Kelas KPI / I /B / Kelompok 11 – Konteks Teologi di Indonesia

Oleh :

1. Febrianto AL Qossam (B01210037)

2. Mardiana Lia Puspita (B71210059)

3. Birul Walidain             (           )

—————————————————————-

KATA PENGANTAR

ÉOó¡Î0 «!$# Ç`»uH÷q§9$# ÉOŠÏm§9$#

 

Puji syukur Alhamdulillah kami panjatakan kepada Allah SWT dengan segala nikmat dan karunia Nya yang diberikan kepada kami sehinga kami dapat menyelesaikan tugas makalah mata kuliah ”Ilmu Kalam ” tepat pada waktu yang ditetapkan.

 

Tugas makalah ini sengaja kami buat dengan bertujuan untuk pemenuhan tugas mata kuliah yang di berikan dosen kami Bpk.

 

Kami sadar atas kekurangan yang kami miliki, untuk itu tak lupa kiranya kami mohon maaf atas ketidak sempurnaan makalah yang sederhana ini, semoga makalah sederhana ini dapat berguna bagi pembacanya, khususnya mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Amin ya Rrobbal ’ alamin.

Surabaya, 11 Oktober 2010

Penyusun

BAB I

PENDAHULUAN

 

Dilihat dari pengalaman Islam di Indonesia, konteks berteologi menampilkan kasus yang mungkin cukup bahwa teologi Islam di Indonesia relative konstan, atau tidak menghalami perubahan. Tulisan ini berargumen bahwa justru terdapat perubahan atau setidaknya pergeseran dalam pemahaman terhadap teologi Islam yang dipandang dominan di Indonesia. Perubahan atau pergesera tersebut seperti akan dikaji secara lebih rinci di bawah banyak dipengaruhi konteks situasi dan kondisi historis tertentu yang dihadapi kaum muslim Indonesia, yang pada gilirannya mendorong para pemikir, cendekiawan, atau ulama memberikan respon-respon tertentu yang dikelihatannya tidak selaras dengan paham teologi yang mereka ikuti.

Dalam upaya memahami secara lebih akurat konteks berteologi dalam pengalaman Islam di Indonesia, kita harus melihat perkembangan dan situasi historis tertentu yang dihadapi umat muslim sepanjang sejarahnya di kawasan ini. Dari situlah nanti kita akan melihat secara lebih jelas perubahan dan pergeseran baik pada tingkatan konsepsi maupun tingkatan empiris-dalma pandangan teologis kaum muslim Indonesia. Tulisan ini berusaha melacak perubahan dan pergeseran dalam konteks berteologi sebagaimana dialami kaum muslimin di Indonesia, termasuk dalam masa-masa terakhir.

BAB II

PEMBAHASAN

Konteks Berteologi di Indonesia

 

A.        Teologi Predestinasi

Secara historis, aliran teologi Islam yang dominan di Indonesia sejak perkembangan awal Islam di wilayah ini adalah aliran teologi asy’ariyah. Aliran teologi as’ariyah tentu saja merupakan aliran utama (mainstream school of theology) yang dalam mahzab ahl al-sunnah wa al jamaah (sunni) yang diikuti mayoritas kaum muslim di buka bumi ini. Selain aliran teologi as’ariyah di dalam madzhab sunni terdapat aliran-aliran teologi lainnya, seperti khususnya aliran mu’tazilah. Tetapi dalam perkembangan sejarah aliran teologi mu’tazilah, yang sangat menekankan pada kebebasan berpikir dan berkarya, setelah tidak lagi menjadi teologi resmi dinasi Abassiyah, kemudian dipandang sebagai semacam ‘teologi sempalan’ dalam tradisi sunni. Ini terlihat dari cukup banyaknya literatur sunni yang mengecam mu’tazilah, sembari mengingatkan kaum muslim untuk tidak ‘tersesat’ mengikuti paham teologis ini.

Teologi Asy’ariah, sebagaimana kita ketahui, merupakan tandingan atau respon terhadap aliran teologi Mu’tazilah. Kontras dengan teologi Mu’tazilah, Asyariah menekankan pada ketundukan manusia kepada takdir yang telah ditentukan Tuhan (predestination) sejak zaman azali. Meski manusia mempunyai potensi untuk mewujudkan keinginan dan perbuatannya (kasb), tetapi perwujudannya kembali sangat tergantung pada keinginan, kemauan dan kekuasaan Tuhan. Dengan demikian, dalam pandangan teologi Asyariah terkesan bahwa manusia hanya merupakan semacam ‘wayang’ ditangan sutradara yang agung, Tuhan.

