kelompok takdir kelas 1i

PENGERTIAN TAKDIR MENURUT FILOSOF DAN ILMUWAN Makalah Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Ilmu Kalam Dosen: Drs. Masduqi Affandi, M.Pd.I

Disusun Oleh :

· Ihya Ulumuddin B07210030

· Nisaul Azizah B07210038

· Safiul Ibad B07210040

· Choirun Nazir B07210042

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS DAKWAH SURABAYA 2010-2011

KATA PENGANTAR Bismillahirrohmanirrohim Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT. yang telah melimpahkan taufik dan rahmat serta hidayah-Nya, yang telah memberikan kekuatan kepada kami, sehingga tersusunlah sebuah makalah ini, meskipun dalam bentuk yang sederhana. Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Hal ini dikarenakan keterbatasan pengetahuan dan pengalaman yang kami miliki. Oleh karena itu dengan rasa kesadaran akan perlunya persatuan dan kesatuan dalam memacu ilmu yang bermanfaat, kami selalu bersedia menerima kritikan dan saran yang bersifat membangun dari pembaca guna kesempurnaan penulisan makalah ini. Dalam makalah ini, kami telah banyak mendapat sumbangan pikiran dari berbagai pihak, baik dari sahabat dan teman-teman seangkatan. Dengan ini kami sampaikan terima kasih yang tak terhingga besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dengan segala keikhlasan nya, sehingga makalah ini bisa selesai dengan baik, meskipun masih banyak kekurangan dan kesalahan. Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat baik bagi diri saya sendiri maupun bagi teman-teman semuanya. Amien…. Dan segala bantuan serta sumbangan dari berbagai pihak kami sampaikan rasa terima kasih, semoga Allah SWT. selalu mencurahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Amien ya robbal ‘alamin. Surabaya,15 Oktober 2010 Penulis DAFTAR ISI Kata Pengantar i Daftar Isi ii Bab I : Pendahuluan 1 A: Latar Belakang 1 B: Rumusan Msalah 1 Bab II : Pembahasan 2 1 : Pengertian Umum Takdir dan Waktu 2 2 : Pendapat Tentang Waktu 3 3 :Penjelasan Takdir ……………………………………………………………….. 6 Bab III : Penutup 9 Kesimpulan 9 Daftar Pustaka 10 BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Takdir dan waktu ialah dua hal yang sering disandingkan sebagai satu kesatuan dimana adanya takdir dikarenakan adanya waktu. Namun adapula mengatakan takdir dan waktu sebagai satu kesatuan. Waktu adalah istilah lain dari takdir. Sebagai manusia beriman percaya akan takdir merupakan hal yang wajib. Akan tetapi ada pula manusia yang menggunakan akal mereka guna menjelaskan apa itu waktu dan takdir.baik para filosof maupun para ilmuwan mengeluarkan beberapa teori mengena waktu dan takdir. Dari teori filsafat yang mengatakan waktu kekal sampai dengan relatifitas waktu. Berdasarkan uraian diatas makamakalah ini dibatasi dari juduk “takdir meburut filsafat dan ilmuwan.dengan rumusan masalah sebagai berikut. RUMUSAN MASALAH Ω Apa penertian umum tentang waktu dan takdir? Ω Bagaimana takdir menurut filosof dan imuwan? BAB II PEMBAHASAN Pengertian takdir dan waktu Takdir merupakan rukun iman yang keenam. Takdir merupakan hal yang paling berhubungan dengan kehidupan manusia. Banyak kalangan yang mencoba menerangkan arti ataupun maksud dari takdir itu sendiri. Sebelum melangkah pada inti pembahasan takdir sebaiknya mengetahui arti dari takdir itu sendiri. Saat mendengar kata takdir ada banyak hal yang akan terbayang dalam pikiran.banyak pendapat yang mengatakan bahwa takdir merupakn ketetapan Allah atau kejadian dimasa yang akan datang. Tapi lebih banyak orang mengatakan bahwa takdir itu sama dengan waktu. Selama ini banyak orang yang menyamakan waktu dengan takdir.padahal hal itu salah sebab jika dilihat dari arti umunya waktu dan takdir sama sekali berbeda.berikut ini pengertian umum dari keduanya, Takdir