TEORI FUNGSIONAL STRUKTURAL

Nama              : Zainudin Rosyadi

Kelas/Nim      : 2F3/B75210069

Jurusan          : Sosiologi

Mata Kuliah  : Logika Scientifik

 

TEORI FUNGSIONAL STRUKTURAL

 

  1. A.    Konsep-Konsep Fungsionalisme

Ada sebuah tradisi dalam pmikiran sosiologi yang lazim disebut ”fungsionalisme”,”fungsionalisme struktural” , “analisis” fungsional”  dan “teori fungsional”. Kebaikan yang bersifat relatif dari tradisi fungsionalisme bukan hanay diperdebadkan tetapi juga sring mendapatkan kritik mendasar yang merusakkan. Walaupun demikian, tradisi tersebut masih dipegang teguh oleh para pengikutnya.[1]

Beberapa ahli teori modern termashur yang dianggap sebagai wakil tradisi adalah Talcott Parons Dn Robert K.Merton. Para sosiolog yang kurang terkenal juga menggunakan bahasa dan konsep fungsionalisme, walaupun terkadang tanpa menguji konsep tersebut secara kritis ataui hanya mengapresiasikan implikasi penggunaan belaka. Oleh karenanya sangat tepat kiranya untuk mencari pandangan lain yang mengkritik tradisi tersbut.[2]

Apakah Konsep-konsep dan ide-ide pendekatan pengiku aliran fungsionalisme itu? Asumsi-asumsinya adalah bahwa sluruh struktur sosial atau setidaknya yang diprioritaskan, menyumbangkan terhadap suatu integrasi dan adaptasi sistem yang berlaku. Eksistensi atau kelangsungan struktus atau pola yang telah ada dijelaskan melalui konsekuensi-komsekuensi atai efek-efek yang keduanya diduga perlu dan bermanfaat terhadap permasalahan masyarakat. Pada umumnya para fungsionalis telah mencoba menunjukkan bahwa suatu pola yang ada telah memenuhi “kebutuhan sistem” yang vital dan menjelaskan eksistensi pola tersebut.

Masalah dan isu-isu yang utama sehingga dapat menyudutkan konsep fungsionalisme. Pertama-tama adalah masalah konsep dan bagaimana konsep ini didefinisikan. Hal ini merupakan karakteristik fungsionalisme tradisional yang meminta kesabaran  para pembacanya, tentang suatu perbedaan dan definisi konsep yang tampaknya tidk pernah tuntas, istilahnya kurang jelas,kurang konsisten, kurang memadai atau kurang dapat diterapkan.

Kita ambil konsep dasar tentang masyarakat, marion j. Levy, yang mengikuti jejak parson telah mendefinisikan masyarakat sebagai “ suatu sistem tindakan yang memiliki ciri-ciri:

  1. Melibatkan suatu pluralitas (kemajemukan) individu yang berinteraksi pada suatu kelompok, yang setidak-tidaknyadiambil dari masing-masing bagian melalui reproduksi anggota seksual dari pluralitas tersebut.
  2. Merupakan unsur pemenuhan diri terhadap tindakan pluralitas tersebut.
  3. Kemampuan yang eksistensinya lebih lama dari pada jarak kehidupan seorang individu.[3]

Kerapuhan konsep lainnya yaitu tentang “sistem sosial” yang didefinisikan sebagai “suatu ssistem tindakan sosial yang mekibatkan suatu pluralitas individu yang berinteraksi” atau “kumpulanbeberapa elemen yang berpola”. Seperti yang telah diamati oleh para kritikus, konsep ini terllu samar dan umum sehingga tidak bermakna. Konsep ini tidak mendorong kita untuk membedakan antara berbagai kelompok sosial yang telah kita ketahui, seprti keluarga, kelompok persahabatan, komunitas kedaerahan, organisasi formal dan lainnya, yang merupakan bagian dari “sistem sosial’.

Kenyataan ini menunjukkan bahwa berbagai konsep dasar seperti “masyarakat” atau “sistem soaial” merupakan pernyataan yang kurang memadai, sehingga semua konsep itu dan asumsi-asumsinya, bersifat tidak sempurna. Jika konsep yang kita rujuk tersebut tdak jelas dan idenya juga ti ak tepat mengenai “masyarakat” atau “sistem sosial” ynag sebenarnya, maka bagaimana orang dapat mengatakan mengenai “kebutuhan-kebutuhan sistem” itu, yang secara jelas dapat ditemukan atau dipenuhi oleh berbagai struktur tersebut,(untuk sementara masalah struktur dikesampingkan). Demikian pula dengan tidak adanya rujukan empirik yang tepat mengenai istilah “masyarakat”, bagaimana orang bisa mengatakan apa yang disebut dengan “persyaratan fungsional” dari suatu masyarakat. Misalnya, pernyataan dari tokoh fungsionalisme kenamaan , D.F.Aberle, A.K.Cohen,A.K.Davis,Marion J.Levy dan F.X.Sutton dalam tulisan mereka “ The Fungsiona Prerequistis of a soiety” bahwa suatu masyarakat tidak akan berhasil jika tidak menghindari empat kondisi berikut ini:

