TAQDIR QODLO DAN QODAR

KPI 1A KELOMPOK 12

Eis Jingga Astuti (B01210001)

Ira Pratiwi (B01210031)

Tutik Wasi’atul Mamlu’ah (B01210032)

Firdaus Purnama (B01210034)

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Sholawat serta salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah SAW. Kami bersyukur kepada Ilahi Robbi yang telah memberikan hidayah-Nya kepada kami sehingga makalah yang membahas tentang Taqdir/Qodlo dan Qodar dapat terselesaikan.

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas matakuliah Ilmu Kalam. Dengan adanya makalah ini diharapkan para pembaca juga penyusun dapat lebih memahami tentang Taqdir/Qodlo dan Qodar.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih terdapat kekurangan dan kekhilafan. Oleh karena itu, kepada para pembaca, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan makalah ini.

Kepada Bapak pembimbing yang telah memberikan arahan dan bimbingan serta kepada semua pihak yang telah memberikan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan makalah ini, kami ucapkan terima kasih.

Semoga makalah ini benar-benar bermanfaat bagi penyusun dan bagi para pembaca pada umunya.

Amin, ya Robbal ‘Alamin.

Surabaya, November 2010

Penyusun

BAB  I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Apa pun yang terjadi di dunia dan yang menimpa diri manusia pasti telah digariskan oleh Allah Yang Mahakuasa dan Yang Mahabijaksana. Semua telah tercatat secara rapi dalam sebuah Kitab pada zaman azali. Kematian, kelahiran, rizki, nasib, jodoh, bahagia, dan celaka telah ditetapkan sesuai ketentuan-ketentuan ilahiah yang tidak pernah diketahui oleh manusia. Dengan tidak adanya pengetahuan manusia tentang ketetapan dan ketentuan Allah ini, maka ia memiliki peluang atau kesempatan untuk berlomba-lomba menjadi hamba yang saleh-muslih, berusaha keras untuk mencapai yang dicita-citakan tanpa berpangku tangan menunggu takdir, dan berupaya memperbaiki citra diri.

Dengan bekal keyakinan terhadap takdir yang telah ditentukan oleh Allah SWT, seorang mukmin tidak pernah mengenal kata frustrasi dalam kehidupannya, dan tidak berbangga diri dengan apa-apa yang telah diberikan Allah SWT. Ia akan berubah menjadi batu karang yang tegar menghadapi segala gelombang kehidupan dan senantiasa sabar dalam menyongsong badai ujian yang silih berganti. Ia juga selalu bersyukur apabila kenikmatan demi kenikmatan berada dalam genggamannya.

1.2 Masalah

Yang akan kita bahas dalam makalah ini, ialah tentang Taqdir/Qodla dan Qodar serta aliran-aliran yang berkaitan dengan taqdir (Indeterminisme, Jabariah, dll)

BAB  II

PEMBAHASAN

1. Taqdir Dalam Fikiran Primitif

Manusia tidak dapat mengingkari kenyataan bahwa sejak dahulu kala kemerdekaan mereka terbatas, dan tidak selalu dapat memperoleh apa yang diinginkan. Mereka merasa perlu menjinakkan kekuatan-kekuatan yang mengelilinginya, yang dianggap dapat memberi dan mencegah. Caranya adakalanya dengan memberikan sesaji atau kurban, atau dengan upacara-uapacara keagamaan, pembacaan mantra-mantra dan lain sebagainya.

Manusia mengharapkan hujan turun, tetapi hujan tidak turun. Mereka ke luar memburu, kadang-kadang mendapat hasil banyak, tetapi kadang-kadang amat sedikit, bahkan adakalanya tak seekor buruan pun berhasil ditangkap. Dengan pengalamannya itu, mereka menyadari bahwa sesungguhnya mereka tidak berdaya kemauan suatu kekuatan yang menentukan nasibnya, beruntung atau malang. Akhirnya mereka menyadari bahwa kemauan mereka sendiri bukan satu-satunya kekuatan yang dapat memenuhi keinginan mereka, atau dapat menangkal apa yang mereka takuti.

Itulah qadar atau takdir dalam pengertiannya yang amat sederhana, pada dahulukala.

