batu warna warni

batu warna warni

batu warna warni ini baik sekali

Image | Posted on by | Leave a comment

STRATEGI PEMBELAJARAN SOFTSKILL DAN MULTIPLE INTELEGENCE

oleh:

Moh. Minannullah

BAB I PENDAHULUAN

Dunia kerja percaya bahwa sumber daya manusia yang unggul adalah mereka yang tidak hanya memiliki  kemahiran hard skill saja tetapi juga piawai dalam aspek soft skillnya. Dunia pendidikanpun mengungkapkan bahwa berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya  ditentukan sekitar 20% oleh hard skill dan sisanya 80% oleh soft skill.

Adalah suatu realita bahwa pendidikan di Indonesia lebih memberikan porsi yang lebih besar untuk muatan hard skill, bahkan bisa dikatakan lebih berorientasi pada pembelajaran hard skill saja. Lalu seberapa besar semestinya muatan soft skill dalam kurikulum pendidikan?, kalau mengingat bahwa sebenarnya penentu kesuksesan seseorang itu lebih disebabkan oleh unsur soft skillnya.

Jika berkaca pada realita di atas, pendidikan soft skill tentu menjadi kebutuhan urgen dalam dunia pendidikan. Namun untuk mengubah kurikulum juga bukan hal yang mudah. Pendidik seharusnya memberikan muatan-muatan pendidikan soft skill pada proses pembelajarannya. Sayangnya, tidak semua pendidik mampu memahami dan menerapkannya. Lalu siapa yang harus melakukannya? Pentingnya penerapan pendidikan soft skill idealnya bukan saja hanya untuk anak didik saja, tetapi juga bagi pendidik.

Perhelatan Ujian Nasional baru saja selesai. Siswa yang lulus bersuka cita merayakan keberhasilannya, sementara siswa yang tidak lulus tidak sedikit yang kecewa dan terpuruk meskipun diberi kesempatan mengikuti Ujian Nasional ulangan. Kelulusan adalah gerbang menuju episode pendidikan berikutnya. Bagi yang lulus SMA dapat memilih alternatif untuk nimba ilmu agama di pesantren, dan dapat pula kuliah kehidupan dengan terjun langsung di dunia usaha/industri dan di masyarakat.

emua lulusan mampu memilih langkah pasti yang akan diambil. Euforia kelulusan hanya sesaat setelah pengumuman kelulusan, episode berikutnya adalah kegamangan menjalani aktifitas kehidupan. Tidak semua lulusan mampu secara intelektual mengambil program studi di perguruan tinggi yang diidam-idamkan. Tidak semua lulusan berasal dari keluarga yang mampu secara finansial, apalagi di tahun sekarang harga kursi di perguruan tinggi selangit. Dan tidak semua lulusan memiliki insting untuk berwira usaha, sementara bekerja sebagai buruh tidak semua lulusan memiliki nyali untuk menjalaninya.

Fenomena ini memberi gambaran bahwa pendidikan kita tidak menyiapkan alternatif pilihan pasca kelulusan siswa. Pembelajaran di kelas hanya berorientasi bagaimana meluluskan siswa. Sekolah seakan-akan tidak bertanggung jawab atas nasib siswanya pasca kelulusan. Memang ada beberapa sekolah yang membuka BKK (Bursa Kerja Khusus), namun sepanjang pengetahuan penulis hanya sedikit yang dapat berjalan dengan efektif.

Dalam dunia pendidikan, ada tiga ranah yang harus dikuasai oleh peserta didik yakni ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Ranah kognitif berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, ranah afektif berkaitan dengan attitude, moralitas, spirit, dan karakter, sedangkan ranah psikomotorik berkaitan dengan keterampilan yang sifatnya prosedural dan cenderung mekanis.

Dalam realitas pembelajaran usaha untuk menyeimbangkan ketiga ranah tersebut memang selalu  diupayakan, namun pada kenyataannya yang dominan adalah ranah kognitif dan psikomotorik. Akibatnya adalah peserta didik kaya akan kemampuan yang sifatnya hard skills namun miskin soft skills. Gejala ini tampak pada out put pendidikan yang memiliki kemampuan intelektual tinggi, pinter, juara kelas, namun miskin kemampuan membangun relasi, kekurangmampuan bekerja sama dan cenderung egois, serta cenderung menjadi pribadi yang tertutup.

Penguasaan hard skills yang lebih dominan ini bukanlah kesalahan guru semata, namun sudah sistemik sehingga membelenggu kreatifitas guru dalam penanaman soft skills ke peserta didik. Adanya Ujian Nasional yang memforsir tenaga dan fikiran guru dan siswa, keharusan penguasaan berbagai keterampilan (dalam ujian praktik berbagai mata pelajaran) merupakan bukti bahwa sistem pendidikan kita lebih menekankan kemampuan teknik yang bersifat hard skills. Idealnya pembelajaran menemukan keseimbangan antara hard skills dengan soft skills sehingga peserta didik menjadi pribadi yang cerdas, pintar, namun terbuka  dan dinamis. Pribadi yang terbuka dan dinamis itu penting karena pribadi yang demikian cenderung adaptif dan mampu berdialektika dengan perkembangan dan perubahan zaman.

Lalu apa yang kurang dengan pembelajaran di sekolah?. Ada sisi yang selama ini kurang diperhatikan yakni soft skills. Soft skills berada diluar ranah teknis dan akademik, lebih bersifat psikologis sehingga abstrak. Konsep soft skills  4merupakan istilah sosiologis yang merepresentasikan pengembangan dari kecerdasan emosional seorang yang merupakan kumpulan karakter kepribadian, kepekaan sosial, komunikasi, bahasa, kebiasaan pribadi, keramahan, dan optimism yang menjadi ciri hubungan dengan orang lain. Soft skills melengkapi hard skills, dimana hard skills merupakan representasi dari potensi IQ seseorang terkait dengan persyaratan teknis pekerjaan dan beberapa kegiatan lainnya (Djoko Hari Nugroho, 2009). Domain hard skills adalah learning to know and learning to do, sedangkan soft skills domainnya adalah learning to be and learning to life together.

Meskipun soft skills hanya pelengkap bagi hard skills namun sangat berperan dalam kesuksesan seseorang. Penelitian di Harvard University membuktikan bahwa soft skills menyumbang 80% atas kesuksesan seseorang.  Sayangnya sumbangan yang besar atas kesuksesan seseorang ini sering terlupakan, pendidikan kita justru mengejar kecerdasan intelektual yang sejatinya hanya berperan 20% dalam menentukan keberhasilan seseorang. Lalu bagaimana guru meng-include- kan soft skills dalam pembelajaran?. Guru harus menata ulang RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). Unsur soft skills harus dicari dalam materi pelajaran yang diajarkan. Kemudian secara eksplisit harus ditulis dalam RPP, termasuk di dalamnya bagaiamana mempraktikkan soft skills tersebut di kelas.

Mengingat pentingnya soft skills dalam membekali siswa menggapai prestasi hidup maka sudah selayaknya soft skills dalam pembelajaran dikedepankan. 

BAB II

SOFT SKILL DAN MULTIPLE INTELIGENCE

                    A. Soft Skill

1. Pengertian Soft Skill

Soft skill adalah istilah sosiologis yang berkaitan dengan seseorang “EQ” (Emotional Intelligence Quotient), kumpulan karakter kepribadian, rahmat sosial, komunikasi, bahasa, kebiasaan pribadi, keramahan, dan optimisme yang menjadi ciri hubungan dengan orang lain. Soft melengkapi keterampilan keterampilan keras (bagian dari seseorang IQ), yang merupakan persyaratan teknis pekerjaan dan banyak kegiatan lainnya.

Soft Skill atau keterampilan lunak menurut Berthhall (Diknas, 2008) merupakan tingkah laku personal dan interpersonal yang dapat mengembangkan dan memaksimalkan kinerja manusia (melalui pelatihan, pengembangan kerja sama tim, inisiatif, pengambilan keputusan lainnya. Keterampilan lunak ini merupakan modal dasar peserta didik untuk berkembang secara maksimal sesuai pribadi masing-masing.

Secara garis besar soft skill bisa digolongkan ke dalam dua kategori : intrapersonal dan interpersonal skill. Intrapersonal skill mencakup : self awareness (self confident, self assessment, trait & preference, emotional awareness) dan self skill ( improvement, self control, trust, worthiness, time/source management, proactivity, conscience). Sedangkan interpersonal skill mencakup social awareness (political awareness, developing others, leveraging 6diversity, service orientation, empathy dan social skill (leadership,influence, communication, conflict management, cooperation, team work, synergy)

Soft skills adalah ketrampilan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain (termasuk dengan dirinya sendiri). Atribut soft skills, dengan demikian meliputi nilai yang dianut, motivasi, perilaku, kebiasaan, karakter dan sikap.Atribut soft skills ini dimiliki oleh setiap orang dengan kadar yang berbeda-beda, dipengaruhi oleh kebiasaan berfikir, berkata, bertindak dan bersikap. Namun, atribut ini dapat berubah jika yang bersangkutan mau merubahnya dengan cara berlatih membiasakan diri dengan hal-hal yang baru.

Apabila dicermati dari kenyataan yang ada, baik dari perbincangan informal maupun hasil penelusuran atau kajian formal, maka rasio kebutuhan soft skills dan hard skills di dunia kerja/usaha berbanding terbalik dengan pengembangannya di perguruan tinggi. Fakta menunjukkan bahwa yang membawa atau mempertahankan orang di dalam sebuah kesuksesan di lapangan oleh technical skills. Namun, kenyataan di perguruan tinggi atau sistem pendidikan kita saat ini, soft skills hanya diberikan rata-rata 10% saja dalam kurikulumnya.

Pengembangan soft skill memiliki 3 hal penting, yaitu:

  1. Pertama, hard work (kerja keras).

imalkan suatau kerja tentu butuh upaya kerja keras dari diri sendiri maupun lingkungan. Hanya dengan kerja keras, orang akan mampu mengubah garis hidupnya sendiri. Melalui pendidikan yang terencana, terarah dan didukung pengalaman belajar, peserta didik akan memiliki daya tahan dan semangat hidup bekerja keras. Etos kerja keras perlu dikenakan sejak dini di sekolah melalui berbagai kegiatan intra ataupun ekstrakurikuler di  sekolah. Peserta didik dengan tantangan ke depan yang lebih berat tentu harus mempersiapkan diri sedini mungkin mellaui pelatihan melakukan kerja praktik sendiri maupun kelompok.

  1. Kedua, kemandirian

Cirri peserta didik mandiri adalah responsive, percaya diri dan berinisiatif. Renponsif berarti peserta didik tanggap terhadap persoalan diri dan lingkungan. Sebagaicontoh bagaimana peserta didik tanggap terhadap krisis global warming dengan kampanye hijaukan sekolahku dan gerakan bersepeda tanpa motor. Menjaga  kepercayaan diri seorang peserta didik untuk memaksimalkan potensi peserta didi harus sinergis dengan kerja kerasnya.

  1. Ketiga, kerja sama tim

Keberhasilan adalah buah dari kebersamaan. Keberhasilan menyelesaikan tugas kelompok adalah pola klasik yang masih relevan untuk menampilkan karakter ini. Pola pelatihan outbond yang sekarang marak diselenggarakan merupakan pola peniruan karakter ini

2Manfaat Soft Skill

Manfaat Soft Skill dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:

  • Berpartisipasi dalam tim
  • Mengajar orang lain
  • Memberikan layanan
  • Memimpin sebuah tim8
  • Bernegosiasi
  • Menyatukan sebuah tim di tengah-tengah perbedaan budaya
  • Motivasi
  • Pengambilan keputusan menggunakan keterampilan
  • Menggunakan kemampuan memecahkan masalah
  • Amati bentuk etiket
  • Berhubungan dengan orang lain
  • Menjaga berarti percakapan (basa-basi)
  • Menjaga percakapan bermakna (diskusi / perdebatan)
  • Menetralkan argumen dengan waktu, petunjuk dan sopan, bahasa singkat
  • Berpura-pura minat dan berbicara dengan cerdas tentang topik apapun

3. Soft Skill dalam Pembelajaran

Guru sebagai salah satu komponen dalam system pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan siswa, memiliki peranan penting dalam menentukan arah dan tujuan dari suatu proses pembelajaran. Kemampuan yang dikembangkan tidak hanya ranah kognitif dan psikomotorik semata yang ditandai dengan penguasaan materi pelajaran dan ketrampilan , melainkan juga ranah kepribadian siswa. Pada ranah ini siswa harus menumbuhkan rasa percaya diri sehingga menjadi manusia yang mampu mengenal dirinya sendiri yakni manusia yang berkepribadian yang mantap dan mandiri. Manusia utuh yang memiliki kemantapan emosional dan intelektual, yang mengenal dirinya, yang mengendalikan dirinya dengan konsisten dan memiliki rasa empati (tepo seliro). Menurut Howard Gardner dalam bukunya yang bejudul Multiple Inteligences (1993), bahwa ada 2 kecerdasan yang berkaitan dengan kemampuan mengembangkan kepribadian yaitu :

1. Kecerdasan Interpersonal (interpersonal Intelligence) adalah kemampuan untuk mengerti dan menjadi peka terhadap perasaan, intensi, motivasi,watak, dan temperamen orang lain. Kepekaan akan ekspresi wajah, suara dan gerak tubuh orang lain (isyarat), dan kemampuan untuk menjali relasi dan komunikasi dengan berbagai orang lain.

2. Kecerdasan Intrapersonal (intrapersonal intelligence) adalah kemampuan memahami diri dan bertindak adaptif berdasarkan pengetahuan tentang diri. Kemampuan berefleksi dan keseimbangan diri, kesadaran diri tinggi, inisiatif dan berani.

Soft skill yang diberikan kepada para siswa dapat diintegrasikan dengan materi pembelajaran. Menurut Saillah (2007), materi soft skill yang perlu dikembangkan kepada para siswa, tidak lain adalah penanaman sikap jujur, kemampuan berkomunikasi, dan komitmen. Untuk mengembangkan soft skill dengan pembelajaran, perlu dilakukan perencanaan yang melibatkan  para guru, siswa, alumni, dan dunia kerja, untuk mengidentifikasi pengembangan soft skill yang relevan.

