Ilmu Pengetahuan dan sosiologi (realita sosial)

ILMU PENGETAHUAN SOSIAL, SOSIOLOGI.” REALITA SOSIAL”

Tugas UAS ini diajukan untuk memenuhi Mata Kuliah

Logica Scientific

 

Dosen Pembimbing

Drs. Masduki Affandi

Nama             : Ali Huzaini

Nim               : B05210031

 

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

FAKULTAS DAKWAH

JURUSAN SOSIOLOGI

 SURABAYA

 2011

 BAB I   PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sosiologi ditinjau dari sifatnya digolongkan sebagai ilmu pengetahuan murni (pure science)
bukan ilmu pengetahuan terapan(appliedscience).

Sosiologi dimaksudkan untuk memberikan kompetensi kepada peserta didik dalam memahami konsep-konsep sosiologi seperti sosialisasi, kelompok sosial, struktur sosial, lembaga sosial, perubahan sosial, dan konflik sampai pada terciptanya integrasi sosial.

Sosiologi mempunyai dua pengertian dasar yaitu sebagai ilmu dan sebagai metode. Sebagai ilmu, sosiologi merupakan kumpulan pengetahuan tentang masyarakat dan kebudayaan yang disusun secara sistematis berdasarkan analisis berpikir logis. Sebagai metode, sosiologi adalah cara berpikir untuk mengungkapkan realitas sosial yang ada dalam masyarakat dengan prosedur dan teori yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Dalam kedudukannya sebagai sebuah disiplin ilmu sosial yang sudah relatif lama berkembang di lingkungan akademika, secara teoritis sosiologi memiliki posisi strategis dalam membahas dan mempelajari masalah-masalah sosial-politik dan budaya yang berkembang di masyarakat dan selalu siap dengan pemikiran kritis dan alternatif menjawab tantangan yang ada.

Melihat masa depan masyarakat kita, sosiologi dituntut untuk tanggap terhadap isu globalisasi yang di dalamnya mencakup demokratisasi, desentralisasi dan otonomi.

 

 

 

 

 

 

 

BAB II PEMBAHASAN

 

ILMU PENGETAHUAN DAN SOSIOLOGI

A.Apakah Ilmu pengatahuan (Science)

Manusia sebenarnya di ciptakan Oleh tuhan yang maha esa sebagai makhluk yang sadar. Kesadaran manusia dapat di simpulkan dari kemampuannya untuk berpikir, berkehendak, dan merasa Dengan pikirannya manusia dapat ( ilmu) pengetahaun; dengan kehendaknya manusia mengarahkan perilakunya; dan dengan perasaannya manusia mendapat kesenangan. Sarana untuk memelihara dan meningkatkan ilmu pengetahuan dinamakan logika, sedangkan sarana-sarana untuk memelihara untuk memelihara serta meningkatkan pola perilaku an mutu kesenian, disebut etika dan estetika. Apabila pembicaraan dibatasi pada logika, hal itu mrupakan ajaran yang menunjukkan bagaimana manusia berfikir secara tepat dengan berpedoman pada ide dan kebenaran.[1]

B.Ilmu-ilmu Sosial dan Sosiologi

       Ilmu-ilmu sosial dinamakan demikian karena ilmu-ilmu tersebut mengambil masyarakat atau kehidupan bersama sebagai objek yang dipelajarinya. Ilmu-ilmu sosial belum mempunyai kaidah-kaidah dan dalil-dalil tetap yang di terima oleh bagian terbesar masyarakat karena ilmu-ilmu tersebut belum lama berkembang, sedangkan yang menjadi objeknya masyarakat manusia yang selalu berubah-ubah. Karena sifat masyarakat yang selalu berubah-ubah, hingga kini belum dapat di selidiki dan di analisis tuntas hubangan antara unsur-unsur di dalam masyarakat secara lebih mendalam. Lain halnya dengan ilmu pengatahuan alam yang telah lama berkembang sehingga telah mempunyai kaidah-kaidah dan dalil-dalil yang teratur dan di terima oleh masyarakat, yang juga di sebabkan karena objeknya bukan manusia

