kel 8 qadha’ dan qadar 1/kpi B

 

QADA’ DAN QADAR

Makalah

Diajukan Untuk Menyelesaikan Tugas Mata Kuliah

ILMU KALAM

 

Disusun oleh :

Wahidah Fikriyah                  B71210056

Abdur Rozak Naufal              B71210057

Ria Isnaini                                      B71210058

 
Dosen Pengampu:

Drs. Masduqi Affandi, M.Pd.I

FAKULTAS DAKWAH

JURUSAN KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

SURABAYA

2010

KATA PENGANTAR

 

 

Puji Syukur Alhamdulillah kami ucapkan kepada Allah SWT. Sholawat dan salam tetap tercurahkan pada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, karena kami tetap diberi kesehatan serta mampu menyelesaikan tugas makalah Ilmu Kalam yang berjudul “Qada dan Qadar”.

Tidak pernah ada ciptaan manusia yang sempurna, sebab yang lengkap hanya ciptaan Allah. Oleh karena itu, makalah ini pasti banyak kekurangannya, maka diharapkan kepada pembaca yang budiman, agar membantu menyampaikan koreksi  dan saran – sarannya kepada penulis, untuk memperbaiki dan menyempurnakan makalah ini.

Kami juga mengucapkan terimah kasih kepada bapak dosen yang telah membimbing kami dan dalam memperlancar perkuliahan Ilmu Kalam ini.

 

 

 

 

 

Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar         …………………………………………………………………………..             i

Daftar Isi                    …………………………………………………………………………..             ii

Pendahuluan             …………………………………………………………………………..             1

 

BAB    I    PEMBAHASAN

  1. Pengertian Qada dan Qadar                 ………………………………………….. 3
  2. Iman pada Qada dan qadar                   ………………………………………….. 4

B.1. Aliran Jabariyah                              ………………………………………….. 4

B.2. Aliran Muktazilah                            ……………………………………….   6

B.3. Aliran Asy’ariyah                             ……………………………………….      7

B.4. Maturidi                                           ……………………………………….      8

B.5. Ibnu Rusyd                                     ……………………………………….      9

C. Tingkatan iman pada qodar                    ……………………………………….      9

D. Masalah dan pendapat mengenai qada dan qadar…………………………     12

BAB II  PENUTUP

  1. Kesimpulan                                                  ………………………………………….. 14

Daftar Pustaka          ………………………………………………………………………………….. iii

BAB I

PENDAHULUAN

A . Latar belakang

Hidup ini memang penuh dengan warna. Dan ingatlah  bahwa hakikat warna-warni kehidupan yang sedang kita jalani di dunia ini telah ALLAH tuliskan (tetapkan) dalam kitab “Lauhul Mahfudz” yang terjaga rahasianya dan tidak satupun makhluk ALLAH yang mengetahui isinya.

Semua kejadian yang telah terjadi adalah kehendak & kuasa ALLAH Subhanahu wa Ta’ala. Begitu pula dengan bencana-bencana yang akhir-akhir ini sering menimpa bangsa kita. Gempa, tsunami, tanah longsor, banjir, angin ribut dan bencana-bancana lain yang telah melanda bangsa kita adalah atas kehendak, hak, & kuasa ALLAH Subhanahu wa Ta’ala.

Dengan bekal keyakinan terhadap takdir yang telah ditentukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, seorang mukmin tidak pernah mengenal kata frustrasi dalam kehidupannya, dan tidak berbangga diri dengan apa-apa yang telah diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kematian, kelahiran, rizki, nasib, jodoh, bahagia, dan celaka telah ditetapkan sesuai ketentuan-ketentuan Ilahiah yang tidak pernah diketahui oleh manusia. Dengan tidak adanya pengetahuan tentang ketetapan dan ketentuan ALLAH ini, maka kita harus berlomba-lomba menjadi hamba yang saleh-muslih, dan berusaha keras untuk menggapai cita-cita tertinggi yang diinginkan setiap muslim yaitu melihat Rabbul’alamin dan menjadi penghuni Syurga.

