ILMU KALAM DALAM BAHASA LAINNYA DAN OBJEK STUDINYA

KELAS KPI 1A KELOMPOK 1:
1.Zulkarnain Daeng Effendi B01210002
2.Ermawati B01210003
3.Ulwiyatul Unsa B01210004
4.Yuni Supria B01210005
FAKULTAS DAKWAH JURUSAN KPI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA 2010

KATA PENGANTAR

Pertama-tama kami panjatkan puja-puji syukur ke hadirat Allah SWT. Yang telah memberikan rahmat, taufik, dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ilmu kalam ini. Dengan adanya ini dapat membantu rekan-rekan kami dan menambah secuil pengetahuan kami dalam kalam.
Kami menyadari jika masih banyak kesalahan dalam pembuatan makalah ini, bukan di karnakan karna keterbatasan ilmu hadist melainkan keterbatasan ilmu kami sendiri yang terasa kurang.
Semoga makalah ini punya manfaat bagi kita semua dan diberkahi ilmunya.

Surabaya, 22 November 2010

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ketika kita berbicara mengenai ilmu kalam, harusnya lebih mengetahui apa hakekat dan faedah atau pun keutamaan dari ilmu tersebut. Sebab, bagaimana mungkin kita sebagai umat muslim ketika menyerukan kebenaran Islam tidak mempunyai ilmu ataupun dasar pemahamannya
Jadi,ilmu pengetahuan itu lebih didahulukan sebelum beramal. Bahkan ilmu itu merupakan salah satu syarat perkataan dan perbuatan, sebab keduanya menjadi
acuan tanpa adanya ilmu. Maka itu, keberadaannya lebih didahulukan daripada keduanya.[1]
Banyak sekali bab-bab yang terdapat di dalam kitab-kitab yang dikarang berbicara tentang perhatian Islam yang begitu besar kepada ilmu, mengenai kedudukan ilmu dan ulama. Bahkan dinyatakan bahwa ulama itu adalah pewaris para Nabi. Para malaikat memayungi para penuntut ilmu dengan sayap-sayapnya karena rela dengan apa yang mereka tuntut itu. Bahwa siapa-siapa yang dikehendaki Allah untuk mendapatkan kebaikan maka ia akan diberi kefahaman tentang agama. Sesungguhnya ilmu yang benar itulah yang menunjukkan jalan kepada keimanan, dan keimanan yang benar ialah yang membukakan jalan kepada ilmu.
Dinyatakan ilmu lebih utama dari ibadah, lebih utama pula dari pada jihad. Bahwasanya ilmu yang dikehendaki oleh Islam adalah ilmu dunia dan akhirat, ilmu ketuhanan, ilmu tentang kehidupan, ilmu eksperimental dan semua cabang ilmu yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan.[2]
Dapat kami simpulkan bahwa ilmu itu adalah suatu syarat sebelum melakukan sesuatu atau menerapkannya. Sedangkan ilmu Kalam adalah pengantar kepada pemahaman yang lebih luas dalam Ilmu Agama. Dalam memahami Ilmu Agama, langkah pertama dalam mempelajari ilmu agama adalah dengan cara memahami Aqidah-aqidah pokok yang diajarkan oleh Qur’an dan Hadits,
Adapun tujuan utama dari ilmu kalam adalah untuk menjelaskan landasan keimanan umat Islam dalam tatanan yang filosofis dan logis. Bagi orang yang beriman, bukti mengenai eksistensi dan segala hal yang menyangkut dengan Tuhan yang ada dalam al-Qur’an, Hadits, ucapan sahabat yang mendengar langsung perkataan Nabi dan lain sebaganya, sudah cukup. Namun tatkala masalah ini dihadapkan pada dunia yang lebih luas dan terbuka, maka dalil-dalil naqli tersebut tidak begitu berperan. Sebab, tidak semua orang meyakini kebenaran al-Qur’an dan beriman kepadanya. Karenanya diperlukan lagi interpretasi akal terhadap dalil yang sudah ada dalam al-Qur’an tersebut untuk menjelasakannya. Awalnya perbincangan mengenai teologi ini hanyalah debat biasa sebagai diskusi untuk mempertajam pemahaman keIslaman, namun lama-kelamaan ia membentuk sebuah kelompok pro-kontra yang berjuang pada kebencian, permusuhan dan bahkan peperangan.
Kami berharap dengan ditulisnya materi Ilmu Kalam ini dapat memberikan efek positif kepada kita yang tengah menjalani mata kuliah Ilmu Kalam ini. Dengan pembahasan yang sederhana ini mudah-mudahan dapat membantu kita untuk memberikan suatu motivasi dan pemahaman untuk kita dalam menjalani hidup dan kehidupan beragama kita sekarang hingga akhir nanti.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
– Apakah ilmu Kalam itu ?
– Ada berapa ilmu kalam yang semakna?
– Bagaiamana objek kajian ilmu Kalam itu ?

BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian ilmu kalam
Ilmu kalam dalam bahasa Arab biasa diartikan sebagai ilmu tentang perkara Allah dan sifat-sifat-Nya. Oleh sebab itu ilmu kalam biasa disebut juga sebagai ilmu ushuluddin atau ilmu tauhid ialah ilmu yang membahas tentang penetapan aqoid diniyah dengan dalil (petunjuk) yang kongkrit.
