LOGIKA SCIENTIFIK : ILMU DAKWAH

LOGIKA SCIENTIFIKASI

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

ILMU DAKWAH

Oleh:

Ika Setyaningsih     B75210080

        

Dosen pembimbing:

Drs. Masduqi Affadi, M. Pd. I

PRODI SOSIOLOGI

FAKULTAS DAKWAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

SURABAYA

2011

 

 

 

ANALISIS TERHADAP LINGKUNGAN SEKITAR YANG DIHUBUNGKAN DENGAN SALAH SATU TEORI YANG ADA DI ILMU SOSIOLOGI

Setiap masyarakat senantiasa mempunyai penghargaan tertentu terhadap hal-hal alam masyarakat yang bersangkutan. Penghargaan yang lebih tinggi terhadap hal-hal tertentu, akan menempatkan hal tersebut pada kedudukan yang lebih tinggi dari pada hal-hal lainnya. Kalau suatu masyarakat lebih menghargai kekayaan materiil daripada kehormatan, misalnya, mereka yang lebih banyak mempunyai kekayaan materiil akan menempati kedudukan yang lebih tinggi apabila dibandingkan dengan pihak-pihak lain. Gejala tersebut menimbukan masyarakat, yang merupakan pembeda posisi seseorang atau suatu kelompok dalam kedudukan yang berbeda-beda secara vertical.[1]

manusia adalah realitas rohani jasmani dalam satu kesatuan subtansial, tetapi rohanilah yang merupakan dasar dan intinya, serta sumber segala perbuatan dan prinsip hidup. Sehingga kurang berfikir berarti lebih tenggelam dalam kebendaan, kejasmanian, praksis (dalam praktek sehari-hari) yang rutin. Dan berfikir dengan lebih dalam berarti mengalami diri kita sendiri sebagai transenden, sebagai mengatasi dunia meterial, sebagai rohani, sebagai kemungkinan luar biasa dan bukan benda.[2]

Pengamatan saya terhadap keadaan disekitar dan saya mengamatinya dengan menggunakan teori kelas yang dikemukakan oleh Max Weber. Analisa fenomena stratifikasi sosial di daerah tempat tinggal saya misalnya dapat dilihat saat diadakan musyawarah, disana dapat dilihat peran orang yang kaya dan berpendidikan, pendapatnya lebih di dengar dan dihargai oleh perangkat desa dan masyarakat sekitar, tetapi beda lagi dengan anggota masyarakat yang tidak kaya dan kurang berpendidikan yang saat mengeluarkan pendapatnya maka perangkat desa dan anggota masyarakat yang lain seperti acuh tak acuh terhadap pendapat tadi. Dapat disimpulkan bahwa orang kaya dan berpendidikan lebih dihargai di masyarakat  dan sebaliknya. Menurut saya solusi atau cara mengatasi masalah ini dengan cara intropeksi diri sendiri, tidak memandang orang tadi miskin atau kaya pasti hidupnya membutuhkan orang lain (makhluk sosial).

Sebagagaimana Marx, Weber dalam menjelaskan stratifikasi social juga menggunakan konsep kelas (class). Kelas, menurut Weber, adalah golongan orang-orang dalam kontinum status dan situasi yang sama, yaitu kesempat untuk memperoleh barang dan untuk dapat menentukan sendiri keadaan kehidupan eksteren dan nasib pribadi. Pengertian kelas berbeda-beda atas dasar apa yang dimiliki juga, atas dasar pendapatan. Dalam pandangan Weber, kelas-kelas sosial mencakup semua situasi kelas di mana baik mobilitas pribadi maupu mobolitas antar generasi dimungkinkan antarkelas itu, dan hal ini memang bisa terjadi. [3]

Kemajemukan horisontal kultural dapat menimbulkan konflik karena masing-masing unsur kultural berupaya mempertahankan identitas dan karakteristik budayanya dari ancaman kultur lain. Dalam masyarakat yang berciri demikian ini, apabila belum ada suatu konsensus nilai yang menjadi pegangan bersama, konflik politik karena benturan budaya akan menimbulkan perang saudara atau pun gerakan separatis.

Kemajemukan vertikal ialah struktur masyarakat yang terpolarisasikan menurut pemilikan kekayaan, pengetahuan, dan kekuasaan. Kemajemukan vertikal dapat menimbulkan konflik sebab sebagian besar masyarakat yang tidak memiliki atau hanya memiliki sedikit kekayaan, pengetahuan, dan kekuasaan akan memiliki kepentingan yang bertentangan dengan kelompok kecil. Masyarakat yang mendominasi ketiga sumber pengaruh tersebut. Jadi distribusi kekayaan, pengetahuan, dan kekuasaan yang pincang merupakan penyebab utama timbulnya konflik.[4]

Contoh lain dari masyarakat yang membedakan kelas-kelas adalah pada masyarakat Bali, disana terdapat banyak kasta-kasta. Yaitu:

1.      Kasta Brahmana: para pendeta dan kaum rohaniawan.

2.      Kasta Ksatria: para anggota lembaga pemerintahan.

3.      Kasta Waisya: para pedagang, petani, tukang, dan sebagainya.

4.      Kasta Sudra: dari golongan pekerja kasar, rakyat jelata.

Dari kasta-kasta di atas kita dapat melihat perbedaan-perbedaan lapisan masyarakat di Bali. Kehidupan masyarakat disana di bedakan berdasarkan derajat. Misalnya anak dari kasta brahmana menikah dengan kasta sudra maka tidak boleh, dan anak yang dari kasta brahmana tadi statusnya akan dihapus dari kasta brahmana atau dengan kata lain tidak diakui keberadaanya dari kasta brahmana.

Tetapi bila ada anak dari kasta brahmana menikah dengan orang luar Bali misalnya menikah dengan orang Surabaya, yang di mana di Surabaya tidak mengenal sistem kasta. maka sistem kastanya hanya berlaku di Bali saja dan bila mereka ada di Surabaya maka sistem kastanya tidak berlaku.

 

DAFTAR PUSTAKA

Soekamto, soerjono. Sosiologi Suatu Pengantar. PT Rajagrafindo Persada. Jakarta. 2010

Sutrisno, Mudji. Para Filsuf Penentu Gerak Zaman. Kanius. Yogjakarta. 1992.

Maliki, Zainudin. Narasi Agung: Tiga Teori Sosial Hegemonik. LPAM. Surabaya. 2003.

Subakti, Ramelan. Memahami Ilmu Politik. PT Grafindo. Jakarta.1992.


[1] Soerjono Soekamto, Sosiologi suatu pengantar, (Jakarta; PT Rajagrafindo Persada, 2010) hlm. 197.

[2] Mujdi Sutrisno. Para Filsuf Penentu Gerak Zaman,  ( Yogjakarta; Kanius.  1992) hlm. 43.

[3] Zainudin Maliki. Narasi Agung: Tiga Teori Sosial Hegemonik, (Lembaga Pengkajian Agama dan Masyarakat; Surabaya. 2003) hlm. 230.

[4]  Ramlan Subakti, Memahami Ilmu Politik, (Jakarta; PT Grasindo, 1992) hlm.152

This entry was posted in SOS 2/F3. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s