Tentu saja pengidentifikasian tersebut bukan sesuatu yang “hitam-putih”, tetapi lebih merupakan kesepakatan. Dengan asumsi semua guru memahami betul “isi” pembelajaran yang dibina dan “memahami” konsep soft skill beserta komponen-komponennya, maka pengisian akan berlangung objektif dan cermat. Dengan cara itu setiap guru mengetahui komponen soft skill apa yang harus dikembangkan ketika mengajar.

Setiap orang termasuk peserta didik sudah memiliki soft kills walaupun berbeda-beda. Soft skills ini dapat dikembangkan menjadi lebih baik atau bernilai (diterapkan dalam kehidupan sehari-hari) melalui proses pembelajaran. Pendidikan soft skills tidak seharusnya melalui satu mata pelajaran khusus, melainkan dintegrasikan melalui mata pelajaran yang sudah ada atau dengan menggunakan strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa. Salah satunya adalah pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning).

Pembelajaran kontekstual (CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa. Selain itu, mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari dengan melibatkan komponen utama pembelajaran. Yaitu, konstruktivisme, menemukan, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi dan penilaian yang sebenarnya. Sebuah Kelas dikatakan menggunakan pendekatan pembelajaran kontekstual apabila menerapakan ketujuh komponen tersebut dalam proses pembelajaran.

Dari ketujuh komponen tersebut, pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang berlandaskan pada dunia kehidupan nyata, berpikir tingkat tinggi, aktivitas siswa, aplikatif, berbasis masalah nyata, penilaian komprehensif, dan pembentukan manusia yang memiliki akal sehat. CTL dilaksanakan melalui beberapa pendekatan pengajaran, antara lain: 1. Belajar berbasis masalah 2. Pengajaran autentik 3. Pengajaran berbasis Inquiri 4. Belajar berbasis proyek/tugas terstruktur 5. Belajar berbasis kerja 6. Belajar berbasis layanan 7. Belajar kooperatif

Pendekatan pengajaran dapat di implementasikan melalui strategi pembelajaran kontekstual yang meliputi: 1. Menekankan pentingnya pemecahan masalah/problem 2. Perlunya proses pembelajaran dilakukan dalam berbagi konteks seperti rumah, masyarakat dan tempat kerja 3. Mengontrol dan mengarahkan pembelajaran, agar siswa dapat belajar mandiri 4. Bermuara pada keragaman konteks kehidupan siswa yang berbeda-beda 5. Mendorong siswa belajar dari sesama teman dan belajar bersama, 6. Menggunakan penilaian autentik

Melalui pendekatan dan strategi diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kontekstual dapat mengembangkan soft skills siswa. Soft skills yang akan muncul dalam diri siswa sebagi akibat dari implementasi pembelajaran kontekstual meliputi: 1. Berpikir kritis 2. Kemauan belajar 3. Motivasi 4. Berkomunikasi 5. Kreatif 6. Memecahkan masalah 7. Bekerja sama, 8. Mandiri 9. Berargumentasi logis 10. Memimpin 11. Mengembangkan diri

B. Multiple Intelegence

1. Dari kecerdasan tunggal ke kecerdasan majemuk (IQ, EQ, dan SQ)

Kecerdasan merupakan salah satu anugerah besar dari Allah SWT kepada manusia dan menjadikannya sebagai salah satu kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya. Dengan kecerdasannya, manusia dapat terus menerus mempertahankan dan meningkatkan kualitas hidupnya yang semakin kompleks, melalui proses berfikir dan belajar secara terus menerus.Dalam pandangan psikologi, sesungguhnya hewan pun diberikan kecerdasan namun dalam kapasitas yang sangat terbatas. Oleh karena itu untuk 12 mempertahankan keberlangsungan hidupnya lebih banyak dilakukan secara instingtif (naluriah). Berdasarkan temuan dalam bidang antropologi, kita mengetahui bahwa jutaan tahun yang lalu di muka bumi ini pernah hidup makhluk yang dinamakan Dinosaurus yaitu sejenis hewan yang secara fisik jauh lebih besar dan kuat dibandingkan dengan manusia. Namun saat ini mereka telah punah dan kita hanya dapat mengenali mereka dari fosil-fosilnya yang disimpan di musiummusium tertentu. Boleh jadi, secara langsung maupun tidak langsung, kepunahan mereka salah satunya disebabkan oleh faktor keterbatasan kecerdasan yang  dimilikinya. Dalam hal ini, sudah sepantasnyamanusia bersyukur, meski secara fisik tidak begitu besar dan kuat, namun berkat kecerdasan yang dimilikinya hingga saat ini manusia ternyata masih dapat mempertahankan kelangsungan dan peradaban hidupnya.

Lantas, apa sesungguhnya kecerdasan itu ? Sebenarnya hingga saat ini para ahli pun tampaknya masih mengalami kesulitan untuk mencari rumusan yang komprehensif tentang kecerdasan. Dalam hal ini, C.P. Chaplin (1975) memberikan pengertian kecerdasan sebagai kemampuan menghadapi dan Anita E. Woolfolk (1975) mengemukan bahwa menurut teori lama, kecerdasan meliputi tiga pengertian, yaitu : (1) kemampuan untuk belajar; (2) keseluruhan pengetahuan yang diperoleh; dan (3) kemampuan untuk beradaptasi dengan dengan situasi baru atau lingkungan pada umumnya.

Memang, semula kajian tentang kecerdasan hanya sebatas kemampuan individu yang bertautan dengan aspek kognitif atau biasa disebut Kecerdasan Intelektual yang bersifat tunggal, sebagaimana yang dikembangkan oleh Charles 13Spearman (1904) dengan teori “Two Factor”-nya, atau Thurstone (1938) dengan teori “Primary Mental Abilities”-nya. Dari kajian ini, menghasilkan pengelompokkan kecerdasan manusia yang dinyatakan dalam bentuk Inteligent Quotient (IQ), yang dihitung berdasarkan perbandingan antara tingkat kemampuan mental (mental age) dengan tingkat usia (chronological age), merentang mulai dari kemampuan dengan kategori Ideot sampai dengan Genius (Weschler dalam Nana Syaodih, 2005). Istilah IQ mula-mula diperkenalkan oleh Alfred Binet, ahli psikologi dari Perancis pada awal abad ke-20. Kemudian, Lewis Terman dari Universitas Stanford berusaha membakukan tes IQ yang dikembangkan oleh Binet dengan mempertimbangkan norma-norma populasi sehingga selanjutnya dikenal sebagai tes Stanford-Binet.

Selama bertahun-tahun IQ telah diyakini menjadi ukuran standar kecerdasan, namun sejalan dengan tantangan dan suasana kehidupan modern yang serba kompleks, ukuran standar IQ ini memicu perdebatan sengit dan sekaligus menggairahkan di kalangan akademisi, pendidik, praktisi bisnis dan bahkan publik awam, terutama apabila dihubungkan dengan tingkat kesuksesan atau prestasi hidup seseorang.

Adalah Daniel Goleman (1999), salah seorang yang mempopulerkan jenis kecerdasan manusia lainnya yang dianggap sebagai faktor penting yang dapat mempengaruhi terhadap prestasi seseorang, yakni Kecerdasan Emosional, yang kemudian kita mengenalnya dengan sebutan Emotional Quotient (EQ). Goleman mengemukakan bahwa kecerdasan emosi merujuk pada kemampuan mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri 14dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain.

Penggunaan istilah EQ ini tidaklah sepenuhnya tepat dan terkesan sterotype (latah) mengikuti popularitas IQ yang lebih dulu dikenal orang. Penggunaan konsep Quotient dalam EQ belum begitu jelas perumusannya.Berbeda dengan IQ, pengertian Quotient disana sangat jelas menunjuk kepada hasil bagi antara usia mental (mental age) yang dihasilkan melalui pengukuran psikologis yang ketat dengan usia kalender (chronological age).

kesalahkaprahan” penggunaan istilah tersebut, ada satu hal yang perlu digarisbawahi dari para “penggagas beserta pengikut kelompok

kecerdasan emosional”, bahwasanya potensi individu dalam aspek-aspek “nonintelektual” yang berkaitan dengan sikap, motivasi, sosiabilitas, serta aspek  –aspek emosional lainnya, merupakan faktor-faktor yang amat penting bagi pencapaian kesuksesan seseorang.

Berbeda dengan kecerdasan intelektual (IQ) yang  cenderung bersifat permanen, kecakapan emosional (EQ) justru lebih mungkin untuk dipelajari dan dimodifikasi kapan saja dan oleh siapa saja yang berkeinginan untuk meraih sukses atau prestasi hidup.

Pekembangan berikutnya dalam usaha untuk menguak rahasia kecerdasan manusia adalah berkaitan dengan fitrah manusia sebagai makhluk Tuhan. Kecerdasan intelelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ) dipandang masih berdimensi horisontal-materialistik belaka (manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial) dan belum menyentuh persoalan inti kehidupan yang menyangkut fitrah manusia sebagai makhluk Tuhan (dimensi vertikal-spiritual). Berangkat dari  pandangan bahwa sehebat apapun manusia dengan kecerdasan intelektual maupun kecerdasan emosionalnya. pada saat-saat tertentu, melalui pertimbangan fungsi afektif, kognitif, dan konatifnya manusia akan meyakini dan menerima tanpa keraguan bahwa di luar dirinya ada sesuatu kekuatan yang maha Agung yang melebihi apa pun, termasuk dirinya. Penghayatan seperti itu menurut Zakiah Darajat (1970) disebut sebagai pengalaman keagamaan (religious experience).

56) menjelaskan bahwa penghayatan keagamaan tidak hanya sampai kepada pengakuan atas kebaradaan-Nya, namun juga mengakuiNya sebagai sumber nilai-nilai luhur yang abadi yang mengatur tata kehidupan alam semesta raya ini. Oleh karena itu, manusia akan tunduk dan berupaya untuk mematuhinya dengan penuh kesadaran dan disertai penyerahan diri dalam bentuk ritual tertentu, baik secara individual maupun kolektif, secara simbolik maupun dalam bentuk nyata kehidupan sehari-hari (Abin Syamsuddin Makmun, 2003).

Temuan ilmiah yang digagas oleh Danah Zohar dan Ian Marshall, dan riset yang dilakukan oleh Michael Persinger pada tahun 1990-an, serta riset yang dikembangkan oleh V.S. Ramachandran pada tahun 1997 menemukan adanya God Spot dalam otak manusia, yang sudah secara built-in merupakan pusat spiritual (spiritual centre), yang terletak diantara jaringan syaraf dan otak. Begitu juga hasil riset yang dilakukan oleh Wolf Singer menunjukkan adanya proses syaraf dalam otak manusia yang terkonsentrasi pada usaha yang mempersatukan dan memberi makna dalam pengalaman hidup kita. Suatu jaringan yang secara literal mengikat pengalaman kita secara bersama untuk hidup lebih bermakna. Pada God Spot inilah sebenarnya terdapat fitrah manusia yang terdalam (Ari Ginanjar, 2001). Kajian tentang God Spot inilah pada gilirannya melahirkan konsep Kecerdasan Spiritual, yakni suatu kemampuan manusia yang berkenaan dengan usaha memberikan penghayatan bagaimana agar hidup ini lebih bermakna. Dengan istilah yang salah kaprahnya disebut Spiritual Quotient (SQ)

Jauh sebelum istilah Kecerdasan Spiritual atau SQ dipopulerkan, pada tahun 1938 Frankl telah mengembangkan pemikiran tentang upaya pemaknaan hidup. Dikemukakannya, bahwa makna atau logo hidup harus dicari oleh manusia, yang di dalamnya terkandung nilai-nilai : (1) nilai kreatif; (2) nilai pengalaman dan (3) nilai sikap. Makna hidup yang diperoleh manusia akan menjadikan dirinyamenjadiseorang yang memiliki kebebasan rohani yakni suatu kebebasan manusia dari godaan nafsu, keserakahan, dan lingkungan yang penuh persaingan dan konflik. Untuk menunjang kebebasan rohani itu dituntut tanggung jawab terhadap Tuhan, diri dan manusia lainnya. Menjadi manusia adalah kesadaran dan tanggung jawab (Sofyan S. Willis, 2005).

Di Indonesia, ada dua orang yang berjasa besar dalam mengembangkan dan mempopulerkan kecerdasan  emosional dan kecerdasan spiritual yaitu K.H. Abdullah Gymnastiar atau dikenal AA Gym, da‟i kondang dari Pesantren Daarut Tauhiid – Bandung dengan Manajemen Qalbu-nya dan Ary Ginanjar, pengusaha muda yang banyak bergerak dalam bidang pengembangan Sumber Daya Manusia dengan Emotional Spritual Quotient (ESQ)-nya.

Dari pemikiran Ary Ginanjar Agustian melahirkan satu model pelatihan ESQ yang telah memiliki hak patent tersendiri. Konsep pelatihan ESQ ala Ary Ginanjar Agustian menekankan tentang : (1) Zero Mind Process; yakni suatu usaha untuk menjernihkan kembali pemikiran menuju God Spot (fitrah), kembali kepada hati dan fikiran yang bersifat merdeka dan bebas dari belenggu; (2) Mental  Building; yaitu usaha untuk menciptakan format berfikir dan emosi berdasarkankesadaran diri (self awareness), serta sesuai dengan hati nurani dengan merujuk pada Rukun Iman; (3) Mission Statement, Character Building, dan Self Controlling; yaitu usaha untuk menghasilkan ketangguhan pribadi (personal strength) dengan merujuk pada Rukun Islam; (4) Strategic Collaboration; usaha untuk melakukan aliansi atau sinergi dengan orang lain atau dengan lingkungan sosialnya untuk mewujudkan tanggung jawab sosial individu; dan (5) Total Action; yaitu suatu usaha untuk membangun ketangguhan sosial (Ari Ginanjar, 2001).

