SISTEMATIKA PEMBAHASAN DAN METODE PEMBAHSAN

MAKALAH

SISTEMATIKA PEMBAHASAN DAN METODE PEMBAHSAN

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

“ILMU KALAM”

Dosen Pembimbing :

Drs. Masduqi Affandi, M. Pd. I

Disusun Oleh :

Kelas J 1

Vivin Herdiana Puspita Sari   (NIM B07210120)

Jefry Pradana                          (NIM B07210123)

Nurul Chikmatus Tsurayya     (NIM B07210121)

FAKULTAS DAKWAH

PROGRAM STUDY PSIKOLOGI

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI

SUNAN AMPEL SURABAYA

2010

DAFTAR ISI

Kata Pengantar…………………………………………………………………………  I

Daftar Isi………………………………………………………………………………..II

BAB I  PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah…………………………………………………….1

B.     Rumusan Masalah…………………………………………………………..2

C.     Tujuan……………………………………………………………………….3

BAB II  PEMBAHASAN

A.    Pembahasan Ilmu Kalam Menurut Sistem Mutakalimin……………………4

B.     Metode pemikiran menurut golongan-golongan

a.       Metode Mu’tazilah dalam menemukan dalil ‘aqidah……………………6

b.      Metode berpikir Al-maturidi…………………………………………….6

c.       Metode salaf……………………………………………………………..7

C.     Studi kritis ilmu kalam

a.       Aspek Epistomologi…………………………………………………….8

b.      Aspek Ontologi………………………………………………………….9

c.       Aspek Aksiologi…………………………………………………………9

BAB III  PENUTUP

A.    Simpulan…………………………………………………………………..11

B.     Saran………………………………………………………………………11

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………12

KATA PENGANTAR

Assalamu alaikum Wr.Wb

Puji syukur kami panjatkan kepada ALLAH SWT, yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya kepada kami semua sehingga tugas mata kuliah “Ilmu kalam (Aqidah)” yang diberikan oleh dosen pembimbing mata kuliah kami, Bapak  Drs. Masqudi Affandi, M. Pd. I dengan judul ”Sistematika Pembahasan dan Metode Pembahasan” dapat diselesaikan Insya Allah dengan baik dan lancar.

Demikian tugas ini disusun semoga dapat bermanfaat bagi mahasiswa mahasiswi Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya atau bagi siapapun kedepannya. Kami mohon maaf jika banyak terjadi kesalahan maupun kekurangan dalam penyusunan makalah ini baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja, karena kami yakin kesempurnaan hanyalah milik ALLAH semata.

Wassalamu alaikum Wr.Wb

Surabaya, 2 Januari 2010

Penyusun

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Dalam menunjukkan dalil, Al-Qur’an selalu menggugah fitrah manusia atau seluruhnya memperhatikannya struktur alam dengan segala keindahannya, di mana alam ini merupakan dalil tentang wujud Allah.

Al-Qur’an adalah kitab suci yang ditunjukan kepada setiap orang baik, orang awam  maupun orang cendekiawan. Orang awam disuruh melihat dan memperhatikan alam untuk menilai kebesaran Allah. Para cendikiawan menyelidiki, menilai dengan seksama, akhirnya mereka beriman kepada Allah. Al-Qur’an memang bukan kitab filsafat, sebab ia tidak hanya diperuntukkan kepada ahli-ahli filsafat dan ahli mantiq saja. Karena kalau demikian, maka Al-Qur’an itu tidak akan difahami oleh orang awam.

Para mutakallimin mempunyai cirri khusus dalam membahas ilmu kalam, yang berbeda dengan ulama’-ulama’ yang lain. Ahmed Ameen menerangkan demikian.

“Sesungguhnya mutakallimin itu mempunyai system tersendiri di dalam membahas, menetapakan, dan berdalil. Berbeda dengan system Al-Qur’an dan hadits serta fatwa-fatwa sahabat. Dari segi lain, berbeda dengan system falsafat dalam membahas, menetapkan dan berdalil. System mereka berbeda dengan system orang-orang sebelumnya dan sesudahnya. Untuk itu akan kami jelaskan secara singkat. Adapaun perbedaan mereka dengan system Al-Qur’an ialah karena Al-Qur’an itu mendasarkan seruannya, berpegang pada fitrah manusia. Hampir setiap manusia, dengan fitrahnya mengakui adanya Tuhan, Tuhan yang menciptakan dan mengatur alam. Hampir setiap manusia dengan fitrahnya sepakat terhadap hal tersebut, sekalipun  berbeda menamakan Tuhan itu dan menyebutkan sifat-sifat –Nya”.