Teologi Asyariah semakin berkembang dan menjadi mapan di Indonesia ketika sejumlah ulama yang belajar di timur tengah, terutama di Makkah dan Madinah, kembali ke Indonesia sejak abad ke-17. Mereka ini, yang secara sosial dan intelektual termasuk ke dalam jaringan ulama di Timur Tengah, seperti bisa diduga, mempelajari dan mengikuti aliran teologi Asyariah, yang selanjutnya mereka sebarkan melalui kitab-kitab yang mereka tulis keberbagai tempat di Indonesia, atau melalui medium-medium lain yang bisa mereka manfaatkan, seperti dakwah oral dan pengajaran pada lembaga-lembaga dakwah dan pendidikan Islam.

Dominasi Teologi Asyariah dengan beberapa karakteristik yang dikemukakan secara singkat di atas, mendorong sementara pengamat dan peneliti mengambil kesimpulan, bahwa aliran teologi ini bertanggung jawab atas keterbelakangan sosial ekonomi kaum muslim di Indonesia. Aliran Asyariah yang bersifat jabariyah (predestinasi) dipandang telah melemahkan etos sosial ekonomi umat Islam, sehingga mereka lebih cenderung menyerah kepada takdir daripada melakukan usaha-usaha kreatif untuk memperbaiki dan memajukan diri dan masyarakat mereka.

Kesimpulan atau argument tentang teologi Asyariah sebagai penyebab keterbelakangan kaum muslim ini kemudian dikaitkan pula dengan kenyataan populernya ajaran-ajaran tasawuf (mistisme Islam).

Argumen yang mengecam teologi Asyariah yang berkelindan dengan sufisme seperti di atas mendapatkan dukungan kuat pada saat Indonesia memulai program modernisasinya yang dilaksanakan secara bertahap melalui pembangunan ekonomi. Mengikuti teori-teori tentang beberapa prasyarat modernisasi dan kemajuan ekonomi, sebagaimana terlihat dalam pengalaman Eropa, sementara pengamat menilai bahwa aliran teologi Asyariah dan sufisme tidak konfusif bagi tumbuh dan kembangnya etos kerja yang diperlukan dalam modernisasi dan pembangunan ekonomi.Beberapa pemikir muslim di Indonesia mulai berbicara tentang perlunya perumusan suatu ‘teologi baru’ yang lebih kondusif bagi dan mendukung program modernisasi dan pembangunan ekonomi. Usulan ini secara implicit menghendaki pengembangan suatu teologi yang lebih kontekstual dengan perkembangan situasi dan kondisi.

B.        perubahan Teologis

Untuk konteks Indonesia, perubahan atau pergeseran dari pandangan teologis Asyariah itu bisa disaksikan terjadi sedikitnya sejak abad ke 18. Penting diketahui, sejak abad ke 17 mulai berkembang paham neosufisme, yang disebarkan oleh ulama-ulama Indonesia yang baru kembali dari menuntut ilmu di timur tengah. Yang paling menonjol di antara ulama ini pada abad ke 17 adalah Nur al-Din al Ranriri, Abd al-Ra’uf Singkili (keduanya menjadi multi di Kesultanan Aceh), dan Muhammad Yusuf al-Maqassari (menjadi mufti di Kesultanan Banten). Neosufisme yang mereka anut yang telah dimurnikan dari praktek-praktek yang eksesif dan antinomian, sehingga menjadi lebih selaras dengan tuntunan hukum Islam (syariah atau fiqh). Salah satu tema pokok neosufisme adalah rekonstruksi sosio moral masyarakat muslim melalui aktivitas dan upaya kaum muslim sendiri, tanpa harus menunggu campur tangan eskatologis.

Pada abad ke-18, berbarengan dengan terjadinya konsolidasi kolonialisme Belanda, neosufisme di Indonesia mengalami proses politisasi dan radikalisasi. Pada tingkat konseptual, perkembangan ini terlihat dari pemikiran tasawuf yang dikembangkan para ulama dan pemikir tasawuf lainnya. sulit dicari presedennya dalam masa sebelumnya di Indonesia, Syekh Abd al Shamad al Palimbani, seorang ulama dan pemikir tasawuf khususnya tasawuf Ghazalin mengembangkan pemikiran tentang keutamaan (virtues) bagi kaum muslim untuk melakukan perang (jihad) melawan penjajah (dalam hal ini Belanda), yang mengancam eksistensi kaum muslim. Semua dituliskannya dalam sebuah buku khusus yang berjudul Fahda’il al-Jihad (keutamaan jihad). Tidak cukup sampai di situ, al Palimbani bahkan mengirim surat-surat pribadi (yang terinterpretasi Belanda), yang menyeru penguasa musli Mataram untuk melakukan jihad terhadap penguasa mataram, karena terlanjur diantisipasi Belanda yang begitu mewaspadai setiap gerak langkah kaum muslim. Tetapi, aktivitasme dan radikalisasi sufifsme di Indonesia tidak pernah mati; salah satu puncaknya adalah pemberontakan kaum tarekat Naqsyabandiyah dan Qadiriyah di Cilegon, Banten pada 1888.

