Kumpulan makalah ilmu dakwah 2/kpi B ( bag. 1)

MAKALAH

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

“Ilmu Dakwah”

DOSEN PEMBIMBING:

Drs. Masduqi Effandi M.pd.i

Berikut susunan makalah Ilmu Dakwah:

Makalah pertama oleh : ANIFAH     B01210065

Makalah kedua oleh : MIFTAH ANA AFIFAH    B31210048

Makalah ketiga oleh : Mardia Lia Puspita    B71210059

Makalah keempat oleh : Hj.Choiri Sri Wulandari    B31210048

Makalah kelima oleh : ABDUR ROZAK NAUFAL      B71210057

Makalah keenam oleh : Abdul Rahman Wahid G    B31210047

Berdakwah 

DISUSUN OLEH:

ANIFAH                                            (B01210065)

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar belakang

Menurut logika (ilmu berfikir lurus), scientifik berarti ilmiah, dakwah berarti dua orang atau lebih yang salah satu atau sebagai diantaranya menyampaikan pesan dakwah Ilmu dakwah harab dibedakan dengan ilmu berdakwah  jika yang kita maksud adalah ilmu dakwah ia merupakan proposisi atau teori tentang dakwah yang diangkat dari fakta dakwah melalui proses penelitian empirit sedangkan ilmu berdakwah berkaitan dengan suatu keahlian dai menyampaikan pesan dakwah kepada mad’u nya, Dakwah itu otonomi artinya mandiri tidak ada campur tanggan dari luar dakwah. Dan apa yang dimaksud dengan kesatuan dai yaitu kesatuan dai harus memiliki banyak keahlian dan pengetahuan agama yang tinggi, luas, dan mendalam.

  1. Rumusan masalah
    1. Walimatul
    2. Hari besar islam
    3. Khutbah jum’at
    4. Kajian rutin

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.    Walimatul ’ursy

Wali sebagaimana kita tahu adalah ayah dari calon mempelai wanita yang seagama, jika tidak ada maka bisa digantikan oleh kakak tertua yang laki-laki, atau jika memang sudah tidak ada sama sekali orang yang bisa dijadikan wali, maka diambilah wali hakim (Wali hakim adalah wali nikah yang ditunjuk oleh Menteri Agama atau pejabat yang ditunjuk olehnya, yang diberi hak dan kewenangan untuk bertindak sebagai wali nikah dengan syarat sudah tidak ada lagi yang bisa mewakili atau menjadi wali bagi calon mempelai wanita).

Nah setelah akad nikah selesai, selanjutnya diadakan walimatul ‘Ursy Apa sih walimatul ‘ursy dan bagaimana hukumnya ? Islam melarang umatnya untuk mengadakan akad nikah secara diam-diam, terutama setelah dukhul (masuk) pengantin, seperti yang diperintahkan Nabi kepada Abdurrahman bin Auf dan berdasarkan hadits yang dibawakan Buraidah Ibnul Khashif, katanya : “Ketika Ali (Ali Bin Abi Thalib) meminang Fatimah (binti Muhammad Rasulullah) r.a, maka Rasulullah SAW bersabda: “Perkawinan (dalam riwayat lain kedua mempelai) harus mengadakan pesta perkawinan (walimah). Selanjutnya Sa’ad berkata : Saya akan menyumbang seekor kambing.Yang lain menyahut:”Saya akan menyumbangkan gandum sekian..sekian”. Dalam riwayat lain:”Maka terkumpullah dari kelompok kaum Anshor sekian gandum.” (Riwayat Ahmad dan Thabrani).

Jadi walimatul ’ursy adalah pengumuman atau resepsi atau pesta pernikahan yang diselenggarakan ketika akad nikah sudah selesai dilaksanakan. Dan walimatul ‘ursy ini sangat dianjurkan Resepsi yang dimaksud disini bukan dalam arti pesta pora dan bermewah-mewahan, namun pesta yang dimaksudkan adalah pesta dimana menghidangkan makanan untuk tamu-tamu yang datang dengan hidangan yang sesuai dengan kemampuan, walau hanya sekedar memotong 1 ekor kambing (mungkin kalau Indonesia bisa dikategorikan 1 ekor ayam) dan bahkan kalau dilihat dari hadist di atas, para tetangga boleh memberikan sumbangan makanan (istilah betawinya saweran kali ya ?). Dan yang lebih diutamakan disana diundang juga orang-orang miskin, bahkan dalam satu riwayat disunahkan adanya anak yatim yang juga turut diundang.

Adab-adab dalam walimatul ‘ursy

1. Bagi pengantin (wanita) dan tamu undangannya tidak diperkenankan untuk tabaruj. Memamerkan perhiasan dan berdandan berlebihan. Cukup sekedarnya saja yang penting rapi dan bersih. Dan harus tetap menutup aurat.

2. Tidak adanya ikhtilat (campur baur) antara ikhwan dan akhwat. Hendaknya tempat untuk tamu undangan dipisah antara laki-laki dan perempuan. Hal ini dimaksudkan agar pandangan terpelihara, mengingat ketika menghadiri pesta semacam ini biasanya tamu undangan berdandannya beda dan tak jarang pula yang melebihi pengantinnya.

3. Disunahkan untuk mengundang orang miskin & anak yatim bukan hanya orang kaya saja yang diundang.

4. Tidak berlebih-lebihan dalam mengeluarkan harta juga makanan, sehingga banyak yang mubazir.

5. Boleh mengadakan hiburan berupa tabuh2an dari rebana dan yang tidak merusak akidah umat Islam

Sedang adab bagi tamu undangan adalah :

Menghadiri undangan walimah apabila dia diundang. Rasul bersabda: ”Apabila kalian diundang pada acara walimah, maka datangilah” (HR Bukhari Muslim). Namun jika situasi dan kondisi tidak memungkinkan untuk hadir (misal yang mengundang berlainan propinsi yang untuk kesana butuh waktu dan biaya yang tidak sedikit, atau kita sedang sakit), maka ucapan dan doa melalui telepon dan sms atau media lain diperkenankan. Berpakaian rapi dan sopan serta tetap menutup aurat bagi wanita dan tidak berlebih-lebihan dalam berhias.

Tidak mengajak orang yang tidak diundang oleh tuan rumah. Namun bagi mereka yang tidak diundang diperbolehkan meminta ikut kepada yang diundang tersebut, selama diperkirakan bahwa tuan rumah akan mengijinkannya.

Meninggalkan acara walimah sesegera mungkin jika terdapat kemaksiatan disana. Mendoakan kepada kedua mempelai dengan doa ”Barrokallahu laka wabbarroka ’alaika wajama’a baynakumma fii khair” (Semoga Allah Memberi berkah kepadamu dan kepada apa-apa yang diberikan-Nya kepadamu, serta semoga Allah menghimpun kalian berdua di dalam kebaikan). Dan tidak diperbolehkan mengucapkan doa Birrafa’ wal banin”, Ucapan semoga mempelai murah rezeki dan banyak anak tersebut, dilarang dalam Islam. Hal ini sesuai dengan hadits: Dari Al-Hasan bahwa Aqil bin Abi Talib kawin dengan seorang wanita dari Jasyam. Para tamu mengucapkan selamat dengan ucapan jahiliyah :”Bir rafa’ wal banin”. Aqil bin Abi Talib mencegah, katanya:”Jangan mengatakan demikian karena Rasulullah melarangnya”. Para tamu bertanya: “Lalu,apa yang harus kami ucapkan ya Aba Zaid?” Aqil menjelaskan, ucapkanlah: “Mudah-mudahan Allah memberi kalian keberkahan dan melimpahkan atas kalian keberkahan”. Demikian ucapan yang diperintahkan Rasul (H.R An-Nasai,Ibnu Majah, dll)

  1. B.     Hari besar islam

Hari besar islam ada 8 yaitu:

1. 1 Muharam (hari pertama tahun Hijriyah)

2. 10 Muharam (disebut juga hari Asyura)

3. 12 Rabiul Awal (hari kelahiran Nabi Muhammad SAW)

4. 27 Rajab (Hari Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW)

5. 15 Sya’ban

6. 17 Ramadhan (Malam Nuzulul Qur’an)

7. 1 Syawal (Hari Raya Idul Fitri)

8. 10 Zulhijjah (Hari Raya Idul Adha)

Pengertian:

1.) Muharam: Merupakan tahun baru bagi umat Islam.

2.)10 Muharam: Keistimewaan 10 Muharam diterangankan dalam hadis ra Abu Hurairah, bahwa Allah SWT. telah mewajibkan Bani Israil berpuasa sehari dalam satu tahun, yakni pada hari Asyura. Oleh sebab itu Nabi Muhammad saw menganjurkan umatnya dan melapangkan keluarganya pada hari itu. Karena orang yang melapangkan keluarganya pada hari itu akan dilapangkan oleh Allah kehidupannya sepanjang tahun. nabi juga bersabda, “Hari Asyura adalah hari puasa bagi orang Quraisy di zaman jahiliyah, dan Rasulullah saw mempuasakannya. Ketika tiba di Madinah, beliau mempuasakanya dan menyuruh orang banyak mempuasakannya.” (H.R. Aisyah). dengan demikian berpuasa pada hari Asyura, hukumnya sunnah.

10 Muharram dianggap hari besar Islam karena pada hari ini banyak terjadi peristiwa penting, dan hari kemenangan para pejuang penegak kebenaran. Pada hari itu terjadi :

* Allah SWT menjadikan ‘Arasy.

* Allah SWT menjadikan Malaikat Jibril as

* Allah SWT menjadikan Lauh Mahfuzh

* Hari Pertama Allah SWT menciptakan Alam

* Hari Pertama Allah SWT menurunkan rahmat

* Hari Pertama Allah SWT menurunkan hujan dari langit

* Nabi Adam as. bertoubat kepada Allah SWT, dan tobatnya diterima sehingga ia bersih dari dosa

* Nabi Idris as diangkat oleh Allah SWT ketempat yang lebih tinggi

* Nabi Nuh as diselamatkan oleh Allah SWT ketika banjir merendam umatnya yang zalim

* Nabi Ibrahim as diselamatkan oleh Allah SWT dari pembakaran Raja Namrud

* Allah SWT menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa as.

* Nabi Yusuf dibebaskan dari penjara Mesir, setelah meringkuk beberapa tahun akibat fitnah Siti Zulaiha.

* Nabi Ya’qub as disembuhkan oleh Allah SWT dari penyakit yang dideritanya.

* Nabi Yunus as dikeluarkan dari perut ikan paus, setelah berada didalamnya selama 40 hari 40 malam

* Allah SWT mengijinkan Nabi Musa as membelah laut merah untuk menyelamatkan diri dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya

* Kesalahan Nabi Daud as diampuni oleh Allah SWT

* Nabi Sulaiman as dikaruniai Allah SWT kerajaan besar.

3.) 12 Rabiul Awal: Peringatan Hari Maulid Nabi Muhammad SAW pertama kali diselenggarakan oleh Sultan Salahudin al Ayyubi ketika menghadapi pasukan salib. Peringatan itu dijadikan sarana untuk mengobarkan semangat juang dan berkorban , untuk menyelamatkan umat Islam. dan akhirnya Salahuddin al Ayyubi berhasil memimpin tentara Islam memasuki Yerusalem.

4.) 27 Rajab: Pada malam tanggal 27 Rajab ketika Nabi Muhammad SAW sedang tidur, datanglah malaikat Jibril dan Mikail. Kedua malaikat itu membawaNabi ketelaga Zam-zam yang tidak jauh dari Baitullah, Ka’bah. Ditempat itulah dada Nabi Muhammad SAW dibedah dan hatinya disucikan dengan air zam-zam. Setelah segala “kotoran” hati ( sifat – sifat buruk seperti : sombong, iri, dengki, rakus dan lain sebagainya) dihilangkan, Jibril mengisinya dengan ilmu, iman, hikmah dan keyakinan. Kemudian jibril membubuhkan cap kenabian pada pundak Nabi Muhammad SAW. Dari telaga zam-zam mereka berangkat ke Masjidil Aqsha dengan mengendarai Buraq (menurut riwayat Said bin Musayyit, Buraq itu kendaraan nabi Ibrahim yang biasa dipakai ke Baitullah – Mekah, sedangkan menurut para ahli tafsir modern Buraq berasal dari kata “Barqun” artinya dalam bahasa Indonesia ialah Kilat). Ditengah perjalanan Jibril beberapa kali meminta Nabi turun dan melaksanakan shalat. Pertama di Yasrib yang kemudian dikenal dengan Madinah, Kedua di Madyan, Ketiga di Bukit Thursina, keempat di Baitlehem. Sesampainya di Masjidil Aqsha, Nabi Muhammad SAW disambut oleh para nabi terdahulu dan para malaikat dan Nabi Muhammad SAW brtindak sebagai Imam selesai Shalat oleh Malaikat Jibril Nabi Muhammad SAW disuguhkan dua gelas minuman yang satu berisi Susu yang lainya berisi Arak. Rasulullah memilih minuman yang berisi Susu.

Sesaat kemudian Rasul bersama Jibril melanjutkan perjalanan Mi’raj (alat untuk naik, Yang dimaksudkan adalah alat untuk naik bagi arwah anak cucu Adam as) ke Sidratul Muntaha, yaitu suatu tempat tertinggi diatas langit ketujuh. Dengan demikian mereka melintasi pintu-pintu langit dari yang pertama sampai pintu langit ketujuh. Yang masing – masing dijaga oleh malaikat. Dilangit pertama Nabi Muhammad Saw bertemu dengan Nabi Adam as. Di langit kedua Nabi Muhammad Saw bertemu dengan Nabi Isa as, Nabi Yahya as dan Nabi Zakaria as, dilangit ketiga Nabi Muhammad Saw bertemu dengan Nabi Yusuf as, dilangit ke empat Nabi Muhammad Saw bertemu dengan Nabi Idris as, di langit kelima Nabi Muhammad Saw bertemu dengan Nabi Harun as dan dilangit keenam Nabi Muhammad Saw bertemu dengan Nabi Musa as, dilangit ketujuh Nabi Muhammad Saw menyaksikan Baitul Makmur yang setiap harinya dimasuki oleh 70.000 Malaikat tanpa keluar lagi. Selanjutnya sampai lah Nabi Muhammad SAW di Sidratul Muntaha. Setelah menerima Perintah Shalat Nabi Muhammad SAW kembali kebumi.

5.) 15 Syaban: Kebesaran hari ini diterangkan oleh Rasulullah SAW. ” Malaikat Jibril mendatangiku pada malam Nishfu (15) Sya’ban , seraya berkata Hai Muhammad, malam ini pintu-pintu langit dan pintu-pintu rahmat dibuka. Bangunlah dan Shalatlah, angkat kepalamu dan tadahkan dua tanganmu kelangit. rasulullah saw bertanya, mengapa malam ini, Jibril ? Jibril menjawab Malam ini dibukakan 300 pintu rahmat. Tuhan mengampuni segala kesalahan orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, kecuali tukang sihir, tukang nujum, orang bernusuhan, orang yang terus-menerus minum khamar(arak atau minuman keras), terus menerus berzina, makan riba, durhaka kepada ibu bapak, orang yang suka mengadu domba dan orang yang memutuskan silahturahim. Tuhan tidak mengampuni mereka sampai mereka bertobat dan meninggalkan kejahata-kejahatan itu.”

Rasulullah pun keluar, lalu mengerjakan Shalat (sendirian) dan menangis dalam sujudnya, seraya berdoa, “Yaa Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab dan siksa-Mu serta dari kemurkaan-Mu. Tiada kubatasi puji-pujian kepada-Mu sebagaimana Engkau telah memuji diri-Mu. Maka bagi-Mulah segala puji-pujian itu hingga Engkau rela ” ( H.R. Abu Hurairah). Oleh karenanya malam tersebut sangat baik untuk beribadah dan memohon ampunan dari Allah SWT.