Pengertian takdir pada manusia primitif ialah, mereka membayangkan adanya suatu kekuasaan luar biasa yang menentukan kesenangan dan kekuasaan hidupnya. Yaitu kekuasaan yang berbuat semuanya terhadap manusia, dan tidak menyukai atau tidak menyukai sesuatu.

Setelah manusia mengenal sedikit tatanan alam wujud, diikuti pengertian mereka mengenai takdir yang meningkat, sosok takdir yang semulanya kacau menjadi agak jelas. Manusia mulai mengartikan takdir dengan pengaturan dan pengurusan alam. Pada tahap lebih lanjut mereka mulai memasukkan ke dalam kekuasaan takdir semua yang berada di bumi dan di langit, termasuk manusia sendiri. Bahkan, tuhan-tuhan dan roh-roh sesembahanlah yang pertama-tama mereka masukkan ke dalam kekuasaan takdir sebelum diri mereka sendiri.

2. Taqdir Dalam Pemikiran Filosof

Filsafat Yunani yang paling pertama mendapat perhatian ialah pemikiran dua orang filosofi besar yang pandangan masing-masingnya meliputi bagian terbesar problem pemikiran yang dihadapi umat manusia. Kedua, filosofi itu ialah Plato; yang dijuluki “Ahli Teologi”, dan Aristoteles yang mendapat julukan “Guru Pertama”.

2.2 Taqdir dalam pikiran Plato

Plato dalam beberapa hal sependapat dengan gurunya, Socrates, khususnya mengenai pengertian bahwa kejahatan itu disebabkan oleh kebodohan dan kurangnya pengetahuan. Plato berpendapat, manusia tidak akan memilih kejahatan jika ia mengetahui pilihannya suatu kejahatan. Manusia berbuat kejahatan karena didorong oleh kebodohan atau karena kerusakan jiwanya. Jadi bukan karena takdir tuhan. Sebab, semua tuhan adalah baik, dan dari tuhan hanya akan lahir kebaikan.

Kehidupan manusia adalah baik, karena memang tak mungkin terjadi selain itu. Akan tetapi, kebaikan ini bukanlah kebaikan yang didambakan manusia. Kehidupan itu baik karena di dalamnya terdapat keutamaan, yang pada saat kebaikan menghadapi kejahatan, keutamaan bangkit berjuang melawannya, dan mengalahkannya. Jadi, di dunia ini tak ada kebaikan apabila kejahatan lenyap tuntas dari kehidupan manusia.

Di alam ini memang terdapat kejahatan, tetapi itu tidak berasal dari takdir tuhan. Adanya kejahatan selalu menyertai adanya kebaikan, karena kebaikan yang ada-nya karena keharusan (compulsory) tidak bernilai dan tidak menunjukkan keutamaan pelakunya. Kebebasan manusia dalam menuntut kesempurnaan tidak dibatasi oleh takdir yang ditentukan tuhan yang maha besar, tetapi dibatasi oleh rintangan materi yang amat padat, atau yang sebut “hayula”. Dan hayula itu jugalah yang merintangi jalan bagi terwujudnya kemampuan yang dikehendaki Tuhan.

2.3 Taqdir dalam Pikiran Aristoteles

Pemikiran Aristoteles mengenai takdir sejalan dengan pemikirannya mengenai sifat tuhan. Menurut Aristoteles, tuhan sama sekali tidak mencampuri urusan alam dan semua yang ada di dalamnya, baik yang bernyawa maupun yang tidak. Karena itu, tuhan tidak menentukan urusan apa pun juga bagi alam, sebab takdir sesuai dengan kesempurnaan sifat kemutlakan tuhan. Dzat yang sempurna dan mutlak kesempurnaannya tidak membutuhkan apa pun juga selain dzatnya, tidak menghendaki sesuatu dan tidak memikirkan sesuatu selain dzatnya sendiri.

Pemikiran Aristoteles tentang takdir sejalan dengan pemikirannya mengenai gambaran atau sifat tuhan. Tidak ada qadla dan tidak ada takdir. Setiap manusia bebas memilih sesuatu bagi dirinya sendiri. Kalau ia tidak dapat berbuat, sekurang-kurangnya ia dapat menahan diri. Tujuan manusia dan makhluk lain yang bukan manusia ialah mewujudkan sesuatu yang diperlukan oleh eksistensinya menurut cara yang sesuai dengan eksistensinya.

