epistemologi dakwah

MAKALAH

Epistemologi Dakwah

Diajukan untuk memenuhi tugas Logika Scientifik

Kelas Psikologi J1

 

 

 

 

 

 

 

 

Dosen Pengampu :

Drs. Masduqi Affandi, M. Pdi

 

Disusun Oleh:

Tutik Ely Sulistiyorini   (B07210056)

 

PROGAM STUDI PSIKOLOGI

FAKULTAS DAKWAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

SURABAYA

2011

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.

Bismillahirohmannirrohim

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Ilahi Robbina Azza Wajalla yang telah memberikan penulis berkat rahmat dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini kehadapan pembaca, harapan penulis semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca yang memerlukan informasi tentang Epistemologi Dakwah.

Dalam makalah yang berjudul “Epistemologi Dakwah” terdapat banyak hal yang perlu diketahui oleh teman-teman semua. Karena pada makalah ini penulis mengulas banyak hal yang mungkin belum diketahui oleh teman-teman semua, khususnya mahasiswa Fakultas Dakwah.

Demikianlah kiranya semoga makalah ini dapat membantu teman-teman yang masih sangat minim pengetahuannya tentangEpistemologi Dakwah. Akhirnya kepada semua pihak penulis mengharapkan bantuan koreksi/saran saran yang membangun demi kesempurnaan makalah selanjutnya. Dan kepada pihak yang merasa dirugikan penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Wabillahi taufiq wal hidayah.

Surabaya, Juni 2011

Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar…………………………………………………………………         iv

Daftar Isi………………………………………………………………………….          iv

BAB I

          Pendahuluan  

  1. A.   Latar Belakang Masalah…………………………………      1
  2. B.   Rumusan Masalah………………………………………….      1
  3. C.   Tujuan…………………………………………………………...     1

BAB II

Pembahasan .……………………………………………………………          2

BAB III

Kesimpulan …………………………………………………………………       8

Daftar Pustaka……………………………………………………………..       13

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang

Dakwah pada mulanya dipahami sebagai perintah Allah yang tertuang dalam al-Qur’an. Bagi setiap muslim yang taat kepada Allah, maka perintah berdakwah itu wajib dilaksanakan. Ketika dakwah dilaksanakan dengan baik, lalu disadari bahwa dakwah itu merupakan suatu kebutuhan hidup manusia. Dan ketika dakwah disadari sebagai suatu kebutuhan hidup, maka dakwah pun menjadi suatu aktivitas setiap muslim kapan pun dan dimana pun mereka berada. Kemudian aktivitas dakwah pun berkembang dalam berbagai situasi dan kondisi dengan berbagai dinamikanya.

Dalam perkembangan terakhir di Indonesia, khususnya dalam lingkungan perguruan tinggi agama Islam, dakwah berkembang sebagai satu disiplin ilmu dan kedudukannya disejajarkan dengan disiplin ilmu Islam lainnya, seperti Filsafat, Tasawuf, Hadist dan disiplin ilmu lainnya.

  1. B.     Rumusan Masalah
    1. Apakah yang dimaksud dengan Epistemologi Dakwah?
    2. Sebutkan dan jelaskan model-model Epistemologi Islam?
    3. Apa yang dimaksud dengan hakikat dakwah, dan apa tujuan berdakwah?
  1. C.    Tujuan

Dalam tujuan pembahasan ini merupakan hal yang sangat penting untuk dijelaskan sebab dengan tujuan pembahasan ini mudah untuk mengetahui beberapa hal yang menjadi pokok permasalahan dalam perumusan masalah diatas, maka tujuan dari pembahasan makalah ini adalah sebagai berikut:

  • Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Epistemologi dakwah
  • Untuk mengetahui model-model dalam Epistemologi Islam
  • Untuk mengetahui tujuan manusia berdakwah dan hakikat berdakwah

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.    Pengertian Kebenaran

Membicarakan filsafat memiliki cakupan luas, akan tetapi setidaknya terdapat tiga hal mendasar yang dianggap penting, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ontologi terkait dengan pertanyaan what is (apakah hakikat sesuatu), epistemologi terkait dengan pertanyaan how to (bagaimanakah sesuatu terjadi), dan aksiologi terkait dengan what for (apakah kegunaan sesuatu). Menurut Kattsoff,[1] bahwa Ontologi dan Epistemologu merupakan hakikat kefilsafatan yang terdalam dan bagaimana mencari makna dan kebenaran. Sedangkan aksiologi berbicara mengenai masalah nilai dan atau etika dalam kaitannya dengan mencari kebahagiaan dan kedamaian bagi umat manusia.

