bukti bukti adanya tuhan

Bukti – bukti Adanya Allah SWT
Makalah
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
”Aqidah”

Disusun oleh:
Irma Firda A. (B77210108)
Prameyta Wiyasari (B77210109)
Roy Prabowo (B77210111)

FAKULTAS DAKWAH
PROGRAM STUDI ILMU PSIKOLOGI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SUNAN AMPEL SURABAYA
2010

Kata Pengantar

Assalamu Alaikum Wr. Wb

Segala puji syukur kehadirat ALLAH SWT, karena atas limpahan rahmat, taufik, serta hidayah -NYA yang telah memberikan segala karunianya sehingga kami kelompok 11 bisa menyelesaikan pembuatan makalah yang telah diberikan kepada kami selaku penulis dengan judul “bukti – bukti adanya tuhan” ini dengan baik dan tepat waktu tanpa menemui halangan yang berarti.
Tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang turut berpartisipasi dalam penyelesaian makalah ini, khususnya bagi anggota kelompok 11. Makalah ini kami buat dengan tujuan untuk memenuhi tugas Aqidah serta untuk memberikan informasi kepada pembaca untuk hal –hal yang berkaitan dengan bukti – bukti adanya tuhan.
Kami sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu saran dan kritik yang bersifat membangun sangat membantu penulis agar lebih baik dimasa mendatang. Dan terakhir penulis berharap semoga makalah ini dapat memberikan gambaran kepada kita sekaligus penambah wawasan.

Wasaalamu Alaikum Wr. Wb

Surabaya, September 2010

BAB I
PENDAHULUAN

A.LATAR BELAKANG

Bertemu dengan Allah tidak harus ketika kita sedang salat, berdoa dengan kusyu’ atau mengunjungi masjid, baru setelah itu kita bisa bertemu dengan Allah swt melainkan bertemu Allah bisa kapan saja dan dimana saja. Segala macam bentuk peristiwa yang terhampar di sekitar kita sebenarnya adalah media untuk bertemu dengan Dzat Yang Maha Hadir itu.
Di mulai dari cerita rumah tangga, cerita di seputar rezeki, kesehatan, interaksi social, sampai kepada ilmu pengetahuan. Kita sebagai hamba Allah yang diberi karunia akal dan pikiran seharusnya bisa melihat kehadiran Allah di balik peristiwa tersebut.
Oleh karena itu dalam makalah ini kami akan mencoba untuk membahas tentang kajian singkat mengenai bukti – bukti adanya tuhan. Dengan berbagai karakteristik yang banyak kita jumpai di sekitar kita.

B. RUMUSAN MASALAH
Setelah melihat penjelasan dalam latar belakang diatas, Dan melihat masalah yang terjadi didalamnya, maka kami menarik sebuah permasalahan yang menjadi pembahasan di dalam makalah ini. Dengan pertimbangan tersebut maka pembahasan makalah meliputi:
1. bukti – bukti adanya Allah SWT
2. sifat – sifat Allah SWT

C. TUJUAN
Tujuan dari pembuatan makalah kali ini adalah:
1. Bagi penulis
a. dapat menambah wawasan penulis tentang pemahaman dalam
menguasai materi dalam mata kuliah Aqidah.
b. menjadikan setiap manusia dapat bertemu dengan Allah SWT di setiap langkah dan gerak hatinya
2. Bagi pembaca
Dapat digunakan sebagai bahan kajian dan bahan referansi dalam pembuatan makalah yang berkaitan dengan materi yang saya sajikan pada lain waktu maupun sebagai bahan bacaan di waktu senggang. Menjelaskan tentang hal – hal yang berkaitan dengan bukti – bukti adanya tuhan YME sehingga para pembaca mampu memahami, mengambil pelajaran, brfikir, dan selalu percaya bahwa Allah SWT itu benar adanya.

