Konstruksi Epistemologis Pemikiran Hans Georg Gadamer

Zulfiqar Hafizh Aslam

2F3 / B75210074

Epistemologi

 

Konstruksi Epistemologis Pemikiran Hans Georg Gadamer

 

1. Sumber dan Hakikat Pengetahuan

Menurut Gadamer, sejarah atau sosialitas masyarakat merupakan medium berlangsungnya semua sistem pengetahuan. Sejarah sendiri merupakan sebuah perjalanan tradisi yang ingin membangun visi dan horison kehidupan di masa depan.[1] Di dalam sejarah, setiap orang mengembangkan cara-cara memahami satu sama lain. Mereka mengkombinasikan berbagai makna menjadi satu sistem makna yang general. Dengan demikian, bahasa suatu masyarakat (native language) tidak hanya sebagai simbol yang merepresentasi diri (self), tetapi juga karakter (nature) dan pemikiran atau pandangan masyarakat (worldview, thought, weltanschaung). Bahasa memiliki kekuatan untuk mengungkap dan juga menyembunyikan suatu makna yang dimiliki atau dipahami secara eksklusif oleh komunitas setempat. Oleh karena itu, orang lain yang hendak memahami bahasa atau pemikiran suatu masyarakat harus masuk ke dalam sejarah dan cara membahasa mereka (baca: tradisi mereka).

Singkatnya, kerangka pemikiran (worldview) dan pengetahuan (self-knowledge) manusia dibentuk dan mewujud dalam seluruh proses sejarah. Dari sini dapat disimpulkan bahwa tugas utama hermeneutik adalah memahami teks (baca: sejarah dan tradisi) dan hakikat pengetahuan dalam tradisi hermeneutik filosofis Gadamer adalah pemahaman atau penafsiran (verstehen) terhadap teks tersebut sesuai dengan situasi dan kondisi sang penafsir.[2]

 

 

2. Alat Pengetahuan

Karena bahasa merupakan the concrete expression of ‘form of life’ or ‘tradition’ (ekspresi kongkret dari kehidupan atau tradisi), maka bahasa menjadi titik sentral dalam proses pemahaman (understanding/verstehen). Menurut Gadamer, “mengerti” tidak mungkin dapat terlaksana tanpa bahasa. Karena “mengerti” bukan saja dilakukan dalam memahami teks-teks masa lampau, tetapi merupakan sikap paling fundamental dalam eksistensi manusia, maka dapat disimpulkan bahwa bahasa mempunyai relevansi ontologis. “Mengerti” sama dengan mengadakan percakapan atau dialog dengan yang ada, suatu percakapan di mana sungguh-sungguh terjadi sesuatu.[3] Gadamer menegaskan bahwa masalah hermeneutik bukan penguasaan yang benar terhadap bahasa, tetapi pemahaman yang tepat terhadap sesuatu yang terjadi melalui media bahasa.[4] Kaitannya dengan proses pemahaman, Gadamer menegaskan hanya melalui bahasalah wujud (baca: makna) bisa disingkapkan.[5]

Berbicara tentang bahasa, Gadamer sering menekankan bahwa bahasa tidak terutama mengekspresikan pemikiran, tetapi mengekspresikan objek itu sendiri. Menurutnya, tidak ada perkataan yang dapat mengungkapkan suatu objek secara tuntas. Hal ini terjadi bukan karena keterbatasan bahasa, tetapi karena keberhinggaan (baca: keluasan) subjek manusia.[6] Selanjutnya, Gadamer juga menjelaskan bahwa bahasa lebih dari sekadar suatu sistem tanda. Sebab, objek dan kata tidak dapat dipisahkan. Di antara keduanya terdapat kesatuan yang begitu erat, sehingga mencari suatu kata sebetulnya tidak lain daripada mencari kata yang seakan-akan melekat pada benda. Demikian pula, bahasa dan pemikiran pun membentuk suatu kesatuan yang tak terpisahkan.[7]

 

3. Teori dan Metode Memperoleh Pengetahuan

Berikut ini adalah teori dan metode Gadamer dalam memperoleh pengetahuan, dalam hal ini meraih pemahaman atas suatu teks atau tradisi :

a. Teori “Kesadaran Keterpengaruhan oleh Sejarah” (Historically Effected Consciousness)

