epistimologi dakwah

 

MAKALAH

Epistimologi Dakwah

Diajukan untuk memenuhi tugas Logika Scientifik

Kelas Psikologi J1

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dosen pengampu:

Drs.Masduki Affandi

Disusun Oleh :

Khoirum Maghfiroh (B07210055)

 

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

FAKULTAS DAKWAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

SURABAYA

2011

 

 

DAFTAR ISI

Halama Judul…………………………………………………………………………         i

Daftar Isi……………………………………………………………………………….         ii

BAB I:Pendahuluan

  1. Latar Belakang……………………………………………………………….    1
  2. Rumusan Masalah…………………………………………………………..   1
  3. Tujuan…………………………………………………………………………..    1

BAB II: Pembahasan………………………………………………………………….    2

  1. Pengertian Epistimologi dakwah………………………………………….     2
  2. Model-model epistimologi dakwah……………………………..4
  3. Metodologi keilmuan dakwah…………………………………..8
  4. Struktur  teori dakwah…………………………………………..11

BAB III: Kesimpulan…………………………………………………………………..13

Daftar pustaka

 

 

 

ii

BAB I

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Pada hakikatnya dakwah islam berisikan tentang “Amar ma’ruf nahi munkar” yang mempunyai pengertian kerjakanlah perbuatan yang mendekatkan diri pada Allah dan jauhilah perbuatan yang menjauhkan diri pada Allah.

Oleh karena itu, peran para nabi dan rasul di bumi yang diutus oleh Allah untuk menyampaikan kebenaran firman-Nya dan memberikan tuntunan kebaikan kepada manusia untuk selalu istiqomah dalam menjalankan tugasnya sebagai khalifah dimuka bumi  melalui berdakwah

Sesungguhnya dakwah yang diajarkan oleh para nabi dan rasul menurut Al-Qur’an yaitu berdakwah hendaknya disampaikan dengan cara-cara yang baik dan dengan bahasa yang dipahami pula. Dan seorang muslim ketika berdakwah dilarang untuk memaksa dan memaki-maki orang kafir.

  1. RUMUSAN MASALAH
    1. Apa pengertian Epistimologi dakwah?
    2. Apa saja model-model epistimologi dakwah?
    3. Bagaimana metodologi keilmuan dakwah?
    4. Bagaimana struktur teori dakwah?
    5. TUJUAN

Untuk mengetahui pengertian dari epistimologi dakwah, metodologi keilmuan dan struktur teori dakwah.

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. 1.      Pengertian epistimologi dakwah

Epistimologi adalah teori pengetahuan, “episteme”artianya pengetahuan/ kebenaran; “logos” artinya teori/ ilmu(kedua term tersebut berasal dari bahasa Yunani), menyelidika keaslian pengetahuan, struktur, metode dan validitas pengetahuan.[1] Pengetahuan adalah suatu hasil dari proses tindakan manusia dengan melibatkan seliruh keyakinan yang berupa kesadaran dalam menghadapi objek yang ingin diketahuinya.[2] Ada juga yang berpendapat bahwa pengetahuan/epistimologi adalah cabang dari filsafat yang membahas persoalan apa dan bagaiman cara seseorang memperoleh pengetahuan dan merupakan bagian dari filsafat tetang reffleksi manusia atas kenyataan yang menguraikan metode ilmiah sesuai dengan hakikat pengertian manusia.[3] Dalam bidang epistimologi terdapat 3 persoalan pokok yaitu:

1)   Apakah sumber-sumber pengetahuan itu? Dari manakah pengetahuan yang benar itu datang dan bagaimana kita?

2)   Apakah sifat dasar pengetahuan itu? Apakah ada dunia yang benar-benar diluar pikiran kit. Kalau ada, apakah kita dapat mengetahuinya?

3)   Apakah pengetahuan kita benar (valid)? Bagaimanakah kita dapat membedakan yang benar dari yang salah?