Yang menjadi persoalan adalah apakah sebenarnya yang dimaksud dengan kebenaran itu? Kebenaran adalah sesuatu yang bersifat subyektif, artinya pernyataan benar selalu terkait dengan bagaimana tanggapan orang terhadap sesuatu. Kebenaran menyangkut persoalan apakah orang mempercayai bahwa itu adalah sesuatu pernyataan yang benar. Sama halnya dengan kesalahan, yang juga terkait dengan bagaimana orang mempercayai bahwa itu adalah salah. Russel (1989) menyatakan bahwa kebenaran adalah suatu sifat dari kepercayaan dengan suatu fakta atau lebih di luar kepercayaan. Bila hubungan ini tidak ada, maka kepercayaan itu adalah salah. Suatu kalimat dinyatakan benar atau salah,jika kalimat itu dipercaya. Jadi benar atau salahnya kepercayaan itu tergantung pada masalahnya.[2]

Kattsof, [3] menyatakan bahwa sesuatu dianggap benar apabila ia merupakan serangkaian dari kesesuaian antara proposisi yang berisi kandungan makna suatu pernyataan, yang tersusun dalam sebuah perkataan semantik dan terdapat ukuran kebenaran itu. Dengan demikian untuk mengetahui sesuatu itu salah atau benar sangat tergantung kepada pernyataan yang saling berhubungan yang terdapat kesamaan makna (konsisten), pernyataan tersebut merupakan kesesuaian antara simbol dan atau fakta dengan pernyataannya sendiri (korespondensi) dan terdapat ukuran untuk menyatakan sesuatu itu benar atau salah.

  1. B.     Epistemologi Dakwah

Epistemologi dakwah adalah cabang filsafat yang secara khusus membahas teori ilmu pengetahuan. Pada dasarnya epistemologi adalah bahasa Yunani dan berasal dari dua kata yaitu, episteme yang berarti pengetahuan, ilmu pengetahuan, dan logos yang berarti teori, informasi. Dengan demikian dapat dikatakan, pengetahuan tentang pengetahuan atau teori pengetahuan. Dan dakwah secara bahasa, berasal dari padanan kata da’a- yuda’i- du’a’an wa da’watan. Dalam al-Qur’an istilah dakwah disebutkan kurang lebih sebanyak sepuluh kali dengan berbagai arti yang berbeda yaitu: ajakan, seruan, pembuktian dan do’a. Dalam makna sempit, dakwah berarti tugas untuk menyampaikan dan mengajarkan ajaran agama Islam agar nilai-nilai Islam terwujud dalam kehidupan manusia dan mengajak manusia kepada jalan yang diridhoi Allah.[4]

Dari dua pengertian diatas maka dapat penulis simpulkan bahwa Epistemologi Dakwah adalah kajian filosofis terhadap sumber, metode, esensi, dan validitas (kebenaran ilmu) dakwah. Sumber menjelaskan asal-usul ilmu dakwah, sedangkan metode menguraikan bagaimana cara memperoleh ilmu tersebut dari sumbernya, dan validitas dakwah adalah pengetahuan yang diperoleh dari sumbernya melalui metode ilmiah, dan belum bisa disebut sebagai ilmu apabila belum terujI secara ilmiah atau tidak memiliki validitas ilmiah. Dalam menguji keilmuan ada dua teori yang dapat digunakan untuk menguji validitas suatu disiplin ilmu, yaitu teori koherensi dan teori korespondensi. Teori koherensi menyebutkan bahwa kebenaran ditegakkan atas hubungan keputusan baru dengan keputusan-keputusan yang telah diketahui dan diakui kebenarannya terlebih dahulu. Suatu proposisi dikatakan benar jika ia berhubungan dengan keberanian yang telah ada dalam pengalaman manusia.[5] Teori korespondensi menyatakan bahwa kebenaran atau keadaan benar itu merupakan kesesuaian antara arti yang dimaksud oleh suatu pendapat dengan apa yang sungguh-sungguh merupakan halnya atau fakta-faktanya. Kebenaran adalah sesuatu yang bersesuaian dengan fakta, yang selaras dengan realitas, yang sesuai dengan situasi aktual.[6] Dari teori korespondensi dapat diketahui bahwa yang pertama ada pernyataan dan kedua ada kenyataan. Dengan demikian, kebenaran adalah kesesuaian antara pernyataan tentang sesuatu dengan kenyataan tentang sesuatu, misalnya di Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya ada Progam Studi Psikologi, dan jika kenyataan bahwa di Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya ada Progam Studi Psikologi (melalui observasi), maka terdapat kesesuaian antara pernyataan dengan kenyataan. Menrut Aristoteles, teori korespondensi disebut teori penggambaran, yang premisnya berbunyi “kebenaran adalah kesesuaian antara pikiran dengan kenyataan”.

