khawarij dan syiah

Kelompok 8

kelas : 1/ J2 psikologi

Endang Dwi Astutik (B37210096)

Iffah Fatkhi Fadhilah (B37210098)

Doni Mustofa (B77210105)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Setiap orang yang ingin mengetahui seluk beluk agamanya secara mendalam, perlu mempelajari teologi yang terdapat dalam agamanya. Mempelajari teologi akan memberikan kepada seseorang keyakinan yang didasarkan pada landasan yang kuat, yang tidak mudah diombang-ambingkan oleh perubahan zaman. Teologi Islam disebut juga “Ilmu Kalam”. Dinamakan demikian, karena masalah “kalam” atau firman Tuhan, yaitu Al- Quran, pernah menjadi polemic yang menimbulkan pertentangan-pertentangan keras dikalangan umat Islam, terutama dalam abad 9 sampai 10 Masehi yang membawa kepada penganiayaan-penganiayaan bahkan pembunuhan- pembunuhan terhadap sesama muslim pada waktu itu. Dalam Islam sebenarnya terdapat lebih dari satu aliran teologi. Ada aliran yang bersifat liberal, ada yang bersifat tradisional dan ada pula yang bersifat tengah-tengah antara liberal dan tradisional. Hal ini mungkin ada hikmahnya. Orang yang bersifat tradisional dalam pemikirannya, mungkin lebih sesuai dan dapat menerima paham-paham dari ajaran teologi tradisional. Sedangkan orang yang bersifat liberal dalam pemikirannya, mungkin lebih sesuai dan dapat menerima paham-paham dari ajaran teologi liberal. Adapun beberapa aliran teologi dalam Islam, yaitu aliran Khawarij, aliran Syiah. Oleh karena itu dalam makalahini kami mencoba menjelakan sedikit tentang pemikiran ilmu kalam (aliran Khawarij dan aliran Syiah).

makalah ini akan mencoba untuk memberikan sebuah gambaran-gambaran tentang seluk beluk aliran khawarij dan syiah, entah itu dari latar belakng munculnya golongan ini, doktrin-doktrin yang digunakan oleh mereka.

1.2. Tujuan

Makalah ini dibuat bertujuan menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan aliran khawarij dan aliran syiah sehingga para pembaca yang belum mengetahuinya menjadi tahu, setelah membaca dan memahami aliran khwarij dan aliran syiah diharapkan para pembaca mampu memahami, dan mengerti aliran khawarin dan aliran syiah.

1.3. Rumusan Masalah

Dari latar belakang masalah di atas, penulis dapat merumuskan masalah :

1.Apa yang dimaksud dengan khawarij?

2.Apa yang melatar belakangi timbulnya khawarij ?

3.Bagiamana perkembangan sekte-sekte khawarij ?

4.Apa yang dimaksud dengan syiah ?

5.Apa yang melatar belakangi timbulnya syiah ?

6. Bagaimana perkembangan sekte-sekte syiah ?

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Khawarij

Khawarij adalah aliran kalam  pertama dalam sejarah Islam pada abad ke 1 hijriah. Aliran khawarij ini juga merupakan kelompok sektarian utama yang ketiga di luar sunni dan syi’ah di bidang politik. Munculnya aliran khawarij ini berawal dari masalah politik, walaupun pada akhirnya kebanyakan ulama dan cendikiawan lebih memfokuskan pembahasan aliran khawarij dalam disiplin ilmu kalam (theologi), karena dalam perkembangannya kaum khawarij lebih banyak bercorak theologies[1]. Nama Khawarij berasal dari kata kharaja خرج yang berarti keluar. Kata ini dipergunakan oleh kalangan Islam untuk menyebut sekelompok orang yang keluar dari barisan Ali ibn Abi Thalib r.a. karena kekecewaan mereka terhadap sikapnya yang telah menerima tawaran tahkim (arbitrase) dari kelompok Mu’awiyyah yang dikomandoi oleh Amr ibn Ash dalam Perang Shiffin ( 37H / 657 ).
Jadi, nama khawarij bukanlah berasal dari kelompok ini. Mereka sendiri lebih suka menamakan diri dengan Syurah atau para penjual, yaitu orang-orang yang menjual (mengorbankan) jiwa raga mereka demi keridhaan Allah.[2]