Dalam pencarian kebanaran manusia melakukan upaya transendensi, merupakan  kiasan dari bagaimana manusia membuka pintu kebenaran tahap demi tahap, dari tingkat semu (inderawi, naluri, imajinasi) menuju kepemahaman(hati nurani) kemudian menuju tingkat lebih sempurna(akal-rasional)dan dilanjutkan kependakian tertinggi ditingkat ma’rifat ilmu yakni menemukan kebenaran tertinggi(Allah SWT).

Secara keilmuan epistimologi mempunyai kedudukan yang sesungguhnya jauh lebih mendasar yakni dasar kebenaran pengetahuan dari akarnya sampai melewati dimensi fisiknya.

Perbedaan antara epistimologi, metodologi dan logika terletak pada cakupan pengertiannya. Epistimologi berkaitan dengan teori pengetahuan pada umumnya, sehingga memiliki pengertian yang paling luas. Tercakup dalam pengertian tersebut adalah metodologi. Metodologi tidak lebih dari kajian-kajian mengenaia tata cara dan teknik-teknik ilmiah untuk memperoleh sebuah jenis pengetahuan, yitu pengetahuan ilmiah. Sebagai dari tata cara tersebut adalah logika. Logika adalah salah satu jenis dari metode ilmiah yang terdiri dari azas-azas dan aturan –aturan penyimpilan yang sah.[4]

Dalam filsafat ilmu yang berkaitan dengan hakikat ilmu, ada pertanyaan mendasar yang berkaitan dengan pengetahuan yang perlu dijawab untuk merumuskan dasar epistimologi dalam hal ini dalah ilmu dakwah yaitu “bagaimana cara memperoleh pengetahuan ilmu dakwah itu?”. Untuk menjawab pertanyaan tersebut yaitu pertanyaan yang berkaitan dengan epistimologi ilmu dakwah, ada baiknya mengikuti secara runtut mengenai perkembangan pengetahuan manusia. Pada dasarnya kemampuan menalar telah menyebabkan manusia mampu mengembangkan pengetahuan yang dimilikinya. Sumber-sumber pengetahuan itu diteliti, dipelajari dan dicoba untuk di ungkap prinsip-prinsip primernya oleh kekuatan pikiran untuk kemdian diaplikasikan kedalam kehidupan.[5]

Oleh karena itu, pengetahuan yang diperoleh manusia lewat kebenaran inderawi dan rasional saja itu tidak cukup melainkan, harus melampauinya yakni kebenaran intuitif(batin) yang mempunyai pengertian suatu jenis pengetahuan yang didapat melalui pengetahuan qalbu(intuisi).

Dalam persoalan epistimologi dakwah hal pertama yang harus dijawab adalah kondisi apa yang harus dibangun, semestinya ada dalam perangkat dakwah, dan mengapa kondisi tersebut harus dibangun?

Jawabannya yaitu, bahwa factor moralitas sebagai dimensimoral keagamaan adalah salah satu syarat yang dimaksud tersebut. Factor moralitas  mempunyai peranan penting dalam aplikasi  dakwah dalam masyarakat. Artinya perilaku dakwah harus mencirikan akhlak dalam pengertian mempunyai kandungan syarat dari perbuatan baik. Syarat itu adalah suatu perbuatan dapat dikatakan baik apabila meliputi: niat yang baik. Cara yang baik termasuk didalamnya hokum positif dan hokum agama, dan ujuan yang baik pula. Dan perbuatan baik ini harus lahir dari hati nurani yang dalam. Konsep “ibda’binafsika”(mulai dari diri sendiri) disini lebih bermakna dan cara ampuh untuk mengubah tatanan masyarakat menjadi yang lebih baik lagi daripada hanya menyuruh pada kebaikan sedangkan dirinya sendiri melakukan kemunkaran.