Menurut Al-Qur’an setiap bencana yang menimpa manusia itu tidak terlepas dari Qadha dan Qadhar (ketetapan) yang telah ditentukan Allah Subhanahu wa Ta’ala:

@è% `©9 !$uZu;‹ÅÁムžwÎ) $tB |=tFŸ2 ª!$# $uZs9 uqèd $uZ9s9öqtB 4 ’n?tãur «!$# È@ž2uqtGuŠù=sù šcqãZÏB÷sßJø9$# ÇÎÊÈ

Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang Telah ditetapkan Allah untuk kami. dialah pelindung kami, dan Hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS. At-Taubah : 51)

Keimanan seorang mukmin yang benar harus mencakup enam rukun. Yang terakhir adalah beriman terhadap takdir Allah, baik takdir yang baik maupun takdir yang buruk. Salah memahami keimanan terhadap takdir dapat berakibat fatal, menyebabkan batalnya keimanan seseorang. Terdapat beberapa permasalahan yang harus dipahami oleh setiap muslim terkait masalah takdir ini.

Makalah ini disusun guna untuk menambah wawasan kita tentang Qadha dan Qadhar. Tak lupa pula makalah ini disusun guna memenuhi tugas dari mata kuliah Ilmu Kalam.

B . Rumusan Masalah

  1. Apa pengertian dari Qadha dan Qadhar
  2. Iman kepada Qadha dan Qadhar
  3. Permasalahan mengenai Qadha dan Qadar
  4. Tingkatan Iman kepada Qadha dan Qadar

C. Tujuan

Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah:

  1. Guna mengulas mengenai Qadha dan Qadhar
  2. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Kalam mengenai Qadha dan Qadhar

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A . Pengertian Qadha dan Qadar

Qadha secara etimologi memiliki arti yang banyak. Dan semua pengertian yang berkaitan dengan qadha kembali kepada makna kesempurnaan  (An-Nihayat fii Ghariib al-Hadits, Ibnu al- Atsir 4/78). Adapun qadar secara etimologi berasal dari kata qaddara-yuqaddiru-taqdiiran yang berarti penentuan. Pengertian ini bisa kita lihat dalam ayat Allah berikut ini.

Ÿ@yèy_ur $pkŽÏù zÓśºuru‘ `ÏB $ygÏ%öqsù x8t»t/ur $pkŽÏù u‘£‰s%ur !$pkŽÏù $pksEºuqø%r& þ’Îû Ïpyèt/ö‘r& 5Q$­ƒr& [ä!#uqy™ tû,Î#ͬ!$¡¡=Ïj9 ÇÊÉÈ

“Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.”

(Fushshilat: 10)

Dari sudut terminologi, qadha adalah pengetahuan yang lampau, yang telah ditetapkan oleh Allah pada zaman azali. Adapun qadar adalah terjadinya suatu ciptaan yang sesuai dengan penetapan (qadha). Ibnu Hajar berkata, “Para ulama berpendapat bahwa qadha adalah hukum kulli (universal) ijmali (secara global) pada zaman azali, sedangkan qadar adalah bagian-bagian kecil dan perincian-perincian hukum tersebut.”(Fathul-Baari 11/477). Ada juga dari kalangan ulama yang berpendapat sebaliknya, yaitu qadar merupakan hukum kulli ijmali pada zaman azali, sedangkan qadha adalah penciptaan yang terperinci.

Kata Qadha bermakna: sesuatu yang ditetapkan Allah pada mahluk-Nya, baik berupa penciptaan, peniadaan maupun perubahannya.

Sedangkan Qadar bermakna sesuatu yang telah ditentukan Allah sejak zaman azali. Inilah perbedaan antara kedua istilah tersebut. Maka Qadar ada lebih dahulu kemudian disusul dengan Qadha.

Kemudian yang dimaksud dengan iman kepada Qadar adalah  kita mempercayai (sepenuhnya) bahwa Allah telah menetapkan segala sesuatu, sebagaimana firman-Nya.

“Ï%©!$# ¼çms9 à7ù=ãB ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚö‘F{$#ur óOs9ur õ‹Ï‚­Gtƒ #Y‰s9ur öNs9ur `ä3tƒ ¼ã&©! Ô7ƒÎŽŸ° ’Îû Å7ù=ßJø9$# t,n=yzur ¨@à2 &äóÓx« ¼çnu‘£‰s)sù #\ƒÏ‰ø)s? ÇËÈ

Artinya :

“Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu baginya dalam kekuasaan(Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya. (Al – Furqan : 2)

Kemudian ketetapan yang telah ditetapkan Allah selalu sesuai dengan kebijakan-Nya dan tujuan mulia yang mengikutinya serta berbagai akibat yang bermanfaat bagi hamba-Nya, baik untuk kehidupan (dunia) maupun akhiratnya.

