Agama Sebagai Kategori Sosial (Empiris, aspek sosiologis dan institusionalisasi agama

Agama Sebagai Kategori Sosial

(Empiris, aspek sosiologis dan institusionalisasi agama)

 

Diajukan untuk memenui tugas mata kuliah

logika Scientific

Oleh :

Moch. Mahrus Ali (B05210085)

Dosen :

MASDUQI AFFANDI

 

FAKULTAS DAKWAH

PROGRAM STUDI SOSIOLOGI

IAIN SUNAN AMPEL SURABAYA

2011

KATA PENGANTAR

 

Segala puji bagi Allah swt yang telah melimpahkan rahmat, taufiq, dan ‎hidayah-     Nya serta menganugerahkan tetesan ilmuk dan, kesehatan, dan kekuatan ‎penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “Agama Sebagai Kategori Sosial (Empiris, aspek sosiologis dan institusionalisasi agama)

Dalam penulisan makalah ini, penulis mengalami kesulitan dalam mendapatkan ‎sumber-sumber materi yang dapat menunjang terselesainya makalah ‎ini. Akan tetapi hal itu bukanlah penghalang bagi kami untuk menyelesaikan ‎makalah ini, justru bagi  saya itu adalah tantangan yang harus bisa dituntaskan.

Namun demikian, disadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih sangat jauh dari sempurana, baik ditinjau dari segi isi, metodologi penulisan, maupun analisanya. Oleh karena itu, saran dan kritik penulis harapkan sebagai perbaikan dari makalah ini.Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Amin.

                                                               

Surabaya, 17 Juni 2011

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Dalam makalah ini kami menyajikan tema agama sebagai kategori sosial dengan tujuan agar kita sebagai akademisi dapat menanggalkan rasa takut untuk meneliti dan mempelajari agama. Dan juga agama bukanlah dalam kategori eksakta seperti matematika, fisik, atau juga makhluk biologis, tapi dari kategori noneksakta, dengan kata lain kategori sosial.

Karena jika agama di kategorikan sosial maka lingkup masalahnya lebih sempit, dan tidak usah memasukkan kategori-kategori yang lain. Tapi dalam penyempitan masih dapat pemetaan kategori-kategori yang lain misalnya umat agama yang berusia muda, tua ataupun intelektual. Dalam tema ini juga ini juga mencoba mempelajari masyarakat agama secara sosiologi guna mencari keterangan-keterangan ilmiah dan pasti dari kepentingan agama itu sendiri dan juga masyarakat yang ada didalamnya.

Maka kami berharap makalah ini bermanfaat bagi kita semuanya. Dan kami mencoba menggunakan data-data sosial dari beberapa buku yang kami dapatkan dalam penjelasan tema ini. Pengolahan data dalam makalah ini kami coba sajikan dengan bahasa yang sederhana dan mudah di pahami. Makalah ini akan berisi tentang agama dalam kategori sosial dan hal-hal yang ada di dalam pembahasannya juga, yakni definisi empiris, aspek sosiologis, dan institusionalis agama.

  1. Rumusan masalah
  2. Apakah definisi empiris dalam kaitanya dengan agama sebagai kategori sosial?
  3. Apa sajakah Aspek-aspek  sosialogis dalam agama?
  4. Apa pengertian dari institusionalis agama?

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Definisi Empiris

Istilah “empiris” dari ungkapan “dimensi empiris” agama. Dimensi empiris disini berarti yang dapat di alami oleh masyarakat ataupun peneliti.[1] Yang diinginkan dari pengertian ini bahwa dimensi empiris bukan tentang hubungan manusia dengan tuhannya tapi perilaku manusia agar dapat berhubungan dengan tuhannya. Dan dimensi ini berarti sesuatu dalam agama yang dapat di teliti, di amati untuk mendapatkan keterangan ilmiah.[2] Ini berkaitan dengan pola hubungan masyarakat yang beragama dengan peribadatannya dan ajaran tentang hubungan antar masyarakat dalam lingkup  sosial, bukan hal yang sacral, suci dan hubungan supranatural.

Dimensi empiris, menyangkut dunia luar (the beyond)[3], yakni hubungan manusia dan sikapnya dengan dunia luar itu, dan dengan apa yang di anggap manusia sebagai implikasi praktis dari dunia luar tersebut dalam kehidupan manusia. Sosiolog Italy vilfredo pareto mengemukakan bahwa pengalaman ini menyangkut dengan apa ynag disebut dengan “ pengalaman transenden” mengartikan pengalaman atas kejadian yang ada sehari-hari dan aynagn dapat di amati atau penyaringan dan penanganan yang sistematis terhadap pengalaman secara ilmiah.[4]

Dimensi agama juga dapat dijelaskan pula dengan jalan lain. Bukan hanya agama itu sebagai kategori sosial saja. Disini agama menampilkan diri sebagai peristiwa yang sedang berjalan, di dukung oleh kelompok-kelompok manusia, suku bangsa dan bangsa, yang mempunyai kulit dan kebudayaan yang berbeda-beda.[5] Demensi agama dapat di jelaskan bahwa perkembangan agama dari letak geografis yang dari situ ada kaitannya dengan kebudayaan dari daerah-daerah tersebut.