6.) 17 Ramadhan: Pada malam 17 Ramadhan pertama kali diturunkan ayat Al-qur’an ketika Rasulullah SAW. menyepi digoa Hira Jabal Nur sekitar enam kilometer dari kota Mekah.

7.) 1 Syawal: Pada hari itu Allah SWT membersihkan segala dosa umat Islam yang telah menunaikan puasa Ramadhan sebulan penuh dan membayar zakat fitrah, sehingga seperti bayi yang baru lahir.

8.) 10 Zulhijjah: Disebut juga hari raya Qur’ban, kata Dzulhijah berasal dari bahasa Arab, Dzul (punya) dan Hijjah (haji). Artinya “Yang punya haji”.

C. Khutbah Jum’at – 20090710

Posted on April 23, 2011 by It’s Me

Indonesia merupakan negara yg memiliki gunung dan pegunungan cukup banyak yang terbentang dari Sumatera, Jawa, Bali hingga Papua (kecuali Kalimantan). ALLOH SWT berfirman,“Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.” (Luqman(31):10).

Sesungguhnya gunung pun bergerak seperti awan. Berdasarkan ilmu pengetahuan modern diketahui bahwa bumi ini yang di dalamnya terdapat gunung2 merupakan benda di angkasa yg berputar pada porosnya. Selain berputar sendiri, bumi juga berputar mengelilingi matahari (yang diikuti oleh bulan).“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (An Naml(27):88).

Hanya karena kekuasan-Nya maka manusia dan makhluk2 lain di atas bumi tidak merasakan goncangan tersebut,“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka, dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk.” (Al Anbiya(21):31)

Sesungguhnya ALLOH SWT ciptakan gunung itu sebagai tempat kehidupan manusia. “Dan Allah menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan, dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung, dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan. Demikianlah Allah menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri (kepada-Nya).” (An Nahl(16):81)

ALLOH SWT juga yg telah menghamparkan bumi dan menciptakan gunung menurut ukuran yg telah Dia tentukan. “Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan

padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.” (Al Hijr(15):19) “Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (Ar Ra’d(13):3)

Gunung merupakan makluk ALLOH SWT yg tunduk dan patuh pada ALLOH SWT. Namun mereka menolak pada saat ALLOH SWT menawarkan mereka untuk mengemban amanat. “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat lalim dan amat bodoh,” (Al Ahzab(33):72) Kepatuhan gunung dicatat di Al Qur’an sebagai berikut,“Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) di waktu petang dan pagi,” (Shaad(38)18) Gunung juga akan menjadi saksi betapa hebat dan dahsyatnya kekuasaan ALLOH SWT pada saat kiama terjadi kelak. Perhatikan ayat2 berikut: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung, maka katakanlah: “Tuhanku akan menghancurkannya (di hari kiamat) sehancur-hancurnya, — maka Dia akan menjadikan (bekas) gunung-gunung itu datar sama sekali,” (Thaa Haa(20):105-106)

“Hari Kiamat, — apakah hari Kiamat itu? — Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu? — Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran, — dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan.” (Al Qaari’ah(101)

Filed under: Khutbah Jum’at

Khutbah Jum’at – 20090703

Posted on April 21, 2011 by It’s Me

Kaum muslim mesti meneladani dan mencontoh Nabi Ibrahim as beserta anak cucunya seperti Nabi Ismail as dan Nabi Muhammad SAW dalam mentaati perintah ALLOH SWT dan menjauhi larangan-Nya.

ALLOH SWT sendiri berfirman sebagai berikut,“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), — (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah, Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus.” (QS An Nahl(16):120-121) Beliau adalah orang yg muslim, hanif (lurusf) serta berserah diri kepada ALLOH SWT. Beliau juga mengajak umatnya dan mewasiatkan pada anak cucunya untuk senantiasa tunduk dan patuh pada ALLOH SWT. “Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”.” (Al Baqarah(2):132)

Nabi Ibrahim as sendiri telah diuji keimanan dan ketakwaannya oleh ALLOH SWT. “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang lalim”.”(Al Baqarah(2):124)

Salah satu doa para Nabi yang diabadikan di Al Qur’an adalah doa Nabi Ibrahim as,“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (Ibrahim(14):37)

Nabi Ibrahim as juga (beserta anaknya, Nabi Ismail as) yang membangun Ka’bah sesuai perintah dari ALLOH SWT. “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.” (Al Baqarah(2):127)

Adapun manfaat Ka’bah dijelaskan pada ayat berikut,“Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang iktikaf, yang rukuk dan yang sujud”.” (Al Baqarah(2):125)

Kemudian Nabi Ibrahim as juga yg mencontohkan pelaksanaan haji. “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, — supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.” (Al Hajj(22):27-28)

Adapun ujian yg paling berat bagi Nabi Ibrahim as adalah tatkala turun perintah untuk menyembelih Nabi Ismail as. Padahal Nabi Ismail as didapat setelah perjuangan berpuluh tahun karena beliau tidak dikaruniai anak. “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.” (Ash Shaffaat(37):102)

Karena keduanya adalah orang2 yg bertakwa dan terpilih, maka tanpa ragu keduanya melaksanakan perintah ‘tidak masuk akal manusia’ ini. Keduanya pun lulus dari ujian ini.

“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). — Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, — sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. — Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (Ash Shaffaat(37):103-106) Marilah kita berusaha meneladani Nabi Ibrahim as semampu dan sedekat yg bisa kita lakukan.

D.Kajian rutin

yang dilaksanakan satu minggu sekali dengan mengadakan ceramah agama salah satu nya adalah sebagai berikut ceramah nya:

Al-Quran adalah kitab suci agama islam untuk seluruh umat muslim di seluruh dunia dari awal diturunkan hingga waktu penghabisan spesies manusia di dunia baik di bumi maupun di luar angkasa akibat kiamat besar.

Di dalam surat-surat dan ayat-ayat alquran terkandung kandungan yang secara garis besar dapat kita bagi menjadi beberapa hal pokok atau hal utama beserta pengertian atau arti definisi dari masing-masing kandungan inti sarinya, yaitu sebagaimana berikut ini :

1. Aqidah / Akidah

Aqidah adalah ilmu yang mengajarkan manusia mengenai kepercayaan yang pasti wajib dimiliki oleh setiap orang di dunia. Alquran mengajarkan akidah tauhid kepada kita yaitu menanamkan keyakinan terhadap Allah SWT yang satu yang tidak pernah tidur dan tidak beranak-pinak. Percaya kepada Allah SWT adalah salah satu butir rukun iman yang pertama. Orang yang tidak percaya terhadap rukun iman disebut sebagai orang-orang kafir.

2. Ibadah

Ibadah adalah taat, tunduk, ikut atau nurut dari segi bahasa. Dari pengertian “fuqaha” ibadah adalah segala bentuk ketaatan yang dijalankan atau dkerjakan untuk mendapatkan ridho dari Allah SWT. Bentuk ibadah dasar dalam ajaran agama islam yakni seperti yang tercantum dalam lima butir rukum islam. Mengucapkan dua kalimah syahadat, sholat lima waktu, membayar zakat, puasa di bulan suci ramadhan dan beribadah pergi haji bagi yang telah mampu menjalankannya.

3. Akhlaq / Akhlak

Akhlak adalah perilaku yang dimiliki oleh manusia, baik akhlak yang terpuji atau akhlakul karimah maupun yang tercela atau akhlakul madzmumah. Allah SWT mengutus Nabi Muhammd SAW tidak lain dan tidak bukan adalah untuk memperbaiki akhlaq. Setiap manusia harus mengikuti apa yang diperintahkanNya dan menjauhi laranganNya.

4. Hukum-Hukum

Hukum yang ada di Al-quran adalah memberi suruhan atau perintah kepada orang yang beriman untuk mengadili dan memberikan penjatuhan hukuman hukum pada sesama manusia yang terbukti bersalah. Hukum dalam islam berdasarkan Alqur’an ada beberapa jenis atau macam seperti jinayat, mu’amalat, munakahat, faraidh dan jihad.

5. Peringatan / Tadzkir

Tadzkir atau peringatan adalah sesuatu yang memberi peringatan kepada manusia akan ancaman Allah SWT berupa siksa neraka atau waa’id. Tadzkir juga bisa berupa kabar gembira bagi orang-orang yang beriman kepadaNya dengan balasan berupa nikmat surga jannah atau waa’ad. Di samping itu ada pula gambaran yang menyenangkan di dalam alquran atau disebut juga targhib dan kebalikannya gambarang yang menakutkan dengan istilah lainnya tarhib.

6. Sejarah-Sejarah atau Kisah-Kisah

Sejarah atau kisah adalah cerita mengenai orang-orang yang terdahulu baik yang mendapatkan kejayaan akibat taat kepada Allah SWT serta ada juga yang mengalami kebinasaan akibat tidak taat atau ingkar terhadap Allah SWT. Dalam menjalankan kehidupan sehari-hari sebaiknya kita mengambil pelajaran yang baik-baik dari sejarah masa lalu atau dengan istilah lain ikibar.

7. Dorongan Untuk BerpikirDi dalam al-qur’an banyak ayat-ayat yang mengulas suatu bahasan yang memerlukan pemikiran menusia untuk mendapatkan manfaat dan juga membuktikan kebenarannya, terutama mengenai alam semesta. Al-Quran adalah kitab suci

BAB III

KESIMPULAN

Dakwah itu otonomi artinya mandiri tidak ada campur tanggan dari luar dakwah. Dan apa yang dimaksud dengan kesatuan dai yaitu kesatuan dai harus memiliki banyak keahlian dan pengetahuan agama yang tinggi, luas, dan mendalam.

Imam Sayuti farid secara lebih rincih menerangkan bahwa objek materi ilmu dakwah adalah proses penyampaian ajaran kepada umat manusia, sedangkan objek formal nya adalah proses penyampaian ajaran islam kepada umat manusia

Itulah dakwah yang harus kita sampaikan terus kepada seluruh umat di dunia ini dan kita juga harus pahan oleh langkah-langkah dakwah yang kita sampaikan sendiri.

BERDAKWAH

Disusun Oleh

MIFTAH ANA AFIFAH    B31210048

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Seorang da’i harus mempertajam lidahnya dengan banyak latihan, meminta bimbingan, pengawasan, dan pengujian serta menghafal sejumlah kata-kata hikmah atau petikan-petikan pepatah.

Ketajaman dan ketangkasan lidah seorang da’i dapat menyelamatkan dalam situasi-situasi kritis dan menolongnya dalam keadaan terdesak. Dengan lidah  yang terasa, seorang da’i tampil diatas podium dihadapan ribuan khalayak yang menyaksikannya laksana singa.

  1. Rumusan Masalah
    1. Menulis teks pidato “hari raya idul fitri”
    2. Menulis teks pidato “isro’ mi’roj”
    3. Menulis teks pidato “hari raya idul adha”
    4. Menulis teks pidato “maulid nabi”

BAB II

PEMBAHASAN

Hari Raya Idul Fitri

 

Allahuakbar… Allahuakbar… Allahuakbar Walillahilhamdu. Hari yang ditunggu- tunggu oleh seluruh umat manusia adalah hari kemenangan yang gilang-gemilang, kemenangan dari pertempuran melawan hawa nafsu. Hawa nafsu yang senantiasa merongrong dan menghambat kita dalam melaksanakan ibadah kepada Allah yanag Maha Kuasa

Puasa sebulan Ramadhan yang baru kita saja kita lakukan bersama-sama, antara lain berfungsi untuk mengendalikan dan menjinakkan hawa nafsu. Dengan mengendalikan hawa nafsu, derajat manusia akan meningkat, jiwanya akan suci. Sebaliknya dengan menuruti hawa nafsu, hubungan antara manusia dengan Tuhannya akan menjadi retak.

Suatu ilmu pengetahuan dakwah sesuai dengan penjelasan memahami semangat zaman dikatakan dakwah itu harus dengan ketelitian, keramahan, dengan menujukkan sifat yang baik, bukan karena paksaan, melainkan dari hati sendiri. Dari semua jenis berdakwah ini hanya butuh keberanian.

Itulah dahsyatnya bujuk rayu hawa nafsu, tepat apa yang dikatakan oleh penyair yang dikutib oleh sayid abdullah al-hadad yang artinya:

“ ketahuilah nafsu olehmu. Jangan kamu anggap enteng bahayanya. Karena nafsu itu lebih buruk daripada tujuh puluh setan. Karena begitu hawa nafsu yang berada pada diri kita harus kita kendalikan, harus kita jinakkan, dan harus kita kuasai.”

Sebulan lamanya kita telah berlatih dan berusaha untuk mengendalikan hawa nafsu kita. Akhir dari latihan itu. Lantaran hawa nafsulah  dunia ini selalu ribut dan kacau. Karena hawa nafsu, perang saudara dapat berkobar. Karena hawa nafsu ketaatan anak terhadap orangtua nya menjadi hilang. Karena hawa nafsu,akwan menjadi lawan. Hawa nafsu kita, tidak boleh boleh kita lepaskan selepas-lepasny, juga tidak boleh kita hilangkan, akan tetapi hawa nafsu itu harus kita kuasai dan kita pimpin dengan hidayah agama. Hari ini ditandai dengan pesta yang hikmah penuh kekeluargaan. Allah telah mewajibkan kiata untuk untuk makan minum pada hari ini. Hari raya Idul Fitri ini merupakan hari perpisahan dengan bulan ramadhan, sekaligus hari dimulainya kita merealisasikan hikmah/ajaran yang terkandung didalam bulan suci ramadhan.

Manusia sebagai makhluk yang mulai, disamping diberi akal oleh Allah SWT, juga diberi nafsu. Akal dengan nafsu setiap saat senantiasa bertarung. Jika dalam pertarungan itu dapat mengalahkan nafsunya, maka orang yang demikian itu dipandang lebih baik daripada malaikat, namun sebaliknya jika akalnya dapat dikalahkan oleh nafsunya maka orang yang demikian itu dipandang lebih buruk daripada binatang.

Oleh karena itu dalam rangka ber-Idul Fitri ini, marilah kita berusaha semaksimal mungkin melaksanakan perintah-perintah Allah dan berusaha pula menjauhi segala laranganNya serta senantiasa berkomunikasi dengan sesama manusia dengan sebaik- baiknya. Sesuai dengan Rasullullah yang artinya :

“ Bertaqwalah kepada Allah dimana saja kamu berada, ikutilah keburukan dengan kebaikan, niscaya itu akan menghapuskan keburukan dengan kebaikan, niscaya itu akan menghapuskan keburukan dan bergaullah dengan manusia dengan budi pekerti yang  baik.”[1]

Peringatan Isro’ Mi’roj

 

Kita semua pada saat ini telah berada di bulan Rajab, dimana pada bulan Rajab, dimana pada bulan Rajab ini ada satu peristiwa yang tidak boleh dilupakan oleh setiap umat manusia, utamanya adalah umat islam itu sendiri, karena pada bulan Rajab itu terjadilah peristiwa besar yang pernah dijalankanoleh Rasullullah pada abad-abad yang silam yaitu Isro’ Mi’raj, atas kehendak Allah SWT. Menurut arti bahasa Isro’ itu berarti perjalanan dimalam hari. Suatu pendapat mengatakan bahwasannya suatu da’i dalam pengembangan berdakwahnya harusnya banyak memiliki pengalaman dan latihan, seperti contohnya dalam penyampaian dakwah ini. Akan tetapi secara syari’iyah Isro’ adalah perjalanan malam hari hari yang dilakukan oleh Rasullullah SAW dari Masjidil Haram menuju ke Baitul Maqdis yang penuh mengandung rahasia dan keajaiban. Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam Al-Qur’an surat al-Isro’ ayat 1:

Artinya : “ Maha suci Allah yang telah memperjalankan hambaNya pada malam hari, dari masjidil haram sampai masjidil aqso, yang kami berkati disekitarnya, supaya Kami perlihatkan tanda-tanda kebesaran Kami kepadanya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat”.