adalah ketentuan suatu peristiwa yang terjadi di alam raya ini yang meliputi semua sisi kejadiannya baik itu mengenai kadar atau ukurannya, tempatnya maupun waktunya. Dengan demikian segala sesuatu yang terjadi tentu ada takdirnya, termasuk manusia Waktu adalah seluruh rangkaian saat proses, perbuatan atau keadaan berada atau berlangsung. Dalam hal ini, skala waktu merupakan interval antara dua buah keadaan/kejadian, atau bisa nerupakan lama berlangsungnya suatu kejadian. Menurut pengertian diatas bahwa takdir dan waktu memiliki hubungan yang erat seperti ‘pintu dan ruangan’. Guna mempermudah memahami tentang takdir, kami akan menjelaskan tentang waktu. Pendapat tentang waktu seperti yang diuraikan diatas. Bahwasanya untuk bisa memahami takdir ada baiknya kita mengetahui pndapat para filosof dan ilmuwan tentang waktu. Sebab waktu merupakan ‘pintu’ utma dalam pemahaman takdir. pendapat filosof Menurut salah satu aliran dalam filsafat yakni, materealisme mengatakan bahwa waktu adalah mutlak dan kekal. Maksudnya waktu akan selalu ada atau dapat dikatakan ‘selalu ada hari esok setelah hari ini’. Waktu hanya sesuatu pencerapan .waktu bisa pula dikatakan sebagai suatu metode pembandingan satu momen dengan yang lain. Kami bisa menjelaskan hal ini dengan contoh. Contohnya, ketika seseorang mengetuk suatu obyek, ia mendengar suara tertentu. Ketika ia mengetuk obyek yang sama lima menit kemudian, ia mendengar suara lain. Orang itu mencerap jarak waktu antara suara pertama dan suara kedua, dan ia menyebut interval ini “waktu”. Tetapi pada saat ia mendengar suara kedua, suara pertama yang ia dengar tidak lebih dari imajinasi dalam benaknya. Ini hanya sepotong informasi dalam ingatannya. Orang itu merumuskan konsep “waktu” dengan membandingkan saat ia hidup dengan yang ia miliki dalam ingatannya. Jika pembandingan ini tidak dibuat, tidak mungkin ada konsep waktu. Dapat dikatakan waktu merupakan pembandingan yang dibuat oleh memori/kenangan yang tersimpan dalam otak. Jika dalam otaknya tak ada ingatan, maka tidak ada penafsiran dan konsep waktu tidak akan ada. Penjelasan ilmiah Kami akan coba menerangngkan pokok bahasan tentang pendapat ilmuwan tentang waktu dengan mengutip berbagai penjelasan ilmuwan diantaranya: Newton. Ia mengatakan bahwa waktu bersifat mutlak dan matematis waktu hanya bisa bergerak kedepan dan belakang atau dapat dikatakan mengalir(duration) tanpa dipengarui oleh apapun. Waktu dapat pula bersifat nisbih jika disangkutkan dengan duration. Waktu bersifat mutlak dan matematis menurut Newton , dikarenakan waktu tidak akan dapat dipengrui oleh hal apapun dari luar dirinya. Sedangkan waktu yang bersifat nisbih atau semu adalah ukuran yang dapat diindra serta yang berasal dari luar dirinya. François Jacob, profesor genetika peraih Nobel mengatakan bahwa waktu yang mengalir ke belakang. Hal diungkapakan dalam dalam bukunya Le Jeu des Possibles (Yang Mungkin dan Yang Nyata) berikut ini: Film yang diputar balik memungkinkan kita untuk membayangkan suatu dunia yang waktunya mengalir ke belakang. Suatu dunia dengan susu yang memisahkan diri sendiri dari kopi dan meloncat keluar dari mangkok untuk mencapai wadah susu; suatu dunia yang sinar-sinar terang terpancar dari dinding untuk terkumpul dalam sebuah perangkap (pusat gravitasi), tidak lagi memancar keluar dari sumber cahaya; suatu dunia yang sebuah batu meluncur ke telapak tangan seseorang bersama dengan tetesan air yang tak terhitung yang memungkinkan batu meloncat dari air. Tetapi, di dunia sedemikian rupa yang waktunya mempunyai sifat yang bertolak-belakang, proses otak kita, dan cara otak kita mengumpulkan informasi, berjalan ke belakang pula. Hal ini berlaku untuk masa lalu dan masa mendatang dan dunia