Salah satu jalan yang agak mudah  untuk memperoleh krakteristik suatu ilmu pengetahuan adalah dengan cara melukiskannya secara kongkret.Untuk memperoleh gambaran yang sederhana dari suatu ilmu, paling sedikit  di perlukan kriteria sebagai berikut.

a.       Isi ilmu sosial tersebut  perlu di rinci secara konkret. Artinya, secara lebih tegas adalah apa yang menjadi pusat perhatian para ahli dan para sarjana yang mengkhususkan diri pada suatu ilmu pengetahuan tertentu. Misalnya para ahli sosiologi tidak akan memusatkan perhatiannya terhadap setiap aspek kehidupan  keluargan; yang terutama di sorotinya adalah pola-pola hak dan  kewajiban dari setiap warga keluarga, perubahan pada angka-angka perkawinan atau perceraian,perbedaan pola karier ayah dan anak laki-laki, dan lain sebagainya. Dengan menentukan hal-hal tersebut, maka akan di tentukan masalah-masalah ilmiah yang khusus atau variabel tergantung dari suatu ilmu pengatahuan tertentu.

b.      Hal-hal yang di anggap sebagai sebab-sebab khusus dari variabel tergantung penting sekali untuk dirinci. Misalnnya, apabila seorang sosiolog menelaah angka-angka dan derajat terjadinya perceraian,  maka mungkin dia akan mencari keterangan tentang laju ubanisasi, hubungan antar suku bangsa, hubungan antar agama, perkawinan antar kelas, dan lain sebagainya. Dengan demikian, maka di usahakan untuk mencari variabel bebas yang pokok.

c.       Pusat perhatian suatu ilmu pengetahuan dapat di rinci dengan mengemukakan variabel bebas dan variabel tergantung serta ada susunan yang teratur dari variabel-variabel tadi yang di namakan keteraturan logika (logica-ordering). Keteratuan loika tadi kemudian akan menghasilkan hipotesis-hipotesis yang merupakan perumusan tentang kondisi-kondisi dalam mana diduga bahwa variabel tergantung akan  berubah atau bahkan tidak berubah. Apabila hipotesis-hipotesis tadi dsusun kembali ke dalam kerangka yang mantap, kerangka tersebut dinamakan model, yang dapat dianggap sebagai kerangka acuan.

 

d.      Diperlukan pengetahuan tentang teknik-teknik yang lazim di pakai oleh masing-masing ilmu pengetahuan untuk mendapatkan kebenaran atau untuk mencapai sasarannya. Hal ini mencakup metode dan teknik penelitian dari ilmu tersebut.

 

Ilmu-ilmu sosial yang masih muda usianya, baru sampai pada tahap analisis dinamika, artinya baru sampai pada anlisis-analisis tentang masayarakat manusia dalam keadaan bergerak. Mungkin dari ilmu ekonomi dapat di katakan bahwa perkembangannya telah meningkat pada taraf kemungkinan.

Istilah sosial (social) pada ilmu-ilmu sosial mempunyai arti berbeda dengan misalnya istilah sosialisme atau istilah sosial pada departemen sosial. Apabila istilah “sosial” pada ilmu-ilmu sosial menunjuk pada objeknya, yaitu masyarakat, sosialisme merupakan suatu ideologi yang berpokok pada prinsip pemilikan umum (atas alat-alat produksi dan jasa-jasa dalam bidang ekonomi). Sementara itu istilah pada dapertemen sosial menunjukkan pada kegiatan-kegiatan di lapangan sosial. Artinya kegiatan-kegiatan yang ditujukan untuk mengatasi persoalan-persoalan yang di hadapi oleh masyarakat dalam bidang kesejahteraan, seperti misalnya,yang ruang lingkupnya adalah peekerjaan ataupun kesejahteraan sosial. [2]

 