Para filosofi Yunani, selain Plato dan Aristoteles, mempunyai pemikiran sendiri-sendiri mengenai takdir. Semuanya berkisar di antara aliran “Jabariyah” (aliran “serba takdir” atau determinism) dan aliran “kebebasan manusia” (indeterminisme). Kadang-kadang muncul beberapa filosof yang menengahi dua aliran tersebut dengan suatu pendapat yang memandang manusia hanya berbuat menurut apa yang telah ditentukan (serba terpaksa). Atau dengan pendapat yang mengatakan bahwa manusia bebas menentukan perbuatannya sendiri. Pada dasarnya pendapat mereka tidak lepas dari dua aliran tersebut di atas.

Kaum filosofi masa itu masih terus mendalami pembahasan mengenai masalah takdir. Di kalangan mereka masih terjadi perbedaan yang besar antara yang berpegang pada faham jabariyah (determinism) dan yang berpegang pada faham kebebasan manusia (indeterminise). Di antara mereka ada yang berpendapat, manusia turut serta dalam menentukan takdir. Manusia tunduk kepadanya, karena ia bagian unsur-unsur alam yang turut mempengaruhi berbagai peristiwa alamiah, yang tidak terpisahkan sama sekali.

3. Paham Taqdir Dikalangan Ummat Muslim

Setelah dakwah Islam menyebar ke mana-mana, kaum Muslimin bangkit memberikan sumbangan besar sekali dalam pembahasan masalah qadha dan qadar. Mereka membahas masalah tersebut dari berbagai segi yang berlainan.

Setiap dari kaum Muslimin mengemukakan pendapat tentang masalah qadla dan qadar (takdir), mereka senantiasa menyebut nash sebagai dasar argumentasinya, atau setelah pendapat itu diuji dan dikoreksi lebih dulu. Secara garis besar, pendapat-pendapat mengenai masalah tersebut dapat kita bagi menjadi tiga aliran, yang tentangnya para ahli ilmu Kalam (teologi Islam) berbeda pendapat mengenai sejumlah masalah besar. Tiga aliran itu ialah : 1) Kelompok ekstrem yang memastikan segala-segalanya serba takdir; 2) Kelompok ekstrem yang mengingkari adanya takdir; dan 3) Kelompok moderat yang berijtihad mengadakan persesuaian antara kedua kelompok tersebut.

Ketiga kelompok itu bernama : 1) Kelompok Jabriyyah; 2) Kelompok Qadriyyah. Penggunaan nama ini karena mereka berpendapat bahwa manusia bebas menentukan dirinya sendiri. Jadi, nama “Qadriyyah” menyimpang dari makna yang lazim dimengerti pada penamaan itu sendiri. 3) Kelompok moderat, yaitu kaum ahlus sunnah yang bersikap tengah-tengah, antara aliran Jabriyyah dan Qadriyyah.

3.1 Kelompok Jabariyah

Jabariah lebih menekankan pada kekuasaan Tuhan Yang Maha Mutlak sehingga menempatkan manusia pada posisi seperti wayang, yang segalanya bergantung pada dalang.[1] Manusia tidak mempunyai kekuasaan untuk menentukan perbuatannya.[2] Oleh karena itu, seseorang masuk surga atau neraka itu bukan karena amalnya, tetapi sepenuhnya kehendak tuhan.[3]

Orang pertama pada zaman daulat Bani Umayyah yang berbicara tentang Jabriyyah ialah Jahm bin Shafwan dan para pengikutnya. Mereka berpendapat, Allah menciptakan manusia sekaligus berikut perbuatannya. Sama halnya dengan organisme tubuh dan warna kulit yang juga diciptakan Allah. Sebagaimana dikatakan oleh Asy-Syarif Al-Murtadha,  semua yang dilakukan oleh manusia, baik kekufuran, keimanan atau pun kedurhakaan, Allahlah yang menciptakannya. Demikian juga warna kulit, pendengaran, penglihatan dan hidupnya, semuanya ciptaan Allah. Allah menimpakan adzab menurut kehendak-Nya pula. Mengenai hal itu, Jahm bin Shafwan mengatakan bahwa Allah menciptakan kekuatan pada manusia dan dengan kekuatan itu manusia berbuat. Hal ini sebagaimana Allah menciptakan makanan, yang dengan makanan itu tubuh manusia tumbuh dan kuat. Allah tidak membuat manusia dapat berbuat sesuatu, dalam arti perbuatan dan kemauan yang hakiki.