 

Teologi jihad dengan warna sedikit lain juga muncul dalam gerakan Diponegoro yang memunculkan perang jawa (1825-1830). Tetapi, teologi jihad melawan colonialis Belanda yang dimunculkan Diponegoro ini sekaligus berbau sufistik, mahdiis, dan mesianis. Pangeran Diponegoro ini sekaligus yang mengalami semacam intensifikasi keislaman dan kesufian melalui pengembaraannya dari satu pesantren ke pesantren lain, menyatakan diri sebagai sultan ngabdulhamid Herucakra Kabiril Mukminin Kalipatullah ing Tanah jawa sayyidin pantogomo, penegak kembali agama Islam di jawa, dan sekaligus sebagai Ratu Adil yang bertugas untuk melenyapakan kekacauan, ketidakadilan, dan penindasan yang dialami kaum muslim di jawa. Dengan demikian, berbeda dengan gerakan-gerakan neosufisme pada umumnya,

unsur-unsur eskatologis sangat menonjol dalam gerakan Diponegoro.

Teologi radikal lainnya juga muncul dari Syekh Ahmad Rifai, dari Kalisalak, Pekalongan, pada abad ke 19. Setelah belajar belasan tahun di Mekkah, Ahmad Rifai kembali ke desanya. Di sini, ia mengembangkan teologi dan ajaran radikal. Ia dan pengikutnya ‘hijrah’ dari kaum muslim lain dengan membentuk kelompok eksklusif yang kemudian dikenal sebagai kelompok ‘santri tarjumlah’. Ahmad Rifai mengecam keras dan menolak otoritas penghulu, yakni pejabat agama yang diangkat Belanda untuk mengelola urusan-urusan keagamaan kaum muslim. Menurut Ahmad Rifai tidak sah berimam kepada penghulu yang diangkat oelh penguasa non muslim. Dan tidak sah pula melakukan perkawinan melalui penghulu dan, sebagai konsekuensinya, pernikahan yang dilakukan melalui penghulu harus diulangi kembali. Lagi-lagi, hanya kewaspadaan pemerintah kolonial Belanda yang membuat gerakan Ahmad Rifai tidak berkembang lebih lanjut dari gerakan eksklusif menjadi gerakan jihad melawan para penghulu dan kolonialisme Belanda.

Semua kasus di atas secara jelas dapat dikatakan merupakan serangkaian pergeseran atau barangkali “penyimpangan’ bagian tertentu masyarakat. muslim dari kerangka doktrin teologis Asyariah yang dipandang dominan dalam membentuk pandangan dunia mereka. Dalam kasus Gerakan Padri dan Ahmad Rifai, orang dengan justifikasi yang cuku kuat bisa berargumen, bahwa teologi kedua gerakan ini lebih mirip dengan teologi khawarij ketimbang teologi Asyariah. Sebagaimana diketahui, teologi Khawarij mengabsahkan penggunaan kekerasan dan pemakluman jihad terhadap kaum muslim lain yang berbeda dalam pandangan dan praktik kesilaman mereka. Dalam konteks ini, aliran khawarij menyusun kerangka yang cukup sistematis, pertama takfir, yakni mengkafirkan orang-orang muslim lain yang mempunyai perbedaan pandangan dengan mereka; kedua hijrah, yakni berimigrasi dari wilayah yang dikuasai oleh muslimin lain; ketiga; jihad, memaklumkan perang terhadap orang-orang muslim lain yang menolak untuk mengikuti pandangan mereka.

Lebih jauh, para pelaku yang terlibat dalam gerakan-gerakan tersebut sangat boleh jadi menganggap, bahwa mereka tetap berpegang kepada doktrin teologi Asyariah, tetapi aktivitas dan gerakan mereka secara implicit menunjukkan terjadinya pergeseran atau ‘penyimpangan’ tertentu dari kerangka doktrin Asyriah. Dan pergeseran itu, sebagaimana terlihat dalam kasus-kasus di atas, banyak disebabkan faktor-faktor tertentu yang bekerja dalam masyarakat dan karena itu, menuntut respon-respon tertentu pula. Dengan demikian, konteks berteologi dapat pula kita berada dalam semua kasus tersebut. Dengan pion yang sama dapat pula dikatakan, pemahaman teologis yang ada tidaklah selalu statis atau stagnan, tetapi dalam segi-segi tertentu bisa menjadi sangat dinamis dan sekaligus kontekstual.