Ilmu Kalam menurut Syekh Muhammad Abduh adalah ilmu yang membahas tentang wujud Allah, tentang sifat-sifat yang wajib tetap bagi-Nya, sifat-sifat yang jaiz disifatkan kepada-Nya dan tentang sifat-sifat yang wajib yang ditiadakan dari pada-Nya. Juga membahas tentang Rasulullah untuk menetapkan kebenaran risalahnya, apa yang wajib ada padanya, hal-hal yang jaiz dihubungkan pada diri mereka dan hal-hal yang terlarang menghubungkan pada diri mereka.
Sedangkan kenapa dinamakan dengan Ilmu Kalam, yaitu dikarenakan :
a) Dalam membahas masalah-masalah ketuhanan tidak lepas daripada dalil-dalil akal yang sesuai dengan logika, dimana penampilannya melalui perkataan ( kalam ) yang jitu dan tepat. Ahli-ahli ilmu kalam adalah orang-orang yang ahli dalam berbicara, ahli dalam mengemukakan argumentasi dalam persoalan yang dibahasnya.
b) Persoalan yang terpenting dan ramai dibicarakan serta diperbincangkan pada masa-masa pertama Islam, terutama diawal pertumbuhan ilmu Kalam ialah Firman Allah ( kalam Allah ), yaitu Al Qur’an. Apakah kalam Allah itu Qadim atau Hadist.
Pengertian secara harfiah kata Kalam berarti pembicaraan. Tetapi bukan dalam arti sehari-hari ( ngobrol ) melainkan dalam pengertian “Pembicaraan yang bernalar & menggunakan logika”. Maka ciri utama Ilmu Kalam adalah rasionalitas & Logis. Sehingga ia erat dengan ilmu mantiq/logika. Masing-masing ulama Kalam/Mutakallimiin memberikan batasan / ta’rif Ilmu Kalam berbeda-beda sesuai dengan argumentasi masing-masing.
Al-Farabi mendefinisikan ilmu kalam sebagai disiplin ilmu yang membahas Dzat dan sifat Allah beserta eksistensi semua yang mungkin, mulai yang berkenaan dengan masalah dunia sampai maslah sesudah mati yang berlandaskan doktrin Islam. Stressing akhirnya adalah memproduksi ilmu ketuhanan secara filosofis.
Sedangkan, Ibnu Kaldun mendefinisikan ilmu kalam sebagai disiplin ilmu yang mengandung berbagai argumentasi tentang akidah imani yang diperkuat dalil-dalil rasional.
Melihat dari definisi tersebut ilmu kalam bisa juga di defenisikan sebagai ilmu yang membahas berbagai masalah ketuhanan dengan menggunakan argumentasi logika atau filsafat. Oleh sebab itu sebagian teolog membedakan antara ilmu kalam dengan ilmu tauhid.
Ilmu Kalam lebih dikenal dengan nama Ilmu Filosofi atau Ilmu Filsafat. Kebanyakan ustadz-ustadz indonesia yang mengaku intelek berbahagia dengan ilmu filsafat, kecuali ustadz yang diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala.
Adapun beberapa pendapat ahli mengenai Ilmu Kalam
a. Tidak ada suatu cabang ilmu yang di dalamnya paling banyak pertentangan dan paling banyak perbedaan pendapat selain Ilmu Kalam (Hassan Hanafi).
b. Ilmu Kalam tidak memuaskan orang pintar dan tidak
memberi manfaat kepada orang bodoh (Hassan Hanafi).
c. Setiap orang yang ingin menyelami seluk-beluk agamanya
secara mendalam, perlu mempelajari teologi yang terdapat dalam agama yang dianutnya (Harun Nasution).
Ilmu Kalam adalah salah satu dari empat Ilmu Ke-Islaman yaitu : Ilmu Kalam, FiqihTasawuf dan Filsafat. Kajian Ilmu Kalam terfokus pada aspek-aspek ketuhanan dan derivasinya (bentuk-bentuknya). Karena itu sering disebut Teologi Dialektika,
Rasional.
a) Nama-nama selain ilmu tauhid
1. Ilmu Tauhid
Ilmu Tauhid adalah ilmu yang membahas tentang wujud Allah, soal-soal yang wajib, mustahil, dan jaiz bagi Allah dan Rasul-Nya, serta mengupas dalil-dalil yang mungkin sesuai dengan akal, guna membuktikan adanya zat yang mewujudkan, kemudian juga mengupas dalil-dalil sam’iyat guna mempercayai sesuatu dengan yakin.
Sebab dinamai ilmu Tauhid dikarenakan ilmu ini membahas keesaan Allah.

2. Ilmu Ushuluddin
Ushuluddin adalah serangkaina kata yang terdiri dari ushul dan ad-din. Ushul adalah jama’ dari ashl yang berarti pokok, dasar, fundamen sedangkan ad-din artinya adalah agama. Jadi perkataan Ushuluddin menurut logatnya berarti pokok atau dasar-dasar agama.
