LOGIKA : TEORI STRATIFIKASI STRUKTURAL-FUNGSIONAL

TEORI STRATIFIKASI STRUKTURAL-FUNGSIONAL Menurut pandangan ini, masalah fungsional utama adalah bagaimana cara masyarakat memotivasi dan menempatkan individu pada posisi mereka yang “tepat”. Bagaimana ia harus bertindak, dimana ia harus berada secara fungsinya. Misalnya, seorang dokter, ia harus mengerti apa yang harus ia lakukan sebagai seorang dokter, dia harus bisa menempatkan posisinya sebagai seorang dokter. Bahwasanya kewajiban seorang dokter ialah mengobati orang yang sakit dan membantu bagaimana orang yang sakit itu bisa sembuh dari sakitnya, bukan membangun jembatan, atau membajak sawah. Di sini saya tidak hanya menjelaskan teori fungsional saja, melainkan tentang teori stratifikasi structural-fungsional.  Fungsionalisme Sturktural Dalan fungsionalisme structural, istilah struktural dan fungsional tidak selau perlu dihubungkan, meski keduanya biasanya dihubungkan. Kita dapat mempelajari masyarakat tanpa memperhatikan fungsinya (atau akibatnya) terhadap struktur lain. Meski fungsionalisme structural mempunyai berbagai bentuk, fungsionalisme kemasyarakatan adalah pendekatan dominan yang digunakan dikalangan fungsionalis structural sosiolagi.  Teori Stratifikasi Fungsional Davis dan Moore melihat pelapisan sosial mempunyai fungsi karena pelaku sosial dalam setiap masyarakat perlu disebar dalam kedudukan tertentu dalam suatu pola masyarakat. Tiap- Soelamatugas dari berbagai kedudukan tersebut berbeda-beda kepentingannya. Davis dan Moore juga menjelaskan bahwa mereka menganggap stratifikasi sosial sebagai fenomena universal dan penting. Mereka menyatakan bahwa tak ada masyarakat yang tidak terstratifikasi atau sama sekali tanpa kelas. Menurut mereka stratifikasi adalah keharusan fungsional. Semua masyarakat memerlukan sistem seperti dan keperluan ini menyebabkan adanya sistem stratifikasi. Mereka juga memandang sistem stratifikasi sebagai sebuah struktur, dan menunjukkan bahwa stratifikasi tidak mengacu individu didalam stratifikasi, tetapi lebih kepada sistem posisi (kedudukan). Mereka memusatkan perhatian pada persoalan bagaimana cara posisi tertentu memengaruhi tingkat prestise yang berbeda dan tidak memusatkan perhatian pada masalah bagaimana cara indiidu dapat menduduki posisi tertentu. Dalam sistem stratifikasi, fungsional dapat diturun menjadi dua masalah. Pertama, bagaimana cara masyarakat menanamkan kepada individu yang tepat itu keinginana untuk mengisi posisi tertentu? Kedua, segera setelah individu berada pada posisi yang tepat, lalu bagaimana masyarakat menanamkan keinginan kepada mereka untuk memenuhi persyaratan posisi mereka? Meski masalah diatas dapat diterapkan pada Seluruh posisi sosial, Davis dan Moore memusatkan perhatian pad posisi yang fungsinya lebih penting dalam masyarakat. Posisi yang tinggi tingkatannya dalam sistem stratifikasi dianggap kurang menyenangkan untuk diduduki, tetapi lebih penting untuk kelangsungan hidup masyarakat dan memerlukan bakat dan kemampuan terbaik. Selain itu masyarakat harus memberikan hadiah yang memadai bagi posisi ini sehingga ada cukup individu yang mau mendudukinya dan individu yang berhasil mendudukinya akan bekerja dengan tekun. Davis dan Moore tidak bermaksud untuk menyatakan bahwa masyarakat secara sadar membangun sistem stratifikasi untuk menyakinkan bahwa posisi tingkat tinggi akan terisi dengan memadai. Mereka bermaksud menjelaskan bahwa stratifikasi adalah “perlengkapan yang berevolusi secara tak sadar”. Perlengkapn ini ada dan harus ada dalam setiap masyarakat untuk menjamin kelangsungan hidupnya. Teori structural fungsional menyatakan bahwa orang yang menempati posisi istimewa itu berhak mendapatkan hadiah mereka; imbalan seperti itu perlu diberikan kepada mereka demi kebaikan masyarakat. Agar kedudukan-kedudukan yang fungsional penting dan angka tenaganya dapat terisi, maka perlu imblan-imbalan itu sebagai rangsangan dan motivasi untuk berusaha menempati kedudukan seperti itu. Penempatan atau penentuan alokasi imbalan serta hubungan dengan posisi-posisi, sesuai dengan tanggung jawab kolektif yang dibebankan atau dipercayakan sehingga seluruh seluruh sistem berjalan secara fungsional dan efektif. Contoh dari teori ini adalah, untuk menjamin tersedianya Dokter yang cukup bagi masyarakat kita, kita perlu menawarkan kepada mereka berbagi imbalan, misalnya gaji yang besar yang pantas diberikan atas pekerjaannya mengobati orang yang sakit. Kita tidak bisa mengharapkan seseorang akan melakukan proses pendidikan kedokteran yang berat dan mahal itu apabila kita tidak menawarkan imbalan atau gaji yang besar pula. Maksunya adalah bahwa seseorang yang berada dipuncak stratifikasi harus menerima imbalan dan fungi yang dilaksanakannya. Bila tidak demikian, posisi itu akan tetap kekurangan personil atau tak terisi dan masyarakat akan tercerai berai.

DAFTAR PUSTAKA

Ritzer, George – Goodman, J. Douglas. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana Soelaeman, Munandar. 2006. Ilmu Sosial Dasar. Bandung: PT. Refika Aditama Zeitlin, M. Irving. 1998. Memahami Kembali Sosiolagi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

TEORI STRATIFIKASI STRUKTURAL-FUNGSIONAL

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah ”Logika Scientific”

Oleh : Amalia B75210081

Dosen Pembimbing Drs. Masduqi Affandi, M. Pd. I

PRODI SOSIOLOGI

FAKULTAS DAKWAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA 2011

This entry was posted in SOS 2/F3. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s