kelompok 8 kelas i bukti – bukti adanya tuhan

  1. 1. Mas’ul Hadi NIM B07210025
  2. 2. Ibtisam Salimatun N.            NIM B07210037
  3. 3. Lailatul Fitriyah                    NIM B07210024
  4. 4. Ana Maulidatul Ula              NIM B07210035

kelompok 8 kelas i

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Tuhan adalah suatu hal yang bisa dibilang abstrak karena tidak bisa dirasakan oleh panca indera, namun kita harus meyakini akan keberadaanNya. Banyak manusia yang lebih memilih menjadi Atheist karena tidak dapat menemukan bukti – bukti adanya Tuhan yang kongkrit. Selain itu kurangnya pengetahuan tentang Tuhan itu sendiri.

Munculnya berbagai pertanyaan tentang Tuhan merupakan pencerminan kebutuhan manusia kepada Tuhan, kelemahan manusia dalam mengatasi persoalannya sendiri, dan juga ketidakmampuan manusia dalam mempersepsi dirinya sendiri. Untuk itu dalam makalah ini penulis mencoba menjelaskan tentang pengertian Tuhan dan bukti – bukti adanya Tuhan.

  1. B. Rumusan Masalah

Untuk memudahkan pembahasannya maka akan dibahas sub masalah sesuai dengan latar belakang diatas yakni sebagai berikut:

  1. Apa pengertian Tuhan?
  2. Apa bukti – bukti adanya Tuhan
  1. C. Tujuan

Makalah ini bertujuann untuk:

  1. Meningkatkan keimanan terhadap Tuhan
  2. Mengetahui pengertian Tuhan
  3. Memahami tentang bukti – bukti adanya Tuhan

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A. Pengertian Tuhan

Tentu definisi Tuhan yang paling tepat ialah yang kita ambil dari pemahaman akan pengertian Tuhan menurut apa yang telah dijabarkan di dalam Al-Qur’an. Untuk itu, perlu kita sadari dua kenyataan terpenting, yang pasti akan kita peroleh apabila kita kaji dengan sungguh-sungguh kandungan Al-Qur’an.

Yang pertama ialah di dalam Al-Qur’an kita tidak pernah menemukan suatu ayat pun yang membicarakan atheist atau atheisme. Suatu hal yang kiranya sangat penting kita fikirkan mengingat kenyataan di zaman modern ini jutaan manusia telah menyatakan diri mereka sebagai “atheist” atau “orang yang tidak bertuhan”. Setiap orang yang berideologi komunis mengaku, bahwa mereka tidak bertuhan (atheist).

Kenyataan kedua ialah perkataan “ilah”, yang selalu diterjemahkan “Tuhan”. Di dalam Al-Qur’an dipakai untuk menyatakan berbagai objek, yang dibesarkan atau dipentingkan manusia. Misalnya dalam ayat Q 25:43

M÷ƒuäu‘r& Ç`tB x‹sƒªB$# ¼çmyg»s9Î) çm1uqyd |MRr’sùr& ãbqä3s? Ïmø‹n=tã ¸x‹Å2ur ÇÍÌÈ

43. Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka Apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?

Dalam ayat Q.28:38, perkataan “ilah” dipakai oleh Fir’aun untuk dirinya sendiri:

“Dan Fir’aun berkata: ‘Wahai para pembesar, aku tidak menyangka, bahwa kalian masih mempunyai ilah selain diriku’.”

Dari contoh ayat-ayat tersebut di atas, ternyata perkataan “ilah” bisa mengandung arti berbagai benda, baik abstrak (nafsu atau keinginan pribadi) maupun benda nyata (Fir’aun atau raja, atau penguasa yang dipatuhi dan dipuja). Dari dua kenyataan ini dapatlah diambil kesimpulan sebagai berikut: Tidak adanya perkataan atheist dan atheisme di dalam Al Qur’an membuktikan, bahwa tidak mungkin manusia itu tidak bertuhan.