Sedangkan Mi’raj menurut arti bahasa yaitu jenjang naik. Akan tetapi yang dimaksud ialah naiknya Rasullullah SAW dari Masjidil Aqso di Baitul Maqdis, dengan menempuh angkasa luar, sehingga akhirnya sampai ke suatu tempat yang paling tinggi bernama Sidratul Muntaha, suatu tempat yang tidak mungkin dicapai oleh manusia dengan kemajuan tehnologi yang bagaimana pun canggihnya kecuali oleh nabi Muhammad SAW. Disitulah Rasullullah SAW menerima langsung dari Allah SWT tentang shalat 5 waktu yang harus dikerjakan olehnya dan seluruh umatnya.

Tujuan pokok dari Isro’ Mi’raj adalah dalam rangka member kekuatan batin bagi nabi Muhammad terhadap musibah atau cobaan serta siksaan yang datangnya dari para musuh-musuh islam sejak sepeninggalan Abu Thalib, Abdul Muthalib dan istri tersayangnya Sitii Khadijah, dalam memperjuangkan cita-cita luhur, mengajak seluruh umat manusia untuk beriman kepada Allah SWT didalam naungan islam.

Dengan memperhatikan peristiwa-peristiwa diatas maka dapat kita ambil hikmahnya yaitu kita mempertebal dan memperkuat keimanan serta ketaqwaan kepada Allah dan kepada Nabi Muhammad. Disamping itu kita harus menjalankan perintah Allah yaitu shalat 5 waktu.[2]

 

 

Hari Raya Idul Adha

Idul adha dinamakan juga Idul Kurban karena sejak fajar menyingsing dipagi hari ini sampai terbenam matahari pada tanggal 13 dzulhijah nanti atau yang disebut hari tasyriq selama empat hari berturut-turut kita telah berada dalam suasana Idul Adha. Hari raya besar dalam islam, hari raya yang membayangkan betapa besar dan agungnya jiwa umat islam yang telah bertakwa kepada Allah SWT.

Dari sejarah kita temui peristiwa penting yang berkenaan dengan Idul Adha, yaitu nabi Ibrahim as telah memberikan pengorbanan yang besar dan mengagumkan dengan penyembelihan putranya Nabi Ismail, demi pengabdiann yang  besar kepada Allah SWT. Allah membalas pengorbanan itu dengan menukar ismail dengan seekor kambing.

çm»oY÷ƒy‰sùur ?xö/ɋÎ/ 5OŠÏàtã ÇÊÉÐÈ

Artinya: “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”

 Pengorbanan yang besar yang diberikan oleh Nabi ibrahim a.s itu telah dianjurkan untuk dilaksanakan pula oleh kaum muslim, sebagai tanda dari keikhalasan dan kesediaannya untuk memberikan pengorbanan dan pengabdiannya kepada Allah SWT. Dengan menyembelih hewan seperti kambing atau sapi yang dagingnya dibagi-bagikan kepada fakir dan miskin yang berada disekitar kita.

Penyembelihan hewan yang lazimnya disebut kurban itu, merupakan ukuran bagi setiap muslim sampai berapa besar kesediannnya untuk berkurbna demi pengabdiannya kepada Allah SWT.

Sudah diijelaskan bahwasannya semua berawal dari ilmu dan agama. Dalam hal seperti ini sudah termasuk kedalam hal berusaha untuk menunjukkan bahwa dirinya telah berdakwah yang benar dan mengajak semua pendengar untuk mengikuti.[3]

Pengabdian dan pengorbanan merupakan pendidikan bagi umat islam untuk memperkuat jiwa sosial dan kedermawanan, serta membiasakan umat islam untuk mengorbankan segala sesuatu yang dimilikinya bagi keselamatan dan kebahagiaan umat bersama, serta bagi kemajuan masyarakat bangsa dan negara khususnya bagi kejayaan islam dan kaum muslim.

Sungguh banyak sekali hikmah dan rohani yang dapat kita petik dari ajaran dan pelaksanaan kurban ini. Karena itu adalah tugas kita untuk contoh dan mengambil teladan dari gerak dan langkah serta sikap nabi ibrahim dalam mewujudkan dan mempertahankan keyakinan kepada Allah. Semua orang tahu bahwa disini nabi Ibrahim, siti hajar dan ismaill telah melalui peristiwa besar.

Untuk mewujudkan pembangunan bangsa dan mensejahterakan umat, serta tegaknya syariat islam ini amat diperlukan remaja yang berhiwa besar dan berakhlak mulia. Kita masih memerlukan para remaja yang ikhlas dan berani berkorban untuk mencapai cita-cita luhur, karena hanya ditangan remajalah terletak kejayaan umat dan bangsa.

Dalam melaksanakan shalat idul adha ini kenangan kita terbang ketanah suci. Disanalah seluruh kaum islam yang berkesempatan menunaikan rukun islam kelima yaitu ibadah haji. Hari ini sedang melaksanakan ibadah haji di Mina, sesudah berwukuf dipadang arafah kemarin tanggal dzulhijah. Ibadah haji selain mengandung pahala yang besar,juga mengandung hikmah-hikmah yang amat penting, antara lain:

-          supaya umat islam bersatu

-          supaya umat hidup berjamaah dan bermasyarakat

-          supaya umat islam bersaudara, kasih mengasihi, hormat menghormati

v   Maulid Nabi Muhammad SAW

Bulan rabiul awal adalah suatu bulan yang sangat bersejarah di dalam kehidupan manusia karena pada bulan ini tepatnya pada tanggal 12 robiul awal tahun gajah telah dilahirkan seorang pemimpin umat manusia yang merupakan rahmat bagi seluruh alam semesta. Beliau itu adalah junjungan kita nabi besar Muhammad SAW, yang telah menyelamatkan kita dari kekafiran, kedzaliman, kesewenang-wenangan, dan perilaku jahiliyah lainnya. Melalui beliau Allah menunjukkan manusia menuju alam yang penuh dengan cahaya keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

Berdakwah dibedakan menjadi beberapa macam,[4] seperti contohnya terdapat banyak unsur perbandingan. Yaitu subjek dakwah yang meliputi Da’i, mubaligoh, ustadz.

Oleh sebab itu ada baiknya jika pada bulan Rabbiul Awwal itu kita jatuhkan sebagai sarana dan media untuk mengumpulkan kaum muslimin di masjid-masjid, majelis ta’lim dan tempat-tempat lainnya dengan beberapa tujuan diantaranya:

    1. Untuk menanamkan, memupuk, dan menambah rasa mahabbah (kecintaan) kita kepada Rasulullah SAW. Tujuan tersebut dikarenakan Rasullullah adalah penyampai risalah dari Allah.
    2. Untuk mengungkap kembali sejarah kehidupan Rasullullah SAW. Kemudian untuk diteladani.

Dengan peringatan kelahiran Rasullullah SAW, ini kita dapat mengungkap kembali sebagian dari kehidupan Rasullullah, dan jihad perjuangannya di dalam menegakkan agama islam. Dalam menyambut dan memperingati maulid nabi Muhammad SAW, dapat kita simpulkan bahwa keteladanan Rasul harus dicontoh. Sesuai dengan firman Allah yang artinya sesungguhnya telah ada pada Rasullullah teladan yang baik bagimu, ialah bagi orang yang mengharapkan rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut akan Allah. Dengan kelahiran Beliau, kita umat  manusia seluruh dunia mandapat rahmat yang tidak terhingga, yakni berupa cahaya hidayah yang dapat menembus kegelapan jahiliyah. Allah berfirman:

!$tBur š»oYù=y™ö‘r& žwÎ) ZptHôqy‘ šúüÏJn=»yèù=Ïj9 ÇÊÉÐÈ

            Artinya: “ Dan tidaklah Kami mengutus engkau wahai Muhammad, melainkan menjadi rahmat bagi semesta alam”. (QS.Al-Anbiya’:107)

 

 

 

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Ibadah haji selain mengandung pahala yang besar,juga mengandung hikmah-hikmah yang amat epnting, antara lain:

-          supaya umat islam bersatu

-          supaya umat hidup berjamaah dan bermasyarakat

-          supaya umat islam bersaudara, kasih mengasihi, hormat menghormati

Seorang da’i harus mempertajam lidahnya dengan banyak latihan, meminta bimbingan, pengawasan, dan pengujian serta menghafal sejumlah kata-kata hikmah atau petikan-petikan pepatah.

Tujuan pokok dari Isro’ Mi’raj adalah dalam rangka member kekuatan batin bagi nabi Muhammad terhadap musibah atau cobaan serta siksaan yang datangnya dari para musuh-musuh islam sejak sepeninggalan Abu Thalib, Abdul Muthalib dan istri tersayangnya Sitii Khadijah.

DAFTAR PUSTAKA

 

Mahmud Halim Abdul Ali (2006) Membentuk Pribadi Muslim; PT. Pelangi Aksara Yogyakarta

Qarni Al Aidh Dr (2005) Memahami Semangat Zaman;PT.Pelangi Aksara Yogyakarta

Bagir Abidin Zainal (2005) Integrasi Ilmu dan Agama;Pustaka Pesantren Yogyakarta

Aziz Ali Moh ( 2005 ) Paradigma Aksi Metodologi;Pustaka Pesantren Yogyakarta


[1] Kitab “Dalilul Falihin” jilid 1, halaman 227

[2] Mahmud Halim Abdul Ali,membentuk Pribadi Muslim hal 137

[3]  Zainal Abidin Baqir, Integrasi Ilmu dan Agama hal 97

[4] Moh.Ali Aziz, Paradigma Aksi Metodologi hal 19

Ilmu Dakwah

Disusun oleh:

Mardia Lia Puspita                                       (B71210059)

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Agama Islam berkembang di berbagai Negara, bahkan sampai pernah mencapai dua per tiga dunia tak lain karena aktivitas dakwah. Penyebaran yang dilakukan tanpa henti dan dilakukan oleh setiap umat muslim di dunia. Dakwah merupakan kewajiban yang tidak dapat ditinggalkan oleh setiap muslim. Karena dakwah merupakan kewajiban individual sekaligus juga kewajiban kolektif bagi umat islam.

  1. Rumusan Masalah

1)      Pengertian dakwah

2)      Pesan Dakwah

3)      Metode Dakwah

4)      Pengaruh Pesan Dakwah

  1. Tujuan Makalah

a)      Untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Dakwah

b)      Agar mahasiswa dapat mengetahui lebih jelas tantang Ilmu Dakwah

c)      Dapat mempelajari dam meneliti urgensi dakwah pada masyarakat.

 BAB II

PEMBAHASAN

  1. PEGERTIAN DAKWAH

Dakwah seacara etimologi, berasal dari bahasa Arab yaitu da’a- yad’u-da’watan yang berarti mengajak, menyeru, memanggil. Arti yang seperti ini sama halnya dengan penjelasan dari Warson Munawir dalam kamus Al Munawir to call, to invite, to summon, to propose, to urge, to pray.[1] Sesuai yang disebutkan dalam Surat Ali Imron ayat 104 :

`ä3tFø9ur öNä3YÏiB ×p¨Bé& tbqããô‰tƒ ’n<Î) Ύösƒø:$# tbrããBù’tƒur Å$rã÷èpRùQ$$Î/ tböqyg÷Ztƒur Ç`tã ̍s3YßJø9$# 4 y7Í´¯»s9’ré&ur ãNèd šcqßsÎ=øÿßJø9$# ÇÊÉÍÈ

104. dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar[217]; merekalah orang-orang yang beruntung.

[217] Ma’ruf: segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah; sedangkan Munkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya.

Begitu juga dalam penggalan surat Al-Ashar ayat 3, yang berbunyi :

žwÎ) tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=ÏJtãur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# (#öq|¹#uqs?ur Èd,ysø9$$Î/ (#öq|¹#uqs?ur Ύö9¢Á9$$Î/ ÇÌÈ

3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Menurut Masduqi, analisis dakwah adalah suatu gejala dimana terdapat dua orang atau lebih yang salah satu atau sebagian diantaranya mengajak kepada kebaikan dan mencegah yang munkar. Dan dalam prespektif ini berarti objek materia kedakwahan adalah manusia, sedangkan objek formanya adalah manusia yang ditinjau dari tingkah lakunya manusia dalam mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari perbuatan yang munkar.

Keberadaan dakwah sangat urgen dalam Islam. Antara dakwah dan Islam tidak dapat dipisahkan, bagai logam koin dengan kedua sisinya. Sebagaimana diketahui dakwah merupakan suatu usaha untuk mengajak dan menyeru manusia untuk senantiasa berpegang pada tali agama yang diridhoi Allah yakni Islam yang kelak menjadikan manusia bahagia di dunia dan akhirat. Islam rahmatan lil alamin, dengan jalan dakwah semua orang berhak atas keindahan dan kabar baik yang diajarkan oleh dinnul Islam. Dan umat Islam adalah sebaik-baik umat  yang ditugaskan untuk mengemban dakwah. Sebagaimana yang dijelaskan dalam surat Ali Imron ayat 104 yang berbunyi :

`ä3tFø9ur öNä3YÏiB ×p¨Bé& tbqããô‰tƒ ’n<Î) Ύösƒø:$# tbrããBù’tƒur Å$rã÷èpRùQ$$Î/ tböqyg÷Ztƒur Ç`tã ̍s3YßJø9$# 4 y7Í´¯»s9’ré&ur ãNèd šcqßsÎ=øÿßJø9$# ÇÊÉÍÈ

104. dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar[217]; merekalah orang-orang yang beruntung.

[217] Ma’ruf: segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah; sedangkan Munkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya.

Oleh karena itu, mengingat dakwah ini sangat penting dan berpengaruh untuk kegemilangan Islam pada suatu saat nanti, maka kita sebagai umat Islam yang ditunjuk Rasulullah untuk meneruskan dakwah ini sampai pada kegemilangan Islam kembali dan berjaya wajib mengerti, memahami, dan  melaksanakan dakwah dengan baik. Kewajiban dakwah ini bukan hanya untuk para ulama, kyai, mubalighoh, para intelek, tetapi untuk setiap insan muslim dan muslimah tanpa terkecuali. Bahkan sudah saatnya generasi-generasi muda siap bergerak untuk menjalankan amanah yang sangat mulia ini. Bergerak menuju kemuliaan Islam dengan senantiasa berperilaku, berkepribadian secara islamiyah dengan senantiasa menjalankan syariat Allah sepenuhnya, tanpa mengambil sebagian. Seperti yang dijelaskan dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 208 :

$yg•ƒr’¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=äz÷Š$# ’Îû ÉOù=Åb¡9$# Zp©ù!$Ÿ2 Ÿwur (#qãèÎ6®Ks? ÅVºuqäÜäz Ç`»sÜø‹¤±9$# 4 ¼çm¯RÎ) öNà6s9 Ar߉tã ×ûüÎ7•B ÇËÉÑÈ

208. Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

Mengingat hal tersebut, Alhamdulillah di daerah benowo masih ada orang-orang yang peduli dengan seruan Allah ini. Di Benowo, tepatnya daerah Jurang Kuping merupakan daerah merah -rawan maksiat- yang jika tidak segera melakukan penataan terhadap penduduk  yang ada disekitar bisa beraibat fatal dan buruk yang dapat menganggu ketentraman masyaraka. Seumpama kapal yang ditumpangi banyak orang, kemudian sebagian dari mereka melubangi kapal tersebut dan jika mereka membiarkan hal tersebut terjadi, maka perlahan tapi pasti mereka akan ikut tenggelam bersama orang-orang yang melubangi kapal, meski berada di lantai atas. Disini dapat kita ambil pelajaran bahwa kita tidak boleh apatis terhadap kemaksiatan, meski kita tidak tergoda dengan rayuan syetan melalui teman, kerabat, saudara, tapi orang-orang disekililing kita belum tentu pasti bisa membentengi diri dari kemaksiatan. Tentu begitu juga kita, untuk mempertahankan keimanan dan ketaqwaan maka kita disarankan untuk selalu berkumpul dengan orang-orang yang sholeh yang dapat mendongkrak keimanan jika dilanda kemalasan.

