EPITEMOLOGI : ILMU PENGETAHUAN

EPISTEMOLOGI

Makalah

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

Logika Scientific

Dosen Pembimbing :

Drs. Masduqi Affandi, M.Pd. I

Oleh :

Binti Istianah

B05210083

PRODI SOSIOLOGI

FAKULTAS DAKWAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

SURABAYA

2011

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. 1.      Apa itu logika ?

Logika memposisikan otak dengan proses kerjanya yakni berfikir. Dalam pandangan logika otak dengan proses pikirnya hanya dipandang sebagai potensi semata. Logika mengandaikan terjadinya suatu berfikir yang sifatnya ada. Berfikir actual  terjadi setelah tertampungnya serangkaian tahu atau pengetahuan terendapkan dalam pikirannya. Logika baru mulai bekerja ketika mulai membatasi atau mendefinisikan setiap sesuatu hal, lalu merangkainya dan terakhir membuatnya menjadi suatu keputusan. Logika mengasumsikan bahwa pada merangkaikan pikiran, kita tunduk dan patuh pada aturan-aturan atau ketentuan-ketentuan pikir. Argumentasi merupakan cara mendukung klaim tentang suatu kebenaran.[1]

Ketika seseorang menyebut atau mengklaim suatu alur pikir itu logis maka itu artinya si penutur pikiran tersebut telah berpikir berdasarkan kaidah-kaidah pikir dalam logika.

Logika diartikan sebagai teknik-teknik berpikir. Ada juga orang yang mendefinisikan logika sebagai pengetahuan tentang kaidah berpikir atau yang lebih praktis lagi mengartikannya sebagai ‘jalan pikiran yang masuk akal’. Pengertian secara etimologis kata logika ( dalam bahasa inggris logic ) merupakan kosa-kata Yunani yaitu “ logike “. Artinya pikiran yang diucapkan secara lengkap. Pada tataran disiplin filsafat, logika diartikan sebagai suatu studi tentang metode dan prinsip untuk membedakan penalaran yang tepat dari penalaran yang tidak tepat. Sementara itu Partap Sing Mehra membatasi ligoka sebagai yang mempelajari pikiran yang dinyatakan dalam bahasa. Dengan demikian ia memasukan pikiran sebagai aktivitas jiwa.[2]

  1. 2.      Ranah Cakupan Logika

Objek logika terbagi ke dalam dua ranah. Ranah pertama, objek maretialnya. Ranah kedua objek formalnya. Objek material adalah materi bahasan logika, yaitu berpikir dan pikiran atau bernalar dan penalaran. Objek formal adalahsudut pandang atau cara tinjau atas objek materiil.[3]

Materi kajian ligika meliputi tigabagian besar. Pertama, yaitu mulai dari elemen terkecil berpikir yaitu apa yang sering disebut sebagai pengertian konsep. Konsep sendiri memiliki luas dan isi yang karakternya bersifat berbanding terbalik. Kedua, kajian tentang rangkaian konsep-konsep yang disebut dengan istilah proposisi. Ketiga, inferensi. Inferensi terbagi ke dalam dua bagian yaitu inferensi langsung dan inferensi tidak langsung. Keempat, merupkan bab tambahan, yaitu tentang sesat pikir. Hal ini penting untuk dibahas mengeringat sesat pikir sering terjadi pada tataran praktis logika.[4]

  1. 3.      Manusia dan Pengetahuan

‘Setiap manusia ingin mengetahui’. Pertanyaan tersebut menjadi paparan awal pada buku Aristoteles, Metaphysica.[5] Mengutip pandangan Georgias, Husein Al-Kaff menyatakan bahwa segala sesuatu itu tidak ada, jika ada pun maka tidak diketahui, atau tidak dapat diketahui sekalipun maka tidak dapat diinformasikan.

