Tuhan Allah itu ada

Muhammad Antoso(B07210076)Fatimatuz Zahro(B07210072)Kurnia Nuraini(B07210069)Ni’matul Qulub(B07210070)

PEMBAHASAN

Tuhan Allah itu ada

At tauhid atau pengEsaan Allah bagi mu’tazilah berarti bahwa harus disucikan dari segala sesuatu yang mengurangi kemahaesaannya. Allah Tuhan yang satu dan tidak ada yang bisa menyamainya. Tuhan itu immateri, tidak tersusun dari unsur, tidak terikat oleh ruang dan waktu, dan tidak berbentuk. Adapun yang dapat dilihat hanyalah yang berbentuk dan memiliki ruang. Andai Tuhan dapat dilihat dengan mata kepala di akhirat, tentu di dunia dapat dilihat dengan mata kepala.

Keesaan Tuhan itu mutlak. Ia bereksistensi dengan sendiri-Nya. Maksudnya, Tuhan bereksistensi dengan sendirinya sebelum ada ruang dan waktu. Ruang dan waktu diciptakan oleh Tuhan. Tuhan tidak membutuhkan sesuatu, tidak dibatasi oleh ciptaan-Nya, dan Tuhan tidak dapat dilihat. Kita hanya bisa mempercayai dan meyakini.

Al-asyari berpendapat bahwa Allah dapat dilihat di akhirat, tetapi tidak dapat digambarkan. Kemungkinan ru’yat atau melihat Allah dapat terjadi jika Allah sendiri yang menyebabkan dapat dilihat atau bilamana Ia menciptakan kemampuan penglihatan manusia untuk melihat-Nya.

Al-maturidi mengatakan bahwa manusia itu dapat melihat Tuhan, seperti firman Allah dalam surat Al-Qiyamah 22-23. Mereka juga mengatakan bahwa kelak Tuhan dapat dilihat dengan mata, karena Tuhan mempunyai wujud walaupun Ia immaterial.

 

 

Bukti bahwa Allah atau Tuhan itu ada.

Di dalam Al-Quran disebutkan sebagai berikut.

 

“dan tak ada Tuhan selain Allah” (Ali Imran:62)

 

”dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan selain Dia” (Al-Baqarah:163)

 

Menurut akal (dalil Aqly):

Sebenarnya menurut akal yang sehat dan normal, tidak terlalu sulit untuk membuktikan bahwa Allah itu ada. Hanya saja jika kita sengaja berputar-putar, maka memerlukan keterangan untuk membuktikan bahwa Tuhan itu ada.

 

Keterangan I

Jika kita memperhatikan, di sekeliling kita banyak sekali barang-barang seperti buku, kursi, meja, lemari, dan yang lainnya. Semua itu tentu ada yang membuat. Ada tukang kayu dan pabrik yang membuatnya. Meskipun kita tidak melihatnya dan tidak tahu bagaimana cara membuatnya. Juga ada bangunan-bangunan tinggi, elektronik, semua itu tidak terbentuk dengan sendirinya.

Apabila ada orang yang mengatakan bahwa semua barang itu terjadi dengan sendirinya, tentu akal manusia itu tidak sehat. Begitu pula dengan dunia ini. Planet, matahari, makhluk hidup, bintang, semua itu ada pasti karena ada sebabnya. Dari ada menjadi tidak ada, dari tidak ada menjadi ada.

Keadaan juga bisa berubah, misalnya pertumbuhan manusia, hewan, dan tumbuhan. Dari kecil menjadi besar, dari pendek jadi panjang, dari panas jadi dingin, dari kayu jadi kursi, semua itu pasti ada sebab musababnya. Kita memang tidak melihat siapa dan bagaimana membuatnya, sama halnya dengan barang-barang seperti buku dan lainnya, bukankah kita tidak melihatnya juga?.

Dengan penglihatan kasar memang terlihat bahwa manusia dan binatang itu hasil dari orangtuanya. Andaikata betul demikian, tentu akan sampai pada seorang bapak yang tidak beribu-bapak dan ibu yang tiada beribu-bapak pula. Maka bagaimana orang itu dapat berujud jika tidak ada yang menciptakan?. Jika betul anak itu hanya buatan orangtua, lantas kenapa tidak selalu seperti yang diinginkan? Misal ingin anak perempuan, ternyata yang keluar adalah anak lelaki, demikian seterusnya.