Berkembangnya pemikiran tentang kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ) menjadikan rumusan dan makna tentang kecerdasan semakin lebih luas. Kecerdasan tidak lagi ditafsirkan secara tunggal dalam batasan intelektual saja. Menurut Gardner bahwa “salah besar bila kita mengasumsikan bahwa IQ adalah suatu entitas tunggal yang tetap, yang bisa diukur dengan tes menggunakan pensil dan kertas”. Hasil pemikiran cerdasnya dituangkan dalam buku Frames of Mind.. Dalam buku tersebut secara meyakinkan menawarkan penglihatan dan cara pandang alternatif terhadap kecerdasan manusia, yang kemudian dikenal dengan istilah Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligence) (Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl, 2002) .

Berkat kecerdasan intelektualnya, memang manusia telah mampu menjelajah ke Bulan dan luar angkasa lainnya, menciptakan teknologi informasi dan transportasi yang menjadikan dunia terasa lebih dekat dan semakin transparan, menciptakan bom nuklir, serta menciptakan alat-alat teknologi lainnya yang super canggih. Namun bersamaan itu pula kerusakan yang menuju 18kehancuran total sudah mulai nampak. Lingkungan alam merasa terusik dan tidak bersahabat lagi. Lapisan ozon yang semakin menipis telah menyebabkan terjadinya pemanasan global, banjir dan kekeringan pun terjadi di mana-mana Gunung-gunung menggeliat dan memuntahkan awan dan lahar panasnya. Penyakit-penyakit ragawi yang sebelumnya tidak dikenal, mulai bermunculan, seperti Flu Burung (Avian Influenza), AIDs serta jenis-jenis penyakit mematikan lainnya. Bahkan, tatanan sosial-ekonomi menjadi kacau balau karena sikap dan perilaku manusia yang mengabaikan kejujuran dan amanah (perilaku koruptif dan perilaku manipulatif).

Manusia telah berhasil menciptakan “raksasa-raksasa teknologi” yang dapat memberikan manfaat bagi kepentingan hidup manusia itu sendiri. Namun dibalik itu, “raksasa-raksasa teknologi” tersebut telah bersiap-siap untuk menerkam dan menghabisi manusia itu sendiri. Kecerdasan intelektual yang tidak diiringi dengan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritualnya, tampaknya hanya akan menghasilkan kerusakan dan kehancuran bagi kehidupan dirinya maupun umat manusia. Dengan demikian, apakah memang pada akhirnya kita pun harus bernasib sama seperti Dinosaurus ?

Dengan tidak bermaksud mempertentangkan mana yang paling penting, apakah kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional atau kecerdasan spiritual, ada baiknya kita mengambil pilihan eklektik dari ketiga pilihan tersebut. Dengan meminjam filosofi klasik masyarakat Jawa Barat, yaitu cageur, bageur, bener tur pinter, maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa dengan kecerdasan intelektualnya (IQ) orang menjadi cageur dan pinter, dengan kecerdasan emosional (EQ) orang menjadi bageur, dan dengan kecerdasan spiritualnya (SQ)  orang menjadi bener. Itulah agaknya pilihan yang bijak bagi kita sebagai pribadi maupun sebagai pendidik (calon pendidik)!

Sebagai pribadi, salah satu tugas besar kita dalam hidup ini adalah berusaha mengembangkan segenap potensi (fitrah) kemanusian yang kita miliki, melalui upaya belajar (learning to do, learning to know (IQ), learning to be (SQ), dan learning to live together (EQ), serta berusaha untuk memperbaiki kualitas diri-pribadi secara terus-menerus, hingga pada akhirnya dapat diperoleh aktualisasi diri dan prestasi hidup yang sesungguhnya (real achievement).

Sebagai pendidik (calon pendidik), dalam mewujudkan diri sebagai pendidik yang profesional dan bermakna, tugas kemanusiaan kita adalah berusaha membelajarkan para peserta didik untuk dapat mengembangkan segenap potensi (fitrah) kemanusian yang dimilikinya, melalui pendekatan dan proses pembelajaran yang bermakna (Meaningful Learning) (SQ), menyenangkan (Joyful Learning) (EQ) dan menantang atau problematis (problematical Learning) (IQ), sehingga pada gilirannya dapat dihasilkan kualitas sumber daya manusia Indonesia yang cageur, bageur, bener, tur pinter

2. Macam-macam Kecerdasan Majemuk

Konsep Multiple Intelegensi (MI), menurut Gardner (1983) dalam bukunya Frame of Mind: The Theory of Multiple intelegences, ada delapan jenis kecerdasan yang dimiliki setiap individu yaitu linguistik, matematis-logis, spasial, kinestetik-jasmani, musikal, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis. Melalui delapan jenis kecerdasan ini, setiap individu mengakses informasi yang akan masuk ke dalam dirinya. Karena itu Amstrong (2002) menyebutkan, kecerdasan  tersebut merupakan modalitas untuk melejitkan kemampuan setiap siswa dan menjadikan mereka sebagai sang juara, karena pada dasarnya setiap anak cerdas. Sebelum menerapkan MI sebagai suatu strategi dalam pengembangan potensi seseorang, perlu kita kenali atau pahami ciri-ciri yang dimiliki seseorang.

1.  Kecerdasan Linguistik, umumnya memiliki ciri antara lain (a) suka menulis kreatif, (b) suka mengarang kisah khayal atau menceritakan lelucon, (c) sangat hafal nama, tempat, tanggal atau hal-hal kecil, (d) membaca di waktu senggang, (e) mengeja kata dengan tepat dan mudah, (f) suka mengisi tekateki silang, (f) menikmati dengan cara mendengarkan, (g) unggul dalam mata pelajaran bahasa (membaca, menulis dan berkomunikasi).

2. Kecerdasan Matematika-Logis, cirinya antara lain: (a) menghitung problem aritmatika dengan cepat di luar kepala, (b) suka mengajukan pertanyaan yang sifatnya analisis, misalnya mengapa hujan turun?, (c) ahli dalam permainan catur, halma dsb, (d) mampu menjelaskan masalah secara logis, (d)  suka merancang eksperimen untuk membuktikan sesuatu, (e) menghabiskan waktu dengan permainan logika seperti teka-teki, berprestasi dalam Matematika dan IPA.

3. Kecerdasan Spasial dicirikan antara lain: (a) memberikan gambaran visual yang jelas ketika menjelaskan sesuatu, (b) mudah membaca peta atau diagram, (c) menggambar sosok orang atau benda persis aslinya, (d) senang melihat film, slide, foto, atau karya seni lainnya, (e) sangat menikmati kegiatan visual, seperti teka-teki atau sejenisnya, (f) suka melamun dan berfantasi, (g) mencoret-coret di atas kertas atau buku tugas sekolah, (h) lebih memahamai informasi lewat gambar daripada kata-kata atau uraian, (i) menonjol dalam mata pelajaran seni.

4. Kecerdasan Kinestetik-Jasmani, memiliki ciri: (a) banyak bergerak ketika duduk atau mendengarkan sesuatu, (b) aktif dalam kegiatan fisik seperti berenang, bersepeda, hiking atau skateboard, (c) perlu menyentuh sesuatu yang sedang dipelajarinya, (d) menikmati kegiatan melompat, lari, gulat atau kegiatan fisik lainnya, (e) memperlihatkan keterampilan dalam bidang kerajinan tangan seperti mengukir, menjahit, memahat, (f) pandai menirukan gerakan, kebiasaan atau prilaku orang lain, (g) bereaksi secara fisik terhadap jawaban masalah yang dihadapinya, (h) suka membongkar berbagai benda kemudian menyusunnya lagi, (i) berprestasi dalam mata pelajaran olahraga dan yang bersifat kompetitif.

5. Kecerdasan Musikal memiliki ciri antara lain: (a) suka memainkan alat musik di rumah atau di sekolah, (b) mudah mengingat melodi suatu lagu, (c) lebih bisa belajar dengan iringan musik, (d) bernyanyi atau bersenandung untuk diri sendiri atau orang lain, (e) mudah mengikuti irama musik, (f) mempunyaisuara bagus untuk bernyanyi, (g) berprestasi bagus dalam mata pelajaran musik.

6. Kecerdasan Interpersonal memiliki ciri antara lain: (a) mempunyai banyak teman, (b) suka bersosialisasi di sekolah atau di lingkungan tempat tinggalnya, (c) banyak terlibat dalam kegiatan kelompok di luar jam sekolah, (d) berperan sebagai penengah ketika terjadi konflik antartemannya, (e) berempati besar terhadap perasaan atau penderitaan orang lain, (f) sangat 22menikmati pekerjaan mengajari orang lain, (g) berbakat menjadi pemimpin dan berperestasi dalam mata pelajaran ilmu sosial.

7. Kecerdasan Intrapersonal memiliki ciri antara lain: (a) memperlihatkan sikap independen dan kemauan kuat, (b) bekerja atau belajar dengan baik seorang diri, (c) memiliki rasa percaya diri yang tinggi,  (d) banyak belajar dari kesalahan masa lalu, (e) berpikir fokus dan terarah pada pencapaian tujuan, (f) banyak terlibat dalam hobi atau proyek yang dikerjakan sendiri.

8. Kecerdasan Naturalis, memiliki ciri antara lain: (a) suka dan akrab pada berbagai hewan  peliharaan, (b) sangat menikmati berjalan-jalan di alam terbuka, (c) suka berkebun atau dekat dengan taman dan memelihara binatang, (d) menghabiskan waktu di dekat akuarium atau sistem kehidupan alam, (e) suka membawa pulang serangga, daun bunga atau benda alam lainnya, (f) berprestasi dalam mata pelajaran IPA, Biologi, dan lingkungan hidup.Keunikan yang dikemukakan Gardner adalah, setiap kecerdasan dalam upaya mengelola informasi bekerja secara spasial dalam sistem otak manusia. Tetapi pada saat mengeluarkannya, ke delapan jenis kecerdasan itu bekerjasama untuk menghasilkan informasi sesuai yang dibutuhkan.

Konsep Multiple Intelligences juga mengajarkan kepada anak bahwa mereka bisa belajar apapun yang mereka ingin ketahui. Apapun yang ingin diktehauinya itu dapat ditemui di dalam kehidupan nyata yang dapat mereka alami sendiri. Sementara, bagi orangtua maupun guru, yang dibutuhkan hanya kreatifitas dan kepekaan untuk mengasah kemampuan anak. Baik Mam & Pap maupun guru juga harus mau berpikir terbuka, keluar dari paradigma tradisional.

Soal manfaat lingkungan untuk membantu proses belajar ini, sudah diteliti lho oleh beberapa orang peneliti kegiatan belajar. Ada Vernon A. Magnesen tahun 1983 dan sekelompok peneliti seperti Bobbi DePorter; Mark Reardon, dan Sarah tahun 2000. Mereka menjelaskan bahwa kita sebenarnya mendapat pengetahuan dari apa yang kita baca (10%), dari apa yang kita dengar (20%), dari apa yang kita lihat (30%), dari apa yang kita lihat dan dengar (50%), dari apa yang kita katakan (70%) dan dari apa yang kita katakan dan lakukan (90%).

9 Kecerdasan Ganda yang Dimiliki Anak

1. VISUAL/SPATIAL (Cerdas Gambar/Picture Smart)

Anak belajar secara visual dan mengumpulkan ide-ide. Mereka lebih berpikir secara konsep (holistik) untuk memahami sesuatu. Kemampuan untuk melihat „sesuatu‟ di dalam kepalanya itu mampu membuat dirinya pandai memecahkan masalah atau berkreasi.

2. VERBAL/LINGUISTIC (Cerdas Kata/Word Smart)

Anak belajar lewat kata-kata yang terucap atau tertulis. Kecerdasan ini selalu mendapat tempat (unggul) dalam lingkungan belajar di kelas dan tes-tes gaya lama.

3. MATHEMATICAL/LOGICAL (CerdasLogika-Mateamatik/Logic Smart)

Anak senang belajar melalui cara argumentasi dan penyelesaian masalah. Kecerdasan ini juga pas ditampilkan di dalam kelas.

4. BODILY/KINESTHETIC (Cerdas Tubuh/Body Smart)

Anak belajar melalui interaksi dengan satu lingkungan tertentu. Kecerdasan ini tak sepenuhnya bisa dianggap sebagai cerminan dari anak yang 24terlihat „sangat aktif‟. Kecerdasan ini lebih senang berada di lingkungan dimana ia bisa memahami sesuatu lewat pengalaman nyata.

5. MUSICAL/RHYTHMIC (Cerdas Musik/Music Smart)

Anak senang dengan pola-pola, ritmik, dan tentunya musik. Termasuk, bukan hanya pola belajar auditori tapi juga mempelajari sesuatu lewat indetifikasi menggunakan panca indera.

6. INTRAPERSONAL (Cerdas Diri/Self Smart)

Anak belajar melalui perasaan, nilai-nilai dan sikap.

7. INTERPERSONAL (Cerdas Bergaul/People Smart)

Anak belajar lewat interaksi dengan orang lain. Kecerdasan ini mengutamakan kolaborasi dan kerjasama dengan orang lain.

8. NATURALIST (Cerdas Alam/Nature Smart)

Anak senang belajar dengan cara pengklasifikasian, pengkategorian, dan urutan. Bukan hanya menyenangi sesuatu yang natural, tapi juga senang menyenangi hal-hal yang rumit.

9. EXISTENTIAL (Cerdas Makna/Existence Smart)

Anak belajar sesuatu dengan melihat „gambaran besar‟, “Mengapa kita di sini?” “Untuk apa kita di sini?” “Bagaimana posisiku dalam keluarga, sekolah dan kawan-kawan?”. Kecerdasan ini selalu mencari koneksi-koneksi antar dunia dengan kebutuhan untuk belajar. 