Pengetahuan, demikian Verhaak, berlangsung dalam dua bentuk dasar. Pertama, apakah pengetahuan itu hadir demi dirinya saja atau kah pengetahuan itu hidup tumbuh dan berkembang untuk kemudian diterapkan. Akumulasi dari pengetahuan mencakup mengamati, mengingat, menyangka dan bernalar. Pengetahuan selalu memiliki relasi dengan aturan-aturan ilmiah. Pengetahuan ilmiah memiliki tiga hal pokok, yaitu dasar pembenaran, tersusun secara sistematik, serta intersubjektif.[6]

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

EPISTEMOLOGI

  1. A.    Pengertian Epistemologi

Secara singkat dapat dikatakan bahwa epistemologi merupakan salah satu cabang filsafat yang mempersoalkan mengenai masalah hakikat pengetahuan. Dengan kata lain, epistemologi merupakan disiplin filsafat yang secara khusus hendak memperoleh pengetahuan tentang pengetahuan.

Secara etimologis, epistemologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu episteme dan logos. Episteme artinya pengetahuan; logos biasanya dipakai untuk menunjuk pengetahuan sistematik. Sehingga dapat disimpulkan epistemilogi adalah pengetahuan sistematik tentang pengetahuan.[7]

Menurut Kattsoff, bahwa Ontologi dan epistemology merupakan hakikat kefilsafatan, artinya keduanya membicarakan mengenai kenyataan yang terdalam dan bagaimana mencari makna dan kebenaran. Sedangkan aksiologi berbicara mengenai masalah nilai-nilai atau etikadalam kaitannya dengan mencari kebahagiaan dan kedamaian bagi umat manusia.[8]

Epistemologi berati suatu pemikiran mengenai cara-cara mendapatkan pengetahuan. Bila disebut dengan epistemology dakwah berarti cara-cara untuk memperoleh pengetahuan dakwah. Cara memperoleh pengetahuan dakwah, supaya dibedakan dengan cara memperoleh pengetaahuan agar bisa berdakwah atau cara berdakwah.[9]

  1. B.     Problem Kebenaran

Dalam hal ini Titus mencatat tiga persoalan pokok epistemologi sebagai penyelidikan filsafati terhadap pengetahuan[10] antara lain:

  1. 1.      Menyangkut watak pengetahuan, dengan pertanyaan pokok: Apakah ada dunia yang benar-benar berada di luar pikiran kita, dan kalau ada apakah kita berada dapat mengetahuinya?
  2. 2.      Menyangkut sumber pengetahuan, dengan pertanyaan pokok: dari manakah pengetahuan yang benar itu datang? Atau apakah yang merupakan asal mula pengetahuan kita? Bagaimanakah cara kita mengetahui  bila kita mempunyai pengetahuan? Apakah yang merupakan bentuk pengetahuan itu? Corak-corak pengetahuan apakah yang ada? Bagaimanakah  cara kita memperoleh pengetahuan?
  3. 3.      Menyangkut kebenaran pengetahuan, dengan pertanyaan pokok: Apakah kebenaran dan kesesatan itu? Apakah kesalahan itu? Apakah pengetahuan kita benar? Dan bagaimana kita dapat membedakan antara pengetahuan yang benar dan pengetahuan yang salah? (Titus, dkk,. 1984:187)

 

  1. C.    Metode Epistemologi

Dalam membahas masalah-masa;ah epistemologi dipakai pendekatan secara terpadu baik pola kefilsafatan maupun pola ilmiah, sebab dalam perkembangan epistemology terjadi integrasi antara kegiatan kefilsafatan dan kegiatan ilmiah. Memang sulit untuk menentukan metodologi tunggal untuk meneliti dalam epistemology.

Metodologi dan pendekatan yang dipergunakan bersifat komplementer-konsentris, dalam semangat multidisipliner. Untuk itu pendekatan yang relevan dalam multidisipliner epistemology adalah pendekatan historis dan tematis.

