Takdir Menurut Agamawan

Kelompok 13

kelas : 1/ J2 psikologi

Miftahur Rochman (B97210115)

Fitriatul Hasanah (B97210116)

Syarifah Aini (B97210117)

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

a. Latar belakang

Takdir merupakan hal penting yang harus dipercayai oleh setiap muslim. Karena sesesungguhnya takdir kita telah ditentukan oleh Allah jauh sebelum kita diciptakan oleh Allah. Jadi mempercayai takdir dengan sepenuh hati merupakan cerminan keimanan seseorang. Semakin tinggi iman seseorang semakin yakinlah bahwa segala yang diberikan Allah kepadanya merupakan ketentuan yang telah ditentukan.

 

Dan jikalau imannya rendah maka dia akan menyesali setiap musibah yang ditimpakan kepadanya. Perlu diingat bahwa, setiap hal yang telah ditentukan pasti terjadi. Dan takdir itu ada yang bisa dirubah dengan berusaha, yaitu dengan do’a dan usaha. Jikalau kita berhasil maka sesungguhnya Allahlah yang memindahkan kita dari takdir yang jelek ke takdir yang baik.

 

b. RUMUSAN MASALAH

v     Apa pengertian takdir menurut agamawan?

v     Apa saja macam-macam takdir itu?

v     Apa hikmah beriman pada takdir?

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

a. Pengertian Takdir

Takdir menurut agamawan

pengertian al-qadar dalam syariat adalah keterkaitan ilmu dan kehendak Allah yang terdahulu terhadap semua makhluk (di alam semesta) sebelum Dia menciptakannya. Maka tidak ada sesuatupun yang terjadi (di alam ini) melainkan Allah telah mengetahui, menghendaki dan menetapkannya, sesuai dengan kandungan hikmah-Nya yang maha sempurna

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: “Ketahuilah bahwa mazhab/keyakinan para pengikut kebenaran adalah menetapkan (mengimani) takdir Allah, yang berarti bahwa Allah Ta’ala telah menetapkan takdir (dari) segala sesuatu secara azali (terdahulu), dan Dia ‘Azza wa jalla maha mengetahui bahwa semua itu akan terjadi pada waktu-waktu (tertentu), dan di tempat-tempat (tertentu) yang diketahui-Nya, yang semua itu terjadi sesuai dengan ketetapan takdir-Nya”

Sedangkan pengertian al-qadha’ secara bahasa adalah hukum, adapun dalam syariat pengertiannya kurang lebih sama dengan al-qadar, keculai jika keduanya disebutkan dalam satu kalimat maka mempunyai arti sendiri- sendiri

Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin rahimahullah ketika menjelaskan perbedaan antara keduanya, beliau berkata: “al-Qadar adalah apa yang Allah Ta’ala takdirkan secara azali (terdahulu) tentang apa yang akan terjadi pada (semua) makhluk-Nya. Sedangkan al-qadha’ adalah ketetapan Allah Ta’ala pada (semua) makhluk-Nya, dengan menciptakan, meniadakan (mematikan) dan merubah (keadaan mereka). Maka ini berarti takdir Allah mendahului (al-qadha)

Kata takdir (taqdir) terambil dan kata qaddara berasal dari akar kata qadara yang antara lain berarti mengukur, memberi kadar atau ukuran, sehingga jika Anda berkata, “Allah telah menakdirkan demikian,” maka itu berarti, “Allah telah memberi kadar/ukuran/batas tertentu dalam diri, sifat, atau kemampuan maksimal makhluk-Nya.”

Dari sekian banyak ayat Al-Quran dipahami bahwa semua makhluk telah ditetapkan takdirnya oleh Allah. Mereka tidak dapat melampaui batas ketetapan itu, dan Allah Swt. menuntun dan menunjukkan mereka arah yang seharusnya mereka tuju. Begitu dipahami antara lain dari ayat-ayat permulaan Surat Al-A’la (Sabihisma)

“Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi, yang menciptakan (semua mahluk) dan menyempurnakannya, yang memberi takdir kemudian mengarahkan(nya)” (QS Al-A’la [87]: 1-3).

Karena itu ditegaskannya bahwa:

“Dan matahari beredar di tempat peredarannya Demikian itulah takdir yang ditentukan oleh (Allah) Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui” (QS Ya Sin [36]: 38).