Alasan dinamai dengan ilmu Ushuluddin yaitu karena ilmu ini membahas tentang prinsip-prinsip agama Islam.
“Ilmu Ushuluddin adalah ilmu yang membahas padanya tentang prinsip-prinsip kepercayaan agama dengan dalil-dalil qath’I dan dalil-dalil akal fikiran”
3. Ilmu Aqaid
Aqaid artinya simpulan – buhul, yakni kepercayaan yang tersimpul dalam hati. Aqaid adalah jama’ dari aqidah. M. Hasby As Sidiqi menjelaskan dalam bukunya tentang maudhu’ tahid, dia mengatakan bahwa maudhu’tauhid adalah pokok pembicaraan ilmu tauhid yaitu aqidah yang diterangkan dalil-dalilnya.
Jadi, ini dinamakan dengan ilmu Aqaid disebabkan ilmu ini berbicara tentang kepercayaan Islam. Syekh Thahir Al Jazairy menerangkan :
“Aqidah Islam ialah hal-hal yang diyakini oleh orang-orang Islam, artinya mereka menetapkan atas kebenarannya “
4. Ilmu Ma’rifah
Ma’rifah artinya adalah pengenalan atau mengenal. Dalam Islam, tentang ilmu ketuhanan ini sering disebut dengan ilmu Ma’rifah karena ilmu ini membahas terhadap hal-hal yang berkenaan dengan sifat-sifat-Nya yang wajib, mustahil, dan jaiz bagi-Nya.
5. Theology Islam
Penulis-penulis barat banyak menggunakan sebutan theology Islam, tentang ilmu Kalam, baik dari segi loghat maupun istilah. Theology terdiri dari dua kata yaitu “theos” yang berarti Tuhan dan “logos” yang berarti ilmu. Oleh karena itu theology bermakna ilmu tentang tuhan atau ilmu tentang ketuhanan.
b) Materi kajian ilmu kalam
I. Aqidah islam
Aqidah Jama’ dari aqoid artinya apa yang dapat diyakini atau dipercayai oleh hati manusia. Sehingga para ulama Kalam banyak mengarang buku yang berpautan dengan Ilmu Kalam memberi judul Aqidah antara lain :
• Ibnu Taymiyah: Aqidah Ahlussunnah
• Almaturidiyah: Risalah bil Aqoid
• Al Ghazali :Al Iqtishod Fil I’tiqod
II. Sebab-sebab penamaan
Adapun ilmu ini dinamakan ilmu Kalam, disebabkan :
a. Persoalan yang terpenting yang menjadi pembicaraan pada abad-abad permulaan hijriah ialah apakah Kalam Allah (Al-qur’an) itu qadim atau hadits.
b. Dasar ilmu Kalam ialah dalil-dalil fikiran dan pengaruh dalil fikiran ini tampak jelas dalam pembicaraan para mutakallimin. Mereka jarang mempergunakan dalil naqli (Al-Qur’an dan hadits), kecuali sesudah menetapkan benarnya pokok persoalan terlebih dahulu berdasarkan dalili-dalil fikiran.
c. Dinamakan Ilmu Kalam karena pembicaraan tentang Tuhan dibahas dengan logika. Maksudnya menggunakan dalil-dalil aqliyah ; dari permasalahan masalah sifat-sifat kalam bagi Allah.
2. Objek studi ilmu kalam
Objek kajian ilmu kalam adalah ketuhanan dan segala sesuatu yang berkaitan dengan-Nya, jadi dilihat dari ospek objeknya ilmu kalam tersebut membahas masalah yang berkaitan dengan masalah ketuhanan. Ilmu kalam dengan metodenya sendiri mencoba mencari kebenaran tentang tuhan, dan dalam pertumbuhannya ilmu kalam (theology) berkembang menjadi teologi rasional dan teologi tradisional, tapi jika dilihat dari aspek manfaat ilmu kalam diantaranya berperan sebagai ilmu yang mengajak orang yang baru untuk mengenal rasio sebagai upaya mengenal tuhan secara rasional.
Objek studi ilmu kalam itu dapat kita bagi menjadi 2 bagian:
a) Objek material
Suatu objek yang memiliki wujud dan nyata bentuknya baik dari keadaannya, bentuk fisik dan lain seperti sumber-sumber dari mana ilmu kalam itu disimpulkan. Sumber-sumber ilmu Kalam sebagai berikut:
1) Al-qur`an
Al-Qur’an sebagai sumber Ilmu Kalam, Al-Qur’an banyak menyinggung hal yang berkaitan dengan masalah ketuhanan, diantaranya adalah :[5]
a. Q.S Al-Ikhlas(112) : 3-4. Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak beranak dan diperanakkan, serta tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang tampak sekutu (sejajar) dengan-Nya.
b. Q.S Asy-Syura(42) : 7. Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak menyerupai apapun di dunia ini. Ia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.
c. Q.S Al-Furqan(25) : 59. Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan Yang Maha Penyayang bertahta di atas “Arsy”. Ia pencipta langit, bumi, dan semua yang ada di antara keduanya.
d. Q.S Al-Fath(48) : 10. Ayat ini menunjukkan Tuhan mempunyai “tangan” yang selalu berada di atas tangan orang-orang yang melakukan sesuatu selama mereka berpegang teguh dengan janji Allah.
e. Q.S Thaha(20): 39. Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan mempunyai “mata” yang selalu digunakan untuk mengawasi seluruh gerak, termasuk gerakan hati makhluk-Nya.