Dengan pendekatan historis akan diamati problematic maupun teori-teori pengetahuan itu dalam perkembangan sejarahnya, sementara denga pendekatan tematik perhatian akan ditujukan pada usaha mengkaji masalah-masalah dan isu-isu tertentu yang merupakan problem kefilsafatan, tetapi mungkin merupakan problem keilmiahan.[11]

JUSTIFIKASI EPISTEMOLOGI

  1. A.    Evidensi[12]

Evidensi adalah ‘cara bagaimana ada atau kenyataan hadir bagi saya’ atau ‘perwujudan dari ada bagi akal’. Konsekuensi dari pengertian itu adalah bahwa evidensi sangatlah bervariasi. Akibat lebih lanjut adalah persetujuan yang dijamin oleh kehadiran ada yang bervariasi ini juga akan bervariasi pula.

Seorang positivis mungkin menyatakan pengandaian bahwa masa depan adalah mirip dengan masa lampau. Namun evidensi yang menjamin kepastiannya bukanlah kepastian yang sedemikian rupa sehingga kejadian sebaliknya tidak terbayangkan.

Evidensi dari perilaku manusia tentu berbeda dengan hal yang semata-mata bersifat fisik, sebab kepastian manusiawi adalah bersifat hipotesis. Missal : saya yakin secara moral bahwa apabila supir bus itu normal maka ia tidak akan menabrakkan mobilnya ke pohon.

Kesaksian adalah salah satu sumber dari keyakinan moral kepastiannya agak diremehkan. Namun banyak orang yang lebih yakin pada pernyataan-pernyataan yang bersumber dari kesaksian daripada tentang hukum gravitasi.

  1. B.     Kepastian[13]

Kepastian dasar ini memuat kebenaran dasar atau disebut sebagai kebenaran-kebenaran primer. Prinsip pertama adalah suatu “kepastian dasar yang mengungkapkan eksistensi subjek”. Subjek yang mengetahui tidak mesti identik dengan kegiatannya, ada perbedaan subjek dan aktivitasnya. Adanya kesadaran akan mandirinya subjek dan manunggalnya dengan aktivitasnya adalah penting,  sebab ada beberapa aliran yang mengatakan bahwa pakarti adalah bundle of actions, aliran ini memposisikan pakarti merupakan aksidensi dan bukan substansi.

Kepastian dasar ini tidak saja merupakan jawaban yang mendasar terhadap berbagai macam sikap dan ajaran seperti Skeptisisme dan Relatvisme, tetapi karena kepastian dasar merupakan dasarnya segala kepastian.

  1. C.    Keraguan [14]

Ada dua bentuk aliran yang mempertanbyakan kepastian mengenai adanya kebenaran. Keduanya dapat dianggap sebagai aliran yang memasalahkan, meragukan, dan mempertanyakan kebenaran dan adanya kebenaran.

Pertama, aliran Skeptisisme-Doktriner berkeyakinan bahwa pengetahuan dan kebenaran itu tidak ada, yang kurang ekstrem mengatakan sesungguhnya tidak ada cara untuk mengetahui bahwa kita mempunyai pengetahuan. Missal : ajaran ini menganjurkan orang untuk tidak melibatkan diri dalam kegiatan intelektual untuk mempunyai pendapat tentang sesuatu, maka di dalamnya mengandung kontradiksi, sebab ajaran untuk tidak melibatkan diri secara intelektual adalah sudah merupakan kegiatan intelektual.

Kedua, aliran Skepetisisme-Metodik menyatakan bahwa pengetahuan dan kebenaran ada tetapi tidak sebagai doktrin, melainkan sebagai metoda untuk menemukan kebenaran dan kepastian. Aliran ini merupakan jalan untuk menemukan kepastian kebenaran.

PENGETAHUAN

  1. A.    Teori Pengetahuan

Epistemologi juga dinamakan ‘teori pengatahuan’ (theory of knowledge), ialah suatu ilmu yang mula-mula menanyakan,  “Apakah pengetahuan?”. Hal itu meliputi banyak pertanyaan lainnya, seperti: “Apakah kebenaran?”,  “Apakah kepastian?” dan lawannya, seperti: “Apakah ketidaktahuan?”,  “Apakah kesalahan?”,  “Apakah keraguan?”. Masing-masing pertanyaan masih meliputi yang lainnya, seperti: “Apakah kesadaran?”, “Apakah sadar?”, “Apakah intuisi?”, “Apakah penyimpulan?”, “Apakah sensasi, persepsi, konsepsi, memory, imajinasi, antisipasi, berpikir, budi, kehendak, frustasi, mempertanyakan, pemecahan masalah, perasaan, emosi, interest, kegunaan, bahasa, komunikasi, bermimpi, persetujuan, mengidealisasi, menyukai, tidak menyukai, menghendaki, mengharapkan, takut, kepuasan hati, dan apati?”.[15]