BAB III

PENUTUP

                                Kesimpulan

Soft Skill adalah  tingkah laku personal dan interpersonal yang dapat mengembangkan dan memaksimalkan kinerja manusia (melalui pelatihan, pengembangan kerja sama tim, inisiatif, pengambilan keputusan lainnyaMultiple intelligence  ada delapan jenis kecerdasan yang dimiliki setiap individu yaitu linguistik, matematis-logis, spasial, kinestetik-jasmani, musikal, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis

Posted in kelas 1 j2 | Leave a comment

TEORI-TEORI ORGANISASI & KOMUNIKASI ORGANISASI

 

NAMA: MOH. SABRI

NIM     : B35210067

SMT     : 2F3                                         

                                         TEORI-TEORI

ORGANISASI

&
KOMUNIKASI ORGANISASI

 

 

 

 

PERKEMBANGAN TEORI ORGANISASI
(Menurut Mary Jo Hatch : dalam 4 perkembangan perspektif teori Organization ”)

KLASIK

STRUKTURAL CLASIK :BIROKRASI

(WEBER).MENEJEMEN ILMIA

(TAILOR).PENERIMAAN KEWENANGAN (BARNARD)

KONTEMPORER

  • MODERN : TEORI SISTEM UMUM (BERTALANFFY)
  • INTERPRETASI SIMBOLIK :TEOR PENGORGANISASIAN (KARL WEICK) TEORI KONTRUKSI SOSIAL ( PATER BARGER)
  • POST MODENISME: CULTURAL

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                            ASUMSI–ASUMSI
PERSPEKTIF ORGANISASI

Asumsi : organisasi dipahami sebagai tempat (wadah) berkumpulnya orang-orang yang diikat dalam sebuah aturan-aturan yang tegas  dan melaksanakan kegiatan-kegiatan yang telah terkoordinir secara sistematis dalam sebuah struktur guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

     2. MODERN

Asumsi : Organisasi sebagai sebuah jaringan sistem yang terdiri dari setidak-tidaknya 2 orang atau lebih dengan kesalingtergantungan, input, proses dan output. Menurut pandangan ini, orang-orang (komunikator) bekerjasama dalam sebuah sistem untuk menghasilkan suatu produk dengan menggunakan energi, informasi dan bahan-bahan dari lingkungan

 

    3. INTERPRETASI SIMBOLIK

Asumsi : Organisasi memproduksi situasi / lingkungan/ budaya/ realitas sosial melalui pemaknaan atas interaksi dalam organisasi. Organisasi terbentuk karena adanya interaksi (komunikasi) yang terjadi antar anggota melalui pemaknaan atas simbol-simbol, baik simbol verbal maupun non verbal.

 

  1. 1.    KLASIK

 

     

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4. POSTMODERNISME

Asumsi : postmodernisme mencoba untuk mengkritisi (melakukan penentangan thd) perspektif modernisme yang menempatkan organisasi dalam bentuk sistem yang rasional empiris. Sistem dalam pengertian modernisme adalah hubungan rasional dari berbagai unsur yang ada dalam organisasi yang cenderung mengesampingkan intuisi dan pengalaman individu. Postmodernisme juga menganggap bahwa organisasi sebagai tempat terjadinya negosiasi kekuasaan, dominasi kelompok dan pertarungan kepentingan sehingga perlu adanya rekonstruksi kekuasaan. Untuk itu postmodernisme mencoba memberikan ruang pada munculnya partisipasi anggota organisasi.

 

PERKEMBANGAN TEORI ORGANISASI
(Menurut Wayne Pace : Di antara 2 Paradigma)

 

             OBJEKTIVIS

Teori Struktural Klasik :

  1. 1.       Organisasi Sosial
  2. 2.       Organisasi Formal  (Birokrasi Weber – Manajemen Ilmiah Taylor)
         TRANSISIONAL

  1. Teori Perilaku

          (Behavior Theory)

        2. Teori Sistem

          (system Theory)

                   SUBJEKTIVIS

  1. Teori Pengorganisasian

       (Organizing Theory)

  1. Teori Budaya Organisasi

(Organization Culture)

 

 

                         2. ORGANISASI FORMAL (BIROKRASI)

                       KARAKTERISTIK BIROKRASI WEBER :

1.suatu organisasi terdiri dari hubungan yang di tetepkan di antara jebatan-jebatan

2. Tujuan / rencana organisasi terbagi ke dalam tugas-tugas yang disalurkan di antara berbagai jabatan sebagai kewajiban (jod description).

3. Kewenangan untuk melaksanakan kewajiban diberikan kepada jabatan (saat sah menduduki jabatan).

4. Garis2 kewenangan & jabatan diatur menurut suatu             tatanan hierarkis.

5. Suatu sitem aturan/regulasi yang umum tapi tegas yang ditetapkan secara formal, mengatur tindakan2 & fungsi jabatan dalam organisasi.

6. Prosedur dalam organisasi bersifar formal dan impersonal.

7. Adanya prosedur untuk menjaga disiplin anggota.

8. Anggota organisasi harus memisahkan kehidupan pribadi dan kehidupan organisasi.

9. Pegawai dipilih untuk bekerja dalam organisasi berdasarkan kualifikasi teknis.

10. Penilaian kenaikan jabatan dilakukan berdasarkan senioritas dan

prestasi kerja

 

 

 

 

                                 

                              MANAJEMEN ILMIAH TAYLOR

Unsur Kunci :

  1. 1.     Pembagian Kerja : berkenaan denan bagaimana tugas, kewajiban dan pekerjaan organisasi didistribusikan (disinilah bagaimana jalur dan pola komunikasi berlangsung).
  2. 2.     Proses Skalar – fungsional : berkenaan dengan rantai perintah / dimensi vertikal organisasi yang menunjukkan proses fungsional dan jalur horisontal organisasi.
  3. 3.     Struktur : hubungan logis antara berbagai fungsi dalam organisasi. Teori klasik fokus pada dua stuktur dasar : lini (garis komando / pimpinan/decition maker) & staf (garis koordinatif / pelaksana tugas/follower)
  4. 4.     Rentang Kendali/pengawasan (span of control) : menunjukkan jumlah bawahan yang berada di bawah pengawasan seorang atasan. Efektifitas pengawasan organisasi tergantung pada besar kecilnya jumlah rentang kendali yang ada.
                                     B. TEORI TRANSISIONAL

  1. 1.     TEORI PERILAKU

1.1. Teori Komunikasi-Kewenangan :             Chester Barnard

- Organisasi formal : suatu sistem kegiatan dua   orang atau lebih yang dilakukan secara sadar dan terkoordinasikan.

- Menitikberatkan konsep sistem dan konsep orang.

Eksistensi organisasi bergantung pada kemampuan manusia untuk berkomunikasi dan kemauan untuk   bekerja sama dalam mencapai tujuan yang sama.

- Fungsi utama pimpinan adalah mengembangkan & memelihara suatu sistem komunikasi.

 

 

A.TEORI STUKTURAL KLASIK
(Objektivisme)

 

 

  1. 1.      ORGANISASI SOSIAL

merujuk pada pola-pola interaksi sosial yang terjadi dalam sebuah kelompok sosial, yaitu kelompok atau kumpulan orang yang terbentuk atas dasar kesamaan kepentingan yang saling berhubungan dan melakukan interaksi sosial. Hubungan yang terjadi ini menghasilkan aspek status sosial yang berbeda. Jaringan hubungan & kepercayaan bersama suatu kelompok ini yang biasanya disebut dengan struktur.

 

                                  Teori Penerimaan Kewenangan

Empat syarat seseorang mau menerima pesan otoritatif :

  1. 1.     Orang tersebut memahami pesan yang dimaksud.
  2. 2.     Orang tersebut percaya bahwa pesan itu tidak bertentangan dengan tujuan organisasi.
  3. 3.     Orang tersebut percaya (pada saat memutuskan bekerja sama) bahwa pesan yang dimaksud sesuai dengan minatnya.
  4. 4.     Orang tersebut memiliki kemampuan fisik dan mental untuk melaksanakan pesan (sesuai dengan kompetensi dirinya).

 

 

 

 

 

 

Teori Hubungan Manusia :
Elton Mayo

Melakukan penelitian di kompleks Hawthorne milik Western Electric Company

Efek Hawthorne :

  1. 1.     Perhatian terhadap orang-orang boleh jadi mengubah sikap & perilaku pekerja.
  2. 2.     Moral dan produktifitas dapat meningkat apabila para pegawai mempunyai kesempatan untuk berinteraksi satu sama lain.

 

 

Teori Fusi Bakke

  • Proses Fusi :
  • Organisasi, hingga tahaptertentu, mempengaruh iindividu, sementara padasaat yang sama individupun mempengaruhi organisasi.
  • Organisasi yang dipersonalisasikan oleh setiap ndividu pegawai dan individu yang disosialisaikan oleh organisasi. Karena itu setiap pegawai menunjukkan ciri-ciri organisasi, dan setiap jabatan tampak unik seperti individu yang mendudukinya.Setelah fusi, setiap pegawai tampak menyerupai organisasi, dan setiap jabatan dalam organisasi dimodifikasi sesuai dengan minat khusus individu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TEORI SISTEM

“Satu-satunya cara yang bermakna untuk mempelajari organisasi … adalah sebagi suatu sistem” (Scott, 1961)

  • Bagian-bagian dalam organisasi merupakan sebuah sistem, berupa individu dan kepribadiannya, struktur formal, pola interaksi informal, pola status & peranan, lingkungan fisik pekerjaan. Inilah yang disebut sistem organisasi.
  • Konsep sistem fokus pada pengaturan, interakis, pola komunikasi dan hubungan antara bagian-bagian & dinamika hubungan tersebut yang menumbuhkan kesatuan / keseluruhan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Teori Sistem Sosial Katz & Kahn

Kebanyakan interaksi kita dengan orang lain merupakan tindakan komunikatif (verbal/non verbal, bicara / diam). “komunikasi – pertukaran informasidan transmisi makna – adalah inti suatu sistem sosial atau suatu organisasi. Termasuk dalam bentuk-bentuk interaksi sosial seperti penggunaan pengaruh, kerja sama penularan sosial atau peniruan dan kepemimpinan yang dimasukkan dalam konsep organisasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

C. TEORI MUTAKHIR (Subjektivisme)

  1. 1.    TEORI PENGORGANISASIAN : CARL WEICK

 

Proses pengorganisasiaan akan menghasilkan organisasi. Pengorganisasian adalah sebuah proses dan aktivitas/kegiatan. Walaupun organisasi memiliki struktur namun bagaimana organisasi bertindak dan bagaimana organisasi tersebut tampil ditentukan oleh struktur yang ditetapkan oleh pola-pola reguler perilaku yang saling bertautan. (Weick, 1979, hal 90).

Komunikasilah yang merupakan proses penting. Proses menghasilkan struktur. Suatu sistem jelas manusia. Manusia tidak hanya menjalankan organisasi, manusia merupakan organisasi itu sendiri.

Pengorganisasian adalah suatu gramatika (aturan, konvensi, praktik organisasi) yang disahkan secara mufakat untuk mengurangi ketidakpastian dengan menggunakan perilaku bijaksana (pengalaman) yang saling bertautan. (pengalaman dilalui bersama dengan orang lain melalui sistem lambang/simbol)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Proses /  Tahap Pengorganisasian :

  1. 1.     Tahap Enactment secara sederhana berarti bahwa paraanggota organisasi menciptakan ulang lingkungan mereka dengan menentukan dan merundingkan makna khusus bagi suatu peristiwa
  2. 2.     Tahap seleksi,aturan-aturan dan siklus komunikasi digunakan untuk menentukan pengurangan yang sesuai dengan ketidakjelasan
  3. 3.     Tahap retensi,memungkinkan organisasi menyimpan informasi mengenai cara organisasi itu memberi respon atas berbagai situasi

 

 

METAPHORA ORGANISASI : GARETH MORGAN

  • Organisasi dapat dilihat dari berbagai perspektif. Perspektif pertama sebagaimana yang diungkapkan oleh Gareth Morgan melihat organisasi dalam 8 metafora1. Antara lain :
  • Organisasi ibarat mesin (machine). Organisasi mengolah segala sumberdaya yang ada dan memiliki bagian-bagian yang menghasilkan produk dan jasa.
  • Organisasi ibarat organisme (organism). Seperti tumbuhan atau hewan, organisasi lahir, tumbuh, berfungsi dan beradaptasi terhadap perubahan-perubahan lingkungan dan pada akhirnya ia mati.
  • Organisasi ibarat otak (brain). Ia memproses informasi, ia memiliki intelegensi, ia mengkonseptualisasi dan ia membuat perencanaan.
  • Organisasi ibarat budaya (culture) karena ia mencipta pengertian, memiliki nilai dan norma, dan diperkuat dengan cerita-cerita dan ritual-ritual bersama.
  • Organisasi seperti sebuah sistem politik (political system) , dimana kekuasaan dibagi, pengaruh dijalankan, dan keputusan-keputusan dibuat.

 

 

  • 6.Organisasi sebagai penjara supranatural (psychic prisons) karena ia dapat membentuk dan membatasi kehidupan anggota-anggotanya.
  • 7. Organisasi sebagai perubahan dan transformasi (flux and transformation), karena ia menyesuaikan diri, berubah, tumbuh atas dasar informasi, umpan balik dan kekuatan logika.
  • 8.  Organisasi sebagai instrumen dominasi (instrument of domination) karena ia mengandung kepentingan-kepentingan yang bersaing, yang beberapa di antaranya mendominasi yang lain.


1 Gareth Morgan, Image of Organization, Beverly Hills, CA : Sage, 1986

 

TRADISI STUDI ORGANISASI MENURUT LITLLE JOHN

Stephen W Littlejohn memberikan satu bentuk metafora lain yang mengibaratkan bahwa organisasi adalah sebagai sebuah jaringan (Organizational Network). Jaringan adalah struktur-struktur sosial yang diciptakan melalui saluran-saluran ini menjadi instrumen dalam semua bentuk fungsi sosial, dalam organisasi-organisasi dan dimasyarakat luas. Organisasi dipahami mampu membangun realita sosial. Jaringan adalah saluran-saluran melalui mana pengaruh dan kekuasaan dijalankan, tidak hanya oleh manajemen dengan cara formal tetapi juga informal diantara para anggota organisasi.2 komunikasi di antara individu-individu dan kelompok-kelompok. Sewaktu orang berkomunikasi dengan orang lain, sebenarnya ia sedang  membuat kontak-kontak dan pola-pola hubungan dan Sementara itu, Peter Monge dan Eric Eisenberg3 melihat teori jaringan sebagai suatu cara  untuk mengintegrasikan tiga tradisi dalam studi organisasi. Pertama tradisi posisional, relasional, dan kultural.