B . Iman kepada Qadha dan Qadar

Iman kepada qadar adalah termasuk tauhid Ar- Rububiyah. Yaitu tauhid yang  meng-esakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam perbuatanNya , yakni mengimani dan meyakini bahwa hanya Allah yang mencipta , menguasai dan mengatur alam semesta ini. Oleh karena itu imam Ahmad rahimahullah berkata : “qadar adalah merupakan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala “.karena tak syak lagi, qadar ( takdir ) termasuk qudrat dan kekuasanNya yang menyeluruh, di samping itu, qadar adalah rahasia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tersembunyi, tak ada seorangpun yang dapat mengetahuinya kecuali Dia, tertulis pada lauh mahfuzh dan tak ada seorangpun yang dapat melihatnya. Kita tidak tahu, takdir baik atau buruk yang telah ditentukan untuk kita maupun untuk makhluk lainnya, kecuali setelah terjadi atau berdasarkan nash yang benar.

Walaupun masalah qadha dan qadar menjadi ajang perselisian di kalangan umat Islam, tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membuka hati para hambaNya yang beriman, yaitu para salaf shaleh yang mereka itu senantiasa menempuh jalan kebenaran dalam pemahaman dan pendapat.

Umat Islam dalam masalah qada dan qadar ini terpecah menjadi dua golongan yaitu :

B.1. Aliran Jabariyah murni (diterminis)

Tokoh aliran Jabariyah ialah Jahm bin Safwan, ia mengatakan bahwa perbuatan-perbuatan bukan dia yang mengadakan tetapi Allah sendiri, baik berupa gerakan refleksi atau gerakan lain yang semacam atau perbuatan-perbuatan yang kelahatanya dikehendaki atau disengaja, seperti berbicara,berjalan dan sebagainya,karena manusia sebenarnya tidak mempunyai kekuasaan dan pilihan sama sekali. Manusia tidak lain bagaikan bulu yang di tiup angin,tidak mempunyai gerak sendiri.[1] Kalau dikatakan manusia dapat berbuat, maka hanya dalam lahirnya saja. Dengan demikian, aliran Jabariyah telah menurunkan derajat mnusia kepada tingkatan yang lebih rendah daripada binatang bahkan sam dengan tumbuhan.[2]

Alasan – alasan aliran tersebut ialah :

  1. Kalau manusia dapat berbuat, berarti dia menjadi sekutu Tuhan, atau sekurang – kurangnya bisa mengadakan perbuatan yang mungkin tidak tunduk kepada kehendak Tuhan.
  2. Ayat – ayat yang menurut lahirnya menyatakn bahwa Tuhanlah yang menjadi segala sesuatu, seperti :
  • Tuhan yang menjadikan segala sesuatu. ( Surat Az – Zumar, 39:62 )

ª!$# ß,Î=»yz Èe@à2 &äóÓx« ( uqèdur 4’n?tã Èe@ä. &äóÓx« ×@‹Ï.ur ÇÏËÈ

  • Tuhan mengunci mati hati dan telinga mereka ( orang – orang kafir ).

( Surat Al – Baqarah, 2:7 )

zNtFyz ª!$# 4’n?tã öNÎgÎ/qè=è% 4’n?tãur öNÎgÏèôJy™ ( #’n?tãur öNÏd̍»|Áö/r& ×ouq»t±Ïî ( öNßgs9ur ë>#x‹tã ÒOŠÏàtã ÇÐÈ

  • Tuhan yang menjadikan kamu sekalian dan apa – apa yang kamu perbuat.

( Surat As – Saffat,37:96)

ª!$#ur ö/ä3s)n=s{ $tBur tbqè=yJ÷ès? ÇÒÏÈ

 

B.2. Aliran Muktazilah (indeterminis)

Aliran Muktazilah membagi perbuatan manusia menjadi dua bagian:

1. Perbuatan yang timbul dengan sendirinya,seperti gerakan refleksi dan lain-n ini jelas bukan diadakan manusia atau terjadi  karena kehendaknya.

2. Perbuatan-prbuatan bebas, di mana manusia biasa melakukan pilihan antara mengerjakan dan tidak mengerjakan. Perbuatan semacam ini lebih pantas dikatakan diciptakan (khalq) manusia dari pada dikatakan diciptakan Tuhan, karena adanya alasan-alasan akal pikiran dan syara’. [3]

Alasan – alasan akal pikiran :

  1. Kalau perbuatan itu diciptakan oleh tuhan seluruhnya, sebagaimana yang dikatakan aliran jabariyah, maka apa perlunya perintah pada manusia ?
  2. Pahala dan siksa tigdak ada artinya, karena manusia tidak dapat mengerjakan baik atau yang timbul dari kehendaknya sendiri.