akan tampak di depan kita tepat seperti yang baru saja tampak. Dari penjelasan diatas sudah jelas bahwa waktu dikatakan mengalir kebelakang dikarenakan kita mengingat. Menurut François Jacob bahwa kita tidak tahu apakah waktu mengalir kedepan atau kebelakang, bahkan kita tak tahu bahwa waktu mengalir: Albert Einstein merupakan ilmuwan terpenting abad ke 20. ia mengemukakan Albert Einstein merupakan ilmuwan terpenting abad ke 20. Bersama-sama dengan kemutlakan ruang, Einsten membuang konsep kemutlakan waktu-mengenai aliran waktu semesta yang tetap, itu-itu saja, tidak bisa ditawar-tawar, yang mengalir dari masa lalu yang tak terbatas ke masa depan yang tak terbatas. Sebagian besar kekaburan yang melingkupi Teori Relativitas berasal dari keengganan manusia untuk mengakui bahwa rasa waktu, seperti rasa warna, merupakan bentuk cerapan. Tepat seperti ruang yang mungkin hanya tatanan obyek materi, waktu pun mungkin hanya tatanan peristiwa. Subyektivitas waktu itu dijelaskan dengan sebaik-baiknya dengan kata-kata Einsten sendiri. “Pengalaman individu,” katanya, “tampak pada kita tertata dalam serangkaian peristiwa; dalam rangkaian ini, peristiwa tunggal yang kita ingat [menjadi] tampak tertata menurut kriteria “terdahulu” dan “terkemudian”. Karena itu, ada waktu bagi individu, waktu-saya, atau waktu subyektif. Hal ini dengan sendirinya tidak bisa terukur. Sesungguhnya saya bisa mengasosiasikan angka-angka dengan peristiwa-peristiwa, dengan cara sedemikian rupa sehingga angka yang lebih besar lebih diasosiasikan dengan peristiwa terkemudian daripada dengan yang terdahulu Menurut Einstein “ruang dan waktu merupakan bentuk intuisi, yang tidak bisa dipisahkan dari kesadaran lebih daripada yang bisa [dipisahkan dari] konsep warna, bentuk atau ukuran.” Menurut Teori Relativitas Umum: “waktu tidak mempunyai keberadaan yang bebas terpisah dari tatanan peristiwa yang dengannya kita mengukurnya.” · Karena terdiri dari cerapan, waktu tergantung sepenuhnya pada pencerapnya dan karena itu bersifat relatif. · Kecepatan pengaliran waktu berbeda menurut acuan yang kita gunakan untuk mengukurnya karena tidak ada jam alamiah dalam tubuh manusia untuk menunjukkan dengan tepat seberapa cepat waktu melintas. “Tepat seperti hal-hal semacam warna yang tidak ada tanpa pencerapan oleh mata, seketika atau sejam atau sehari pun tidak ada tanpa penandaan oleh peristiwa.” Menurut Einstein waktu bersifat relative karena waktu tidak memiliki acuan yang mutlak. Selain itu tiap orang merasakan lama waktu berbeda-beda. 3. Penjelasan takdir Relativitas waktu ini mejernihkan masalah yang sangat penting. Relativitas begitu berubah-ubah sehingga suatu periode yang tampaknya berdurasi milyaran tahun bagi kita mungkin berlangsung hanya beberapa detik dalam perspektif lain. Lagipula, suatu periode waktu yang sangat lama yang membentang dari permulaan dunia sampai akhir dunia mungkin tidak berlangsung walau sedetik saja di dimensi lain. Inilah intisari konsep takdir-suatu konsep yang tidak dipahami dengan baik oleh kebanyakan orang, khususnya para materialis yang sepenuhnya menolak [konsep] ini. Takdir ialah pengetahuan Allah yang sempurna tentang semua peristiwa masa lalu atau pun masa datang. Kebanyakan orang mempertanyakan bagaimana Allah telah mengetahui peristiwa-peristiwa yang belum dialami dan menyebabkan mereka gagal dalam memahami keotentikan takdir. Bagaimanapun, “peristiwa yang belum dialami” hanya demikian bagi kita. Allah tidak dibatasi oleh waktu atau pun ruang karena Ia sendiri yang menciptakannya. Karena alasan ini, masa lalu, masa datang, dan masa sekarang semuanya sama bagi Allah; bagi-Nya segala sesuatu telah terjadi dan berakhir. Teori Relativitas Umum sampai pada kesimpulan ini. Menurut