Untuk dapat mengerti dengan tuntas akan masalah ini dapatlah kita buat definisi “Tuhan” atau “Ilah” yang tepat, berdasarkan logika Al Qur’an sebagai berikut:

Secara etimologi Al Ilah terdiri dari A (Alif), L(Lam), H(Ha) yang dalam kamus bahasa arab berasal dari kata Aliha – Yaklahu – Ilaha – Tan. Uraiannya dapat dijabarkan sebagai berikut:

Alahtu kepada A: aku berlindung kepada A

Seorang laki-laki Aliha – Yaklahu: seorang laki – laki melindungi orang lain yang terkejut oleh suatu bencana.

Alaha bayi yang sedang terpisah dari ibunya: bila ia rindu ia hendak kembali kepada ibunya.

Alaha – Ilahatan dan Aluhatan artinya menyembah

Ilahun: dapat berarti (Al Mahbub) sesuatu yang dicintai, Al Marhub (sesuatu yang disenangi) dan (Al Matbu) sesuatu yang diikuti dengan ketundukan.

Dari uraian diatas maka ada dua kelompok yaitu yang butuh dan yang dibutuhkan. Kelompok pertama terdiri dari aku, orang lain, bayi, penyembah dan pencinta. Sedangkan kelompok kedua terdiri dari: A, seorang laki-laki, ibu, sesuatu yang disembah, sesuatu yang dicintai. Kelompok pertama beranggapan bahwa kelompok kedua memiliki kemampuan lebih dari pada dirinya sehingga kelompok pertama membutuhkan kelompok kedua.[1]

Hal inilah yang selanjutnya menyebabkan kata Alaha – yaklahu – Ilahatan dipakai dalam arti ibadah atau menghambakan diri. Kata Ilah berarti sesuatu yang disembah atau tempat penghambaan diri.

Secara etimologi Al Ilah memiliki pengertian yang begitu luas maka untuk mempertegas dibutuhkan pengertian Al Ilah secara terminology:

Al Ilah ialah sesuatu yang dipentingkan dan kepentingannya itu melebihi kepentingan terhadap hal – hal lain atau sesuatu yang mendominasi diri sehingga sesuatu itu dipuja, dijunjung tinggi, dan diberi kedudukan yang tinggi dari yang lain.[2]

Al Ilah ialah yang dipuja dengan penuh kecintaan hati, tunduk kepadanya, merendahkan diri di hadapannya, takut dan mengharapkannya, kepadanya tempat berpasrah ketika berada dalam kesulitan, berdoa dan bertawakkal kepadanya untuk kemaslahatan diri, meminta perlindungan dari padanya, dan menimbulkan ketenangan di saat mengingatnya dan terpaut cinta kepadanya.[3]

Maka dari sini dapat kita ambil kesimpulan bahwa Tuhan atau dalam bahasa arab disebut Al Ilah adalah sesuatu yang dipuja dengan penuh kecintaan dan merendahkan diri, tempat memohon pertolongan dan bertawakkal serta sesuatu yang dipentingkan melebihi kepentingan hal – hal lain yang menimbulkan ketenangan di saat kita mengingatnya.

Berdasarkan definisi ini dapatlah difahami, bahwa tuhan itu bisa berbentuk apa saja, yang dipentingkan oleh manusia. Yang pasti ialah manusia tidak mungkin atheist, tidak mungkin tidak bertuhan. Berdasarkan logika Al Qur’an bagi setiap manusia selalu ada sesuatu yang dipertuhankannya. Dengan demikian, maka orang-orang komunis itu pun pada hakikatnya bertuhan juga. Adapun tuhan mereka ialah ideology atau angan – angan (utopia) mereka, yaitu terciptanya masyarakat komunis di mana setiap orang boleh bekerja menurut kemampuan masing – masing.

  1. B. Bukti – Bukti Adanya Tuhan

Mari kita simak cerita ini terlebih dahulu. Ada kisah zaman dulu tentang orang atheist yang tidak percaya dengan tuhan. Dia mengajak berdebat seorang alim mengenai ada atau tidaknya Tuhan. Di antara pernyataannya adalah: “Benarkah Tuhan itu ada” dan “Jika ada, di manakah Tuhan itu?”.