  1. Ketidak aktifan secara biologis atau terpecahnya anggota masyarakat.
  2. Keapatisan dari anggota masyarakat.
  3. Peperangan total.
  4. Penghisapan suatu masyarakat terhadap masyarakat lain.

Tak seorangpun pengarang “The fungsional prerequisites of a sosiety” merasa puasbaik dipandang dari logika ataupun empirik. Akirnya mereka memutuskan bahwa terdapat 9 persyaratan fungsional, tetapi mereka mengakui bahwa persyaratan itu mungkin lebih mungkin juga kurang. Prasyarat tersebut adalah.

  1. Penyediaan hubungan-hubungan yang memadai terhadap ingkungan dan bagi rekruitmen jenis kelamin.
  2. Perbedaan peranan dan tugas
  3. Komunikasi.
  4. Orientasi-orientasi kognitif yang terbagi.
  5. Seperangkap ungkapan cita-cita yang diartikulasikan.
  6. Aturan-aturan normatif tentang sarana.
  7. Ungkapan yang efektif dari aturan tersebut.
  8. Sosialisasi.
  9. Kontrol yang efektif dari bentuk perilaku yang menyimpang.

Dalam situasi yang sama, para fungsionalis menunjukkan bahwa kelangsungan struktur atau pola-polanya bisa bertahan bersifat adaptif yakni mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan fungsionalnya. Kelangsungan pola-pola tersebut digunakan untuk membuktikan karakter adaptifnya. Sementara karakter adaptifnya dibuktikan oleh kelangsungannya. Maka bentuk ini akan selalu ada dalam siklus.[4]

  1. B.     Perspektif Fungsionalis

Dalam perspektif ini, suatu masyarakat dilihat sebagai suatu jaringan kelompok yang bekerja sama secara terorganisasi bekerja dalam suatu cara yang agak teratur menurut seperangkat aturan dan nilai yang dianutoleh sebagian besar masyarakat tersebut. Masyarakat dipandang sebagai suatu sistem yang stabil dengan suatu kecenderungan ke arah keseimbangan, yaitu suatu kecenderungan yang mempertahankan sistem kerja yang selaras dan seimbang.

Dalam perspektif fungsionalis, dengan Talcott Parsons (1937), Kingsley Davis (1937) dan Robert Merton (1957) sebagai para juru bicar yang terkemuka, setiap kelompok atau lembaga melaksanakan tugas tertentu dan terus menerus, karena hal itu fungsional. Jadi sekolah mendidik anak-anak, mempersiapkan para pegawai, mengambil tanggung jawab orang tua murid dalam sebagian waktu pada siang hari, dan sebagainya.

Corak prilaku timbul karena secara fungsional bermanfaat. Di daerah perbatasan Amerika dimana terdapat beberapa penginapan dan hanya sedikit orang yang mampu menyewanya, tumbuhlah suatu pola sikap yang penuh keramah-tamahan. Keluarga yang tengah bepergian pada waktu malam, merupakan tamu-tamu yang disambut hangat oleh setiap penduduk. Mereka yang sedang bepergian itu membawa berita-beritadan pelipur kebosanan, tuan rumah menyediakan makanan dan penginapan. Dengan bertambah mantapnyadaerah perbatasan, pola keramahan-tamahan tidak lagi penting, dan menurun. Jadi pola perilaku timbul untuk memenuhi kebutuhan dan hilang bila kebutuhan berubah.[5]

Perubahan sosial mengganggu keseimbangan masyarakat yang stabil, namun tidakl lam kemudian terjadi keseimbangan baru. Sebagai contoh, dalam sebagian besr sejarah, keluarga keluarga besar sangat didambakan. Tingkat kematian tinggi dan keluarga besar membantu untuk meyakinkan adanya beberapa yang selamat.