2.2. Latar Belakang Munculnya Khawarij

Kemunculan aliran khawarij dilatarbelakangi oleh adanya pertikaian politik antara Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abi Sufyan yang pada waktu itu menjabat gubernur Syam (Suriah/Syria). Muawiyah menolak untuk membaiat Ali yang terpilih sebagai khalifah, sehingga Ali mengerahkan bala tentara untuk memerangi Muawiyah. Sebaliknya Muawiyah juga mengumpulkan pasukannya untuk menghadapi Ali.

Pertempuaran terjadi antara kedua belah pihak di Shiffin. Pasukan Ali bin Abi Thalib memperlihatkan tanda akan menang dan berhasil mendesak pasukan Muawiyah. Amr bin Ash yang ikut berperang dari pihak Muawiyah bisa membaca situasi dan mengusulkan kepada Muawiyah agar memerintahkan pasukannya untuk mengangkat mushaf al-Qur’an dengan ujung tombak sebagai isyarat genjatan senjata minta untuk damai dengan mengadakan arbitrase (tahkim atau penjurian).

Pada mulanya Ali bin Abi Thalib tidak mau menerima tawaran genjatan senjata tersebut, karena beliau tahu permintaan damai tersebut hanya sebagai strategi tipu muslihat dan akal busuk lawan yang terdesak dan hampir kalah dalam perang, akan tetapi karena didesak sebagian pengikutnya terutama para qurra dan huffaz, akhirnya diputuskanlah untuk mengadakan arbitrase.

Sebagai mediator atas usul sebagian pengikut Ali diangkat Abu Musa Al-Asy’ary, walaupun sebenarnya Ali sendiri tidak setuju untuk mengangkat Abu Musa Al-Asy’ary sebagai mediator karena beliau bukan diplomatik yang mengerti politik dan strategi. Dari pihak Muawiyah diwakili oleh Amr bin Ash seorang diplomatik ulung sekaligus politikus dan ahli strategi. Akhirnya perundingan damai tersebut dimenangkan oleh kubu Muawiyah bin Abi Sufyan dan membawa petaka serta kerugian pihak Ali bin Abi Thalib.

Keputusan Ali bin Abi Thalib menerima arbitrase ternyata tidak didukung semua pengikutnya. Mereka yang tidak setuju dengan sikap Ali keluar dari barisan Ali dan mengangkat Abdullah bin Wahab al-Risbi sebagai pemimpin mereka yang baru. Kelompok ini kemudian memisahkan diri ke Harurah suatu desa dekat Kufah. Mereka inilah kemudian dikenal dengan kaum khawarij.[3]

2.3. Perkembangan Sekte-Sekte Khawarij

2.3.1  Sekte Al-Muhakkimah

Golongan Khawarij asli terdiri dari pengikut ‘Ali pada awalnya disebut al-Muhakkimah. Bagi mereka ‘Ali, Mu’awiyah, Amr bin Ash, Abu Musa al-Asy’ari dan semua orang yang menyetujui arnitrase bersalah dan kafir. Selanjutnya hukum kafir ini diluaskan sehingga yang termasuk didalamnya tiap orang yang berbuat dosa besar seperti zina dan membunuh.

2.3.2  Sekte Al-Zariqiyah / Azariqah

untuk menjadi penganut theologi khawarij sekte azraqiyah harus melalui ujian. Calon anggota di beri tawanan, jika tawanan itu dibunuhnya berarti ia lulus. Akan tetapi jika tidak di bunuh maka dialah yang akan dibunuh. Kadang tawanan itu berasal dari sukunya. Sehingga putuslah hubungan dengan sukunya dan semakin eratlah hubungan Azraqiyah.