Dari sini kita dapat berpikir, semua itu pasti ada yang mengatr. Tuhan Allah itulah yang mengatur sekaligus menciptakan semua yang ada di dunia ini. Apabila kita mengatakan semua itu terjadi dengan sendirinya, tentu itu mustahil. Jika tidak ada yang membuat, bagaimana mungkin dunia dan seisinya ini ada?. Jadi jelaslah bahwa Allah itu ada.

 

Keterangan II

Keterangan ini kami ambil dari ”Kitab Petunjuk Pendidikan Budi Pekerti” yang diterbitkan oleh kementrian pendidikan, pengajaran dan kebudayaan, jawatan pendidikan masyarakat tahun 1950.

Suatu aksioma dalam ilmu filsafat ialah bahwa otak manusia biasanya bekerja dengan benar. Ia sanggup berpikir untuk mencapai kebenaran. Dan otak manusia umumnya berpendapat bahwa Tuhan Yang Maha Esa itu ada.

Kompas menunjuk ke  arah utara, berarti kompas itu bekerja dengan benar. Air mengalir ke arah tempat yang lebih rendah, berarti air itu bekerja dengan benar. Begitu pula pada otak manusia, pada umumnya bekerja dengan benar sebagaimana air dan kompas. Ia berpikir kemudian memutuskan bahwa Tuhan itu ada.

Jalan bekerjanya otak misalnya:

  • Bola bumi kita ini dahulu tidak memungkinkan didiami makhluk hidup karena permukaannya sangat panas. Sekarang permukaan bumi ini penuh dengan makhluk hidup. Darimana datangnya makhluk hidup itu? Bisakah sesuatu yang semula tidak ada menjelma diri menjafdi ada? Maka kemudian otak manusia berpikir, tentu ada sesuatu yang menyebabkan adanya makhluk hidup di bumi ini, ialah Tuhan.
  • Bumi dan seluruh planet di galaksi kita berputar sesuai porosnya dan mengelilingi matahari. Begitu pula bintang- bintang di angkasa, menunjukkan adanya peraturan yang tetap dan mengagumkan. Jika kita berpikir, bisakah benda-benda mati tersebut mengatur dirinya sendiri?. Otak manusia menjawab tentu ada yang mengatur sedemikian rupa, ialah Tuhan yang mengatur.

 

Bukti-bukti keEsaan Allah

Beberapa orang menuntut bukti wujud dan keEsaan Tuhan dengan pembuktian material. Dalam kisah nabi Musa a.s. pernah diceritakan bahwa beliau memohon kepada Allah agar menampakkan diri-Nya kepadanya, kemudian Tuhan berfirman:

”’engkau sekali-kali tidak akan dapat melihat-Ku. Tetapi lihatlah ke bukit itu, jika ia tetap di tempatnya (seperti keadaannya semula), niscaya kamu dapat melihat-Ku’. Tatkala Tuhannya tampak bagi gunung itu, kejadian tersebut menjadikan gunung itu hancur luluh dan Musa a.s. pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata,’Maha suci Engkau, aku bertobat kepada-Mu, dan orang yang pertama (dari kelompok) orang beriman’”(QS Al-A’raf[7]:143).

Peristiwa ini membuktikan bahwa manusa agung sekalipun tidak bisa melihat Allah, apalagi kita sebagai manusia biasa. Agaknya kenyataan sehari-hari menunjukkan bahwa kita dapat merasakan sesuatu tanpa harus melihatnya. Contohnya angin, kita hanya bisa merasakan tnpa pernah tahu bagaimana bentuk dan warnanya. Begitu juga dengan Tuhan. Kita hanya bisa meyakini dan mempercayainya tanpa bisa melihat-Nya.

Dahulu dikenal apa yang dinamai bukti ontologi, kosmologi, dan teologi. Bukti ontologi menggambarkan bahwa kita mempunyai ide tentang Tuhan dan tidak dapat membayangkan adanya sesuatu yang lebih berkuasa dari-Nya. Bukti kosmologi berdasar pad ide sebab dan akibat yakni, tidak mungkin terjadi sesuatu tanpa ada penyebabnya, dan penyebab terakhir pastilah Tuhan. Bukti teologi berdasar pada keseragaman dan keserasian alam, yang tidak dpat terjadi tanpa ada suatu kekuatan yang mengatur keserasian itu.