C. Definisi Sosiologi dan Sifat Hakikatnya

                  Merumuskan suatu definisi (batasan makna) yang dapat mengemukakan keseluruhan pengertian sifat, dan hakikat yang dimaksud dalam beberapa kata dan kalimat merupakan hal yang sangat sukar. Oleh sebab itu, suatu definisi hanya dapat dipakai sebagai suatu pegangan sementara saja. Sungguhpun penyelidikan berjalan terus dan ilmu pengetahuan tumbuh kearah berbagai kemungkinan, masih juga diperlukan suatu pengertian yang pokok dan menyeluruh. Untuk patokan sementara, akan diberikan beberapa definisi sosiologi sebagai berikut.

a.       Pitirim Sorokin, mengatakan bahwa sosiologi adalah suatu ilmu yang dipelajari:

1.      Hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala-gejala sosial (misalnya antara gejala ekonomi dengan agama; keluarga, dengan moral, hukum dengan ekonomi, gerak masyarakat dengan politik dan sebagainya);

2.      Hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dan gejala-gejala non sosial (misalnya;geografis, biologis, dan sebagainya);

3.      Ciri-ciri umum semua jenis-jenis gejala sosial.

b.      Roucek dan Warren, mengemukakan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok.

c.       William F Ogburn dan Meyer F. Nimkoff. Berpendapat bahwa sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya yaitu organisasi sosial.

d.      J.A.A. Van Doorn dan C.J.Lammers Berpendapat bahwa sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang struktur-struktur dan proses-proses kemasyarakatan yang bersifat stabil.

e.       Selo Soemardjan, Soelaeman Soemardi. Menyatakan bahwa sosiologi atau ilmu kemasyarakatan ialah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial, selanjutnya menurut Selo Soemardjan dan Soeleman Soemardi, struktur sosial adalah keseluruhan jaringan anatara unsur-unsur sosial yang pokok, yaitu kaidah-kaidah sosial (norma-norma sosial), lembaga-lembaga sosial, kelompok-kelompok serta lapisan-lapisan sosial. Proses sosial adalah pengaruh timbal balik antara berbagai segi kehidupan bersama, umpamanya pengaruh hubungan timbal balik antara segi kehidupan ekonom dengan segi kehidupan politik, antara segi kehidupan hukum dan segi kehidupan agama, antara segi kehidupan agama dan segi kehidupan ekonomi dan lain sebagainya. Salah satu proses sosial yang bersifat tersendiri ialah dalam hal terjadinya perubahan-perubahan didalam struktur sosial.

Apabila sosiologi ditelaaah dari sudut sifat hakikatnya, maka akan dijumpai beberapa  petunjuk yang akan dapat membantu untuk menetapkan ilmu pengetahuan macam apakah sosiologi itu. Sifat-sifat hakikatnya adalah sebagai berikut:

a.       Sosiologi merupakan suatu ilmu sosial dan bukan merupakan ilmu pengetahuan alam ataupun ilmu pengetahuan kerohanian.

b.      Sosiologi bukan merupakan disiplin yang normatif tetapi merupakan suatu disiplin yang kategoris, artinya sosiologi membatasi diri pada apa yang terjadi dewasa ini dan bukan mengenai apa yang terjadi atau seharusnya terjadi.

c.       Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang murni (pure science) dan bukan merupakan ilmu pengetahuan terapan atau terpakai (applied science)

d.      Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang abstrak dan bukan merupakan ilmu pengetahuan yang kongkret. Artinya, bahwa yang diperhatikannya adalah bentuk dan pola-pola peristiwa dalam masyarakat, tetapi bukan wujudnya yang kongkret.

e.       Sosiologi bertujuan untuk menghasilkan pengetian-pengertian dan pola-pola umum. Sosiologi meneliti dan mencari apa yang menjadi prinsip atau huku-hukum umum dari interaksi antarmanusia dan juga perihal sifat hakiki, bentuk, isi, dan struktur masyarakat manusia.

f.        Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang empiris dan rasional. Ciri tersebut menyangkut soal metode yang dipergunakannya yang selanjutnya akan diterangkan mengenai metode-metode sosiologi.

g.       Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang umum dan bukan merupakan ilmu pengetahuan yang khusus. Artinya, sosiologi mempelajari gejala yang umum ada pada setiap interkasi antarmanusia. [3]

 

4.      Objek Sosiologi

                 Sebagaimana halnya dengan ilmu-ilmu sosial lainnya, objek sosiologi adalah masyarakat yang dilihat dari sudut hubungan antarmanusia dan proses yang timbul dari hubungan manusia di dalam masyarakat.