Menurut teori ini, pemahaman seorang penafsir ternyata dipengaruhi oleh situasi hermeneutik tertentu yang melingkupinya, baik itu berupa tradisi, kultur, ataupun pengalaman hidup. Oleh karena itu, pada saat menafsirkan sebuah teks, seorang penafsir harus sadar bahwa dia berada pada posisi tertentu yang bisa mempengaruhi pemahamannya terhadap sebuah teks yang sedang ditafsirkannya. Lebih lanjut Gadamer mengatakan, seseorang harus belajar memahami dan mengenali bahwa dalam setiap pemahaman, baik dia sadar atau tidak, pengaruh dari affective history (“sejarah yang mempengaruhi seseorang”) sangat mengambil peran. Sebagaimana diakui oleh Gadamer, mengatasi problem keterpengaruhan ini memang tidaklah mudah. Pesan dari teori ini adalah bahwa seorang penafsir harus mampu mengatasi subjektivitasnya ketika dia menafsirkan sebuah teks.

b. Teori “Prapemahaman” (Pre-Understanding)

Keterpengaruhan oleh situasi hermeneutik atau affective history tertentu membentuk pada diri seorang penafsir apa yang disebut Gadamer dengan istilah pre-understanding atau “prapemahaman” (baca: praanggapan) terhadap teks yang ditafsirkan. Prapemahaman yang merupakan posisi awal penafsir memang pasti dan harus ada ketika ia membaca teks. Gadamer menyatakan bahwa dalam proses pemahaman, prapemahaman selalu memainkan peran. Dalam praktiknya, prapemahaman ini diwarnai oleh tradisi yang berpengaruh, di mana seorang penafsir berada, dan juga diwarnai oleh perkiraan awal (prejudice) yang terbentuk dalam tradisi tersebut.

Keharusan adanya prapemahaman tersebut, menurut teori ini, dimaksudkan agar seorang penafsir mampu mendialogkannya dengan isi teks yang ditafsirkan. Tanpa prapemahaman, seseorang tidak akan berhasil memahami teks dengan baik. Bahkan, Oliver R. Scholz menyatakan bahwa prapemahaman yang disebutnya dengan istilah “asumsi atau dugaan awal” merupakan “sarana yang tak terelakkan bagi pemahaman yang benar”. Meskipun demikian, menurut Gadamer, prapemahaman harus terbuka untuk dikritisi, direhabilitasi, dan dikoreksi oleh penafsir itu sendiri ketika dia sadar atau mengetahui bahwa prapemahamannya itu tidak sesuai dengan apa yang dimaksud oleh teks yang ditafsirkan. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari kesalahpahaman terhadap pesan teks. Hasil dari rehabilitasi atau koreksi terhadap prapemahaman ini disebutnya dengan istilah “kesempurnaan prapemahaman”.

c. Teori “Penggabungan/Asimilasi Horison” (Fusion of Horizons) dan Teori “Lingkaran Hermeneutik” (Hermeneutical Circle)

Dalam menafsirkan teks, seseorang harus selalu berusaha memperbarui prapemahamannya. Hal ini berkaitan erat dengan teori “penggabungan atau asimilasi horison” (fusion of horizons). Menurut teori ini, proses penafsiran seseorang dipengaruhi oleh dua horison, yakni cakrawala (pengetahuan) atau horison yang ada di dalam teks dan cakrawala (pemahaman) atau horison pembaca. Kedua horison ini selalu hadir dalam setiap proses pemahaman dan penafsiran. Seorang pembaca teks akan memulai pemahaman dengan cakrawala hermeneutiknya. Namun, dia juga memperhatikan bahwa teks yang dia baca mempunyai horisonnya sendiri yang mungkin berbeda dengan horison yang dimiliki pembaca. Dua bentuk horison ini, menurut Gadamer, harus dikomunikasikan, sehingga ketegangan di antara keduanya dapat diatasi. Oleh karena itu, ketika seseorang membaca teks yang muncul pada masa lalu, maka dia harus memperhatikan horison historis di mana teks tersebut muncul (baca: diungkapkan atau ditulis).