B.     Rumusan Masalah

1.      Bagaimana Ilmu Kalam Menurut Sistem Mutakalim

2.      Macam-Macam Metode Pemikiran Menurut Golongan-Golongan

3.      Macam-Macam Studi Kritis Ilmu Kalam

C.     Tujuan Masalah

1.      Menjelaskan Ilmu Kalam Menurut Sistem Mutakalim

2.      Menjelaskan Metode Pemikiran Menurut Golongan-Golongan

3.      Menjelaskan Macam-Macam Studi Kritis Ilmu Kalam

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pembahasan Ilmu Kalam Menurut Sistem Mutakalim

Meskipun mutakillimin menggunakan akal untuk mencari Tuhan tetapi mereka tidak puas, karena ada hal-hal yang di luar jangkauan kekuasaan akal manusia, yaitu masalah dogma. Menurut orang-orang barat, dogma itu berada di bawah akal, agar dihukumi oleh akal, maka rahasia dogma itu menjadi tidak rahasia akal, kemudian ditolaknya. Tauhid adalah berbeda dengan dogma. Sebab dengan akal, manusia mencari Tuhan, dengan jalan memperhatikan alam semesta.

Akal manusia menetapkan bahwa Allah itu suci dari jisim. Sebab Allah bersifat

ليس كمثله شيء tidak ada sesuatu yang semisal dengan-Nya. Terhadap nash-nash mutasyabihat, kaum muslimin pada masa-masa pertama percaya sepenuhnya terhadap nash-nash tersebut, tanpa membahas sedikitpun dan menyerahkannya segala maksudnya kepada Allah.[1]

Ada beberapa pendapat menurut nash-nash mutasyabihat :

1.      Golongan salaf ; mempercayai sepenuhnya kapada nash-nash mutasyabihat. Tetapi mereka menyerahkan maksud yang sebenarnya kepada Allah. Mereka percaya pada يد ا لله, tangan Allah, tetapi keadaan-Nya berbeda dengan tangan manusia. Maksud sebenarnya mereka serahkan sepenuhnya kepada Allah.

2.      Golongan Mu’atthilah ; berpendapat bahwa kalimat-kalimat yang mengandung sifat-sifat Allah yang tampaknya serupa dengan sifat-sifat makhluk-Nya yang terdapat pada nash-nash mutasyabihat, harus dinafikan (ditiadakan) dari Allah bersifat semacam itu. Agar dengan demikian dapat dengan sungguh-sungguh mentaqdiskan atau mensucikan Allah dari serupa dengan makhluk-Nya.

3.      Golongan Mujassimah atau Musyabbihah. Golongan ini dipimpin oleh Dawud Al-Jawariby dan Hisyam bin Hakam Ar-Rafidly. Mereka berpendapat bahwa ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi mengenai nash-nash mitasyabihat harus diartikan menurut lahirnya (letterlijk) saja.

4.      Golongan Khalaf ; mempercayai bahwa nash-nash mutasyabihat itu menerangkan tentang sifat-sifat Allah yang tampaknya menyerupai dengan makhluk-Nya itu, adalah kalimat-kalimat majaz. Oleh karena itu harus di takwilkan sesuai dengan sifat keagungan dan kesempurnaan-Nya. Seperti :

يد ا لله – diartikan kekuasaan Allah.

وجه الله – diartikan Dzat Allah.

من في السماء – diartikan Dzat yang mengusai langit.

Adapun sebab-sebab golongan salaf tidak mengadakan takwil itu ialah :

a.       Pembahasan nash-nash mutasyabihat itu tidak memberi manfaat bagi orang awam.

b.      Segala yang berhubungan dengan Dzat dan sifat Allah, adalah di luar akal yang tidak mungkin manusia dapat mencapai-Nya, kecuali dengan jalan mengqiyasakan Allah pada sesuatu. Ini adalah kesalahan yang sangat besar.[2]

Adapun system mutakallimin ialah beriman kepada Allah dan segala apa yang dibawa oleh Rasul-Nya. Akan tetapi mereka perkuat dengan dalil-dalil akal yang disusun secara mantiq.

Mengenai nash-nash mutasyabihat, para mutakallimin tidak merasa puas dengan beriman secara ijmaly saja, tanpa mengadakan takwil. Maka mereka mengumpulkan nash-nash yang pada lahirnya bertentangan, seperti nash-nash yang diterministis, indeterministis, dan antropomorphistis.

Mereka mentakwilkan nash-nash tersebut dan takwilan itu adalah ciri khusus daripada mutakallimin. Mentakwilkan nash-nash ini member kebebasan pada akal untuk membahas dan memikirkannya.