2) Hadist
Hadits Nabi saw. Pun banyak membicarakan masalah-masalah yang dibahas ilmu kalam. Diantaranya adalah :
– Hadits yang artinya : “Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a katanya, Pada suatu hari ketika Rasulullah saw. Berkata bersama kaum muslimin, datanglah
seorang laki-laki kemudian bertanya kepada beliau, “Wahai Rasulullah, ‘apakah yang dimaksudkan dengan iman?’ Rasul menjawab,’ Yaitu, kamu percaya kepada Allah, para malaikat, semua kitab yang diturunkan, hari pertemuan dengan-Nya, para rasul dan hari kebangkitan. ‘Lelaki itu bertanya lagi,’Wahai Rasulullah, apakah pula yang dimaksudkan dengan Islam? Rasulullah menjawab, Islam adalah mengabdikan diri kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan perkara lain, mendirikan shalat yang telah difardhukan, mengeluarkan zakat yang diwajibkan, dan berpuasa pada bulan Ramadhan.’ Kemudian lelaki itu bertanya lagi,’Wahai Rasulullah! Apakah ihsan itu? Rasulullah saw menjawab, ‘Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Sekiranya engkau tidak melihat-Nya, ketahuilah bahwa Dia senantiasa memperhatikanmu.’ Lelaki tersebut bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, bilakah aku tidak lebih tahu darimu, tetapi aku akan ceritakan kepadamu mengenai tanda-tandanya. Apabila seorang hamba melahirkan majikannya, itu adalah sebagian dari tandanya. Apabila seorang miskin menjadi pemimpin masyarakat, itu juga tandanta. Apabila masyarakat yang asalnya pengembala kambing mampu bersaing dalam mendirikan bangunan-bangunan mereka, itu juga tanda akan terjadi kiamat. Hanya lima perkara itu saja sebagian dari tanda-tanda yang kuketahui. Selain dai itu Allah saja Yang Maha Mengetahuinya.’ Kemudian Rasulullah saw, membaca surat Luqman ayat 34,’Sesungguhnya Allah lebih mengetahui bilakah akan terjadi hari kiamat, disamping itu Dialah juga yang menurunkan hujan dan mengetahui apa yang ada dalam rahim ibu yang mengandung. Tiada seorang pun mengetahui apakah yang diusahakannya pada keesokan hari, yaitu baik atau jahat, tiada seorang pun yang mengetahui di manakah dia akan menemui ajalnya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi amat meliputi pengetahuan-Nya.’ Kemudian lelaki itu beranjak dari situ. Rasulullah saw terus bersabda kepada sahabatnya,’Panggil orang
kembali itu.’ Lalu para sahabat mengejar kearah lelaki tersebut dan
memanggilnya kembali, tetapi lelaki tersebut telah hilang. Rasulullah saw. Pun bersabda, ‘lelaki tadi adalah Jibril a.s. kedatangnnya adalah untuk mengajar manusia tentang agama mereka.
Adapula beberapa hadits yang kemudian dipahami sebagian ulama sebagai prediksi Nabi mengenai kemunculan berbagai golongan dalam Ilmu Kalam.
Syaikh Abdul Qadir mengomentari bahwa Hadits yang berkaitan dengan faksi umat ini, yang merupakan salah satu kajian ilmu kalam, mempunyai sanad yang sangat banyak.[6]Diantara sanad yang sampai kepada Nabi adalah berasal dari beberapa sahabat, seperti Anas bin Malik, Abu Hurairah, Abu Ad-Darda, Jabir, Abu said Al-Khudri, Abu Abi Kaab, Abdullah bin Amr bin Al-Ash, Abu Ummah, Watsilah bin Al-Aqsa.
3) pemikiran manusia
Sebelum filsafat Yunani masuk dan berkembang di dunia Islam sendiri atau pemikiran yang berasal dari luar umat Islam.
Sebenarnya umat Islam telah menggunakan rasionalnya untuk menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan ayat-ayat Al-Qur’an, terutama dengan yang belum jelas maksudnya (al-mutasyabihat). Keharusan untuk menggunakan rasio ternyata mendapat pijakan dari beberapa ayat Al-Quran, diantaranya :
Q.S Muhammad (47) : 24
أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
Artinya :“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?”
Ayat serupa dapat ditemukan pada An-Nahl (16) : 68-69, Al-Jaatsiyah(45) : 12-13; Al-Isra’ (17) : 44; Al-An’am (6) : 97-98; At-Taubah (9) : 122; Ath-Thariq (86) : 5-7; Al-Ghatsiyah (88) : 7-20; Shad (38) : 29; Muhammad (47) : 24; An-Nahl : 17; Az-Zumar (39) : 9; Adz-Dzariyat (51) : 47-49, dan lain-lain
4) insting
Secara instingtif, manusia selalu ingin ber-Tuhan dan hal ini telah berkembang sejak adanya manusia pertama. Abbas Mahmoud Al-Akkad menyatakan bahwa keberadaan mitos merupakan asal-usul agama di kalangan orang-orang primitif.
