Ilmu Dakwah : MINIMNYA PERAN MAD’U DALAM KEGIATAN DAKWAH

Oleh : Wahidah Fikriyah (B71210056)/ Kpi 2B

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Pendahuluan

            Sebagai umat islam dalam kehidupan di dunia ini sangat erat hubungannya dengan kegiatan berdakwah, terutama melalui media ceramah agama. Kegiatan ini dilakukan untuk menyampaikan ajaran – ajaran Islam sebagai penerus Nabi Muhammad SAW, didalam kegiatan ini, tentunya terdapat beberapa unsure dari kegiatan berdakwah yaitu : Da’I, Mad’u, dan Pesan Dakwah. Disini akan saya paparkan beberapa problem dalam masyarakat yang menyangkut tentang minimnya peran masyarakat dalam kegiatan berdakwah di desa Keboharan Krian.

 

B. Rumusan Masalah

Minimnya peran Masyarakat dalam kegiatan berdakwah di desa Keboharan Krian.

 

C. Tujuan Masalah

Mengetahui penyebab minimnya peran mad’u dalam kegiatan berdakwah di desa Keboharan Krian.

BAB II

PEMBAHASAN

Kegiatan dakwah tidak bisa lerpas dari desa dimana saya tinggal, setipa 1 Minggu sekali selalu ada pengajian rutin di Mushollah disamping rumah saya, hari Selasa pengajian rutin selalu dilaksanakan. Pengajian rutin tersebut ditujukan untuk warga disekitar mushollah, khususnya bagi para jama’ah Mushollah Baitus Sholeh. Mad’unya pun tidak mengenal usia dari mulai anak- anak sampai dewasa bahkan yang tuapun ikut andil didalamnya.

Didalam pengajian tidak dapat dipungkiri pasti ada Da’i, Mad’u, dan Pesan Dakwahnya. Hal itu tidak bisa lepas karena merupakan unsur – unsur yang ada dalam pengajian dalam hal ini adalah kegiatan berdakwah.

Dalam Ilmu dakwah segala sesuatunya harus bisa diteliti dan diamati baik dari segi Da’inya, Mad’unya dan Pesan Dakwahnya.

Dalam hal ini yang akan saya teliti adalah Da’i <Orang yang menyampaikan Pesan dakwah>, Dalam ilmu komunikasi pendakwah adalah komunikator yaitu orang yang menyampaikan pesan komunikasi kepada orang lain. Karena dakwah bisa melalui tulisan, lisan, perbuatan, penulis keislaman, penceramah islam, mubaligh, guru mengaji dan sejenisnya termasuk da’i. Da’i bisa bersifat Individu ketika dakwah yang dilakukan secara perorangan dan bisa bersifat kelompok atau organisasi.

Da’i harus memiliki banyak keahlian dan pengetahuan agama yang tinggi, luas, dan mendalam dibidang agama islam. Meurut Mustafa Assiba’i (1993 : 30 – 44) beliau mengatakan melihat dan meneladani kepribadian Rasulullah SAW. Sebagai pendakwah yang agung maka ada beberapa syarat Da’i yaitu :

 

1)      Sebaiknya Da’i dari keturunan yang terhormat dan mulia karena kemuliaan da’i merupakan daya tarik perhatian masyarakat.

2)      Sebaiknya Sseorang da’i memiliki rasa perikemanusiaan yang tinggi agar ia dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang lemah.

3)      Peggerak dakwah sebaiknya memiliki kecerdasan dan kepekaan.

4)      Sebaiknya da’i hidup sehari – hari dengan hasil usanya sendiri dengan jalan yang baik bukan dari jlan yang tercela.

5)      Da’i harus menyedikan waktunya untuk diisi dengna ibadah yang menghampirkan dirinya pada Allah SWT.

Fakta Dilapangan  setiap ada kegiatan dakawah baik untuk memperingati Hari Besar Islam dan kegaiatan sosial lainnya dimasyarakat seperti pengajian Rutim, Istighosah dll peran mad’u dalam hal itu kurang begitu terlihat jelas.

Dari sisi sejauh mana dakwah diterima, bassam Al – Shabagh membagi mitra dakwah kedalam tiga kelompok, yaitu :

  • Menerima dengan sepenuh hati <Mukmin>
  • Menolak Dakwah <Kafir>
  • Pura – pura menerima Dakwah <Minafik>[1]

 

Realita yang ada dalam masyarakat tersebut cenderung lebih pada meolak dakwah dan pura – pura menerima dakwah, dan sedikit pada poin menerima dakwah. Pejelasannya menolak dakwah yaitu masyarakat lebih banyak memikirkan hal duniawai dan mengabaikan kepentingan agama. Sedangkan pura – pura menerima dakwah  mereka mengakui bahwa ceramah agama itu penting, akan tetapi mereka hanya menganggap sebagai formalitas agama dan tidak pernah ikut andil dilamnya.