Alasan – alasan Syara’ :

  1. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang ada pada suatu bangsa, sehingga mereka itu sndiri yang mengubah yang ada pad dirinya.

( Q.S. Ar – Ra’du, 13:11 )

¼çms9 ×M»t7Ée)yèãB .`ÏiB Èû÷üt/ Ïm÷ƒy‰tƒ ô`ÏBur ¾ÏmÏÿù=yz ¼çmtRqÝàxÿøts† ô`ÏB ̍øBr& «!$# 3 žcÎ) ©!$# Ÿw çŽÉitóム$tB BQöqs)Î/ 4Ó®Lym (#rçŽÉitóム$tB öNÍkŦàÿRr’Î/ 3 !#sŒÎ)ur yŠ#u‘r& ª!$# 5Qöqs)Î/ #[äþqߙ Ÿxsù ¨ŠttB ¼çms9 4 $tBur Oßgs9 `ÏiB ¾ÏmÏRrߊ `ÏB @A#ur ÇÊÊÈ

 

  1. Siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar atom ia akan melihatnya, dan siapa yang mengerjakan keburukan sebesar atom ia akan melihatnya.

( Q.S. Az – Zalzalah, 99:8 )

`tBur ö@yJ÷ètƒ tA$s)÷WÏB ;o§‘sŒ #vx© ¼çnttƒ ÇÑÈ

B.3. Aliran Asy’ariyah

Asy’ariyah membagi perbuatan manusia menjadi dua, yaitu perbuatan yang timbul dengan sendirinyadan perbuatan yang timbul karena kehendaknya. Dalam perbuatan macam kedua, manusia sanggup mengerjakannya, suatu tanda bahwa ia mempunyai kekuasaan  yang dapat dipergunakannya. Kekuasaan ini didahului denga kehendak. Dan dengan kesanggupan inilah ia mendapatkan perbuatan. Mendapatkan pekerjaan inilah yang dinamakan kasb.[4]

Bagaimana pengertian kasb yang sebenarnya ? Asy’riyah dan pengikut – pengikutnya mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kasb ialah “ Berbarengnya kekuasaan manusia dengan perbuatan Tuhan ”. Artinya apabila seseorang hendak mengadakan suatu perbuatan, maka pada saat itu Tuhan juga mengdakan (menciptakan) kesanggupan kesangguan manusia utuk mewujudkan perbuatan tersbut. Dengan perbuatan inilah ia mendapatkan perbuatanya, tetapi tidak menciptaknnya. Dengan kata lain, kekuasaan manusia bisa berpengaruh atas terwujudnya perbuatan dengan syarat penggabungan kekuasaan Tuhan pada kekuasaannya sebagai penolong. Meskipun manusia bisa mengerjakan atau meninggalkan sesuatu perbuatan, Tuhanlah yang menciptakan perbuatan tersebut, Pada akhirnya kekuasaan manusia tidak mempunyai pengaruh sama sekali.

Akan tetapi pendapat Asy’ariyah tersebut tidak juga mengakhiri persoalan Qada dan Qadar. Kelemahan pendapatnya ialah : “Sepintas lalu sudah jelas karena Asy’ariyah telah menetapkan adanya kekuasaan pada manusia, sabagi syarat utama terwujudnya pekerjaan dan yang menjadi dasar adanya pertanggungjawaban baginya. Akan tetapi bukankah kekuasaan manusia tersebut Tuhan juga yang mengadakannya ? Kalau ada sebilah pisau yang sanggup memotong, sebagai syarat enting berlangsungnya pembunuhan, dipergunakan orang untuk membunuh, apakah pisau itu yang harus bertanggungjawab atas pembunuhan tersebut, ataukah orang yang mempergunakannya ?”.

