Tugas Logica Scientific Dakwah Oleh ISTOFATILLAILI DEVINTA

Nama              : ISTOFATILLAILI DEVINTA

NIM                 : B01210066

Semester          : 2 (dua)

Kelas                : KPI

Mapel              : Ilmu Dakwah

Dosen Pengampu        : Drs. Masduqi Affandi M. Pdi

Pilihan Makalah Logica Scientific Dakwah

 

Scientific adalah suatu pemikiran mengenai cara-cara mendapatkan pengetahuan. Bila disebut dengan epistemology dakwah berarti; cara-cara untuk memperoleh pengetahuan dakwah. cara memperoleh pengetahuan dakwah, supaya dibedakan dengan cara memperoleh pengetahuan agar bisa berdakwah atau cara berdakwah.

Sain atau saintifik memiliki beberapa arti, antara lain : operasi actual intelek manusia, pengetahuan habitual, sains yang diketahui, ilmu pengetahuan, orang yang mencurahkan sains, dan bidang tertentu pengetahuan manusia (Henry van Laer, 1995 : I, 4-6). Dalam konteks ini, sains adalah ilmu pengetahuan, yaitu keseluruhan aktivitas kognitif, baik yang bersifat intelektual maupun indrawi, sebagai sarana bagi manusia untuk bisa memperoleh pengetahuan tentang diri dan dunia disekelilingnya (Henry van Laer, 1995: I, 5). Bandingkan dengan makna ketiga tentang akal yang dirumuskan al-Ghazali (t.t., 85): “ilmu pengetahuan yang didapatkan darieksperimen berbagai kondisi lapangan (‘ulum tustafad min al-tajarrub bi majari al-ahwal)”. Definisi ini memuat pengetahuan indrawi dan pengetahuan intelektual. Apa yang dapat ditangkap oleh pancaindra (penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, dan peraba) disebut  pengetahuan indrawi. Pengetahuan ini saja belum cukup di katakana sains, tanpa membuktikan secara rasional dan logis atau pengetahuan intelektual. Dari definisi ini pula kita dapat mengetahui objek sains, yaitu Manusia (mikro sains) dan alam semesta (makro sains).

Dalam filsafat ilmu, objek sains merupakan bagian kajian ontologism. Ada dua maam objek sains, yaitu objek material dan objek formal. Setiap sains harus melengkapi kedua objek tersebut. Bidang pengetahuan tertentu yang diambil sains untuk diteliti disebut objek material. Manusia, bumi, antariksa, bahasa, agama, dan hokum dapat dijadikan sebagai objek material. Tentu saja kita tidak menyatakan objek material seperti dalam kenyataan, namun objek ini perlu diabstraksikan dahulu. Untuk menjadikan manusia sebagai objek material kita membutuhkan gambaran definitive manusia. Bagaimana sains bisa meneliti bila objeknya belum terluintas gambarannya. Begitu kita telah membuat sebuah abstraksi dari objek material dan kita bisa membedakan dari yang lain, kita dituntut untuk lebih memfokuskan pada bagian tertentu dari objek material. Okus pada bagian tertentu ini dinamakan objek formal.

Ilmu dakwah, harap dibedakan dengan ilmu berdakwah. Jika yang kita maksudkan adalah ilmu dakwah, ia merupakan proposisi atau teori tentang dakwah yang diangkat dari fakta dakwah melalui proses penelitian empiris. Sedangkan ilmu berdakwah, berkaitan dengan suatu keahlian da’i menyampaikan pesan dakwah kepada mad’u.

Yang kita bicarakan dalam perkuliahan ini adalah Logika Scientific Dakwah, Epistemologi Dakwah, dan Ilmu Pengetahuan Dakwah, tidak membicarakan bagaimana berdakwah. Hanya ketika kita menuju logika scientific dakwah, atau epistemology dakwah, atau ilmu dakwah; kita berhadapan dengan persoalan-persoalan pengetahuan. Menurut Aristoteles (384-322 SM), setiap orang mempunyai keinginan untuk tahu. Dalam hal ingin tahu ini, Aristoteles banyak membuat pernyataan, sekalipun banyak pernyataan Aristoteles yang dapat dijadikan rujukan oleh para ilmuwan sampai sekarang, namun juga banyak pernyataan Aristoteles yang terbukti tidak benar. Seperti bumi datar, matahari mengitari bumi, hukum benda-benda jatuh, jumlah gigi laki-laki dan jumlah gigi perempuan, serta hukum gerak peluru.