Dikatakan oleh Mustafa Abdul Ar-Raziq bahwa ilmu ini bermula di tangan pemikir Mu’tazilah, Abu Hasyim dan kawannya Imam Al-Hasan bin Muhammad bin Hanafiyah.
Orang pertama yang membentangkan pemikiran Islam secara lebih baik dengan logikanya adalah Imam Al-Asy’ari, tokoh ahli Sunnah Wal Jama’ah, malui tulisan yang terkenal yaitu Al-Maqalat.
b) Objek formal
Objek formal adalah suatu objek yang memiliki tentang sifat ketuhanan, baik dari bentuknya dan sifatnya, seperti hubungan ilmu kalam, filsafat dan tasawwuf. Dan disini objek formal mempunyai 3 hubungan yang sangat dekat hubungannya.
1) Titik persamaan
Dalam ilmu kalam, filsafat, dan tasawwuf mempunyai kesamaan objek kajian. Objek kajian ilmu kalam adalah ketuhanan dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya sedangkan objek kajian filsafat adalah terfokus pada masalah ketuhanannya, disamping masalah alam, manusia dan segala sesuatu yang ada. Sementara itu objek kajian tasawwuf adalah tuhan yakni upaya-upaya pendekatan terhadapnya. Jadi bila dilihat dari objeknya ketiga ilmu tersebut, membahasa masalah yang berkaitan dengan ketuhanan.
Argumentasi filsafat sebagaimana ilmu kalam dibangun diatas logika. Oleh karena itu, hasil kajiannya bersifat spekulatif. Kerelatifan hasil karya logika tiu menyebabkan beragamnya kebenaran yang dihasilkannya.
Baik ilmu kalam, filsafat maupun tasawwuf berusaha dengan hal yang sama yaitu kebenaran ilmu kalam dengan metodenya sendiri berusaha mencari kebenaran tentang tuhan dan yang berkaitan dengannya. Filsafat dengan wataknya sendiri pula berusaha menghampiri kebenaran baik tentang alam maupun manusia atau tentang tuhan, sementara tasawwuf juga dengan metodennya yang tipical berusaha menghampiri kebenaran yang berkaitan dengan perjalanan spiritual menuju tuhan.
2) Titik perbedaan
Pada titik perbedaan kali ini ilmu kalam, filsafat, dan tasawwuf juga memiliki perbedaan dari segi metodologi-Nya, jika illmu kalam sebagai ilmu yang menggunakan logika di samping argumen-argumen naqliyah berfungsi untuk mempertahankan keyakinan ajaran agama yang sangat tampak nilai-nilai apologi-Nya.
Pada dasarnya ilmu kalam itu menggunakan metode dialetika atau dikenal juga dengan istilah dialog keagamaan . oleh karena itu sebagai dialog keagamaan maka ilmu kalam ini berisi keyakinan-keyakinan kebenaran, praktek dan pelaksanaan ajaran agama serta pengalaman keagamaan yang dijelaskan dengan pendekatan rasional.
Sementara itu filsafat adalah ilmu yang digunakan untuk memperoleh kebenaran rasional, metode yang digunakan-Nya pun adalah metode rasional. Filsafat menghampiri kebenaran dengan cara menuangkan akal budi secara radikal dan integral serta universal, tidak mengalami rasa ikatan oleh apapun terkecuali oleh ikatan tangannya sendiri yang bernama logika.
Berkenaan dengan keberagaman kebenaran yang dihasilkan oleh kerja logika maka dalam filsafat dikenal apa yang disebut”kebenaran korespondensi”. Dalam pandangan-nya bahwa kebenaran adalah persesuaian antara pernyataan fakta dan data itu sendiri atau dengan bahasa yang sangat sederhana bahwa kebenaran adalah persesuai antara apa yang ada di dalam rasio dengan kenyataan sebenarnya di alam nyata. Disamping kebenaran korespondensi terdapat juga kebenaran koherensi. Dalam pandangan-Nya kebenaran adalah kesesuaian antara suatu pertimbangan baru dan sesuatu pertimbangan yang telah dilakukan kebenaran-Nya secara umum dan permanen. Jadi kebenaran di anggap tidak benar kalau tidak sesuai dengan kebenaran yang dianggap benar oleh ulama umum.
Disamping 2 macam kebenaran tersebut di atas, di dalam filsafat di kenal juga kebenaran pragmatik. Dalam pandangan-Nya kebenaran adalah sesuatu yang bermanfaat dan mungkin dapat di kerjakan dengan dampak yang memuaskan. Jadi sesuatu itu akan dianggap tidak benar kalau tidak tampak manfaatnya secara nyata dan sulit di kerjakan.