 

  1. Aspek Sosiologis dalam Agama

Sudah agak jelas dari judul diatas bahwa : (1) agama adalah suatu kategori sosial, (2) bahwa agama mempunyai dimensi empiris.[6] Dari fenomena yang memiliki dua ciri tersebut di atas (dalam hal ini fenomena agama) menyandang aspek sosialogis. Agar lebih jelas gambarannya kalau agama masuk dalam kategiri sosial kita mecoba soroti dengan metodologi lain:

Pertama : agama adalah bagian dari kebudayaan manusia.

Kedua    : agama sebagai institusi sosial.

Selajutnya kami akan membahas secara jelas dan membicarakan kebudayaan dan institusi dalam ruang lingkup agama.

Yang pertama agama bagian dari kebudayaan manusia. Di dalam pengertian ini agama sebagai system sosial di dalam kandunganya merangkum kompleks pola kelakuan lahir dan batin yang ditaati penganut-penganutnya.[7] Dapat dijelaskan bahwa perilaku keagamaan baik secara individu ataupun kelompok mempunyai cara berbeda tergantung letak geografi mereka berada dan keterlibatan kebudayaan didaerah tersebut.

Emilie Durkheim mengatakan bahwa agama adalah sumber dari segala kebudayaan yang sangat tinggi, lain halnya dengan marx mengatakan bahwa agama adalah candu bagi manusia.[8] Sudah jelas dari pendapat mereka dapat dikatakan bahwa agama adalah seperangkat aktivitas manusia dan sejumlah bentuk- bentuk sosial yang mempunyai arti penting. Karena mereka memberikan asumsi agama dalam aspek kesosiologisan.

Aspek sosial yang terserap dalam agama dapat di bagi menjadi 3, yakni[9]:

  1. Ungkapan religius.

Ungkapan iman seorang pemeluk agama yang (strict) pribadi pun dilakukan menurut pola-pola kebudayaan tertentu. Dalam pengungkapan permintaan atau do’a kepada tuhannya mereka terpengaruh kultur budaya, misalnya cara berdo’a agama itu sudah tercampur dengan budaya daerah tersebut di daerah Madura dengan jawa juga berbeda cara berdo’anya.

  1. Ungkapan religius kolektif .

Ekspresi iman yang dilakukan bersama-sama tidak dapat dipisahkan dari konteks bangsa tertentu. Misalnya bai’at dalam tariqah di Indonesia sendiri pasti berbeda-beda, antara yang satu dengan yang lain.

  1. Lambang-lambang keagamaan.

Dalam dunia perlambangan ada dua hal yang perlu diketahui. Yang pertama, sesuatu rohaniah (sakral) yang hendak di jelaskan. Yang kedua, benda-lambang yang di pakai untuk menjelaskan. Misalnya lambang mata satu (one eye) yang di pakai aliran agama yahudi.

Agama terkena proses sosial dan institusionalisasi dan mekanisme kerja yang berlaku. Dan juga agama bisa di asumsikan memiliki keterikatan dengan sosial dan kebudayaan yang berada didalamnya. Selanjutnya kami menjebarkan agama sebagai institusionalisasi sosial dalam sub judul berikutnya.

  1. Institusionalisasi Agama

Sebelum masuk dalam pembahasan tentang institusionalisasi agama, maka akan seyogyanya kita pahami dulu institusi sosial. Institusi sosial adalah suatu organisasi yang tersusun relative tetap atas pola-pola kelakuan, peranan-peranan dan relasi-relasi yang terarah dan mengikat individu, mempunyai otoritas formal dan sangsi hokum guna mencapai kebutuhan-kebutuhan sosial dasar. Institusi agama (religius) adalah suatu organisasi yang tersusun relative tetap atas pola-pola kelakuan, peranan-peranan dan relasi-relasi yang terarah dan mengikat individu, mempunyai otoritas formal dan sangsi hokum guna mencapai kebutuhan dasar yang berkenaan dengan dunia supra-empiris.[10]

Dari uraian diatas sudah jelas institusi religius menekankan akan kebutuhan dasar yang berkenaan dengan supra-empiris, dengan kata lain setiap manusia religius mempunyai kebutuhan akan hal yang lain di luar dunia yakni akhirat. Maka manusia menggunakan segala cara agar kebutuhannya tersebut dapat tercapai dan kebutuhan tersebut tidak dapat diabaikan begitu saja. Karena harus dilakukan dengan pasti. Kalau institusi sosial hanya mencakup dalam tataran sosial saja.

Dalam skala kognitif nilai-nilai religius ditempatkan pada tingkat hirarki nilai yang tertinggi didalam ilmu pengetahuan positive dan filsafat.[11] Dapat di jelaskan ilmu pengetahuan mengusahkan kepada nilai-nilai manusia ynag berbobot tinggi tapi tidak terdasar, karena itu belum mencakup kepentingan supra-empiris tadi, seperti kebenaran-kebenaran dogmatis yang dating dari tuhan.