Secara terminologis ada ulama yang berpendapat istilah takdir (qadar )tersebut mempunyai pengertian yang sama, dan ada pula yang membedakannya. Yang membedakan, mendefinisikan qadar sebagai: “Ilmu Allah swt tentang apa-apa yang akan terjadi pada seluruh makhluk-Nya pada masa yang akan datang”. Dan qadha adalah: “Penciptaan segala sesuatu oleh Allah swt sesuai dengan ilmu dan iradah-Nya”. Sedangkan Ulama yang menganggap istilah Qadha dan qadar mempunyai pengertian yang sama memberikan definisi sebagai berikut: “Segala ketentuan, udang-undang, peraturan dan hukum yang ditetapkan secara pasti oleh Allah swt untuk segala yang ada (maujud), yang mengikat antara sebab dan akibat segala sesuatu yang terjadi”.

Pengertian di atas sejalan dengan penggunaan kata qadar di dalam al-Quran dengan berbagai macam bentuknya yang pada umumnya mengandung pengertian kekuasan Allah swt untuk menentukan ukuran, susunan, aturan, undang-undang terhadap segala sesuatu, termasuk hukum sebab dan akibat yang berlaku bagi segala yang maujud, baik makhluk hidup maupun yang mati.

b.Macam-macamTakdir
Takdir itu ada 2 macam :

1. Takdir umum mencakup segala yang ada. Takdir ini dicatat di Lauhul Mahfuzh. Dan Allah telah mencatat takdir segala sesuatu hingga hari kiamat. Takdir ini umum bagi seluruh makhluk. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Sesungguhnya yang pertama kali diciptakan Allah adalah qalam (pena). Allah berfirman kepada qalam tersebut,“Tulislah”. Kemudian qalam berkata,“Wahai Rabbku, apa yang akan aku tulis?” Allah berfirman,“Tulislah takdir segala sesuatu yang terjadi hingga hari kiamat.” (HR. Abu Daud. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud).

2. Takdir yang merupakan rincian dari takdir yang umum. Takdir ini terdiri dari :

(a) Takdir ‘Umri yaitu takdir sebagaimana terdapat pada hadits Ibnu Mas’ud, di mana janin yang sudah ditiupkan ruh di dalam rahim ibunya akan ditetapkan mengenai 4 hal : rizki, ajal, amal, dan sengsara atau berbahagia.

(b) Takdir Tahunan yaitu takdir yang ditetapkan pada malam lailatul qadar mengenai kejadian dalam setahun. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),”Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Ad Dukhan [44] : 4). Ibnu Abbas mengatakan,”Pada malam lailatul qadar, ditulis pada ummul kitab segala kebaikan, keburukan, rizki dan ajal yang terjadi dalam setahun.” (Lihat Ma’alimut Tanzil, Tafsir Al Baghowi) Seorang muslim harus beriman dengan takdir yang umum dan terperinci ini. Barangsiapa yang mengingkari sedikit saja dari keduanya, maka dia tidak beriman kepada takdir. Dan berarti dia telah mengingkari salah satu rukun iman yang wajib diimani.
Dalam masalah taqdir ini, janganlah kita terpeleset pada dua aliran ini:

a. qadariyah , mereka mengatakan takdir tidak ada

b. jabariyah, semuanya takdir, kita tidak punya apa-apa

Keduanya keliru. Yang benar adalah kita memiliki kemampuan kemampuan, kehendak dan keinginan untuk berbuat / memilih. Namun hasil dari semua itu berada dibawah kehendak, kemampuan ketentuan dan keinginan Allah SWT.

Kalau kita memilih yang baik, sesungguhnya kebaikan itu untuk kita sendiri. (Ini hukum Allah) Yang dinilai Allah adalah ikhtiar kita, usaha kita dalam mengisi hidup ini. Pahala dan dosa itu karena ikhtiar kita, kelakuan kita, perbuatan kita. Sedangkan hasil dari perbuatan kita / ikhtiar kita, itu hanyalah wewenang Allah SWT. Untuk itulah kita senantiasa dianjurkan untuk bertawakkal; menggantungkan hasil usaha kita kepada Allah SWT. Dan hendaklah senantiasa ber husnudzan (ber prasangka baik) kepada Allah SWT, karena disebutkan bahwa Allah SWT itu mengikuti persangkaan hamba-Nya

Hikmah Beriman Kepada Takdir

Seorang muslim wajib beriman dengan taqdir sebagaimana yang sudah dijelaskan oleh Allah swt dan rasul-Nya di dalam Al-quran dan sunnah Rasul. Memahami taqdir harus secara benar, karena kesalahan memahami taqdir akan melahirkan pemahaman dan sikap yang salah pula dalam menempuh kehidupa di dunia ini.