Barnett, alam semesta dapat “tercakup dengan seluruh kemegahannya hanya oleh intelek kosmik”. Kehendak yang oleh Barnett disebut “intelek kosmik” merupakan bijaksanaan dan pengetahuan Allah, yang berlaku bagi segenap alam. Sama sebagaimana kita dapat dengan mudah melihat pangkal, tengah, dan ujung penggaris, dan semua satuan di antara [pangkal-ujung] sebagai satu keutuhan, Allah mengetahui waktu yang kita patuhi seolah-olah waktu merupakan satu peristiwa mulai dari awal hingga akhir. Akan tetapi, manusia mengalami insiden hanya ketika waktu mereka sampai, dan mereka menyaksikan takdir yang telah Alah ciptakan bagi mereka. Penjelasan relativitas umum membuatat para materealis dan sebagian ilmuan khawatir.hal ini disebabkan mereka tak percaya tentang adanya ‘sesuatu’ yang mengatur alam semesta ini.mereka hanya menganggap bahwa material dan waktu merupakan hal yang mutlak. Waktu dan material juga adalah ‘pencipta’. Penjelasan sederhana ini kata dapat mengatakan bahwa baik filosof maupun ilmuwan tak percaya adanya takdir yang sudah diatur oleh tuhan. Sebab apa mereka bahkan tak percaya bahwa sumber takdir yaitu tuhan itu ada. Ilmuwan dan filosof bukanya tidak percaya adanya takdir atau kejadian yang yang ada didunia yang sudah ditentukan. Tapi para ilmuwan dan filosof lebih menekankan bahwa sesuatu didunia ini bukan digerakan oleh takdir melainkan oleh hukum sebab akibat. Contoh Jika saya menjatuhkan selembar kertas, biasanya ia akan jatuh begitu saja ke lantai, karena hukum-hukum gravitasi. Ilmuwan dan para filosof juga percaya bahwa kejadian yang akan datang bisa diketahui jika bisa melihat semua gaya ,posisi, gerak benda di alam. Dan mengolah data tersebut maka seseorang dapat memeperkirakn apa yang terjadi di masa yang akan datang. contohnya dengan mengamati temperature,kelembapan, pergerakan angin dan awan. Seseorang dapat memperkirakan akan datangnya hujan. Dengan penjelasan diatas terungkap bahwa ilmuwan dan filosof tidak percaya adanya takdir. Tapi mereka percaya adanya hukum sebab akibat sebagai gantinya meskipun kedua hal ini mirip dan memiliki hubungan yang erat. Tapi, perbedaan yang mendasar dari keduanya jika takdir adalah berasal dari Allah. Maka hukum sebab akibat bersal dari alam itu sendiri. BAB III PENUTUP Kesimpulan 1. Takdir adalah ketentuan suatu peristiwa yang terjadi di alam raya ini yang meliputi semua sisi kejadiannya baik itu mengenai kadar atau ukurannya, tempatnya maupun waktunya. Dengan demikian segala sesuatu yang terjadi tentu ada takdirnya, termasuk manusia. Waktu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) adalah seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan atau keadaan berada atau berlangsung. Dalam hal ini, skala waktu merupakan interval antara dua buah keadaan/kejadian, atau bisa merupakan lama berlangsungnya suatu kejadian. 2.Menurut filosof matealisme bahwa waktu adalah mutlak dan kekal. Maksudnya waktu akan selalu ada atau dapat pula dikatakan “ selalu ada hari esok, setelah hari ini” menurut beberapa ilmuwan Menurut Newton waktu bersifat mutlakdan matematis François Jacob, profesor genetika peraih Nobel dan intelektual. Menyatakan bahwa waktu terasa berjalan dari belakang kedepan.dikarenakan otak kita mengumpulkan informasi, berjalan ke belakang pula. Albert Einstein waktu bersifat relat DAFTAR PUSTAKA Yahya,Harun; mengenal Alloh lewat akal. Kattsof,Louis o,2004;pengantar filsafat:Tiara Wacana Yogya,yogyakarata. Quraish Shihab, Muhammad,2008.Lentera Hati;PT. Mizan puataka.bandung. Yahya,harun;Mengenal Allah Lewat Akal. http://www.uinjkt.ac.id http://www.hendria.com http://www.googleBook.co.id http://www.hyahya.org

This entry was posted in kelas 1i. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s