Adapun ilmu tasawwuf adalah ilmu yang lebih menekankan rasa dari pada rasio oleh sebab itu filsafat dan tasawwuf sangat distingtiff. Sebagai sebuah ilmu yang di peroleh dari rasa, ilmu tasawwuf bersifat subyektif yakni sangat berkaitan dengan pengalaman seseorang. Itulah sebabnya bahasa tasawwuf sering tampak aneh bila dilihat dari aspek rasio, karena hal ini pengalaman rasa sangat sulit dibahasakan. Pengalaman rasa lebih mudah dirasakan langsung oleh orang yang ingin memperoleh kebenaran-Nya dan mudah di gambarkan dengan bahasa lambang sehingga sangat dapat di interprestasikan bermacam-macam.
Didalam pertumbuhan-Nya ilmu kalam berkembang menjadi teologi rasional dan teologi tradisional sedangkan filsafat berkembang menjadi sains dan sain berkembang menjadi kealaman, sosial dan humaniora; sedangkan tasawwuf berkembang juga menjadi tasawwuf praktis dan tasawwuf teoritis.
Dan dari ketiga ilmu tersebut jika kita dilhat kembali dari sisi aksiologi, teologi diantaranya berperan sebagai ilmu yang mengajak orang baru untuk mengenal rasio sebagai upaya mengenal tuhan secara rasional. Adapun filsafat lebih berperan sebgai ilmu yang mengajak kepada orang yang mempunyai rasional secara prima untuk mengenal tuhan, adapun tasawwuf lebih berperan sebagai ilmu yang memberi kepuasan kepada orang yang melepaskan rasio-Nya secara bebas.
3) Titik singgung ilmu kalam dan ilmu tasawwuf

Ilmu kalam merupakan disiplin ilmu keislaman yang mengedepankan pembicaraan tentang persoalan-persolan kalam tuhan. Persoalan-persoalan kalam ini biasa-Nya m biasabya bertendensjengarah kepada pembicaraan yang sangat mendalam dengan dasar-dasar argumentasi baik aqliyah maupun naqliyah. Argumentasi aqliyah yang dimaksudkan adalah landasan pemahaman yang cenderung menggunakan metode berfikir filosofis, sedangkan argumentasi naqliya biasanya bertendensi pada argumentasi berupa dalil-dalil al-qur`an dan hadist.
Ilmu Kalam sering menempatkan diri nya pada kedua pendekatan ini ( aqli dan naqli ) suatu metode argumentasi yang dialektik, jika pembicaraan Ilmu Kalam ini hanya berkisar pada keyakinan-keyakinan yang harus dipegang oleh umat Islam tanpa argumentasi rational, ilmu ini lebih spesifik mengambil bentuk sendiri dengan istilah Ilmu Taukhid atau Ilmu Aqo’id.
Pembicaraan materi yang tercakup dalam Ilmu Kalam terkesan tidak menyentuh dzauq ( rasa rohani ), sebagai contoh Ilmu Taukhid menerangkan bahwa Allah Swt itu bersifat Sama’ ( mendengar ), Bashor ( melihat ), Kalam ( berbicara ), Irodah ( berkemauan ), Qudrat ( kuasa ), Hayat ( hidup ) dan sebagainya. Namun, Ilmu Kalam atau Ilmu taukhid tidak menjelaskan bagaimanakah seorang hamba dapat merasakan langsung bahwa Allah Swt mendengar dan melihat nya; Bagaimana pula perasaan hati seseorang ketika membaca al-Qur’an; Dan bagaimana seseorang merasa bahwa segala sesuatu yang tercipta merupakan pengaruh dari Qudrah ( kekuasaan ) Allah Swt ?.
Pertanyaan ini sulit terjawab apabila melandaskan diri pada Ilmu Taukhid atas Ilmu Kalam. Biasanya yang membicarakan tentang penghayatan sampai pada penanaman kejiwaan manusia adalah Ilmu Tasawwuf. Disiplin inilah yang membahas bagaimana merasakan nilai-nilai aqidah dengan memperhatikan bahwa persoalan tadzawwuq ( bagaimana merasakan ) tidak saja termasuk dalam lingkup hal yang sunnah atau dianjurkan tetapi justru termasuk hal yang diwajibkan.
As-sunnah memberikan perhatian yang begitu besar terhadap masalah tadzawwuq. Ini tampak pada hadits Rosulullah Saw yang diriwayatkan oleh Muslim dan Tirmidzi dikutip dari Said Hawwa artinya sebagai berikut : ” Yang merasakan iman adalah orang yang ridha kepada Allah Swt sebagai Tuhan, ridha kepada Islam sebagai agama, dan ridha kepada Muhammad sebagai Rasul ” [15] . Dalam hadit lain Rosulullah Saw pun pernah mengucapkan : ” Ada tiga perkara yang mengakibatkan seseorang dapat merasakan lezatnya iman : Orang yang mencintai Allah Swt dan Rosul Nya lebih dari yang lain ; Orang yang mencintai hamba karena Allah Swt ; dan orang yang takut kembali kepada kekufuran, seperti ketakutannya untuk di masukkan ke dalam api neraka ”.