Ada beberapa hikmah yang dapat dipetik dari beriman kepada taqdir ini, antara lain yaitu:

1. Melahirkan keasaran bagi umat manusia bahwa segala sesuatu di dalam semesta ini berjalan sesuai dengan undang-undang, aturan dan hukum yang telah di tetapkan dengan pasti oleh Allah swt. Oleh sebab itu manusia harus mempelajari, memahami, dan mematuhi ketetapan Allah swt tersebut supaya dapat mencapai keberhasilan baik di dunia maupun di akhirat nanti.

2. Mendorong manusia untuk berusaha dan beramal dengan sungguh-sungguh untuk mencapai kehidupan yang baik di dunia dan diakhirat, mengikuti hukum sebab akibat yang telah ditetapkan oleh Allah swt.

3. Mendorong manusia untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah swt yang memiliki kekuasaan dan kehendak yang mutlak, di samping memiliki kebijakan, keadilan, dan kasih sayang kepada makhluk-Nya.

4. Menanamkan sikap tawakal dalam diri manusia, karena menyadari bahwa manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, sedangkan hasilnya diserahkan kepada Allah swt

5. Mendatangkan ketenangan jiwa dan ketentraman hidup, karena meyakini apa pun yang terjadi adalah atas kehendak dan qadar Allah swt. Di saat memperoleh kebahagiaan dan nikmat dia segera bersyukur kepada Allah swt dan tidak memiliki kesombongan karena semuanya itu di dapat atas izin Allah swt. Di saat mendapat musibah dan kerugian dia bersabar karena meyakini semuanya itu adalah karena kesalahannya sendiri dan karena cobaan dan ujian dari Allah swt yang kelak kemudian juga akan mendatangkan kebaikan

 

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

1.Secara terminologis ada ulama yang berpendapat istilah takdir (qadar )tersebut mempunyai pengertian yang sama, dan ada pula yang membedakannya. Yang membedakan, mendefinisikan qadar sebagai: “Ilmu Allah swt tentang apa-apa yang akan terjadi pada seluruh makhluk-Nya pada masa yang akan datang”. Dan qadha adalah: “Penciptaan segala sesuatu oleh Allah swt sesuai dengan ilmu dan iradah-Nya”. Sedangkan Ulama yang menganggap istilah Qadha dan qadar mempunyai pengertian yang sama memberikan definisi sebagai berikut: “Segala ketentuan, udang-undang, peraturan dan hukum yang ditetapkan secara pasti oleh Allah swt untuk segala yang ada (maujud), yang mengikat antara sebab dan akibat segala sesuatu yang terjadi”.

2.Takdir umum mencakup segala yang ada. Takdir ini dicatat di Lauhul Mahfuzh. Dan Allah telah mencatat takdir segala sesuatu hingga hari kiamat.

Takdir yang merupakan rincian dari takdir yang umum. Takdir ini terdiri dari :

(a) Takdir ‘Umri yaitu takdir sebagaimana terdapat pada hadits Ibnu Mas’ud, di mana janin yang sudah ditiupkan ruh di dalam rahim ibunya akan ditetapkan mengenai 4 hal : rizki, ajal, amal, dan sengsara atau berbahagia.

(b) Takdir Tahunan yaitu takdir yang ditetapkan pada malam lailatul qadar mengenai kejadian dalam setahun.

DAFTAR PUSTAKA

v Al-Maraghi, Ahmad Mushthfa,Terjemah Tafsir al-maraghi, Semarang:Toha Putra:1992

v M.s.Khalit, Kunci untuk Mencari Ayat Al-quran, Surabaya:Bina ilmu:1984

v Drs.H. Yunahar Iiyas Lc.Kuliah Aqidah Islam,Yogyakarta:1992

v (http://irdham.blogdetik.com/tag/takdir-menurut-islam/page/2/

v     http://meetabied.wordpress.com/2010/03/20/teori-belajar-guilford/



This entry was posted in kelas 1 j2. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s