Ketika orang atheist itu menunggu bersama para penduduk di kampung tersebut, orang alim itu belum juga datang. Ketika orang atheist dan para penduduk berpikir bahwa orang alim itu tidak akan datang, barulah muncul orang alim tersebut.

“Maaf jika kalian menunggu terlalu lama. Karena hujan turun sangat deras, maka sungai menjadi banjir, sehingga jembatannya hanyut dan saya tidak menyeberang. Alhamdulillah tiba – tiba ada sebatang pohon yang tumbang. Kemudian pohon tersebut terpotong – potong ranting dan dahannya dengan sendirinya, sehingga jadi satu batang yang lurus, hingga akhirnya menjadi perahu. Setelah itu baru saya bisa menyeberangi sungai dengan perahu tersebut.” Begitu orang alim itu berkata.

Si atheist dan juga para penduduk kampung tertawa terbahak – bahak. Dia berkata kepada orang banyak, “Orang alim ini sudah gila rupanya. Masak pohon bisa jadi perahu dengan sendirinya. Mana bisa perahu jadi dengan sendirinya tanpa ada yang membuatnya!!” Orang banyak pun tertawa riuh.

Setelah tawa agak reda, orang alim pun berkata, “Jika kalian percaya bahwa perahu tak mungkin ada tanpa ada pembuatnya, kenapa kalian percaya bahwa bumi, langit, dan seisinya bisa ada tanpa ada penciptanya? Mana yang lebih sulit, membuat perahu, atau menciptakan bumi, langit dan seisinya ini?”

Mendengar perkataan orang alim tersebut akhirnya mereka sadar, bahwa mereka telah terjebak oleh pernyataan mereka sendiri.

“Kalau begitu jawab pertanyaanku yang kedua”, kata si Atheist. “Jika tuhan itu ada, mengapa dia tidak kelihatan. Di mana Tuhan itu berada?” Orang Atheist itu berpendapat, karena dia tidak pernah melihat Tuhan, maka Tuhan menurut orang Atheist itu tidak ada.

Orang alim itu kemudian menampar pipi si Atheist dengan keras, sehingga si Atheist merasa kesakitan.

“Kenapa anda memukul saya? Sakit sekali.” Begitu si Atheist mengaduh.

Si Alim bertanya, “Ah mana ada sakit. Saya tidak melihat sakit. Di mana sakitnya?”

“Ini sakitnya di sini,” si Atheist menunjuk – menunjuk pipinya.

“Tidak, saya tidak melihat sakit. Apakah para hadirin melihat sakitnya?” Si Alim bertanya kepada orang banyak.

Orang banyak berkata, “Tidak!”

“Nah meski kita tidak bisa melihat sakit, bukan berarti sakit itu tidak ada. Begitu juga Tuhan. Karena kita tidak bisa melihat Tuhan, bukan berarti Tuhan itu tidak ada. Tuhan itu ada. Meski kita tidak bisa melihatNya, tapi kita bisa merasakan ciptaannya.” Demikian si Alim berkata.

Sederhana memang pembuktian orang alim tersebut. Tapi pernyataan bahwa Tuhan itu tidak ada hanya karena panca indera manusia tidak bisa mengetahui keberadaan Tuhan adalah pernyataan yang keliru.

Berapa banyak benda yang tidak bisa dilihat atau didengar manusia, tapi pada kenyataanya benda itu ada?

Betapa banyak benda langit yang jaraknya milyaran, bahkan mungkin trilyunan cahaya yang tidak pernah dilihat manusia, tetapi benda itu sebenarnya ada?

Berapa banyak gelombang (entah radio, elektromagnetik, listrik, dan lain – lain) yang tak bisa dilihat, tapi ternyata sesungguhnya hal itu ada.

Benda itu ada, tapi panca indera manusia lah yang terbatas, sehingga tidak mengetahui keberadaannya.

