SEJARAH TIMBULNYA ILMU KALAM

Kelompok 6:

  1. Chintia Anggraini (B37210091)
  2. Siti Nur Idayatun Nafisah (B37210092)
  3. M. Bahron Cokro (B77210104)

SEJARAH TIMBULNYA ILMU KALAM

Latar belakang persoalan Sosiologis

Pasca wafatnya Rasulullah Saw, kaum muslimin berkumpul di Saqifah bani Sâ’adah untuk memilih khalifah pengganti Rasulullah Saw.. Pertemuan tersebut dihadiri oleh dua partai besar, yaitu Anshar dan Muhajirin. Di antara pendukung partai Anshar adalah Saad bin Ibadah, Qais bin Saad dan Habab bib Mundzir. Partai Anshar menginginkan agar khalifah dipilih dari golongan mereka. Menurutnya, golongan Anshar adalah orang-orang yang membantu perjuangan Rasulullah Saw. dalam pengembangan dakwah Islam dari Madinah. Merekalah yang memberikan tempat bagi Rasulullah dan kaum muhajirin setelah pindah dari Makkah ke Madinah.

Sementara Muhajirin yang diwakili oleh Abu Bakar, Umar dan Abu Ubaidah menginginkan agar khalifah dipilih dari partai mereka. Bagi mereka, orang pertama yang membantu perjuangan Rasulullah Saw., disamping itu, mereka masih kerabat dekat dengan Rasulullah Saw.. Abu Bakar al-Shidiq lebih memilih Abu Ubaidah atau Umar bin Khatab sebagai khalifah. Namun Umar dan Abu ubaidah justru lebih mengedepankan Abu Bakar al-Shiddiq dengan alasan karena beliau orang yang ditunjuk Rasulullah sebagai imam shalat ketika Rasul sakit.

Basyir bin Saad yang berasal dari suku Khazraj melihat bahwa perselisihan antara dua kubu tersebut jika dibiarkan dapat mengakibatkan perpecahan dikalangan umat Islam. Untuk menghindari hal itu, ia angkat bicara dan menerangkan kepada para peserta sidang bahwa semua yang dilakkan kaum muslimin, baik dari partai Muhajirin ataupun Anshar hanyalah untuk mencari ridha Allah Swt.. Tidak layak jika kedua partai mengungkit-ungkit kebaikan dan keutamaan masing-masing demi kepentingan politik. Kemudian Basyir bin Saat membait Abu Bakar al-Shidiq. Sikap Basyir dikecam oleh Habban bin Mundzir dari partai Anshar. Ia dianggap telah menyalahi kesepakatan Anshar untuk memilih khalifah dari partainya. Namun Basyir menjawab, “Demi Allah tidak demikian. Saya membenci perselisihan dengan suku yang memang memiliki hak untuk menjadi khalifah”.

Mayoritas suku Aus dari partai Anshar mengedepankan Saad bin Ibadah sebagai khalifah. Namun kemudian Asyad bin Khudair yang juga dari suku Aus berdiri membaiat Abu Bakar. Ia menyeru pada para hadirin untuk mengikuti jejaknya. Merekapun bangkit ikut membaiat dan memberikan dukungan pada Abu Bakar al-Shidiq. Terpilihlah Abu Bakar sebagai khalifah pertama umat Islam.[1]

Kenyataannya, persatuan kaum muslimin tidak berlangsung lama. Kaum muslimin kembali mengalami perselisihan politik pasca terbunuhnya Utsman bin Affan, terutama antara kubu Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah.

Muawiyah menuntut agar Ali bin Abi Thalib segera menyelesaikan persoalan tersebut serta menarik pelaku pembunuhan ke pengadilan. Tanpa itu, Muawiyah tidak akan mengakui eksistensi kekhalifahan Ali. Sementara Ali melihat bahwa situasi dan kondisi pada waktu itu tidak memungkinkan untuk menangkap dan mengadili pelaku pembunuhan khalifah Ustman.