Pokok-pokok ajarannya sebagai  berikut :

  1. Semua penduduk yang tidak mau membantu gerakan mereka adalah musrik. Alasannya karena meraka menyeru masyarakat kepada seruan rasul, jadi jika menolak adalah syirik.
  2. Penzina mukshon boleh tidak di rajam tapi cukup didera saja, karena nash hanya menyuruh mancmbuknya.[4]
  3. Tidak boleh taqiyah (menyembunyikan pendirian).[5]
  4. Anak dan istri orang yang tak sepaham boleh ditawan dan dijadikan budak atau dibunuh.[6]

2.3.3  Sekte An-Najdah

Karena paham Azraqiyah terlalu keras, maka orang-orang yang tidak setuju kepada paham itu lantas memisahkan diri, antara lain rombongan Abu Fudaik yang pergi menuju Yamamah. Kelompok mereka semakin besar setelah mampu menarik hati Nadjah bin Amir Al-Hanafi beserta romongannya yang semula berniat bergabung dengan golongan Azraqiyah.

Pokok-pokok ajarannya sebagai berikut :

  1. Haram membunuh anak-anak dan wanita yang tidak sepaham dengan kelompok Nadjah.
  2. Muslim tidak ikut berzinah atau perang bersama mereka tidaklah musrik.
  3. Non muslim yang tinggal diluar daerah Nadjah, halal dibunuh.
  4. Dosa kecil yang dilakukan terus-menerus akan menjadi dosa besar dan pelakunya akan musrik.

2.3.4  Sekte Al-Ajaridah

Menurut golongan Ajaridah mereka tidak mengakui Surat Yusuf yang ada dalam Al-qur’an, sebab menurut mereka, tidak layak ada kisah percintaan di dalam Al-qur’an.

Pokok-pokok ajarannya sebagai berikut :

  1. Kaum muslim yang tidak ikut berpegang dari sekte Aj-Jaridah tidaklah muslim[7].
  2. Harta yang boleh dijadikan rampasan adalah harta orang yang mati terbunuh dalam peperangan.
  3. Anak-anak yang musrik tidak ikut menjadi musrik[8].

2.3.5  Sekte Ash-Shuryyah

Sekte ini dipimpin oleh Zaid Ibn Al-Asfar.

Pokok-pokok ajarannya sebagai berikut :

  1. Orang islam tidak turut serta berhijrah tidaklah kafir.
  2. Demi keamanan diri, perempuan islam boleh menika dengan laki-laki didaerah bukan islam. (yang dimaksud dengan kafir adalah muslim yang tidak sepaham dengan mereka).7
  3. Tidak semua orang yang berbuat dosa dinilai musrik. Dosa menjadi dua kelompok. Pertama dosa yang sangsinya hanya didunia seperti membunuh, berzinah, dan mencuri, ini tidak dinilai kafir. kedua, dosa yang sangsinya di akhirat seperti meninggalkan sholat dan puasa. Pelakunya dinilai kafir[9].

Melihat ajaran-ajaran mereka maka golongan ini agak moderat di bandingkan dengan golongan lainya.

2.3.6  Sekte Ibadiyah

Pokok-pokok ajarannya sebagai berikut :

  1. Orang islam diluar kelompok atau yang tidak sepaham dengan mereka bukanlah mukmin dan bukan pula musrik tetapi kufur nikmat. Syahadatnya diterima, jadi haram dibunuh dan boleh mengadakan hubungan pernikahan.
  2. Orang Islam yang berbuat dosa besar adalah muwahhid yang meng-Esakan Tuhan tetapi bukan mukmin dan bukan kafir agama sehingga tidak membuat keluar dari agama Islam.
  3. Dalam harta rampasan perang, yang diperbolehkan hanya kuda dan emas sedang perak harus dikembalikan.

Golongan ini tidak mau turut dengan golongan al-Azariqah dalam melawan pemerintahan Dinasti Bani Umayyah, bahkan punya hubungan baik dengan Khalifah ‘Abd al-Malik Ibn Marwan. Perpecahan pemikiran sehingga menghancurkan golongan Khawarij, dan satu-satunya yang masih bertahan sampai saat ini adalah golongan al-Ibadiyah.