Dengan demikian jelaslah bahwa pikiran Asy’ariyah dalam soal qada dan qadar termasuk aliran jabariyah, bukan lagi sebagai aliran ditengah – tengah antara jabariyah dan muktazilah. Dalam memperkuat pendaptnya Asy’ariyah mmpergunakan ayat – ayat yang dipaki aliran jabariyah sebelumnya. Seperti ayat – ayat :

  • Adakah pencipta selain Allah (Q.S. Fatir, 35:3)

$pkš‰r’¯»tƒ â¨$¨Z9$# (#rãä.øŒ$# |MyJ÷èÏR «!$# ö/ä3ø‹n=tæ 4 ö@yd ô`ÏB @,Î=»yz çŽöxî «!$# Nä3è%ã—ötƒ z`ÏiB Ïä!$yJ¡¡9$# ÇÚö‘F{$#ur 4 Iw tm»s9Î) žwÎ) uqèd ( 4†¯Tr’sù šcqä3sù÷sè? ÇÌÈ

  • Apakah zat yang menciptakan sama dengan mereka yang tidak menciptakan

(Q.S. An – Nahl, 16:17)

`yJsùr& ß,è=øƒs† `yJx. žw ß,è=øƒs† 3 Ÿxsùr& šcr㍞2x‹s? ÇÊÐÈ

Akan tetapin ayat tersebut sebenarnya tidak meniadakan sama sekali kesanggupan manusia mengadakan perbuatan, tetapi ditiadakannya ialah mengadakan dari tiada yang hanya dimiliki Allah semata.

 

B.4. Maturidi

Awalnya maturidi menentang aliran muktazilah dan mengatakan bahwa kekusaan manusia bisa digunakan untuk dua hal yang berlawanan, seperti ketaatan dan manusia bebas menggunakan kekuasaannya tersebut. Selama manusia dijadikan Tuhan maka perbuatan – perbuatannya juga dijadikan Tuhan. Namun seiring berjalannya waktu maturidi sependapat dengan aliran muktazilah tentang adanya kekuasaan manusia untuk dua hal yang berlawanan, Dengan pendapatnya tersebut maturidi hendak menguatkan prinsip yang dipegang oleh mktazilah yaitu pemberian taklif dari Tuhan kepada manusia yang disesuiaka dengan kesanggupannya.[5]

B.5. Ibnu Rusyd

Menurut Ibnu Rusyd, Jabr (paksaan/dipaksa) yag mutlak tidak mungkin, dan kebebasan yang mutlak pun tidak mungkin pula. Dengan mengambil jalan tengah antara kedua pendapat terseut baru bisa didapatkan kebenaran, yaitu bahwa perbuatan manusia tidak semuanya bersifat kebebasan, dan tidak pula semuanya dipaksa/terpaksa tetapi tergantung pada dua faktor utama yaitu kehendak yang bebas yang dalam waktu yang sama bertalian dengan sebab – sebab diluar yang ada dalam alam dan yang berjalan menurut hukum keharusan dan keseragaman.[6]

 

C . Tingkatan iman kepada Qadar

Adakah tingkatan iman kepada Qadar? Iman  kepada Qadar berkisar empat tingkat keimanan.

[1].  Ilmu (Allah), yakni mempercayai dengan  sepenuhnya bahwa ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala meliputi segala sesuatu, baik di masa lalu, sekarang maupun yang akan datang, baik yang berhubungan dengan perbuatan-Nya maupun perbuatan hamba-Nya.

Dia (Allah) meliputi semuanya, baik secara global maupun rinci dengan ilmu-Nya yang menjadi salah satu sifat-Nya sejak azali dan selamanya (tak ada akhirnya). Dalil-dalil tentang tingkatan ini banyak sekali. Allah telah berfirman :

¨bÎ) ©!$# Ÿw 4‘xÿøƒs† Ïmø‹n=tã ÖäóÓx« ’Îû ÇÚö‘F{$# Ÿwur ’Îû Ïä!$yJ¡¡9$# ÇÎÈ

“Artinya : Sesungguhnya Allah tidak ada rahasia lagi bagi-Nya segala sesuatu yang ada di bumi dan di langit” (Ali-Imran : 5)

ô‰s)s9ur $uZø)n=yz z`»|¡SM}$# ÞOn=÷ètRur $tB â¨Èqó™uqè? ¾ÏmÎ/ ¼çmÝ¡øÿtR ( ß`øtwUur Ü>tø%r& Ïmø‹s9Î) ô`ÏB È@ö7ym ωƒÍ‘uqø9$# ÇÊÏÈ

.Artinya : Sesungguhnya Aku telah menciptakan manusia dan Aku mengetahui apa yang dibbisikkan hatinya” (Qaf : 16)[7]

Dan masih banyak lagi ayat-ayat lain yang menunjukkan pengetahuan Allah pada segala sesuatu, baik secara global maupun rinci. Dalam tingkatan ini barangsiapa yang mengingkari Qadar maka dia kafir, karena dia mendustakan Allah dan Rasul-Nya serta ijma’ kaum muslimin dan meremehkan kesempurnaan Allah. Karena kebalikan ilmu adalah mungkin bodoh atau alpa dan keduanya berupa aib (cacat). Allah terlah berfirman tentang Nabi Musa ketika dia ditanya oleh Fir’aun.