C.        Konteks Kontemporer

Kompleksitas persoalan itu, misalnya, segera akan terlihat sejak bangsa Indonesia mulai mempersiapkan kelahiran negara bangsa Indonesia negara bangsa Indonesia merdeka. Perdebatan-perdebatan yang terjadi diantara berbagai kelompok mengenai dasar negara yang akan dibentuk itu sebenarnya secara tersirat mengindikasikan terjadinya “pergulatan” berbagai pandangan dunia tertentu yang dibentuk atau diwarnai prinsip teologis tertentu pula mengenai eksistensi dan posisi negara tersebut vis-a-vis doktrin agama.

Perubahan atau pergeseran pandangan teologis tertentu dalam masyarakat Islam Indonesia terlihat lebih jelas lagi sejak 1970-an, berbarengan dengan dimulainya program modernisasi ekonomi dan sosial oleh pemerintah Order Baru. Modernisasi yang berlangsung sejak saat itu memunculkan tidak hanya kemajuan-kemajuan dalam berbagai lapangan kehidupan masyarakat Indonesia, tetapi juga sejumlah masalah dan tantangan yang menghendaki respon para pemikir agama.

Perubahan atau pergeseran pandangan teologis yang terjadi dalam kalangan kaum muslim Indonesia dapat dikatakan sangat kompleks dan beragama dan karena itu terlalu luas untuk dibahas satu per satu secara rinci. Sebab itu, untuk kepentingan tulisan ini kita terpaksa melakukan “penyederhanaan’ dengan mencoba membuat beberapa tipologi pandangan teologis kalangan Islam yang muncul dan berkembang dalam beberapa dasawarsa terakhir. Tipologi-tipologi itu adalah; modernisasi, transformasi, insklusifvisme, fundamentalisme, dan neotradisionalisme. Patut ditugaskan lebih dahulu, bahwa penggolongan ini tidakah berlaku secara ketat (watertight). Penggolongan ini pada esensinya hanya mencoba menangkap pandangan teologis terkuat di dalam masing-masing tipologi. Dengan kata lain, dalam setiap tipologi sangat mungkin terdapat unsur-unsur tipologi lain.

a.         Teologi modernisasi

Tak pelak lagi kemunculan teologi modernism didorong motivasi untuk memodernisasi atau memajukan kaum muslim. Dalam satu dan lain hal, baik secara langsung atau tidak, teologi modernism diilhami oleh dan mempunyai konteks yang kuat dengan program modernisasi yang dilancarkan pemerintahan orde baru. Diantara protagonist terkemuka teologi modernisasi ini adalah Harun Nasution dan Nurcholis Madjid. Teologi modernism pada intinya berargumen bahwa modernisasi dan pembangunan umat Islam Indonesia harus dimulai dari pembaruan teologis dan aspek-aspek pemikiran lainnya.

b.         Teologi transformasi

Dalam batas tertentu, teologis transformative dapat dikatakan “bagian’ dari teologi modernism, dalam pengertian bahwa teologi transformative ingin mewujudkan transformasi masyarakat muslim sehingga dapat mencapai kemajuan. Sebaliknya teologi transformative memandang bahwa pembaruan itu harus dimulai dari masyarakat paling bawah (grassroots). Para protagonist utama teologis transfromatif ini, bisa diduga, adalah mereka yang terutama terlibat dalam lembaga swadaya masyarakat (LSM), seperti M. Dawam Rahardjo, Adi Sasono, Hadimulyo, dan banyak aktivis LSM lainnya.

c.         Teologi inklusivisme

Teologi inklusivisme dalam segi-segi tertentu tumpang tindih dengan teologi modernisasi. Teologi inklusivisme ini dapat pula disebut sebagai “teologi kerukunan keagamaan”, baik di dalam satu agama tertentu maupun antara satu agama dengan lainnya. Tema sentral dari teologi inklusivisme adalah pengembangan paham dan kehidupan keagamaan yang inklusif, toleran dan respek terhadap pluralism keagamaan, sehingga para penganut berbagai aliran keagamaan atau agama-agama dapat hidup berdampingan secara damai (peaceful co-exixtence).

