan kacau. Kemudian bahan tadi dipertimbangkan oleh akal dalam pengalamannya berfikir.

 

3.      Positivisme.

Tokoh aliran ini adalah Agust Comte (1798-1857). Ia penganut empirisme berpendapat bahwa indra itu amat penting dalam memperoleh pengetahuan, tetapi harus dipertajam dengan alat bantu dan diperkuat dengan eksperimen. Kekeliruan indra dapat dikoreksi lewat eksperimen-eksperimen. Eksperimen memerlukan ukuran yang jelas. Contoh panas diukur dengan drajat panas, jauh diukur dengan meteran dan sebagainya.

Kebenaran diperoleh dengan akal, didukung bukti empiris yang terukur. “terukur” itulah sumbangan positivisme. Jadi, pada dasarnya positivisme bukan suatu aliran yang khas berdiri sendiri. Ia hanya menyempurnakan empirisme dan rasionalisme yang bekerja sama. Dengan kata lain ia menyempurnakan metode ilmiah (scientific method) dengan memasukkan seperlunya eksperimen dan ukuran-ukuran. Jadi, pada dasarnya positivisme itu sama dengan empirisme dan rasionalisme.[17]

 

4.      Intuisionisme.

Henri Bergson (1859-1941). Adalah tokoh aliran ini, ia menganggap tidak hanya indra yang terbatas, akal juga terbatas. Objek-objek yang kita tangkap itu adalah objek yang selalu berubah, demikian Bergson. Jadi pengetahuan kita tentangnya tidak pernah tetap. Intelek atau akal juga terbatas. Akal hanya mampu memahami bagian-bagian dari objek, kemudian bagian-bagian itu dihubungkan oleh akal. Itu tidak sama dengan pengetahuan menyeluruh tentang objek itu.

Kemampuan ini mirip dengan intinct, tetapi berbeda dalam kesadaran dan kebebasannya. Pengetahuan itu diperoleh bukan lewat indra dan bukan lewat akal, melainkan lewat hati. Dalam hal ini sama dengan Intuisionisme.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Epistemologi membicarakan tentang sumber-sumber pengetahuan dan bagaimana cara memperoleh pengetahuan tersebut. Adakalanya epistemologi disebut teori pengetahuan atau filsafat pengetahuan.

Adapun persoalan-persoalan pokok dalam epistemologi yaitu common sense (anggapan umum atau akal sehat), skeptisisme, kekaguman sbagai awal munculnya epistemologi, aspek ekstensial, analogi pengetahuan dan metode dalam epistemologi. Serta dalam epistemologi juga ada beberapa aliran yaitu aliran empirisme yaitu memperoleh pengetahuan dengan menggunakan pengalaman indrawi. Aliran rasionalisme yaitu aliran yang selain menggunakan indrawi disini aliran ini juga menggunakan akal. Aliran positivisme aliran ini menyempurnakan aliran empirisme dan aliran rasionalisme. Selain menggunakan indra dan akal harus disertai dengan eksperimen dan ukuran-ukuran. Yang terakhir adalah aliran intuisionisme yaitu aliran yang dalam memperoleh pengetahuan bukan lewat indra dan bukan lewat akal akan tetapi lewat hati.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Ewing. 2008. Persoalan-persoalan Mendasar Filsafat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Hadi, Handono. 1994. Epistemologi Filsafat Pengetahuan. Yogyakarta: Kanisius.

Poespoprodjo. 2010. Logika scientifika pengantar dialektika dan ilmu. Bandung: Pustaka Grafika.

Suhartono, Suparlan. 2005. Dasar-dasar Filsafat. Yogyakarta: Ar-ruzz.

Tafsir, Ahmad. 2007. Filsafat Umum. Bandung: Remaja Rosdakarya.

 


[1] Ewing, persoalan-persoalan mendasar filsafat, (Yogyakarta: pustaka pelajar, 2008), hlm. 13

[2] Ahmad Tafsir,  filsafat umum, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), hlm. 23

[3] Hardono hadi,  Epistemologi filsafat pengetahuan,(Yogyakarta: Kanisius, 1994), hlm. 13

[4] Hardono hadi, Ibid, hlm. 13

[5] Ibid, hlm. 14

[6] Ibid, hlm. 16

[7] Burhanudin salam, Logika materil filsafat ilmu pengetahuan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), hlm. 136

[8] Hardono Hadi, Epistemologi Filsafat Pengetahuan, (Yogyakarta: Kanisius, 1994), hlm. 19

[9] Hardono Hadi, Ibid, hlm. 20

[10] Ibid, hlm. 20

[11] Ibid, hlm. 25

[12] Ibid, hlm. 26

[13] Suparlan suhartono, Dasar-dasar Filsafat, (Yogyakarta: Ar-ruzz, 2005), hlm. 155

[14] W. Poespoprodjo, Logika Scientifika Pengantar Dialektika dan Ilmu, (Bandung: Pustaka Grafika, 2010), hlm. 34

[15] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, (Bandung: Remaja Rosdiakarya, 2007), hlm. 24

[16] Ibid, hlm. 25

[17] Ibid, hlm. 27

This entry was posted in SOS 2/F3. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s