Dengan demikian, perbuatan baik merupakan refleksi manusiawi yang melahirkan kebaikan, kejujuran dan kebursamaan dll. Oleh karena itu, satunya kata dan perbuatan harusnya lahir dari kesatuan diri manusia. Ini merupakan perpaduan unik antara visi dan aksi dalam tradisi dakwah islam.

  1. 2.      Model-model epistimologi dakwah

Dalam kajian pemikiran Islam terdapat juga beberapa aliran besar dalam kaitannya dengan teori epistemology (pengetahuan). Setidaknya ada tiga model system berpikir dalam Islam, yakni : bayani, irfani dan burhani, yang masing-masing mempunyai pandangan yang sangat berbeda tentang epistimologi (pengetahuan).

  1. 1.    Epistimologi Bayani (Explanatory)

Secara epistimologis Bayani mempunyai arti penjelasan, pernyataan dan ketetapan. Sedangkan menurut terminologis Bayani berarti pola pikir yang bersumber pada nash, ijma’ dan ijtihad[6]

Ada juga yang berpendapat bayani adalah metode pemikiran khas Arab yang didasarkan atas otoritas teks (nash), secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung artinya memahami teks sebagai pengetahuan dan langsung mengaplikasikan tanpa perlu pemikiran; secara tidak langsung berarti memahami teks sebagai pengetahuan mentah sehingga perlu penafsiran dan penalaran. Hal ini bukan berarti akal atau rasio bisa bebas menentukan makna dan maksudnya, akan tetapi  penafsiran dan penalaran tetap harus bersandar pada teks(nash).

Epistimologi Bayani merupakan studi filosofis terhadap struktur pengetahuan yang menempatkan teks(wahyu) sebagai kebenaran mutlak. Sedangkan akal hanya menempati tingkat kedua dan sifatnya menjelaskan teks yang dimaksud. Tradisi Bayani muncul tidak terlepas dari tradisi teks yang berkembangdalam ajaran islam. Dan ada sekitar 50 ayat al-Qur’an yang mengungkap kata Bayani ini.[7] Dalam dakwah islam, teks (nash) Al-Qur’an khususnya merupakan sumber utama sebagai tolak ukur dan titik tolak dari seluruh kegiatan dakwah islam yang dilakukan oleh para pendakwah. Oleh karena itu, secara origin maka epistimologi bayani merupakan bentuk dari sumber pengetahuan ilmu dakwah itu sendiri.

  1. 2.    Epistemologi Irfani (Gnosis)

Epistimologi Irfani menurut etimologi berarti al-ma’rifah, al-‘alhikmah. Sedangkan secara eksistensialis berpangkal pada zauq, qalbu atau intuisi yang merupakan perluasan dari pandangan illuminasi dan yang berpakar pada tradisi Hermes.

Pengetahuan irfani tidak didasarkan pada teks (nash) seperti bayani, akan tetapi pada kasyf, tersingkapnya rahasia-rahasia realitas oleh Tuhan. Karena itu, pengetahuan irfani tidak diperoleh berdasarkan analisa teks tetapi dengan olah ruhani, dimana dengan kesucian hati, diharapkan Tuhan akan melimpahkan pengetahuan langsung kepadanya. Masuk dalam pikiran, dikonsep kemudian dikemukakan kepada orang lain secara logis. Dengan demikian pengetahuan irfani setidaknya diperoleh melalui tiga tahapan yaitu:

Tahap pertama, persiapan. Untuk bisa menerima limpahan pengetahuan (kasyf), seseorang harus menempuh jenjang-jenjang kehidupan spiritual. Setidaknya, ada tujuh tahapan yang harus dijalani, mulai dari bawah menuju puncak (1)Taubat, (2)Wara’(menjauhkan diri dari segala sesuatu yang subhat), (3)Zuhud (tidak tamak dan tidak mengutamakan kehidupan dunia). (4)Faqir (mengosongkan seluruh fikiran dan harapan masa depan, dan tidak menghendaki apapun kecuali atas kehendak Allah SWT). (5)Sabar (menerima segala bencana dengan lapang dada, ikhlas dan rela). (6)Tawakkal (percaya atas segala apa yang ditentukan oleh Allah SWT). (7) Ridla (hilangnya rasa ketidak senangan dalam hati sehingga yang tersisa hanya gembira dan sukacita).

