LOGIKA : EPISTEMOLOGI

EPISTEMOLOGI

MAKALAH

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah

Logika Scientific

 

 

Oleh :

Disusun Oleh :

Abdul Ghofur Chilmiy            (B75210072)

Dosen Pembimbing :

JURUSAN SOSIOLOGI

FAKULTAS DAKWAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

SURABAYA

2011

KATA PENGANTAR

Segala puja dan puji syukur saya panjatkan kehadirat ALLAH SWT ,atas Rahmad dan hidayat Nya yang telah dilimpahkan sehingga  saya dapat menyelesaikan Tugas Logika Scientific ini.

Dengan terselesaikannya Tugas ini saya berharap makalah ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan dari pembaca, serta dapat menjadikan pelajaran atas apa yang ada dalam laporan ini.

Kiranya cukup sekian Pengantar dari saya, apabila Tugas ini kurang sempurna saya mohon kritik dan sarannya guna pengembangan lebih lanjut. Kurang lebihnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.

 

 

 

 

                                                                             Surabaya, 01 Juni 2011

 

 

Penulis

 

DAFTAR ISI

 

Kata Pengantar…………………………………………………       2

Daftar Isi……………………………………………………………..       3

 

BAB I: PENDAHULUAN……………………………………………       4

 

BAB II: PEMBAHASAN…………………………………………….       5

  1. Kodrat Hidup……………………………………………………       5

2.     Sasaran Pengetahuan…………………………………………..       6

3.     Proses Pemikiran………………………………………………..       7

4.     Teori Keilmuan…………………………………………………..       8

 

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

          Suatu kegiatan dalam hidup manusia adalah berpikir. Ilmu, seni, agama, dan juga praktek hidup, semuanya menggunakan pemikiran. Akal sebagai alat pikir digunakan manusia di segala bidang. Ia menjadi penimbang dan pengukur bagi tindakan manusia, yaitu berpikir dan berbuat.

Hasil kegiatan berpikir disebut tahu. Salah satu bagian filsafat yang membahas pengetahuan ialah epistemologi. Epistemologi membicarakan pengetahuan dari pangkal sampai ujung. Ia membahas sendi pengetahuan, wilayahnya, prosesnya, serta bobotnya, dalam rangka menggapai kebenaran sejati.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. KODRAT HIDUP

 

Kemampuan bawaan mengandung nilai intelek terdapat di dalamnya, berkenaan dengan nilai intelek inilah, kemampuan orang disebut “mampu tahu”. Mampu tahu mengandung implikasi bahwa setiap orang memiliki kesanggupan untuk tahu dan tidak tahu. Terhadap kenyataan ini Al-Ghazali mengutip pendapat Al Khalil Bin Ahmad tentang adanya empat kemungkinan tahu[1], yaitu:

 

  1. Tahu bahwa dirinya tahu
  2. Tahu bahwa dirinya tidak tahu
  3. Tidak tahu bahwa dirinya tahu
  4. Tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu

 

Kemampuan tahu bersifat statis, untuk mengbahnya menjadi dinamis, diperlukan adanya daya pendorong, yaitu keingin tahu. Mampu tahu dan ingin tahu berpadu satu saling membutuhkan. Tanpa kemampuan, keinginan tak akan terwujud. Tanpa keinginan kemampuan pun tak akan tumbuh. Disini tampaklah kerja sama keduanya.

 

Tujuan minimal keinginan tahu adalah memperpendek jarak antara subjek dan objek. Bilamana mungkin, tujuan maksimalnya adalah menghapus jarak itu, sehingga tidak ada lagi jarak antara keduanya.

 

Keinginan tahu merupakan salah satu dari sekian banyak naluri yang ada pada manusia.[2] Sebagai naluri, sudah tentu itu sulit dibendung. Ia berusaha terus untuk dapat menembus dinding rahasia, sekalipun sampai rahasia tertinggi.