Dalam kegiatan dakwah banyak tema yang diangkat sarat dengan nilai – nilai islam, tentunya untuk menjadikan umat islam lebih baik dalam segi spiritual. Dalam hal ini hanya beberapa mad’u yang sadar akan hal itu, walaupun banyak aktivitas dirumah dan tempat kerj mereka, tetapi masih meluangkan waktu untuk menghadiri acara ceramah agama tersebut. Faktor umur juga mempengaruhi peserta / jama’ah yang hadir diacara itu, lebih banyak jama’ah bapak ibunya ketimbang remajanya.

Dari segi usia, mitra dakwah dapat dibagi menjadi empat golongan :

  • Anak – anak
  • Remaja
  • Dewasa
  • Orang tua[2]

 

Unsur yang paling penting dalam kegiatan dakwah, mad’u / jama’ah banyak yang hadir jika si pendakwahnya / da’i lebih banyak membawakan unsur humorisnya dalam menyampaikan pesan dakwahnya, mad’u lebih mengingat – ingat unsur – unsur humorisnya ketimbang pesan dakwahnya sendiri. Padahal si Da’i memberi humor hanya untuk bahan penghibur / media breaking agar mad’u tidak terlalu tegang dan bosan dalam mendengar ceramah. Lebih parahnya lagi, ketika mad’u ditanya oleh kerabat atau rekannya tentang isi dari ceramah itu sendiri, mereka malah menceritakan da’inya yang humoris daripada pesan dakwahnya sendiri dan seterusnya yang ingat – ingat humornya bukan isinya.Faktor inilah yang membuat mad’u hingga saat ini kurang bahkan tidak memahami hakikat dakwah yang memiliki peran penting dalam menyebarkan agama islam.

Max Weber pernah mengadakan penilitian sosio keagamaan yang memfokuskan pada pengaruh stratifikasi sosial ekonomi terhadap sikap agama seseorang.Adalimagolongan yang sifat keagamaan yang ditelaah Weber :

  1.  Golongan petani. Mereka lebih relegius. Hal – hal yang diperhatikan dalam menyampaikan pesan dakwah kepada mereka adalah dengan cara yang sederhana dan menghindarkan hal – hal yang abstrak ; menggunakan lambang dan perumpamaan yang ada di lingkungan ; dan tidak terikat kepada waktu dan tenaga .
  2. Golongan pengrajin dan pedagang kecil. Sifat agamanya dilandasi pada perhitungan ekonomi dan rasional. Mereka menyukai doa – doa yang memperlancar rizki serta etika agama tentang bisnis. Mereka akan menolak keagamaan yang tidak rasional.
  3. Golongan karyawan. Mereka cenderung mencari untung dan kenyamanan           ( Opportunistic utilitarian ). Makin tinggi kedudukan seseorang, ketaatan beragama semakin cenderung berbentuk formalitas.
  4. Golongan kaum buruh. Mereka lebih menyuarakan teologi pembahasan. Mereka mengecam segala bentuk penindasan, ketidakadilan dan semacamnya.
  5. Golongan elit dan hartawan. Kecenderungan beragama mereka adalah kearah santai. Mereka haus akan kehormatan, sehingga menyukai pujian agama atas kekayaan mereka. Mereka setuju dengan doktrin Qodariyah, karena menghargai tindakan individu, kekayaan mereka adalah hasil kerja mereka. Karena masih menikmati kekayaanya, mereka mudah menunda ketaatan beragama untuk hari tua.

Di desa Keboharan , Mad’u tergolong pada golongan karyawan dan golongan kaum buruh , maka terlihat jelas, bahwasanya mereka cenderung ketaatan beragamanya berbentuk formalitas.[3]

Dijumpai juga di desa Keboharan ditemui bermacam –  macam jenis status sosialnya, di daerah tersebut lebih banyak masyarakat awam yang mendominasi, pejabat pemerintah,non muslim dan golongan yang lain yang ada dalam kontribusi kegiatan ceramah.

Maka dari itu, kurang perhatiannya seorang atau kelompok Mad’u yang ada di desa Keboharan, Krian dalam kegiatan ceramah agama, disebabkan oleh banyak faktor yang mendukung yang meliputi rutinitas kehidupan dan anggapan formalitas kepada agama.

BAB III

KESIMPULAN

            Di desa Keboharan Krian Sidoarjo tedapat berbagai penyebab terjadinya minimnya peran mad’u dalam berbagai kegiatan keagamaan, diantaranya disebabkan karena hal sebagai berikut :

  • Karakter dari Mad’u
  • Kriteria Usia Mad’u
  • Golongan jenis pekerjaan mad’u
  • Rutinitas Kehidupan dari para Mad’u.

DAFTAR PUSTAKA

Moh. Ali Aziz,  Ilmu Dakwah, Jakarta : Kencana, 2005

Soekanto, Soejono, Sosiologi suatu pengantar,Jakarta : Raja Grafindo Persada,1998

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] Moh. Ali Aziz,  Ilmu Dakwah,Jakarta : Kencana, 2005. hlm. 265

[2] Ibid, hlm. 274

[3] Soekanto, Soejono, Sosiologi suatu pengantar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada,1998)

 

 

This entry was posted in 2/ kpi-B, Kpi 2/B. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s