Kemampuan manusia untuk melihat warna hanya terbatas pada frekuensi tertentu, demikian pula suara. Terkadang sinar amat menyilaukan bukan saja tak dapat dilihat, tetapi dapat membutakan mata manusia. Demikian pula suara dengan frekuensi dan kekerasan tertentu selain ada yang tidak bisa didengar juga ada yang dapat menghancurkan pendengaran manusia. Jika untuk mengetahui keberadaan ciptaan Allah saja manusia sudah mengalami kesulitan, apalagi untuk mengetahui keberadaan Sang Maha Pencipta![4]

Segala sesuatu yang ada di alam ini seperti matahari, bulan, bintang, manusia, tumbuhan dan lain sebagainya itu selalu berubah – ubah dari tidak ada menjadi ada atau sebaliknya dari ada menjadi tidak ada.

Juga semua yang berubah – ubah dari suatu keadaan menjadi keadaan yang lain sifatnya tentu ada sebab atau ada yang mengubah. Berarti ada yang mengadakan dan ada yang menjadikan.

Tuhan itulah yang menjadikan alam sekalian ini dan yang menjadikan pula tabiat atau khasiat tiap – tiap yang ada di alam ini. Apabila dikatakan semua itu terjadi dengan sendirinya tentu akal tidak akan dapat menerima yakni mustahil namanya.

Apabila kita melihat kursi, meja, pesawat, kapal, kereta api, dan apapun yang kita lihat sehari – hari pasti kita mempercayai barang – barang itu ada yang membuatnya dan meskipun seandainya kita juga melihat sendiri orang yang membuatnya dan meskipun seandainya kita juga tidak tahu bagaimana cara membuatnya.[5]

Jika benda – benda sederhana seperti diatas ataupun sebatang korek api saja ada pembuatnya, apalagi dunia yang jauh lebih kompleks. Coba kita perhatikan uraian di bawah ini.

Bumi yang sekarang didiami oleh sekitar 8 milyar manusia, keliling lingkarannya sekitar 40 ribu kilometer panjangnya. Matahari, keliling lingkarannya sekitar 4,3 juta kilometer panjangnya. Matahari, dan 8 planetnya yang tergabung dalam sistem Tata Surya, tergabung dalam galaksi Bima Sakti yang panjangnya sekitar 100 ribu tahun cahaya ( kecepatan cahaya = 300 ribu kilometer/detik!) bersama sekitar 100 milyar bintang lainnya. Galaksi Bima Sakti, hanyalah 1 galaksi di antara ribuan galaksi lainnya yang tergabung dalam 1 “cluster”. Cluster ini bersama ribuan cluster lainnya membentuk “super cluster”. Sementara ribuan Super Cluster ini akhirnya membentuk “Jagad Raya” (Universe) yang bentangannya sejauh 30 milyar tahun cahaya!. Harap diingat, angka 30 milyar tahun cahaya baru estimasi saat ini, karena jarak pandang teleskop tercanggih baru sampai 15 milyar tahun cahaya.[6]

Bayangkan jika jarak bumi dengan matahari yang 150 juta kilometer ditempuh oleh cahaya hanya dalam waktu 8 menit, maka seluruh Jagad Raya baru bisa ditempuh selama 30 milyar tahun cahaya. Itulah kebesaran ciptaan Allah!. Jika kita yakin akan kebesaran ciptaan Tuhan, maka hendaknya kita lebih meyakini lagi kebesaran penciptanya.

Dalam Al Qur’an Allah menjelaskan bahwa Dialah yang menciptakan langit, bintang, matahari, bulan, dan lain – lain:

x8u‘$t6s? “Ï%©!$# Ÿ@yèy_ ’Îû Ïä!$yJ¡¡9$# %[`rãç/ Ÿ@yèy_ur $pkŽÏù %[`ºuŽÅ  #\yJs%ur #ZŽÏY•B ÇÏÊÈ

61. Maha suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya.

Ada jutaan orang yang mengatur lalu lintas jalan raya, laut, dan udara. Mercusuar sebagai penunjuk arah dibangun, demikian pula lampu merah dan radar. Menara kontrol bandara mengatur lalu lintas laut dan udara. Sementara tiap kendaraan ada pengemudinya. Bahkan untuk pesawat terbang ad Pilot dan Co-pilotnya, sementara di kapal laut ada kapten, juru mudi, dan lain – lain. Toh ribuan kecelakaan selalu terjadi di darat, laut, dan udara. Meskipun ada yang mengatur seperti itu, tetap saja terjadi kecelakaan lalu lintas.