 

  1. SASARAN PENGETAHUAN

 

Berpikir juga menggunakan akal. Akal mengolah bahan, baik bahan pemikiran maupun bahan pengalaman. Akal mencoba menerobos ke dalam bahan tadi untuk mengetahui hal sebenarnya. Di dorong oleh keinginan tahu, akal tidak merasa puas dengan apa yang tampak, tetapi berupaya mengetahui apa yang ada di balik itu. Daerah jelajah akal cukup luas, dalam, dan jauh. Semuanya menjadi sasaran pemikiran.

 

Perlu diperhatikan perbedaan antara sasaran dan tujuan. Tujuan adalah sesuatu yang dikehendaki, sedangkan sasaran adalah tempat atau wilayah dimana kehendak bisa terpenuhi. Jadi, tujuan tidak mungkin dicapai tanpa adanya sasaran, sebab pada sasaran itulah tujuan diperoleh. Dengan demikian, tempat seseorang berbuat adalah sasaran perbuatannya, sedangkan maksud yang dikandung dalam perbuatan itu adalah tujuannya. Misalnya, seseorang berpergian ke surabaya, maka kota ini adalah sasaran kepergiaanya, sedangkan tujuannya mungkin membeli barang (di tunjungan), menghibur diri (di kenjeran). Surabaya merupakan sasaran luas, sedangkan Tunjungan dan Kenjeran merupakan sasaran sempit.

 

Jenis sasaran pengetahuan, dilihat dari arah objek (yang diamati) itu sendiri, ada dua:[3]

  1. Objek material, ialah sesuatu yang diamati secara menyeluruh (integral). Misalnya, wujud keseluruhan papan tulis.
  2. Objek formal, bagian tertentu yang diamati dari sesuatu (parsial). Misalnya, warna papan tulis.

 

Jenis sasaran pengetahuan, dilihat dari arah subjek (yang mengamati),

ada tiga:[4]

  1. Objek empiris, yaitu sasaran yang pada dasarnya ada dapat ditangkap oleh indra lahir atau indra batin.
  2. Objek ideal, yaitu sasaran yang pada dasarnya tiada dan menjadi ada berkait kegiatan sukma atau akal.
  3. Objek transenden, yaitu sasaran yang pada dasarnya ada, tetapi berada diluar jangkauan pikiran dan perasaan manusia.
    1. PROSES PEMIKIRAN

 

Perlu diketahui bahwa setiap pemikiran mendengar kata “pemikiran”, ada dua kemungkinan tanggapan yang terbesit di benak:

  1. Pemikiran dalam arti proses.

Misalnya: saya tidak bisa mengikuti pemikirannya.

  1. Pemikiran dalam arti hasil.

Misalnya: pemikiranya bagus, saya bisa menerimanya.

 

Arti pertama, biasanya disebut pemikiran, sedangkan arti kedua, lazimnya disebut pengetahuan (pendapat). Yang dibicarakan dalam bab ini ialah pemikiran dalam arti pertama.

 

Pemikiran ialah mencari sesuatu yang belum diketahui berdasarkan sesuatu yang telah diketahui.[5] Sesuatu yang telah diketahui merupakan bahan pemikiran yang disebut data atau fakta, yaitu gejala atau peristiwa yang ditangkap oleh indra. Sedangkan sesuatu yang belum diketahui akan menjadi hasil pemikiran, yang dinamakan konklusi atau konsekuensi, yaitu pengetahuan baru yang dituju dalam proses berpikir.

 

Prose berpikir semacam di atas, dibahas oleh logika. Logika (logies) ialah ilmu tentang logos (pikiran).ia adalah saluran yang dilalui dan harus dilalui oleh aliran pemikiran.[6] Defenisi ini menunjukkan adanya hal yang tidak bisa lain. Paduan antara kebiasaan (dassein) dan keharusan ( das sallen) menyebabkan adanya keharusan mutlak bagi akal untuk melewati pengertian. Sekali menyimpang dari hal itu, maka pemikiran menjadi tidak logis, sehiingga dengan sendirinya hasilnya pun tertolak. Saluran (wadah) menunjuk pada bentuk, sedangkan aliran (isi) menunjuk pada bahan. Wujud bahan pikiran (pendapat) yang terasa terbelit, disebabkan oleh wadah yang tidak beraturan. Logika hanya dengan berurusan dengan bentuk. Adapun bahannya (aliran pemikiran) bukan wewenang logika untuk membahas.