Seorang pembaca teks harus memiliki keterbukaan untuk mengakui adanya horison lain, yakni horison teks yang mungkin berbeda atau bahkan bertentangan dengan horison pembaca. Dalam hal ini, Gadamer menegaskan, “Saya harus membiarkan teks masa lalu berlaku (memberikan informasi tentang sesuatu). Hal ini tidak semata-mata berarti sebuah pengakuan terhadap ‘keberbedaan’ masa lalu, tetapi juga bahwa teks masa lalu mempunyai sesuatu yang harus dikatakan kepadaku.” Intinya, memahami sebuah teks berarti membiarkan teks yang dimaksud berbicara.

Interaksi di antara dua horison tersebut dinamakan “lingkaran hermeneutik” (hermeneutical circle). Menurut Gadamer, horison pembaca hanya berperan sebagai titik berpijak seseorang dalam memahami teks. Titik pijak pembaca ini hanya merupakan sebuah “pendapat” atau “kemungkinan” bahwa teks berbicara tentang sesuatu. Titik pijak ini tidak boleh dibiarkan memaksa pembaca agar teks harus berbicara sesuai dengan titik pijaknya. Sebaliknya, titik pijak ini justru harus bisa membantu memahami apa yang sebenarnya dimaksud oleh teks. Dalam proses ini terjadi pertemuan antara subjektivitas pembaca dan objektivitas teks, di mana makna objektif teks harus lebih diutamakan oleh pembaca atau penafsir teks.

d. Teori “Penerapan/Aplikasi” (Application)

Makna objektif teks harus mendapat perhatian dalam proses pemahaman dan penafsiran. Ketika makna objektif telah dipahami, kemudian apa yang harus dilakukan oleh pembaca atau penafsir teks yang di dalamnya terkandung pesan-pesan yang harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari? Di sisi lain, situasi ketika munculnya teks tersebut dan masa ketika seorang penafsir hidup telah jauh berbeda. Menurut Gadamer, ketika seseorang membaca kitab suci, maka selain proses memahami dan menafsirkan, ada satu hal lagi yang dituntut, yakni “penerapan” (application) pesan-pesan atau ajaran-ajaran pada masa ketika teks kitab suci itu ditafsirkan. Pertanyaannya adalah: apakah makna objektif teks tersebut harus terus dipertahankan dan diaplikasikan pada masa ketika seorang penafsir hidup? Menanggapi pertanyaan ini, Gadamer berpendapat bahwa pesan yang harus diaplikasikan pada masa penafsiran bukan makna literal teks, tetapi “makna yang berarti” (meaningfull sense) atau pesan yang lebih berarti daripada sekadar makna literal.

Intinya, dalam membaca dan mamahami teks-teks historis berlaku proses hermeneutis yang dalam istilah Gadamer disebut effective history.[8] Konsep ini dimaksudkan untuk melihat tiga kerangka waktu yang mengitari wilayah teks-teks historis. Pertama, masa lampau, di mana sebuah teks dilahirkan atau dipublikasikan. Di sini, makna teks bukan hanya milik pengarang, tetapi juga milik setiap orang yang berusaha membaca dan memahaminya. Kedua, masa kini, di mana penafsir datang dengan membawa sejumlah prasangka atau praanggapan. Dengan prasangka ini, penafsir akan berdialog dengan masa lalu sehingga melahirkan makna baru yang sesuai dengan kondisi penafsir. Ketiga, masa depan, di mana di dalamnya terdapat nuansa baru yang produktif.[9]

 

4. Teori Kebenaran Pengetahuan

Dalam Truth and Method, Gadamer berusaha melanjutkan dan menyempurnakan gagasan gurunya, Martin Heidegger, tentang keterkaitan antara keberadaan manusia dan kemungkinan pemahaman yang bisa dilakukan. Dalam pandangan Heidegger, yang kemudian diikuti dan disempurnakan oleh Gadamer, hermeneutik adalah penafsiran terhadap esensi (being) yang dalam kenyataannya selalu tampil dalam eksistensi. Dengan demikian, suatu kebenaran tidak lagi ditandai oleh adanya kesesuaian (koherensi) antara konsep teoritis dan realitas objektif (sebagaimana dilakukan oleh kalangan positivisme dengan dalih mencari objektivitas), tetapi oleh tersingkapnya esensi atau hakikat sesuatu. Dan, satu-satunya wahana bagi penampakan being tersebut adalah eksistensi manusia.[10]

 