2 Stephen W Littlejohn, Teories of Human Communication ,Thomson Learning,USA. 7th.ed. 2001. 3 ibid..p.282

 

1. TRADISI POSISIONAL

  • Tradisi ini memberikan perhatian pada struktur dan peran-peran formal dalam organisasi. Organisasi dalam pandangan tradisi ini dipandang sebagai sekumpulan posisi seperti administrator, pimpinan dan anggota. Setiap posisi memiliki fungsi-fungsi tertentu. Pendekatan yang dipergunakan oleh tradisi ini adalah pendekatan struktural, yang mendefinisikan sebuah organisasi sebagai sebuah kumpulan yang stabil dari hubungan-hubungan yang didefinisikan secara formal.
  • Tradisi posisional terdiri dari beberapa teori tentang jaringan-jaringan komunikasi formal. Teori-teori ini cenderung meneliti cara-cara manajemen menggunakan jaringan-jaringan formal untuk mencapai tujuannya.

 

  1. 2.   TRADISI RELASIONAL

 

  • Tradisi ini dibangun diatas asumsi dasar bahwa organisasi terbentuk karena adanya interaksi timbal balik antar individu. oleh karena itu tradisi ini memberikan perhatian pada cara-cara organisasi terbentuk melalui interaksi antar individu-individu. tradisi ini berhubungan dengan cara-cara  hubungan-hubunga yang umumnya berkembang dikalangan para partisipan di dalam sebuah organisasi dan bagaimana jaringan muncul dari hubungan-hubungan tersebut. Disini, organisasi dipandang sebagai sebuah sistem yang  yang hidup dan mengalami perubahan yang terus menerus dibentuk dan diberi arti melalui interaksi antara anggota-anggotanya.

  1. 3.   TRADISI KULTURAL

 

  • sentral dalam tradisi ini adalah tentang simbol-simbol dan pengertian yang membentuk suatu organisasi. Tradisi ini memahami bahwa dunia organisasi diciptakan oleh anggotanya dalam cerita-cerita, ritual-ritual, dan pekerjaan tugas. Struktur organisasi sesunguhnya tidak dirancang sebelumnya tetapi muncul dari tindakan-tindakan anggotanya secara informal dalam aktifitas mereka sehari-hari Kajian

 

 

PENGELOMPOKAN TEORI KOMUNIKASI ORGANISASI MENURUT LITLLE JOHN

  1. 1.     TRADISI POSISIONAL : termasuk dalam tradisi ini : Teori Birokrasi dari Max Weber, yang merupakan bagian dari teori organisasi klasik, dan kedua Teori Empat Sistem dari Likert.
  2. 2.     TRADISI RELASIONAL, termasuk dalam tradisi ini : The  Process of Organizing oleh Carl Weick dan pengembangan teori ini  Conversation And Text In The Process Of Organizing dari James W Taylor, serta Structuratio in Organizations oleh Marshall Scott Poole & Robert McPhee dan pengembangan dari teori ini Structuration in Organizational, Control and Identity  oleh George Cheney & Philip Tompkins.
  3. 3.     TRADISI KULTURAL , termasuk dalam tradisi ini : Domain of Organizational Culture oleh  John Van Maanen dan Stephen Barley.

 

 

Posted in SOS 2/F3 | Leave a comment

Argument Karl Mark

LAPORAN HASIL TUGAS MATA KULIAH LOGICA SCIENTIFIC

 

Aplikasi teori Karl Mark (Pertemuan antara budaya dalam era globalisasi)

Oleh:

Moh. Haryanto (B05210038)

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Logica scientific IAIN Sunan Ampel Surabaya fakultas Dakwah prodi sosiologi kelas F2 semester 2

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

Latar belakang

Sejak kemunculan revolusi indrustri di Eropa Barat, khususnya inggris (1750-1850), industrialisasi bukan saja telah membawa manfaat seperti pemenuhan kebutuhan teknis yang memudahkan manusia, tetapi juga membawa problem bagi masa depan manusia. Industrialisasi ternyata menuntut biaya material, mental, kultural dan moral. Rusaknya lingkungan alam yang diakibatkan oleh ekploitasi yang berlebihan, urbanisai yang melahiran pengangguran, kemiskinan dan kriminalitas; sakit mental seperti stress dan kekerasan, penyalahgunaan narkoba, sekularisme yang mengakibatkan dekadensi moral, termasuk penjajahan yang tidak lain adalah akibat dari proses industrialisasi tersebut.

Salah satu problem yang sangat serius yang diakibatkan oleh industrialisasi adalah alienasi manusia dari diri dan lingkunganya. Menurut Erich Fromm, alienasi adalah salah satu jenis penyakit kejiwaan pada masyarakat industri dimana seseorang tidak lagi merasa dirinya sebagai miliknya sendiri, sebagai pusat dunianya sendiri, melainkan telah terenggut oleh mekanisme diluar dirinya yang tidak lagi bisa terkontrol, pendek kata orang yang dilanda alienasi akan merasakan suatu kebingungan, keterasingan, dan kesepian karena merasa apa yang dilakukanya bukan atas kehendaknya melainkan tuntutan dari luar yang tidk dikehendaki bahkan tidak diketahuinya sama sekali atas apa yang ia kerjakan. Orang yang dilanda alienasi akan merasa dihantui ketakutan sehingga tidak bisa beristirahat dengan tenang, bersikap putus asa, dan menganggap hidupnya tak lagi bermakna sehingga menyebabkan meningkatnya angka bunuh diri

 merupakan suatu yang inheren dalam proses industrialisasi, maka telaah ter hadap alienasi pun telah muncul sejak dini. Orang yang mengkritiknya secara tajam dan yang pertama kali adalah Karl Marx. Ia mengaitkan alienasi dengan bangunan infrastruktur atau pondasi social −yang menurut Marx adalah ekonomi− dan bangunan supra struktur yang berdiri di atas infrastuktur tersebut −yang menurut mark diantara yang paling berpengaruh adalah agama. Sebagai sistem kepercayaan yang dibangun di atas basis ekonomi yang melahirkan alienasi rakyat (kaum proletar) sebagai akibat dominasi kaum pemilik modal (borjuis). Menurut Marx agama dalam hal ini telah mengabdi kepada kepentingan masyaraka

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

Pertemuan antara budaya dalam era globalisasi

            kata globalisasi makn menjadi sajian sehari-hari melalui berbagai pemyataan publik dan liputan media massa; dan kalau semuanya itu kita perhatikan secara saksama, maka akan ternyata betapa kata ‘globalisasi’ itu cenderung dilontarkan tanpa terlalu dihiraukan apa maknanya. Pernyataan seperti “dalam era globalisasi dewasa mi” berarti bahwa kita telah berada dalam era globalisasi; lain lagi halnya kandungan pernyataan “menjelang era globalisasi” yang berarti kita belum berada dalam era tersebut. Kelatahan dalam penggunaan kata ‘globalisasi’ sedemikian itu akhimya mengesankan kesembarangan arti kata globalisasi, dan makin mengaburkan implikasi dan komplikasi makna yang terkandung di dalamnya.

Globalisasi pada hakikatnya adalah proses yang ditimbulkan oleh sesuatu kegiatan atau prakarsa yang dampaknya bekelanjutan melampaui batas­batas kebangsaan (nation-hood) dan kenegaraan (state-hood); dan mengingat bahwa jagad kemanusiaan ditandai oleh pluralisme budaya, maka globalisasi sebagai proses juga menggejala sebagai peristiwa yang melanda dunia secara lintas-budaya (trans-cultural). Dalam gerak lintas-budaya mi terjadi berbagai pertemuan antar-budaya (cultural encounters) yang sekaligus mewujudkan proses saling-pengaruh antar-budaya, dengan kemungkinan satu fihak lebih besar pengaruhnya ketimbang fihak lainnya. Pertemuan antar-budaya memang menggej ala sebagai keterbukaan (exposure) fihak yang satu terhadap lainnya; namun pengaruh-mempengaruhi dalarn pertemuan antar-budaya itu tidak selalu berlangsung sebagai proses dua-arah atau timbal-balik yang berimbang, melainkan bolehjadi juga terjadi sebagai proses imposisi budaya yang satu terhadap lainnya; yaitu, terpaan budaya yang satu berpengaruh dominan terhadap budaya lainnya.

Menurut apa yang telah saya ketahui di lingkungan saya sendiri sudah jelas bahwa telah terjadi banyak masuk yang mungkin datangnya dari luar seperti yang tejadi pada anak muda untuk di daerah saya sendiri khususnya yang belum mengenyam ilmu agama (tidak pernah mondok) yang dulu pada tahun 2000. didaerah tersebut tidak mengenal pakaian mini seperti apa yang telah ada pada sekarang sampai tubuhnya terlihat seksi. Dulu semua anak remaja permpuan khsusnya semuanya memakai sarung kusus untuk perempuan. Tapi dengan bertemunya antar budaya. Budaya sendiri dan budaya luar kita mudh terpengaruh olenya. Mung kin menurut pandangan seorang perempuan khususnya di daerah saya istilah anak sekarang (gaul) mung kin lebih bagus di pandang. dn pas untuk zaman yang modern seperti sekarang ini

Proses globalisasi yang diakibatkan oleh berbagai prakarsa dan kegiatan pada skala internasional sebagaimana menggej ala dewasa mi pun penlu kita cermati sejauhmana siginifikan pengaruhnya dalam pertemuan antar-budaya. Dalam kaitan mi pertemuan antar-budayajangan terutama digambarkan sebagai pertemuan antara dua fihak belaka, melainkan terjadi dengan ketenlibatan sejumlah fihak secara segera (instantaneous) serta serempak (simultaneous). Kesanggupan sesuatu satuan budaya untuk mempertahankan kesejatiannya dalam pertemuan antar-budaya yang demikian majemuknya itu sangat ditentukan oleh tinggi-rendahnya derajat kesadaran budaya dan tanguh­rapuhnya tingkat ketahanan budaya masyarakat pendukungnya. Budaya asing yang berpengarnh dominan terhadap satuan budaya asli bisa membangkitkan kesan sebagai ‘model’ untuk ditiru. Kecenderungan meniru itu dalam kelanjutannya bisa terpantul melalui berkembangnya gayahidup (ljfestyle) barn yang dianggap superior dibandingkan dengan gayahidup lama. Berkembangnya gayaliidup baru itu dapat menimbulkan kondisi sosial yang ditandai oleh heteronomi, yaitu berlakunya herbagai norma acuan penilaku dalam masyarakat yang bersangkutan. Perubahan gayahidup yang ditiru dan budaya asing bisa berkelanjutan dengan timbulnya gejala keterasingan dan kebudayaan sendiri (cultural alienation).[1]

salah satu konsekuensi dan terjadinya pentemuan antar-budaya ialah kemungkinan tenjadinya perubahan onientasi pada nilai-nilai yang selanjutnya berpengaruh pada terjadinya perubahan norma-norma peradaban sebagai tolokukun penilaku warga masyanakat sebagai satuan budaya. Perubahan onientasi nilai yang benlanjut dengan penubahan norma penilaku itu bisa menjelma dalam wujud pergeseran (shft,), persengketaan (conflict), atau perbenturan (clash). Perubahan dalam wujud yang pertama biasanya tenjadi karena nelatif mudahnya adaptasi atau asimilasi antara nilai dan norma lama dengan yang barn dikenal; yang kedua mernpakan wujud yang paling sening menggejala dan biasanya memenlukan masa peralihan sebelum dihadapi dengan sikap positif (acceptance) atau negatif (rejection). Biasanya wujud yang kedua menunjukkan adanya ambivalensi dalam masyarakat ybs, sehingga ada sebagian warga masyanakat yang menenima perubahan yang terjadi pada onientasi nilai dan norma penilaku, tapi ada pula sebagian lainnya yang menolaknya. Dalam keadaan mi bisa terjadi juxtaposisi antara fihak yang menenima dan fihak yang menolak. Lain halnya dengan penubahan yang berwujud perbentunan; dalam hal mi mudah timbul berbagai derajat sikap penentangan (rejection), dan yang moderat hingga ekstern[2]

Riwayat  karl marx

Mark dilahirkan di Trier Jerman di daerah Rhain pada tahun 1818 ayahnya dan Ibunya ayat Marx berasal dari keluarga Rabbi Yahudi tetapi ayahnya memperoleh pendidikan sekular dan mencapai kehidupan Borjuis sebagai seorang pengacara, dan kemudian dalam kehidupan marx menekankan bahwa kepercayaan agama tidak memberikan pengaruh paling penting terhadap perilaku tetapi sebaliknya kepercayaan agama mencerminkan faktor-faktor sosial ekonomi yang mendasar.7

Dia mempelajari hukum selama satu tahun di Universitas Bonn pada usia 18 tahun dan kemudian pindah ke Universitas Berlin dan karena disana ia banyak berhubungan dengan kelompok Hegelian muda maka beberapa unsur dasar sosialnya mulai dibentuk, setelah menyelesaikan desertasi doktornya di Universitas yag sama ia menjadi pemimpin redaksi surat kabar bernama Rheinishe Zeitung yang merupakan surat kabar borjuis liberal yang baru, dimana dalam surat kabar itu mencerminkan oposisi borjuis terhadap sisa-sisa sistem Aristokratis Feodal kuno dan memperjuangkan gerakan-gerakan petani yang miskin ia menjadi pemimpin surat kabar ini.