  1. C.    Model-model Epistemologi Islam[7]

Dalam kajian pemikiran Islam terdapat juga beberapa aliran besar dalam kaitannya dengan teori pengetahuan (epistemologi). Setidaknya ada tiga model sistem berpikir dalam Islam, yakni: bayani, irfani, dan burhani, yang masing-masing mempunyai pandangan yang sangat berbeda tentang pengetahuan.

  • Epistemologi Bayani

Adalah metode pemikiran khas Arab yang didasarkan atas otoritas teks(nash), secara langsung atau tidak langsung. Secara langsung artinya memahami teks sebagai pengetahuan jadi dan langsung mengaplikasikan tanpa perlu pemikiran; secara tidak langsung berarti memahami teks sebagai pengetahuan mentah sehingga perlu tafsir dan penalaran. Meski demikian, hal ini bukan berarti akal atau rasio bisa bebas menentukan makna dan maksudnya, tetapi tetap harus bersandar pada teks.

  • Epistemologi Irfani

Pengetahuan irfani tidak didasarkan atas teks seperti bayan, tetapi pada kasyf, terungkapnya rahasia-rahasia realitas oleh Tuhan. Oleh karena itu, pengetahuan irfani tidak diperoleh berdasarkan analisa teks tetapi dengan olah ruhani, dimana dengan kesucian hati, diharapkan Tuhan akan melimpahkan pengetahuan langsung kepadanya. Masuk dalam pikiran, dikonsep kemudian dikemukakan kepada orang lain secara logis. Dengan demikian pengetahuan irfani setdaknya diperoleh melalui tiga tahapan:

ü  Tahap persiapan

ü  Tahap penerimaan

ü  Tahap pengungkapan, dengan lisan atau tulisan

  • Epistemologi Burhani

Berbeda dengan bayani dan irfani yang masih berkaitan dengan teks suci, burhani sama sekali tidak mendasarkan diri pada teks. Burhani mendasarkan diri pada kekuatan rasio, akal, yang dilakukan lewat dalil-dalil logika.

v  Perbedaan ketiga epistemologi Islam ini adalah bayani menghasilkan pengetahuan lewat analogi furu’ dan pengetahuan bayani didasarkan atas teks suci; irfani menghasilkan pengetahuan lewat proses penyatuan ruhani pada Tuhan (intuisi); burhani menghasilkan pengetahuan lewat prinsip-prinsip logika atas pengetahuan sebelumnya yang telah diyakini kebenarannya (rasio). Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Untuk bayani, karena hanya mendasarkan diri pada teks, ia menjadi terfokus pada hal-hal yang bersifat aksidental bukan substansial, sehingga kurang bisa dinamis mengikuti perkembangan sejarah dan sosial masyarakat yang begitu cepat. Pada kenyataannya, pemikiran Islam pada saat ini masih banyak yang didominasi oleh pemikiran bayani fiqhiyah yang kurang bisa merespon dan mengimbangi perkembangan peradaban dunia. Dan burhani tidak mampu mengungkap seluruh kebenaran dan realitas yang mendasari semesta. Misalnya burhani tidak mampu menjelaskan seluruh eksistensi diluar pikiran seperti soal warna, bau, rasa, atau bayangan.

Jadi ketiga hal tersebut harus disatukan dalam sebuah pemahaman. Maksudnya ketiga model tersebut diikat dalam sebuah jalinan kerjasama untuk saling mendukung dan mengisi kekurangan masing-masing. Sehingga terciptalah Islam yang “Shalih li Kulli Zaman wa Makan”, Islam yang aktual dan kontekstual dalam semua tingkat peradaban.

 

  1. D.    Hakikat Dakwah[8]

Merujuk pada makna yang terkandung dalam al-Qur’an surat al-Nahl (16:125) yang berbunyi

ادع الي سبيل ربك با لحكمة والموعظة الحسنةصالي وجد لهم بالتي هي احسنج ان ربك هو اعلم بمن ضل عن سبيلهصلي وهو اعلم با لمهتدين 125

Artinya : “serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Dakwah Islam dapat dirumuskan sebagai kewajiban muslim mukallaf untuk mengajak, menyeru dan memanggil orang yang berakal menjalani jalan Tuhan (dinul Islam) dengan cara hikmah, mauidhoh hasanah (motivasi positif), dan mujadalah yang ahsan (cara yang metodologis) dengan respon positif atau negatif dari orang yang berakal yang diajak, di sepanjang jalan dan sepanjang ruang.