Di antara kaum Jabriyyah yang berfikir moderat ada yang berpendapat, bahwa perbuatan – sebagaimana adanya – terjadi karena kekuasaan Allah. Akan tetapi dalam hal taat dan durhaka, perbuatan itu terjadi karena kemauan manusia sendiri.

Masing-masing golongan yang berbicara tentang takdir mempunyai dalil dan dasar alasannya sendiri-sendiri berupa ayat-ayat Al-Qur’anul Karim, yang digunakan sebagai hujjah untuk membenarkan pendapatnya.

Di antara ayat-ayat  Qur’an yang dijadikan dalil oleh kaum Jabariyyah,

ª!$#ur ö/ä3s)n=s{ $tBur tbqè=yJ÷ès? ÇÒÏÈ

Artinya : “Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” (Q.S. Ash- Shaaffaat [37]:96)

$tBur tbrâä!$t±n@ HwÎ) br& uä!$t±o„ ª!$# 4 ¨bÎ) ©!$# tb%x. $¸JŠÎ=tã $VJ‹Å3ym ÇÌÉÈ

Artinya : Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. Al-Insan [76]:30)

÷bÎ) uqèd žwÎ) ֍ø.ό tûüÏHs>»yèù=Ïj9 ÇËÐÈ `yJÏ9 uä!$x© öNä3ZÏB br& tLìÉ)tGó¡o„ ÇËÑÈ $tBur tbrâä!$t±n@ HwÎ) br& uä!$t±o„ ª!$# >u‘ šúüÏJn=»yèø9$# ÇËÒÈ

Artinya : “Qur’an bukan lain hanyalah peringatan bagi alam semesta, (yaitu) bagi siapa di antara kalian yang mau menempuh jalan lurus, dan kalian tidak menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali bila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (Q.S. at-Takwir, 27-29).

Faham Jabariyah terbagi dua, yang dalam peristilahan modern disebut: fatalisme dan determinisme

Fatalisme ialah faham yang mengatakan bahwa manusia hidup di dunia dalam keadaan “serba terpaksa” oleh takdir Ilahi.  Seperti; rasa cabai pedas, rasa garam asin, hidung orang berlobang dua, dll.

Determinisme ialah faham yang mengatakan bahwa manusia hidup dalam keadaan “serba terpaksa” oleh alam dan hukumnya. Seperti tumbuh dan suburnya cabai. Supaya ia tumbuh dengan baik, maka harus ditanam pada tanah yang subur dan dipupuk serta disiram air dengan benar.

3.2 Kelompok Qadariyah

Paham Qadariah lebih menekankan sifat keadilan Tuhan sehingga menempatkan manusia dalam posisi yang memiliki kekuasaan untuk menentukan perbuatannya, dan dengan keadilan-Nya, Tuhan akan memberikan pahala kepada manusia yang berbuat baik dan menghukum manusia yang berdosa.[4]

Kaum Qadriyyah berasal dari golongan Mu’tazilah. Mereka menamakan diri “Ahlul-‘Adli Wat-Tauhid”, karena mereka beranggapan telah menjauhkan kedzaliman dari sifat Allah. Mereka berpendapat, manusia mempunyai kebebasan berbuat kebajikan dan kejahatan. Allah tidak memaksa manusia berbuat jahat kemudian menghukumnya, dan bertindak dzalim terhadapnya. Allah pun tidak memberikan kepada manusia suatu pahala yang bukan atas perbuatannya sendiri.

Menurut kaum Qadriyyah, kebebasan manusia memilih perbuatan jahat yang telah ada pada pengetahuan Allah sejak azal adalah suatu ketentuan yang telah ditetapkan Allah atas manusia dalam hal memilih ketaatan atau kedurhakaan. Kalau manusia tidak dapat menentukan sendiri perbuatan mana yang harus dilakukan taklif (kewajiban agama yang wajib ditunaikan).

Kaum Qadriyyah memisahkah perbuatan yang dapat ditentukan sendiri oleh manusia, seperti bergerak ke kanan dan ke kiri, dari perbuatan yang ia tidak dapat tentukan sendiri, seperti naik ke ruang angkasa tanpa menggunakan sarana apa pun juga. Mereka yakin bahwa Allah tidak mewajibkan manusia melakukan perbuatan seperti itu. Taklif yang dikenakan atas manusia ialah perbuatan yang dapat dilakukan atau ditinggalkan atas dasar kebebasan.