  1. PESAN DAKWAH

Di setiap ceramah yang digelar selalu yang menjadi oleh-oleh manis untuk para mad’u adalah pesan yang disampaikan oleh para Da’i. Pesan yang sesuai dengan psikologi mad’u yang bisa menyentuh dan membuka mata hati dan sampai pada keberhasilan dakwah itu sendiri. Dalam ilmu komunikasi pesan dakwah bisa disebut massage, yaitu symbol-simbol. Dalam literatur berbahasa Arab, pesan dakwah disebut maudlu’ al-da’wah. Pada prinsipnya pesan yang digunakan tidak bertentangan dengan sumber utamanya, yakni Al Quran dan Hadist.

Ada beberapa sumber pesan dakwah yang biasa digunakan oleh saebagian banyak da’i dalam berdakwah diantaranya :

a)      Ayat-Ayat  Al Quran

b)      Hadist Nabi

c)      Pendapat Para Sahabat Nabi Saw

d)     Pendapat Para Ulama

e)      Hasil Penelitian Ilmiah

f)       Kisah Dan Pengalaman Teladan

g)      Berita Peristiwa

h)      Karya Sastra

i)        Karya Seni[2]

Materi dakwah yang disampaikan pada dasarnya tergantung pada tujuan dakwah yang hendak dicapai. Namun secara global materi dakwah dapat diklasifikasikan menjadi tiga pokok yakni, masalah keimanan (aqidah), masalah keislaman (syariat), dan masalah budi pekerti (akhlaqul karimah). Dalam arti luas, kebenaran dan kesabaran mengandung makna nilai-nilai dan akhlak. Jadi, dakwah mengundang dan mendorong mad’u sebagai objek dakwah untuk memahami nilai-nilai yang memberikan makna pada kehidupan baik di dunia maupun di akhirat. Berikut adalah beberapa materi dakwah secara terperinci :

a)      Aqidah

b)      Akhlak

c)      Ahkam

d)     Ukhuwah

e)      Pendidikan

f)       Sosial

g)      Kebudayaan

h)      Kemasyarakatan

i)        Amar ma’ruf

j)        Nahi munkar

Sementara Qurais shihab, mangatakan bahwa pokok-pokok materi dakwah itu tercermin dalam tiga hal, yakni:

a)      Memaparkan ide-ide agama yang dapat mengembangkan gairah generasi muda untuk mengetahui hakikat melalui partisipasi positif mereka.

b)      Sumbangan agama yang ditujukan kepada maangarakat luas yang sedang membangun, khususnya di bidang social, budaya, dan ekonomi.

c)      Studi pokok agama yang menjadikan landasan bersama demi mewujudkan kerjasama antar agama tanpa mengabaikan identitas masing-masing.[3]

Pesan yang disajikan dalam ceramah rutin bulanan di daerah Benowo, Jl. Santren Rt.04 Rw.03 yang diselenggarakan oleh majelis dzikir Syifaul Qulub, menyampaikan cenderung ke perbaikan hati untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah. Pesan yang disampaikan pun diambil dari berbagai sumber (Al Quran, hadist, kisah teadan, berita peristiwa). Isi pesan dakwah yang seperti itu menurut Ustadz Syafi’i- pemilik majelis dzikir Syifaul Qulub- lebih tepat untuk menjadikan para warga yang ikut dalam kajian rutin majelis dzikir membersihkan diri dari penyakit hati. Mendekatkan diri kepada Allah dengan berdzikir, selalu mengingat Allah, menjaga diri dari perbuatan dosa serta tidak terpengaruh dari lingkungan yang berpotensi rawan maksiat.

Di dalam pesan yang disampaikan pun termasuk didalamnya ada metode-metode yang harus dilaksanakan agar tercapainya keberhasilan dalam berdakwah. Pedoman yang digunakan metode dakwah Islam sebagaimana termaktub dalam Al Quran dan Hadist, yaitu:

äí÷Š$# 4’n<Î) È@‹Î6y™ y7În/u‘ ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9ω»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }‘Ïd ß`|¡ômr& 4 ¨bÎ) y7­/u‘ uqèd ÞOn=ôãr& `yJÎ/ ¨@|Ê `tã ¾Ï&Î#‹Î6y™ ( uqèdur ÞOn=ôãr& tûïωtGôgßJø9$$Î/ ÇÊËÎÈ

125. serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

[845] Hikmah: ialah Perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.

Serta sabda Nabi yang berbunyi “barang siapa diantara kamu melihat kemungkaran maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya (kekuasaan), apabila tidak mampu maka dengan lidahnya(nasihatnya), apabila tidak mampu maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dari firman Allah serta hadist Rasulullah tersebut, jelaslah bahwa prinsip-prinsip dakwah Islam tidaklah mewujudkan kekakuan, akan tetapi menunjukkan fleksibelitas yang tinggi. Ajakan dakwah tidak mengharuskan cepatnya keberhasilan dengan satu metode saja, melainkan dapat bermacam-macam cara yang sesuai dengan kondisi dan situasi mad’u sebagai objek dakwah. Dalam hal ini kemampuan masing-masing da’i sebagai subjek dakwah dalam menentukan penggunakan metode dakwah amat berpengaruh bagi keberhasilan suatu aktifitas dakwah. Dalam Al Quran surat An Nahl ayat 125, terdapat metode dakwah yag akurat. Kerangka besarnya adalah Bil Hikmah, Mau’izhah Hasanah, Mujadalah.[4]

Dalam tugas penyampaian dakwah Islamiyah, seorang da’i sebagai subjek dakwah memerlukan seperangkat pengetahuan dan kecakapan dalam bidang metode. Dengan mengetahui metode dakwah, penyampaian dakwah dapat diterima oleh mad’u (objek) dengan mudah karena penggunaan metode yang tepat sasaran. Patut rasasnya jika seorang da’I pintar dan tanggap dalam bidang memilah dan memilih jurus jitu untuk menyampaikan pesannya kepada mad’u. penguasaan metode dakwah akan mempermudah da’i untuk menyam[aikan esan kepada mad’u.

  1. METODE DAKWAH

Pendekatan dakwah adalah titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses dakwah. Umumnya, penentuan pendekatan didasarka pada mitra dakawh dan suasana yang meligkupinya.

Berikut ini adalah macam-macam metode dakwah apabila ditinjau dari sudut pandang yang lain, yang lazim biasa digunakan dalam pelaksanakan dakwah diantaranya :

  1. Metode Ceramah

Metode ceramah ini dilakukan dengan maksud untuk menyampaikan keterangan, petunjuk, pengertian, dan penjelasan tentang suatu kepada pendengar dengan menggunakan lisan. Metode ceramah merupakan suatu teknik yang dibawakan oleh kebanyakan da’i.

  1. Metode Tanya Jawab

Metode Tanya jawab ini digunakan untuk mengetahui sejauh mana ingatan, pengetahuan, dalam memahami atau menguasai materi dakwah. Metode ini dipandang cukup efektif apabila ditempatkan dalam usaha dakwah. Karena dengan metod ini adanya hubungan timbal balik antara subjek dakwah dengan objek dakwah.

  1. Metode Diskusi

Dakwah dengan menggunakan metode diskusi dapat memberikan peluang peserta diskusi untuk ikut memberikan sumbangan pemikiran terhadap suatu masalah dalam materi dakwah.

  1. Metode Propaganda

Metode ini digunakan untuk menarik perhatian dan simpatik seseorang. Pelaksanakan dakwah dengan metode propaganda dapat digunakan melalui berbagai macam media, baik auditif, visual, maupun audio visual.

  1. Metode Keteladanan

Metode keteladanan atau demontrasi berarti suatu cara penyajian dakwah dengan memberikan keteladanan langsung sehingga mad’u akan tertarik untuk mengikuti kepada apa yang dicontohkan. Hal ini dapat digunakan untuk hal-hal yang berkaitan dengan akhlak, cara bergaul, cara beribadah, berumah tangga, dan segala aspek kehidupan manusia.

  1. Metode Drama

Materi dakwah yang disuguhkan dalam bentuk drama yang dimainkan oleh para seniman yang berprofesi sebagai da’I atau da’I yang sebagai seniman. Dakwah dengan menggunakan metode ini terkenal sebagai pertunjukan khusus untuk kepentingan dakwah. Banyak sudah yang dilakukan dakwah dengan metode drama melalui media film, radio, televise, teater, dan lain-lain.

  1. Metode Silaturahmi (home visit)

Contoh dakwah metode silaturahmi yang biasa dilakukan oleh para da’I kepada mad’u yakni dengan  bersilaturahmi, menjenguk orang yang sakit, ta’ziyah, dan lain-lain. Dengan cara seperti itu manfaatnya cukup besar dalam rangka mencapai tujuan dakwah. Disamping dapat mempererat persahabatan dan juga dapat dipergunakan oleh da’I itu sendiri untuk mengetahui kondisi masyarakat di suatu daerah yang dia kunjungi.[5]

Dari macam-macam metode yang sudah disebutkan, ada metode yang dilakukan di Majelis Dzikir Syifaul Qulub Benowo, yakni menggunakan metode ceramah yang biasa dugunakan oleh kebanyakan da’i. Metode ini cukup berpotensi mengajak dan menyeru umat yang sesuai dengan penjelasan ayat-ayat suci Al Quran. Dengan bumbu-bumbu lelucon, banyolan, serta cerita-cerita lucu lainnya dapat menarik peminat hati mad’u agar tidak jenuh, bosen ataupun mengantuk saat ceramah berlangsung.

Ceramah rutin yang diselenggarakan tidak hanya diakukan pengajian saja, tapi ada beberapa serangkaian kegiatan yang diadakan sebulan sekali tersebut. Yang pertama sholat Isya berjamaah yang dilakukan di pondok majelis dzikir Syifaul Qulub, kemudian di susul dengan sholat witir, sholat tasbih, kemudian dilanjutkan sholat tobat. Serangkaian acara dilakukan secara berjamaah. Ceramah dan yang terakhir makan bersama.

  1. PENGARUH  PESAN DAKWAH

Pemaparan yang sudah dijelaskan dalam Alquran bahwa kita sebagai umat islam wajib menjalankan seruan  dakwah. Penyebaran Islam yang ada di Indonesia melalui Wali Songo, dapat kita lihat adanya kekuatan yang dibawa oleh para wali. Tak lain adanya peran dakwah yang sangat memberikan pengaruh yang besar. Yang mampu menyebar luasakan islam sampai ke pelosok nusantara. Dakwah yang dilakukan tidak hanya dipojokkan pada setiap sudut masjid, diatas mimbar, pengajian rutin, walimahan, hari-hari besar Islam, atau peringatan lainnya. Tetapi dakwah lebih optimal jika dilakukan dimanapun, kapanpun kita berada senantiasa menjalankan dakwah. Dan menjadikan dakwah sebagai poros hidup setiap kaum muslimin.

Menurut historis dakwah Rosulullah yang di tengah-tengah kering teknologi transportasi dan komunikasi sanggup mengubah masyarakat secara revolusioner. Hal ini dapat dijadikan contoh atau rujukan bahwa dakwah dapat merubah dunia. Secara umum definisi dakwah yang dikemukakan para ahli menujuk pada kegiatan yang bertujuan kepada perubahan positif dalam diri manusia. Perubahan positif ini diwujudkan dengan peningkatan iman, meningat sasaran dakwah adalah iman.

Pesan-pesan dakwah yang biasa disampaikan oleh para da’I bisa diakatankan berhasil jika pesan yang disampaikan bisa merubah sikap, pola berfikir, dan perilaku mad’u dalam menjalankan aktivitas dalam kehidupan. Menjadikan islam sebagai tolok ukur sebelum melakukan sesuatu. Mempunyai keinginan untuk merubah diri dari pemikiran jahliyah kepada fikrul mustanir dengan pemahaman aqidah. Karena itu dapat berpengaruh dalam kehidupan dengan penerapan perilaku sesuai dengan aqidah islamiyah.

Dan perubahan yang dialami oleh masyarakat Benowo setelah mendapatkan kajian rutin yang diselenggarakan oleh majelis dzikir Syifaul Qulub cukup baik. sudah ada bapak-bapak yang tadinya malas untuk pergi sholat berjamaah sekarang rutin bahkan juga sudah mengikuti acara pengajian yang diselenggarakan oleh majelis dzikir Syifaul Qulub.

Tahap-tahap berubahnya perilaku manusia setelah menerima pesan-pesan dakwah ada tiga tahapan yakni,

a)      Akal yang berupa keyakinan tantang suatu tindakan

b)      Hati berupa suara atau bisikan yang menyenakan

c)      Hawa Nafsu yang diwujudkanoleh anggota tubuh dalam bentuk tindakan nyata.[6]

Kesimpulan tersebut  terdapat dalam firman Allah dalam Al Quran surat al-An’aam ayat 113, yang berbunyi :

#ÓxöóÁtGÏ9ur ÏmøŠs9Î) äoy‰Ï«øùr& tûïÏ%©!$# Ÿw šcqãZÏB÷sムÍotÅzFy$$Î/ çnöq|Ê÷ŽzÏ9ur (#qèùΎtIø)u‹Ï9ur $tB Nèd šcqèùΎtIø)•B ÇÊÊÌÈ

113. dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (syaitan) kerjakan.

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Dakwah secara eimologi adalah mengajak, menyeru, memanggil yang di jelaskan dalam ayat Al Quran yang diserukan untuk menyeru kebaikan kepada orang-oran disekitar kita. Begitu pula dakwah yang dilakukan di Benowo Jl. Santren guna untuk pembangunan umat di sekitar yang memang merupakan daerah rawan maksiat. Dengan metode yang dilakukan yakni metode ceramah Majelis Dzikir Syifaul Qulub dengan rutin menjalankan tugas mulia ini demi pembimbingan umat serta penataan umat agar lebih berperilaku bijak, sesuai syariah yang di ajarkan dan dapat istiqomah untuk menjalankannya. Kegiatan ini cukup menjadikan pengaruh positif untuk memperbaiki akhlak para warga sekitar.

Sumber-sumber yang digunakan untuk bersakwah diantaranya menggunakan Al Quran dan Hadist, serta ijma sahabat, ijma ulama, penelitian ilmiah, berita peristiwa, kisah dan pengalaman teladan, karya sastra, dan karya seni.  Tema yang dibawakan pun beragam, yakni meliputi aqidah islam, syariat, akhlakul kharimah, ukhuwah, pendidikan, social, budaya, dll. Ada beberapa metode yang dilakukan saat berdakwah, diantaranya metode ceramah, Tanya jawab, diskusi, propaganda, drama, keteladanan, dan silaturahmi.

Pesan-pesan dakwah yang biasa disampaikan oleh para da’I bisa diakatankan berhasil jika pesan yang disampaikan bisa merubah sikap, pola berfikir, dan perilaku mad’u dalam menjalankan aktivitas dalam kehidupan. Menjadikan islam sebagai tolok ukur sebelum melakukan sesuatu. Mempunyai keinginan untuk merubah diri dari pemikiran jahliyah kepada fikrul mustanir dengan pemahaman aqidah. Karena itu dapat berpengaruh dalam kehidupan dengan penerapan perilaku sesuai dengan aqidah islamiyah.

DAFTAR PUSTAKA

Aziz, Ali. Ilmu Dakwah Edisi Revisi. Jakarta: Kencana, 2006.