 

 

  1. TEORI KEILMUAN

 

Telah dikemukakan bahwa pengetahuan adalah hasil suatu proses berpikir. Proses berpikir bertumpu pada pengetahuan yang berlaku dan darinya diperoleh pengetahuan baru. Dengan demikian, pengetahuan baru tidak lain adalah kelanjutan dari pengetahuan yang mendahuluinya. Disini terlihat bahwa pengetahuan orang tersusun dari umum ke khusus (deduksi) atau dari khusus ke umum (induksi). Hal yang umum disebut genus (class), yaitu kelompok yang lebih luas, dan hal yang khusus disebut species (subclass), yaitu kelompok yang lebih sempit.[7] Misalnya, binatang adalah genus (class), sedangkan kuda adalah species (subclass). Dalam filsafat, masalah pengetahuan dibahas dalam epistemologi, yang mencakup: hakikat, unsur, macam, tumpuan, batas, dan sasaranya.

 

Perlu ditegaskan sekali lagi bahwa pengetahuan tidak sama dengan pengertian. Istilah daya serap yang lazim digunakan dalam lapangan pendidikan (pengajaran), tidak lain adalah pengertian. Jadi, kalau antara pengetahuan dan pengertian dibandingkan, maka dapat dinyatakan bahwa pengetahuan adalah pengamatan terhadap keseluruhan benda atau peristiwa.

 

Pada defenisi tahu menurut Langeveld, tersirat unsur pengetahuan, yaitu pengamatan (mencamkan), sasaran (objek), dan kesadaran (jiwa). Ketiga unsur ini merupakan kesatuan yang saling mengikat.

 

Menurut I.R. Poedjawijatna, jalan menuju perolehan pengetahuan ialah pengindraan, tanggapan, ingatan, dan fantasi.[8] Dalam menangkap objek konkret, tidak semua indra digunakan, melainkan hanya indra tertentu. Oleh karena itu, pengetahuan yang diperoleh pun tertentu pula, berlaku bagi hal yang khusus, jadi merupakan pengetahuan khusus. Sebagai contoh, awan hanya bisa dilihat, suara hanya bisa didengar.

 

Indra mempunyai batas jangkauan, dan juga memiliki kelemahan. Pada jarak yang melebihi ketentuan, suara menjadi tidak terdengar. Tongkat dicelupkan sebagian ke dalam air, terlihat bengkok. Maka, tinggal kepandaian akallah untuk memutuskannya.

DAFTAR PUSTAKA

 

Drs. Mudlor Achmad, Ilmu dan Keinginan Tahu Epistimologi dalam Filsafat, PT.Trigenda Karya, Bandung, 1994

 


[1] Abu Hamid Muhmmad al-Ghazali, Ihya Ulumuddin (Cet. I; Mesir,1993) I, hlm. 52

[2] Ahmad Amin, Etika,terj.Prof. K.H. Farid Ma’ruf (Cet. IV; jakarta, 1986), hlm. 18

 

 

 

[3] I.R. Poedjawijatna, tahu dan pengetahuan, (Cet. III; jakarta, 1997), hlm. 30

[4] M.J. Langeved, menuju ke pemikiran filsafat, terj. C.J. Claessen, (Cet. III; jakarta, 1959), hlm 100

[5]Partap Sing Mehra, Jazir Burhan, Pengantar Logika tradisional, (cet. IV; bandung, 1988), hlm 2

[6] M.J. Langeved, menuju ke pemikiran filsafat, terj. C.J. Claessen, (Cet. III; jakarta, 1959), hlm 27

 

 

 

[7] Partap Sing Mehra, Jazir Burhan, Pengantar Logika tradisional, (cet. IV; bandung, 1988), hlm 24

[8] Poedjawijatna, op.cit, hlm. 102

This entry was posted in SOS 2/F3. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s