Objek Material

Objek material sosiologi adalah kehidupan sosial, gejala-gejala dan proses hubungan antara manusia yang memengaruhi kesatuan manusia itu sendiri.

Objek Formal

Objek formal sosiologi lebih ditekankan pada manusia sebagai makhluk sosial atau masyarakat. Dengan demikian objek formal sosiologi adalah hubungan manusia antara manusia serta proses yang timbul dari hubungan manusia di dalam masyarakat.

Objek budaya

Objek budaya salah satu faktor yang dapat memengaruhi hubungan satu dengan yang lain.

Objek Agama

Pengaruh dari objek dari agama ini dapat menjadi pemicu dalam hubungan sosial masyarakat.dan banyak juga hal-hal ataupaun dampak yang memengaruhi hubungan manusia.

 

  REALITA SOSIAL

Penggalian beberapa pokok permasalahan mengenai perubahan sosial budaya dalam skala besar Menurut teori-teori Auguste Comte yaitu “Pengaruh Sosial budaya”. Hal itu sangat memberikan dampak besar bagi masyarakat umumnya di wilayah pedesaan.

Contohnya:

Pada umumnya di zaman dahulu para petani di desa menggunakan alat tradisonal seperti sapi untuk membajak sawah, seiring dengan perkembangan alat tekhnologi yang semakin pesat dan canggih alat tradisonal yang biasa digunakan oleh masyarakat semakin berkurang karena selain membutuhkan waktu yang lama juga membutuhkan tenaga yang kuat. Dengan adanya alat tekhnologi yang canggih seperti traktor yaitu mesin pembajak para petani lebih mudah menggarap lahannya dan dengan waktu yang maksimal sehingga orang tua juga bisa melakukannya tanpa mengkhawatirkan akan merasa lelah, karena telah dibantu oleh traktor atau mesin pembajak sehingga memberi kemudahan untuk para petani.

Para petani biasanya zaman dahulu memberikan pupuk dengan pupuk buatan seperti kompos akan tetapi sekarang para petani umumnya sudah mengganti pupuk dengan pupuk yang lebih berkualitas sehingga hasil panennya lebih bagus. Hal tersebut didorong oleh perkembangan budaya dan zaman yang semakin pesat dengan semakin banyaknya penemuan-penemuan baru yang dihasilkan oleh manusia itu sendiri.

Di musim kemarau memiliki hal terpenting bagi para petani jika hasil panennya tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan akan sandang, pangan, dan papannya mereka berusaha untuk mencari kerja lain seperti pergi merantau ke kota untuk mencari tambahan nafkah para petani tersebut umumnya di kota bekerja sebagai kuli bangunan dengan hasil yang pas-pasan.      Ketika musim hujan telah tiba mereka akan kembali ke desanya untuk mengolah sawahnya kembali. Perkembangan budaya akan terus berubah-ubah karena manusia tidak terlepas dari sebuah keinginan dari keinginan itulah akan timbul suatu pemikiran dan perubahan untuk menjadikan sesuatu lebih bermanfaat.[4]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar pustaka

Soerjono Soekanto. 2007. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Kamanto Sunarto. 2004. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit FE UI.

James. M. Henslin, 2002. Essential of Sociology: A Down to Earth Approach Fourth Edition. Boston: Allyn and Bacon.

Pitirim Sorokin. 1928. Contemporary Sociological Theories. New York: Harper.

 

 

 

 

 

 


[1] Soerjono Soekanto. 2007. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Hlm.25

 

[2] Kamanto Sunarto. 2004. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit FE UI. Hlm. 5

 

[3] James. M. Henslin, 2002. Essential of Sociology: A Down to Earth Approach Fourth Edition. Boston: Allyn and Bacon. Hlm 10

 

[4] Pitirim Sorokin. 1928. Contemporary Sociological Theories. New York: Harper. Hlm. 25

 

About these ads
This entry was posted in SOS2/ F2. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s