Shihab, Qurais. Membumikan Al Quran. Bandung: penertiban Mizan, 1993

Munir, Samsul. Ilmu Dakwah. Jakarta: Amzah, 2009


[1] Prof Ali Aziz, Ilmu Dakwah, Jakarta : Kencana, 2009, hal 318

[2] Ibid hal. 319

[3] Dr. M. Quraish Shihab, Membumikan Al Quran, hlm. 200

[4] Drs. Samsul Munir, MA, Ilmu Dakwah, Jakarta: Amzah 2009. Hal. 98

[5] Ibid hal.101-105

[6] Prof. dr. Moh Ali Aziz, Ilmu Dakwah, hal. 454

BERDAKWAH

Disusun Oleh

Hj.Choiri Sri Wulandari    B31210048

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Seorang da’i harus mempertajam lidahnya dengan banyak latihan, meminta bimbingan, pengawasan, dan pengujian serta menghafal sejumlah kata-kata hikmah atau petikan-petikan pepatah.

Ketajaman dan ketangkasan lidah seorang da’i dapat menyelamatkan dalam situasi-situasi kritis dan menolongnya dalam keadaan terdesak. Dengan lidah  yang terasa, seorang da’i tampil diatas podium dihadapan ribuan khalayak yang menyaksikannya laksana singa.

  1. Rumusan Masalah
    1. Menulis teks pidato “isro’ mi’roj”
    2. Menulis teks pidato” hari raya Idul Fitri”
    3. Menulis teks pidato “Maulid Nabi”
    4. Menulis teks pidato “hari raya Idul adha”

BAB II

PEMBAHASAN

Peringatan Isro’ Mi’roj

 

Kita semua pada saat ini telah berada di bulan Rajab, dimana pada bulan Rajab, dimana pada bulan Rajab ini ada satu peristiwa yang tidak boleh dilupakan oleh setiap umat manusia, utamanya adalah umat islam itu sendiri, karena pada bulan Rajab itu terjadilah peristiwa besar yang pernah dijalankanoleh Rasullullah pada abad-abad yang silam yaitu Isro’ Mi’raj, atas kehendak Allah SWT. Menurut arti bahasa Isro’ itu berarti perjalanan dimalam hari. Suatu pendapat mengatakan bahwasannya suatu da’i dalam pengembangan berdakwahnya harusnya banyak memiliki pengalaman dan latihan, seperti contohnya dalam penyampaian dakwah ini.[1]Akan tetapi secara syari’iyah Isro’ adalah perjalanan malam hari hari yang dilakukan oleh Rasullullah SAW dari Masjidil Haram menuju ke Baitul Maqdis yang penuh mengandung rahasia dan keajaiban. Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam Al-Qur’an surat al-Isro’ ayat 1:

Artinya : “ Maha suci Allah yang telah memperjalankan hambaNya pada malam hari, dari masjidil haram sampai masjidil aqso, yang kami berkati disekitarnya, supaya Kami perlihatkan tanda-tanda kebesaran Kami kepadanya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat”.

Sedangkan Mi’raj menurut arti bahasa yaitu jenjang naik. Akan tetapi yang dimaksud ialah naiknya Rasullullah SAW dari Masjidil Aqso di Baitul Maqdis, dengan menempuh angkasa luar, sehingga akhirnya sampai ke suatu tempat yang paling tinggi bernama Sidratul Muntaha, suatu tempat yang tidak mungkin dicapai oleh manusia dengan kemajuan tehnologi yang bagaimana pun canggihnya kecuali oleh nabi Muhammad SAW. Disitulah Rasullullah SAW menerima langsung dari Allah SWT tentang shalat 5 waktu yang harus dikerjakan olehnya dan seluruh umatnya.

Tujuan pokok dari Isro’ Mi’raj adalah dalam rangka member kekuatan batin bagi nabi Muhammad terhadap musibah atau cobaan serta siksaan yang datangnya dari para musuh-musuh islam sejak sepeninggalan Abu Thalib, Abdul Muthalib dan istri tersayangnya Sitii Khadijah, dalam memperjuangkan cita-cita luhur, mengajak seluruh umat manusia untuk beriman kepada Allah SWT didalam naungan islam.

Dengan memperhatikan peristiwa-peristiwa diatas maka dapat kita ambil hikmahnya yaitu kita mempertebal dan memperkuat keimanan serta ketaqwaan kepada Allah dan kepada Nabi Muhammad. Disamping itu kita harus menjalankan perintah Allah yaitu shalat 5 waktu.

 

Hari Raya Idul Fitri

 

Allahuakbar… Allahuakbar… Allahuakbar Walillahilhamdu. Hari yang ditunggu- tunggu oleh seluruh umat manusia adalah hari kemenangan yang gilang-gemilang, kemenangan dari pertempuran melawan hawa nafsu. Hawa nafsu yang senantiasa merongrong dan menghambat kita dalam melaksanakan ibadah kepada Allah yanag Maha Kuasa

Puasa sebulan Ramadhan yang baru kita saja kita lakukan bersama-sama, antara lain berfungsi untuk mengendalikan dan menjinakkan hawa nafsu. Dengan mengendalikan hawa nafsu, derajat manusia akan meningkat, jiwanya akan suci. Sebaliknya dengan menuruti hawa nafsu, hubungan antara manusia dengan Tuhannya akan menjadi retak.

Suatu ilmu pengetahuan dakwah sesuai dengan penjelasan memahami semangat zaman dikatakan dakwah itu harus dengan ketelitian, keramahan, dengan menujukkan sifat yang baik, bukan karena paksaan, melainkan dari hati sendiri.[2] Dari semua jenis berdakwah ini hanya butuh keberanian.

Itulah dahsyatnya bujuk rayu hawa nafsu, tepat apa yang dikatakan oleh penyair yang dikutib oleh sayid abdullah al-hadad yang artinya:

“ ketahuilah nafsu olehmu. Jangan kamu anggap enteng bahayanya. Karena nafsu itu lebih buruk daripada tujuh puluh setan. Karena begitu hawa nafsu yang berada pada diri kita harus kita kendalikan, harus kita jinakkan, dan harus kita kuasai.”

Sebulan lamanya kita telah berlatih dan berusaha untuk mengendalikan hawa nafsu kita. Akhir dari latihan itu. Lantaran hawa nafsulah  dunia ini selalu ribut dan kacau. Karena hawa nafsu, perang saudara dapat berkobar. Karena hawa nafsu ketaatan anak terhadap orangtua nya menjadi hilang. Karena hawa nafsu,akwan menjadi lawan. Hawa nafsu kita, tidak boleh boleh kita lepaskan selepas-lepasny, juga tidak boleh kita hilangkan, akan tetapi hawa nafsu itu harus kita kuasai dan kita pimpin dengan hidayah agama. Hari ini ditandai dengan pesta yang hikmah penuh kekeluargaan. Allah telah mewajibkan kiata untuk untuk makan minum pada hari ini. Hari raya Idul Fitri ini merupakan hari perpisahan dengan bulan ramadhan, sekaligus hari dimulainya kita merealisasikan hikmah/ajaran yang terkandung didalam bulan suci ramadhan.

Manusia sebagai makhluk yang mulai, disamping diberi akal oleh Allah SWT, juga diberi nafsu. Akal dengan nafsu setiap saat senantiasa bertarung. Jika dalam pertarungan itu dapat mengalahkan nafsunya, maka orang yang demikian itu dipandang lebih baik daripada malaikat, namun sebaliknya jika akalnya dapat dikalahkan oleh nafsunya maka orang yang demikian itu dipandang lebih buruk daripada binatang.

Oleh karena itu dalam rangka ber-Idul Fitri ini, marilah kita berusaha semaksimal mungkin melaksanakan perintah-perintah Allah dan berusaha pula menjauhi segala laranganNya serta senantiasa berkomunikasi dengan sesama manusia dengan sebaik- baiknya. Sesuai dengan Rasullullah yang artinya :

“ Bertaqwalah kepada Allah dimana saja kamu berada, ikutilah keburukan dengan kebaikan, niscaya itu akan menghapuskan keburukan dengan kebaikan, niscaya itu akan menghapuskan keburukan dan bergaullah dengan manusia dengan budi pekerti yang  baik.”[3]

Hari Raya Idul Adha

Idul adha dinamakan juga Idul Kurban karena sejak fajar menyingsing dipagi hari ini sampai terbenam matahari pada tanggal 13 dzulhijah nanti atau yang disebut hari tasyriq selama empat hari berturut-turut kita telah berada dalam suasana Idul Adha. Hari raya besar dalam islam, hari raya yang membayangkan betapa besar dan agungnya jiwa umat islam yang telah bertakwa kepada Allah SWT.

Dari sejarah kita temui peristiwa penting yang berkenaan dengan Idul Adha, yaitu nabi Ibrahim as telah memberikan pengorbanan yang besar dan mengagumkan dengan penyembelihan putranya Nabi Ismail, demi pengabdiann yang  besar kepada Allah SWT. Allah membalas pengorbanan itu dengan menukar ismail dengan seekor kambing.

çm»oY÷ƒy‰sùur ?xö/ɋÎ/ 5OŠÏàtã ÇÊÉÐÈ

Artinya: “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”

 Pengorbanan yang besar yang diberikan oleh Nabi ibrahim a.s itu telah dianjurkan untuk dilaksanakan pula oleh kaum muslim, sebagai tanda dari keikhalasan dan kesediaannya untuk memberikan pengorbanan dan pengabdiannya kepada Allah SWT. Dengan menyembelih hewan seperti kambing atau sapi yang dagingnya dibagi-bagikan kepada fakir dan miskin yang berada disekitar kita.

Penyembelihan hewan yang lazimnya disebut kurban itu, merupakan ukuran bagi setiap muslim sampai berapa besar kesediannnya untuk berkurbna demi pengabdiannya kepada Allah SWT.

Sudah diijelaskan bahwasannya semua berawal dari ilmu dan agama. Dalam hal seperti ini sudah termasuk kedalam hal berusaha untuk menunjukkan bahwa dirinya telah berdakwah yang benar dan mengajak semua pendengar untuk mengikuti.[4]

Pengabdian dan pengorbanan merupakan pendidikan bagi umat islam untuk memperkuat jiwa sosial dan kedermawanan, serta membiasakan umat islam untuk mengorbankan segala sesuatu yang dimilikinya bagi keselamatan dan kebahagiaan umat bersama, serta bagi kemajuan masyarakat bangsa dan negara khususnya bagi kejayaan islam dan kaum muslim.

Sungguh banyak sekali hikmah dan rohani yang dapat kita petik dari ajaran dan pelaksanaan kurban ini. Karena itu adalah tugas kita untuk contoh dan mengambil teladan dari gerak dan langkah serta sikap nabi ibrahim dalam mewujudkan dan mempertahankan keyakinan kepada Allah. Semua orang tahu bahwa disini nabi Ibrahim, siti hajar dan ismaill telah melalui peristiwa besar.

Untuk mewujudkan pembangunan bangsa dan mensejahterakan umat, serta tegaknya syariat islam ini amat diperlukan remaja yang berhiwa besar dan berakhlak mulia. Kita masih memerlukan para remaja yang ikhlas dan berani berkorban untuk mencapai cita-cita luhur, karena hanya ditangan remajalah terletak kejayaan umat dan bangsa.

Dalam melaksanakan shalat idul adha ini kenangan kita terbang ketanah suci. Disanalah seluruh kaum islam yang berkesempatan menunaikan rukun islam kelima yaitu ibadah haji. Hari ini sedang melaksanakan ibadah haji di Mina, sesudah berwukuf dipadang arafah kemarin tanggal dzulhijah. Ibadah haji selain mengandung pahala yang besar,juga mengandung hikmah-hikmah yang amat penting, antara lain:

-          supaya umat islam bersatu

-          supaya umat hidup berjamaah dan bermasyarakat

-          supaya umat islam bersaudara, kasih mengasihi, hormat menghormati

v   Maulid Nabi Muhammad SAW

Bulan rabiul awal adalah suatu bulan yang sangat bersejarah di dalam kehidupan manusia karena pada bulan ini tepatnya pada tanggal 12 robiul awal tahun gajah telah dilahirkan seorang pemimpin umat manusia yang merupakan rahmat bagi seluruh alam semesta. Beliau itu adalah junjungan kita nabi besar Muhammad SAW, yang telah menyelamatkan kita dari kekafiran, kedzaliman, kesewenang-wenangan, dan perilaku jahiliyah lainnya. Melalui beliau Allah menunjukkan manusia menuju alam yang penuh dengan cahaya keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

Berdakwah dibedakan menjadi beberapa macam,[5] seperti contohnya terdapat banyak unsur perbandingan. Yaitu subjek dakwah yang meliputi Da’i, mubaligoh, ustadz.

Oleh sebab itu ada baiknya jika pada bulan Rabbiul Awwal itu kita jatuhkan sebagai sarana dan media untuk mengumpulkan kaum muslimin di masjid-masjid, majelis ta’lim dan tempat-tempat lainnya dengan beberapa tujuan diantaranya:

    1. Untuk menanamkan, memupuk, dan menambah rasa mahabbah (kecintaan) kita kepada Rasulullah SAW. Tujuan tersebut dikarenakan Rasullullah adalah penyampai risalah dari Allah.
    2. Untuk mengungkap kembali sejarah kehidupan Rasullullah SAW. Kemudian untuk diteladani.

Dengan peringatan kelahiran Rasullullah SAW, ini kita dapat mengungkap kembali sebagian dari kehidupan Rasullullah, dan jihad perjuangannya di dalam menegakkan agama islam. Dalam menyambut dan memperingati maulid nabi Muhammad SAW, dapat kita simpulkan bahwa keteladanan Rasul harus dicontoh. Sesuai dengan firman Allah yang artinya sesungguhnya telah ada pada Rasullullah teladan yang baik bagimu, ialah bagi orang yang mengharapkan rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut akan Allah. Dengan kelahiran Beliau, kita umat  manusia seluruh dunia mandapat rahmat yang tidak terhingga, yakni berupa cahaya hidayah yang dapat menembus kegelapan jahiliyah. Allah berfirman:

!$tBur š»oYù=y™ö‘r& žwÎ) ZptHôqy‘ šúüÏJn=»yèù=Ïj9 ÇÊÉÐÈ

            Artinya: “ Dan tidaklah Kami mengutus engkau wahai Muhammad, melainkan menjadi rahmat bagi semesta alam”. (QS.Al-Anbiya’:107)

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Ibadah haji selain mengandung pahala yang besar,juga mengandung hikmah-hikmah yang amat epnting, antara lain:

-          supaya umat islam bersatu

-          supaya umat hidup berjamaah dan bermasyarakat

-          supaya umat islam bersaudara, kasih mengasihi, hormat menghormati

Seorang da’i harus mempertajam lidahnya dengan banyak latihan, meminta bimbingan, pengawasan, dan pengujian serta menghafal sejumlah kata-kata hikmah atau petikan-petikan pepatah.

Tujuan pokok dari Isro’ Mi’raj adalah dalam rangka member kekuatan batin bagi nabi Muhammad terhadap musibah atau cobaan serta siksaan yang datangnya dari para musuh-musuh islam sejak sepeninggalan Abu Thalib, Abdul Muthalib dan istri tersayangnya Sitii Khadijah.

DAFTAR PUSTAKA

 

Mahmud Halim Abdul Ali (2006) Membentuk Pribadi Muslim; PT. Pelangi Aksara Yogyakarta

Qarni Al Aidh Dr (2005) Memahami Semangat Zaman;PT.Pelangi Aksara Yogyakarta

Bagir Abidin Zainal (2005) Integrasi Ilmu dan Agama;Pustaka Pesantren Yogyakarta

Aziz Ali Moh ( 2005 ) Paradigma Aksi Metodologi;Pustaka Pesantren Yogyakarta


[1] Mahmud Halim Abdul Ali,membentuk Pribadi Muslim hal 137

[2] Dr Aidh Al Qarni, memahami semangat zaman hal 128

[3] Kitab “Dalilul Falihin” jilid 1, halaman 227

[4]  Zainal Abidin Baqir, Integrasi Ilmu dan Agama hal 97

[5] Moh.Ali Aziz, Paradigma Aksi Metodologi hal 19

BERDAKWAH

 Disusun Oleh

ABDUR ROZAK NAUFAL             B71210057

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Seorang da’i harus mempertajam lidahnya dengan banyak latihan, meminta bimbingan, pengawasan, dan pengujian serta menghafal sejumlah kata-kata hikmah atau petikan-petikan pepatah.