Sebagai hasil penyelidikan lebih dalam kedalam pertanyaan-pertanyaan di depan (Bahm, 1995:1). Epistemology merupakan suatu bagian, bahkan bagian yang mempunyai kedudukan sentral dalam keseluruhan sistem filsafat yang ada, dan di lain pihak seharusnya sebagai suate sistem tersendiri.  

  1. B.        Pengertian Pengetahuan

Jawaban klasik atau tradisional sebagaimana diutarakan dalam dialog Plato Theaetetus bahwa pengetahuan merupakan kepercayaan benar yang terjastifikasi atau eviden, knowledge is evident true belief. Menurut konsepsi pengetahuan tersebut ada tiga kondisi yang harus dicapai bila seseorang mengetahui proposisi menjadi benar. Pertama, proposisi itu benar; kedua, seseorang menerima itu; dan ketiga, proposisi itu sesuatu yang eviden untuk orang itu.[16]

Pengetahuan adalah suatu istilah yang dipergunakan bila seseorang mengetahui tentang sesuatu. Sesuatu hal yang menjadi pengetahuannya adalah selalu terdiri dari unsure yang mengetahui dan yang diketahui serta kesadaran yang mengenai hal-hal yang ingin diketahuinya itu (Abbas H., 1983:8-9).

Beberapa epistemology mengatakan bahwa pengetahuan adalah suatu persatuan subjek dengan objek; dengan mengetahui, subjek menjadi manunggal dengan objek dan objek manunggal dengan subjek.

  1. C.    Terjadinya Pengetahuan

Banyaknya definisi tentang terjadinya pengetahuan pada manusia disebabkan banyaknya paham yang berusaha untuk ikut memecahkannya. Abbas dalam bukunya ‘Epistemologi’ (1983:26) mengemukakan bahwa ‘situasi’ adalah menjadi titik tolak perbuatan mengetahui. Bila pengetahuan adalah hasil perbuatan dasar untuk mengenal yang diarahkan kepada suatu isi maupun kenyataan yang bersifat pasif,maka perbuatan mengenal yang aktif tidak hanya disebabkan oleh kita sendiri melainkn lagu objek yang merangsang ialah kenyataan (fact).[17]

KEBENARAN PENGETAHUAN

  1. A.    Arti Kebenaran Pengetahuan

Kebenaran merupakan tema pokok dalam epistemology. Kebenaran adalah tujuan dari orang dalam mencari pengetahuan. Dalam berhubungan dengan berpengetahuan, masyarakat masih berorientasi dalam lingkup pragmatic, sehingga tidak ada pendalaman yang mendasar tentangnya.

Pengetahuan adalah hasil dari kemanunggalan antara subjek dan objek. Maka pengetahuan di katakan benar apabila dalam kemanmuggalan yang sifatnya intrinsic, intensional, pasif-aktif itu terdapat kesesuaian antara apa yang ada di dalam pengetahuan subjek dan apa yang dalam kenyataannya ada terdapat dalam subjek.[18]

Kebenaran epistemologis adalah selalu kebenaran dalam kaitannya dengan pengetahuan manusia, bahkan pengetahuan seorang manusia. Maka itu selalu bersifat subjektif, terbatas, evolutif, relasional, diskursif, sesuai dengan hakikat manusia yang adalah makhluk yang terbatas, relative, dan mengalami perubahan, berada dalam lingkup ruang dan waktu, dan  menyejarah. Contoh : pengetahuan manusia berkembang coomon sense menjadi pengetahuan ilmiah.