BAB II
PEMBAHASAN

A.Bukti – bukti adanya Allah SWT
Dalam hal ini sebenarnya, bukan soal ada atau tidak adanya Allah SWT, melainkan soal bagaimana kita bisa mengenal bahwa Dia ada atau tidak ada. Keberadaan Allah SWT tak dapat dibuktikan, melainkan dikenali dan dialami, hanya dipercaya begitu saja menurut pengalaman.
Jadi yang harus dibuktikan adalah anggapan para ateis, bahwa Allah SWT tidak ada. Yang harus dibuktikan ialah bisakah diterangkan asal dan tujuan hidup kita di dunia ini tanpa iman kepada Allah SWT? Bisakah dijelaskan secara rasional tanpa iman mengapa alam semesta ini ada dan proses evolusi itu berlangsung
Jadi sebenarnya bukan terletak pada obyek yang mau dibuktikan keberadaannya, melainkan pada keputusan kita untuk meyakini adanya obyek yang mau dibuktikan itu. Obyek tidak pernah dikatakan nyata. Dia hanya entah ada atau tidak ada. Yang nyata adalah orang yang membuat statement tentang obyek tsb. Contohnya tidak sulit. Misalkan seseorang memberikan statement: planet yupiter itu ada. Kita tidak akan bisa mengatakan, yupiter itu nyata. Yupiter itu ada atau tidak ada. Statement bahwa Yupiter ada itu bisa benar atau salah, tetapi yupiter sendiri tidak bisa dikatakan nyata. Orang yang membuat statement itulah yang disebut nyata atau tidak. Bila statementnya dibantu oleh bukti – bukti yang kuat, maka kita mengatakan Yupiter itu nyata. Sebaliknya ia kita sebut tidak nyata, bila ia berpegang pada statementnya, tanpa adanya bukti yang mendukung keberadaan Yupiter. Pernyataan ini bisa kita terapkan pada pertanyaan mengenai keberadaan adanya Allah SWT. Hal itu tidak terletak pada Allah SWT, melainkan pada orang yang percaya kepada Allah SWT. Seorang yang percaya kepada Allah SWT, kita sebut nyata, bila ia memang memiliki alasan-alasan yang lebih mendukung kepercayaannya itu daripada ketidakpercayaannya, jadi itu semacam “bukti”.
Untuk membuktikan bahwa Allah berkarya di dalam dunia tak dapat ditunjuk misalnya terjadinya mukjijat, sebab itu mengandaikan bahwa dunia bisa berjalan dengan sendirinya di luar kendali Allah SWT, dan hanya sekali-sekali Allah SWT menyentuhkan jari ke dunia bila terjadi mukjijat, yang sangat jarang terjadi. Padahal dunia dan segala isinya adalah ciptaan Allah SWT. Bahwa air mengalir, angin berhembus, pohon bertumbuh, anak lahir, itu semua termasuk dalam karya Allah SWT. Dan sebenarnya dalam kasus ini hanya satu jawaban: keberadaan Allah SWT tidak bisa dibuktikan, melainkan dialami dan dikenali. Dan dalam hal ini seseorang disebut rasional, bila ia mempercayai pengalamannya.

B.Sifat – Sifat Allah SWT
Dalam berbagai buku tentang Teologi Islam, pembicaraan tentang sifat – sifat Tuhan banyak melibatkan aliran Mu’tazilah, Asy’ariyyah, dan Maturidiyyah. Perbedaan pendapat antara aliran tersebut sangat tajam. Di satu sisi, Mu’tazilah mengatakan bahwa Tuhan tidak bersifat. Di sisi lain, Asy’ariyyah dan Maturidiyyah mengatakan bahwa Tuhan niscaya bersifat.
Alasan mengapa Mu’tazilah mengingkari sifat – sifat Tuhan tidak benar – benar jelas. Mahmud Subhi berpendapat bahwa pemikiran Mu’tazilah ini dilatarbelakangi oleh konsep Nasrani tentang sifat Tuhan. Dalam ajaran nasrani, ‘Isa al-Masih adalah seorang manusia, tetapi dalam dirinya terdapat sifat Tuhan. Keberadaan sifat itu membawa arti dalam diri ‘Isa terdapat ta’addud, yaitu ‘Isa sebagai manusia dan juga sifatnya sebagai Tuhan. Tampaknya, ajaran Nasrani tentang sifat ini menjadi perbandingan bagi konsep Mu’tazilah tentang sifat Tuhan dalam Islam. Oleh sebab itu, factor yang menyebabkan Mu’tazilah meniadakan sifat Tuhan adalah demi mempertahankan keesaan Tuhan yang dikenal dengan paham tawhid.
Seperti mazhab kalam yang lain, Mu’tazilah berkeyakinan akan kemahaesaan Tuhan. Menurut mereka, keesaan Tuhan itu adlah “tiada suatu pun yang pantas menyertai keberadaan tuhan.” Yang dikhawatirkan Mu’tazilah di sini adalah jika Tuhan memiliki sifat, sifat – sifat Tuhan itu tentunya kekal sebagaimana kekalnya zat Tuhan. Mu’tazilah percaya bahwa paham ini bisa merusak ajaran tauhid menjadi syirik. Untuk menghindari kerusakan tauhid menjadi syirik, Mu’tazilah akhirnya meniadakan sifat Tuhan.
Dengan lebih filosofis, Abu al-Hudzayl menyatakan bahwa jika Tuhan bersifat, maka akan ada unsur susunan pada diri Tuhan. Susunan itu membawa kepada adanya bagian – bagian. Bagian – bagian yang terjadi adalah zat dan sifat yang sama – sama kadim dan setiap yang kadim ialah Tuhan. Disinilah, menurut Abu al-Hudzayl, paham syirik muncul karena zat dan sifat merupakan dua unsure yang membawa implikasi bahwa tuhan mengandung arti banyak. Oleh sebab itu, Tuhan pasti tidak bersifat seperti manusia.
Meski Tuhan tidak bersifat, bukan berarti bahwa tuhan tidak mengetahui, tidak melihat, tidak berkuasa dan sebagainya. Namun, Tuhan tetap mengetahui dengan Dzat-Nya, bukan dengan pengetahuan. Tuhan tetap melihat dengan Dzat-Nya, bukan dengan penglihatan. Tuhan tetap berkuasa dengan Dzat-Nya, bukan dengan kekuasaan.
Terdapat sebagian tokoh Mu’tazilah(tidak diketahui namanya) yang mengatakan bahwa pemberian sifat kepada Tuhan hanya bertujuan sekedar memberitahukan kepada manusia bahwa Tuhan itu Maha Sempurna. Jadi, pemberian sifat – sifat itu bukan benar – benar adanya kepada Tuhan, melainkan hanya sekedar metode untuk memperkuat keyakinan manusia kepada Tuhan.
Mazhab Asy’ariyyah memberikan keterangan yang bertentangan dengan pemikiran Mu’tazilah. Jika Mu’tazilah mengatakan bahwa Tuhan tidak bersifat, Asy’ariyyah berpendirian bahwa Tuhan bersifat. Menurut Asy’ariyyah, ‘ilm,qudrah,iradah,hayah dan lain – lain adalah sifat Tuhan. Tapi, sifat Tuhan itu berbeda dengan sifat – sifat makhluk. Hal itu, menurut Al-Asy’ari, adalah karena Al Qur’an banyak menggunakan kata ‘alim. Kata ini tidak akan ada artinya kecuali Tuhan memang berilmu. Kata Qadir tidak akan ada artinya kecuali Tuhan memang berkuasa. Semua sifat yang melekat pada zat Allah itu adalah kadim dan azali. Al-Asy’ari berpendapat bahwa orang yang meyakini keberadaan sifat – sifat Tuhan itu bukanlah musyrik. Jadi Al-Asy’ari berpendapat bahwa Tuhan mempunyai sifat yang bukan zat tetpi terletak dan menyatu dalam zat, bukan seperti paham Mu’tazilah.
Sejalan dengan pemikiran Al-Asy’ari, Al-Maturidi mengatakan bahwa Allah mempunyai beberapa sifat. Tuhan Maha Kuasa,Maha Mengetahui dan lain-lain seperti yang terdapat dalam Al Qur’an. Rasulullah SAW juga menjelaskan demikian, Al Maturidi beralasan mengapa Tuhan bersifat, karena Dia sendiri mengatakan bahwa Dia Maha Kuasa,Maha Mengetahui, Maha Mendengar dan sebagainya. Dengan demikian, menurut Al Maturidi, Tuhan mengetahui dengan pengetahuan-Nya, berkuasa dengan kekuasaan-Nya bukan dengan zat-Nya.
Pemikiran tentang keberadaan sifat Tuhan juga dipertahankan oleh al-Bazdawi. Ia berpendapat bahwa sifat Tuhan itu tidak lain dari Allah SWT.
BAB III
SIMPULAN