Ketajaman dan ketangkasan lidah seorang da’i dapat menyelamatkan dalam situasi-situasi kritis dan menolongnya dalam keadaan terdesak. Dengan lidah  yang terasa, seorang da’i tampil diatas podium dihadapan ribuan khalayak yang menyaksikannya laksana singa.

  1. Rumusan Masalah
    1. Menulis teks pidato “peringatan hari besar islam”
    2. Menulis teks pidato “kajian rutin”
    3. Menulis teks pidato “khutbah jumat”
    4. Menulis teks pidato “walimatul hajj”

BAB II

PEMBAHASAN

  • PERINGATAN HARI BESAR ISLAM

 

IEDUL FITRI

 Allahuakbar… Allahuakbar… Allahuakbar Walillahilhamdu. Hari yang ditunggu- tunggu oleh seluruh umat manusia adalah hari kemenangan yang gilang-gemilang, kemenangan dari pertempuran melawan hawa nafsu. Hawa nafsu yang senantiasa merongrong dan menghambat kita dalam melaksanakan ibadah kepada Allah yanag Maha Kuasa

Puasa sebulan Ramadhan yang baru kita saja kita lakukan bersama-sama, antara lain berfungsi untuk mengendalikan dan menjinakkan hawa nafsu. Dengan mengendalikan hawa nafsu, derajat manusia akan meningkat, jiwanya akan suci. Sebaliknya dengan menuruti hawa nafsu, hubungan antara manusia dengan Tuhannya akan menjadi retak.

Suatu ilmu pengetahuan dakwah sesuai dengan penjelasan memahami semangat zaman dikatakan dakwah itu harus dengan ketelitian, keramahan, dengan menujukkan sifat yang baik, bukan karena paksaan, melainkan dari hati sendiri. Dari semua jenis berdakwah ini hanya butuh keberanian.

Itulah dahsyatnya bujuk rayu hawa nafsu, tepat apa yang dikatakan oleh penyair yang dikutib oleh sayid abdullah al-hadad yang artinya:

“ ketahuilah nafsu olehmu. Jangan kamu anggap enteng bahayanya. Karena nafsu itu lebih buruk daripada tujuh puluh setan. Karena begitu hawa nafsu yang berada pada diri kita harus kita kendalikan, harus kita jinakkan, dan harus kita kuasai.”

Sebulan lamanya kita telah berlatih dan berusaha untuk mengendalikan hawa nafsu kita. Akhir dari latihan itu. Lantaran hawa nafsulah  dunia ini selalu ribut dan kacau. Karena hawa nafsu, perang saudara dapat berkobar. Karena hawa nafsu ketaatan anak terhadap orangtua nya menjadi hilang. Karena hawa nafsu,akwan menjadi lawan. Hawa nafsu kita, tidak boleh boleh kita lepaskan selepas-lepasny, juga tidak boleh kita hilangkan, akan tetapi hawa nafsu itu harus kita kuasai dan kita pimpin dengan hidayah agama. Hari ini ditandai dengan pesta yang hikmah penuh kekeluargaan. Allah telah mewajibkan kiata untuk untuk makan minum pada hari ini. Hari raya Idul Fitri ini merupakan hari perpisahan dengan bulan ramadhan, sekaligus hari dimulainya kita merealisasikan hikmah/ajaran yang terkandung didalam bulan suci ramadhan.

Manusia sebagai makhluk yang mulai, disamping diberi akal oleh Allah SWT, juga diberi nafsu. Akal dengan nafsu setiap saat senantiasa bertarung. Jika dalam pertarungan itu dapat mengalahkan nafsunya, maka orang yang demikian itu dipandang lebih baik daripada malaikat, namun sebaliknya jika akalnya dapat dikalahkan oleh nafsunya maka orang yang demikian itu dipandang lebih buruk daripada binatang.

Oleh karena itu dalam rangka ber-Idul Fitri ini, marilah kita berusaha semaksimal mungkin melaksanakan perintah-perintah Allah dan berusaha pula menjauhi segala laranganNya serta senantiasa berkomunikasi dengan sesama manusia dengan sebaik- baiknya. Sesuai dengan Rasullullah yang artinya :

“ Bertaqwalah kepada Allah dimana saja kamu berada, ikutilah keburukan dengan kebaikan, niscaya itu akan menghapuskan keburukan dengan kebaikan, niscaya itu akan menghapuskan keburukan dan bergaullah dengan manusia dengan budi pekerti yang  baik.”[1]

  • Kajian Rutin

 

Peringatan Isro’ Mi’roj

 

Kita semua pada saat ini telah berada di bulan Rajab, dimana pada bulan Rajab, dimana pada bulan Rajab ini ada satu peristiwa yang tidak boleh dilupakan oleh setiap umat manusia, utamanya adalah umat islam itu sendiri, karena pada bulan Rajab itu terjadilah peristiwa besar yang pernah dijalankanoleh Rasullullah pada abad-abad yang silam yaitu Isro’ Mi’raj, atas kehendak Allah SWT. Menurut arti bahasa Isro’ itu berarti perjalanan dimalam hari. Suatu pendapat mengatakan bahwasannya suatu da’i dalam pengembangan berdakwahnya harusnya banyak memiliki pengalaman dan latihan, seperti contohnya dalam penyampaian dakwah ini. Akan tetapi secara syari’iyah Isro’ adalah perjalanan malam hari hari yang dilakukan oleh Rasullullah SAW dari Masjidil Haram menuju ke Baitul Maqdis yang penuh mengandung rahasia dan keajaiban. Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam Al-Qur’an surat al-Isro’ ayat 1:

Artinya : “ Maha suci Allah yang telah memperjalankan hambaNya pada malam hari, dari masjidil haram sampai masjidil aqso, yang kami berkati disekitarnya, supaya Kami perlihatkan tanda-tanda kebesaran Kami kepadanya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat”.

Sedangkan Mi’raj menurut arti bahasa yaitu jenjang naik. Akan tetapi yang dimaksud ialah naiknya Rasullullah SAW dari Masjidil Aqso di Baitul Maqdis, dengan menempuh angkasa luar, sehingga akhirnya sampai ke suatu tempat yang paling tinggi bernama Sidratul Muntaha, suatu tempat yang tidak mungkin dicapai oleh manusia dengan kemajuan tehnologi yang bagaimana pun canggihnya kecuali oleh nabi Muhammad SAW. Disitulah Rasullullah SAW menerima langsung dari Allah SWT tentang shalat 5 waktu yang harus dikerjakan olehnya dan seluruh umatnya.

Tujuan pokok dari Isro’ Mi’raj adalah dalam rangka member kekuatan batin bagi nabi Muhammad terhadap musibah atau cobaan serta siksaan yang datangnya dari para musuh-musuh islam sejak sepeninggalan Abu Thalib, Abdul Muthalib dan istri tersayangnya Sitii Khadijah, dalam memperjuangkan cita-cita luhur, mengajak seluruh umat manusia untuk beriman kepada Allah SWT didalam naungan islam.

Dengan memperhatikan peristiwa-peristiwa diatas maka dapat kita ambil hikmahnya yaitu kita mempertebal dan memperkuat keimanan serta ketaqwaan kepada Allah dan kepada Nabi Muhammad. Disamping itu kita harus menjalankan perintah Allah yaitu shalat 5 waktu.[2]

 

 

  • Khutbah jumat

Sudah Terujikah Iman Kita

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. أَمَّابَعْدُ؛

فَإِنْ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Hadirin jamaah Jum’at yang berbahagia!

Pada kesempatan Jum’at ini, marilah kita merenungkan salah satu firman Allah dalam surat Al-‘Ankabut ayat 2 dan 3:

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.

Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa salah satu konsekuensi pernyataan iman kita, adalah kita harus siap menghadapi ujian yang diberikan Allah Subhannahu wa Ta’ala kepada kita, untuk membuktikan sejauh mana kebenaran dan kesungguhan kita dalam menyatakan iman, apakah iman kita itu betul-betul bersumber dari keyakinan dan kemantapan hati, atau sekedar ikut-ikutan serta tidak tahu arah dan tujuan, atau pernyataan iman kita didorong oleh kepentingan sesaat, ingin mendapatkan kemenangan dan tidak mau menghadapi kesulitan seperti yang digambarkan Allah Subhannahu wa Ta’ala dalam surat Al-Ankabut ayat 10:

   Dan di antara manusia ada orang yang berkata: “Kami beriman kepada Allah”, maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah. Dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: “Sesungguh-nya kami adalah besertamu.” Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia”?

Hadirin jamaah Jum’at yang berbahagia!

Bila kita sudah menyatakan iman dan kita mengharapkan manisnya buah iman yang kita miliki yaitu Surga sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah Subhannahu wa Ta’ala :

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka adalah Surga Firdaus menjadi tempat tinggal. (Al-Kahfi 107).

Maka marilah kita bersiap-siap untuk menghadapi ujian berat yang akan diberikan Allah kepada kita, dan bersabarlah kala ujian itu datang kepada kita. Allah memberikan sindiran kepada kita, yang ingin masuk Surga tanpa melewati ujian yang berat.

Apakah kalian mengira akan masuk Surga sedangkan belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa malapetaka dan keseng-saraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersama-nya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguh-nya pertolongan Allah itu amat dekat”. (Al-Baqarah 214).

Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam mengisahkan betapa beratnya perjuangan orang-orang dulu dalam perjuangan mereka mempertahankan iman mereka, sebagaimana dituturkan kepada shahabat Khabbab Ibnul Arats Radhiallaahu anhu.

لَقَدْ كَانَ مَنْ قَبْلَكُمْ لَيُمْشَطُ بِمِشَاطِ الْحَدِيْدِ مَا دُوْنَ عِظَامِهِ مِنْ لَحْمٍ أَوْ عَصَبٍ مَا يَصْرِفُهُ ذَلِكَ عَنْ دِيْنِهِ وَيُوْضَعُ الْمِنْشَارُ عَلَى مِفْرَقِ رَأْسِهِ فَيَشُقُّ بِاثْنَيْنِ مَا يَصْرِفُهُ ذَلِكَ عَنْ دِيْنِهِ. (رواه البخاري).

… Sungguh telah terjadi kepada orang-orang sebelum kalian, ada yang di sisir dengan sisir besi (sehingga) terkelupas daging dari tulang-tulangnya, akan tetapi itu tidak memalingkannya dari agamanya, dan ada pula yang diletakkan di atas kepalanya gergaji sampai terbelah dua, namun itu tidak memalingkannya dari agamanya… (HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari dengan Fathul Bari, cet. Dar Ar-Royyan, Juz 7 hal. 202).

Cobalah kita renungkan, apa yang telah kita lakukan untuk membuktikan keimanan kita? cobaan apa yang telah kita alami dalam mempertahankan iman kita? Apa yang telah kita korbankan untuk memperjuangkan aqidah dan iman kita? Bila kita memper-hatikan perjuangan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam dan orang-orang terdahulu dalam mempertahankan iman mereka, dan betapa pengorbanan mereka dalam memperjuangkan iman mereka, mereka rela mengorbankan harta mereka, tenaga mereka, pikiran mereka, bahkan nyawapun mereka korbankan untuk itu. Rasanya iman kita ini belum seberapanya atau bahkan tidak ada artinya bila dibandingkan dengan iman mereka. Apakah kita tidak malu meminta balasan yang besar dari Allah sementara pengorbanan kita sedikit pun belum ada?

Hadirin sidang Jum’at yang dimuliakan Allah!

Ujian yang diberikan oleh Allah kepada manusia adalah berbeda-beda.

Dan ujian dari Allah bermacam-macam bentuknya, setidak-nya ada empat macam ujian yang telah dialami oleh para pendahulu kita:

Yang pertama: Ujian yang berbentuk perintah untuk dilaksanakan, seperti perintah Allah kepada Nabi Ibrahim Alaihissalam untuk menyembelih putranya yang sangat ia cintai. Ini adalah satu perintah yang betul-betul berat dan mungkin tidak masuk akal, bagaimana seorang bapak harus menyembelih anaknya yang sangat dicintai, padahal anaknya itu tidak melakukan kesalahan apapun. Sungguh ini ujian yang sangat berat sehingga Allah sendiri mengatakan:

   Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. (Ash-Shaffat 106).

Dan di sini kita melihat bagaimana kualitas iman Nabi Ibrahim Alaihissalam yang benar-benar sudah tahan uji, sehingga dengan segala ketabahan dan kesabarannya perintah yang sangat berat itupun dijalankan.

Apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim Shallallaahu alaihi wa salam dan puteranya adalah pelajaran yang sangat berat itupun dijalankannya.

Apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan puteranya adalah pelajaran yang sangat berharga bagi kita, dan sangat perlu kita tauladani, karena sebagaimana kita rasakan dalam kehidupan kita, banyak sekali perintah Allah yang dianggap berat bagi kita, dan dengan berbagai alasan kita berusaha untuk tidak melaksanakannya. Sebagai contoh, Allah telah memerintahkan kepada para wanita Muslimah untuk mengenakan jilbab (pakaian yang menutup seluruh aurat) secara tegas untuk membedakan antara wanita Muslimah dan wanita musyrikah sebagaimana firmanNya:

   Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang Mumin” “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Ahzab, 59).

Namun kita lihat sekarang masih banyak wanita Muslimah di Indonesia khususnya tidak mau memakai jilbab dengan berbagai alasan, ada yang menganggap kampungan, tidak modis, atau beranggapan bahwa jilbab adalah bagian dari budaya bangsa Arab. Ini pertanda bahwa iman mereka belum lulus ujian. Padahal Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam memberikan ancaman kepada para wanita yang tidak mau memakai jilbab dalam sabdanya:

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا؛ قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُؤُوْسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيْحَهَا. (رواه مسلم).

   “Dua golongan dari ahli Neraka yang belum aku lihat, satu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi, yang dengan cambuk itu mereka memukul manusia, dan wanita yang memakai baju tetapi telanjang berlenggak-lenggok menarik perhatian, kepala-kepala mereka seperti punuk unta, mereka tidak akan masuk Surga dan tidak akan mencium wanginya”. (HR. Muslim, Shahih Muslim dengan Syarh An-Nawawi cet. Dar Ar-Rayyan, juz 14 hal. 109-110).

Yang kedua: Ujian yang berbentuk larangan untuk ditinggalkan seperti halnya yang terjadi pada Nabi Yusuf Alaihissalam yang diuji dengan seorang perempuan cantik, istri seorang pembesar di Mesir yang mengajaknya berzina, dan kesempatan itu sudah sangat terbuka, ketika keduanya sudah tinggal berdua di rumah dan si perempuan itu telah mengunci seluruh pintu rumah. Namun Nabi Yusuf Alaihissalam membuktikan kualitas imannya, ia berhasil meloloskan diri dari godaan perempuan itu, padahal sebagaimana pemuda umumnya ia mempunyai hasrat kepada wanita. Ini artinya ia telah lulus dari ujian atas imannya.