tA$s% $yJsù ãA$t/ Èbrãà)ø9$# 4’n<rW{$# ÇÎÊÈ  tA$s% $ygßJù=Ïæ y‰ZÏ㠒În1u‘ ’Îû 5=»tGÏ. ( žw ‘@ÅÒtƒ ’În1u‘ Ÿwur Ó|¤Ytƒ ÇÎËÈ

“Artinya: Maka apa saja yang telah terjadi di abad-abad terdahulu, dia (Musa) menjawab : Pengetahuan tentang itu di sisi Rabb-ku di dalam kitab yang Rabb-ku tidak akan salah dan alpa ( di dalamnya)” (Thaha : 51-52)

Maka Allah tidak akan bodoh terhadap sesuatu yang akan datang dan tidak akan melupakan sesuatu yang telah lewat.

[2].    Beriman kepada Allah telah menulis ketetapan segala sesuatu sampai terjadi hari Qiyamat.

Ketika Allah menciptakan Qalam, Allah berfirman kepadanya: “Tulislah”, kemudian Qalam berkata : “Hai Tuhanku, apa yang aku tulis?”

Dia berfirman: “Tulislah (dalam hadits yang lain. “Tulislah taqdir segala sesuatu hingga hari kiamat”) semuanya yang terjadi”, kemudian dia (Qalam) seketika berjalan menulis segala sesuatu yang terjadi  sampai hari Qiyamat. Maka Allah telah menulis di Lauh Mahfudz ketetapan segala sesuatu.

óOs9r& öNn=÷ès? žcr& ©!$# ãNn=÷ètƒ $tB ’Îû Ïä!$yJ¡¡9$# ÇÚö‘F{$#ur 3 ¨bÎ) šÏ9ºsŒ ’Îû A=»tFÏ. 4 ¨bÎ) y7Ï9ºsŒ ’n?tã «!$# ׎Å¡o„ ÇÐÉ

“Artinya: “Apakah kamu tidak tahu bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan bumi. Sesungguhnya itu semua telah ada dalam kitab, sesungguhnya itu sangat mudah bagi Allah” [Al-Hajj : 70][8]

[3]. Beriman bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini disebabkan kehendak Allah. Segala sesuatu yang ada di alam ini terjadi karena kehendak Allah, baik yang dilakukan oleh-Nya maupun oleh mahluk.

Allah telah berfirman.

øŒÎ)ur šc©Œr’s? öNä3š/u‘ ûÈõs9 óOè?öx6x© öNä3¯Ry‰ƒÎ—V{ ( ûÈõs9ur ÷LänöxÿŸ2 ¨bÎ) ’Î1#x‹tã ӉƒÏ‰t±s9 ÇÐÈ

“Artinya : Dia (Allah) melakukan apa yang Dia kehendaki”  (Ibrahim : 7)

Allah juga berfirman.

ö@è% ¬Tsù èp¤fçtø:$# èptóÎ=»t6ø9$# ( öqn=sù uä!$x© öNä31y‰ygs9 tûüÏèuHødr& ÇÊÍÒÈ

“Artinya: Kalau Dia (Allah) menghendaki maka Dia memberi petunjuk kepadamu semuanya” [Al-An'am : 149]

Dan masih banyak lagi ayat yang menunjukkan bahwa perbuatan-Nya terjadi karena kehendak-Nya. Begitu juga segala perbuatan makhluk terjadi dengan kehendak-Nya, sebagaimana firman Allah.

øŒÎ)ur $oY÷s?#uä Óy›qãB |=»tGÅ3ø9$# tb$s%öàÿø9$#ur öNä3ª=yès9 tbr߉tGöksE ÇÎÌÈ

“Artinya : Kalau Allah menghendaki, maka tidak terjadi saling bunuh di antara orang-orang setelah mereka datang penjelasan kepada mereka, akan tetapi mereka berselisih ; sebagi­an mereka beriman dan sebagian kafir. Dan apabila Allah menghendaki maka mereka tidak saling membunuh, akan tetapi Allah melakukan apa saja yang Dia kehendaki” (Al-aqarah:53)[9]

Ini adalah  nash (teks Al-Qur’an) yang sangat jelas bahwa semua perbuatan hamba telah dikehendaki Allah dan apabila  Allah tidak menghendaki mereka untuk melakukannya maka mereka tidak akan melakukan.