Allah SWT adalah satu – satunya Tuhan dan tak ada bandingannya. Ayat Al Qur’an suci yang memperkuat fakta bahwa Allah Maha Terpuji adalah satu – satunya Tuhan dan tidak ada sekutu dalam otoritas-Nya, atau tidak ada bandingan-Nya, atau tidak berputra, tak berputri, tak berkeluarga, banyak jumlah-Nya, Allah ta’ala berfirman “(dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan – pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan – pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tak ada sesuatupun yang serupa dengan dia. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy – Syura:11)
Hanya Allah SWT Sang Pencipta. Hanya Allah SWT sajalah yang menciptakan dari ketiadaan. Dia hanya Dia, Sang Pencipta, sedangkan selainnya adalah ciptaan – Nya segala yang ada di alam semesta ini, binatang – binatang, bumi, gunung, lautan, sungai, tumbuhan, makhluk kecil atau besar dan manusia yang hidup di muka bumi, semuanya adalah makhluk-Nya. Dan masih banyak lagi bukti – bukti adanya Tuhan, ayat yang menegaskan fakta ini adalah : “Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. Kepunyaan-Nyalah kunci – kunci(pembendaharaan) langit dan bumi. Dan orang – orang yang kafir terhadap ayat – ayat Allah, mereka itulah orang – orang yang merugi (QS. Az – Zumar 62-63)
Jadi telah jelas dan telah diperjelas dengan ayat – ayat diatas, jika Allah SWT ada dan mengatur seisi alam semesta ini.

Daftar Pustaka

Djafri, Taufik. 2008. Bertemu Allah tak harus di surga. Surabaya : PADMA press

Mansur, Yusuf. 2006 (cet. 4). Mencari Tuhan Yang hilang. Jakarta timur : Lini Zikrul Media Intelektual

Al-Jibouri, Yasin T. Konsep Tuhan

Rusyd, Ibn. 2004. Tujuh Perdebatan Utama dalam Teologi Islam. Jakarta : Raneka Cipta

Aqidah Muslim. Jakarta : Pedoman Ilmu Jaya

This entry was posted in kelas 1 j2. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s