ALIRAN MU’TAZILAH DAN ASY-‘ARIYAH

KPI 1A

M. Ainul Yaqin           B01210024

Mariatul Kiptiyah B01210027

Miftahul Hasanah      B01210028

Lailatul Rohmah B01210029

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Fenomena ketuhanan tampaknya merupakan fakta yang universal. Hal ini tidak saja ditemukan pada masyarakat modern, tetapi juga pada masyarakat primitif sekalipun. Diantara semua manusia di dunia ini terdapat perasaan akan ketuhanan, yang dapat dilihat dari cara-cara penyembahannya. Berbagai pemikiran tentang ketuhanan muncul yang menimbulkan perbedaan dan melahirkan berbagai macam aliran-aliran yang memperdebatkan ketuhanan.

Pada masa tabi’in sebenarnya umat islam telah terjadi perpecahan yang puncaknya adalah ketika terjadi perang shiffin. Dalam peperangan ini sebagai respon atas penerimaan Ali terhadap arbitrasi (tahkim) yang ditawarkan Mu’awiyah. Pasukan Ali diceritakn terpecah menjadi dua golongan yang mendukung Ali kelak disebut Syi’ah dan yang menolak Ali kelak disebut Khawarij dan bersamaan dengan munculnya dua aliran tersebut muncullah aliran Mu’tazilah dan Asy ‘ariyah yang dikembangkan oleh sebagian sahabat dengan tujuan menjamin persatuan dan kesatuan umat Islam ketika terjadi pertikaian politik.

Dalam karya tulis ini akan dikupas secara tuntas sebab-sebab kemunculan dan perkembangan selanjutnya sampai pada masa sekarang.

  1. B. Rumusan Masalah
    1. Apa itu Mu’tazilah ?
    2. Ajaran apa saja yang terkandung didalam aliran Mu’tazilah?
    3. Apa itu Asy’ariyah?

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A. ALIRAN MU’TAZILAH
    1. 1. Munculnya golongan atau kelompok Mu’tazilah

Secara harfiyah kata Mu’tazilah berasal dariI’tazala yang berarti berpisah atau memisahkan diri, yang berarti juga menjauh atau menjauhkan diri.[1] Kaum Mu’tazilah adalah suatu kaum yang membuat heboh dunia Islam selama 300 tahun pada abad-abad permulaan Islam. Kaum Mu’tazilah telah pernah dalam sejarahnya membunuh ribuan ulama’ Islam. Ada beberapa pendapat yang menerangkan apa sebab-sebab maka kaum ini dinamai kaum Mu’tazilah, yaitu:

  1. Ada seorang guru besar di Baghdad, namanya Syeikh Hasan Bashri (meninggal tahun 110 H). Diantara muridnya ada seorang yang bernamaWashil bin ‘Atha’ (meninggal 131 H). Pada suatu hari Imam Hasan Bashri menerangkan bahwa orang Islam yang telah iman pada Allah dan Rasul-Nya, tetapi ia kebetulan mengerjakan dosabesar, maka orang itu tetap muslim tetapi muslim yang durhaka. Di akhirat nanti, kalau ia wafat sebelum taubat dari dosa besarnya,  ia akan dimasukkan kedalam neraka buat sementara untuk menerima hukuman atas perbuatan dosanya, tetapi setelah ia menjalankan hukuman ia dikeluarkan dari dalam neraka dan dimasukkan kedalam surga sebagai seorang Mu’min dan Muslim.

Washil bin ‘Atha’ tidak sesuai dengan pendapat gurunya itu, lantas ia membentak, lalu keluar lain di suatu pojok dari Masjid Bashrah itu. [2]Oleh karena itu makaWashil bin ‘Atha’ dinamai kaum Mu’tazilah karena ia mengasingkan diri dari gurunya. Dalam pengasingannya ini, ia diikuti oleh kawannya yaitu Umar bin Ubaid (meninggal 145 H).