[4] Beriman bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu, Maka Allah adalah Maha Pencipta dan selain-Nya Dia adalah makhluk.

Segala sesuatu, Allah-lah penciptanya dan semua makhluk adalah ciptaan-Nya. Jika segala perbuatan manusia dan ucapannya termasuk sifatnya, sedangkan manusia itu makhluk, maka sifat-sifatnya juga makhluk Allah. Hal itu ditunjukkan oleh firman Allah.

ª!$#ur ö/ä3s)n=s{ $tBur tbqè=yJ÷ès? ÇÒÏÈ

“Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat” (Ash-Safaat : 96)[10]

Dengan demikian, Allah telah menetapkan penciptaan manusia dan perbuatannya. Allah juga berfirman: “Wa ma ta’malun” (dan apa saja yang kamu perbuat). Para ulama berselisih pendapat tentang kata “ma” (apa saja), apakah dia berupa “ma masdhariyah“ (sehingga tidak bermakna) atau “ma maushulah” (sehingga bermakna apa saja).

Berdasarkan dua perkiraan di atas (ma mashdariyah atau ma maushulah), maka ayat tersebut tetap menunjukkan bahwa perbuatan manusia adalah ciptaan Allah. inilah keempat tingkatan keimanan kepada Qadar yang harus diimani, tidak sempurna keimanan seseorang terhadap Qadar kecuali dengan mengimani keempat-empatnya.

D . Masalah dan pendapat mengenai Qadha dan Qadar

Manusia bisa membedakan antara perbuatan yang terjadi kerena kehendaknya sendiri dan yang terjadi karena terpaksa. Sebagai contoh, orang yang dengan sadar turun dari atas rumah melalui tangga, ia tahu kalau perbuatannya atas dasar pilihan dan kehendaknya sendiri. Lain halnya kalau ia terjatuh dari atas rumah, ia tahu bahwa hal tersebut bukan karena kemauannya. Dia dapat membedakan antara kadua perbutan ini, yang pertama atas dasar kumauannya dan yang kedua tanpa kemauannya. Dan siapapun mengetahui perbedaan ini.

Begitu juga orang yang menderita sakit beser umpamanya, ia tahu kalau air kencingnya keluar tanpa kemauanya. Tetapi apa bila ia sudah sembuh, ia sadar bahwa air kencingnya keluar dengan kemauannya. Dia mengetahui perbedaan antara kedua hal ini dan tak ada seorangpun yang mengingkari adanya perbedaan tersebut. Demikian segala hal yang terjadi pada diri manusia, dia mengetahui, perbedaan antara mana yang terjadi dengan kumauannya dan mana yang tidak.

Akan tetapi, karena kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala , ada diantara perbuatan manusia yang terjadi atas kemauannya namun tidak dinyatakan sebagai perbuatannya. Seperti perbuatan orang yang kelupaan, dan orang yang sedang tidur. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kisah Ashabul kahfi :

öNåkâ:|¡øtrBur $Wß$s)÷ƒr& öNèdur ׊qè%①4 öNßgç6Ïk=s)çRur |N#sŒ ÈûüÏJu‹ø9$# |N#sŒur ÉA$yJÏe±9$# ( Oßgç6ù=x.ur ÔÝÅ¡»t/ ÏmøŠtã#u‘ÏŒ ωŠÏ¹uqø9$$Î/ 4 Èqs9 |M÷èn=©Û$# öNÍköŽn=tã |Mø‹©9uqs9 óOßg÷YÏB #Y‘#tÏù |Mø¤Î=ßJs9ur öNåk÷]ÏB $Y6ôã①ÇÊÑÈ

Artinya : “ ..Dan kami balik – balikkan mereka ke kanan dan ke kiri …” (Al-Kahfi: 18)[11]

Padahal mereka sendiri yang sebenarnya berbalik ke kanan dan berbalik ke kiri, tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan bahwa Dialah yang membalik – balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sebab orang yang sedang tidur tidak mempunyai kemauan dan pilihan serta tidak mendapatkan hukuman atas perbuatannya. Maka perbuatan tersebut dinisbahkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“ Barang siapa yang lupa ketika dalam keadaan berpuasa, lalu makan atau minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya, kerena Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memberinya makan dan minum “

Dinyatakan dalam hadits ini, bahwa yang memberi makan dan minum adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala , karena perbuatannya tersebut terjadi di luar kesadarannya, maka seakan – akan terjadi tanpa kemauannya. Kita semua mengetahui perbedaan antara perasan sedih atau perasaan senang yang kadang kala dirasakan seseorang dalam dirinya tanpa kemauannya serta dia sendiri tidak mengetahui sebab dari kedua perasaan tersebut yang timbul dari perbuatan yang dilakukan oleh dirinnya sendiri. Hal ini, alhamdulillah, sudah cukup jelas dan gamblang.