Mengenai substansi, apa pun yang kita bahas; ada tiga komponen di bawah yang kita bahas. yakni; kesatuan, kebertentuan, dan otonomi.Kesatuan; implisit di dalamnya ada keragamaan, kebertentuan menunjuk pada jelas dan beda (clear and disting), dan otonomi menunjukkan kemandirian. Apa yang dimaksud dengan kesatuan da’I, adalah da’I harus memiliki banyak keahlian dan pengetahuan agama yang tinggi, luas, dan mendalam. Kebertentuan da’I; bahwa da’I itu jelas dan bukan guru, da’I itu jelas dan bukan polisi, da’I itu jelas dan bukan hakim, da’I itu jelas dan bukan dokter, dan dia otonom, dia murni berdakwah. Kesatuan pesan dakwah; berarti pesan dakwah itu harus mengenai sesuatu yang popular, baru, dekat dengan kebutuhan mad’u, kognitif, emotif, bersifat sentimentil, propokatif, agitatif, atau persuasive. Dan pesan dakwah itu bertentu; ia pesan dakwah bukan pesan pendidikan, atau pesan pengadilan, atau pesan kepolosian, atau pesan kedokteran. Dan pesan dakwah itu otonom, ia mandiri, pesan itu berhubungan dengan amar ma’ruf nahi munkar yang konsekuensinya diterima kelak sesudah mati.

Tujuan logika Scientifik , demikian Maritain, bukanlah menjawab pertanyaan apakah saya dapat tahu, tetapi untuk merumuskan syarat-syarat yang memungkinkan saya dapat tahu, jangkauan dan batas-batas pengetahuan saya. Dalam Logica scientific tidak ada rumusan yang jelas tentang kebenaran dakwah. Pengalaman menyaksikan aktifitas dakwah dianggap bukan masalah yang benar dan salah dalam menyaksikan dakwah atau benar dan salahnya berdakwah. Nilai kebenaran pertimbangan mengenai pernyataan dakwah tidak melulu mempersoalkan penerapan konsep indrawi, memperlakukan ide, pertimbangan dan penalaran yang bersifat kognitif saja, tetapi dari dakwah memang benar-benar menyinarkan arti dan menghangatkan nilai.

Demikian pula da’I, pesan dakwah, dan mad’u; masing-masing memiliki substansi, yang berarti memiliki kesatuan, kebertentuan, dan otonomi. Dan spesialisasi (jurusan) dakwah yang paling mungkin adalah da’I, mad’u dan pesan dakwah; sosiologi kumunikasi, psikologi, manajemen hanya merupakan pelengkap saja dalam kita mempelajari dakwah.

Kekeliruan dalam menyampaikan dakwah terjadi bukan karena kegagalan melihat datum dakwah, tetapi mengira tahu datum dakwah yang tidak diketahuinya dan mengira tidak tahu datum dakwah yang diketahuinya. Bila kita disiplin didalam memberikan persetujuan hanya kepada hal-hal yang pasti dalam evidensi dakwah, kita tidak akan membuat kekeliruan. Dihadapam evidensi dakwah ini kita bertanya; apakah mungkin ada alas an yang meragukan kebenaran, sehingga keadaan dakwah yang senyatanya merupakan kebalikan dari yang saya nyatakan mengenai dakwah. Unsur-unsur yang berpengaruh terhadap munculnya kekeliruan itu adalah; kecurigaan, keangkuhan, kehendak diri, kelelahan, keras kepala, ketergesaan, emosi, illusi, halusinasi, dan seterusnya.

Yang dimaksud dengan analistis dakwah adalah suatu gejala dimana terdapat dua orang atau lebih yang salah satu atau sebagian diantaranya mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari perbuatan mungjkar, dan dalam perspektif ini berarti objek material kedakwahan adalah manusia, sedangkanobjek formalnya adalah manusia ditinjau dari tingkah lakunya dalam mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari perbuatan mungkar.

Tujuan dakwah dikatakan sebagai terciptanya kebahagiaan duni akhirat, yakni mengajak manusia berjalan diatas jalan Allah, mengambil jalan Allah sebagai jalan hidupnya[1], untuk memperbaiki akhlaq[2]. Bilamana dakwah dalam prespektif pelaksanaan atau aplikasi beberapa tujuan itu sepenuhnya dapat diterima, tetapi jika yang dimaksudkan adalah keilmuan dakwah, maka harus dibandingkan dengan Jujun S. Suriasumantri[3], yang mengatakan bahwa tujuan ilmu adalah memahami menjelaskan atau menerangkan, lalu meramalkan dengam demikian, dengan ilmu kita dapat mengontrol atau memaipulasi gejala.