B. Metode pemikiran menurut golongan-golongan

a.       Metode Mu’tazilah dalam menemukan dalil ‘aqidah

Dalam menemukan dalil untuk menetapkan aqidah, Mu’tazilah berpegang pada premis-premis logika, kecuali dalam masalah-masalah yang tidak dapat diketahui selain dengan dalil naqli (teks) kepercayaan mereka terhadap kekuatan akal hanya dibatasi oleh penghormatan mereka terhadap perintah-perintah syara’.

b.      Metode berpikir Al-maturidi

Al-maturidi berpegang pada keputusan akal pikiran dalam hal-hal yang tidak bertentangan dengan syara’. Sebaliknya jika hal itu bertentangan dengan syara’ maka akal harus tunduk kepada keputusan syara’.

c.       Metode berpikir salaf

Menempatkan akal berjalan dibelakang dalil naqli, mendukung dan menguatkannya. Akal tidak berdiri sendiri untuk dipergunakan menjadi dalil, tetapi ia mendekatkan ma’na-ma’na nash.

C. Studi kritis ilmu kalam

Secara garis besar, titik kelemahan ilmu kalam yang menjadi sorotan para pengkritiknya berputar pada tiga aspek :

a.       Aspek Epistomologi

Pada pembahasan ini adalah cara yang digunakan oleh para pemuka aliran kalam

dalam menyelesaikan persoalan kalam, terutama ketika mereka menafsirkan Al-Qur’an.

b.      Aspek Ontologi

Harus diakui bahwa diskursus alira-aliran kalam yang ada hanya berkisar pada persoalan-persoalan ketuhanan dan yang berkaitan dengannya yang terkesan “mengawang-awang” dan jauh dari persoalan kehidupan umat manusia. Kalaupun tetap dipertahankan diskursus aliran kalam juga menyentuh persoalan kehidupan manusia, persoalan itu adalah sesuatu yang terjadi pada masa lampau, yang nota bennya berbeda dengan persoalan-persoalan kehidupan manusia masa kini. Dengan demikian, ilmu kalam tidak dapat diandalkan untuk memecahkan masalah.

c.       Aspek Aksiologi

Kritikan yang dialamatkan pada aspek Aksiologi ilmu kalam juga menyentuh persoalan-persoalan kehidupan manusia masa kini. Dengan demikian, ilmu kalam tidak dapat diandalkan untuk memecahkan persoalan-persoalan. Al- Ghazali, sebagai seorang tokoh ahli kalam klasik, dapat disebut sebagai cendekiawan muslim yang mempermasalahkan hal ini. Ia tidak serta menolak ilmu kalam, tetapi menggaris bawahi keterbatasan-keterbatasan ilmu ini sehingga berkesimpulan bahwa ilmu ini tidak dapat mengantarkan manusia untuk mendekati tuhan. Hanya kehidupan sufi-lah yang dapat mengantarkan seseorang dekat dengan tuhan. Mungkin karena diantara alasan ini pula, Ibnu Taimiyah dengan penuh semangat menganjurkan kaum muslimin untuk menjahui ilmu kalam seperti halnya orang menjahui singa.[3]

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan makalah tersebut, maka dapat kita simpulkan sebagai berikut:

1.      Mengenai nash-nash mutasyabihat, para mutakallimin tidak merasa puas dengan beriman secara ijmaly saja, tanpa mengadakan takwil. Maka mereka mengumpulkan nash-nash yang pada lahirnya bertentangan, seperti nash-nash yang diterministis, indeterministis, dan antropomorphistis.

2.      Metode Menurut Pemikiran Shalaf

§  Metode Mu’tazilah dalam menemukan dalil ‘aqidah. Dalam menemukan dalil untuk menetapkan aqidah, Mu’tazilah berpegang pada premis-premis logika,

§  Metode berpikir Al-maturidi. Al-maturidi berpegang pada keputusan akal pikiran dalam hal-hal yang tidak bertentangan dengan syara’.

§  Metode berpikir salaf. Menempatkan akal berjalan dibelakang dalil naqli, mendukung dan menguatkannya.

3.       Secara garis besar, titik kelemahan ilmu kalam yang menjadi sorotan para pengkritiknya berputar pada tiga aspek : Aspek Epistomologi, Aspek Aksiologi dan Aspek Ontologi.

B.   Saran

Dari pembahasan makalah ini, kami mengajukan saran-saran sebagai berikut:

1.      Sebagai seorang umat islam yang baik hendaknya kita selalu berpedoman pada kitab suci Al-qur’an dan mempelajarinya dengan baik dan benar.

2.      Selagi kita masih diberikan kesempatan, hendaknya kita memperbanyak amal ibadah kita.

DAFTAR PUSTAKA

Rozak, dkk. 2006. Ilmu Kalam, Bandung: CV. Pustaka Setia

Ghozali, dkk. 2003. Perkebangan Ilmu Kalam, Bandung: CV. Pustaka Setia


[1] . Rozak, dkk. 2006. Ilmu Kalam, Bandung: CV. Pustaka Setia

[2] . Ghozali, dkk. 2003. Perkebangan Ilmu Kalam, Bandung: CV. Pustaka Setia

[3] . Rozak, dkk. 2006. Ilmu Kalam, Bandung: CV. Pustaka Setia

This entry was posted in kelas 1 j2. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s