d.         Teologi fundamentalisme

Teologi fundentalisme (kontemporer) atau neofundamentalisme untuk membedakannya dengan fundamentalisme ‘klasik’ seperti gerakan Wahhabi) dalam banyak segi muncul sebagai reaksi terhadap teologi modernisme yang dipandang telah ‘mengorbankan” Islam untuk kepentingan modernisasi yang oleh kalangan fundamentalis dianggap nyaris identik dengan westernisasi. Sistem teologi fundamentalisme yang khas Indonesia sebenarnya belum terumuskan secara komprehensif dan rinci. Karena itu, para pendukung teologi fundamentalis yang berkembang di timur tengah. Sebagian besar pedukung teologi fundamentalisme ini adalah kalangan mahasiswa dan anak-anak muda yang membentuk kelompok-kelompok eksklusif (usrah) di bawah pimpinan “imam’ atau ‘amir’

e.         Teologi neotradisionalisme

Teologi neotradisionalisme muncul dan berkembang sedikit banyak sebagai reaksi terhadap teologi modernisasi yang dipandang telah mendorong terjadinya ‘despiritualisasi” Islam dalam proses modernisasi. Salah satu tema pokok teologi neotradisionalisme ialah kembali kepada kekayaan warisan spiritual Islam tradisional, khususnya tasawuf (dan tarekat), dan syariah. Berbeda dengan teologi fundamentalisme yang cenderung menolak warisan tradisi Islam yang dipandang sudah bercampur dengan bid’ah dan khurafat. Sama dengan teologi fundamentalisme, paham neotradisionalisme juga belum terumuskan secara komprehensif, meski dari kepenganutan kepada neotradisionalisme semakin populer di kalangan tertentu masyarakat muslim Indonesia.

Sebagaimana menjadi argumen pokok tulisan ini, bahwa konteks situasi tertentu akan mendorong munculnya pemahaman baru dan teologi baru dikalangan kaum muslimin. Tetapi perlu digarisbawahi kembali, bahwa satu konteks tertentu belum tentu melahirkan pemahaman baru atau aliran teologi yang seragam.

Karena itu, bisa diduga, akan terjadi dialektika dan tarik menarik diantara berbagai pandangan teologis yang muncul dan berkembang. Hampir bisa dipastikan, bahwa pemahaman baru atau pandangan teologis baru akan terus menemukan momentumnya di masa-masa kontemporer ini. Karena itu, pluralism paham dan dengan demikian praktik keagamaan juga akan semakin majemuk. Disini lagi-lagi, diperlukan sikap toleransi dan respek terhadap perbedaan dan keragaman tersebut.

Disinilah keberagamaan kita menjadi lebih teruji dan sekaligus lebih bermakna.

 

 

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN          :

 

(+) Secara historis, aliran teologi Islam yang dominan di Indonesia sejak perkembangan awal Islam di wilayah ini adalah aliran teologi Asy’ariah yang merupakan aliran utama yang dalam mazhab ah-al-sunnah wa al-jama’ah dan yang diikuti mayoritas kaum muslim. Selain aliran Asy’ariyah di dalam mazhab sunni terdapat aliran-aliran teologi lainnya seperti aliran Mu’tazilah yang sangat menekankan kepada kebebasan berfirki dan berkarya

(+) Perubahan atau pergeseran pandangan teologis yang terjadi dalam kalangan kaum muslim Indonesia dapat dikatakan sangat kompleks dan beragama. Beberapa tipologi pandangan teologis kalangan Islam yang muncul dan berkembang dalam beberapa dasawarsa diantaranya:

Teologi modernisme

Teologi transformatif

Teologi inklusivisme

Teologi fundamentalisme

Teologi neotradisionalisme

 

Tetapi perlu digaris bawahi kembali, bahwa satu konteks tertentu belum tentu melahirkan pemahaman baru atau aliran teologi yang seragam. Sebaliknnya respon yang muncul bisa sangat beragam, yang satu pemahaman atau aliran dengan pemahaman atau aliran lainnya dapat bertolak belakang sama sekali. Karena itu, bisa diduga akan terjadi dialektika dan tarik-menarik di antara berbagai pandangan teologis yang muncul dan berkembang.

Hampir bisa dipastikan, bahwa pemahaman baru atau pandangan teologis baru akan terus menemukan momentumnya di masa-masa kontemporer ini. Karena itu, pluralisme paham dan demikian, praktik keagamaanjuga akan semakin majemuk. Disini juga diperlukan sikap toleransi dan respek terhadap perbedaan dan keragaman tersebut.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Azra, Azyumardi, MA. Konteks Berteologi di indonesia, pengalaman islam (cetakan I) jakarta selatan :september 1999

Rozak, Abdul & Anwar, Rosihon. Ilmu Kalam, (cetakan V) Bandung :Maret 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s