5. Pengujian Kebenaran Pengetahuan

Di atas telah dinyatakan bahwa dalam tradisi hermeneutika filosofis yang digagas oleh Heidegger dan Gadamer, suatu kebenaran tidak lagi ditandai oleh adanya kesesuaian (koherensi) antara konsep teoritis dan realitas objektif, tetapi oleh tersingkapnya esensi atau hakikat sesuatu. Dengan demikian, dalam tradisi hermeneutika filosofis tidak ada konsep pengujian kebenaran lewat media verifikasi dan falsifikasi sebagaimana lazim dilakukan dalam tradisi filsafat positivisme abad pencerahan. Sebab, studi filosofis dalam hermeneutika ala Gadamer lebih menekankan pada masalah interpretasi atau pemahaman (verstehen) daripada masalah kepastian (evidence) dan masalah objektivitas kebenaran.[11]

 

6. Relevansi dan Implikasi Pemikiran Hans-Georg Gadamer dalam Pendidikan

Paling tidak ada tiga sumbangan penting pemikiran Gadamer bagi dunia pendidikan. Pertama, keterbukaan terhadap yang lain. Hal ini bisa ditengarai dari konsep pemahaman Gadamer yang meniscayakan meleburnya latar belakang penafsir dalam dunia makna sehingga melahirkan pluralitas penafsiran. Di sinilah pentingnya keterbukaan terhadap yang lain dalam bingkai saling menghormati dan saling menghargai.

Kedua, tidak fanatik terhadap paham atau mazhab yang dianut. Hal ini bisa dilihat dari sikap Gadamer yang tidak pernah melegitimasi sebuah penafsiran sebagai sesuatu yang benar. Sebab, menurut Gadamer, setiap pemahaman dipengaruhi oleh situasi dan kondisi sang penafsir sehingga penafsiran dan pemahaman akan sebuah teks menjadi sangat beragam.

Ketiga, semangat pendidikan untuk perubahan. Hal ini terinspirasi oleh proses pemahaman dan pembacaan terhadap teks yang menurut Gadamer tidak akan pernah berhenti. Proses ini meniscayakan sebuah pembaruan yang terus-menerus terhadap pengetahuan. Dengan semangat ini, seharusnya pendidikan bukan untuk mempertahankan status quo, tetapi untuk mencapai kemajuan di segala bidang.

DAFTAR PUSTAKA

 

Bertens, K. Filsafat Barat Kontemporer: Inggris-Jerman. Jakarta: Gramedia, 2002.

Gadamer, Hans-Georg. Kebenaran dan Metode: Pengantar Filsafat Hermeneutika, terj. Ahmad Sahidah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.

“Hans-Georg Gadamer”, dalam http://www.id.wikipedia.org, 12 November 2009.

Hidayat, Komaruddin. Memahami Bahasa Agama: Sebuah Kajian Hermeneutik. Jakarta: Paramadina, 1996.

Mulyono, Edi. “Hermeneutika Linguistik-Dialektis Hans-Georg Gadamer”, dalam Nafisul Atho’ dan Arif Fahrudin (ed.), Hermeneutika Transendental: dari Konfigurasi Filosofis Menuju Praksis Islamic Studies. Yogyakarta: IRCiSoD, 2003.

Muslih, Mohammad. Filsafat Ilmu: Kajian atas Asumsi Dasar Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Belukar, 2005.


[1] Komaruddin Hidayat, Memahami Bahasa Agama: Sebuah Kajian Hermeneutik (Jakarta: Paramadina, 1996), hlm. 21-22.

[2] Mohammad Muslih, Filsafat Ilmu, hlm. 141.

[3] K. Bertens, Filsafat Barat, hlm. 265.

[4] Hans-Georg Gadamer, Kebenaran dan Metode, hlm. 467.

[5] Edi Mulyono, “Hermeneutika Linguistik-Dialektis”, hlm. 140.

[6] K. Bertens, Filsafat Barat, hlm. 265-266.

[7] Ibid., hlm. 266.

[8] Komaruddin Hidayat, Memahami Bahasa Agama, hlm. 22. Bandingkan dengan Mohammad Muslih, Filsafat Ilmu, hlm. 143.

[9] Ibid.

[10] Ibid., hlm. 140-141. Bandingkan dengan Edi Mulyono, “Hermeneutika Linguistik-Dialektis”, hlm. 137.

[11] Mohammad Muslih, Filsafat Ilmu, hlm. 141.

This entry was posted in SOS 2/F3. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s