tahap Kedua, tahap penerimaan. Jika telah mencapai tingkat tertentu dalam sufisme, seseorang akan mendapatkan limpahan pengetahuan langsung dari Allah secara illuminatif. Pada tahap ini seseorang akan mendapatkan realitas kesadaran diri yang demikian mutlak (kasyf), sehingga dengan kesadaran itu ia mampu melihat realitas dirinya sendiri (musyahadah) sebagai objek yang diketahui.Namun, realitas kesadaran dan realitas yang disadari tersebut keduanya bukan sesuatu yang berbeda tetapi merupakan eksistensi yang sama, sehingga objek yang diketahui tidak lain adalah kesadaran yang mengetahui itu sendiri, begitu pula sebaliknya (ittihad) yang dalam kajian Mehdi Yazdi disebut ‘ilmu huduri’ atau pengetahuan objek (self-object-knowledge).

Tahap Ketiga, pengungkapan, yakni pengalaman mistik diinterpretasikan dan diungkapkan kepada orang lain, lewat ucapan atau tulisan. Namun, karena pengetahuan irfani bukan masuk tatanan konsepsi dan representasi tetapi terkait dengan kesatuan simpleks kehadiran Tuhan dalam diri dan kehadiran diri dalam Tuhan, sehingga tidak bisa dikomunikasikan maka tidak semua pengalaman ini bisa diungkapkan. Persoalannya, bagaimana makna atau dimensi batin yang diperoleh dari kasyf tersebut diungkapkan? Pertama, diungkapkan dengan cara I`tibar atau qiyas irfani. Yakni analogi (penyepadanan) makna batin yang ditangkap dalam kasyf kepada makna zahir yang ada dalam teks atau diungkapkan lewat syathahat, suatu ungkapan lisan tentang perasaan (al-wijdân) karena limpahan pengetahuan langsung dari sumbernya dan dibarengi dengan pengakuan, seperti ungkapan ‘Maha Besar Aku dari Abu Yazid Bustami (w. 877 M), atau Ana al-Haqq dari al-Hallaj (w. 913 M).16 Karena itu, menjadi tidak beraturan dan diluar kesadaran.[8]

Dalam hubungannya dengan dakwah islam tidak terlalu banyak berpengaruh terhadap sumber pengetahuannya karena dakwah pada dasarnya lebih kepada persoalam perubahan social dan transformasi nilai-nilai islam yang konkret dan rasional.

  1. 3.    Epistemologi Burhani(Demontratif)

Epistimologi Burhani secara bahasa berarti argumentasi yang jelas. Sedangkan menurut istilahnya berarti aktifitas intelektual untuk menetapkan kebenaran proposisi dengan metode deduktif yaitu dengan cara mengaitkan proposisi satu dengan proposisi lainnya yang bersifat aksiomatik atau setiap aktifitas intelektual untuk menetapkan kebenaran suatu proposisi.[9]

Berbeda dengan bayani dan irfani yang masih berkaitan dengan teks, burhani sama sekali tidak mendasarkan diri pada teks. Burhani menyandarkan diri pada kekuatan rasio dan akal yang dilakukan lewat dalil-dalil logika.

Epistimologi Burhani membangun pengetahuan dan visinya atas dasar potensi bawaan manusia yakni kemampuan melakukan proses pengindraan, eksperimensi dan konseptualisasi. Metode ini pertama kali dikembangkan di Yunani melalui proses panjang dan puncaknya pada Aristoteles. Metode ini biasanya disebut oleh Aristoteles dengan sebutan analisis yang mempunyai pengertian menguraikan ilmu atas dasar prinsip-prinsipnya. Epistimologi burhani inilah yang lebih kental dengan sumber dakwah Islam setelah epistimologi bayani (teks/nash).