Akhirnya setelah mendapat tekanan karena surat kabar yang dipimpinnya ia pindah ke Paris, dan ia terlibat dalam gerakan radikal yang mana masa itu Paris merupakan pusat liberalisme dan radikalisme sosial dan intelektual yang penting di Eropa, dan ia bertemu dengan Friedrich Engels yang menjadi kawan kerjanya sampai meninggal dan Marx mendapat banyak bantuan dari Engels berupa informasi langsung mengenai gaya hidup langsung borjuis dan proletariat karena Engels adalah seorang pengusaha yang sukses (borjuis). [3]

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman Ibn khaldun terjemahan, taba’ah muhammad mustafa, mesir, h 41

Clark. “Globalization and Fragmentation”, Oxford University Press Inc., New York, 1977. hal 123-127


[1] Clark. “Globalization and Fragmentation”, Oxford University Press Inc., New York, 1977. hal 123-127

[2] Abdurrahman Ibnu Khaldun, op cit, h. 390

[3] Abdurrahman Ibn khaldun, Muqaddimah, taba’ah muhammad mustafa, mesir, h 41

Posted in SOS2/ F2 | Leave a comment

Ilmu Pengetahuan dan sosiologi (realita sosial)

ILMU PENGETAHUAN SOSIAL, SOSIOLOGI.” REALITA SOSIAL”

Tugas UAS ini diajukan untuk memenuhi Mata Kuliah

Logica Scientific

 

Dosen Pembimbing

Drs. Masduki Affandi

Nama             : Ali Huzaini

Nim               : B05210031

 

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

FAKULTAS DAKWAH

JURUSAN SOSIOLOGI

 SURABAYA

 2011

 BAB I   PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sosiologi ditinjau dari sifatnya digolongkan sebagai ilmu pengetahuan murni (pure science)
bukan ilmu pengetahuan terapan(appliedscience).

Sosiologi dimaksudkan untuk memberikan kompetensi kepada peserta didik dalam memahami konsep-konsep sosiologi seperti sosialisasi, kelompok sosial, struktur sosial, lembaga sosial, perubahan sosial, dan konflik sampai pada terciptanya integrasi sosial.

Sosiologi mempunyai dua pengertian dasar yaitu sebagai ilmu dan sebagai metode. Sebagai ilmu, sosiologi merupakan kumpulan pengetahuan tentang masyarakat dan kebudayaan yang disusun secara sistematis berdasarkan analisis berpikir logis. Sebagai metode, sosiologi adalah cara berpikir untuk mengungkapkan realitas sosial yang ada dalam masyarakat dengan prosedur dan teori yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Dalam kedudukannya sebagai sebuah disiplin ilmu sosial yang sudah relatif lama berkembang di lingkungan akademika, secara teoritis sosiologi memiliki posisi strategis dalam membahas dan mempelajari masalah-masalah sosial-politik dan budaya yang berkembang di masyarakat dan selalu siap dengan pemikiran kritis dan alternatif menjawab tantangan yang ada.

Melihat masa depan masyarakat kita, sosiologi dituntut untuk tanggap terhadap isu globalisasi yang di dalamnya mencakup demokratisasi, desentralisasi dan otonomi.

 

 

 

 

 

 

 

BAB II PEMBAHASAN

 

ILMU PENGETAHUAN DAN SOSIOLOGI

A.Apakah Ilmu pengatahuan (Science)

Manusia sebenarnya di ciptakan Oleh tuhan yang maha esa sebagai makhluk yang sadar. Kesadaran manusia dapat di simpulkan dari kemampuannya untuk berpikir, berkehendak, dan merasa Dengan pikirannya manusia dapat ( ilmu) pengetahaun; dengan kehendaknya manusia mengarahkan perilakunya; dan dengan perasaannya manusia mendapat kesenangan. Sarana untuk memelihara dan meningkatkan ilmu pengetahuan dinamakan logika, sedangkan sarana-sarana untuk memelihara untuk memelihara serta meningkatkan pola perilaku an mutu kesenian, disebut etika dan estetika. Apabila pembicaraan dibatasi pada logika, hal itu mrupakan ajaran yang menunjukkan bagaimana manusia berfikir secara tepat dengan berpedoman pada ide dan kebenaran.[1]

B.Ilmu-ilmu Sosial dan Sosiologi

       Ilmu-ilmu sosial dinamakan demikian karena ilmu-ilmu tersebut mengambil masyarakat atau kehidupan bersama sebagai objek yang dipelajarinya. Ilmu-ilmu sosial belum mempunyai kaidah-kaidah dan dalil-dalil tetap yang di terima oleh bagian terbesar masyarakat karena ilmu-ilmu tersebut belum lama berkembang, sedangkan yang menjadi objeknya masyarakat manusia yang selalu berubah-ubah. Karena sifat masyarakat yang selalu berubah-ubah, hingga kini belum dapat di selidiki dan di analisis tuntas hubangan antara unsur-unsur di dalam masyarakat secara lebih mendalam. Lain halnya dengan ilmu pengatahuan alam yang telah lama berkembang sehingga telah mempunyai kaidah-kaidah dan dalil-dalil yang teratur dan di terima oleh masyarakat, yang juga di sebabkan karena objeknya bukan manusia

Salah satu jalan yang agak mudah  untuk memperoleh krakteristik suatu ilmu pengetahuan adalah dengan cara melukiskannya secara kongkret.Untuk memperoleh gambaran yang sederhana dari suatu ilmu, paling sedikit  di perlukan kriteria sebagai berikut.

a.       Isi ilmu sosial tersebut  perlu di rinci secara konkret. Artinya, secara lebih tegas adalah apa yang menjadi pusat perhatian para ahli dan para sarjana yang mengkhususkan diri pada suatu ilmu pengetahuan tertentu. Misalnya para ahli sosiologi tidak akan memusatkan perhatiannya terhadap setiap aspek kehidupan  keluargan; yang terutama di sorotinya adalah pola-pola hak dan  kewajiban dari setiap warga keluarga, perubahan pada angka-angka perkawinan atau perceraian,perbedaan pola karier ayah dan anak laki-laki, dan lain sebagainya. Dengan menentukan hal-hal tersebut, maka akan di tentukan masalah-masalah ilmiah yang khusus atau variabel tergantung dari suatu ilmu pengatahuan tertentu.

b.      Hal-hal yang di anggap sebagai sebab-sebab khusus dari variabel tergantung penting sekali untuk dirinci. Misalnnya, apabila seorang sosiolog menelaah angka-angka dan derajat terjadinya perceraian,  maka mungkin dia akan mencari keterangan tentang laju ubanisasi, hubungan antar suku bangsa, hubungan antar agama, perkawinan antar kelas, dan lain sebagainya. Dengan demikian, maka di usahakan untuk mencari variabel bebas yang pokok.

c.       Pusat perhatian suatu ilmu pengetahuan dapat di rinci dengan mengemukakan variabel bebas dan variabel tergantung serta ada susunan yang teratur dari variabel-variabel tadi yang di namakan keteraturan logika (logica-ordering). Keteratuan loika tadi kemudian akan menghasilkan hipotesis-hipotesis yang merupakan perumusan tentang kondisi-kondisi dalam mana diduga bahwa variabel tergantung akan  berubah atau bahkan tidak berubah. Apabila hipotesis-hipotesis tadi dsusun kembali ke dalam kerangka yang mantap, kerangka tersebut dinamakan model, yang dapat dianggap sebagai kerangka acuan.

 

d.      Diperlukan pengetahuan tentang teknik-teknik yang lazim di pakai oleh masing-masing ilmu pengetahuan untuk mendapatkan kebenaran atau untuk mencapai sasarannya. Hal ini mencakup metode dan teknik penelitian dari ilmu tersebut.

 

Ilmu-ilmu sosial yang masih muda usianya, baru sampai pada tahap analisis dinamika, artinya baru sampai pada anlisis-analisis tentang masayarakat manusia dalam keadaan bergerak. Mungkin dari ilmu ekonomi dapat di katakan bahwa perkembangannya telah meningkat pada taraf kemungkinan.

Istilah sosial (social) pada ilmu-ilmu sosial mempunyai arti berbeda dengan misalnya istilah sosialisme atau istilah sosial pada departemen sosial. Apabila istilah “sosial” pada ilmu-ilmu sosial menunjuk pada objeknya, yaitu masyarakat, sosialisme merupakan suatu ideologi yang berpokok pada prinsip pemilikan umum (atas alat-alat produksi dan jasa-jasa dalam bidang ekonomi). Sementara itu istilah pada dapertemen sosial menunjukkan pada kegiatan-kegiatan di lapangan sosial. Artinya kegiatan-kegiatan yang ditujukan untuk mengatasi persoalan-persoalan yang di hadapi oleh masyarakat dalam bidang kesejahteraan, seperti misalnya,yang ruang lingkupnya adalah peekerjaan ataupun kesejahteraan sosial. [2]

 

C. Definisi Sosiologi dan Sifat Hakikatnya

                  Merumuskan suatu definisi (batasan makna) yang dapat mengemukakan keseluruhan pengertian sifat, dan hakikat yang dimaksud dalam beberapa kata dan kalimat merupakan hal yang sangat sukar. Oleh sebab itu, suatu definisi hanya dapat dipakai sebagai suatu pegangan sementara saja. Sungguhpun penyelidikan berjalan terus dan ilmu pengetahuan tumbuh kearah berbagai kemungkinan, masih juga diperlukan suatu pengertian yang pokok dan menyeluruh. Untuk patokan sementara, akan diberikan beberapa definisi sosiologi sebagai berikut.

a.       Pitirim Sorokin, mengatakan bahwa sosiologi adalah suatu ilmu yang dipelajari:

1.      Hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala-gejala sosial (misalnya antara gejala ekonomi dengan agama; keluarga, dengan moral, hukum dengan ekonomi, gerak masyarakat dengan politik dan sebagainya);

2.      Hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dan gejala-gejala non sosial (misalnya;geografis, biologis, dan sebagainya);

3.      Ciri-ciri umum semua jenis-jenis gejala sosial.

b.      Roucek dan Warren, mengemukakan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok.

c.       William F Ogburn dan Meyer F. Nimkoff. Berpendapat bahwa sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya yaitu organisasi sosial.

d.      J.A.A. Van Doorn dan C.J.Lammers Berpendapat bahwa sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang struktur-struktur dan proses-proses kemasyarakatan yang bersifat stabil.

e.       Selo Soemardjan, Soelaeman Soemardi. Menyatakan bahwa sosiologi atau ilmu kemasyarakatan ialah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial, selanjutnya menurut Selo Soemardjan dan Soeleman Soemardi, struktur sosial adalah keseluruhan jaringan anatara unsur-unsur sosial yang pokok, yaitu kaidah-kaidah sosial (norma-norma sosial), lembaga-lembaga sosial, kelompok-kelompok serta lapisan-lapisan sosial. Proses sosial adalah pengaruh timbal balik antara berbagai segi kehidupan bersama, umpamanya pengaruh hubungan timbal balik antara segi kehidupan ekonom dengan segi kehidupan politik, antara segi kehidupan hukum dan segi kehidupan agama, antara segi kehidupan agama dan segi kehidupan ekonomi dan lain sebagainya. Salah satu proses sosial yang bersifat tersendiri ialah dalam hal terjadinya perubahan-perubahan didalam struktur sosial.

Apabila sosiologi ditelaaah dari sudut sifat hakikatnya, maka akan dijumpai beberapa  petunjuk yang akan dapat membantu untuk menetapkan ilmu pengetahuan macam apakah sosiologi itu. Sifat-sifat hakikatnya adalah sebagai berikut:

a.       Sosiologi merupakan suatu ilmu sosial dan bukan merupakan ilmu pengetahuan alam ataupun ilmu pengetahuan kerohanian.

b.      Sosiologi bukan merupakan disiplin yang normatif tetapi merupakan suatu disiplin yang kategoris, artinya sosiologi membatasi diri pada apa yang terjadi dewasa ini dan bukan mengenai apa yang terjadi atau seharusnya terjadi.

c.       Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang murni (pure science) dan bukan merupakan ilmu pengetahuan terapan atau terpakai (applied science)

d.      Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang abstrak dan bukan merupakan ilmu pengetahuan yang kongkret. Artinya, bahwa yang diperhatikannya adalah bentuk dan pola-pola peristiwa dalam masyarakat, tetapi bukan wujudnya yang kongkret.

e.       Sosiologi bertujuan untuk menghasilkan pengetian-pengertian dan pola-pola umum. Sosiologi meneliti dan mencari apa yang menjadi prinsip atau huku-hukum umum dari interaksi antarmanusia dan juga perihal sifat hakiki, bentuk, isi, dan struktur masyarakat manusia.

f.        Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang empiris dan rasional. Ciri tersebut menyangkut soal metode yang dipergunakannya yang selanjutnya akan diterangkan mengenai metode-metode sosiologi.

g.       Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang umum dan bukan merupakan ilmu pengetahuan yang khusus. Artinya, sosiologi mempelajari gejala yang umum ada pada setiap interkasi antarmanusia. [3]

 

4.      Objek Sosiologi

                 Sebagaimana halnya dengan ilmu-ilmu sosial lainnya, objek sosiologi adalah masyarakat yang dilihat dari sudut hubungan antarmanusia dan proses yang timbul dari hubungan manusia di dalam masyarakat.

Objek Material

Objek material sosiologi adalah kehidupan sosial, gejala-gejala dan proses hubungan antara manusia yang memengaruhi kesatuan manusia itu sendiri.

Objek Formal

Objek formal sosiologi lebih ditekankan pada manusia sebagai makhluk sosial atau masyarakat. Dengan demikian objek formal sosiologi adalah hubungan manusia antara manusia serta proses yang timbul dari hubungan manusia di dalam masyarakat.

Objek budaya

Objek budaya salah satu faktor yang dapat memengaruhi hubungan satu dengan yang lain.

Objek Agama

Pengaruh dari objek dari agama ini dapat menjadi pemicu dalam hubungan sosial masyarakat.dan banyak juga hal-hal ataupaun dampak yang memengaruhi hubungan manusia.

 

  REALITA SOSIAL

Penggalian beberapa pokok permasalahan mengenai perubahan sosial budaya dalam skala besar Menurut teori-teori Auguste Comte yaitu “Pengaruh Sosial budaya”. Hal itu sangat memberikan dampak besar bagi masyarakat umumnya di wilayah pedesaan.

Contohnya:

Pada umumnya di zaman dahulu para petani di desa menggunakan alat tradisonal seperti sapi untuk membajak sawah, seiring dengan perkembangan alat tekhnologi yang semakin pesat dan canggih alat tradisonal yang biasa digunakan oleh masyarakat semakin berkurang karena selain membutuhkan waktu yang lama juga membutuhkan tenaga yang kuat. Dengan adanya alat tekhnologi yang canggih seperti traktor yaitu mesin pembajak para petani lebih mudah menggarap lahannya dan dengan waktu yang maksimal sehingga orang tua juga bisa melakukannya tanpa mengkhawatirkan akan merasa lelah, karena telah dibantu oleh traktor atau mesin pembajak sehingga memberi kemudahan untuk para petani.