Dalam Al-Quran juga banyak bukti tentang ke-Esaan Allah. Secara umum kita dapat membagi bukti-bukti tersebut dengan 3 bagian pokok. Yaitu:

  1. Kenyataan wujud yang tampak

Dalam konteks ini Al-Quran menggunakan seluruh wujud sebagai bukti. Khususnya keberadaan alam raya ini dengan segala isinya. Berkali-kali manusia diperintahkan untuk berpikir dan berjalan di permukaan bumi guna melihat betapa alam raya ini tidak mungkin terwujud tanpa ada yang mewujudkannya. Dalm Al-Quran disebutkan:

”tidakkah mereka melihat kepada unta bagimana ia diciptakan, dan ke langit bagaimana ia ditinggikan, ke gunung bagaimana ia ditancapkan, serta ke bumi bagaimana ia dihamparkan?”(QS Al-Ghasyyiyah[88]:17-20).

Ada juga yang mengemukakan tentang keindahan alam raya:

”tidakkah mereka melihat ke langit di atas mereka, bagaimana kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun? Dan kami hamparkan bumi serta kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh, dan kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata”(QS Qaf[50]:6-7).

  1. Rasa yang terdapat dalm jiwa manusia

Tabiat manusia selalu sama, yakni memiliki naluri mengharap, cemas, dan takut. Pada saat cemas dan takut itulah biasanya manusia mengharap pertolongan dari Tuhan, karena mereka tahu tak ada makhluk yang bisa menolongnya dan hanya Tuhan yang bisa menolong. Al-Quran sering mengingatkan manusia:

”katakanlah (hai Muhammad kepada yang mempersekutukan Tuhan), ’jelaskanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu, atau datang hari kiamat, apakah kamu menyeru Tuhan selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar?’ tidak! Tetapi hanya kepada-Nya kamu bermohon, maka dia menyisihkan bahaya yang karenanya kamu berdoa kepada-Nya, jika Dia menghendaki, dan kamu tinggalkan sembahan-sembahan yang kamu sekutukan (dengan Allah)” (QS Al-An’am[6]:40-41).

  1. Dalil-dalil logika

Ayat-ayat yang menguraikan dalil tentang ke-Esaan Allah. Misalnya:

”bagaimana Dia mempunyai anak, padahal Dia tidak punyaistri. Dia yang menciptakan segala sesuatu, dan Dia mengetahui segala sesuatu”(QS Al-An’am[6]:10).

“seandainya pada keduanya (langit dan bumi) ada Tuhan-Tuhan selain Allah, maka pastilah keduanya binasa” (QS Al-Anbiya’[21]:22).

Dari ayat di atas kita dapat menyimpulkan jika seandainya ada lebihdari satu pencipta, maka akan kacau ciptaannya. Karena masing-masing Pencipta menghendaki sesuatu yang tidak dikehendaki oleh yang lain. Maka kalau keduanya berkuasa, pasti ciptaan tidak akan terwujud. Kalau salah satu mengalah, maka yang kalah bukanlah Tuhan. Dan apabila mereka berdua bersepakat, maka itu merupakan bukti kebutuhan dan kelemahan mereka, sehingga keduanya bukan Tuhan karena Tuhan tidak mungkin membutuhkan sesuatu atau lemah atas sesuatu.

Di samping mengemukakan dalil di atas, Al-Quran juga mengajak mereka yang mempersekutukan Tuhan untuk memaparkan alasan mereka.

“apakah mereka mengambil Tuhan-Tuhan selain-Nya? Katakanlah,’kemukakan bukti kalian!’”(QS Al-Anbiya’[21]:24).

”katakanlah (muhammad), ’jelaskanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah, perlihatkan kepadaku apa yang telah mereka ciptkan dari bumi, atau adakah peran mereka dalam (penciptaan) langit?. Bawalah kepadaku kitab yang sebelum (Al-Quran) ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang terdahulu), jika kamu orang yang benar’” (QS Al-Ahqaf[46]:4).

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Rozak, Abdul, Ilmu Kalam, cv pustaka setia, bandung, 2007

Zarkasyi, Imam, ushuluddin, trimurti press, ponorogo, 1994

http://www.gagakmas.org/qolbu/?postid=227

 

Hormat kami,
Imma

This entry was posted in 1 j1. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s