Adapun ayat-ayat Al-Qur’an Karim yang mereka gunakan untuk memperkokoh pendapat mereka, antara lain, yang artinya :

Yang demikian itu (yakni adzab) adalah karena Allah sama sekali tidak akan mengubah nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, sebelum kaum itu mengubah apa yang ada pada mereka sendiri. (al-Anfal, 53)

Setiap manusia terikat (tergantung) pada apa yang telah diperbuatnya. (at-Thur, 21)

Pada hari itu kalian diberi balasan atas apa yang telah kalian perbuat (al-Jatsiyah, 28)

Bukan suatu rahasia lagi bahwa kaum Mu’tazilah pada zaman berikutnya mempelajari pandangan para filosofi Yunani. Mereka mengenal bagaimana pemikiran para filosofi itu tentang sifat-sifat Tuhan, terutama sifat Tuhan menurut pandangan Aristoteles, guru mereka yang pertama, (yaitu bahwa Tuhan sebagai penggerak yang tidak bergerak, atau Tuhan yang berada di luar alam nyata (yakni tidak mencampuri urusan alam semesta). Karena itu, mereka tidak menemukan kesukaran untuk mengatakan manusia adalah bebas merdeka dan perbuatannya tidk berkaitan sama sekali dengan qadha dan qadar. Ini sekalipun kepercayaan mereka mengenai takdir, pahala dan siksa bertentangan dengan pemikiran Aristoteles.

3.3  Kelompok Muderat (sunni)

Adapun kasus Ahlus-Sunnah, yaitu orang-orang yang berfikir moderat, berpendapat bahwa kehendak ada pada Allah dan kebebasan ada pada manusia mengenai soal-soal yang mendatangkan ganjaran. Tetapi mereka membedakan antara kehendak Allah yang bersifat menentukan atau memaksakan dan kehendak Allah yang bersifat perintah dan taklif(kewajiban agama yang wajib ditunaikan)

Dan dalam menciptakan segala sesuatu Allah cukup berfirman :

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãYtB#uä (#qçRqä. tûüÏBº§qs% ÅÝó¡É)ø9$$Î/ uä!#y‰pkà­ …….

Artinya :”Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan….” (Q.S. An Nisa’:135)

Dan dalam menciptakan segala sesuatu Allah cukup berfirman :

“Jadilah, maka jadilah ia.” (Q.S. Yaa Siin:82)

Dua ayat di atas menunjukkan kehendak Allah, tetapi kehendak yang bersifat perintah dapat diterima oleh manusia dengan ketaatan kedurhakaan. Sedangkan kehendak yang bersifat kepastian dan paksaan sebagaimana mestinya tanpa kelainan apa pun juga.

Di antara ayat-ayat yang mereka tunjuk sebagai dalil mengeai itu ialah firman Allah swt. Yang artinya:

ö@è% žcÎ) ©!$# Ÿw âßDù’tƒ Ïä!$t±ósxÿø9$$Î/ ( tbqä9qà)s?r& ’n?tã «!$# $tB Ÿw šcqßJn=÷ès?

Artinya:…..Katakanlah:”Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji. Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?.” (al-A’raf:28)

Mereka menunjuk ayat-ayat Qur’an yang tidak membenarkan argumentasi (hujjah) kaum Jabriyyah, yaitu ayat yang melukiskan pernyataan kaum musyrikin, yaitu :

….. Orang-orang yang menyekutukan Allah itu akan berkata : ‘Jika Tuhan menghendaki, niscahaya kami dan para orang tua kami tidak akan menyekutukan Tuhan, dan kami pun tidak akan mengharamkan apa pun juga … (al-An’am, 148)

(Berhala-berhala) itu bukan lain hanyalah nama-nama yang kalian dan para orang tua kalian berikan kepadanya. Allah tidak menurunkan keterangan apa pun (mengenai keharusan berhala itu disembah). (an-Najm, 23)

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

1. Penyelesaian Pertama Tentang Taqdir

Paham-paham seperti Fatalisme, determinisme, dan indeterminisme tidak dapat digeneralisasikan kepada semua gejala, tetapi ketiganya masih kokoh berdiri pada porsinya masing-masing.