Para petani biasanya zaman dahulu memberikan pupuk dengan pupuk buatan seperti kompos akan tetapi sekarang para petani umumnya sudah mengganti pupuk dengan pupuk yang lebih berkualitas sehingga hasil panennya lebih bagus. Hal tersebut didorong oleh perkembangan budaya dan zaman yang semakin pesat dengan semakin banyaknya penemuan-penemuan baru yang dihasilkan oleh manusia itu sendiri.

Di musim kemarau memiliki hal terpenting bagi para petani jika hasil panennya tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan akan sandang, pangan, dan papannya mereka berusaha untuk mencari kerja lain seperti pergi merantau ke kota untuk mencari tambahan nafkah para petani tersebut umumnya di kota bekerja sebagai kuli bangunan dengan hasil yang pas-pasan.      Ketika musim hujan telah tiba mereka akan kembali ke desanya untuk mengolah sawahnya kembali. Perkembangan budaya akan terus berubah-ubah karena manusia tidak terlepas dari sebuah keinginan dari keinginan itulah akan timbul suatu pemikiran dan perubahan untuk menjadikan sesuatu lebih bermanfaat.[4]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar pustaka

Soerjono Soekanto. 2007. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Kamanto Sunarto. 2004. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit FE UI.

James. M. Henslin, 2002. Essential of Sociology: A Down to Earth Approach Fourth Edition. Boston: Allyn and Bacon.

Pitirim Sorokin. 1928. Contemporary Sociological Theories. New York: Harper.

 

 

 

 

 

 


[1] Soerjono Soekanto. 2007. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Hlm.25

 

[2] Kamanto Sunarto. 2004. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit FE UI. Hlm. 5

 

[3] James. M. Henslin, 2002. Essential of Sociology: A Down to Earth Approach Fourth Edition. Boston: Allyn and Bacon. Hlm 10

 

[4] Pitirim Sorokin. 1928. Contemporary Sociological Theories. New York: Harper. Hlm. 25

 

Posted in SOS2/ F2 | Leave a comment

penjabaran teori emile durkheim

TEORI EMILE DURKHEIM

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

LOGICA SCIENTIFICA

 

 

 

 

 

 

 

Di susun Oleh :

Rian Johananto (B05210041)

 

 

JURUSAN SOSIOLOGI FAKULTAS DAKWAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA 2011

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

Latar belakang

 

David Emile Durkheim merupakan salah seorang pemikir sosiologi yangmemiliki beberapa karya besar sepanjang sejarah. Durkheim dilahirkan diÉpinal, Prancis,yang terletak diLorraine pada tanggal (15 April 1858 – 15 November1917). Ia berasal dari keluargaYahudi Prancisyang saleh – ayah dan kakeknyaadalahRabi.Hidup Durkheim sendiri sama sekali sekular. Malah kebanyakan darikaryanya dimaksudkan untuk membuktikan bahwafenomena keagamaanberasaldari faktor-faktor sosial dan bukan ilahi. Namun demikian, latar belakangYahudinya membentuk sosiologinya – banyak mahasiswa dan rekan kerjanyaadalah sesama Yahudi, dan seringkali masih berhubungan darah dengannya.Durkheim adalah mahasiswa yang cepat matang. Ia masuk keÉcoleNormale Supérieuepada 1879. Angkatannya adalah salah satu yang palingcemerlang padaabad ke-19dan banyak teman sekelasnya, seperti Jean Jaurès  dan  Henri Bergson kemudian menjadi tokoh besar dalam kehidupan intelektualPrancis. Di ENS, Durkheim belajar di bawahFustel de Coulanges,seorang pakarilmu klasik, yang berpandangan ilmiah sosial. Pada saat yang sama, ia membacakarya-karyaAuguste Comte danHerbertSpencer.Jadi, Durkheim tertarik dengan pendekatan ilmiah terhadap masyarakat sejak awal kariernya. Ini adalah konflikpertama dari banyak konflik lainnya dengansistem akademik Prancis,yang tidakmempunyaikurikulum ilmu social pada saat itu. Durkheim merasailmu-ilmu kemanusiaan tidak menarik. Ia lulus dengan peringkat kedua terakhir dalamangkatannya ketika ia menempuh ujian agrégation– syarat untuk posisi mengajardalam pengajaran umum– dalam ilmu filsafat pada 1882.Minat Durkheim dalamfenomena sosialjuga didorong olehpolitik.

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

TEORI EMILE DURKHEIM

Kelompok Sosial

*. Definisi Kelompok Sosial

Kelompok sosial mengandung pengertian suatu kumpulan dari individu-individu yang saling berinteraksi sehingga menumbuhkan perasaan bersama.

 

Berikut ini adalah engertian kelompok sosial dari beberapa ahli.

-Menurut Soerjono Soekanto, kelompo adalah himpunan atau kesatuan-kesatuan manusia yang hidup bersama karena saling berhubungan di antara mereka secara timbal balik dan saling mempengaruhi.

-Menurut Paul B. Horton dan Chester L. Hunt, istilah kelompok sosial diartikan sebagai kumpulan manusia yang memiliki kesadaran akan keanggotaannya dan saling berinteraksi.

-Menurut George Homans, kelompok adalah kumpulan individdu yang melakukan kegiatan, interaksi dan memiliki perasaan untuk membentuk suatu keseluruhan yang terorganisasi dan berhubungan secara timbal balik.

Menurut Soerjono Soekanto, suatu himpunan manusia dikatakan kelompok sosial apabila memenuhi persyaratan berikut ini :

-Setiap anggota kelompok memiliki kesadaran bahwa dia bagian dari kelompok tersebut.

-Memiliki struktur sosial sehingga kelangsungan hidup kelompok tergantung pada kesungguhan para anggotanya dalam melaksanakan perannya.

-Memiliki norma-norma yang mengatur hubungan diantara para anggotanya.

-Memiliki kepentingan bersama.

-Adanya interaksi dan komunikasi diantara anggotanya.[1]

 

 

*. Ciri-ciri Kelompok Sosial

Ciri-ciri kelompok sosial tersebut adalah sebagai berikut :

-Merupakan kesatuan yang nyata dan dapat dibedakan dari kelompok atau kesatuan manusia yang lain.

-Memiliki struktur sosial

-Memiliki norma-norma yang mengatur hubungan diantara para anggotanya.

-Memiliki faktor pengikat.

-Adanya interaksi dan komunikasi diantara para anggotanya.

Maka kelompok sosial dapat dibedakan ke dalam dua bentuk, yaitu kelompok sosial kecil dan kelompok sosial besar. 

 

*. Proses Pembentukan Kelompok Sosial

1.      Faktor-faktor Pendorong Timbulnya Kelompok Sosial

a.      Dorongan untuk mempertahankan hidup

b.      Dorongan untuk meneruskan keturunan

c.       Dorongan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja

 

2.      Dasar Pembentukan Kelompok Sosial

a.      Kesatuan Genealogis atau Faktor Keturunan

b.      Kesatuan Religius

c.       Kesatuan Teritorial (Community)

d.     Kesatuan Kepentingan (Asosiasi)

 

*  Klasifikasi Kelompok Sosial

1.      Klasifikasi Kelompok Berdasarkan Solidaritas Antara anggota

Istilah ini dipopulerkan oleh seorang sosiolog yang bernama Emile Durkheim.

a.      Solidaritas Mekanik

Solidaritas mekanik adalah solidaritas yang muncul pada masyarakat yang masih sederhana dan diikat oleh kesadaran kolektif serta belujm mengenal adanya pembagian kerja diantara para anggota kelompok.

b.      Solidaritas Organik

Solidaritas organik adalah solidaritas yang mengikat masyarakat yang sudah kompleks dan telah mengenal pembagian kerja yang teratur sehingga disatukan oleh saling ketergantungan antaranggota.[2]

 

 

2.      Klasifikasi Kelompok Berdasarkan Erat Longgarnya Ikatan dalam Kelompok.

Klasifikasi ini diperkenalkan oleh Ferdinand Tonnies

a.      Gemeinschaft (Paguyuban) Gemeinschaft adalah kelompok sosial yang memiliki ikatan erat dan intim.

b.      Gesellschaft (Patembayan) Gesellschaft adalah kehidupan publik yang bersifat sementara dan semu.

 

3.      Klasifikasi Kelompok Berdasarkan Hubungan diantara Para Anggotanya.

a.      Kelompok Primer

Kelompok Primer adalah kelompok sosial yang memiliki hubungan saling mengenal dan memiliki perasaan kebersamaan.

b.      Kelompok Sekunder

Kelompok Sekunder adalah kelompok sosial yang terbentuk karena adanya kepentingan yang sama sehingga kerjasama didasarkan pada hitungan untung rugi.

 

4.      Klasifikasi Kelompok Berdasarkan Sistem Hubungan

a.      Kelompok Formal

Kelompok Formal adalah kelompok yang memiliki sistem hubungan yang sengaja diciptakan,.

b.      Kelompok Informal

Kelompok informal adalah kelmpok yang memiliki hubungan secara pribadi, bersifat erat dan intim.[3]

 

Contoh fenomena solidaritas organic Emile Durkheim

Dalam pandangan Durkheim, masyarakat industri-kota merupakan perwujudan yang paling penuh dari solidaritas organik. Karena masyarakat di sekitar industri pada awalnya adalah masyarakat pedesaan yang memiliki ciri solidaritas mekanik, maka dalam proses perkembangan tersebut, masyarakat di sekitar industri dapat dikatakan masih berada dalam proses menjadi komunitas yang memiliki bentuk solidaritas organik. Komunitas industri-kota memiliki struktur dan fungsi yang khas dengan ciri-ciri yang khas. Dibandingkan dengan kondisi komunitas sebelumnya industri didirikan, komunitas industri-kota ditandai dengan banyak perbedaan. Perbedaan ini, ditimbulkan oleh adanya kesempatan dan kemampuan yang berbeda dari masing-masing individu. Terlebih lagi tuntutan industri membuat individu menspesialisasikan diri pada bidang kegiatan ataupun keahlian tertentu. Walaupun spesialisasi ini, pada masyarakat industri-kota yang masih dalam proses pembentukan belum dirasakan betul berimbas kepada kehidupan sosial mereka.

Contoh fenomena solidaritas mekanik Emile Durkheim

Mekanik contohnya masyarakat bangsa israel dan perkembangan nelayan masyarakat israel misalnya,meskipun mengalami diaspora(perkembangan secara terus menerus)dapat dikatakan sebagai sebuah solidaritas mekanik dantercipta masyarakat israel yang terbentuk dari sebuah kesadaran bersama untuk bangkit setelah mengalami kejadian nolocaurt yang memang hingga saat ini masih dipertanyakan kebenarannya.orang israel yang mengalami nolocaurt pada massa hitler naal ini.alasan mengapa masyarakat ini dikatakan sebagai sebuah masyarakat yang bersolidaritas mekanik selain dari pengalaman emosional yang dirasakan bersama.[4]

 

Daftar Pustaka

 

 

Internet:

http //:Wikipedia.org.co.idAkib, Ronny.2009.

 

 

Dirdjosisworo, Soedjono. 1991.Sosiologi dan Filsafat. Jakarta:Erlangga

 

Akib, Ronny.2009.Pengantar Sosiologi .Pontianak.

 

Sanderson, Stephen K. 1993.Sosiologi  Makro. Jakarrta: Rajawali

 


[1] Soedjono, Dirdjosisworo. (1991.Sosiologi dan Filsafat. Jakarta:Erlangga ) hal 71

 

[2] Soedjono, Dirdjosisworo. (1991.Sosiologi dan Filsafat. Jakarta:Erlangga ) hal 82

Lihat cirri-ciri kelompok social

[3],Ronny.. Akib . (2009.Pengantar Sosiologi .Pontianak) hal 58

Lihat cirri-ciri kelompok social

[4] Stephen K. Sanderson. (1993.Sosiologi  Makro. Jakarrta: Rajawali)

 

Posted in SOS2/ F2 | Leave a comment

laporan tugas logica scientifica

LAPORAN HASL TUGAS MATA KULIYAH LOGICA SCIENTIFIC

PENJELASAN TEORI SOSIOLOGI EMILE DURKHEIM DAN MAX WEBBER

 

 

Oleh

Hamid Khoiron Ali Fikri (B05210033)

Disusun untu memenuhi tugas mata kuliyah logica scientific

IAIN Sunan Ampel Surabaya fakultas Dakwah Prodi Sosiologi kelas

BAB I

PENDAHULUAN

 Latar belakang

Sosiologi berasal dari bahasa yunani yaitu kata socius dan logos, di mana socius memiliki arti kawan / teman dan logos berarti kata atau berbicara. Menurut Bapak Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial.

Sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari fakta-fakta sosial, yakni fakta yang mengandung cara bertindak, berpikir, berperasaan yang berada di luar individu di mana fakta-fakta tersebut memiliki kekuatan untuk mengendalikan individu.

Objek dari sosiologi adalah masyarakat dalam berhubungan dan juga proses yang dihasilkan dari hubungan tersebut. Tujuan dari ilmu sosiologi adalah untuk meningkatkan kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan lingkungan sosialnya.

Pokok bahasan dari ilmu sosiologi adalah seperti kenyataan atau fakta sosial, tindakan sosial, khayalan sosiologis serta pengungkapan realitas sosial.

Seorang manusia akan memiliki perilaku yang berbeda dengan manusia lainnya walaupun orang tersebut kembar siam. Ada yang baik hati suka menolong serta rajin menabung dan ada pula yang prilakunya jahat yang suka berbuat kriminal menyakitkan hati. Manusia juga saling berhubungan satu sama lainnya dengan melakukan interaksi dan membuat kelompok dalam masyarakat.