Perselisihan antara kubu Ali dan Muawiyah akhirnya semakin meruncing. Muawiyah tetap bersikukuh pada pendiriannya, demikian juga dengan Ali. Pada akhirnya, Muawiyah memutuskan untuk melawan Ali dengan kekuatan militer. Terjadilah pertempuran hebat antara pasukan Ali dengan Muawiyah. Hampir saja, pasukan Ali dapat memenangkan pertempuran. Namun kemudian Muawiyah menawarkan perdamaian. Peristiwa itu disebut dengan al-tahkîm. Pendukunga Ali selanjutnya disebut dengan partai Syiah. Kenyataannya, tidak semua pengikut Ali menyetujui tahkîm. Mereka menganggap bahwa tahkîm hanyalah sekedar makar politik Muawiyah. Kelompok itu kemudian memisahkan diri dan membentuk partai baru yang disebut dengan partai Khawarij. Kubu Muawiyah sendiri sering dianggap sebagai embrio kemunculan partai Ahlusunnah.

Khawarij sebagai partai baru yang memang berawal dari perselisihan mereka dengan Ali di satu sisi dan  Muawiyah di sisi lain, memiliki kepentingan dan tujuan politik sendiri. Dalam hal ini mereka berusaha menyerang dua kubu sekaligus dengan ide-ide yang mungkin dapat diterima oleh orang banyak. Mereka kemudian mempersalahkan dua partai di atas karena dianggap telah melakukan dosa besar. Di sini karena dua partai tersebut pernah melakukan pertempuran yang mengakibatkan pertumpahan darah antara sesama muslim.

Partai Khawarij mempersoalkan mengenai ketetapan hukum bagi mereka yang membunuh saudaranya sendiri sesama muslim. Bagi Khawarij, mereka itu adalah pelaku dosa besar yang berarti akan masuk neraka dan kekal di dalamnya. Untuk mendukung terhadap validitas pendapatnya, partai Khawarij kemudian menukil berbagai nash al-Qur’an maupun al-Sunnah. Di sini pandangan Khwarij sangat kental dengan nuansa politik.

Sebagai sebuah partai, Khawarij tentu juga memiliki pandangan mengenai pemimpin dan kepemimpinan. Bagi Khawarij, khalifah dapat diangkat dari partai manapun asalkan sesuai dengan kriteria seorang imam sebagaimana termaktub dalam ajaran Islam. Tentu ini berbeda dengan pandangan partai Syiah yang menganggap bahwa khalifah hanya dapat diangkat dari Ali dan keturunannya. Juga berbeda dengan partai Ahlusunnah yang menganggap bahwa khalifah harus berasal dari suku Quraisy.

Persoalan politik dengan isu sentral seputar pelaku dosa besar sebagaimana dilontarkan partai Khawarij tersebut kenyataannya menyulut kelomok lain yang tidak sepaham denganya untuk membentuk partai baru, yaitu partai Murji’ah. Bagi partai ini, mereka menganggap bahwa ketentuan hukum hanya berada dalam genggaman Tuhan. Manusia tidak memiliki otoritas untuk menentukan ketetapan hukum bagi pelaku dosa besar.

Pada masa akhir khalifah Muawiyah, wacana seputar pelaku dosa besar masih cukup santer. Washil bin Atha’, salah seorang murid dari Hasan Bashri kemudian melontarkan ide yang berbeda dari pendapat-pendapat sebelumnya. Baginya, pelaku dosa besar tidak dapat dikatakan mukmin, namun juga tidak dapat dikatakan kafir. Mereka itu antara mukmin dan kafir, atau dalam istilah mereka disebut sebagai “manzilah baina manzilataini”. Washil bin Atha’ kemudian membentuk partai baru yang disebut dengan partai Muktazilah. Sebagai layaknya sebuah partai, Muktazilah juga memiliki pandangan politik yang berbeda dari partai-partai sebelumnya.[2] Baginya, khalifah dapat berasal dari golongan manapun asal dapat menerapkan prinsip keadilan. Hanya saja, jargon Muktazilah hanya tertulis di atas kertas tanpa ada realitas dalam tataran praktis. Ketika partai Muktazilah dapat menjadi partai penguasa pada masa al-Makmun, al-Mu’tashim dan al-Watsiq, mereka justru memaksakan ideologi kepartaiannya kepada kelompok lain. Anggota partai oposisi yang tidak sepaham dengannya mendapat berbagai tekanan, baik politik maupun fisik. Inilah barangkali yang menjadi cacat bagi partai tersebut. Pemaksaan ideologi paling kentara pada persoalankhalqu’l qur’an. Muktazilah sebagai sebuah partai penguasa pada mulanya dibangun dari reaksi terhadap wacana ilmu kalam. Berbeda dengan partai lain yang murni bias politik.