2.4. Pengrtian Syi’ah

Syi’ah dilihat dari segi bahasa adalah pengikut, pendukung partai atau kelompok. Sedangkan secara istilah adalah sebagian kaum muslim yang dalam bidang sepiritual dan keagamaannya selalu merujuk pada keturunan Nabi Muhammad SAW atau orang yang disebut sebagai ahlul bait.[10]

Dari pengertian diatas dapat diambil suatu pengertian mengenai syi’ah, yakni golongan umat Islam yang terlampau mengagungkan keturunan Nabi. Mereka mendahulukan keturunan Nabi, untuk menjadi khalifah. Dalam hal ini golongan syi’ah menetapkan bahwa Imam Ali-lah yang paling berhak memegang jabatan kholifah setelah Nabi. Tapi Ali membantah dengan adanya pendapat seperti itu, karena jabatan kholifah tidak hany dipegang oleh orang-orang yang menjadi keturunan Nabi, melainkan orang-orang yang berhak, mampu dalam memimpin serta telah disepakati oleh ummat.[11]

2.5. Latar Belakang Munculnya Syi’ah

Mengenai kemunculan syi’ah dalam sejarah, terdapat perbedaan pendapat dikalangan para ahli ilmu kalam. Menurut Abu Zahra syi’ah mulai muncul pada akhir pemerintahan Usman bin Affan, kemudian muncul dan berkembang pada masa Ali bin Abi Thalib. Adapun menurut Watt, syi’ah benar-banar muncul ketika berangsung peperangan antara Ali dan Muawiyah, yang dikenal engan perang Shifin, dalam perang ini merupakan sebagai respon atas penerimaan. Ali terhadap tahkim atau arbitase yang ditawarkan Muawiyah. Pasukan Ali diceritakan pecah menjadi 2 golingan, yaitu:

  • Golongan yang mendukung Ali yang kelak disebut syi’ah.
  • Golongan yang menolak sikap Ali yang kelak disebut khowarij.

Dari kalangan syi’ah sendiri berpendapat bahwah, kemunculan syi’ah berkaitan dengan masalah siapa yang berhak menggantikan Nabi dalam memimpin umat. Akan tetapi golongan syi’ahlah yang menentukan bahwa Imam Ali-lah yang berhak memegang jabatan khalifah, sesudah Nabi Al-Abbas sendiri pun merasa bahwa Ali-lah yang lebih wajar dari pada dirinya sendiri. Setelah Ali menjadi khalifah dan rakyat mengakuinya, nyatalah pada mereka bahwa Ali adalah orang yang besar, berilmu dan mempunyai agama yang kuat. Berdasarkan realitas itulah, muncul dikalangan sebagian kaum mukmin yang menentang dan menolak kekhalifahan dari kaum tertentu. Mereka tetap berpandapat bahwa Nabi dan penguasa keagamaan yang sah adalah Ali. Mereka berkeyakinan bahwa semua perasaan kerohanian dan agama harus merujuk hepadanya serta mengajak masyarakat  untuk mengikutinya. Perbedaan pedapat dikalangan para ahli  ilmu kalam mengenai Syi’ah.

Para ahli berpegang teguh pada fakta sejarah, perpecahan memang mulai mencolok pada msa pemerintahan Usman bin Affan dan memperoleh momentumnya yang paling kuat pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib tepatnya setelah peranga Shifin. Adapun kaum Syi’ah, berdasarkan Hadist-hadist  yang mereka terima dari ahli bait, berpendapat bahwa perpecahan itu sudah mulai ketika Nabi SAW wafat dan kekhalifahan jatuh ketangan Abu Bakar. Segara setelah itu terbentuklah syi’ah. Bagi mereka pada masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin sekalipun, kelompok Syi’ah sudah ada. Mereka bergerak dibawah permukaan untuk mengarjakan dan menyebarkan doktrin-doktrin Syiah pada masyarakat. Tampaknya Syi’ah sebagai salah satu faksi Islam yang bergerak seecara terang-terangan, memang baru muncul pada masa kekholifahan Ali bin Abi Thalib, sedangkan Syi’ah sebagai doktrin yang diajarkan secara diam-diam oleh ahli bait.