Ketiga bentuk epistimologi islam diatas merupakan bagan teori pengetahuan dalam aplikasi terapannya ditengah pergumulan kajian keislaman yang didalamnya salah satunya adalah ilmu dakwah. Karakteritik ini pada awalnya pemunculan sampai dengan perkembangannya melzalui mekanisme secara runtut sejak sebelum masehi sampai dengan kontenporer tergambar secara jelas dalam berbagai tipologi masyarakat islam baik bangunan keilmuan konseptualnya maupun aplikasinya didalam setiap penerapan keilmuan sebagai cara pandangnya.

Perbandingan ketiga epistemologi ini adalah bahwa bayani menghasilkan pengetahuan lewat analogi furu` kepada yang asal; irfani menghasilkan pengetahuan lewat proses penyatuan ruhani pada Tuhan. Dan burhani menghasilkan pengetahuan melalui prinsip-prinsip logika atas pengetahuan sebelumnya yang telah diyakini kebenarannya.

Dan tiga epistemologi Islam ini mempunyai ‘basis’ dan karakter yang berbeda. Pengetahuan bayani didasarkan atas teks, irfani pada intuisi sedang burhani pada rasio. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Untuk bayani, karena hanya mendasarkan diri pada teks, ia menjadi terfokus pada hal-hal yang bersifat aksidental bukan substansial, sehingga kurang bisa dinamis mengikuti perkembangan sejarah dan sosial masyarakat yang begitu cepat. Kenyataannya, pemikiran Islam saat ini yang masih banyak didominasi pemikiran bayani fiqhiyah kurang bisa merespon dan mengimbangi perkembangan peradaban dunia. Tentang burhani, ia tidak mampu mengungkap seluruh kebenaran dan realitas yang mendasari semesta.

Jadi ketiga hal tersebut harus disatukan dalam sebuah pemahaman. Maksudnya, ketiga model tersebut diikat dalam sebuah jalinan kerjasama untuk saling mendukung dan mengisi kekurangan masing-masing sehingga terciptalah Islam yang ‘Shalih li Kulli Zaman wa Makan‘, Islam yang aktual dan kontekstual dalam semua tingkat peradaban. Kita harus mengambil filsafat, bukan sekedar sejarahnya melainkan lebih pada aspek metodologinya dengan dibantu ilmu-ilmu kontemporer sehingga ia mampu memberikan sumbangan yang signifikan terhadap perkembangan keilmuan Islam kedepan.

  1. 3.      Metodologi keilmuan dakwah

Metode ilmu dakwah itu secara garis besar meliputi:[10]

  1. Metode (Manhaj) Istinbath yaitu proses penalaran (istidlal) dalam memahami dan menjelaskan hakikat berupa teori utama ilmu dakwah. Metode Istinbath relevan untuk mengkaji realitas dakwah atau obyek forma ilmu dakwah yang berupa problem yang muncul dari interaksi model DI-D. untuk Manhaj ini ilmu dakwah dapat menggunakan ilmu-ilmu bantu seperti Ushul Fiqh, Ulumul al-Qur’an, Ulumul Hadits dan ilmu-ilmu bantu lainnya terutama yang berhubungan langsung dengan kajian teks.
  2. Metode Iqtibas yaitu proses penalaran dalam mahami dan menjelaskan hakikat dakwah/realitas dakwah/ denotasi dakwah dari islam actual, islam empiris, islam historis atau islam empiris yang hidup di masyarakat. Ilmu-ilmu social dipakai sebagai ilmu bantu dalam penerapan dan penggunaan metode ini. Ilmu-ilmu dimaksud antara lain sosiologi, antropologi, psikologi, ilmu ekonomi, ilmu politik dll. Meskipun realitas dakwah yang muncul dari interaksi model DI-D lebih relevan dikaji menggunakan metode istinbath, akan tetapi jika kita melihatnya sebagai bagian dari islam actual, maka metode iqtibas digunakan untuk memahami dan menjelaskannya.
  3. Metode Istiqra’ yaitu proses penalaran dalam memahami dan menjelaskan hakikat dakwah melalui penelitian kualitatif dan kuantitatif dengan mengacu pada teori utama dakwah (hasil metode istinbath) dan teori turunan dari teori utama dakwah (hasil metode iqtibas). Sedangkan hasil metode istiqra’disebut teori kecil.