 

 

 

BAB III

PENUTUP

A . Kesimpulan dan Saran

Qadha secara etimologi memiliki arti yang banyak. Dan semua pengertian yang berkaitan dengan qadha kembali kepada makna kesempurnaan  (An-Nihayat fii Ghariib al-Hadits, Ibnu al- Atsir 4/78). Adapun qadar secara etimologi berasal dari kata qaddara-yuqaddiru-taqdiiran yang berarti penentuan.

Dari sudut terminologi, qadha adalah pengetahuan yang lampau, yang telah ditetapkan oleh Allah pada zaman azali. Adapun qadar adalah terjadinya suatu ciptaan yang sesuai dengan penetapan (qadha).

Masalah qadha dan qadar menjadi ajang perselisian di kalangan umat Islam, Umat Ialam dalam masalah qadar ini terpecah menjadi tiga golongan. Pertama: mereka yang ekstrim dalam menetapkan qadar dan menolak adanya kehendak dan kemampuan makhluk. Kedua: mereka yang ekstrim dalam menetapkan kemampuan dan kehendak makhluk sehingga mereka menolak bahwa apa yang diperbuat manusia adalah karena kehendak dan keinginan Allah Subhanahu wa Ta’ala serta diciptakan olehNya. Ketiga : mereka yang beriman, sehingga diberi petunjuk eleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menemukan kebenaran yang telah diperselisihkan.

Iman kepada qodho dan qodar sebagi pokok keimanan Beriman kepada qadha dan qadar merupakan salah satu rukun iman, yang mana iman seseorang tidaklah sempurna dan sah kecuali beriman kepadanya. Barangsiapa yang mentauhidkan Allah dan beriman kepada qadar, maka tauhidnya sempurna. Dan barangsiapa yang mentauhidkan Allah dan mendustakan qadar, maka dustanya merusakkan tauhidnya.”(Majmu’ Fataawa Syeikh al-Islam, 8/258).

Oleh karena itu, iman kepada qadha dan qadar ini merupakan faridhah atau kewajiban yang harus dilakukan setiap muslim dan mukmin. Hal ini berdasarkan beberapa hadits berikut ini. -Hadits Jibril yang diriwayatkan Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu, di saat Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam. ditanya oleh Jibril tentang iman. Beliau menjawab, “Kamu beriman kepada Allah, Malaikat, Kitab-kitab, Rasul-rasul, Hari Akhir, dan kamu beriman kepada qadar baik maupun buruk.” (HR Muslim)

Semoga kita termasuk orang-orang yang beriman kepada Qodho dan Qodar  ALLAH Subhanahu wa Ta’ala serta mendapatkan perlindungan-Nya dari adzab dan siksa-Nya. Aamiin….

 

DAFTAR PUSTAKA

Syaikh Sholih Al Fauzan, 2006. Al Irsyaad ilaa Shahiihil I’tiqad. Penerbit Maktabah             Salsabiil . (Hal. 243 – 244).

Syaihk Hafidz bin Ahmad Hakami. 1424 H/2004 HR. Muslim, Ma’aarijul Qobuul Penerbit Darul Kutub ‘Ilmiyah. (Hal. 503 – 509).

Dr. ‘Abdul Qodir as Shufi, 1428/2007, Al Mufiid fii Muhammaati at Tauhid. Penerbit          Daar Adwaus Salaf.( Hal 49 – 51).

Syaikh ‘Utsaimin, Syarh al ‘Aqidah al Wasithiyah, Hal. 45.

Hanafi,Ahmad, 2001, Teologi Islam,Jakarta:Bulan Bintang.


[1] Abdul Rozak dan Rosihon Anwar, ilmu kalam, hal 63

[2] Akhmad Hanfi, Teologi Islam, Jakarta : Bulan Bintang,2001,hal 174

[3] ibid, hal 175-176

[4] Ibid, hal 176-177

[5] Ibid, hal 179

[6] Ibid, hal 183

[7] Al-Qur’an:50:16

[8] Al-qur’an:22:70

[9] Al-quran:2:53

[10] Al-qur’an:37:96

[11] Al-qur’an:18:18

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s