Sebaliknya, bumi, matahari, bulan, bintang, dan lain – lain selalu beredar selama milyaran tahun lebih (umur bumi diperkirakan sekitar 4,5 milyar tahun) tanpa ada tabrakan. Selama milyaran tahun, bumi tidak pernah menabrak bulan, atau bulan menabrak matahari. Padahal tidak ada rambu – rambu jalan, polisi, atau pun pilot yang mengendarai. Tanpa ada Tuhan yang Maha Mengatur, tidak mungkin semua itu terjadi. Semua itu terjadi karena adanya Tuhan yang Maha Pengatur. Allah telah menetapkan tempat – tempat perjalanan (orbit) bagi masing – masing benda tersebut. Jika kita sungguh – sungguh memikirkan hal ini, tentu kita yakin bahwa Tuhan itu ada.

Maka dari sinilah kita meyakini dan membenarkan bahwa Tuhan itu benar – benar ada. Tuhanlah yang menciptakan alam semesta ini begitu juga Tuhanlah yang mengatur semuanya sehingga jagad raya ini bisa berjalan sesuai dengan aturan, benda – benda langit yang beredar sesuai dengan orbitnya tanpa harus bertabrakan.

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Dari makalah dapat diambil kesimpulan bahwa Tuhan yang dalam bahasa arab disebut Al Ilah sesuatu yang dipuja dengan penuh kecintaan dan merendahkan diri, tempat memohon pertolongan dan bertawakkal serta sesuatu yang dipentingkan melebihi kepentingan hal hal yang lain yang menimbulkan ketenangan disaat kita mengingatnya.

Tuhan bisa kita buktikan adanya dengan melalui ciptaan – ciptaanNya dikarenakan panca indera kita tidak sanggup untuk menyaksikan adanya Tuhan. Adanya alam ini juga menjadi bukti adanya Tuhan. Jika kursi atau meja yang sederhana saja kita percaya bahwa semua itu tidak ada dengan sendirinya namun ada yang membuat meski kita tidak menyaksikan siapa yang membuat, maka alam semesta yang amat rumit dan kompleks ini dibandingkan dengan sebuah kursi tentu alam semesta ini juga ada yang menciptakan. Dan yang menciptakan adalah tuhan yang dalam bahasa arab disebut Al Ilah dan dalam bahasa Inggris disebut God.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Majid, Mufid, Suyoto, Tobroni, Nurhakim, Fathur Rahman, Al-Islam I, LSI Kemuhammadiyahan UMM, Malang, 1996. Hal.81

Dr. Yusuf Qardawi: “Tauhid dan Fenomena Kemusyrikan, (Haqiqat Al-Tauhid) Terjemahan H. Abd. Rahim Haris, Pustaka Darul Hikmah, Bima, hal. 26 – 27

Zarkasyi, Imam, Usuludin.Trimurti, Ponorogo. 1994. Hal. 24

http://syiarislam.wordpress.com/2007/09/13/bukti-tuhan-itu-ada/


[1] Abdul Majid, Mufid, Suyoto, Tobroni, Nurhakim, Fathur Rahman, Al-Islam I, LSI Kemuhammadiyahan UMM, Malang, 1996. Hal 79

[2] Ibid. Hal 81

[3] Dr. Yusuf Qardawi: “Tauhid dan  Fenomena Kemusyrikan, (Haqiqat Al-Tauhid)terjemahan H.Abd Rahim Haris, Pustaka Darul Hikmah, Bima, hal 26 – 27.

[5] Zarkasyi, Imam, Ushuludin. Trimurti, Ponorogo. Hal.24

This entry was posted in kelas 1i. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s