Jadi dapat dikatakan secara bulat bawa permulaan munculnya kaum Mu’tazilah pada permulaan abad ke II Hijriyah, dengan guru besarnya Washil bin ‘Atha’ dan Umar bin Ubaid. Yang berkuasa ketika itu Khalifah Hisyam bin Abdul Malik dari BaniUmaiyah, yaitu dari tahun 100 H sampai tahun 125 H.

  1. Ada pula orang mengatakan bahwa sebabnya maka mereka dinamai Mu’tazilah ialah karena mengasingkan diri dari masyarakat. Orang-orang Mu’tazilah ini pada mulanya adalah orang-orang Syi’ah yang patah hati akibat menyerahnya khalifah Hasan bin ‘Ali bin AbiThalib kepada khalifah Mu’awiyah dari BaniUmaiyah.

Mereka menyisihkan diri dari siasat (politik) dan hanya mengadakan kegiatan dalam bidang ilmu pengetahuan. Demikian dikatakan oleh Abdul Hasan Tharaifi, pengarang buku Ahlul Hawa wal Bida’, yang dikutip oleh Muhammad Abu Zaharah dalam bukunya yang bernama “As-Syafi’I”.[3]

Secara teknis, istilah mu’tazilah menunjuk pada dua golongan yaitu;

  1. Golongan pertama tumbuh sebagai kaum netral politik, khususnya dalam arti bersikap lunak dalam menangani pertentangan antara ali bin abi thalib dan lawan-lawannya, terutama mu’awiyah, Aisyah, dan Abdullah bin Zubair. Golongan ini merupakan golongan yang mula-mula disebut kaum mu’tazilah. Karena mereka menjauhkan diri dari pertikaian masalah khilafah.
  2. 2. Golongan keduamuncul sebagai respon persoalan teologis yang berkembang dikalangan khawarij dan murji’ah akibat adanya peristiwa tahkim. Golongan ini muncul karena mereka berbeda pendapat dengan golongan khawarij dan murji’ah tentang pemberian status kafir kepada orang yang berbuat dosa besar. Perbedaan pendapat tersebut mengakibatkan munculnya golongan yang memisahkan diri    disebut kaum mu’tazilah. Golongan mu’tazilah juga dikenal dengan nama-nama lain seperti Al-Adl yang berarti golongan yang memperhatikan keadilan tuhan, Al-Ahl Al-Tauhid wa Al-Adl yang berarti golongan yang mempertahankan keesaan murni dan keadilan tuhan, dan Qadariyyahyang mempunyai dua arti: yang pertama, kata Qadar dipergunakan untuk menamakan orang yang mengakui Qadar dan yang kedua, kata Qadar dipergunakan untuk kebaikan dan keburukan pada hakikatnya.

  1. 3. Ajaran yang Diajarkan oleh Golongan Mu’tazilah

Ada beberapa ajaran yang di ajarkan oleh golongan Mu’tazilah yaitu;

  1. 1. At-Tauhid

At-Tauhid ini merupakan prinsip dan intisari ajaran Mu’tazilah. Tauhid menurut Mu’tazilah mempunyai arti yang spesifik, Tuhan harus disucikan dari segala sesuatu yang dapat mengurangi keesaannya.[4] Untuk memurnikan Tuhan, Mu’tazilah menolak konsep Tuhan memiliki sifat-sifat dan dapat dilihat dengan mata kepala. Mu’tazilah berpendapat bahwa Tuhan itu Esa, tak ada satupun yang menyerupai-Nya. Dia Maha Melihat, Mendengar, Kuasa, Mengetahui dan sebagainya, namun semuanya itu bukan sifat melainkan dzat-Nya. Menurut mereka sifat adalah sesuatu yang melekat. Doktrin tauhid Mu’tazilah tidak ada satupun yang menyamai Tuhan, begitu pula sebaliknya, Tuhan tidak serupa dengan makhluk-Nya. Segala yang mengesankan adanya kejisiman Tuhan, bagi Mu’tazilah tidak dapat diterima oleh akal dan itu adalah mustahil. Mu’tazilah menolak antropomorfisme.[5] Penolakan terhadap faham antropomorfistik bukan semata-mata atas pertimbangan akal, melainkan memiliki rujukan yang sangat kuat didalam Al-Qur’an. Mereka berlandaskan pada pernyataan Al-Qur’an yang berbunyi:

Artinya:

“Tak ada satupun yang menyamai-Nya.” (Q.S. Asy-Syura:9)

  1. 2. Al-Adl

Adil merupakan sifat yang paling gamblang untuk menunjukkan kesempurnaan.Ajaran ini bertujuan ingin menempatkan Tuhan benar-benar adil menurut sudut pandang manusia.Ajaran keadilan ini terkait erat dengan beberapa hal antara lain:

  • Perbuatan manusia
  • Berbuat baik dan terbaik
  • Mengutus Rasul
  1. 3. Al-Wa’d wa Al-Wa’id

Ajaran ini begitu erat hubungannya dengan ajran kedua diatas. Tuhan yang Maha Adil dan Maha Bijaksana, tidak akan melanggar janji-Nya. Perbuatan Tuhan terkait dan dibatasi oleh janji-Nya sendiri.Yaitu member pahala surga bagi yang berbuat baik dan ancaman neraka bagi yang berbuat durhaka.Begitu pula janji yang member pengampunan pada orang yang bertobat nasuha.Ajaran ini bertujuan untuk mendorong manusia berbuat baik dan tidak melakukan perbuatan dosa.

  1. 4. Al-Manzilah bain Al-Manzilatain

Inilah ajaran yang mula-mula menyebabkan lahirnya madzhab Mu’tazilah. Pokok ajaran ini adalah bahwa mu’min yang melakukan dosa besar dan belum bertobat maka ia bukan lagi mu’min atau kafir, tetapi fasik. Ajaran ini bertujuan agar manusia tidak menyepelekan perbuatan dosa, terutama dosa besar.

  1. 5. Al-Amr bi Al-Ma’ruf wa An-nahyi An Munkar

Ajaran kelima ini menyuruh kebajikan dan melarang kemungkaran.Ajaran ini menekankan kepada kebenaran dan kebaikan.Ini merupakan konsekuensi logis dari keimanan seseorang.Pengakuan keimanan harus dibuktikan dengan perbuatan baik, diantaranya menyuruh oarng berbuat baik dan mencegah dari kejahatan. Perbedaan madzhab Mu’tazilah dengan madzhab yang lain terletak pada tatanan pelaksanaan.

B. ALIRAN ASY-‘ARIYAH

1. Awal munculnya Aliran Asy’ariyah

Nama Al-Asy’ariyah diambil dari nama Abu Al-Hasan Ali bin Ismail Al-Asy’ari yang dilahirkan dikota Bashrah (Irak) pada tahun 206 H/873 M. Pada awalnya Al-Asy’ari ini berguru kepada tokoh Mu’tazilah waktu itu, yang bernama Abu Ali Al-Jubai. Dalam beberapa waktu lamanya ia merenungkan dan mempertimbangkan antara ajaran-ajaran Mu’tazillah dengan paham ahli-ahli fiqih dan hadist.[6]

Ketika berumur 40 tahun, dia bersembunyi dirumahnya selama 15 hari untuk memikirkan hal tersebut. Pada hari jum’at dia naik mimbar dimasjid Bashrah secara resmi dan menyatakan pendiriannya keluar dari Mu’tazillah. Pernyataan tersebut adalah: “wahai masyarakat, barang siapa mengenal aku, sungguh dia telah mengenalku, barang siapa yang tidak mengenalku, maka aku mengenal diri sendiri. Aku adalah fulan bin fulan, dahulu aku berpendapat bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, bahwa sesungguhnya Allah tidak melihat dengan mata, maka perbuatan–perbuatan jelek aku sendiri yang yang membuatnya. Aku bertaubat, bertaubat dan mencabut faham-faham Mu’tazillah dan keluar daripadanya.