Pada Ilmu Kalam ditemukan pembahasan Iman dan definisinya, kekafiran dan manifestasinya serta kemunafikan dan batasannya. Adapun pada ilmu tasawwuf ditemukan pembahasan jalan atau metode praktis untuk merasakan keyakinan dan ketentraman, serta upaya menyelamatkan diri dari kemunafikan. Tidaklah cukup bagi seseorang yang hanya mengetahui batasan-batasan kemunafikan pun tetap saja melaksanakannya. Sebagaimana Allah Swt berfirman surat al-Hujurat ( 49 ) ayat 14 yang berbunyi :
قَالَتِ الاْ َعْرَابُ اَمَنَّا قُلْ لَّمْ تُؤْمِنُوْا وَلَكِنْ قُوْلُوْا اَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلُ الاْ ِيْمَنُ فِى قُلُوْبِكُمْ وَاِنْتُطِيْعُوْا اللَّهَ وَرَسُوْلَهُ لاَيَلْتِكُمْ مِّنْ اَعْمَلِكُمْ شَيْئًا اِنَّ اللَّهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Artinya : Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami Telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi Katakanlah ‘kami Telah tunduk’, Karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ” [16].

Ath-Thabari dalam kitab al-Kabir meriwayatkan Hadits shahih dari Ibnu Umar ra Ia berkata : yang artinya :
” Pada suatu hari saya bersama-sama dengan Nabi Saw. Beliau di datangi oleh Hurmalah bin Zaid. Ia duduk di hadapan Nabi Saw seraya berkata : Wahai Rasulullah Saw, iman itu di sini ( seraya menunjukkan ke dadanya ). Kami tidak pernah mengingat Allah Swt, kecuali sedikit. Rasulullah Saw mendiamkannya, maka Hurmalah mengulangi ucapannya tadi, lalu Rasulullah Saw memegang Hurmalah seraya berdo’a : Ya Allah jadikanlah untuknya lisan yang jujur dan hati yang bersyukur, kemudian jadikan dia mencintai orang yang cinta kepadaku, dan jadikanlah urusannya baik. Kemudian Hurmalah berkata : Wahai Rasulullah Saw aku mempunyai banyak teman yang munafik, dan aku adalah pemimpin mereka, tidaklah aku akan memberi tahu nama-nama mereka kepadamu ?. Rasulullah Saw menjawab : Siapa yang datang kepada kami, kami akan mengampuninya sebagaimana kami mengampunimu, dan siapa yang berketetapan hati untuk melaksanakan agamanya, maka Allah Swt lebih utama baginya, janganlah menembus tirai ( hati ) seseorang ”[17].
Dalam kaitannya dengan Ilmu Kalam, Ilmu Tasawwuf berfungsi sebagai pemberi wawasan spiritual dalam pemahaman kalam. Penghayatan yang mendalam lewat hati ( dzauq dan wijan ) terhadap Ilmu Taukhid atau Ilmu Kalam menjadikan ilmu ini lebih terhayati atau teraplikasikan dalam prilaku. Dengan demikian, Ilmu Tasawwuf merupakan penyempurna Ilmu Taukhid jika dilihat bahwa Ilmu Tasawwuf merupakan sisi terapan rohaniah dari Ilmu Taukhid.
Ilmu Kalam pun berfungsi sebagai pengendali ilmu tasawuf, oleh karena itu jika timbul suatu aliran yang bertentangan dengan aqidah atau lahir suatu kepercayaan baru yang bertentangan dengan al-Qur’an dan As-sunnah, hal itu merupakan penyimpangan atau penyelewengan. Jika bertentangan atau tidak pernah di riwayatkan dalam al-Qur’an dan As-sunnah atau belum pernah di riwayatkan oleh ulama-ulama salaf, hal itu harus di tolak.
Selain itu, Ilmu Tasawuf mempunyai fungsi sdebagai pemberi kesadaran rohaniah dalam perdebatan-perdebatan kalam. Sebagaimana disebutkan bahwa Ilmu Kalam dalam dunia Islam cenderung menjadi sebuah ilmu yang mengandung muatan rasional di samping muatan naqliyah. Jika tidak di imbangi oleh kesadaran rohaniah, Ilmu kalam dapat bergerak ke arah lebih liberal dan bebas. Di sinilah Ilmu Tasawuf berfungsi memberi muatan rohaniah sehingga Ilmu Kalam itu tidak terkesan sebagai dialektika keislaman belaka, yang kering dari kesadaran penghayatan atau sentuhan secara qalbiyah ( hati ).
Bahkan amalan-amalan Tasawuf itu mempunyai pengaruh yang sangat besar sekali dalam ketaukhidan. Jika rasa sabar itu sudah tidak ada, umpamanya, maka muncullah ke kufuran. Jika rasa syukurnya itu sedikit, maka lahirlah suatu bentuk kegelapan sebagai reaksi. Begitu juga Ilmu taukhid dapat memberikan kontribusi kepada Ilmu Tasawuf. Sebagai contoh, jika cahaya Taukhid telah lenyap maka akan timbul penyakit-penyakit qalbu, seperti ujub, congkak, riya’ , dengki, hasut dan sombong. Seandainya manusia itu menyadari bahwa Allah Swt yang memberi segala sesuatu itu, niscaya rasa hasud dan dengki itu akan sirna. Kalau saja dia tahu akan kedudukan penghambaan diri, niscaya tidak akan ada rasa sombong. Kalau saja manusia itu menyadari bahwa dia betul-betul sebagai hamba Allah Swt, niscaya tidak akan ada perebutan kekuasaan. Kalau saja manusia itu menyadari bahwa Allah Swt yang menciptakan segala sesuatu itu, niscaya tidak akan ada sifat ujub dan riya’. Maka dari sinilah dapat di lihat bahwa Ilmu taukhid itu merupakan jenjang pertama dalam pendakian menuju Allah Swt ( pendakian para kaum sufi ).