Syi’ah mendapatkan pengikut yang besar  terutama pada masa dinasti Amawiyah. Hal ini menurut abu Zahra merupkan akibat dari perlakuan kejam dan kasar dinasti ini terhadap ahli baitdiantara bentuk kekerasan itu adalah yang dilakukan pengusa bani Ummaiyah.misalnya Yazid bin Muawiyah yang memerintahkan pasukannya pimpinan Ibnu Ziyad untukmemenggal kepala Husen bin Ali di Karbal. Diceritakan bahwa setelah dipenggal, kepala husain  dibawa ke hadapan Yazid, kemudian oleh Yazid kepala tersebut dipukul-pukul dengan tongkatnya, padahal kepala yang ia pukul pada waktu kecilnya sering diciumi oleh Rasulalloh. Kekejaman semacam ini menyebabkan sebagian kaum Muslimin tertarik dan mengikuti madzhab Syiah.

2.6     Perkembangan Sekte-Sekte Syi’ah

Dalam perjalanan sejarah, Syi’ah akhirnya terpecah menjadi beberapa sekte, diantaranya adalah :

2.6.1 Syi’ah Imamiyah (Syi’ah Itsna Asyariyah)

Dinamakan Syi’ah Imamiyah, karena yang menjadi dasar aqidahnya adalah persoalan Imam dalm arti pemimpin religio politi, yakni Ali berhak menjadi khalifah bukan hanya kecakapanya atau kemuliannya, melainkan ia teleh ditunjuk nas dan pantas menjadi khalifah pewaris kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Ide tentang hak Ali dan keturunannya untuk menduduki jabatab khalifah telah ada sejak Nabi wafat, yaitu dalam perbincangan politk di Saqifah bani Sa’idah. Pendirian golongan ini, bahwa Nabi telah menetapkan kekhalifahan itu kepada Ali, kemudian akan diturunkan pada keturunan Fatimah. Adapun AbuBakar dan Umar adalah orang-orang yang merampas Ali.[12]

2.6.2 Syi’ah Saba’iyah

Adalah suatu golongan yang mengikuti Abdullah bin Saba’. Mereka berkeyakinan bahwa didalam kitab taurat ada keterangan bahwa setiap nabi itu mempunyai wasiat (sebagai pemimpin atau penerusnya). Dan Ali adalah satu-satunya orang yang diwasiat Nabi. Karena sebaik-bak wasiat adalah Ali sebgaimana pula Nabi Muhammad adalah sebaik-baik Nabi.  Dan mereka juga percaya bahwa golongannya dibangun ats tujuh perkara diantanya adalah iman, thaharah, salat, zakat, saum, haji dan jihad.

Mereka juga mempunyai pemikiran bahwa Tuhan itu berada pada jasad saidina Ali. Dan apabila Ali meninggal, maka Tuhan bertempat tinggal dijasad pemimpin setelah Ali. Roh ketuhanan itu berganti dari Imam satu keimam yang lain.

2.6.3 Syi’ah Ghulat

Istilah ghulat berasal dari kata ghala artinya bertambah dan naik. Abu Zahrah menjelaskan bahwa golongan ini adalah kelompok yang menempatkan Ali pada derajat ketuhanan dan ada yang mengangkat paa derajat kenabian, bahkan lebih tinggi dari Nabi Muhammad. Gelar ekstrim yang diberikan pada kelompok ini berkaitan dengan pendapatnya ang janggal yaitu,ada beberapa orang yang khusus dianggap Tuhan dan juga ada beberapa orang yang dianggap Rasul setelah Nabi Muhammad.