Namun ide ilmu kalam Muktazilah tidak diamini oleh semua kelompok dalam partai tersebut. Abu Hasan al-Asy’ariy, pengikut setia Muktazilah selama 40 tahun, kemudian memisahkan diri dan membentuk partai baru yang disebut dengan partai Asy’ariyah.[3] Ide dasar Abu Hasan al-Asy’ariy tidak jauh berbeda dengan partai Ahlusunnah, bahkan terkesan sebagai penguat dan pendukung mereka. Hanya perbedaannya, Abu Hasan al-Asy’ariy menggunakan logika sebagai penguat terhadap argumentasi nash. Oleh karenanya, Asy’ariyah juga sering disebut dengan Ahlusunnah wa’l Jama’ah. Sebagian lain menyebutnya dengan Aliran fatalistik moderat.

Dalam satu waktu, di daerah Asia tengah juga muncul partai baru yang hampir sepaham dengan apa yang dilontarkan Abu Hasan al-Asy’ari. Partai baru tersebut didirikan oleh Abu Manshur al-Maturidiy. Pengikut al-Maturidiy juga sering dimasukkan dalam golongan partai Ahlusunnah.

Ilmu kalam yang berkembang dalam berbagai partai Islam sedikit banyak terpengaruhi oleh pemikiran dari kelompok lain di luar Islam. Untuk menopang pendapatnya, masing-masing berusaha menggunakan berbagai argumentasi, termasuk dengan logika Aristotelian. Maka persoalan ilmu kalam menjadi sebuah perdebatan dan wacana yang sangat rasional. Nash bahkan hanya dijadikan sebagai argumentasi sekunder. Inilah yang kemudian memunculkan partai baru yang disebut dengan partai Salafiyah. Partai ini menolak argumentasi Aristotelelian dan berusaha memahami nash al-Qur’an secara literal. Pendiri partai ini adalah Ibnu Timiyah yang dilanjutkan dan direalisasikan oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Belakangan, partai Wahabiyah dapat memegang tampuk pemerintahan di negara Arab Saudi hingga saat ini.[4]

Persoalan yang bermula dari isu politik, kemudian berkembang menjadi perdebatan kalam. Uraian di atas adalah faktor intern terbentuknya berbagai partai yang muncul dari dalam umat Islam sendiri. Selain faktor politik, munculnya perdebatan kalam dimotori oleh faktor lain, di antaranya adalah:

  1. Al-Qur’an ketika menawarkan ajaran tauhid, berhadapan dengan berbagai agama dan aliran kepercayaan. Dalam hal ini, al-Qur’an menggunakan metodologi jadal (dialog) untuk menggugurkan berbagai argumentasi mereka. Metodologi dialog tersebut selanjutnya dikembangkan oleh para politisi dan ahli kalam sesuai dengan partai politiknya masing-masing.
  2. Stabilitas sosial dan politik juga memiliki andil yang cukup besar. Tiap partai politik lebih dapat konsen dalam menanggapi berbagai wacana yang dilontarkan oleh partai lain.

Selain faktor internal, juga terdapat faktor eksternal yang turut andil dalam mengembangkan berbagai wacana kalam, di antaranya adalah:

  1. Banyak orang yang masuk Islam dari berbagai agama dan aliran kepercayaan. Mereka memeluk Islam, namun ideologi lama masih kental. Islam akhirnya bercampur dengan paham dan pengaruh ajaran lain yang berasal dari luar Islam.
  2. Golongan lain yang berada di luar Islam juga berusaha menyerang paham tauhid umat Islam. Paratai Islam, khususnya Muktazilah kemudian berusaha membela ajaran Islam serta menanggapi berbagai isu tauhid tersebut. Orang-orang Yahudi dan Kristen dalam melonatarkan wacana teologi sering menggunakan ilmu logika. Dari sini maka Muktazilah mulai belajar ilmu logika sehingga dapat melawan mereka sesuai dengan senjata yang mereka gunakan.
  3. Para ulama kalam merasa perlu belajar ilmu filsafat dan logika agar dapat melawan paham lain tersebut.[5]

Karena partai dalam dunia Islam klasik cukup beragam, di samping ide mereka yang berkaitan dengan ilmu kalam juga sangat luas, maka di bawah ini penulis hanya akan mencantumkan secara singkat parta-partai tersebut di tinjau dari kacamata historis-sosiologis.