BAB II

PEMBAHASAN

Emile Durkheim

Pemikiran Durkheim tentang sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang

fakta sosial atau mempelajari masyarakat secara luas yang termasuk dalam

kajian sosiologi makro. Sedangkan masyarakat menurut Durkheim adalah keseluruhan dari pola interaksi yang sangat kompleks sifatnya. Durkheim dalam sepanjang hidupnya memberikan perhatiannya terhadap solidaritas dan integrasi. Perhatian yang besar terhadapnya muncul dari kesadarnnya bahwa berkurangnya pengaruh agama tradisional yang merusakkan dukungan tradisional yang utama untuk standar moral bersama yang membantu mempersatukan masyarakat di masa lampau. Solidaritas dan integarasi merupakan permasalahan substansif dalam teori-teori Durkheim. Masalah yang utama bagi Durkheim adalah masalah sentral dalam analisa sosiologi yang menjelaskan tentang keteraturan sosial yang mendasar dan berhubungan dengan proses-proses sosial yang meningkatkan integrasi dan solidaritas. Dan juga merupakan masalah pokok dalam prespektif fungsional sekarang ini. Fungsionalisme juga menekankan integrasi dan solidaritas serta pentingnya memisahkan analisa tentang tujuan dan motivasi yang sadar dari individu.

Asumsi umum yang paling mendasar Durkheim terhadap pendekatan sosiologi adalah bahwa gejala sosial itu riil dan mempengaruhi kesadaran individu serta perilakunya yang berbeda dari karakteristik psikologi, biologi atau yang lainnya. Tekanan Durkheim pada kenyataan sosial yang obyektif itu bertentangan dengan individu yang berlebihan. Dan penjelasan Durkheim mengenai fakta sosial akan dijelaskan secara rinci dalam penjelasan berikut.

1. Fakta Sosial

Adalah setiap cara bertindak yang umumnya terdapat dalam suatu masyarakat tertentu yang yang memiliki eksistensinya sendiri terlepas dari manifestasi individu. Menurut Durkheim bahwa fakta sosial itu tidak dapat direduksikan ke fakta individu melainkan memiliki eksistesinya yang independen pada tingkat sosial.

Linkungan sosial dimana perilaku berlangsung berbeda dari lingkungan fisik yang ditinggali. Lingkungan fisik hanya membuat kondisi-kondisi yang diperhitungkan oleh setiap individu demi keselamatannnya. Tapi lingkungan sosial tidak hanya membuat kondisi-kondisi tetapi juga norma-norma dan tujuan-tujuan perilaku yang ditujukan kepadanya. Itulah ciri khas dari lingkungan sosial, sehingga disebut oleh Durkheim sebagai fakta sosial atau realitas sui generis.

Setiap individu lahir dalam lingkungan sosial budaya yang berbeda dan tertentu. Yang dialaminya seolah-olah datang dari luar dan diluar kemampuan individu atau tidak tergantung dari individu tersebut. Masyarakat setempat dari lingkungan tersebut menyampaikan kepada tiap- tiap anggota masyarakat berupa naskah yang berisi peranan-peranan yang diharapkan dari masyarakat setempat tersebut. Boleh jadi tiap-tiap anggota dari masyarakat tersebut membanggakan indepedensinya atau peranan- peranan yang dimilikinya. Tetapi dalam kenyataannya individu tersebut lebih banyak merupakan pelaku konformnitas daripada pemberontak yang lebih menyukai pembaruan, lebih banyak bersikap konservatif daripada merintis apa yang sudah ada atau lebih dulu yang menjadi masyarakat setempat.

Baik dalam pergaulan,pendidikan, maupun dalam pekerjaan maupun dalam kehidupan yang secara lazim disebut “pribadi” pun mereka lebih banyak menyesuaikan diri dengan fakta sosial dari pada melanggar atau membuat sesuatu yang baru. Sehubungan dengan pengaruh besar dari faktor rutin dalam perilaku sosial anggota masyarakat , individu mendapatkan kesan dari fakta sosial bahwa fakta sosial mempunyai kekuatan memaksa atau menekan atas individu dan mengatur kelakuannya. Individu takut akan sanksi ataupun reaksi negative atau hukumannya, kalau mereka tidak menyesuaikan diri

terhadap fakta sosial. Durkheim memakai istilah pengaruh dari fakta sosial dengan puissance imperative et coercitive. Istilah fakta sosial seolah-olah telah member kesan bahwa kehidupan sosial berstatus ontologis atau kehidupan tersendiri yang terpisah dari kehidupan individual. Durkheim, tidak menceraikan fakta sosial dari pelaku atau anggota masyarakat yang disebut individu tetapi menurutnya ada alasan untuk memb ayangkan gejala sosial sebagai obyek. Fakta sosial berupa struktur-struktur masyarakat,Negara, dan keluarga, nilai-nilai seperti kedaulatan, agama, adat, norma-norma kesusilaan , dan sebagainya.

Dari penjelasan di atas maka fakta sosial mempunyai karakteristik seperti,

• Fakta sosial bersifat eksternal terhadap individu

• Fakta soaial mempunyai kekuatan menekan dan memaksa individu untuk berperilaku sesuai fakta sosial meskipun bukan merupakan kemauannya

• Fakta sosial bersifat umum dan menyebar ke seluruh lapisan

masyarakat

• Fakta sosial harus dijelaskan dengan fakta sosial yang lain, artinya bahwa untuk menjelaskan suatu fakta sosial harus dijelaskan dalam hubungannya dengan fakta sosial yang lain,namun selain itu tak menutup kemungkinan fakta sosial dijelaskan dalam hubungannya dengan gejala individu.[1]

2. Solidaritas Sosial

Dari semua fakta sosial yang dijelaskan oleh Durkheim, tak satupun yang se-

sentral konsep solidaritas sosial. Solidaritas sosial adalah suatu keadaan dimana suatu hubungan keadaan antara inidividu atau kelompok yang didasarkan pada faktor perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama diperkuat oleh pengalaman pengalaman emosional bersama.

Hubungan ikatan ini lebih kuat dibandingkan hubungan yang didasarkan pada kontrak atas persetujuan rasional. Karena keadaan hubungan yang ada, timbul dari kemampuan masing-masing individu dalam berempati terhadap individu atau kelompok yang lain dalam hubungannya itu, sehingga antara individu satu dengan yang lain dapat ikut merasakan perasaan batiniyah dari salah satunya ketika terkena dampak peristiwa sosial. Dan atas dasar kepercayaan yang dianut bersama merupakan satu kesatuan nyata mendorong kesadaran kolektiv muncul.

a) Solidaritas Mekanik

Kesadaran sebagai individu pada masa dahulu masih lemah, sedangkan kesadaran kolektif memerintah atas atas bagian terbesar kehidupan individu. Kepercayaan yang sama, perasaan yang sama, dan tingkah laku yang sama mempersatukan orang menjadi masyarakat. Apa yang dicela oleh salah satu maka dicela pula oleh yang lainnya, apa yang dianggap baik oleh yang satu maka dianggapa baik pula oleh yang lainnya. Solidaritas mekanik didasarkan pada suatu “kesadaran kolektif” bersama (collective consciousness/conscience) yang menunjuk pada totalitas kepercayaan dan sentimen bersama yang rata-rata ada pada warga masyarakat yang sama itu.1 Itu merupakan suatu          solidaritas yang tergantung pada individu yang memiliki sifat-sifat yang sama dan menganut kepercayaan dan pola normatif yang sama pula. Ikatan utamanya adalah kepercayaan bersama,cita-cita, dan komitmen moral. Contoh dari solidaritas mekanik di dalam masyarakat adalah jamaah keagamaan. Bagi Durkheim indikator yang paling jelas

untuk solidaritas mekanik adalah ruang lingkup dan kerasnya hukum-hukum yang bersifat menekan. Ciri khas yang penting dari solidaritas itu, didasarkan pada suatu tingkat homogenitas yang tinggi dalam kepercayaan, sentimen dan sebagainya. Homogenitas itu hanya berkembang bila tingkat pembagian kerja rendah. Karena itu individualitas tidak berkembang, individualitas itu terus menerus dilumpuhkan oleh tekanan yang besar sekali guna tercapainya konformnitas.

b) Solidaritas Organik

Masyarakat modern disatukan oleh suatu solidaritas organik, yaitu solidaritas organik muncul karena pembagian kerja bertambah besar. Biasanya terjadi dalam masyarakat industri. Karena perbedaan antara individual membuat mereka menjadi masyarakat, maka dapat dikatakan integritas yang tinggi berpengaruh besar dalam terciptanya solidaritas itu. Solidaritas organik didasarkan pada tingkat ketergantungan yang tinggi. Adanya spesialisasi dalam kerja yang saling berhubungan dan saling tergantung sedemikian rupa sehingga system itu membentuk solidaritas menyeluruh yang funsionalitas. Tingkat diferensiasi dan spesialisasi yang menimbulkan saling ketergantungan secara relative dari pada nilai dan norma yang berlaku. Tingkat individu pun relatif tinggi. Apa yang dianggap baik oleh salah satu orang, belum tentu menjadi baik pula oleh yang lain.

Contoh dari solidaritas organiik di dalam masyarakat adalah perusahaan dagang. Dimana di dalamnya anggota termotivasi oleh faktor imbalan ekonomi, ada ketergantungan antara orang yang bekerja di mesin,mengawasi mesin,memperbaiki mesin, mandor, penjual, pembukuan, yang menjual barang, sekretaris, akuntan, manajer, dan seterusnya, yang saling berhubungan, maka membentuk sebuah solidaritas dalam suatu sistem. [2]

 

Max Webber

Dalam pemikiran webber, difokuskan dalam masalah-masalah motivasi individu dan arti subyektif. Tujuannya adalah untuk menganalisa hubungan yang penting antara pola-pola motivasi subyektif dan pola institusional yang besar dalam masyarakat. Bila Durkheim mempelajari masyarakat dalam prespektif secara luas atau makro ,maka Webber melelalui prespektif dalam lingkup yang lebih sempit yaitu prespektif mikro. Webber memilih konsep rasionalitas sebagai titik pusat perhatiannya yang utama, dan sama pentingnya dengan konsep utama Durkheim yaitu konsep solidaritas. Karena konsep rasionalitas sebagai pusat acuan maka keunikan orientasi obyektif individu serta motivasinya sebagian dapat diatasi dan diteliti. Jadi menurut webber sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang perilaku sosial serta intepretatif memandang individu dan tindakannya sebagai satuan dasar dan individu sebagai inti dari sosiologi.

Bebeda dengan Durkheim, Webber memandang fakta sosial sebagai sesuatu yang didasarkan pada motivasi individu dan ttindakan-tindakan social. Lalu melihat masyarakat sebagai sesuatu yang riil, yang tidak harus mencerminkan maksud individu-individu yang sadar. Masyarakat bukan sekedar kenyataan tetapi lebih kepada bagian-bagiannya. Berikut ini akan dijelaskan secara lebih rinci penjelasan mengenai tindakan social dan macam-macam tindakan sosial yang didasarkan pada konsep rasionalitas.

Maka berdasarkan kriteria rasional dan nonrasional dapat dibagi dalam 2 kelompok, yaitu,

1. Tindakan rasional,meliputi

a) tindakan rasional instrumental

tindakan yang mempunyai tiongkat rasionalitas paling tinggi. Jadi tindakan ini dengan pertimbangan yang sadar mempertimbangkan alat,cara dan tujuan yang hendak dicapai.

b) tindakan rasionalitas yang berorientasi nilai bila dibandingkan dengan tindakan rasionalitas instrumental tindakan yang berorientasi nilai mengorientasi kan tindakannya yang utama lebih ke nilai-nilai. Bahwa alat-alat hanya merupakan obyek obyek perhitungan dan pertimbangan yang sadar, tujuannya sudah ada dalam hubungannya dengan nilai-nilai individu yang merupakan nilai akhir baginya.

Nilai-nilai akhir itu bersifat non rasional dimana individu tidak dapat memperhitungkannya secara obyektif mengenai tujuan-tujuan mana yang harus ditentukan. Contohnya ketika hari raya idul fitri, anak sungkem kepada orang tua, lalu orang tua memberi kan uang kepada anaknya atau keponakannya. [3]

2.Tindakan nonrasional , meliputi

a) tindakan tradisional

merupakan tindakan yang nonrasional. Berawal dari munculnya folkways atau kebiasaan yang secara tidak sadar atau perencanaan dilakukan maka tindakan itu termasuk dalm tindakan tradisional. Biasanya tiondakan terebut berdasarkan adat. Dan bila orientsinya sama maka tindakan ini menjadi semacam tradisi, dalm masyarakat modern tindakan tradisional akan semakin hilang dengan meningkatnya tindakan rasional instrumental.

bertemu walaupun tidak saling mengenal.

b) Tindakan Afektif

Tindakan yang didominasi oleh perasaan dan emosi tanpa refleksi intelektual dan perencanaan yang sadar. Contohnya marah, cinta, kesenangan, kegembiraan, kesedihan dan sbagainya. Orang yang sedang mengalami emosi atau perasaan nya itu meluapkan ungkapannya tanpa pertimbangan yang sadar dan intelektual. Tindakan itu benar-benar tidak rasional dan karena kurangnya pertimbangan logika, ideology, dan rasionalitas.

Keempat tipe tindakan social itu merupakan tipe-tipe tindakan murni ,dimana mereka adalah konstruksi-konstruksi konseptual dari webber untuk memahami dan menafsirkan realitas empiris yang beraneka ragam. [4]

Daftar Pustaka

Doyle Paul Johnson, 1986, Teori Sosiologi Klasik dan Modern, Gramedia: Jakarta

K.J Veeger, 1990, Realitas Sosial, Gramedia Pustaka Utama: Jakarta

Kamanto Sunarto, 1994, Pengantar Sosiologi, Gramedia Pustaka Utama: Jakarta

Rujukan internet:

http://id.wikipedia.org/wiki/%C3%89mile_Durkheim


[1] K.J VEEGER , REALITAS SOSIAL , 1990, hal 142—149,170-173

   Lihat veeger realita sosial

[2] PAUL DOYLE JOHNSON, TEORI SOSIOLOGI KLASIK DAN MODERN,1986, hal 170-179,

[3] Veeger, Realitas Sosial, 1990, hal 51

[4] Kamanto Sunarto, Pengantar Sosiologi, 1994, hal 72

                        Lihat Kamanto halaman 72 tindakan nonrasionalitas

Posted in SOS2/ F2 | Leave a comment