Bila suatu perubahan sosial tertentu mempromosikan suatu keseimbangan yang serasi, hal tersebut dianggap fungsional; bila keseimbangan tersebut menggangu keseimbangan, hal tersebut mererupakan gangguan fungsional; maka hal tersebut tidak fungsional. Dalam suatu negara demokrasi, partai-partai politik adalah fungsional, sedangkan pemboman, pembunuhan dan terorisme politik adalah gangguan fungsional, dan perubahan-perubahan dalam kamus politik atau perubahan dalam lambang partai adalah tidak fungsionalis.[6]

 

  1. Bentuk-bentuk Lain dari Analisis Fungsional

Pakar-pakar ilmu sosial telah mengetahui secara jelas kritik-kritik terhadap fungsionalisme tradisional. Meskipun demikian, mereka mempercayai bahwa ada tipologi analisis fungsional lain yang tidak mendapat kritik, oleh sebab itu hal ini lebih bermanfaat.[7] Misalnya, Cancian telah membedakan berbagai pendekatan fungsional berupa tiga orientasi dasar atau model analisis. Pada umumnya, ketiga pendekatan tersebut mempunyai elemen: “yakni suatu kepentingan sistem sosialyang terkait dengan bagian lainnya pada berbagai aspek secara keseluruhan”. Tiga orientasi tersebut adalah:

1.      Pendekatan tradisional, yang didasarkan pada suatu anggapan dasar bahwa seluruh struktur sosial yang utama sebagian besar beroperasi untuk menjaga integritas atau adaptasi sistem sosial yang besar.

2.      Pendekatan sosiologis, yakni yang berlandaskan beberapa konsep dan asumsi sosiologi secara umum. Ini merupakan orientasi sebagaimana diungklapkan oleh Kingsley Davis dalam ceramahnya di depan “American Sosiological Association”, bahwa orientasi ini sama dengan sosiologi murni dan sederhana dsehingga tidak membutuhkan nama khusus. Dengan didasari oleh prinsip ilmiah secara murni, orientasi ini telah mengarah suatu gambaran yang teliti yakni menggali hubungan yangn menentukan antara berbagai variabelsosiologi yang signifikan, dan beberapa pola serta keteraturan secara umum.

3.      Pendekatan sibernetik, yang didasarkan pada model pengaturan diri atau sistemkeseimbangan. Ini suatu rangkaian dari postulat fungsionalisme tradisional dan tidak menjadikan berbagai asumsi yang disebut dengan “kebutuhan-kebutuhan sistem”,”akibat” dari “pola yang adaptif atau integratif”. Akhirnya bentuk ini tidak menjelaskan suatu pola melalui akibat atau konsekuensinya. Cancian menyebutnya sebagai fungsionalis formal karena;

“Fungsionalisme formal ini terkait dengan bentuk yang statis, atau keseimbangan, sistem-sistem, dan juga timbal balik serta keteraturan diri. Ia merangkum dua pendekatan tradisional yang berbeda. Akibatnya yang berlaku pada beberapa bagian sistem biasanya digunalan untuk menjelaskan ada tidaknya bagian kejadian itu; dan tidak ada pembatasan dari jenis konsekuensi yang dipertimbangkan. Jenis tersebut bisa saja bermanfaatatau tidak bagi masyarakat. Pendekatan ini disebut pendekatan formal, sebab tidak memasukan suatu orientasi teoritis atau hipotesis substantif mengenai kejadian yang empirik, ini merupakan suatu model hubungan antar elemen sebagaimana model matematika”.

Tentunya pendekatan yang ketiga ini juga ada persyaratan minimal diman ekplanasi ilmiah harus diletakkan terhadanya yakni asumsi itu tidak boleh dipalsukan secara empirik, proposisi harus jelas diungkapkan, sehingga kasus yang negatif dapat ditemukan secara meyakinkan.[8]

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Craib Ian, Teori-teori Sosiologi Modern, (Jakarta: CV.Rajawali, 1986)

Paul B. Horton, Chester L Hunt, Sosiologi, (Jakarta: Erlangga, 1999)

Siahaan M. Hotman, Pengantar Kearah Sejarah dan teori sosiologi, (Jakarta: Erlangga 1999)

Zeitlin M. Irving  , memehami kembali sosiologi,(Yokyakarta: Gajah Mada University Press, 1998)

 

 


[1] Irving M. Zeitlin, memehami kembali sosiologi,(Yokyakarta: Gajah Mada University Press, 1998). hlm. 3

[2] Ian Craib, Teori-teori Sosiologi Modern, (Jakarta: CV.Rajawali, 1986). Hlm. 167

[3] Irving, Op. Cit., Hlm. 4

[4] Ibid, hlm. 5-7

[5] Paul B. Horton, Chester L. Hunt, Sosiologs, (Jakarta: Erlangga, 1984). hlm. 18

[6] Ibid, hlm. 19

[7]Irving, Op. Cit., Hlm. 14

[8] Ibid., hlm. 14-15

This entry was posted in SOS 2/F3. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s