Latar belakang persoalan Filosofis

Bermula dari timbulnya persoalan siapa yang kafir dan siapa yang bukan kafir dalam arti siapa yang telah keluar dari islam dan siap yang masih tetap dalam islam. Khawarij memandang bahwa Ali, Muawiyah, Amr Ibn al-As itu kafir, karena Al-Qur’an mengatakan dalam surat Al-Maidah : 44

!$¯RÎ) $uZø9t“Rr& sp1u‘öq­G9$# $pkŽÏù “W‰èd ֑qçRur 4 ãNä3øts† $pkÍ5 šcq–ŠÎ;¨Y9$# tûïÏ%©!$# (#qßJn=ó™r& tûïÏ%©#Ï9 (#rߊ$yd tbq–ŠÏY»­/§9$#ur â‘$t6ômF{$#ur $yJÎ/ (#qÝàÏÿósçGó™$# `ÏB É=»tFÏ. «!$# (#qçR%Ÿ2ur Ïmø‹n=tã uä!#y‰pkà­ 4 Ÿxsù (#âqt±÷‚s? }¨$¨Y9$# Èböqt±÷z$#ur Ÿwur (#rçŽtIô±n@ ÓÉL»tƒ$t«Î/ $YYyJrO WxŠÎ=s% 4 `tBur óO©9 Oä3øts† !$yJÎ/ tAt“Rr& ª!$# y7Í´¯»s9′ré’sù ãNèd tbrãÏÿ»s3ø9$# ÇÍÍÈ

44. Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara Kitab-Kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.

Dari ayat inilah mereka mengambil semboyan la hukma illa lillah, karena ke-empat pemuka islam diatas telah dipandang kafir dalam arti bahwa mereka telah keluar dari islam.

Al Hasan Al-Bisri menetapkan bahwa yang menjadi anutan umum umat islam, yaitu orang yang mengerjakan dosa besar dipandang fasiq, tidak keluar dari gelanggang mu’min.

Pendapat Al-Hasan ini dibantah keras oleh muridnya Washil Ibn Atha’. Dia mengatakan bahwa orang yang mengerjakan dosa besar berada diantara dua martabat. Pendapatnya ini diikuti oleh Ibn Ubaid. Karena mereka mengasingkan diri dari majlis gurunya Al Hasan atau dari pendapat umum, dinamakanlah mereka dengan mu’tazilah.

Oleh karena golongan Qadariyah dan Jabariyah tidak dapat berdiri sebagai golongan tetapi lebur dalam kelompok – kelompok lain, maka nama Qadariyah dan Jabariyah menjadi nama faham saja, tidak menjadi nama golongan. Maka Qadariyah berpindah kepada nama Mu’tazilah. Mereka juga dinamakan Qudriyah, lantaran mereka sendiri tidak menerima nama – nama itu. Mereka menanamkan dirinya dengan Ahlul ‘ad-li wat Tauhid.

Note :

[1] Fariq Abdussalam, al-Islâm wa al-Ahzâb al-Siyâsiyyah, Maktabah Qalyûb, hal. 57 et seq.

[2] Mengenai pandangan politik Muktazilah akan diterangkan kemudian pada bagian amar makruf dan nahi munkar.

[3] Partai Ahlusunnah sebelumnya disebut dengan istilah Ahlu’l Hadits. Di antara tokoh sentralnya adalah Ahmad bin Hmabal.

[4] Selengkapnya lihat, Al-Imam Muhammad Abu Zahrah, Ibnu HambalHayâtuhu wa ‘Ashruhu ‘Ârâ’uhu wa Fiqhuhu, Dâru al-Fikr al-Arabiy, Kairo, 1996, hal. 309.

[5] Hasan al-Sayyid Mutawalliy, Mudzakirah al-Tauhîd wa’l Furuq, Al-Maktabah al-Azhariyyah li’l Turâts, vol. II, 1998, hal. 10

About these ads
This entry was posted in kelas 1 j2. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s