Sikap Nabi Yusuf Alaihissalam ini perlu kita ikuti, terutama oleh para pemuda Muslim di zaman sekarang, di saat pintu-pintu kemaksiatan terbuka lebar, pelacuran merebak di mana-mana, minuman keras dan obat-obat terlarang sudah merambah berbagai lapisan masyarakat, sampai-sampai anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar pun sudah ada yang kecanduan. Perzinahan sudah seakan menjadi barang biasa bagi para pemuda, sehingga tak heran bila menurut sebuah penelitian, bahwa di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya enam dari sepuluh remaja putri sudah tidak perawan lagi. Di antara akibatnya setiap tahun sekitar dua juta bayi dibunuh dengan cara aborsi, atau dibunuh beberapa saat setelah si bayi lahir. Keadaan seperti itu diperparah dengan semakin banyaknya media cetak yang berlomba-lomba memamerkan aurat wanita, juga media elektronik dengan acara-acara yang sengaja dirancang untuk membangkitkan gairah seksual para remaja. Pada saat seperti inilah sikap Nabi Yusuf Alaihissalam perlu ditanamkan dalam dada para pemuda Muslim. Para pemuda Muslim harus selalu siap siaga menghadapi godaan demi godaan yang akan menjerumuskan dirinya ke jurang kemaksiatan. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam telah menjanjikan kepada siapa saja yang menolak ajakan untuk berbuat maksiat, ia akan diberi perlindungan di hari Kiamat nanti sebagaimana sabdanya:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ … وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ … (متفق عليه).

   “Tujuh (orang yang akan dilindungi Allah dalam lindungan-Nya pada hari tidak ada perlindungan selain perlindunganNya, .. dan seorang laki-laki yang diajak oleh seorang perempuan terhormat dan cantik, lalu ia berkata aku takut kepada Allah…” (HR. Al-Bukhari Muslim, Shahih Al-Bukhari dengan Fathul Bari cet. Daar Ar-Rayyan, juz 3 hal. 344 dan Shahih Muslim dengan Syarh An-Nawawi cet. Dar Ar-Rayaan, juz 7 hal. 120-121).

Yang ketiga: Ujian yang berbentuk musibah seperti terkena penyakit, ditinggalkan orang yang dicintai dan sebagainya. Sebagai contoh, Nabi Ayyub Alaihissalam yang diuji oleh Allah dengan penyakit yang sangat buruk sehingga tidak ada sebesar lubang jarum pun dalam badannya yang selamat dari penyakit itu selain hatinya, seluruh hartanya telah habis tidak tersisa sedikitpun untuk biaya pengobatan penyakitnya dan untuk nafkah dirinya, seluruh kerabatnya meninggalkannya, tinggal ia dan isterinya yang setia menemaninya dan mencarikan nafkah untuknya. Musibah ini berjalan selama delapan belas tahun, sampai pada saat yang sangat sulit sekali baginya ia memelas sambil berdo’a kepada Allah:

   “Dan ingatlah akan hamba Kami Ayuub ketika ia menyeru Tuhan-nya;” Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan”. (Tafsir Ibnu Katsir, Juz 4 hal. 51).

Dan ketika itu Allah memerintahkan Nabi Ayyub Alaihissalam untuk menghantamkan kakinya ke tanah, kemudian keluarlah mata air dan Allah menyuruhnya untuk meminum dari air itu, maka hilanglah seluruh penyakit yang ada di bagian dalam dan luar tubuhnya. (Tafsir Ibnu Katsir, Juz 4 hal. 52). Begitulah ujian Allah kepada NabiNya, masa delapan belas tahun ditinggalkan oleh sanak saudara merupakan perjalanan hidup yang sangat berat, namun di sini Nabi Ayub Alaihissalam membuktikan ketangguhan imannya, tidak sedikitpun ia merasa menderita dan tidak terbetik pada dirinya untuk menanggalkan imannya. Iman seperti ini jelas tidak dimiliki oleh banyak saudara kita yang tega menjual iman dan menukar aqidahnya dengan sekantong beras dan sebungkus sarimi, karena tidak tahan menghadapi kesulitan hidup yang mungkin tidak seberapa bila dibandingkan dengan apa yang dialami oleh Nabi Ayyub Alaihissalam ini.

Sidang jamaah rahima kumullah

Yang keempat: Ujian lewat tangan orang-orang kafir dan orang-orang yang tidak menyenangi Islam. Apa yang dialami oleh Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa salam dan para sahabatnya terutama ketika masih berada di Mekkah kiranya cukup menjadi pelajaran bagi kita, betapa keimanan itu diuji dengan berbagai cobaan berat yang menuntut pengorbanan harta benda bahkan nyawa. Di antaranya apa yang dialami oleh Rasulullah n di akhir tahun ketujuh kenabian, ketika orang-orang Quraisy bersepakat untuk memutuskan hubungan apapun dengan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam beserta Bani Abdul Muththolib dan Bani Hasyim yang melindunginya, kecuali jika kedua suku itu bersedia menyerahkan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam untuk dibunuh. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam bersama orang-orang yang membelanya terkurung selama tiga tahun, mereka mengalami kelaparan dan penderitaan yang hebat. (DR. Akram Dhiya Al-‘Umari, As-Sirah An-Nabawiyyah Ash-Shahihah, Juz 1 hal. 182).

Juga apa yang dialami oleh para shahabat tidak kalah beratnya, seperti apa yang dialami oleh Yasir z dan istrinya Sumayyah dua orang pertama yang meninggal di jalan dakwah selama periode Mekkah. Juga Bilal Ibnu Rabah Radhiallaahu anhu yang dipaksa memakai baju besi kemudian dijemur di padang pasir di bawah sengatan matahari, kemudian diarak oleh anak-anak kecil mengelilingi kota Mekkah dan Bilal Radhiallaahu anhu hanya mengucapkan “Ahad, Ahad” (DR. Akram Dhiya Al-Umari, As-Siroh An-Nabawiyyah Ash-Shahihah, Juz 1 hal. 154-155).

Dan masih banyak kisah-kisah lain yang menunjukkan betapa pengorbanan dan penderitaan mereka dalam perjuangan mempertahankan iman mereka. Namun penderitaan itu tidak sedikit pun mengendorkan semangat Rasulullah dan para shahabatnya untuk terus berdakwah dan menyebarkan Islam.

Musibah yang dialami oleh saudara-saudara kita umat Islam di berbagai tempat sekarang akibat kedengkian orang-orang kafir, adalah ujian dari Allah kepada umat Islam di sana, sekaligus sebagai pelajaran berharga bagi umat Islam di daerah-daerah lain. Umat Islam di Indonesia khususnya sedang diuji sejauh mana ketahanan iman mereka menghadapi serangan orang-orang yang membenci Islam dan kaum Muslimin. Sungguh menyakitkan memang di satu negeri yang mayoritas penduduknya Muslim terjadi pembantaian terhadap kaum Muslimin, sekian ribu nyawa telah melayang, bukan karena mereka memberontak pemerintah atau menyerang pemeluk agama lain, tapi hanya karena mereka mengatakan: ( Laa ilaaha illallaahu ) لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ, tidak jauh berbeda dengan apa yang dikisahkan Allah dalam surat Al-Buruj ayat 4 sampai 8:

   “Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang Mukmin itu melainkan karena orang-orang Mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”.

Peristiwa seperti inipun mungkin akan terulang kembali selama dunia ini masih tegak, selama pertarungan haq dan bathil belum berakhir, sampai pada saat yang telah ditentukan oleh Allah.

Kita berdo’a mudah-mudahan saudara-saudara kita yang gugur dalam mempertahankan aqidah dan iman mereka, dicatat sebagai para syuhada di sisi Allah. Amin. Dan semoga umat Islam yang berada di daerah lain, bisa mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa, sehingga mereka tidak lengah menghadapi orang-orang kafir dan selalu berpegang teguh kepada ajaran Allah serta selalu siap sedia untuk berkorban dalam mempertahankan dan meninggikannya, karena dengan demikianlah pertolongan Allah akan datang kepada kita, firman Allah.

   “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (Muhammad: 7).

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ. وَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأََشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَقُوا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ.

Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah!

Sebagai orang-orang yang telah menyatakan iman, kita harus mempersiapkan diri untuk menerima ujian dari Allah, serta kita harus yaqin bahwa ujian dari Allah itu adalah satu tanda kecintaan Allah kepada kita, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam :

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا اِبْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ. (رواه الترمذي، وقال هذا حديث حسن غريب من هذا الوجه).

   “Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dengan besarnya cobaan (ujian), Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai satu kaum Ia akan menguji mereka, maka barangsiapa ridha baginyalah keridhaan Allah, dan barangsiapa marah baginyalah kemarahan Allah”. (HR. At-Tirmidzi, dan ia berkata hadits ini hasan gharib dari sanad ini, Sunan At-Timidzy cet. Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, juz 4 hal. 519).

Mudah-mudahan kita semua diberikan ketabahan dan kesabaran oleh Allah dalam menghadapi ujian yang akan diberikan olehNya kepada kita.  Amin.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ كُلِّ صَحَابَةِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ.

رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ.

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.

اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَصْلِحْ وُلاَةَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ وَوَفِّقْهُمْ لِلْعَمَلِ بِمَا فِيْهِ صَلاَحُ اْلإِسْلاَمِ وَالْمُسْلِمِيْنَ.

اَللَّهُمَ لاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لاَ يَخَافُكَ فِيْنَا وَلاَ يَرْحَمُنَا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

 وَأَقِمِ الصَّلاَةَ

  • Walimatul Hajj

Potret Haji Kita, Antara Cita-Cita Dan Fakta

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الْوَاسِعِ الْعَظِيْمِ الْبِرِّ الرَّحِيْمِ خَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ وَأَنْزَلَ الشَّرْعَ فَيَسَّرَهُ وَهُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ، بَدَأَ الْخَلْقَ وَأَنْهَاهُ وَيَسَّرَ الْفُلْكَ وَأَجْرَاهُ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ، الْقَائِلُ فِي الْكِتَابِ الْكَرِيْمِ: ( التوبة: 36) أَحْمَدُهُ عَلَى جَلاَلِ نُعُوْتِهِ وَكَمَالِ صِفَاتِهِ وَأَشْكُرُهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَسَوَابِغِ نِعْمَتِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ فِي أُلُوْهِيَّتِهِ وَرُبُوْبِيَّتِهِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الْمَبْعُوْثُ إِلَى جَمِيْعِ بَرِيَّتِهِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ فِيْ سُنَتِهِ. مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ اِتَّقُوا اللهَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ.

Jamaah  yang berbahagia
Marilah kita tingkatkan Iman dan taqwa kepada Allah karena hanya dengan taqwa kita akan mendapatkan ampunan, pertolongan dan surgaNya yang agung.
Kita sekarang berada pada bulan Dzul Qa’dah bulan kesebelas dari bulan Qamariyah, satu dari empat bulan yang disebut dengan bulan-bulan haram اشهر الحرم dan satu dari tiga bulan haji yang disebut dengan أشهر معلومات di sebut Dzul Qa’dah karena mereka:

يَقْعُدُوْنَ فِيْهِ عَنِ اْلأَسْفَارِ وَالْقِتَالُ اِسْتِعْدَادًا لإِحْرَامٍ بِالْحَجِّ.

“Mereka duduk (tinggal dirumah) tidak melakukan perjalanan maupun peperangan sebagai persiapan untuk melakukan ihram haji”.
Pada hari ini kita saksikan bersama persiapan dan pem-berangkatan para jemaah calon haji. Kita rasakan bersama betapa kebahagiaan telah menghiasi wajah mereka dan sejuta harapan telah tertanam dalam di lubuk hati mereka, manakala saudara-saudara kita tadi meninggalkan kampung halamannya terbang menuju kiblat umat Islam sedunia, memenuhi panggilan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tidak ada ibadah seagung ibadah haji, tidak ada sesuatu agama yang memiliki konsep ibadah seperti konsep haji Islam. Haji mengandung seribu makna, merangkum sejuta hikmah. Karena itu haji merupakan tiang kelima dari kelima pilar utama dalam Islam.
Di lihat dari sebutannya saja ibadah ini sudah unik. Betapa tidak Al-Allamah Abu Abdillah Muhammad bin Abdir Rohman Al-Bukhari Alhanafi Azzahid (546 H) menjelaskan. “Haji adalah bermaksud (berkeinginan dan bersengaja), sementara maksud dan niat, keduanya menghantarkan seseorang menuju cita-cita, niat adalah amal yang paling mulia karena ia adalah pekerjaan anggota yang paling utama yaitu hati, manakala ibadah ini adalah ibadah yang paling besar dan ketaatan yang paling berat maka disebut ibadah yang paling utama” yaitu Al-Haj yang berarti al-qashdu.

Tatkala seorang haji tiba di ka’bah, dan sebelumnya dia sudah mengetahui bahwa pemilik rumah (ka’bah) tidak berada di sana, maka dia berputar mengelilingi rumah : Thawaf mengisyaratkakn bahwa ka’bah bukanlah maksud dan tujuan. Tetapi tujuannya adalah pemilik rumah رب الكعبة..

Begitu pula mencium hajar aswad, bukan berarti dan bukan kerena menyembah batu, melainkan karena mengikuti sunnah rasul. Karena beliaulah yang mencontohkan kita untuk melakukan yang demikian. Inilah pembeda antara musyrik dan muslim. Dulu orang musyrik mencium batu karena untuk menyembah batu. Tetapi sekarang Muslim mencium batu untuk mengikuti sunnah rasul yang diantara hikmahnya adalah seperti apa yang dikatakan oleh Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu .

“Hajar Aswad adalah bagaikan tangan kanan Allah dimuka bumi ini. Maka barangsiapa yang menjabatnya (menyentuhnya) atau menciumnya maka seolah-olah ia menjabat (tangan) Allah dan mencium tangan kananNya.”
Karena itu ketika menyentuhnya seorang haji harus mengingat bahwa ia sedang berbai’at kepada Allah (pencipta dan pemilik batu yang telah memerintah untuk menyentuhnya). Berbai’at untuk selalu taat dan tunduk kepadaNya, dan harus ingat barang siapa yang menghianati bai’at maka ia berhak mendapatkan murka dan adzab Allah.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
Karena maksud kita bukan البيت tetapi رب البيت dan karena unsur niat begitu utama dan penting maka Allah brfirman:

وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ.

“Dan sempurnakanlah haji dan umrah itu karena Allah”
Karena itu pulalah para ulama menganjurkan bahwa kewajiban pertama bagi calon haji adalah bertaubat. Bertaubat dari semua dosa dan maksiat, baik calon haji itu seorang petani, pegawai, polisi, artis, dokter, mentri maupun seorang kiayi, laki-laki maupun perempuan , tua maupun muda.
Inilah yang disyaratkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firmanNya:

وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baiknya bekal adalah taqwa”(al-Baqarah; 197).
Tentu saja kita sudah maklum bahwa taqwa itu tidak bisa dicapai kecuali dengan bertaubat dan meninggalkan segala jenis perbuatan maksiat.
Kalau calon haji sudah bertaubat maka ia akan mampu memahami dan menjiwai syiar haji yang teramat indah itu yaitu.

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ.

Ia akan menghayati seolah-olah berucap: Ya Allah aku datang, akau datang, memenuhi panggilanMu, lalu aku berdiri di depan pintuMu. Aku singgah di sisiMu. Aku pegang erat kitabMu, aku junjung tinggi aturanMu, maka selamatkan aku dari adzabMu, kini aku siap menghamba kepadaMu, merendahkan diri dan berkiblat kepadaMu. BagiMu segala ciptaan, bagiMu segala aturan dan perundang-undangan, bagiMu segala hukum dan hukuman tidak ada sekutu bagiMu. Aku tidak peduli berpisah dengan anak dan istriku, meninggalkan profesi dan pekerjaan, menanggalkan segala atribut dan jabatan, karena tujuanku hanyalah wajah-Mu dan keridhaanMu bukan dunia yang fana dan bukan nafsu yang serakah maka amankan aku dari adzabMu.

Ma’asiral muslimin rahimakumullah.
Jika calon haji sudah bertaubat maka ia pasti akan mampu mencapai hakekat haji yang telah digariskan oleh Allah, dalam firman-Nya:
Barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan Haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. (Al-Baqarah: 197)

Seorang yang beribadah haji tidak boleh melakukan rofats yaitu jima dan segala ucapan dan perbuatan yang behubungan dengan seksual. Tidak boleh melakukan Fusuq yaitu segala bentuk maksiat dan tidak boleh melakukan jidal yaitu perdebatan yang mengikuti hawa nafsu, bukan untuk mencari kebenaran.