Amrullah Achmad menjelaskan beberapa model  metode ilmu dakwah yang dapat dipikirkan sebagai pemikiran lebih lajut dari metode Iqtibas dan metode Istiqra’. Bagi nya metode ilmu dakwah meliputi:[11]

  1. Metode keilmuan dakwah dengan menggunakan pendekatan analisis system dakwah. Dengan menerapkan model ini dalam melakukan kajian terhadap obyek forma ilmu dakwah maka diantara hasil yang dapat diperoleh meliputi:
    1. Masalah-masalah yang kompleks dalam dinamika dakwah dapat dirumuskan.
    2.  proses dakwah dapat diketahui alurnya.
    3. hasil-hasil dakwah dapat diukur dan dianalisa.
    4. Umpan balik kegiatan dakwah dapat dimulai.
    5. Fungsi dakwah dalam system kemasayarakatan dapat diketahui dan di analisa
    6. Dampak perubahan dari system politi, ekonomi dan perubahan social pada umumnya dapat diidentifikasi secara lebih jelas.
    7. Metode historis yaitu metode ilmu dakwah dengan menggunakan pendekatan ilmu sejarah. Maksudnya realitas dakwah dilihat dengan menekankan pada semua unsure dalam system dakwah dalam perspektif waktu dan tempat kejadian. Dengan metode ini fenomena dakwah dapat dideskripsikan  secara komprehensip dan utuh.
    8. Metode Reflektif yaitu suatu proses vertifikasi prinsip-prinsip serta konsep-konsep dasar dakwah yang diperoleh dari refleksi pandangan dunia tauhui sebagai suatu paradigm. Penerapan metode ini diawali dengan memanfaatkan pola penafsiran  maudlui dalam disiplin ilmu tafsir. Hasil penafsiran secara maudlui ini kemudian direfleksikan secara kontektual dalam studi sejarah atas realitas dakwah. Dari prosedur itu diharapkan dapat dihasilkan suatu prinsip-prinsip umum yang akan terjadi rujukan awal dalam memebangun teori utama dakwah islam. Secara teknis metode ini mengusahakan refleksi pandangan dunia tauhid kedalam prinsip epistimologis. Kemudian prinsip epistimologis yang dibangun atas dasar pandangan dunia dunia tauhid itu direfleksikan/ditafakurkan kedalam penyusunan wawasan teoritis. Wawasan teoritis itu direfleksikan kedalam proses pemahaman fakta dakwah. Hasil kajian atas fakta dakwah yang didasarkan pada wawasan teoritis tersebutdi generalisasikan dalam rangka membangun kerangka teori dakwa sesuai dengan spesifikasi dan ruang lingkup obyek yang dikaji dalam ilmu dakwah.
    9. Metode Riset Dakwah Partisipatif. Metode ini menekankan kajiannya dengan  menggunakan pendekatan empiris. Jika pada pendekatan reflektif proses kerja ilmiah bergerak dalam wilayah ayat-ayat kauniah. Dengan pendekatan empiris ini, metode riset dakwah partisipatif diharapkan akan dapat menghasilkan teori, system dan metode dakwah(metode berdakwah bukan metode ilmu dakwah) akurat yang memilikikemampuan untuk dijadikan alat analisia medan dakwah, memotret profil mad’u, menyusun program dakwah, menganalisa tahapan proses penvapaian tujuan, memecahkan masalah nyata yang dihadapi dan mampu mengatisipasi masalah yang kompleks.