Karena manusia sebagai objek kajian keilmuan dakwah baik statusnya sebagai penyampaian pesan (da’i) maupun sebagai penerima pesan (mad’uw), maka ilmu dakwah (dakwahtologi : istilah pertama yang penulis gunakan untuk menunjuk pada analisis tertentu dalam disiplin ilmu-ilmu social), dapat menggunakan pendekatan sosiologis sebagai analisisnya. Analisis dakwahtologi bukan analisis “shar’I” yang mengedepankan “batal-haram” atau analisis “theologies” yang mengedepankan “kafis-shirk”, tetapi analis dakwahtologis adalah seperti analisis sosiologis yang mengedepankan struktualisme fungsional, konflik, simbolis atau analisis-analisis historis dan cultural yang mengedepankan perilaku amr al-ma’ruf nahy al munkar, baik dalam perspektif mau mengikuti ataupun menolaknya. Amar ma’ruf nahi munkar merupakan kewajiban bagi  setiap muslim sekaligus sebagai identitas orang mukmin. Pelaksanaanya diutamakan kepada orang-orang terdekat sesuai dengan kemampuannya Orang yang meninggalkan perintah ini dipandang berdosa bahkan diancam dengan laknat dan siksa di dunia dan di akhirat (al Ghazali, t.t.: II: 303). Aksi amar ma’ruf nahi mungkar muhammadiyah diwujudkan dengan perjuangan dengan cara damai yang kerap disebut dakwah. Berbeda dengan syi’ah yang memahami dan mewujudkan amar ma’ruf nahi mungkar dengan jihad yang kerap dilaksanakan dengan peperangan bersenjata (M. Dawam Rahardjo,2002 : 623). Sebagaimana Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU) menempatkan amar ma’ruf nahi munkar dibagian usaha dibidang agama dalam pasal 7 AD/ART yang dirumuskan pada muktamar NU ke-28 di Yogyakarta. Rumusan tersebut adalah “Dibidang agama, mengusahakan terlaksananya ajaran Islam menurut paham Ahlusunnah wal jama’ah dalam masyarakat dengan melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar serta meningkatkan ukhwah islamiyah” (PBNU, 1989 : 74).

Salah satu tujuan terbesar dari pelaksanaan dakwah adalah terbentuknya sebuah (tatanan) masyarakat yang menjalankan shari’at Islam secara penuh dan konsekuen dalam segala aspek hidup dan kehidupan. Pencapaian tujuan tersebut menjadi lebih “mengena dan terarah”. Manakala setiap da’I ataupun pelaksana dakwah dalam menjalankan aktivitas dakwahnya memiliki seperangkat strategi yang mumpuni. Dari sekian strategi yang dirasa mumpuni tersebut, strategi komunikasilah yang dapat dimanfaatkan dan dijadikan sebagai strategi penunjang alternative dalam menyampaikan pesan-pesan dakwah kepada masyarakat (objek dakwah). Penetapan strategi komunikasi itu lebih didasarkan pada kenyataan dasariah dakwah sendiri yang dapat dikategorikan sebagai aktifitas komunikasi. Semakin mumpuni dan terarah strategi yang digunakan, semakin efektiflah pelaksanaan dan penerimaan dakwah oleh umat. Pemanfaatan dan pendayagunaan strategi komunikasi sebagai penunjang aktifitas dakwah secara subtantif sebenarnya tak dapat dipisahkan dengan perencanaan dakwah. Artinya perlu perencanaan yang matang sebelum dan akan menjalankan strategi itu. Pendekatan Manajement by Objectives merupakan sebuah pendekatan dalam merancang sebuah perencanaan strategi dakwah yang “gress”. Dengan demikian, harapan membuat perencanaan yang matang, aplikabel dan prospektif akan menjadikan aktifitas dakwah semakin menjadi lebih hidup dan terfokus.

 


[1] A. Hasymy, Dustur Dakwah Menurut Al-Qur’an (Jakarta: Bulan Bintang 1994)

[2] Syafa’at Habib, buku pedoman dakwah (kajarta : Wiajaya, 1982)

[3] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer (Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 1996)

This entry was posted in 2/ kpi-B, Kpi 2/B. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s