Maka barang siapa yang telah sukses memenuhi perintah Allah tersebut ia akan mendapatkan haji yang mabrur, yang diantara tandanya adalah sepulang haji ia tidak akan mengulang maksiat, dosa-dosa yang lalu, ia akan tampil sebagai muslim yang shalih dan muslimah yang shalihah.
Maka sebuah negara semakin banyak muslim dan muslimah yang taat, negara itu akan semakin aman makmur dan sentosa. Maksiat dan kemungkaran akan menepi, perjudian dan pencurian akan sepi, perzinaan dan pembunuhan akan mudah diatasi. Apalagi jika yang pergi haji adalah Bapak Bupati, para Mentri dan Pak Polisi.

Sepulang haji yang kikir akan menjadi dermawan, yang kasar akan menjadi pengantin dan yang biasanya menyebar kejahatan berubah menebar salam.
Itu semua manakala hajinya mabrur. Namun kenyataannya adalah bagaikan siang yang dihadapkan dengan malam, semuanya bertolak belakang, mereka tidak mengambil manfaat dari ibadah haji selain menambah gelar Pak Haji atau Bu Hajjah. Yang korup tetap korup, yang artis tetap artis, yang lintah darat tetap lintah darat, yang jahat tetap jahat.
Maka tidak heran jika Rofats, Fusuq dan Jidal marak dimana-mana sampai terjadi krisis moral, krisis nilai, krisis kemanusiaan, krisis politik, lingkungan, ekonomi dan sosial.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
Demikianlah sekelumit tentang makna haji, haji mabrur dan potret haji kita, semoga Allah menjadikan haji kita yang dahulu dan yang akan datang menjadi haji yang mabrur, dan semoga dijauhkan dari haji yang maghrur (tertipu) dan mabur.

 

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Ibadah haji selain mengandung pahala yang besar,juga mengandung hikmah-hikmah yang amat epnting, antara lain:

-          supaya umat islam bersatu

-          supaya umat hidup berjamaah dan bermasyarakat

-          supaya umat islam bersaudara, kasih mengasihi, hormat menghormati

Seorang da’i harus mempertajam lidahnya dengan banyak latihan, meminta bimbingan, pengawasan, dan pengujian serta menghafal sejumlah kata-kata hikmah atau petikan-petikan pepatah.

Tujuan pokok dari Isro’ Mi’raj adalah dalam rangka member kekuatan batin bagi nabi Muhammad terhadap musibah atau cobaan serta siksaan yang datangnya dari para musuh-musuh islam sejak sepeninggalan Abu Thalib, Abdul Muthalib dan istri tersayangnya Sitii Khadijah.

DAFTAR PUSTAKA

 

Mahmud Halim Abdul Ali (2006) Membentuk Pribadi Muslim; PT. Pelangi Aksara Yogyakarta

Qarni Al Aidh Dr (2005) Memahami Semangat Zaman;PT.Pelangi Aksara Yogyakarta

Bagir Abidin Zainal (2005) Integrasi Ilmu dan Agama;Pustaka Pesantren Yogyakarta

Aziz Ali Moh ( 2005 ) Paradigma Aksi Metodologi;Pustaka Pesantren Yogyakarta


[1] Kitab “Dalilul Falihin” jilid 1, halaman 227

[2] Mahmud Halim Abdul Ali,membentuk Pribadi Muslim hal 137

BERDAKWAH

 Disusun Oleh

Abdul Rahman Wahid G    B31210047


BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Ketajaman dan ketangkasan lidah seorang da’i dapat menyelamatkan dalam situasi-situasi kritis dan menolongnya dalam keadaan terdesak. Dengan lidah  yang terasa, seorang da’i tampil diatas podium dihadapan ribuan khalayak yang menyaksikannya laksana singa.

Seorang da’i harus mempertajam lidahnya dengan banyak latihan, meminta bimbingan, pengawasan, dan pengujian serta menghafal sejumlah kata-kata hikmah atau petikan-petikan pepatah.

  1. Rumusan Masalah
    1. Menulis teks pidato “hari raya idul adha”
    2. Menulis teks pidato “hari raya idul fitri”
    3. Menulis teks pidato “maulid nabi”

BAB II

PEMBAHASAN

 

Hari Raya Idul Adha

Idul adha dinamakan juga Idul Kurban karena sejak fajar menyingsing dipagi hari ini sampai terbenam matahari pada tanggal 13 dzulhijah nanti atau yang disebut hari tasyriq selama empat hari berturut-turut kita telah berada dalam suasana Idul Adha. Hari raya besar dalam islam, hari raya yang membayangkan betapa besar dan agungnya jiwa umat islam yang telah bertakwa kepada Allah SWT.

Dari sejarah kita temui peristiwa penting yang berkenaan dengan Idul Adha, yaitu nabi Ibrahim as telah memberikan pengorbanan yang besar dan mengagumkan dengan penyembelihan putranya Nabi Ismail, demi pengabdiann yang  besar kepada Allah SWT. Allah membalas pengorbanan itu dengan menukar ismail dengan seekor kambing.

çm»oY÷ƒy‰sùur ?xö/ɋÎ/ 5OŠÏàtã ÇÊÉÐÈ

Artinya: “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”

 Pengorbanan yang besar yang diberikan oleh Nabi ibrahim a.s itu telah dianjurkan untuk dilaksanakan pula oleh kaum muslim, sebagai tanda dari keikhalasan dan kesediaannya untuk memberikan pengorbanan dan pengabdiannya kepada Allah SWT. Dengan menyembelih hewan seperti kambing atau sapi yang dagingnya dibagi-bagikan kepada fakir dan miskin yang berada disekitar kita.

Penyembelihan hewan yang lazimnya disebut kurban itu, merupakan ukuran bagi setiap muslim sampai berapa besar kesediannnya untuk berkurbna demi pengabdiannya kepada Allah SWT.

Sudah diijelaskan bahwasannya semua berawal dari ilmu dan agama. Dalam hal seperti ini sudah termasuk kedalam hal berusaha untuk menunjukkan bahwa dirinya telah berdakwah yang benar dan mengajak semua pendengar untuk mengikuti.[1]

Pengabdian dan pengorbanan merupakan pendidikan bagi umat islam untuk memperkuat jiwa sosial dan kedermawanan, serta membiasakan umat islam untuk mengorbankan segala sesuatu yang dimilikinya bagi keselamatan dan kebahagiaan umat bersama, serta bagi kemajuan masyarakat bangsa dan negara khususnya bagi kejayaan islam dan kaum muslim.

Sungguh banyak sekali hikmah dan rohani yang dapat kita petik dari ajaran dan pelaksanaan kurban ini. Karena itu adalah tugas kita untuk contoh dan mengambil teladan dari gerak dan langkah serta sikap nabi ibrahim dalam mewujudkan dan mempertahankan keyakinan kepada Allah. Semua orang tahu bahwa disini nabi Ibrahim, siti hajar dan ismaill telah melalui peristiwa besar.

Untuk mewujudkan pembangunan bangsa dan mensejahterakan umat, serta tegaknya syariat islam ini amat diperlukan remaja yang berhiwa besar dan berakhlak mulia. Kita masih memerlukan para remaja yang ikhlas dan berani berkorban untuk mencapai cita-cita luhur, karena hanya ditangan remajalah terletak kejayaan umat dan bangsa.

Dalam melaksanakan shalat idul adha ini kenangan kita terbang ketanah suci. Disanalah seluruh kaum islam yang berkesempatan menunaikan rukun islam kelima yaitu ibadah haji. Hari ini sedang melaksanakan ibadah haji di Mina, sesudah berwukuf dipadang arafah kemarin tanggal dzulhijah. Ibadah haji selain mengandung pahala yang besar,juga mengandung hikmah-hikmah yang amat penting, antara lain:

-          supaya umat islam bersatu

-          supaya umat hidup berjamaah dan bermasyarakat

-          supaya umat islam bersaudara, kasih mengasihi, hormat menghormati

Hari Raya Idul Fitri

 

Allahuakbar… Allahuakbar… Allahuakbar Walillahilhamdu. Hari yang ditunggu- tunggu oleh seluruh umat manusia adalah hari kemenangan yang gilang-gemilang, kemenangan dari pertempuran melawan hawa nafsu. Hawa nafsu yang senantiasa merongrong dan menghambat kita dalam melaksanakan ibadah kepada Allah yanag Maha Kuasa

Puasa sebulan Ramadhan yang baru kita saja kita lakukan bersama-sama, antara lain berfungsi untuk mengendalikan dan menjinakkan hawa nafsu. Dengan mengendalikan hawa nafsu, derajat manusia akan meningkat, jiwanya akan suci. Sebaliknya dengan menuruti hawa nafsu, hubungan antara manusia dengan Tuhannya akan menjadi retak.

Suatu ilmu pengetahuan dakwah sesuai dengan penjelasan memahami semangat zaman dikatakan dakwah itu harus dengan ketelitian, keramahan, dengan menujukkan sifat yang baik, bukan karena paksaan, melainkan dari hati sendiri.[2] Dari semua jenis berdakwah ini hanya butuh keberanian.

Itulah dahsyatnya bujuk rayu hawa nafsu, tepat apa yang dikatakan oleh penyair yang dikutib oleh sayid abdullah al-hadad yang artinya:

“ ketahuilah nafsu olehmu. Jangan kamu anggap enteng bahayanya. Karena nafsu itu lebih buruk daripada tujuh puluh setan. Karena begitu hawa nafsu yang berada pada diri kita harus kita kendalikan, harus kita jinakkan, dan harus kita kuasai.”

Sebulan lamanya kita telah berlatih dan berusaha untuk mengendalikan hawa nafsu kita. Akhir dari latihan itu. Lantaran hawa nafsulah  dunia ini selalu ribut dan kacau. Karena hawa nafsu, perang saudara dapat berkobar. Karena hawa nafsu ketaatan anak terhadap orangtua nya menjadi hilang. Karena hawa nafsu,akwan menjadi lawan. Hawa nafsu kita, tidak boleh boleh kita lepaskan selepas-lepasny, juga tidak boleh kita hilangkan, akan tetapi hawa nafsu itu harus kita kuasai dan kita pimpin dengan hidayah agama. Hari ini ditandai dengan pesta yang hikmah penuh kekeluargaan. Allah telah mewajibkan kiata untuk untuk makan minum pada hari ini. Hari raya Idul Fitri ini merupakan hari perpisahan dengan bulan ramadhan, sekaligus hari dimulainya kita merealisasikan hikmah/ajaran yang terkandung didalam bulan suci ramadhan.

Manusia sebagai makhluk yang mulai, disamping diberi akal oleh Allah SWT, juga diberi nafsu. Akal dengan nafsu setiap saat senantiasa bertarung. Jika dalam pertarungan itu dapat mengalahkan nafsunya, maka orang yang demikian itu dipandang lebih baik daripada malaikat, namun sebaliknya jika akalnya dapat dikalahkan oleh nafsunya maka orang yang demikian itu dipandang lebih buruk daripada binatang.

Oleh karena itu dalam rangka ber-Idul Fitri ini, marilah kita berusaha semaksimal mungkin melaksanakan perintah-perintah Allah dan berusaha pula menjauhi segala laranganNya serta senantiasa berkomunikasi dengan sesama manusia dengan sebaik- baiknya. Sesuai dengan Rasullullah yang artinya :

“ Bertaqwalah kepada Allah dimana saja kamu berada, ikutilah keburukan dengan kebaikan, niscaya itu akan menghapuskan keburukan dengan kebaikan, niscaya itu akan menghapuskan keburukan dan bergaullah dengan manusia dengan budi pekerti yang  baik.”[3]

v   Maulid Nabi Muhammad SAW

Bulan rabiul awal adalah suatu bulan yang sangat bersejarah di dalam kehidupan manusia karena pada bulan ini tepatnya pada tanggal 12 robiul awal tahun gajah telah dilahirkan seorang pemimpin umat manusia yang merupakan rahmat bagi seluruh alam semesta. Beliau itu adalah junjungan kita nabi besar Muhammad SAW, yang telah menyelamatkan kita dari kekafiran, kedzaliman, kesewenang-wenangan, dan perilaku jahiliyah lainnya. Melalui beliau Allah menunjukkan manusia menuju alam yang penuh dengan cahaya keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

Berdakwah dibedakan menjadi beberapa macam,[4] seperti contohnya terdapat banyak unsur perbandingan. Yaitu subjek dakwah yang meliputi Da’i, mubaligoh, ustadz.

Oleh sebab itu ada baiknya jika pada bulan Rabbiul Awwal itu kita jatuhkan sebagai sarana dan media untuk mengumpulkan kaum muslimin di masjid-masjid, majelis ta’lim dan tempat-tempat lainnya dengan beberapa tujuan diantaranya:

    1. Untuk menanamkan, memupuk, dan menambah rasa mahabbah (kecintaan) kita kepada Rasulullah SAW. Tujuan tersebut dikarenakan Rasullullah adalah penyampai risalah dari Allah.
    2. Untuk mengungkap kembali sejarah kehidupan Rasullullah SAW. Kemudian untuk diteladani.

Dengan peringatan kelahiran Rasullullah SAW, ini kita dapat mengungkap kembali sebagian dari kehidupan Rasullullah, dan jihad perjuangannya di dalam menegakkan agama islam. Dalam menyambut dan memperingati maulid nabi Muhammad SAW, dapat kita simpulkan bahwa keteladanan Rasul harus dicontoh. Sesuai dengan firman Allah yang artinya sesungguhnya telah ada pada Rasullullah teladan yang baik bagimu, ialah bagi orang yang mengharapkan rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut akan Allah. Dengan kelahiran Beliau, kita umat  manusia seluruh dunia mandapat rahmat yang tidak terhingga, yakni berupa cahaya hidayah yang dapat menembus kegelapan jahiliyah. Allah berfirman:

!$tBur š»oYù=y™ö‘r& žwÎ) ZptHôqy‘ šúüÏJn=»yèù=Ïj9 ÇÊÉÐÈ

            Artinya: “ Dan tidaklah Kami mengutus engkau wahai Muhammad, melainkan menjadi rahmat bagi semesta alam”. (QS.Al-Anbiya’:107)

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Ibadah haji selain mengandung pahala yang besar,juga mengandung hikmah-hikmah yang amat epnting, antara lain:

-          supaya umat islam bersatu

-          supaya umat hidup berjamaah dan bermasyarakat

-          supaya umat islam bersaudara, kasih mengasihi, hormat menghormati

Seorang da’i harus mempertajam lidahnya dengan banyak latihan, meminta bimbingan, pengawasan, dan pengujian serta menghafal sejumlah kata-kata hikmah atau petikan-petikan pepatah.

Tujuan pokok dari Isro’ Mi’raj adalah dalam rangka member kekuatan batin bagi nabi Muhammad terhadap musibah atau cobaan serta siksaan yang datangnya dari para musuh-musuh islam sejak sepeninggalan Abu Thalib, Abdul Muthalib dan istri tersayangnya Sitii Khadijah.

DAFTAR PUSTAKA

 

Mahmud Halim Abdul Ali (2006) Membentuk Pribadi Muslim; PT. Pelangi Aksara Yogyakarta

Qarni Al Aidh Dr (2005) Memahami Semangat Zaman;PT.Pelangi Aksara Yogyakarta

Bagir Abidin Zainal (2005) Integrasi Ilmu dan Agama;Pustaka Pesantren Yogyakarta

Aziz Ali Moh ( 2005 ) Paradigma Aksi Metodologi;Pustaka Pesantren Yogyakarta


[1]  Zainal Abidin Baqir, Integrasi Ilmu dan Agama hal 97

[2] Dr Aidh Al Qarni, memahami semangat zaman hal 128

[3] Kitab “Dalilul Falihin” jilid 1, halaman 227

[4] Moh.Ali Aziz, Paradigma Aksi Metodologi hal 19

This entry was posted in 2/ kpi-B. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s