Al-Asy’ari menulis tidak kurang dari 90 kitab dalam berbagai lapangan yang bisa dibaca oleh orang banyak.dia menolak pendapat Aristoteles, golongan jahamiyah dan golongan murji’ah. Akan tetapi fokus kegiatan Al-Asy’ari adalah ditujukan pada orang-orang Mu’tazilah seperti Ali Al-Jubai, Abul Hudzail dan lain-lain.

Contoh perdebatan antara Imam Al-asy’ary dengan Abu Ali Al-Jubai: [7]

  • Abu Hasan Al-Asy’ary bertanya: Bagaimana menurut pendapatmu tentang tiga orang yang meninggal dalam keadaan berlainan, mukmin, kafir dan anak kecil.
  • Al-Jubai: Orang Mukmin adalah Ahli Surga, orang kafir masuk neraka dan anak kecil selamat dari neraka.
  • Al-Asy’ari: Apabila anak kecil itu ingin meningkat masuk surga, artinya sesudah meninggalnya dalam keadaan masih kecil, apakah itu mungkin?
  • Al-Jubai: Tidak mungkin bahkan dikatakan kepadanya bahwa surga itu dapat dicapai dengan taat kepada Allah, sedangkan Engkau (anak kecil) belum beramal seperti itu.
  • Al-Asy’ari: Seandainya anak itu menjawab memang aku tidak taat, seandainya aku dihidupkan sampai dewasa, tentu aku beramal taat seperti amalnya orang mukmin.
  • Allah menjawab: Aku mengetahui bahwa seandainya engkau sampai umur dewasa, niscaya engkau bermaksiat dan engkau disiksa. Karena itu Aku menjaga kebaikanmu. Aku mematikan mu sebelum engkau mencapai umur dewasa.
  • Al-Asy’ari: seandainya si kafir itu bertanya: Engkau telah mengetahui keadaanku sebagaimana juga mengetahui keadaannya, mengapa engkau tidak menjaga kemashlahatanku, sepertinya? Maka Al-Jubai diam saja, tidak meneruskan jawabannya .

2. Faham Asy’ariyah

Faham kaum Asy’ariyah berlawanan dengan paham Mu’tazilah. Golongan Asy’ariyah berpendapat bahwa Allah itu mempunyai sifat diantaranya, mata, wajah, tangan serta bersemayam di singgasana. Namun semua ini dikatakan la yukayyaf wa la yuhadd (tanpa diketahui bagaimana cara dan batasnya). [8]

Aliran Asy’ari mengatakan juga bahwa Allah dapat dilihat di akhirat kelak dengan mata kepala. Asy’ari menjelaskan bahwa sesuatu yang dapat dilihat adalah sesuatu yang mempunyai wujud, karena Allah mempunyai wujud ia dapat dilihat .

Ayat-ayat Al-Qur’an yang dapat dijadikan dalil Asy’ariyah untuk menyakinkan pendapatnya adalah:

1. QS. Ar-Rum ayat 25:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَن تَقُومَ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ بِأَمْرِهِ ۚ ثُمَّ إِذَا دَعَاكُمْ دَعْوَةً مِّنَ الْأَرْضِ إِذَا أَنتُمْ تَخْرُجُونَ Artinya :

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya.kemudian apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur)”. (QS. Ar-Rum ayat 25)

2. QS Yasiin ayat 82:

إِنَّمَآ أَمْرُهُۥٓ إِذَآ أَرَادَ شَيْـًٔا أَن يَقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُون

Artinya :

“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” Maka terjadilah ia”. (QS Yasiin ayat 82).