Secara operasional metode riset dakwah perspektif ini memiliki prosedur sebagai berikut: pertama, peneliti (da’i) melakukan generalisasi atas fakta dakwah dalam persprktif sejarah dan melakukan kritik atas teori-teori dakwah yang ada. Kedua peneliti (da’i) menyusun analisa kecenderungan masalah, system, metode, pola pengorganisasian dan pengelolahan dakwah yang terjadi dimasa lalu, kini dan munkin dimasa mendatang.

  1. 4.      Struktur teori dakwah[12]

Teori adalah proposisi-proposisi ilmiah yang menghubungkan keterkaitan antara satu kaidah dengan kaidah yang lainnya dan menyatukan pada kesatuan prinsip yang dari padanya dapat diambil kepastian ketentuan dan kaidah ilmiah.

Teori dakwah adalah konseptualisasi (proses abstraksi dalam bentuk pernyataan dan proposisi) mengenai realitas dakwah. Teori dakwah tidak lain berupa akumulasi dari hasil-hasil penelitian yang telah teruji kebenarannya mengenai obyek formal ilmu dakwah sebagai hasil dari penerapan metode Nadzariah Syumuliah Qur’aniyah. Dan Syukriadi Sambas, membagi teori dakwah berdasarkan penggunaan metode tarsebut sebagai berikut:

  1. Teori citra, yaitu proposisi-proposisi sebagai hasil dari istimbath, iqtibas dan istiqra’ mengenai da’i.
  2. Teori pesan, yaitu proposisi-proposisi sebagai hasil dari istinbath,iqtibas dan istiqra’ mengenai pesan dakwah.
  3. Teori efektifitas, yaitu proposisi-proposisi sebagai hasil dari istimbath, iqtibas dan istiqra’ mengenai metode dan media dakwah.
  4. Teori medan dakwah, yaitu proposisi-proposisi sebagai hasil dari istimbath, iqtibas dan istiqra’ mengenai berbagai persoalan mad’u.
  5. Teori dakwah nafsiyah yaitu proposisi-proposisi sebagai hasil dari istimbath, iqtibas dan istiqra’ mengenai proses dakwah nafsiyah yaitu proses dakwah yang terjadi dalam diri pribadi seseorang. Da’I dan mad’u adalah satu orang yaitu diri seseorang sendiri ketika dia secara pribadi berusaha meningkatkan keberagamannya.
  6. Teori dakwah fardliyah yaitu proposisi-proposisi sebagai hasil dari istimbath, iqtibas dan istiqra’ mengenai proses dakwah yang terjadi ketika da’I dan mad’unya bersifat perseorangan dalam bentuk tatap muka langsung.
  7. Teori dakwah fi’ah yaitu proposisi-proposisi sebagai hasil dari istimbath, iqtibas dan istiqra’ mengenai proses dakwah dimana da’inya perorangan sedangkan mad’unya terdiri dari sekelompok kecil orang yang secara langsung bertatap muka.
  8. Teori dakwah yaitu proposisi-proposisi sebagai hasil dari istimbath, iqtibas dan istiqra’ mengenai proses dakwah yang da’inya perorangan sedangkan mad’unya terdiri dari sekelompok orang yang terorganisasi bertatap muka secara langsung.
  9. Teori dakwah ummah yaitu proposisi-proposisi sebagai hasil penerapan dari istimbath, iqtibas dan istiqra’ mengenai proses dakwah yang da’inya perorangan dan mad’unya sejumlah orang banyak yang bersifat monologis tanpa menggunakan media massa.
  10. Teori dakwah qabailiyah yaitu proposisi-proposisi sebagai hasil dari penerapanistimbath, iqtibas dan istiqra’ mengenai proses dakwah yang terjadi antar suku dan budaya yang berlainan antara mad’u dan da’inya akan tetapi masih dalam satu wilayah. Dakwah semacam ini dapat berlangsung dalam konteks dakwah fardliyah, fi’ah, hizbaiyah maupun ummah.
  11. Teori dakwah syu’ubiyah yaitu proposisi-proposisi sebagai hasil dari penerapan istimbath, iqtibas dan istiqra’ dalam penelitian dakwah antar bangsa, dimana da’I dan mad’unya belainan suku bangsa dan budaya dan tidak dalam satu kesatuan wilayah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kesimpulan