2.6.4 Syi’ah Zaidiyah

Disebut Zaidiyah karena golongan ini mengakui Zaid bin Ali sebagai imam kelima doktrin-doktrinnya adalah mereka tidak meniggikan kedudukan imam dari paa Nabi, bahkan mereka berpendapat bahwa imam itu sama atau setara dengan manusia yang lain. Mereka menolak pandangan yang menyatakan bahwa seoarang imam yang mewarisi kepemimpinan Nabi SAW telah ditentuka nama dan orangnya oleh Nabi, tetapi hanya ditentukan sifat-sifatnya saja. Mereka juga berkeyakinan bahwa orang yang melakukan dosa besar akan kekal dalam neraka, jika a belum bertaubat dengan pertaubatan yang sesungguhnya. Mereka juga menolak adanya nikah muth’ah yang telah dihapus pada zaman Rasulalloh. Dalm hal ini Syiah Zaidiyah juga seperti halnya Syi’ah pada umumnya. Misalnya dalam azan mereka menyelingi dengan Hayya ‘ala khairul amal, takbir sebanyak lima kali dalam shalat janazah, menolak imam yang tidak shaleh dalam shalat dan menolak adanya mengusap khuf.[13]

BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Dari beberpa pemaparan diatas, serta segala penjelasan-penjelasan, kami dapat mengambil kesimpulan. Khawarij merupakan suatu kaum yang berhijrah meninggalkan rumah dan kampong halam mereka untuk mengabdikan diri kepada Allah dan Rasul-Nya dan untuk memperolah pahala dari Allah SWT. Kaum Khawarij memisahkan diri dari barisan ‘Ali bin Abi Thalib, karena mereka tidak setuju dengan sikapnya yang menerima tahkim (arbitrase) dalam menyelesaikan persengketaannya dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Akan tetapi dalam pertemuan dengan kekuatan Ali, kaum khawarij mengalami kekalahan besar, tapi akhirnya Ibn al- Muljam dapat membunuh Ali bin Abi Thalib. Di kemudian hari kaum Khawarij terpecah-pecah dalam beberap sub-sekte, di antaranya ialah ; 1) Al-Muhakkimah, 2) Al-Azariqah, 3) Al-Najdat, 4) Al-Ajaridah, 5) Al-Sufriyah, 6) Al- Ibadiyah.

Sedangkan Syi’ah adalah golongan umat Islam yang terlampau mengagungkan keturunan Nabi. Mereka mendahulukan keturunan Nabi, untuk menjadi khalifah. Dalam hal ini golongan syi’ah menetapkan bahwa Imam Ali-lah yang paling berhak memegang jabatan kholifah setelah Nabi. Dalam perjalanan sejarah, Syi’ah akhirnya terpecah menjadi beberapa sekte, diantaranya ialah : 1) Syi’ah Imamiyah (Syi’ah Itsna Asyariyah), 2) Syi’ah Zaidiyah, 3) Syi’ah Ghulat, 4) Syi’ah Saba’iyah.

Daftar pustaka

·         Rosihan, Anwar. 2003. Ilmu kalam. Bandung: CV Pustaka Setia.

·         http://swaramuslim.net/islam/more.php?id=2456_0_4_0_M


[3] J. Suyuthi Pulungan, Fiqh Siyasah : Ajaran, Sejarah, Analisa dan Pemikiran, (Raja Grafindo Persada, 1995) h.196

[5] Abdul Aziz Dahlan: sejarah perkembangan dalam islam, (P3 M, 1987)h. 45

[8] Harun Nasution: teologi islam, (Universitas Indonesia, 1986)h. 17

[9] Harun Nasution: teologi islam, (Universitas Indonesia, 1986)h. 19

[10] Anwar Rosihan: Ilmu Kalam(CV. Pustaka Setia, 2003)h. 89

[11] Taib Thahir Abdul Mu’in: Ilmu Kalam (PT.Bumi Restu, 1986)h. 94

[12] Anwar Rosihan: Ilmu Kalam(CV. Pustaka Setia, 2003)h. 93

[13] Anwar Rosihan: Ilmu Kalam(CV. Pustaka Setia, 2003)h. 101

This entry was posted in kelas 1 j2. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s