3. QS Al-A’raaf ayat 54:

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ ۗ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Artinya :

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy[548]. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya.Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.Maha suci Allah, Tuhan semesta alam”.(QS Al-A’raaf ayat 54).

4. QS Al-Kahfi ayat 109:

قُل لَّوْ كَانَ ٱلْبَحْرُ مِدَادًۭا لِّكَلِمَـٰتِ رَبِّى لَنَفِدَ ٱلْبَحْرُ قَبْلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَـٰتُ رَبِّى وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِۦ مَدَدًۭا

Artinya :

“Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)”. (QS Al-Kahfi ayat 109).

5. QS Al-Mukmin ayat 16:

Artinya :

“(yaitu) hari (ketika) mereka keluar (dari kubur); tiada suatupun dari Keadaan mereka yang tersembunyi bagi Allah. (lalu Allah berfirman): “Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?” kepunyaan Allah yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan”. (QS Al-Mukmin ayat 16).

3. Perkembangan Aliran Asy’ariyah

Aliran ini termasuk cepat berkembang dan mendapat dukungan luas dikalangan sebelum meninggalnya pendiri Aliran Asy’ariyah itu sendiri yaitu Imam Abu Hasan Ali bin Ismail Al-Asy’ari, yang wafat pada tahun 324 H/934 M. Sepeninggalnya Al-Asy’ari sendiri mengalami perkembangan dan perubahan yang cepat karena pada akhirnya Asy’ariyah lebih condong kepada segi akal pikiran murni dari pada dalil nash.

4. Penyebab keluarnya Al-Asy’ari dari aliran Mu’tazillah

Penyebab keluarnya Al-Asy’ari dari aliran mu’tazillah antara lain:

  1. Pengakuan Al-Asy’ari telah bertemu Rasulullah SAW sebanyak 3 kali, yakni pada malam ke-10, ke-20 dan ke-30 bulan Ramadhan. Dalam mimpinya itu Rasulullah memperingatkannya agar meninggalkan faham Mu’tazillah .
  2. Al-Asy’ari merasa tidak puas terhadap konsepsi aliran Mu’tazilah dalam soal – soal perdebatan yang telah ditulis diatas.
  3. Karena kalau seandainya Al-Asy’ari tidak meninggalkan aliran Mu’tazillah maka akan terjadi perpecahan dikalangan kaum muslimin yang bisa melemahkan mereka. [9]

Al-Asy’ari sebagai orang yang pernah menganut paham Mu’tazillah, tidak dapat menjauhkan diri dari pemakaian akal dan argumentasi pikiran.ia menentang dengan kerasnya mereka yang mengatakan bahwa akal pikiran dalam agama atau membahas soal-soal yang tidak pernah disinggung oleh Rasulullah merupakan suatu kesalahan. Dalam hal ini ia juga mengingkari orang yang berlebihan menghargai akal pikiran, karena tidak mengakui sifat-sifat Tuhan. Beberapa pendapat Al-Asy’ari adalah tentang :

1. Sifat.

Al-Asy’ari mengakui sifat-sifat Tuhan (Wujud, Qidam, Baqa, Wahdania, Sama’, Basyar, dll), sesuai dengan dzat Tuhan itu sendiri dan sama sekali tidak menyerupai sufat – sifat makhluk. Tuhan dapat mendengar tetapi tidak seperti kita, mendengar dan seterusnya.

2. Kekuasaan Tuhan dan Perbuatan manusia.

Al-Asy’ari mengatakan bahwa manusia tidak berkuasa menciptakan sesuatu, tetapi berkuasa untuk memperoleh sesuatu perbuatan.