a)      Fatalisme adalah suatu paham yang menyatakan bahwa Kehendak Tuhan bersifat memaksakan. Kehendak-kehendak Tuhan yang bersifat memaksakan seperti; rasa cabai pedas, rasa garam asin, hidung orang berlobang dua dan menghadap kebawah, telinganya disampin, dan seterusnya. Terhadap kehendak Tuhan yang seperti ini, manusia tidak mampu mengubahnya

b)      Deteminisme adalah suatu paham yang menyatakan bahwa sesuatu ditentukan oleh lingkungan, seperti tumbuh dan suburnya cabai. Supaya ia tumbuh dengan baik, maka harus ditanam pada tanah yang subur dan dipupuk serta disiram air dengan benar. Tetapi kesuburan tanah, pemupukan, penyiraman itu tidak dapat mengubah rasa cabai yang pedas menjadi manis.

c)      Indeterminisme adalah suatu paham yang menyatakan bahwa kebebasan ada pada manusia. Yang bebas bagi manusia adalah menjalankan atau inkar terhadap perintah atau larangan Tuhan.

2. Penyelesaian Kedua Tentang Taqdir

Menurut bahasa Qadla memiliki beberapa pengertian yaitu: hukum, ketetapan, pemerintah, kehendak, pemberitahuan, penciptaan.

Menurut istilah Islam, yang dimaksud dengan qadla adalah ketetapan Allah sejak zaman Azali sesuai dengan iradah-Nya tentang segala sesuatu yang berkenan dengan makhluk. Sedangkan Qadar arti qadar menurut bahasa adalah: kepastian, peraturan, ukuran. Menurut istilah Islam qadar perwujudan atau kenyataan ketetapan Allah terhadap semua makhluk dalam ukuran dan berbentuk tertentu sesuai dengan iradah.

Sehingga apa pun yang terjadi di dunia dan yang menimpa diri manusia pasti telah digariskan oleh Allah Yang Mahakuasa dan Yang Mahabijaksana. Semua telah tercatat secara rapi dalam sebuah Kitab pada zaman azali. Kematian, kelahiran, rizki, nasib, jodoh, bahagia, dan celaka telah ditetapkan sesuai ketentuan-ketentuan ilahiah yang tidak pernah diketahui oleh manusia. Dengan tidak adanya pengetahuan manusia tentang ketetapannya.

Intinya adalah dalam tatanan manusia, maka jalankanlah fungsi kemanusian kita dengan sebaik-baiknya.

“Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” QS. 13 (Ar-Ra’d),11

Secara umum, siapapun akan mendapatkan nilai dan hasil lebih tatkala dia mau berusaha secara optimum sebagai manusia.

Akan tetapi pada tatanan ketuhanan, Allah juga mengatakan : “Manusia itu berbuat makar, rencana-rencana, angan-angan, akan tetapi Aku juga punya Makar, Rencana-rencana, dan Visions. Sedangkan makar-Ku, Visions-Ku adalah yang terbaik….”. Kita tidak perlu ikut-ikutan protes kepada Allah kalau makar Allah, rencana Allah yang terlaksana berbeda atau bahkan bertolak belakang dengan makar dan rencana yang kita buat dengan otak kita. “The result is in My Hand… !!, kata Allah

Jadi lakukanlah apa-apa yang menjadi tuntutan atas kita sebagai manusia ini, maka pada tatanan allah, Dia akan memberikan hasil yang terbaik buat kita.

DAFTAR PUSTAKA

http://Blog.sunan-ampel.ac.id/masduqi/

http://id.wikipedia.org/wiki/

http://www.dakwatuna.com/seach/qada+dan+qodar/

Nasution Harun.teologi islam.Jakarta:UI Press.1986

Asmuni, Yusran, Ilmu Tauhid,  Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, 1996

Nata, Abuddin, Ilmu kalam, Filsafat, dan tasawuf, Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 1995

Rozak, Abdul, dkk . Ilmu kalam. Bandung:CV. Pustaka setia,2009.

Zainuddin, H, Ilmu Tauhid, Jakarta:PT Rineka Cipta, 1992


[1] Rosihon Anwar dkk, Pengantar Studi Islam, Pustaka Setia, Bandung, 2009, hlm 148

[2] Ibid.

[3] Ibid.

[4] [4] Ibid.

This entry was posted in kelas KPI 1A. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s