Hakikat dakwah Islam tersebut adalah perilaku keislaman muslim yang melibatkan unsur da’i, maudhu’atau pesan, wasilah atau media, uslub atau metode, mad’u dan respon serta dimensi hal-maqom atau situasi dan kondisi.

Hakikat dakwah Islam menunjukkan bahwa terdapat tiga bentuk utama dalam proses mendakwahkan Islam, yaitu :.

  1.  Melalui ahsanul qoul (bagusnya ucapan)
  2. Ahan ‘amal (bagusnya perbuatan);
  3. Keterpaduan bentuk ahsan qoul dan ahsan ‘amal (contoh yang baik)

Dari uraian yang sudah dikemukakan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Hakikat dakwah Islam adalah proses internalisasi (pendalaman/ penghayatan), transmisi (pemindahan), difusi (perpindahan), institusionalisasi dan transformasi dinul Islam dalam totalitas kehidupan manusia mukallaf guna mencapai tujuan hidup dunia dan akhirat.

 

  1. E.     Kebutuhan Manusia Terhadap Dakwah

Ketika berada di alam arwah, manusia telah melakukan syahadah yang disebut dengan perjanjian Ketuhanan dan fitrah Allah (dinul Islam). Dengan demikian, manusia memiliki banyak kebutuhan dalam dirinya seperti kebutuhan dakwah (kebutuhan spiritual) yang diperlukan untuk mengaktualkan syahadah ila Allah ke dalam kenyataan hidup manusia sebenarnya, seperti kebutuhan materialnya, baik itu makan dan minum, berpakaian ataupun seks. Dan kebutuhan yang bukan material, seperti kebutuhan rasa aman, bahagia, dihargai, dicintai dan lain-lain.

  1. F.     Tujuan Dakwah

Dakwah adalah kewajiban bagi setiap umat Islam, untuk saling mengingatkan dan mengajak sesamanya dalam rangka menegakkan kebenaran (konteks iman/ teologis) dan kesabaran (konteks amal/sosiologis) dalam al-Qur’an surat al-Ashr ayat 3 yang berbunyi :

الا الدين امنوا وعملواالصالحات وتواصوا بالحق وتوا صوا با لصبر 3

Artinya : kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.

Oleh karena itu, mengapa umat Islam selanjutnya disebut sebagai warotsatul anbiya’ (pewaris para nabi). Nabi yang berasal dari kata naba-a yang bermakna penebar risalah Tuhan (kebenaran).

Tujuan dakwah bukan untuk memaksakan kehendak (Q.S 2: 256), mengislamkan yang lain, maupun untuk mempersatukan umat manusia (Q.S 5: 48), apalagi untuk memperbanyak pengikut. Jika dakwah berarti demikian, niscaya Nabi Nuh a.s yang diberi usia hingga 950 tahun dalam menggencarkan risalah dakwahnya tidak layak diberi penghargaan. Sebab, dalam kurun waktu yang sangat panjang itu beliau hanya mampu mengajak manusia seisi penumpang kapal laut. Akan tetapi, pada kenyataannya beliau tetap dianggap orang istimewa oleh Allah SWT. Yang tercantum dalam (Q. S 29: 14/71 : 5-28). Islam atau tidaknya seseorang bukanlah kepentingan Allah SWT. Konsekuensi dakwah bisa diterima atau ditolak. Urusan beiman atau tidaknya seseorang itu urusan Allah SWT. Tita tidak dibebani oleh Allah SWT untuk memaksa apalagi mengimankan seluruh manusia.

Tugas kita hanyalah menyampaikan (tabligh; Q.S 10: 99/28: 56/3:20) dan menjadi bukti kedamaian bagi yang lain (syuhada; Q.S 3: 110). Melalui Islam Allah SWT hanya memesankan kehidupan yang damai, tentram, dan penuh kemaslahatan. Hal ini sesuai dengan korelatifitas makna harfiah antara Islam dan rahmat yang berarti damai dan sejahtera.

Dakwah menurut Dr. Khalifa Husein (2001), tidak hanya berorientasi eksternal dalam mengajak umat lain pada kebenaran Islam, tetapi lebih berarti internalisasi perbaikan dan pendewasaan diri dalam tubuh umat Islam sendiri secara spiritual, moral, dan sosial.

Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa, tujuan dakwah adalah:

a)      Dakwah tidak bertujuan mempersatukan umat yang kenyataannya plural dan beragam.

b)      Dakwah bukanlah sebagai sarana unutk memaksakan kehendak.

c)      Dakwah bukan untuk mengislamkan seseorang maupun untuk mempersatukan umat manusia.

d)     Dakwah bukan untuk memperbanyak pengikut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

 

  • Epistemologi Dakwah adalah kajian filosofis terhadap sumber, metode, esensi, dan validitas (kebenaran ilmu) dakwah. Sumber menjelaskan asal-usul ilmu dakwah, sedangkan metode menguraikan bagaimana cara memperoleh ilmu tersebut dari sumbernya, dan validitas dakwah adalah pengetahuan yang diperoleh dari sumbernya melalui metode ilmiah, dan belum bisa disebut sebagai ilmu apabila belum terujI secara ilmiah atau tidak memiliki validitas ilmiah.
  • Ada tiga model sistem berpikir dalam Islam, yakni: bayani, irfani, dan burhani, yang masing-masing mempunyai pandangan yang sangat berbeda tentang pengetahuan.
  1. Epistemologi Bayani

Adalah metode pemikiran khas Arab yang didasarkan atas otoritas teks(nash), secara langsung atau tidak langsung. Secara langsung artinya memahami teks sebagai pengetahuan jadi dan langsung mengaplikasikan tanpa perlu pemikiran; secara tidak langsung berarti memahami teks sebagai pengetahuan mentah sehingga perlu tafsir dan penalaran. Meski demikian, hal ini bukan berarti akal atau rasio bisa bebas menentukan makna dan maksudnya, tetapi tetap harus bersandar pada teks.

  1. Epistemologi Irfani

Pengetahuan irfani tidak didasarkan atas teks seperti bayan, tetapi pada kasyf, terungkapnya rahasia-rahasia realitas oleh Tuhan. Oleh karena itu, pengetahuan irfani tidak diperoleh berdasarkan analisa teks tetapi dengan olah ruhani, dimana dengan kesucian hati, diharapkan Tuhan akan melimpahkan pengetahuan langsung kepadanya. Masuk dalam pikiran, dikonsep kemudian dikemukakan kepada orang lain secara logis. Dengan demikian pengetahuan irfani setdaknya diperoleh melalui tiga tahapan:

ü  Tahap persiapan

ü  Tahap penerimaan

ü  Tahap pengungkapan, dengan lisan atau tulisan

  1. Epistemologi Burhani

Burhani mendasarkan diri pada kekuatan rasio, akal, yang dilakukan lewat dalil-dalil logika.

  • Hakikat dakwah Islam adalah proses internalisasi (pendalaman/ penghayatan), transmisi (pemindahan), difusi (perpindahan), institusionalisasi dan transformasi dinul Islam dalam totalitas kehidupan manusia mukallaf guna mencapai tujuan hidup dunia dan akhirat.
  • Tujuan dakwah adalah:
  1. Dakwah tidak bertujuan mempersatukan umat yang kenyataannya plural dan beragam.
  2. Dakwah bukanlah sebagai sarana unutk memaksakan kehendak.
  3. Dakwah bukan untuk mengislamkan seseorang maupun untuk mempersatukan umat manusia.
  4. Dakwah bukan untuk memperbanyak pengikut.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

v  Syam, Nur. Filsafat Dakwah, Surabaya: Jenggala Pustaka Utama, 2003.

v  Kattsoff, Louis O. Pengantar Filsafat, Jogjakarta: Tiara Wacana, 1992.

http://forum35.wordpress.com/2007/01/03/relevansi-dakwah-dan-toleransi-beragama/

http://jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/6602110.pdf

v  http//epistemologi-dan-ontologi-dakwah


[1] Louis O Kattsoff, Pengantar Filsafat, (Jogjakarta: Tiara Wacana, 1992), hlm 163-231

[2] Dikutip oleh Astrid Susanto, Filsafat Komunikasi, (Bandung: Bina Cipta, 1989), hlm 76

[3] Ibid, Louis O Kattsoff, hlm 177-189

[6] Nur Syam, filsafat dakwah, ((Surabaya:)hlm. 69

[8] http//epistemologi-dan-ontologi-dakwah

psi2j1

This entry was posted in kelas 1 j2, psi 2/j1. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s