Untuk melihat lebih lanjut hubungan antara Ilmu Tasawwuf dan Ilmu Taukhid alangkah baiknya menengok paparan Imam Al-Ghozali dalam Kitabnya : “ Al-Maqhad al-Asna fi Syarah al-Asma Allah al-Husna “ , dimana Imam al-Ghozali telah menjelaskan dengan baik persoalan-persoalan taukhid kepada Allah Swt, terutama ketika menjelaskan nama-nama Allah Swt, materi pokok Ilmu Taukhid. Menurutnya nama Tuhan Ar-Rahman dan Ar-Rokhim pada aplikasi rohaniah nya merupakan sebuah sifat yang harus diteladani. Jika sifat Ar-Rahman itu di aplikasikan seseorang akan memandang bahwa orang durhaka dengan kelembutan bukan kekasaran; melihat orang dengan mata Ar-Rokhim bukan dengan mata yang hina, bahkan ia mencurahkan ke-rakhim-an nya kepada orang yang durhaka agar dapat diselamatkan. Jika melihat orang lain menderita atau sakit, orang yang rakhim akan segera menolongnya[18]. Nama lain Allah Swt yang patut diteladani adalah al-Qudus ( Maha Suci ) seorang hamba akan suci kalau berhasil membebaskan pengetahuan dan kehendaknya dari khayalan dan segala persepsi yang dimiliki binatang[19].
Jadi dengan Ilmu Tasawwuf semua persoalan yang berada dalam kajian Ilmu Taukhid terasa lebih bermakna, tidak kaku, akan tetapi lebih dinamis dan aplikatif

BAB III
PENUTUP
Dengan mempelajari materi Ilmu Kalam ini, mudah-mudahan dapat memberikan sedikit pemahaman bagi mahasiswa yang membacanya. Karena Ilmu Kalam ini sangat penting untuk memahami apa-apa yang telah menjadi firqoh-firqoh di dalamnya. Jangan sampai kita ini hanya tahu itu apa,melainkan kita harus memahami latar belakang, maksud dan tujuan dari
pemahamann dalam ilmu kalam tadi.

DAFTARPUSTAKA
– Nasir,H.Shilun A. 1991. Pengantar Ilmu Kalam.Jakarta : CV. Rajawali
– Anwar,DR Rosihon & DR. Abdul Rozak. IlmuKalam. Bandung : Pustaka Setia.
– Hanafi,Ahmad. 1988 Theology Islam (Ilmu Kalam).Bulan Bintang.
– Departemen Agama R.I., 2005. Al-Qur’an dan Terjemahnya. PT. Syaamil.
– Hadits Web. 3.0, Kumpulan dan Refensi Belajar Hadits, Al-Qur’an dan terjemahannya. 2008.
– Abd Al-Qadir bin Thahir bin Muhammad Al-Ishfiraini At-Taimi, Al-Farq bain AlFiraq, Muhammad Ali Shahib wa Auladuh, Mesir,1037.
– William L Reese, Dictionary of Philosofy and Religion, Humanities Press Ltd, USA, 1980.
[1] Fath Al-Bari, I/169
[2] Al-Qardhawy,Ar Rasul wa Al-Ilm.
[3] William L Reese, Dictionary of Philosofy andReligion, Humanities Press Ltd, USA, 1980, h. 28
[4] Ibid.
[5] Mustafa Abd Ar-Raziq, Tamhid li Tarikh Al-Falsafah Al-Islamiyah,Lajnah wa At-Tha’lif wa
At-Tarjamah wa An-Nasyr, 1959, h.265.
[6] Abd Al-Qadir bin Thahir bin Muhammad Al-Ishfiraini At-Taimi, Al-Farq bain AlFiraq, Muhammad Ali Shahib wa Auladuh, Mesir,1037, hal. 810
[7] Hadits Web. 3.0, Kumpulan dan Refensi Belajar Hadits, Al-Qur’an dan terjemahannya.
2008.
Said Hawwa ( Terj ) Khairul Rafi’ dan Ibnu Thoha Ali ( 1997 ). Tarbiyatur ar-Ruhiyah, Bandung : Mizan, hal : 67.
[16] . Depag, RI ( 1982 ). Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta : Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al- Qur’an, l : 848.
[17] . Said Hawwa ( Terj ) Khairul Rafi’ dan Ibnu Thoha Ali ( 1997 ). Op. cit, hal : 68.
[18] . al-Ghozali ( Terj ) Ilyas Hasan ( 1998 ). al-Maqhad al-Asma fi Syarh al-Asma Allah al-Husna, Bandung : Mizan, hal : 73 – 74.
[19] . Ibid, hal : 80.

This entry was posted in kelas KPI 1A. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s