3. Melihat Tuhan pada hari kiamat.

Al-Asy’ari mengatakan bahwa Tuhan dapat dilihat, tetapi tidak menuntut cara tertentu dan tidak pula arah tertentu. Al-Maturidi mengatakan juga bahwa manusia dapat melihat Tuhan . Firman Allah dalam QS Al-Qiyamah ayat 22- 23:

وُجُوهٌۭ يَوْمَئِذٍۢ نَّاضِرَةٌ ﴿٢٢﴾ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌۭ

Artinya :

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat”. (QS Al-Qiyamah ayat 22 dan 23)

4. Dosa besar

Al-Asy’ari mengatakan bahwa orang mukmin yang mengesakan Tuhan tetapi fasik, terserah kepada Tuhan, apakah akan diampuni-Nya dan langsung masuk syurga atau akan dijatuhi siksa karena kefasikannya, tetapi dimasukkan-Nya kedalam surga .


5.Ciri-ciri Penganut Aliran Asy’ariyah

Ciri-ciri orang yang menganut aliran Asy’ariyah adalah sebagai berikut:

  1. Mereka berpikir sesuai dengan Undang-Undang alam dan mereka juga mempelajari ajaran itu.
  2. Iman adalah membenarkan dengan hati, amal perbuatan adalah kewajiban untuk berbaut baik dan terbaik bagi manusia. dan mereka tidak mengkafirkan orang yang berdosa besar.
  3. Kehadiran Tuhan dalam konsep Asy’ariyah terletak pada kehendak mutlak-Nya.

6. Tokoh-tokoh Aliran Asy’ariyah

1. Al-Baqillani

Namanya Abu Bakar Muhammad bin Tayib, diduga kelahiran kota Basrah, tempat kelahiran gurunya, yaitu Al-Asy’ari. ia terkenal cerdas otaknya, simpatik dan banyak jasanya dalam pembelaan agama.

Al-Baqillani mengambil teori atom yang telah dibicarakan oleh aliran mu’tazillah sebagai dasar penetapan kekuasaan Tuhan yang tak terbatas.Jauhar adalah suatu hal yang mungkin, artinya bisa wujud dan bisa tidak, seperti halnya aradh.dan menurutnya tiap-tiap aradh mempunyai lawan aradh pula. Disinilah terjadi mukjizat itu karena mukjizat tidak lain hanyalah penyimpangan dari kebiasaan.

2. Al-Juwaini

Namanya Abdul Ma’ali bin Abdillah, dilahirkan di Naisabur (Iran), kemudian setelah besar pergi kekota Mu’askar dan akhirnya tinggal di kota Bagdad. kegiatan ilmiahnya meliputi ushul fiqh dan teologi islam.

Empat hal yang berlaku pada kedua alam tersebut, alam yang tidak dapat disaksikan dengan alam yang dapat disaksikan, yaitu:

  • Illat : Seperti ada sifat “ilmu” (tahu) menjadi illat (sebab) seseorang dikatakan “mengetahui” (alim).
  • Syarat : Sifat “hidup” menjadi syarat seseorang dikatakan mengetahui
  • Hakikat : Hakikat orang yang mengetahui ialah orang yang mempunyai sifat “ilmu”
  • Akal pikiran : Seperti penciptaan menunjukkan adanya zat yang menciptakan. [10]

3. Al-Ghazaly

Namanya Abu Hamid Muhammad bin Ahmad Al-Ghazali, gelar Hujjatul Islam, lahir tahun 450 H, di Tus kota kecil di Churassan (Iran). Al-Ghazali adalah ahli pikir islam yang memiliki puluhan karya seperti Teologi islam, Hukum islam, dll.

Sikap Al-Ghazali yang dikemukakan dalam bukunya yang berjudul Faishalut Tafriqah bainal islam waz zandaqah dan Al-Iqtishad. menurut Al-Ghazali perbedaan dalam soal – soal kecil baik yang bertalian dengan soal – soal aqidah atau amalan, bahkan pengingkaran terhadap soal khilaffat yang sudah disepakati oleh kaum muslimin tidak boleh dijadikan alasan untuk mengkafirkan orang.