 

Menurut bahasa Epistimologi adalah teori pengetahuan, “episteme”artianya pengetahuan/ kebenaran; “logos” artinya teori/ ilmu.sedangkan secara istilah adalah suatu hasil dari proses tindakan manusia dengan melibatkan seliruh keyakinan yang berupa kesadaran dalam menghadapi objek yang ingin diketahuinya.

Model-model epistimologi dakwah ada 3 yaitu:

  1. Epistimologi Bayani (Explanatory).
  2. Epistemologi Irfani (Gnosis).
  3. Epistemologi Burhani(Demontratif).

Metodologi keilmuan dakwah ada 4 yaitu:

  1. Metode Analisa.
  2. Metode historis.
  3. Metode Reflektif.
  4. Metode Riset Dakwah Partisipatif.

Teori dakwah  yaitu:

  1. Teori citra
  2. Teori pesan
  3. Teori efektifitas
  4. Teori medan dakwah
  5. Dst.

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

                Runes Dagorbert D,Dictionary of Philosofy, Adams & CO,  New Jersey, 1971.

Dermawan Andy dkk, Metodologi Ilmu Dakwah, Kurnia Kalam Semesta,Yogyakarta, 2002.

AMW Pranarka dan A Bakker,Epistimologi, Kebudayaan dan Pndidikan, KSF, Yogyakarta, 1979.

Dermawan Andy,Tasawuf Amaliah dalam Eistimologi Islam kurnia Kalam Semesta, Yogyakarta, 2000.

‘Abid al-Jabiri Muhammed, Bunyahnal- Aql al- Arabiy, al-Markaz al- Tsaqofi al-‘Arabiy, Bieru,1993.

Mahamasani Subhi, Filsfat at-Tasyri’ fi al-Islam, Dar al-‘Ilmi al- Malayan, Beirut, 1961.

Sulthon Muhammad, Desain ILmu Dakwah, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2003.

http://pandidikan.blogspot.com/2011/05/epistemologi-dan-ontologi-dakwah.html.


[1] Dagorbert D Runes,Dictionary of Philosofy,(New Jersey: Adams & CO,1971),h. 94

[2] Andy Derrmawan, dkk, Metodologi Ilmu Dakwah,(Kurnia Kalam Semesta:Yogyakarta:2002),h.59

[3] AMW Pranarka dan A Bakker,Epistimologi, Kebudayaan dan Pndidikan,(KSF:Yogyakarta:1979),h. 132

[4] The Liang Gie, Suatu Konsepsi ke Arah Penertiban Bidang Filsafat,h.98-99

[5] Andy Dermawan,Tasawuf Amaliah dalam Eistimologi Islam(Yogyakarta:2000),h.162

[6] Muhammed ‘Abid al-Jabiri, Bunyahnal- Aql al- Arabiy, (Bierut: al-Markaz al- Tsaqofi al-‘Arabiy,1993)h. 383-384.

[7] Subhi Mahamasani, Filsfat at-Tasyri’ fi al-Islam, (Beirut:Dar al-‘Ilmi al- Malayan, 1961), h. 165-169

[9] Muhammed ‘Abid al-Ajabiri, Ibid… h.383-385

[10] Muhammad Sulthon, Desain ILmu Dakwah(Pustaka Pelajar:Yogyakarta:2003), h. 107-108

[11] Muhammad Sulthon….ibid h. 110-113

[12] Muhammad Sulthon… ibid h.113-117

This entry was posted in psi 2/j1. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s