  1. B.     Teori-Teori Kebenaran

Dalam mencari kebenaran, manusia menggunakan berbagai cara, dengan akal (rasio), intuisi (gerak hati) dan dzauq (perasaan). Selain itu juga terdapat teori-teori kebenaran, antara lain :[19]

1.  Teori Korespondensi

The Correspondence Theory of Truth (The Accordance Theory of Truth) menyatakan bahwa kebenaran / keadaan benar itu merupakan kesesuaian antara arti yang dimaksud oleh suatu pendapat dengan apa yang sungguh-sungguh merupakan halnya atau fakta-faktanya. Kebenaran ialah sesuatu yang bersesuaian dengan fakta, yang berselaras dengan realitas yang sesuai dengan situasi actual.

2.  Teori Pragmatis

The Pragmatic Theory of the Truth beranggapan bahwa benar atau tidaknya suatu ungkapan, dalil atau teori semata-mata bergantung kepada berfaedah atau tidaknya ungkapan, dalil atau teori tersebut bagi manusia untuk bertindak dalam kehidupannya. Kebenaran ialah apa saja yang berlaku. Bagi kaum pragmatis, bahwa batu ujian kebenaran ialah kegunaan (utility), dapat dikerjakan (workability), dan akibat / pengaruhnya yang memuaskan (satisfactory consequences).

3.  Teori Konsistensi

The Consistency Theory of the truth atau the Coherence theory of the truth, kebenaran tidak dibentuk atas hubungan antara putusan dengan sesuatu yang lain, yaitu fakta dan realitas akan tetapi atas hubungan antara putusan-putusan itu sendiri. Sesuatu proposisi itu cenderung untuk benar jika proposisi itu coherent (saling hubungan) dengan lain-lain proposisi yang benar atau jika yang dikandung oleh proporsisi itu coherent dengan pengalaman kita. Olleh karena itu menurut teori ini bahwa putusan diaqnggap benar jika berhubungan dengan putusan lain yang saling berhubungan dan saling menerangkan. Atau dengan kata lain “saling hubungan yang sistematik.”

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Mahmud, Yunus. 2007. Logika Suatu Pengantar. Yogyakarta : Graha Ilmu.

Syam, Nur. 2003. Filsafat Dakwah. Surabaya : Jenggala Pustaka Utama

Wagiman. 2009. Pengantar Studi Logika. Yogyakarta : Pusataka Book Publisher.

Wahyudi, Imam. 2007. Pengantar Epitempologi. Yogyakarta : Faisal Foundation, Badan Penerbitan Filsafat UGM.

Verhaak. 1989. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Jakarta : Gramedia.


[1] Mahmud Yunus, Logika Suatu Pengantar, (Yogyakarta : Graha Ilmu, 2007), hlm. 3.

[2] Wagiman, Pengantar Studi Logika (Yogyakarta : Pusataka Book Publisher, 2009), hlm. 32.

[3] Ibid., hlm. 45.

[4] Ibid., hlm. 46.

[5] Verhaak, Filsafat Ilmu Pengetahuan, (Jakarta : Gramedia, 1989), hlm. 4.

[6] Wagiman Ibid., hlm. 48

[7] Imam Wahyudi, Pengantar Epistemologi, (Yogyakarta, Faisal Foundation, Badan Penerbitan Filsafat UGM, 2007), hlm. 1.

[8] Louis O Kattsoff, Pengantar Filsafat (Yogyakarta : Tiara Wacana, 1992) hlm. 163

[9] Blog, Pak Masduqi

[10] Imam Wahyudi, Op. Cit., hlm. 11.

[11] Ibid., hlm. 13.

[12] Ibid,., hlm. 55.

[13] Ibid., hlm. 57.

[14] Ibid.,  hlm. 62.

[15] Ibid., hlm. 4.

[16] Ibid., hlm. 17.

[17] Ibid., hlm. 24.

[18] Ibid., hlm. 71.

[19] Nur Syam, Filsafat Dakwah (Surabaya : Jenggala Pustaka Utama, 2003) Hlm. 68-72

This entry was posted in SOS 2/F3. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s