BAB III

PENUTUP

  1. C. Kesimpulan

1. Aliran Mu’tazilah

Sejarah munculnya aliran Mu’tazilah oleh para kelompok pemuja dan aliran Mu’tazilah tersebut muncul di kota Bashrah (Iraq) pada abad ke 2 Hijriyah tahun 105 – 110 H, tepatnya pada masa pemerintahan khalifah Abdul Malik Bin Marwan dan khalifah Hisyam Bin Abdul Malik. Pelopornya adalah seorang penduduk Bashrah mantan murid Al-Hasan Al-Bashri yang bernama Washil bin Atha’ Al-Makhzumi Al-Ghozzal, kemunculan ini adalah karena Wasil bin Atha’ berpendapat bahwa muslim berdosa besar bukan mukmin dan bukan kafir yang berarti ia fasik. Imam Hasan al-Bashri berpendapat mukmin berdosa besar masih berstatus mukmin.Inilah awal kemunculan paham ini dikarenakan perselisihan tersebut antar murid dan Guru, dan akhirnya golongan Mu’tazilah pun dinisbahkan kepadanya.

2. Aliran Asy-‘Ariyah

Nama lengkap Asy’ari adalah Abu Hasan Ali bin Ismail bin Ishaq bin Salim bin Isma’il bin Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah bin Abi Musa Al-Asy;ari. Menurut beberapa riwayat, Al-Asy’ari lahir di Bashrah pada tahun 260 H/ 875 M. Ketika berusia lebih dari 40 tahun, ia hijrah ke kota Baghdad dan wafat di sana pada tahun 324 H/ 935 M. Al-Asy’ari menganut faham Mu’tazilah hanya sampai ia berusia 40 tahun. Setelah itu, secara tiba-tiba ia mengumumkan di hadapan jama’ah Masjid Bashrah bahwa dirinya telah meninggalkan faham Mu’tazilah dan menunjukkan keburukan-keburukannya. Yang melatarbelakangi Al-Asy’ari meninggalkan faham Mu’tazilah adalah pengakuan Al-Asy’ari telah bermimpi bertemu dengan Rasulullah sebanyak tiga kali.

D. Saran

Dari beberapa uraian di atas yang telah kami susun sangatlah sesuai dengan apa yang telah di sebutkan dalam buku (ilmu kalam) dan dari semua itu merupakan hasil pemikiran yang telah kami kembangkan.

Dengan adanya makalah ini maka dapat kami sarankan bahwa kita selaku umat islam haruslah benar-benar berprilaku yang baik dan bertindak dengan baik supaya tidak menyimpang dari ranah-ranah yang telah ditentukan oleh Allah SWT dan dicontohkan terhadap Nabi Muhammad SAW. Dan dengan tersusunnya makalah inipula lah kita jadikan sebagai bahan acuan dan pertimbangan. Walaupun semua pendapat manusia itu belum tentu selamanya benar dan juga salah.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul, Rozak. Anwar, Rosihan. Ilmu Kalam. Bandung: Pustaka Setia, 1421 H.

Abbas, Siradjuddin, I’itqad Ahlussunnah Wal Jama’ah. Jakarta: Pustaka Tarbiyah, 1386 H.

Nasution, Harun. Teologi Islam. Jakarta: Universitas Indonesia, 2008.

Sumber lain:

http://blogspot.com/aliran-asyariyah.html


[1]Abdul Rozak. Rosihon Anwar, IlmuKalam (Bandung: PustakaSetia, 2006), 77.

[2]Siradjuddin  Abbas, I’tiqadAhlusunnahwalJama’ah( Jakarta: PustakaTarbiyah, 1980), 174.

[3]Ibid, 175.

[4]Rozak. Anwar, Kalam, 80.

[5] Ibid, 82.

[7] Harun Nasution, Teologi Islam (Jakarta:Universitas Indonesia, 1986), 66.

[8] Nasution, Teologi, 71.

[9] Rozak. Anwar, Kalam, 120.

This entry was posted in kelas KPI 1A. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s