Adapun dalam skala evaluatif nilai-nilai religius di tempatkan dalam kaidah moral dengan jangkauannya yang membentang paling jauh dan paling akhir.[12] Dalam pemahaman skala evaluative ini imperatifnya menjamah daerah kejiwaan manusia yang lain dasar, yakni hati nurani, yang merupakan norma proxima dari tindakan kongkrit dari segala bidang kehidupan. Ini bias terjadi bila kaidah-kaidah moral tersebut di yakini di dapat dari tuhan dan termasuk norma terahir, maka sudah jelas untuk selanjutnya bahwa nilai setinggi itu harus mendapat jaminan yang pasti baik mengenai kelestarian maupun berlakunya.

Dari jaminan yang dirasa sanggup melaksanakan itu adalah institusi keagamaan. Karena didalam institusi terdapat kekuasaan yang dapat member sangsi bagi manusia yang beragama tadi bila melakukan tindakan yang meremehkan dan mencoba menghapusnya. Dan institusi sebuah sarana preventive dan  represif terhadap pemeluknya.

Semua agama cenderung melestarikan eksistensinya dan kemanfaatannya bagi  kegamaan:

  1. Organisasi bahari (primitif), tercampur menjadi satu dengan oganisasi masyarakat. Semua kegiatan manusia dalam semua sector kehidupan adalah kegiatan religius. Pemimpin masyarakat adalah sekaligus pemimpin agama.
  2. Organisasi agama modern, disini diadakan pembedaan antara urusan agama dengan urusan profane.[13]

Selanjutnnya, para pengamat sependapat bahwa organisasi religius yang khas dikembangkan dari pengalaman khas religius pendiri dan murid-muridnya. Dari sumber asli itu tumbuhlah kumpulan-kumpulan religius yang berkembang terus dalam situasi dan kondisi baru dan menjurus kepada bentuk institusi.[14]seperti yang dikatakan tadi, tak seorangpun menghendaki dengan matinya pendiri dan muridnya yang kharismatik yang mengagumkan penganut-penganut yang baru itu berhenti tanpa meninggalkan bekas. Maka dipilihlah pemimpin-pemimpin ya ng baru sebagai pengganti kedudukan tokoh pendiri dan murid-muridnya.

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. A.  Kesimpulan

Istilah “empiris” dari ungkapan “dimensi empiris” agama. Dimensi empiris disini berarti yang dapat di alami oleh masyarakat ataupun peneliti. Dan dimensi ini berarti sesuatu dalam agama yang dapat di teliti, di amati untuk mendapatkan keterangan ilmiah. Disini agama menampilkan diri sebagai peristiwa yang sedang berjalan, di dukung oleh kelompok-kelompok manusia, suku bangsa dan bangsa, yang mempunyai kulit dan kebudayaan yang berbeda-beda.

Aspek sosial: (1) agama adalah suatu kategori sosial, (2) bahwa agama mempunyai dimensi empiris. Dari fenomena yang memiliki dua ciri tersebut di atas (dalam hal ini fenomena agama) menyandang aspek sosialogis.

Aspek sosial yang terserap dalam agama dapat di bagi menjadi 3, yakni: Ungkapan religius, ungkapan religius kolektif dan lambang-lambang keagamaan

Institusi agama (religius) adalah suatu organisasi yang tersusun relative tetap atas pola-pola kelakuan, peranan-peranan dan relasi-relasi yang terarah dan mengikat individu, mempunyai otoritas formal dan sangsi hokum guna mencapai kebutuhan dasar yang berkenaan dengan dunia supra-empiris. Organisasi bahari (primitif) dan Organisasi agama modern. unsur-unsur agama yang di institusikan terbagi dalam 4 kategori yakni: Unsur pengajaran dan pelayanan, Unsur pimpinan dalam agama, Tata tertib hokum dalam agama, Jabatan keagamaan.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Hendropuspito, Sosiologi Agama, Yogyakarta: Kanisius, 1983

Thomas F.O’dea, The Sociology Of Religion (Sosiologi Agama) terj. Tim Penerjemah Yosigama, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996


[1]  Hendropuspito, Sosiologi Agama, Yogyakarta: Kanisius, 1983, hal.110

[2]  Ibid, hal.110

[3]  Thomas F.O’dea, The Sociology Of Religion (Sosiologi Agama) terj. Tim penerjemah yosigama, Jakarta: PT. raja Grafindo Persada, 1996, hal. 2

[4]  Ibid, hal. 2

[5]  Op.cit, hal 110

[6]  Hendropuspito, Sosiologi Agama, Yogyakarta: Kanisius, 1983,hal 111

[7]  Ibid, hal.111

[8]  Thomas F.O’dea, The Sociology Of Religion (Sosiologi Agama) terj. Tim penerjemah yosigama, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996, hal. 3

[9]  Op.cit, hal. 111

[10]   Hendropuspito, Sosiologi Agama, Yogyakarta: Kanisius, 1983, hal.114

[11]  Hendropuspito, Sosiologi Agama, Yogyakarta: Kanisius, 1983, hal 114

[12]  Ibid, hal. 114

[13]  Ibid, hal.116

[14]  Ibid, hal.116

This entry was posted in SOS 2/F3. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s